SILABUS: Jurnal Ilmu dan Inovasi Pendidikan Vol. 1 No. Maret 2024, pages: 21-33 DOI: https://doi. org/10. 62667/silabus. e-ISSN: 3047-1044 https://berugakbaca. org/index. php/silabus PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JINGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS V SDN 03SEMBALUN BUMBUNG LOMBOK TIMUR TAHUN PELAJARAN 2022/2023 Nurhasanah nurhasanah@gmail. Article History Manuscript submitted: 9 Maret 2024 Manuscript revised: 11 Maret 2024 Accepted for publication: 15 Maret 2024 Keywords: Pendekatan tipe jigsaw Hasil Belajar Abstract Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui apakah dengan penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Jiksaw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas V SDN 01 Sembalun Bumbung Tahun Pelajaran 2022/2023. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes dan lembar pbservasi. Rancangan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari satu kali pertemuan ditambah dengan satu kali pertemuan untuk memberikan Untuk melihat apakah terdapat peningkatan atau tidak digunakan statstik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkat kan prestasi belajar siswa dan aktivitas belajar siswa secara klasikal pada materi pokok luas bangun datar. Peningkatan ini dapat dilihat dari prolehan nilai rata-rata siswa kelas SDN 01 Sembalun Bumbung pada pertemuan pertama sebesar 60,7 dan pada pertenuan kedua sebesar 64,7 pada dan pertemuan ketiga sebesar 96,6sedangkan presentase ketuntasan belajar pada pertemuan pertama 48,8%, pertemuan kedua 65,9%, dan pertemuan ketiga sebsar 85,4%, ini berarti bahwa penerapan modal pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pokok luas bangun datar SILABUS@ 2024 Pendahuluan Peningkatan ilmu pengetahuan dan tekologi saat ini sangat berdampak besar pada mutu dan kualitas pendidikan, termasuk dalam menemukan inovasi baru dalam dunia pendidikan dengan tetap mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan sesungguhnya yang tertera pada sistem pendidikan nasional (Sikdikna. Dalam Undang-undang no. 20 tahun 2003 yang menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses intraksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudka suasana belajar dan proses pemelajaran agar peserta didik secara aktif mengebangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan pegedalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan msyarakat, bangsa dan Negara. Pedidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membetuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk perkembangan prestasi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepadam Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, madiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung ( Undang-undang no. 20 tahun 2003, 2006:65 ). Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu pemerintah sejak orde baru telah mengadakan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan bagi seluruh Rakyat Indonesia. Hal ini sesuai dengan bunyi pasal 31 ayat 1 UUD 1945, yang menyatakan bahwa: AuTiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaranAy. Seorang guru perlu menyadari bunyi dan isi pasal ayat Undangundang Dasar tersebut, setiap murid berhak mendapatkan pengajaran yang sama. Dalam tugasnya sehari-hari guru dihadapkan pada suatu permasalahan yaitu ia harus memberi pengajaran yang sama kepada murid yang berbeda-beda. Perbedaan itu berasal dari lingkungan kebudayaan, lingkungan sosial, jenis kelamin dan lain-lain. Salah satu tujuan siswa bersekolah adalah untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan kemampuannya. Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui 2 . jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar secara berjenjang dan Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberi keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan (UU RI No. 20 Tahun 2. Dengan demikian keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, sehingga latar belakang keluarga harus diperhatikan agar keberhasilan pendidikan dicapai secara maksimal. Berdasarkan hasil observasi di kelas V SDN 01 Sembalun Bumbung bahwa pada kenyataanya yang terjadi adalah guru masih belum menggunaka model pembelajaran yang berpusat pada siswa hal ini terlihat dari metode pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran lagsung yakni metode Karena metode pembelajaran yang kurang berpariasi tersebut berdampak pada kurngnya motivasi atau sikap belajar siswa pada matematika yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya perestasi belajar siswa pada mata paelajaranmatematika. Berdasarka hasil wawancara guru kelas V SDN 01Sembalu Bumbung pada saat observasi awal, rendahnya perestasi belajar siswa tersebut disebabkan karena masih banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika yang diajarkan. Dalam proses pembelajaran yang bersifat pada siswa, banyak metode atau teknik megajar yang dapat digunakan guru yang mampu membagkitkan motivasi belajar siswa, sehigga berdampak pada peningkatan kretaivitas dan prestasi belajaran sebagai mana yangdiharapkan. Oleh sebab itu salah satu model pembelajaran yang dapat menjawab permasalahan tersebut adalah Kooperatif Tipe Jiksaw dimana model ini merupakan model pembelajaran yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat heterogen, dimana pada kelompok ini lah siswa diharapkan dapat berdiskusi untuk menemukan penemuan baru. Berdasarkan uraian diatas, peneliti mencoba menerapkan salah satu strategi atau metode untuk meingkatkan motivasi belajar siswa yaitu Kooperatif Tipe Jiksaw yang dapat memberikan pemahaman kepada siswa tentang saling membantu baik saat berkelompok maupun saat menyelesaikan tugas yang diberikan guru Untuk itu penelitian dengan judul AuPenerapan Model Kooperatif Tipe Jiksaw untuk Menigkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matemetika Kelas V SDN 01 Sembalun Bumbung Kecamatan Sembalun Tahun Pelajaran 2022/2023Ay. Metode Penelitian Proses pembelajaran merupakan siklus dari tiga tahapan, yaitu plan, do, dan reflection. Ketiga tahapan ini jika dilakukan secara berkelanjutan dan berbentuk spiral dengan ketiga tahapan tersebut sebagai tiang utama, maka kualitas pembelajaran akan meningkat sekaligus kualitas hasil belajar siswa juga akan meningkat. Ketiga tahapan tersebut merupakan siklus yang tidak dapat dipisahkan, perencanaan ditentukan oleh refleksi, refleksi menggunakan data yang dihasilkan dari pelaksanaan, dan pelaksanaan merupakan ekspresi dari perencanaan. Dalam menyusun rencana pembelajaran, pertama-tama guru akan menentukan tujuan pembelajaran. Berdasarkan . etode/strategi/ metode/pendekatan/tekni. untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Guru juga menentukan cara menilai keterlaksanaan tujuan pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan cara yang dipilih, akan ditentukan media, sumber belajar, alat dan bahan, yang Seperti yang telah disampaikan dalam tulisan sebelumnya bahwa rencana pembelajaran merupakan disain didaktik hipotetik. Oleh sebab itu, dalam konsep Kooperatif Tipe Jigsaw mengajar rencana pembelajaran merupakan jawaban sementara dari permasalahan pembelajaran yang Rumusan masalah umum dari suatu proses pembelajaran dan jawaban sementara yang dituangkan dalam rencana pembelajaran antara lain sebagai berikut. Perencanaan tindakan Pada tahap ini perencanaan yang perlu dilakukan adalah: Mesosialisasikan pengajaran dengan menerapkan pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Meyusun atau meyiapkan sekenario pembelajaran yang akan dilasanakan dengan penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Menyusun lembar observasi untuk mencatat aktivitas siswa selama pembelajaran berlangung Menyiapkan lember kerja siswa ( LKS ) dan soal-soal latihan Menyusu tes hasil belajar dalam bentuk essay untuk megetahui hasil belajar siswa. Pelaksanaan tindakan Yang dilaksanaka pada tahap tindakan ini yaitu melaksanakan kegiatan belajar mengajar dikelas sesuai dengan rencana da scenario pembelajaran yang dibuat Observasi dan evaluasi Selama pelaksanaan tidakan observasi, yang dilakukan secara kotinyu tiap kali pembelajaran berlangsung dengan mengamati kegiatan guru dan aktifitas guru dan siswa. Sedangkan evaluasi dilaukan dengan memberikan tes berupa essay. Tes ini dikerjaka secara individu selama satu jam pelajaran . x 20 meni. Uji coba model Uji coba model dilakukan pada saat proses belajaar mengajar dan hasail penelitian bersifat kualitatuf dan kuantitatif dengam rumus ketuntasaan belajar. Rumus n(AeXY ) Oe (AeX )( AeY ) An. AeX Oe (Ae X ) A. An. AeY Oe (AeY ) A Keterangan: rxy = koifisien korelasi antara variabel X da Y X = skor item soal AeX = jumlah nilai variabel X AeY = jumlah nilai variabel Y n = jumlah subjek kriteria jika rxy > harga tabel, maka korelasi tersebut dikataka valid, pada taraf singifikan 5%. (Arikunto: 2002: . Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan, adalah Tes Prestasi Belajar, dan Observasi. Tes prestasi belajar berupa soal-soal uraian yang valid, reliable, daya pembeda yang baik, dan taraf kesulitan yang baik. Tes berupa daftar pertayaa yag diperuntukkan untuk siswa yang menjadi obyek penelitian. Sedangkan observasi bertujuan untuk mengamati kegiatan peneliti selaku pengajar dan kegiatan siswa ( individu maupun kelompok ) selama meneliti. Hal ini dilakuka untuk mengetahui apakah ada kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan serta menkaji sejauh mana pemberitindakan menghasilkan perubahan yang sesuai dengan kehendak peneliti Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, hasil tes dianalisis secara deskriptif, dengan rumusan sebagai berikut: KB = X 100% Keterangan: : Ketuntasan Belajar : Jumlah Siswa yang memproleh nilaiOu 65 : Jumlah siswa yang ikut tes Ketuntasan belajar tercapai jika KB Ou 85% Data mengenai aktivitas guru diambil meggunakan lembaguru diambil meggunakan lembar observasi berupa activity check list sesuai dengan sekeario pembelajaran. Setiap indicator perilaku guru pada peilaianya mengikuati aturan berikut: BS ( Baik Sekali ) : Jika semua dekriptor yang nampak B ( Baik ) : Jika ada 2 dekriptor yang nampak C ( Cukup ) : Jika ada 1 dekriptor yang nampak K ( Kurang ) : Jika tidak ada dekriptor yang nampak Data hasil observasi dinamai secara deskriptif diakhir setiap siklus untuk mngetahui aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran dengan acuan sebagai berikut: MI 0,5 SDI C AEE MI 1,5 SDI Tinggi MI 0,5 SDI C AEE MI 0,5 SDI Cukup MI 1,5 SDI C AEE MI 1,5 SDI Rendah MI = A ( skor teringgi ideal skor teredah ideal ) SDI = 1/6 ( skor teringgi ideal - skor teredah ideal ) Pengembangan instrumen dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut : Instrument Tes Tes dalam penellitian ini meliputi: . tes awal, yang bertujuan untuk menjaring subyek peelitian dan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat yang dimiliki siswa terhadap materi lingkaran, . tes ahir setiap tindakan, diberikan dengan maksud untuk mengukur hasil yang diproleh siswa setelah pemberian tidakan. Kedua tes tersebut berbentuk uraian. Validitas instrumen tes Validitas instrumen tes adalah ketepatan megukur apa yang seharuseharusnya yang diukur melalui item tes ( Allen& Yen, 1979: 95 ). Untuk megetahui validitas instrumen dari tiap butir soal maka rumus yang dapat digunakan adalah sebagai berikut: n(AeXY ) Oe (AeX )( AeY ) An. AeX Oe (Ae X ) A. An. AeY Oe (AeY ) A Keterangan: rxy = koifisien korelasi antara variabel X da Y X = skor item soal AeX = jumlah nilai variabel X AeY = jumlah nilai variabel Y n = jumlah subjek kriteria jika rxy > harga tabel, maka korelasi tersebut dikataka valid, pada taraf singifikan ( Arikunto: 2002: 146 ) b. Realiabitas istrumen tes Ukuran dari pegukuran ditampilkan dalam kofisien reabilitas. Untuk megukur koefisie reabilitas digunakan formula alfa ( Ebel& Frisbie, 1986: 79 ) sebagai berikut: K E AeSt 2 E E1 Oe K Oe1 E St 2 E Keteragan: k = banyanknya item tes AeSt 2 = varian skor siswa pada suau item tes St 2 = varia skor total Observasi Observasi bertujuan untuk mengamati kegiatan peneliti selaku pengajar dan kegiatan siswa ( individu maupun kelompok ) selama meneliti. Hal ini dilakuka untuk mengetahui apakah ada kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan tindakan serta menkaji sejauh mana pemberitindakan menghasilkan perubahan yang sesuai dengan kehendak peneliti, observasi dilakukan oleh peneliti kepada guru Matematika dengan meggunakan lembar observasi Hasil dan Pembahasan Sebelum dilakukan tindakan terlebih dahulu dilakukan uji kemampuan awal ( pretes ). Data hasil pretes dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut Table. Data hasil pree test Jumlah siswa Nilai tertingi Nilai terendah Siswa yang tuntas Siswa yang tidak tuntas Rata-rata Persentase ketuntasan 14,6% Dari data diatas terlihat bahwa persentase ketuntasan sebesar 14,6% ini bererti bawha dalam meningkatkan prestasi siswa maka perlu dilakukan perbaikan lebih lanjut yakni pada pertemuan Hasil penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif diproleh dari observasi kegiatan belajar, sedagkan secara kuantitatif diproleh dari hasil evaluasi. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada sub pokok bahasan persegi panjang dan persegi pada siswa kelas V SDN 03 Sembalun Bumbung tahun pelajaran 2013/2014. Ada pun rincian pelaksanaan dan hasil penelitian inidapat diuraikan sebagai berikut: n Pertemuan pertama Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan dilakukan pada kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan dalam 2kali pertemuan selama 4 jam pelajaran yang dilanjtkan dengan evaluasi selama 60 menit. Pelaksanaan tindakan pembelajaran dilakukan berdasarkan scenario Adapun pada awal kegiatan pembelajaran guru menyampaikan tujuan pembelajaran sehingga siswa mengetahui materi yang akan dibahas. Pada saat guru memberikan apersepsi dengan cukup antusias siswa menanggapi, setelah itu guru membagi siswa menjadi 8 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 siswa, setelah masing-masing siswa menempati tempat duduk sesuai dengan kelomponya, guru kemudian membagi LKS pada masing-masing kelompok. Guru memberikan kesempatan untuk siswa berdiskusi dengan anggota kelompok masingmasing, selama diskusi berlangsung guru memantau kerja tiap-tiap kelompok dan membimbing siswa yang kesulitan dan mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan yang dialami siswa sehingga terjadi persamaan persepsi tentang konsep yang terkandung dalam materi yang diajarkan. saat diskusi berlangsung tidak semua anggota kelompok yang aktif mengeluarkan pendapatnya, namun hal ini tidak menghambat jalannya diskusi. Setelah diskusi kelompok, guru meminta perwakilan dari masing-masing kelompok untuk mempersentasekan hasil kelompoknya didepan kelas, setelah selesai diskusi siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan soal-soal latihan, yang ada dibuku paket kemudia bersama guru membahas soal latihan yang telau dikerjakan. Kemudian guru dan siswa sama-sama memberikan kesimpulan dari apa yang telah dipelajari. Pada akhir pertemuan siswa diberi soal evalasi dalam bentuk esay. Data prestasi belajar siswa Setelah selesai prsoses belajar sesuai dengan sekenario yang elah direncanakan, pada perteman pertama akan dilakukan evaluasi, siswa diberi evaluasi dalam bentuk tes Hasil evaluasi perteman pertama dilihat pada table dibawah ini. Table. Data hasil prestasi belajar siswa perteman pertama. Rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah Yang tidak tuntas Yang tuntas Presentase ketuntasan 48,8% Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata siswa adalah 60,7 tes evaluasi diikuti oleh 41 siswa dan terdapat 20 siswa yang tuntas belajar dan 21 siswa yang tidak tuntas, sehingga ketuntasan belajar pada pertemuan pertama adalah 48. 8% nilai ini kurang dari 85%. Jadi degan kata lain bahwa pada pertemuan pertama belum mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan yaitu 85% siswa memproleh nilai minimal pada saat Observasi proses pembelajaran Berdasarkan hasil observasi ada siswa yang belum megerti dan tidak mau bertanya, dan tidak mau bekerja sama. Pada kegiatan pembelajaran ini guru mendampingi mengisi lembar observasi untuk melihat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung hasil observasi yang dproleh adalah sebagai berikut: Siswa Kurangnya keberanian siswa untuk bertanya, mengemukakan pendapat, dan menjawab pertanyaan guru serta jawaban serentak masih mendominasi. Diskusi yang dilakukan belum efektifkarena masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menerangkan LKS. Kurangnya partisipasi siswa dalam meyimpulkan hasil belajar atau diskusi. Kurangnya pemahaman siswa dalam mengerjakan soal evalasi yang diberikan. Guru Pemberian apersepai pada siswa masih kurang, dalam hal ini guru menyimpulkan kembali beberapa konsep penting sebelumnya yang belum sepenuhnya dikuasai oleh siswa. Guru kurang memberikan penguatan atau penghargaan pada siswa. Keterampilan guru masih kurang dalam mengelola kelas, sehingga banyak siswa yang rebut akibatnya mengganggu proses belajar mengajar. Guru kurang memberikan dorongan dan memancing siswa bertanya sehingga siswa krang aktif dalam mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum dimengerti selama proses belajar mengajar. Refleksi Berdasrkan hasil yang diproleh pada pertemuan pertama, baik hasil evaluasi dalam hal penguasaan materi maupun hasil observasi proses belajar mengajar, tujuan pembelajaran yang ditetapkan tidak tercapai. Dalam konteks ini maka refleksi dimaksudkan mengetahui kekurangan-kekurangan yang terjadi dan selanjutnya diadakan perbaikan maupun penyempurnaan dalam pelaksanaan belajar mengajar, pertemuan selanjunta yaitu perteman kedua. Adapun hal-hal yang akan diperbaiki pada pertemuan kedua adalah sebagai berikut: Pada saat memberikan pertanyaan usahakan siswa menjawab dengan mengucapkan tannyaan terlebih dahulu. n Guru harus membantu siswa yaitu dengan memberikan bimbingan dan melatih siswa agar dapat membuat kesimpulan dengan bahasannya sendiri. Antusias dalam mengikuti kegiatan perlu ditingkatkan. Ini terlihat dari beberapa siswa yang belum siap mengikuti pelajaran. Respon siswa dalam pembelajaran masih rendah. Hal ini nampak dari keberanian siswa untuk bertanya, mengajukan pendapat dan pertanyaan pada guru Pada saat menutup kegiatan pembelajaran tidak bias dilaksanakan seefisien mungkin karena banyaknya waktu yang tersisa pada saat diskusi kelompok. Untuk itu peneliti harus menggunakan waktu seefisien mungkin pada pertemuan berikutnya. Membahas soal-soal evaluasi yang dianggap sulit. Pertemuan kedua Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan pada pertemuan keduayaitu kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan dalam satu kali pertemuan selama 2 jam pelajaran yang dilanjutkan dengan evaluasi selama 60 menit. Pelaksanaan tindakan pembelajaran dilakukan berdasarkan scenario pembelajaran. Adapun pada awal kegiatan pembelajaran guru menyampaikan tujuan pembelajaran sehingga siswa mengetahui materi yang akan dibahas. Pada saat guru memberikan apersepsi dengan cukup antusias siswa menanggapi, setelah itu guru membagi siswa dalam kelompok sesuai dengan kelompok pada pertemuan sebelumnya, pada perteman ini siswa sudah terbiasa dengan pendekatan yang dilakukan oleh guru sehingga tidak terlalu bermasalah dalam pengaturannya. Setelah masing-masing siswa menempati tempat duduk sesuai dengan kelomponya, guru kemudian membagi LKS pada masing-masing kelompok. Guru memberikan kesempatan untuk siswa berdiskusi dengan anggota kelompok masing-masing, selama diskusi berlangsung guru memantau kerja tiap-tiap kelompok dan membimbing siswa yang kesulitan dan mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan yang dialami siswa sehingga terjadi persamaan persepsi tentang materi yang dipelajari. Guru menyuruh siswa untuk lebih memfokuskan perhatian mereka pada LKS yang sedang mereka kerjakan. Setelah diskusi kelompok, guru meminta perwakilan dari masingmasing kelompok untuk mempersentasekan hasil kelompoknya didepan kelas, setelah selesai diskusi siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan soal-soal latihan, yang ada dibuku paket kemudia bersama guru membahas soal latihan yang telau dikerjakan. Kemudian guru dan siswa sama-sama memberikan kesimpulan dari apa yang telah Pada akhir pertemuan siswa diberi soal evalasi dalam bentuk esay. Data prestasi siswa Data ringkasan tentag hasil belajar siswa pada perteman kedua. Table. Data hasil prestasi belajar siswa perteman kedua. Rata-rata n Nilai tertinggi Nilai terendah Yang tidak tuntas Yang tuntas Presentase ketuntasan 65,9% Dari tabel diatas terlihat bahwa dari 41 siswa yang mengikuti tes evaluasi terdapat 27 siswa yang tuntas belajar denga rata-rata nilai 64,7, dan persentase ketuntasan mencapai 65,9%. hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan perteman kedua belum mencapai ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85%. Observasi proses pembelajaran Hasil observasi pada peremuan kedua dilakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus sebelumnya dan kegiatan pembelajaran sudah berjalan seperti yang diharapkan tetapi masih ditemukannya kekurangan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yaitu guru tidak memperhatikan alokasi waktu sehingga dalam merangkum kesimpulan selalu tergesa-gesa. Sementara itu siswa sudah berani mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat kepada guru, dan siswa juga sudah berani menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Refleksi Berdasarkan hasil yang diproleh pada pertemuan kedua adalah rata-rata nilai kelas sebesar 64,7 dengan ketuntasan belajar sebesar 65,9%. Dari pertemuan kedua ternyata syarat yang ditetapkan oleh peneliti sudah tercapai. Namun mengingat ada beberapa siswa yang nilainya masih dibawa target, maka perlu perhatian dan penanggualangan dari guru bidang studi yang bersangkutan, misalnya memberikan bimbingan belajar sesai dengan masalah yang dihadapi siswa. Pertemuan ketiga Pelaksanaan tindaka Pelaksanaan pertemuan ketiga dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang muncul pada pertemuan kedua, diantaranya: menunjuk siswa yang kurang aktif untuk menjawab atau mempersentasikan hasil diskusi kelompok, penjelasan konsep, dan membuat kesimpulan untuk menutup kegiatan pembelajaran. Observasi dan evalasi Hasil observasi Padasaat pembelajaran di perteman kedua telah dilakukan perbaikan, dan analisis hasil observasi aktivitas siswa tergolong aktif pada setiap pertemuan. Hasil evaluasi Berdasarka hasil evaluasi pada pertemuan ketiga setelah dianalisis diproleh data sebagai berikut. Tabel. Hasil belajar pada pertemuan tiga Rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah Yang tidak tuntas Yang tuntas Presentase ketuntasan 85,4% Hasil evaluasi yang diproleh pada perteman ketiga ini mencapai tingkat 85,4% jadi sudah dikatakan tuntas, dengan demikian pendekatan pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW dikatakan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pokok menghitung luas bangun datar. Refleksi Dari hasil observasi aktivitas siswa pada pertemuan ketiga, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan denga baik, dimana hasil observasi aktivitas siswa dapat tergolong aktif dilihat dari setiap kegiatan pembelajaran. Hasil evaluasinya terjadi peningkatan rata-rata Oleh karena itu penelitian ini dihntikan sampai perteman ketiga sesuai denga Berdasarkan analisis data, pemberian tindakan pada pertemuan pertama meunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas sebesar 60,7 denga persentase ketuntasan sebesar 48,8%, ini berarti ketuntasan belajar siswa belum tercapai sesuai dengan dengan yang ditetapkan oleh kurikulum, hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantarnya, siswa baru pertama kali mengikuti pembelajaran kooperatif tipe jingsaw khusunya di kelas V sehingga tingkat penyerapan siswa terhadap materi yang diberikan belm optimal. Selama proses pembelajaran brlangung dilakukan observasi terhadap aktivitas siswa dan guru yang dicatat pada lembar observasi. Berdasarkan analisa data pada perteman pertama tergolong cukup aktif. Kemudian hasil observasi kegia guru menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar sudah cukup baik. Pada pelaksanaan pertemuan pertama banyak yang tidak memperhatika pelajaran karena mereka asyik mencatat dan rebut dengan teman sebangkunya terutama bangku bagian belakang, kurangnya komonikasi dan kerja kelompok antar anggota kelompok selama diskusi dan menjawab soal dari kelompok lain dan kurangnya keberanian siswa dalam mengemukakan pendapatnya dan bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti, padahal selama penyampaian materi guru sudah memberikan contoh soal yang beragam. Diakhir pertemuan penarikan kesimpulan dilakukan denga tergesa-gesa karena keterbatasan waktu. Untuk mengatasi banyaknya kekuranga-kekurangan selama proses pelaksanaan pertemuan pertama guru melakukan perbaikan-perbaikan dengan pembelajaran pada pertemuan brikutnya dan mengungkapkan hal-hal yang dianggap kurang. Untuk itu guru lebih megaktifkan siswa terutama dalam hal bertanya. Pembalajaran pada pertemuan kedua diberikan perbaikan sesuai dengan refleksi pada pertemuan sebelumnya. Selama proses pembelajaran berlangsung perlu diadakan observasi terhadap aktivitas siswa selama mengikui pembelajaran. Dengan demikan pelaksanaan tindakan yang dilakukan selama tiga pertemuan terlihat terjadi peningkatan hasil pemahaman pembelajaran siswa dalam kegiatan pembelajaran. Adapun peningkatan ini dapat dilihat dari kenaika hasil pemahaman dan keaktifan siswa dari pertemuan pertama kedua dan ketiga. Sementara itu pelaksanaan kooperatif tipe jinsaw diproleh bahwa pembagian kelompok secara heterogen dapat meningkatka intraksi antar siswa. Dengan demikianPenerapan Model Kooperatif Tipe Jingsaw DapatMeningkatkan Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V SDN 03 Sembalun BumbungTahun Pelajaran 2022/2023 pada materi pokok luas bangun datar. Kesimpulan Dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkat kan prestasi belajar siswa dan aktivitas belajar siswa secara klasikal pada materi pokok luas bangun datar. Peningkatan ini dapat dilihat dari prolehan nilai rata-rata siswa kelas SDN 01 Sembalun Bumbung pada pertemuan pertama sebesar 60,7 dan pada pertenuan kedua sebesar 64,7 pada dan pertemuan ketiga sebesar 96,6sedangkan presentase ketuntasan belajar pada pertemuan pertama 48,8%, pertemuan kedua 65,9%, dan pertemuan ketiga sebsar 85,4%, ini berarti bahwa penerapan modal pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pokok luas bangun datar. Daftar Pustaka Arikunto. Suharsimi. Dasar Ae Dasar Evaluasi Pendidikan. Jogyakarta: PT Bumi Aksara. Aita Lie. Cooperative Learning AuMemperaktikkan Cooperative Learning di ruang-ruang kelasAy. Jakarta: Grasindo. Cut Zurnali, 2004. Pengaruh Pelatihan dan Motivasi Terhadap Perilaku Produktif Karyawan Divisi Long Distance PT Telkom Tbk. Tesis. Unpad. Bandung Djamrah. Syaeful Bahri dan Zain Aswan, 2002. Strategi Belajar mengajar. Jakarta : Rineka Cipta Depdikbud. Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendiikan Nasional. Semarang: Aneka Ilmu. Herman Hudojo. Megajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbut. Ratna Wilis Dahar. Teori-teori Belajar. Jakarta: P2LPTK. Riduwan. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru - Karyawan Dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Robert E. Slavin. Cooperate Learning Au teori, riset, dan praktek:. Bandung: Nusa Media. Roestiyah. Strategi Belajar Megajar. Jakarta: Rineka Cipta. Muslimin Ibrahim, dkk. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa University Prees. Oemar Hamalik. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Saifudin Azwar. Tes prstasi Aufungsi dan pengemangan pengukuran perestasi belajarAy. Yogyajarta: Pustaka Pelajar. Syaiful Bahri Djamarah. Perestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Jakarta: Usaha Nasional. Trianto. Model-model Pembelajaran Inovatif Beriorentasi Kontruktivisik. Jakarta: Prestasi Pustaka