Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia 1 Elisabeth Dewi, PhD Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan E-mail: dewi.elisabeth@gmail.com Abstract : Many countries open up to capital flows and commodity as part of globalization. On the other hand, many countries are looking at migration, related to cultural differences, as a threat to sovereignty and national identity. In the context of international migration, Indonesia has a fairly complex position. Analysing the relationship between international migration and foreign policy, the two of Myron Weiner framework that we can use are the security / stability framework (SSF) and the international political economy framework (IPEF). In the end, based on that two frameworks can be seen that the migration process affects foreign policy goals and the other way, like two sides of coin. Both the framework can serve as the basis to think that both sending and receiving countries can take a significant opportunity. Keywords : globalization, international migration, foreign policy, domestic policy Abstrak : Banyak negara membuka diri terhadap arus modal dan komoditas sebagai bagian dari globalisasi. Di sisi lain, tidak sedikit negara yang memandang migrasi, berkaitan dengan perbedaan budaya, sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan identitas nasional. Dalam konteks migrasi internasional, Indonesia memiliki posisi yang cukup kompleks. Menganalisa hubungan antara migrasi internasional dan politik luar negeri, terdapat dua kerangka pemikiran dari Myron Weiner yang dapat kita gunakan yaitu security/ stability framework (SSF) dan international political economy framework (IPEF). Pada akhirnya, berdasarkan kedua kerangka tersebut dapat dilihat bahwa proses migrasi mempengaruhi tujuan politik luar negeri dan sebaliknya, layaknya dua sisi mata uang. Kedua kerangka pemikiran dapat dijadikan sebagai landasan berpikir bahwa baik negara pengirim maupun negara penerima dapat mengambil peluang yang signifikan. Kata kunci : globalisasi, migrasi internasional, politik luar negeri, politik dalam negeri Migrasi Internasional migrasi internasional sebagai suatu aktivitas Terdapat beberapa definisi mengenai perpindahan penduduk yang mencakup aspek migrasi internasional yang dapat digunakan, perubahan tempat tinggal, tujuan migrasi, serta salah satunya adalah definisi yang dikemukakan keinginan-keinginan untuk menetap ataupun oleh Zlotnik (1992) bahwa migrasi internasional tidak di daerah tujuan. adalah suatu bentuk mobilitas penduduk yang budaya. Di samping itu, kebanyakan negara memiliki sejumlah kategori melampaui batas-batas wilayah negara dan 2 3 dalam kebijakan dan statistik migrasi negaranya masing-masing. Pengertian yang lebih luas Faktanya, tidak ada definisi yang dikemukakan Lee (1996) yang mendefinisikan seragam mengenai migrasi internasional, definisi-definisi tersebut adalah hasil dari 1 Dipresentasikan di FKKLN “Migrasi dan Pembangunan: Kondisi Global serta Peluang dan Tantangannya bagi Kebijakan Luar Negeri”, Bandung, 3 Desember 2012 2 H, Zlotnik, “Empirical Identification of International Migration System” dalam M. M. Ktiz et al. (ed), International Migration Systems: A Global Approach, 1992, Oxford, Clarendon Press kebijakan negara, diperkenalkan untuk menanggapi tujuan politik dan ekonomi serta 3 1 E S, Lee, “A Theory of Migration” dalam Robin Cohen, Theories of Migration, 1996, Cheltenham, Elgar 2 Elisabeth Dewi, PhD, Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia 4 perilaku publik suatu negara tertentu. (a) dengan sebutan pekerja pendatang atau Di samping itu, migrasi internasional pekerja kontrak luar negeri): merupakan bagian integral dari globalisasi yang perempuan atau laki-laki yang ditandai dengan semakin melebarnya, bermigrasi dalam jangka waktu tertentu mendalamnya dan semakin cepatnya keterkaitan untuk bekerja dan mengirimkan antara seluruh aspek kehidupan sosial kontemporer dunia. Migrasi internasional difasilitasi oleh peningkatan berbagai arus lintas penghasilannya ke negara asalnya. (b) s e b a g a i m a n a g e r, e k s e k u t i f , teknologi komunikasi. profesional, teknisi atau sejenisnya, Di satu sisi, banyak negara membuka yang berpindah di dalam pasar tenaga diri terhadap arus modal dan komoditas sebagai kerja transnational corporations bagian dari globalisasi. Di sisi lain, tidak sedikit (TNCs) dan organisasi internasional, negara yang memandang migrasi, berkaitan atau orang yang mencari lahan dengan perbedaan budaya, sebagai ancaman pekerjaan melalui pasar tenaga kerja terhadap kedaulatan dan identitas nasional. internasional untuk keahlian-keahlian Castles (2000) berpendapat bahwa internasional yang langka. Banyak negara yang migrasi terjadi dalam sebuah dunia yang terbagi membuka kesempatan bagi datangnya atas sejumlah negara, dimana bertempat tinggal kaum migran kategori ini bahkan di negara tempat kelahiran masih menjadi memiliki program khusus berkaitan sebuah norma dan berpindah ke negara lain dengan hal tersebut. adalah sebuah “penyimpangan”. Oleh suatu permasalahan, suatu hal yang harus ( c) memasuki suatu wilayah negara, tersebut dapat mengakibatkan perubahan- biasanya untuk mencari pekerjaan, perubahan yang tidak dapat diperkirakan bukan hanya karena adanya perbedaan jenis tanpa adanya dokumen dan perijinan. (d) pencari suaka tetapi juga orang-orang adanya perbedaan yang berkaitan dengan yang terpaksa berpindah karena faktor berbagai konteks sosial yang terjadi sebagai eksternal, seperti bencana alam atau akibat migrasi. proyek pembangunan (seperti Salah satu upaya negara untuk pembangunan pabrik baru, jalan atau memperbaiki kontrol terhadap migrasi adalah beberapa kategori di bawah ini: 4 Stephen, Castles,“International Migration at the Beginning of the Twenty-First Century”, International Social Science Journal, Vol. 165, hlm. 269-281 Migrasi terpaksa: dalam arti yang luas tidak hanya meliputi pengungsi dan migrasi secara statistik, tetapi lebih karena dengan membagi migrasi internasional menjadi Migrasi tak menentu (atau migran tidak berdokumen atau illegal): orang yang dikontrol dan bahkan harus dibatasi, karena hal sebelumnya. Sejumlah permasalahan terjadi Pelaku bisnis atau migran berkeahlian tinggi: orang yang memiliki kualifikasi batas negara, termasuk informasi modern dan karenanya, migrasi sering kali dianggap sebagai Buruh migran sementara (dikenal juga bendungan). (e) Anggota keluarga (migran untuk bersatunya kembali keluarga): orang yang memiliki ikatan kekeluargaan bersatu kembali dengan orang yang sudah memas uki s uatu negara dengan Elisabeth Dewi, PhD, Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia menggunakan salah satu cara di atas. (f) (g) mengatur berbagai resiko dalam jangka panjang. Migran yang kembali: orang yang Ketiga, proses migrasi internasional kembali ke negara asalnya setelah bagi banyak orang Indonesia diputuskan bukan tinggal dalam jangka waktu tertentu di hanya berdasarkan faktor perseorangan tetapi negara lainnya. lebih didasari oleh strategi sebuah unit keluarga Pengungsi: orang yang berada di luar untuk memaksimalkan pendapatan dan negara asalnya dan tidak mampu atau pertahanan hidup. Akibatnya, proses migrasi tidak berkeinginan untuk kembali dan segala dampaknya harus dilihat dengan karena ketakutan akan terjadinya menggunakan pendekatan “keseluruhan- kekerasan berbasis ras, agama, ekonomi-rumah tangga”. kebangsaan, keanggotaan kelompok sosial atau politik tertentu. (h) 3 Pencari suaka: orang yang melintasi batas dalam rangka mencari perlindungan, tetapi belum memenuhi persyaratan berdasarkan Konvensi 1951. 5 6 Keempat, proses migrasi internasional di Indonesia sangat difasilitasi oleh “lingkaran migrasi” yang melibatkan banyak aktor, baik secara internal maupun eksternal. Dalam hal ini “industri migrasi” yang terdiri dari banyak organisasi dan individu sangat berperan dalam proses migrasi, baik berperan sebagai penolong ataupun pemeras. Jaringan sosial yang sangat Posisi Indonesia dalam Konteks Migrasi dipercayai oleh calon migran, di satu sisi dapat Internasional membuat proses migrasi menjadi lebih aman Dalam konteks migrasi internasional, dan teratur. Tetapi di sisi yang lain, jaringan ini Indonesia memiliki posisi yang cukup dapat menjerumuskan calon migran ke dalam kompleks. Pertama, berdasarkan jalurnya, berbagai permasalahan yang kompleks, Indonesia berkedudukan sebagai negara asal, termasuk migrasi ilegal dan perdagangan transit dan tujuan dari keseluruhan proses manusia. migrasi internasional. Proses pergerakan Kelima, perempuan memainkan manusia yang dibarengi dengan pergerakan peranan penting dalam migrasi internasional, informasi, komoditi, modal tersebut terutama migrasi tenaga kerja yang sekarang memerlukan peraturan dan pengawasan dari sudah mencapai 70 persen dari jumlah institusi yang berkuasa. keseluruhan tenaga kerja migran dari Kedua, posisi Indonesia dalam konteks migrasi internasional tidak dapat secara sederhana dijelaskan melalui perbedaan pendapatan antar negara yang terlibat. Dalam hal ini, ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan, seperti ketersediaan lapangan pekerjaan, ketersediaan modal untuk aktivitasaktivitas wirausaha dan kebutuhan untuk 5 http://unesco.org/most/migration/glossary_m igrants.htm 7 Indonesia. Kebanyakan dari perempuan ini bekerja di bidang pelayanan domestik yang seringkali tidak tercakup dan tidak terjangkau dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan dan 6 Stephen, Castles, “International Migration at the Beginning of the Twenty-First Century”, International Social Science Journal, Vol. 165, hlm. 269-281 7 Migrasi Tenaga Kerja dari Indonesia: Gambaran Umum Migrasi Tenaga Kerja Indonesia di Beberapa Negara Tujuan di Asia dan Timur Tengah, IOM, 2010 4 Elisabeth Dewi, PhD, Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia Undang-Undang Hubungan Industri di negara bermigrasi bukan hanya dilakukan tujuan, akibatnya posisi mereka menjadi rentan dalam tingkatan individual, tetapi lebih eskploitasi. dilakukan dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi yang lebih luas dimana Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri: Peluang seseorang bertindak. (b) Proses migrasi memiliki keterkaitan Untuk menganalisa hubungan antara dengan berbagai proses global lainnya migrasi internasional dan politik luar negeri, yang menekankan pada pentingnya terdapat dua kerangka pemikiran dari Myron peran negara dalam proses pembuatan Weiner yang dapat kita gunakan yaitu kebijakan, baik yang bersangkutan security/stability framework (SSF) dan dengan isu perbatasan maupun international political economy framework keterlibatan aktor dan kekuatan global. 8 (IPEF). Berdasarkan SSF, politik luar negeri yang berkaitan dengan isu migrasi internasional lebih dipengaruhi oleh pemikiran yang lebih menitikberatkan kepada kepentingan stabilitas internal dan keamanan internasional. Dalam hal ini, SSF mempertimbangkan perubahan secara politis yang akan terjadi akibat perpindahan manusia dalam proses migrasi internasional yang dapat menjadi sebab dan akibat konflik internasional. Sedangkan fokus kerangka pemikiran IPEF adalah lebih kepada isu ketidakadilan secara global, hubungan ekonomi antara negara pengirim dan penerima, termasuk perpindahan modal, teknologi, dan peran yang dimiliki oleh institusi transnational, serta perubahan struktural yang terjadi di pasar tenaga kerja berkaitan dengan pemisahan tenaga kerja secara internasional. Kedua kerangka pemikiran tersebut di atas digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan luar negeri Indonesia dengan mempertimbangkan bahwa: dapat digunakan untuk menganalisa politik luar negeri dengan sudut pandang yang berbeda, IPEF SSF Migrasi internasional yang melibatkan perpidahan manusia dari Indonesia ke negara lainnya dipandang sebagai situasi yang saling menguntungkan. Indonesia memiliki keuntungan dari remitan dan negara l a i n n y a d a r i ketersediaan tenaga kerja. Migrasi internasional dapat menyebabkan (i) resiko politik yang berkaitan dengan perubahan komposisi etnis di negara penerima serta (ii) k e t e g a n g a n internasional apabila terjadi bentrokan kepentingan antara penduduk asli dan pendatang. Migrasi internasional menyebabkan situasi brain drain di negara pengirim sementara negara penerima mengalami tingkat penggangguran yang makin tinggi dan keterbatasan fasilitas tempat tinggal. Migrasi internasional dapat membantu proses pencapaian keamanan dan perdamaian karena migrasi etnis minoritas tertentu yang tidak diterima di negara tertentu dapat diterima lebih baik di negara lainnya. Proses pembuatan keputusan untuk contohnya sebagai berikutDari kedua kerangka Myron ,Weiner,“Security, Stability and International Studies”, Center for International S t u d i e s , M I T , 1 9 9 0 , http://web.mit.edu/ssp/publications/working_pape rs/WP-90-2.pdf proses migrasi mempengaruhi tujuan politik luar (a) 8 Masing-masing kerangka pemikiran tersebut di atas dapat dilihat bahwa negeri dan sebaliknya, seperti dua sisi mata uang. Kedua kerangka pemikiran dapat dijadikan sebagai landasan berpikir bahwa baik Elisabeth Dewi, PhD, Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia 5 negara pengirim maupun negara penerima dapat negara menunjukkan tingkat kemampuan yang mengambil peluang untuk: (i) menjadikan rendah pemerintah Indonesia untuk migrasi internasional sebagai isu penting dalam menciptakan pembangunan ekonomi bagi hubungan bilateral, multilateral dan rakyatnya. Hal ini dapat menyebabkan krisis internasional; (ii) mengambil peran penting kepercayaan dari masyarakat terhadap dalam perjanjian bilateral, multilateral dan pemerintah selaku pembuat kebijakan luar internasional; serta (iii) menjadikan migrasi negeri Indonesia. internasional sebagai instrumen dalam interaksi Kedua, sebagai negara pengirim antar negara. Sehingga, migrasi internasional, migran, terutama buruh migran, ada kalanya tidak lagi sebagai isu “low politics” dan bukan Indonesia dipandang belum mampu untuk isu utama, atau masih dikalahkan oleh isu-isu memberikan perlindungan yang efektif selama lainnya yang dipandang lebih prioritas dalam mereka berada di luar negeri. Akibatnya, pemerintah harus berhadapan dengan berbagai 9 persaingan internasional. mengambil peluang untuk: (i) menjadikan migrasi internasional sebagai isu penting dalam hubungan bilateral, multilateral dan internasional; (ii) mengambil peran penting dalam perjanjian bilateral, multilateral dan internasional; serta (iii) menjadikan migrasi internasional sebagai instrumen dalam interaksi antar negara. Sehingga, migrasi internasional, tidak lagi sebagai isu “low politics” dan bukan isu utama, atau masih dikalahkan oleh isu-isu lainnya yang dipandang lebih prioritas dalam 9 persaingan internasional. Migrasi Internasional baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ketiga, adanya potensi yang cukup besar bahwa banyak calon tenaga kerja dari Indonesia yang tidak mengetahui cara untuk bermigrasi dengan aman membuat posisi mereka menjadi rentan sebagai korban penipuan, pemerasan dan pemalsuan dokumen. Sebagai akibat proses rekruitasi dan pemberian kerja ke calon pekerja yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak mengikuti prosedur dan ditambah dengan pengawasan pemerintah yang kurang, tenaga kerja migran Indonesia menjadi dan Politik Luar Negeri: Tantangan Sebagai salah satu faktor utama dalam proses globalisasi, migrasi dapat dipandang sebagai suatu tantangan bagi proses pembuatan dan pelaksanaan politik luar negeri Indonesia, terutama berkaitan dengan potensi migrasi sebagai suatu daya dorong yang dapat mengikis kekuatan dan kedaulatan negara. Pertama, kecenderungan bahwa semakin banyak orang bermigrasi ke berbagai 9 bentuk protes dari berbagai kalangan, Christopher, Mitchell,“International Migration, International Relations and Foreign Policy”, International Migration Review, Vol. 23 No. 3, hlm. 681-708 sangat mudah terperosok pada praktek eksploitasi. Dalam konteks inilah perdagangan manusia dapat terjadi. Korban mungkin berangkat dari Indonesia melalu jalur resmi atau dapat juga diselundupkan oleh jaringan kejahatan transnasional, dan mereka diperlakukan seperti budak: tidak dibayar, tidak mempunyai kebebasan bergerak dan sering mengalami siksaan. Rekomendasi Pertama, diperlukan pemikiran yang luas mengenai migrasi internasional dan politik luar negeri, yang tidak hanya terbatas pada langkah diplomatik atau tradisional interaksi 6 Elisabeth Dewi, PhD, Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia antar negara, tetapi juga melibatkan peraturanperaturan yang berlaku di dalam sistim ekonomi politik internasional. Kedua, diperlukan sebuah strategi internasional yang dapat menjamin bahwa proses migrasi internasional berkaitan dan sejalan dengan tujuan politik, ekonomi dan sosial nasional, regional dan internasional. Oleh karenanya, kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM, eksploitasi dan konflik (politik, sosial dan budaya) dapat dihindari oleh seluruh aktor yang terlibat dalam proses migrasi. Ketiga, dibutuhkan proses analisa terintegrasi dalam berbagai tingkatan, melibatkan studi migrasi yang berkaitan dengan proses pembuatan kebijakan di level domestik, luar negeri dan hubungan internasional untuk menghubungkan proses migrasi dengan strategi pembangunan berkelanjutan. Daftar Referensi Buku Castles, Stephen , “ International Migration at the Beginning of the Twenty - First Century”, International Social Science Journal, Vol. 165 Lee, E S, “A Theory of Migration” dalam Robin Cohen, Theories of Migration, 1996, Cheltenham, Elgar Mitchell, Christopher,“International Migration, International Relations and Foreign Policy”, International Migration Review, Vol. 23 No. 3 Zlotnik, H , “ Empirical Identification of International Migration System” dalam M. M.Ktiz et al.(ed), International Migrations Systems: Global Approach, 1992, Oxford, Clarendon Press Artikel Migrasi Tenaga Kerja dari Indonesia: Gambaran Umum Migrasi Tenaga Kerja Indonesia di Beberapa Negara Tujuan di Asia dan Timur Tengah, IOM, 2010 Website http://unesco.org/most/migration/glossary_mig rants.htm Weiner, Myron , “Security , Stability and International Studies ”, Center for International Studies, MIT, 1990, diakses melalui http ://web.mit.edu/ssp/publications/working_papers/WP-90-2.pdf