Jurnal Riset Akuntansi dan Manajemen Website: ojs. itb-ad. id/index. php/LQ/ p-ISSN: 1829-5150, e-ISSN: 2615-4846. PENGARUH FASHION INFLUENCER TERHADAP NIAT BELI KONSUMEN DI INDONESIA Salsabila Rosalia Said1. Rania Ariqah Yasir2 (*) 1-2Universitas Trisakti. Jakarta Abstract This research is focused on fashion influencers' involvement in consumer purchase intentions in Indonesia. The method used in this study is the Descriptive Analysis Research Method. The research results show . There is a positive influence between subjective norms on attitudes toward influencers. This means that the increasing consumer perception of influencers can increase consumer attitudes toward influencers. a positive influence exists between perceived suitability for attitudes towards influencers. This shows that the more suitability consumers feel for the influencers they follow will increase consumer attitudes toward them. There is a positive influence between consumer attitudes towards influencers on consumer purchase intentions, which shows that using influencers they like will result in a positive attitude and therefore increase consumer purchase intentions. Kata Kunci: Fashion Influencer. Purchase intention. Social media Juli Ae Desember 2023. Vol. : hlm 145-157 A2023 Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan. All rights reserved. (*) Korespondensi: bcacasalsa17@gmail. com (S. Sai. , raniariqahyasir@gmail. com (R. Yasi. PENDAHULUAN Media sosial merupakan suatu platform digital yang sangat populer dan sangat berhubungan dengan kehidupan manusia di zaman sekarang ini. Media sosial memiliki banyak fungsi yang penting untuk segala kegiatan masyarakat, seperti berkomunikasi, mendapatkan informasi, sebagai kegiatan berbisnis. Media sosial juga digunakan sebagai wadah untuk mempromosikan produk yang akan dijadikan salah satu strategi bisnis oleh beberapa pelaku bisnis agar dapat menjangkau lebih banyak (Augustinah et al. , n. Dalam laporan (We Are Social, 2. sebanyak 167 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia pada Januari 2023. Setara dengan 60,4% dari total populasi di Indonesia saat itu yaitu sebanyak 276,4 juta penduduk. Indonesia termasuk kesepuluh tertinggi pengguna social media dengan waktu yang dihabiskan sebanyak 3 jam 18 Fashion influencer merupakan kepribadian dengan pengikut dalam jumlah besar di media sosial yang menghasilkan konten mode atau fashion yang menarik tentang produk dan merek. fashion influencer dapat memengaruhi opini dan perilaku pembelian pengikut dengan cara influencer mempromosikan suatu produk/ jasa dengan memposting di media sosial mereka seperti di Instagram. YouTube. TikTok dan Twitter kepada masing-masing pengikutnya (Park & Kim, 2. Meningkatnya permintaan pada industri fashion, perilaku pembelian semakin dipengaruhi oleh konsumen yang mulai lebih memiliki kesadaran akan tren fashion yang akan mempengaruhi perilaku pembelian. (Lang & Joyner Armstrong, 2. Dalam beberapa tahun belakangan, perusahaan biasanya memanfaatkan kepopuleran selebritas untuk mempromosikan produk mereka, tetapi kemajuan dalam platform media sosial menyebabkan validasi yang terus meningkat terhadap influencer (Xu (Rink. & Pratt, 2. Sesorang yang dipercaya mempunyai pengaruh dikarenakan popularitasnya disebut dengan influencer. (Ligariaty & Irwansyah. Studi ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan ini dalam literatur dengan memeriksa faktor yang mempengaruhi sikap terhadap fashion influencer dan pengaruhnya terhadap sikap merek dan niat beli. (De Veirman et al. , 2. menyarankan bahwa pertempuran utama bagi seorang Pemasar adalah mengidentifikasi influencer yang lebih sesuai dengan promosi dari iklan mereka. influencer seperti itu harus memiliki keterampilan dan keyakinan yang kuat untuk mempengaruhi pengikut mereka. TUJUAN PENELITIAN Konsep Pemasaran Influencer Digitalisasi sebagai bagian dari kemajuan teknologi, memberikan kesempatan bagi lahirnya internet, yang didefinisikan dalam bahasa Inggris sebagai international connection networking. (Ligariaty & Irwansyah, 2. Hal ini memicu banyaknya perkembangan di dunia bisnis termasuk dunia pemasaran. Terutama menggunakan para influencer sebagai alat pemasaran. Menurut (Lammenett, 2. Influencer adalah Individu yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan transaksi berdasarkan jejaring sosial, memiliki banyak pengikut dan dikenal oleh banyak orang serta memiliki otoritas dalam masyarakat. Influencer yang menarik lebih cenderung mengarahkan niat pembelian Seorang influencer harus mengetahui dan merasakan pengalaman, pengetahuan atau keahlian atas suatu brand atau merek tertentu. Presepsi akan kualitas influencer dalam memberikan pernyataan yang valid dapat menggambarkan kualitas influencer (Universitas Bina Nusantara. School of Information Systems et al. Konsumen selalu memperhatikan pendapat orang lain, tetapi meningkatnya penggunaan platform media sosial memungkinkan pelanggan setia untuk berbagi pendapat dan pengalaman mereka dengan rekan-rekan mereka. Influencer di media sosial dipercaya sebagai orang yang telah membangun jaringan sosial yang besar dari pengikut mereka. Selain itu, influencer dipandang sebagai pembuat selera tepercaya di satu atau beberapa ceruk. Karena merek terus meninggalkan teknik periklanan tradisional, upaya semakin difokuskan pada influencer ini untuk mendukung produk mereka di antara pengikut mereka dan (De Veirman et al. , 2. Konsep Niat Beli Jenis keputusan yang mempelajari mengapa pelanggan membeli suatu merek tertentu disebut sebagai niat beli. Konstruksi seperti mempertimbangkan sesuatu untuk membeli sebuah merek dan mengantisipasi untuk membeli sebuah merek membantu untuk memperluas niat pembelian. (Saad et al. , 2. Menurut (Rahmawati, 2. Niat beli Knsumen merupakan dorongan konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli produk. dalam perilaku konsumen dijelaskan bahwa rangsangan dalam pemasaran terdiri dari marketing mix yaitu produk. Harga. Saluran distribusi, dan Promosi. Promosi adalah komponen utama dalam pemasaran. Faktor psikis adalah factor pendorong untuk meningkatkan minat beli konsumen factor psikis berasal dari dalam diri konsumen berupa presepsi, motivasi, keyakinan, sikap dan pengetahuan. Selain itu faktor social seperti status sosial, keluarga juga dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kemudian baruan pemasaran seperti produk, harga, promosi dan juga distribusi. (Dwi & Laela, 2. Theory Of Planned Behavior. Menurut Kondisi dimana seseorang memiliki sikap positif terhdap suatu merek dan memiliki komitmen akan merek tersebut dan berkeinginan untuk terus membeli dimasa depan disebut loyalitas. Mowen dan Minor . alam Mardalis, 2. Apabila seseorang memilki komitmen yang kuat dalam menggunakan secara terus menerus suatu produk atau jasa, konsumen tersebut dikatakan loyal. Maulana . Pendapat bahwa manusia adalah makhluk yang rasional sehingga menggunakan informasi yang mungkin baginya, secara sistematis merupakan asumsi dari teori perilaku terencana. Seseorang akan memperhatikan akibat yang akan timbul dari tindakan mereka sebelum mereka memutuskan dalam melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu. Faktor utama yang sebutkan dalam theory of planned behavior pengertian dari perilaku terencana adalah niat seseorang untuk melakukan perilaku tertentu. Niat digambarkan sebagai dorongan yang mempengaruhi perilaku mereka dalam isyarat seberapa keras orang mau mencoba, seberapa banyak usaha yang direncanakan untuk dilakukan dalam melakukan perilaku tersebut. Disebutkan bahwa semakin besar kemungkinan kinerjanya maka semakin kuat niatnya. (Ajzen, 1. Faktor yang mempengaruhi niat beli konsumen : Norma Subjektif. Menurut Azwar . alam Salsabila, 2. Keyakinan yang yang dipercayai dan berasal dari anggota keluarga, teman, rekan kerja dan masyarakat disekitar kita yang menodorong agar kita melakukannya. Keyakinan mengenai harapan orang sekitar dapat mempengaruhi apakah seseorang yang dipengaruhi melakukan perilaku atau tidak. Norma subjektif mempengaruhi bagaimana pandangan sesorang terhadap pandangan seseorang di sekitarnya untuk melakukan perilaku tertentu. Kesesuaian yang dirasakan. Menurut hasil penelitian (Shan et al. , 2. mengatakan tingkat persamaan yang tinggi antara citra di gunakan influencer media sosial dan citra ideal konsumen menghasilkan dorongan dari konsumen yang paling efektif. Sehingga. Ketika seorang influencer memiliki citra di media sosial sesuai dengan citra diri ideal dan disukai oleh konsumen, mereka cenderung akan memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Kerangka Pemikiran Penelitian ini memiliki kerangka penelitian sebagai berikut : Gambar 1. Kerangka Pemikiran Berdasarkan kerangka penelitian diatas, hipotesis yang dapat dirumuskan Norma subyektif berhubungan positif dengan sikap yang dirasakan konsumen terhadap influencer. Kesesuaian yang dirasakan oleh konsumen dengan influencer berhubungan positif dengan sikap yang dirasakan konsumen terhadap influencer. Sikap yang dirasakan konsumen terhadap influencer berhubungan positif dengan niat beli konsumen. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan analisis Kulaitatif. Menurut (Sugiyono, 2. Penelitian kuantitatif dinamakan metode tradisional, metode ini disebut sebagai metode positivistic karena berlandaskan pada filsafat dimana penelitian ini bisa dikatakan layak atau tidak. Metode ini disebut sebagai metode scientific sesuai dengan kaidah ilmiah yang konkrit atau empiris. Data yang diambil adalah data primer, yaitu data yang didapatkan secara langsung dengan penyebaran google form. Populasi dan Sampel Populasi adalah sekelompok orang, peristiwa, atau hal-hal menarik yang ingin Menurut AuResearch Method for BusinessAy karya (Sekaran & Bougie, 2. Populasi adalah keseluruhan sampel dan sampel adalah Sebagian dari populasi itu Ini terdiri dari beberapa anggota yang dipilih darinya. Ini artinya tidak semua elemen populasi membentuk sampel (Sekaran & Bougie, 2. Menurut (Hair et al. , 2. ukuran sampel sebaiknya harus 100 atau lebih besar. Sebagai aturan umum, jumlah sampel minimum setidaknya lima kali sampai sepuluh kali lebih banyak dari jumlah indikator. Peneliti memakai sepuluh kali, sehingga minimum sampel yang dibutuhkan adalah 10 x 11 indikator = 110 responden. Maka peneliti memutuskan untuk menggunakan 116 sampel. Metode Pengumpulan Data Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah menggunakan metode probability yang dikombinasikan dengan teknik random sampling. Responden ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan alat pengumpulan data. Informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti dari sumber-sumber yang dapat mendukung penelitian berupa dokumentasi dan kepustakaan. Uji Instrumen Uji validitas Uji Validitas digunakan untuk melihat sejauh mana alat ukur yang digunakan untuk mengukur undikator yang akan diukur. Instrumen yang menunjukan validitas yang baik dapat dikatakan bawa alat ukur teresebut dapat digunakan untuk mendapatkan data tersebut itu valid. Arti valid berarti instrumen tersebut boleh digunakan sebagai alat untuk mengukur yang akan diukur (Sugiyono, 2. Uji validitas dilakukan terhadap masing-masing item pertanyaan . yang membentuk variabel penelitian. Dalam membuat keputusan dengan cara membandingkan nilai Factor Loading dari setiap indikator dengan Standard Factor Loading. Jika jumlah sampel sebesar 116 responden. Standard Factor Loading yang dipakai Menurut (Hair et al. , 2. Dalam pengambilan keputusan uji validitas dapat dikatakan sebagai berikut: Jika Factor Loading lebih dari atau sama dengan . maka pernyataan valid. Jika Factor Loading kurang dari atau sama dengan . maka pernyataan tidak valid. Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas mengukur tingkat konsistensi dalam pengukuran variabel. Salah satu bentuk uji reliabilitas adalah test-retest. Dalam metode ini, konsistensi dapat diukur bagaiamana jawaban dari respons individu pada dua titik waktu. Tujuannya adalah untuk memperhatikan bahwa jawaban tidak terlalu beragam sepanjang periode waktu sehingga penilaian yang dilakukan pada setiap waktu dapat dipercaya (Hair et al. , 2. Menurut (Sekaran & Bougie, 2. , reliabilitas yang memiliki nilai cronbach alpha kurang dari 0,60 dianggap tidak bagus, sedangkan reliabilitas yang memiliki kisaran nilai cronbach alpha 0,60 dapat diterima, dan nilai reliabilitas cronbach alpha di atas 0,80 dianggap sangat baik. Metode Analisis Data Pada penelitian ini alat analisis yang digunakan adalah Structural Equation Modeling (SEM) yang dijalankan dengan program AMOS. Sebelum menguji ketiga hipotesis sebelumnya maka akan di lakukan pengujian Goodness of fit model untuk menentukan apakah penelitian ini di nyatakan layak atau tidak. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Dalam tabel 2 dapat ditunjukan bahwa dari 116 responden didominasi oleh responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 77 responden dan memiliki tingkat presentase sebesar 66,4%. Dari karakteristik usia, responden di dominasi oleh usia 20-24 tahun sebanyak 59 reponden dengan tingkat presentase 50,9%, lalu pada usia 25-29 tahun sebanyak 22 reponden dengan tingkat presentase 19,0%, usia 15-19 tahun dan 30-34 tahun yang sama-sama sebanyak 15 reponden dengan tingkat presentase 12,9%, dan terakhir usia 35-39 tahun sebanyak 5 reponden dengan tingkat presentase 4,3. Tabel 1. Profil Responden Profil Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia 15-19 tahun 20-24 tahun Frekuensi Presentase 66,4% 33,6% 12,9% 50,9% 25-29 tahun 30-34 tahun 35-39 tahun Sumber : Data Primer, 2023 19,0% 12,9% 4,3% Statistik Deskriptif Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk sebagai alat analisis data dengan cara memberikan deskripsi dan gambaran data yang telah terkumpul sebagaimana mestinnya tanpa memiliki maksud untuk membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau Generalisasi (Sugiyono, 2. Tabel 2. Statistik Deskriptif Indikator Minimum Maximum Mean NS1 NS2 KED1 KED2 KED3 STI1 STI2 STI3 STI4 NBK1 NBK2 3,8707 3,4397 3,9655 3,9052 3,8793 3,8707 4,2328 3,9310 3,9828 4,0259 3,8966 Standar Deviasi 1,19076 1,30076 1,03782 0,99545 1,12795 1,14611 0,86836 1,00195 1,07931 1,06698 1,01621 Sumber : Data Primer, 2023 Uji Validitas Jika jumlah sampel sebesar 116 responden. Standard Factor Loading yang dipakai Menurut (Hair et al. , 2. Jadi dalam pengambilan keputusan uji validitas dapat dikatakan sebagai berikut : Jika nilai Factor Loading lebih dari atau sama dengan . maka unit pernyataan valid. Jika Factor Loading kurang dari atau sama dengan . maka unit pernyataan tidak valid. Tabel 3. Hasil Uji Validitas Variabel Indikator Norma subjektif (NS) Saya mempertimbangkan pendapat lingkungan saya sebelum merujuk pada fashion influencer. Kebanyakan orang disekitar saya berpikir bahwa saya harus membeli barang-barang yang di iklankan oleh fashion influencer. Anda merasa memiliki kecocokan dengan fashion influencer pilihan anda. Anda melihat tingkat kecocokan antara kepribadian Anda dan fashion influencer pilihan Anda. Kesesuain yang dirasakan (KED) Factor Keterangan Loading 0,672 Valid Valid 0,747 0,840 Valid Valid 0,826 Anda merasa bahwa fashion influencer memberikan pengaruh pilihan dalam cara berpakaian dan gaya hidup anda. Sikap Saya mempercayai fashion influencer memiliki Terhadap fungsi sebagai acuan fashion bagi saya. Influencer Saya mempercayai bahwa fashion influencer dapat (STI) memberikan berbagai konten yang menarik. Anda percaya bahwa fashion influencer memberi jalan tengah baru atas perbedaan produk dan Anda memandang fashion influencer sebagai sumber informasi yang handal. Niat beli Anda berniat untuk membeli produk yang dipromosikan oleh fashion influencer yang saya (NBK) Anda biasanya memberi rekomendasi yang dipromosikan influencer baik itu barang maupun Sumber : Data Primer, 2023 Valid 0,871 0,763 Valid 0,828 Valid 0,837 Valid 0,812 Valid 0,804 Valid 0,797 Valid Uji Reliabilitas Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas Jumlah Variabel Responden Norma subjektif (NS) Kesesuain yang (KED) Sikap Terhadap Influencer (STI) Niat beli (NBK) Sumber : Data Primer, 2023 Item Pertanyaan Cronbach Keterangan 0,742 Reliabel 0,801 Reliabel 0,819 Reliabel 0,742 Reliabel Dari hasil tabel pengujian diatas menunjukkan bahwa nilai cronbach reliabilitas untuk Kredibilitas yang dirasakan sebesar 0,875. Kepercayaan sebesar 0,833. Kontrol perilaku yang dirasakan sebesar 0,807. Norma subjektif sebesar 0,807. Keahlian yang dirasakan sebesar 0,809. Kesesuain yang dirasakan sebesar 0,801. Sikap terhadap influencer sebesar 0,819, dan Niat beli konsumen sebesar 0,807. Semua variabel dinyatakan reliabel. Uji Goodness of fit Tabel 5. Hasil Uji Goodness of fit Pengukuran Jenis Pengukuran Nilai ECVI Absolute fit measures Incrmental Fit Measures 1,331 RMSEA NFI TLI CFI RFI Parmonius fit CMIN/DF 0,115 0,836 0,855 0,892 0,780 2,515 AIC 153,097 Batas penerimaan yang Mendekati nilai Saturated dibanding < 0,10 Ou 0,90 atau Ou 0,90 atau Ou 0,90 atau Ou 0,90 atau Batas bawah 1, batas Mendekati nilai Saturated dibanding Kesimpulan Good fit Poor fit Poor fit Poor fit Poor fit Poor fit Good fit Good fit Sumber : Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel hasil olah Goodness of fit nilai ECVI sebesar 1,331 dan CMIN/DF sebesar 2,515 dan AIC sebesar 153,097 dinyatakan good fit. Nilai RFI sebesar 0,780. NFI sebesar 0,836. Nilai TLI sebesar 0,855 dan CFI sebesar 0,892, dan RMSEA sebesar 0,115 dinyatakan poor fit. Hasil Pengujian Structural Equation Modeling Berdasarkan tabel hasil olah Goodness of fit nilai ECVI sebesar 1,331 dan CMIN/DF sebesar 2,515 dan AIC sebesar 153,097 dinyatakan good fit. Nilai RFI sebesar 0,780. NFI sebesar 0,836. Nilai TLI sebesar 0,855 dan CFI sebesar 0,892, dan RMSEA sebesar 0,115 dinyatakan poor fit. Analisis Structural Equation Modeling (SEM) diawali dengan pembuatan model terbaik yang sudah disiapkan sebelumnya. Tampilan dari model ditunjukan dalam Gambar 2. Tampilan Hasil Pengolahan model menggunakan AMOS Hipotesis 1. Berdasarkan hipotesis pertama menguji bagaimana pengaruh positif norma subjektif terhadap sikap konsumen terhadap influencer. Dapat disebutkan bahwa hipotesis sebagai berikut. Tabel 6. Hasil hipotesis 1 Hipotesis H1. Norma subyektif berhubungan positif dengan sikap yang dirasakan konsumen terhadap influencer. Estimate p-value Keputusan Didukung Sumber : Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel uji hipotesis dari penelitian kami menunjukkan hasil nilai estimate sebesar 0,395 dan nilai p-value 0,002 O 0,05 . ingkat kesalahan 5%). Maka keputusan adalah didukung, sehingga dapat dikatakan bahwa Norma subyektif berhubungan positif dengan sikap konsumen terhadap influencer. Hal ini menunjukan bahwa semakin meningkatnya presepsi konsumen terhadap influencer maka dapat meningkatkan Sikap Konsumen terhadap Influencer. Hal tersebut sesuai dengan penelitian (Chetioui et al. , 2. yang menyatakan bahwa Norma Subyektif berpangurh signifikan terhadap sikap konsumen terhadap Influencer. Hipotesis 2. Berdasarkan hipotesis kedua menguji bagaimana pengaruh positif Kesesuaian yang dirasakan terhadap sikap konsumen terhadap influencer. Dapat disebutkan bahwa hipotesis sebagai berikut. Tabel 7. Hasil hipotesis 2 Hipotesis H2. Kesesuaian yang dirasakan konsumen dengan influencer berhubungan positif dengan sikap konsumen terhadap influencer. Estimate p-value Keputusan Didukung Sumber : Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel uji hipotesis dari penelitian kami menunjukkan hasil nilai estimate sebesar 0,666 dan nilai p-value 0,000 O 0,05 . ingkat kesalahan 5%). Maka keputusan adalah didukung, sehingga dapat dikatakan bahwa Kesesuaian yang dirasakan konsumen dengan influencer berhubungan positif dengan Sikap Konsumen Terhadap Influencer. Hal ini menunjukan bahwa semakin banyak kesesuaian yang dirasakan oleh konsumen terhadap influencer yang mereka ikuti akan meningkatkan Sikap Konsumen terhadap Influencer. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya (Xu (Rink. & Pratt, 2. yang menyatakan bahwa Kesesuaian yang dirasakan terhadap Influencer berpengaruh signifikan terhadap Sikap Konsumen Terhadap Influencer. Hipotesis 3. Berdasarkan hipotesis ketiga menguji bagaimana pengaruh positif Sikap konsumen terhadap influencer terhadap niat beli konsumen. Dapat disebutkan bahwa hipotesis sebagai berikut. Tabel 8. Hasil hipotesis 3 Hipotesis H3. Sikap konsumen terhadap influencer berhubungan positif dengan niat beli konsumen. Estimate p-value Keputusan Didukung Sumber : Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel uji hipotesis dari penelitian kami menunjukkan hasil nilai estimate sebesar 0,942 dan nilai p-value 0,000 O 0,05 . ingkat kesalahan 5%). Maka keputusan adalah didukung, sehingga dapat dikatakan bahwa Sikap konsumen terhadap influencer berhubungan positif dengan niat beli konsumen. Hal ini menunjukan bahwa apabila menggunakan influencer yang di sukai akan menghasilkan sikap yang positif dan karenanya meningkatkan niat beli konsumen. Hal imi sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya (Bergkvist et al. , 2. yang menyatakan bahwa Sikap Konsumen Terhadap Influencer berpengaruh signifikan terhadap Niat Beli Konsumen. KESIMPULAN Model Norma subyektif yang dirasakan berhubungan positif dengan sikap konsumen terhadap influencer. Hal ini berarti pertimbangan akan pendapat lingkungan sekitar terhadap pembelian barang-barang yang diiklankan oleh fashion influencer akan mempengaruhi sikap konsumen terhadap fashion influencer yang mereka ikuti di masa yang akan datang. Kesesuaian yang dirasakan konsumen dengan influencer berhubungan positif dengan sikap konsumen terhadap influencer. Hal ini berarti bahwa kecocokan kepribadian, cara hidup dan berpakaian antara fashion influencer yang dipilih dengan kosnumen akan mempengaruhi sikap konsumen terhadap fashion influencer di masa yang akan datang. Sikap konsumen terhadap influencer berhubungan positif dengan niat beli Hal ini berarti Fashion Influencer yang berfungsi sebagai model fashion, menyajikan konten yang menarik, dan sebagai sumber informasi yang handal akan meningkatkan niat beli konsumen dimasa yang akan datang. DAFTAR PUSTAKA