AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. RETHINGKING PENDIDIKAN ISLAM ANTIRADIKAL DAN KEJAHATAN SIBER MELALUI PROGRAM BENCHMARKING LITERASI Azrul Rizki Universitas Samudra azrulrizki@gmail. Muhammad Iqbal IAIN Lhokseumawe iqbal@iainlhokseumawe. Abstract Through rethingking and civilizing digital soft literacy . , pesantren are believed to be able to unravel the symptoms of religious radicalism and cyber crime in an increasingly strong virtual space. Literacy benchmarking program is able to parse the symptoms of religious radicalism and cyber crime in virtual space through . the habituation stage through reading non-learning books for 15 minutes before learning begins. the development stage includes literacy olympics, peaceful literacy and sharing, literacy creations, silent literacy, social literacy, literacy actions, literacy exhibitions, literacy corners, literacy contributions, literacy discussions, and literacy awards. learning phase, namely the stage to understand the term "world crime" which can be interpreted as something that is destructive. evaluation stages of all phases that have been carried out in order to obtain follow-up and improvement of the following year's benchmarking programs. The results of the implementation of the literacy benchmarking program at the Integrated Islamic Boarding School Nurul Huda are able to create diversity, strength, and progress of the nation in facing challenges that arise in the era of This program is able to instill the values of moderate education, tolerance, peace, strengthening friendships, fraternity and compassion so that harmony can be created. With this capital, students can build a country with various achievements. Keywords: Rethingking. Benchmarking Program. Antiradical Education Azrul Rizki & Muhammad Iqbal Al-Mabhats with CC BY-SA license. Copyright A 20, the author. AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. PENDAHULUAN Au. Bacalah dengan . nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah . Yang mengajar . dengan perantaran qalam . lat tuli. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ay (QS. Al AoAla. Surat Al AoAlaq di atas menegaskan bahwa betapa pentingnya literasi. Menurut Gee . 0: . , literasi merupakan keterampilan yang dimiliki seseorang dari hasil berpikir, berbicara, membaca, dan menulis. Literasi adalah kompleksitas memahami bacaan dan mengaksarakannya menjadi sebuah karya nyata berupa produk literasi (Metiri, 2003: . Oleh karena itu, pemahaman dan penerapan literasi diperlukan untuk melihat perkembangan kejahatan dunia maya dan kontribusi pesantren dalam meng-counter masalah-masalah Melalui kampanye dan pembudayaan digital soft literacy . iterasi santu. , pesantren diyakini mampu mengurai gejala radikalisme agama dan kejahatan siber dalam ruang virtual yang kian menguat. Pemahaman dan penerapan literasi pada lembaga pendidikan merupakan tujuan penting dari Lembaga pendidikan . endidik, peserta didik, dan stakeholde. harus benar-benar paham terhadap literasi. Hal ini karena mereka sebagai aktor dan agen perubahan peningkatan literasi santri pada pesantren. Kern . dalam hasil penelitiannya menemukan bahwa proses belajar mengajar harus mengarah pada pengajaran literasi dan senantiasa mempersiapkan untuk memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing supaya mereka dapat menghadapi setiap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Literasi sangat penting bagi santri. Menurut Moore, santri perlu meningkatkan literasi untuk dirinya supaya memiliki banyak solusi ketika menghadapi masalah . alam Merchant 2002: . Di abad ke-21, santri harus meningkatkan kemampuan membaca dan menulis yang berbasis literasi. Santri juga harus mencapai tingkat lanjutan literasi untuk merespons perkembangan dunia dan isu-isu kekinian tentang perdamaian dunia. Di samping itu, literasi sangat penting bagi santri karena keterampilan itu akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar dan kehidupannya. Literasi yang baik dapat membantu santri dalam memahami bahasa lisan, tulisan, maupun gambar. Selain itu, literasi juga dapat mengasah berpikir kritis santri. Oleh karena itu, tingkat literasi santri akan menentukan posisinya di masa yang akan datang. Empat keterampilan bahasa memiliki hubungan yang sangat erat dalam literasi (Park, 2008: . Keterampilan matematika, sains, dan IT juga mempunyai korelasi dengan keterampilan bahasa. Itu semua seperti siklus yang saling membutuhkan dan mendukung supaya dapat mencapai satu titik penyelesaian masalah. Sebab itulah, pembelajaran literasi dikemas dengan baik oleh pemerintah untuk mencapai visi pendidikan nasional, yaitu meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan. untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. dan untuk meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. Dalam rangka pencapaian program pendidikan nasional. Indonesia berpartisipasi dalam berbagai studi internasional, salah satunya PISA. PISA (Program for Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. International Student Assessmen. merupakan studi yang dikembangkan oleh negara-negara maju di dunia yang tergabung dalam OECD (Organisation for Economic Cooperation and Developmen. PISA menilai dan membandingkan kemampuan santri usia 15 tahun dalam literasi bahasa, literasi matematika, dan literasi sains antarnegara peserta studi. Tujuan keikutsertaan Indonesia dalam PISA untuk mendapatkan gambaran tentang kemampuan literasi bahasa, literasi matematika, dan literasi sains santri Indonesia. Dengan diketahuinya kelemahan dan kekuatan literasi santri Indonesia, maka hasilnya dapat digunakan sebagai bahan dalam perumusan kebijakan oleh pemerintah untuk peningkatan mutu pendidikan (Firman, 2007: . Kecakapan literasi adalah sebuah modal bagi santri untuk menerangi masa depannya. Sudah sangat banyak bukti yang menguatkan bahwa kecakapan literasi menjadi modal utama dalam kesuksesan seseorang atau bangsa. Mengambil contoh dari bangsa sendiri. Soekarno. Hatta. Tan Malaka, dan Sosrokartono adalah orang-orang yang hidupnya dengan Eistein juga besar dan terkenal serta fenomenal karena dibesarkan oleh ibunya dengan dibacakan buku cerita saat masih kecil dan sampai besar ia tetap menjadi pembaca buku yang baik sepanjang hidupnya. Di sisi lain. Islam pernah berjaya selama 500 tahun . bad ke-8 s/d ke-. karena menekuni literasi. Jepang. Arab, dan negara-negara di Eropa maju karena intensitas membacanya. Fakta saat ini menunjukkan bahwa kondisi literasi masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Dinyatakan oleh Taufik Ismail bahwa masyarakat Indonesia masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Data statistik UNESCO 2012 Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1. 000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Hasil temuan UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja, sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen. PISA juga menempatkan posisi membaca Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. Fakta membaca orang Indonesia masih galabah karena idealnya 1 koran dibaca 10 orang, tetapi di Indonesia 1 koran dibaca oleh 45 orang, bahkan kalah dengan Srilangka, 1 koran dibaca oleh 38 orang dan di Filipina 1 koran dibaca oleh 30 orang. Jepang, 40 buku dibaca oleh pekerja biasa setiap tahunnya, di Arab sepersepuluh dari jumlah halaman buku dibaca dalam kurun waktu setahun, dan di Eropa minimal 10 buku dibaca oleh masyarakat Eropa dalam jangka waktu setahun. Munculnya istilah AuliterasiAy membuat kita resah, bingung, dan bertanya-tanya tentang maksud dari kata itu. Lebih-lebih di sekolah diwajibkan untuk menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Belum selesai di sekolah, kini muncul lagi Gerakan Literasi Nasional (GLN). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan istilah AuliterasiAy karena istilah ini pembaharuan dari AucalistungAy, yaitu baca, tulis, hitung. Literasi sekolah merupakan tanggung jawab semua guru di setiap mata pelajaran karena membaca dan menulis adalah keterampilan yang digunakan dalam semua bidang studi (Kuder, 2002: . Dengan demikian, pengembangan profesional kepada semua guru perlu diberikan. Namun, perlu diingat bahwa guru Bahasa Indonesia harus memegang peranan penting dalam literasi karena guru ini mengajarkan tentang empat keterampilan berbahasa. Menurut Abidin . , pembelajaran literasi tidak akan terwujud tanpa ada Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. guru berkualitas. Sejalan dengan kenyataan tersebut, upaya awal yang harus dilakukan untuk mewujudkan pembelajaran literasi adalah meningkatkan kualitas guru. Melalui peningkatan mutu guru, guru akan mampu mengembangkan mutu pelajaran yang dilaksanakannya. Peningkatan mutu pembelajaran ini akan berdampak pada peningkatan mutu Pada akhirnya, kepemilikan karakter guru yang efektif akan berdampak pada peningkatan kemahiran literasi santri di masa yang akan datang. Program benchmarking literasi yang seimbang didesain dengan memperhatikan beragam strategi pembelajaran, pemilihan bahan sesuai dengan kebutuhan, dan guru harus responsif (Loningan, 2006: . Keterampilan literasi santri sangat berpengaruh terhadap pencapaian akademiknya. Semakin baik literasi santri, maka akan semakin baik pula pencapaian akademiknya. Pembinaan penumbuhan budaya mempengaruhi, menumbuhkan, mengembangkan minat baca Minat membaca bukan bawaan dari diri santri, tetapi minat baca adalah hasil pembiasaan dari sejak dini. Minat baca perlu dipancing, dipengaruhi dan dikembangkan untuk senantiasa bertahan. Oleh karena itu, tergantung usaha sekolah dan guru serta keluarga dalam mengembangkan minat baca Menurut Inayatillah . menumbuhkan budaya literasi merupakan upaya strategis untuk membangun peradaban bangsa. AuSulit membangun peradaban tanpa budaya baca tulis . Ay. Demikian kata penyair Inggris T. Eliot. Jika ingin membangun pradaban, mau tidak mau baca-tulis harus dibudayakan. Majunya sebuah negara dapat dilihat dari bersarnya minat baca dan tulis seseorang. Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Minat literasi seseorang tidak hanya timbul dengan sendirinya, tetapi juga adanya pengaruh-pengaruh dari luar, tuntutan kebutuhan pembaca, adanya persaingan antarsesama, tersedianya waktu dan sarana yang diperlukan oleh pembaca, adanya dorongan dari guru, dan adanya hadiah (Santoso, 2005:. Dawson dan Rahman (Santoso 2005:. menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca meliputi . dapat memenuhi kebutuhan dasar lewat bahan bacaan. memperoleh manfaat dan kepuasan dari kegiatan membaca. tersedianya sarana buku bacaan di rumah maupun di sekolah. jumlah dan ragam bacaan yang disenangi. tersedianya sarana perpustakaan yang lengkap dan kemudahan proses . adanya program khusus kurikuler yang memberi kesempatan murid membaca secara periodik. saransaran teman sekelas dan sikap guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Persoalan literasi bangsa yang sedemikian krusial dalam hal kesadaran literasi dibutuhkan kerja sama banyak pihak untuk mengatasinya. Paling penting adalah adanya tindakan nyata yang tidak sekedar wacana semata. Dibutuhkan intervensi secara sistemik, masif, dan berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya literasi. Pendekatan yang dianggap paling efektif adalah penyadaran literasi sejak dini dengan melibatkan dunia pendidikan. Melalui proses pendidikan, sebuah program yang sistematik bisa masuk dengan efektif. Atas dasar pemikiran inilah, rethingking pendidikan antiradikal dan kejahatan siber melalui program benchmarking literasi pada Pesantren Terpadu Nurul Huda dianggap mampu mengurai gejala radikalisme agama dan kejahatan siber dalam ruang virtual yang kian menguat. Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. PEMBAHASAN Berdasarkan uraian di atas, rethingking pendidikan antiradikal dan kejahatan siber melalui program benchmarking literasi pada Pesantren Terpadu Nurul Huda yang mampu mengurai gejala radikalisme agama dan kejahatan siber dalam ruang virtual adalah sebagai berikut. Program Benchmarking Literasi Melalui program benchmarking literasi. Pesantren Terpadu Nurul Huda mengupayakan adanya kegiataan pembiasaan membaca yang komprehensif sehingga soft literacy menjangkau semua aspek dalam ekosistem pendidikan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan memahami bacaan serta literasi santun membumi. Pelaksanaan benchmarking literasi dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran yang diuraikan sebagai berikut. Tahap Pembiasaan Hal penting dalam tahap ini adalah alokasi waktu berliterasi . aca-tuli. dan peran tenaga pendukung. Alokasi waktu mengikuti amanat Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015, yaitu kegiatan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Hasil kegiatan membaca dituliskan ke dalam jurnal membaca yang dapat berupa ringkasan ataupun hal-hal penting bacaan. Selain itu, tahap pembiasaan secara lebih rinci meliputi . menjadikan orang tua sebagai teladan. mengkondisikan lingkungan fisik yang ramah literasi. Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. mengupayakan lingkungan sosial di rumah yang efektif dan dan . pembiasaan membaca 15 menit setiap hari. Tahap Pengembangan Tahap pengembangan adalah tindak lanjut kegiatan tahap pembiasaan, tahap pengembangan dapat dilaksanakan dengan melaksanakan program-program untuk mendidik antiradikal dan kejahatan siber melalui program benchmarking literasi pada Pesantren Terpadu Nurul Huda. Olimpiade Literasi Olimpiade literasi merupakan sarana untuk literasi kepada khalayak Produk literasi itu Setiap guru mengarahkan santri untuk menciptakan Produk itu sebagai prakarya dari pembelajaran yang diembankan kurikulum untuk setiap tingkatan kelas. Kemudian, produk itu diikutsertakan dalam olimpiade/lomba bertaraf nasional maupun internasional. Salah satu olimpiade yang sudah pernah diikutsertakan Olimpiade Literasi adalah olimpiade I ACEH 2015 (International Positive Art Creativity & Engineering Exhibitio. di Universitas Ubudyah. Indoensia. Olimpiade internasional ini diikuti oleh Indonesia. Malaysia. Rumania. Kanada. Amerika. India. Korea Selatan. Philipina. Thailand, dan Bangladesh. Dalam kompetisi ini, santri menampilkan produk literasi meliputi control sugar, lukisan ampas kopi, sabun mengkudu. Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. helm jumper, dan tumbuhan urbarium. Kelima produk literasi itu hasil dari literasi pada pembelajaran yang berbeda-beda, yaitu control sugar adalah produk literasi pembelajaran Bahasa Indonesia. lukisan ampas kopi merupakan karya dari pembelajaran Seni. sabun mengkudu hasil pembelajaran Kimia. helm jumper literasi dari bidang studi Fisika. dan tumbuhan urbarium produk literasi pembelajaran Biologi. Kelima produk literasi itu mendapatkan 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Selain itu, khusus untuk sabun mengkudu mendapatkan spesial award dari I-ENVEX (International Enginering Invention and Innovation Exhibitio. Olimpiade literasi ini telah memotivasi santri untuk terus berkarya. Hal ini dikarenakan santri dapat ajang-ajang bergengsi, seperti yang telah diperoleh tahun 2015 Olimpiade literasi ini santri dapat termotivasi dan terus meningkatkan kapasitasnya melalui kegiatan literasi. Sebab itulah, program olimpiade literasi ini diapresiasi oleh warga pesantren dan komite serta masyarakat karena dapat mendongkrak kualitas santri dan pesantren yang mampu mengantarkan mereka ke lini paling Literasi Damai dan Berbagi Literasi damai dan Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. kegiatan berdamai dan berbagai informasi rutin yang dilaksanakan setiap pagi, baik dalam maupun di luar kelas. awal tahun ajaran baru, guru terlebih dahulu memulai literasi ini dengan cara membaca atikel/berita/cerita yang berisi informasi juga menarik. Setelah guru membaca, guru menunjukkan satu santri untuk menjadi aktor literasi untuk pertemuan berikutnya. Setiap pertemuan ada satu aktor literasi dan aktor itu terus melanjutkan Autongkat estabfetAy Literasi berbagi ini dilakukan dengan cara memilih teman sejawat yang lain sehingga akhir semester akan sampai lagi gilirannya pada Literasi ini diharapkan dapat membudayakan Selain itu, untuk membiasakan literasi, santri menyampaikan informasi yang menarik kepada temantemannya. Pagi literasi . stilah lain literasi damai in. juga dapat menjadi sarana penyampaian hal-hal menarik yang ditemukan santri, baik dari media elektronik dan cetak maupun lingkungan sekitarnya. Manfaat bagi guru, biasanya informasi yang dibaca oleh santri dapat dijadikan apersepsi dalam pembelajaran karena mengingat apersepsi adalah suatu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membangkitkan semangat santri di awal pembelajaran. Kreasi Literasi Kamus Psikologi yang ditulis oleh Reber . mengacu kepada prosesproses mengarah pada solusi, ide, bentukbentuk artistik, atau produkAzrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. produk yang unik. Literasi dapat mendorong seseorang melakukan perilaku/hal yang kreatif. Kreasi literasi adalah sebuah program literasi sekolah untuk mendidik kreativitas Mereka diharapkan dalam menciptakan sesuatu dengan memanfaatkan bahan baku yang tersebar di lingkungan sekitar. Di samping itu, dalam program ini, santri dituntun untuk mampu memanfaatkan limbah dan sampah yang dapat mencemari lingkungan. Sampah dan limbah itu dikelola dan diolah supaya menjadi sesuatu yang baru. Pengolahan ini tentunya membutuhkan literasi yang baik. Dengan begitu, guru perlu menyiapkan jurnal-jurnal penelitian untuk mendukung literasi santri dalam menciptakan sesuatu yang baru itu. Oleh sebab itulah, kreasi literasi sangat korelasi dengan kreativitas guru dalam mengemas setiap pembelajaran yang berbasis literasi dan kreativitas santri untuk mengkreasikan produk literasi. Senyap Literasi Dapat dikatakan bahwa awal literasi adalah membaca, sedangkan menulis adalah akhir dari literasi. Membaca dapat menambah pengetahuan dan memperkaya ilmu dan menulis bermanfaat untuk melawan lupa. Menjadi pembaca yang baik tentunya juga akan menjadi penulis yang baik. Konsep membaca dapat diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia, sedangkan membiasakan santri membaca perlu melibatkan semua guru. Dalam senyap literasi, target utama Setiap guru bidang studi Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. menyarankan buku yang harus dibaca oleh santri pada saat rapat tahunan. Buku yang disarankan dalam rapat, disampaikan kepada setiap wali kelas oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Wali kelas mengintruksikan 1 buku wajib yang harus dibaca oleh santri dan 2 buku pilihan. Buku pilihan itu ditentukan oleh santri sendiri. Mereka dapat memilih buku-buku yang mereka gemari. Di samping itu, mereka juga wajib membuat resensi buku supaya hasil dari membacanya dapat dijadikan sebagai produk literasi. Resensi itu dikumpulkan dan menjadi koleksi pustaka sekolah. Literasi Sosial Mengunjungi perpustakaan adalah sebuah motivasi yang diberikan oleh sekolah supaya santri tidak asing dengan dunia literasi. Di perpustakaan, mereka dapat mengenal banyak hal karena perpustakaan memiliki fungsi edukatif, informatif, rekreasi, riset, dan penelitian. Semua fungsi itu sangat wajib didapatkan oleh santri. Dengan begitu, literasinya akan terangsang karena diperpustakaan mereka tidak hanya melihat buku, melainkan mereka dapat menemukan ilmu tentang literasi dan melihat serta mencoba menggunakan koleksi perpustakaan. Kunjung perputakaan ini dilakukan setiap satu kali dalam satu Khusus santri kelas X, kunjungan ke dilaksanakan pada semester Hal ini dikarenakan pada semester ganjil, santri Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. sedang mempelajari TLHO (Teks Laporan Hasil Observas. Dalam pembelajaran TLHO, santri diwajibkan membuat teks yang berisi laporan tentang hasil dari pengamatan . di perpustakaan. Dalam hal ini, dua manfaat diperoleh oleh Mereka mendapatkan pengalaman ke perpustakaan dan pengetahuan membuat laporan kunjungan. Sebab itulah. Kunjungan Literasi ini menjadi agenda literasi yang dinantinantikan santri. Kunjungan literasi tidak hanya dilakukan pada perpustakaan, tetapi juga ke Museum Aceh. Museum Tsunami, dan tempat-tempat edukatif lain. Kunjung literasi ini juga dilakukan pada saat studi banding ke luar daerah. Aksi Literasi Literasi tidak hanya lahir dalam bentuk tulisan, tetapi literasi juga dapat diwujudkan dalam bentuk aksi Aksi nyata literasi ini merupakan kegiatan penutup (Kompetensi Dasa. setiap SK (Standar Kompetens. Pada pembelajaran Teks Negosiasi di bidang studi Bahasa Indonesia, santri melakukan aksi literasi salah satunya berupa negosiasi pada saat Dalam aksi ini, bidang studi Kewarganegaraan juga terlibat karena pada pembelajaran itu mempelajari tentang cara menyampaikan aspirasi di tempat umum. Dengan begitu, gerakan literasi ini melibatkan dua bidang studi, yaitu Bahasa Indonesia dan Kewarganegaraan. Aksi literasi ini menjadi dua produk literasi karena cara bernegosiasi yang dipelajari pada Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Bahasa Indonesia dan cara menyampaikan aspirasi di tempat Kewarganegaraan diimplementasikan secara bersamaan dalam Aksi Literasi. Pameran Literasi Pameran literasi merupakan sebuah kegiatan untuk memamerkan setiap produk literasi yang diciptakan oleh Semua produk literasi itu dipamerkan di lingkungan sekolah dengan cara ditempelkan di majalah dinding dan dipajang di kelas. Pada program literasi ini, santri akan termotivasi untuk menciptakan karya yang menarik. Pameran literasi tidak hanya dalam bentuk karya yang berupa tulisan, tetapi karyanya juga dapat berupa seni. Mereka dapat menampilkan seni tari, teater, dan antomim serta kemampuan menyanyi dan memainkan alat musik di pameran literasi ini. Tentunya, membuka ruang khusus kepada santri yang ingin menampilkan karya seninya pada setiap acara Untuk produk literasi olahraga, santri diajak mengamati kegiatan olahraga yang pada akhirnya melahirkan produk literasi berupa laporan olahraga. Di samping itu, santri yang mempunyai bakat olahraga, olahraganya akan dipamerkan pada kegiatan olahraga. Osim pesantren mengadakan kegiatan olahraga tahunan. Ada dua bentuk kegiatan yang diselenggarakan, yaitu turnamen bola kaki dan Di sinilah, produk literasi olahraga dipamerkan ke khalayak ramai. Selain itu, untuk jenis olahraga lain, santri akan diikutsertakan pada ajang olahraga di tempat lain, baik Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. yang diselenggarakan oleh Kadispora maupun yang lainnya. Semua kegiatan yang telah disebutkan di atas tujuannya adalah untuk membuka ruang kepada santri supaya mereka dapat menampilkan produk literasi yang telah dilatih sehingga mereka mendapatkan satu bentuk apresiasi dari publik. Dengan begitu, motivasinya untuk berliterasi akan semakin Pojok Literasi Kelas literasi adalah ruang kelas yang di dalamnya terdapat perpustakaan. Perpustakaan itu dinamakan dengan pojok literasi. Di salah satu pojok setiap kelas, terdapat koleksi buku yang disumbangkan oleh santri untuk kelasnya sendiri. Selain itu, dipojok itu juga diletakkan buku yang menjadi buku wajib untuk setiap santri. Pojok literasi ini diharapkan dapat memberi pancingan kepada santri dalam mencintai buku dan menumbuh budaya membaca buku. Pojok literasi ini dijalankan oleh santri di kelas itu sendiri. Wali kelas terlibat dalam pengelolaan pojok literasi. Sumbang Literasi Koleksi buku di sekolah dapat diperbanyak dengan cara membuat program sumbang literasi. Melalui sumbang literaisi ini, guru, santri, alumni, dan orang tua santri dapat mempercepat penambahan koleksi buku di perpustakaan Sumbang literasi maksimal dilakukan pada setiap santri yang akan menjadi alumni. Sebelum menjadi alumni, mereka wajib menyumbangkan satu buku populer ilmiah kepada sekolah. Di samping itu, sumbang buku rutin juga Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dilakukan dengan cara membuat beberapa tabungan buku yang dapat digunakan untuk menampung buku dari Setiap 1 bulan sekali, santri yang dibina oleh pihak perpustakaan mengumpulkan buku dan mendata buku itu serta menyusun buku berdasarkan ketegorinya masing-masing. Diskusi Literasi Pembelajaran Bahasa Indonesia setiap bulannya akan membuat diskusi literasi. Buku yang wajib dibaca oleh santri dan yang telah dibuat resensi wajib didiskusikan dalam forum diskusi ini. Di samping itu, guru juga ikut terlibat dalam diskusi ini. Buku yang didiskusikan dikelompokkan berdasarkan genrenya masing-masing. Jadi, pemateri tidak hanya terdiri dari satu santri saja, melainkan ada beberapa santri yang menjadi pemateri karena ada santri yang membahas buku yang bergenre sama. Award Literasi Award literasi adalah bentuk apresiasi sekolah kepada santri dengan memberikan award kepada santri yang paling rajin membaca oleh masing-masing guru bidang studi dan Award literasi ini diberikan kepada setiap santri yang telah menyelesaikan membaca 3 buku . buku wajib dan 2 buku piliha. yang lengkap dengan resensi buku. Award literasi dilaksanakan pada semester ganjil dan genap setiap Santri yang berprestasi di bidang literasi juga diberikan award serta bagi semua santri yang ditelah mendapatkan award ini fotonya akan dibukukan beserta Mereka-mereka yang mendapatkan award literasi ini akan direkomendasikan untuk mendapatkan beasantri prestasi, baik itu dari sekolah maupun dari pihak ketiga. Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Intinya, penghargaan atas prestasi literasinya benar-benar Tahap Pembelajaran Kegiatan tahap pembelajaran dilakukan dengan kerja sama semua guru mata pelajaran. Dalam hal ini, guru mata pelajaran harus mampu memahami istilah AuteksAy yang dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat dinamis. Untuk itu, istilah AuteksAy dapat berbentuk cetak, audio, visual, audio visual, digital, grafik/diagram/flowchart, kinestetik, dan lain-lain. Berkaitan dengan itu, setiap guru mata pelajaran dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus mempertimbangkan strategi literasi, yaitu strategi pemahaman wacana/teks dan kompetensi representasi multimoda. Menurut Abidin . 7: . pembelajaran literasi hendaknya dilaksanakan berdasarkan kondisi awal siswa, bukan berdasarkan apa yang harus dicapai santri. Guru harus memahami bahwa santri memiliki kecepatan belajar yang berbeda, pengetahuan awal yang beragam, kelebihan dan minat yang berbeda, serta cara mendapatkan pengetahuan yang bervariasi. Hal lain yang lebih penting adalah RPP yang disusun tetap menggambarkan alokasi waktu berbasis bidang Dengan begitu, guru memiliki kejelasan mana kegiatan inti bidang ilmu A. B, dan C, walaupun yang dipentingkan tetap tujuan akhir yang bersifat multidisiplin ilmu. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah RPP juga harus disusun lengkap baik alat evaluasi, pedoman evaluasi, lembar kerja prosesnya, maupun lampiran yang diperlukan. Evaluasi Kegiatan ini pada prinsipnya merupakan salah satu siklus agar implementasi GLS dapat maju berkelanjutan. Rethingking Pendidikan Islam Antiradikal Dan Kejahatan Siber Melalui Program Benchmarking Literasi AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Pemantauan dapat dilakukan setiap saat,tetapi disarankan dilaksanakan tiap bulan sekali. Sementara itu, evaluasi dapat dilaksanakan tiap satu semester ataupun satu tahun pelajaran. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan secara terprogram, permasalahan implementasi GLS dapat diketahui kekurangan dan keunggulan gerakan tersebut. Hal ini akan memudahkan untuk melakukan rencana tindak lanjut pada tahun pelajaran berikutnya ataupun pada rencana strategis jangka menengah berikutnya. Dalam proses pembelajaran, tahap evaluasi merupakan rangkaian proses belajar-mengajar yang harus dilakukan guru selain tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran serta refleksi. Menurut Abidin . evaluasi merupakan penilaian keterampilan berpikir yang melingkupi keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan berpikir pemecahan masalah. Sejalan dengan itu. Laksono . mengatakan bahwa evaluasi berfungsi sebagai alat ukur keberhasilan pembelajaran. Dengan evaluasi guru dapat mengetahui ketercapaian kompetensi peserta didik dan mengetahui ketercapaian guru dalam melaksanakan program Penilaian program ini dilakukan pada lima aspek meliputi . kemampuan mengambil informasi. kemampuan membentuk pemahaman yang luas. kemampuan mengembangkan interpretasi. kemampuan merefleksikan. kemampuan merefleksikan dan mengevaluasi bentuk KESIMPULAN Pemahaman dan penerapan literasi diperlukan untuk melihat perkembangan kejahatan dunia maya dan kontribusi pesantren dalam meng-counter masalah-masalah Azrul Rizki & Muhammad Iqbal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Melalui kampanye dan pembudayaan digital soft literacy . iterasi santu. , pesantren diyakini mampu mengurai gejala radikalisme agama dan kejahatan siber dalam ruang virtual yang kian menguat. Program benchmarking literasi pada Pesantren Terpadu Nurul Huda mampu mengurai gejala radikalisme agama dan kejahatan siber dalam ruang virtual melalui . tahap pembiasaan melalui kegiatan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. tahap pengembangan meliputi olimpiade literasi, literasi damai dan berbagi, kreasi literasi, senyap literasi, literasi sosial, aksi literasi, pameran literasi, pojok literasi, sumbang literasi, diskusi literasi, dan award literasi. tahap pembelajaran, yaitu tahapan untuk memahami istilah Aukejahatan duniaAy yang dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat merusak. dan tahap evaluasi semua tahapan yang telah dilaksanakan supaya mendapatkan tindak lanjut dan perbaikan terhadap programprogram benchmarking tahun berikutnya. Hasil implementasi program benchmarking literasi pada Pesantren Terpadu Nurul Huda mampu menciptakan kemajemukan, kekuatan, dan kemajuan bangsa dalam menghadapi tantangan yang muncul di era globalisasi. Program ini mampu menanamkan nilai pertemanan, persaudaraan serta kasih sayang agar terciptanya Dengan modal inilah, santri dapat membangun negeri dengan berbagai prestasi. KEPUSTAKAAN