Al-Liqo: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM P-ISSN: 2461-033X | E-ISSN: 2715-4556 Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama *Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif. Email: ahmadabdulrochim@gmail. com1, sangkot. sirait@uin-suka. arif@uin-suka. 1,2,. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Indonesia Abstract Interreligious dialogue (IRD) is a crucial pillar in fostering tolerance and social harmony educational This research is motivated by the importance of studentsAo understanding of IRD as presented in religious education curricula. The research problem addressed is how students perceive the IRD material and to what extent they apply it in their daily lives. The aim of this study is to examine the perceptions of 12th-grade students toward IRD material and to measure the extent to which dialogical attitudes are practiced in their interactions. A quantitative survey method was employed by distributing questionnaires at a senior high school. The findings reveal that the majority of respondents have a positive perception of IRD and reported having received the material through classroom instruction. The data also indicates that students not only understand the concept theoretically but also apply it in their everyday lives. This is evidenced through the stages of behavior change approach, which shows that most students are in the action and maintenance stages in implementing dialogical attitudes both in school and outside. This study contributes to strengthening the role of schools in instilling religious tolerance values and demonstrates the effectiveness of IRD Keywords: Perception. Religious Dialogue. High School Students Abstrak Dialog Antarumat Beragama merupakan salah satu pilar penting dalam membentuk toleransi dan kerukunan sosial di lingkungan pendidikan. Pentingnya pemahaman siswa sehingga diajarkan dalam kurikulum pendidikan agama. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi siswa kelas XII dan mengukur tingkat penerapan sikap dialogis dalam interaksi mereka. Metode digunakan survei kuantitatif melalui kuesioner di sekolah menengah. Hasil penelitian bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi positif dan merasa telah menerima melalui pembelajaran di kelas. Siswa tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Hal ini ditunjukkan melalui pendekatan stages of behavior change, yang memperlihatkan bahwa mayoritas siswa telah berada pada tahap action dan maintenance dalam menerapkan sikap Berkontribusi pada penguatan peran sekolah dalam menanamkan nilai-nilai toleransi beragama dan menunjukkan efektivitas pengajaran DAUB . Kata Kunci: Persepsi. Dialog Agama. Sekolah Menengah Atas Cara Mensitasi Artikel: Rochim. Sirait. S & Arif. Persepsi siswa sekolah menengah atas dan kejuruan tentang dialog antarumat beragama. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 170-188. https://doi. org/10. 46963/alliqo. *Corresponding Author: ahmadabdulrochim@gmail. Histori Artikel: Diterima : 11/05/2025 Direvisi : 18/06/2025 Diterbitkan : 30/06/2025 Editorial Address: Kampus Parit Enam. STAI Auliaurrasyidin Tembilahan. Jl. Gerilya No. Tembilahan Barat. Riau Indonesia 29213. DOI: https://doi. org/10. 46963/alliqo. AAuthors . Licensed under (CC-BY-SA) Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama PENDAHULUAN Mata kuliah integrasi-interkoneksi pendidikan Islam di Program Studi Pendidikan Agama Islam di UIN Sunan Kalijaga menjadi titik awal bagi peneliti untuk memahami lebih jauh bagaimana persepsi dialog antarumat beragama oleh para siswa di sekolah. Dikarenakan selama pembelajaran selalu dilakukan diskusi, hal tersebut kemudian muncul keinginan untuk mengetahui bagaimana persepsi siswa tentang dialog antarumat beragama. Kuliah ini juga mendorong peneliti untuk mengenali dan memahami bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara yang kaya dengan beragam budaya, suku, ras, bahasa, agama, dan Kekayaan ini, terutama dalam hal agama. (Suryana, 2. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menggambarkan kesatuan bangsa Indonesia meskipun terdapat beragam perbedaan yang muncul akibat pluralitas. (Basuki, 2. Namun, hingga saat ini, perbedaan tersebut sering kali menjadi sumber konflik, terutama yang berkaitan dengan agama. (SyafaAoatun, 2. Agama merupakan identitas yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia, dan hal ini menjadi perhatian serius, terutama mengingat semboyan NKRI seharusnya mencerminkan penerimaan terhadap perbedaan demi mencapai persatuan. (Bakry. Sudah seharusnya dialog antarumat beragama dimulai dari lingkungan rumah dan sekolah. (Junaidi, 2. Di sekolah, siswa idealnya dilatih untuk dapat berdialog dengan baik dengan orang-orang disekitarnya yang memiliki latar belakang yang berbeda. (Majid, 2. Sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang mempersiapkan calon guru pendidikan agama Islam, penting untuk membangun dan mengembangkan sikap dialog sebagai bagian dari tanggung jawab dalam membangun bangsa Indonesia yang benar-benar mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika. (Syaefudin & Rohman, 2. Cita-cita ini harus dimulai sejak masa Namun, muncul pertanyaan mengenai apakah siswa di sekolah benar-benar diajarkan untuk memiliki kesadaran dalam membangun sikap dialog di tengah masyarakat yang sangat plural dan multikultural. (Naim, 2. Pemikiran tentang masalah ini menghasilkan beberapa pertanyaan penelitian, yaitu: Apa persepsi Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama siswa di SMA/K di Kersana. Brebes mengenai dialog antarumat beragama (DAUB)? Apakah mereka mendapatkan pelajaran khusus mengenai DAUB? Sejauh mana pengetahuan tentang DAUB yang mereka peroleh di sekolah efektif dalam membangun sikap dialog? Dan seberapa jauh siswa SMA/K di Kersana. Brebes mulai mengembangkan sikap dialog di sekolah dan dalam pertemanan Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa SMA/K di Kersana. Brebes mengenai dialog antarumat beragama. Dan urgensi penelitian ini terletak pada minimnya penelitian, publikasi ilmiah, dan pemembahasan mengenai pemahaman dan pemikiran remaja, di sekolah negeri ataupun swasta. Penelitian ini ditujukan khusus untuk siswa SMA/K di Kersana. Brebes, mengingat mereka adalah generasi muda bangsa yang sedang belajar berpikir kritis dalam menanggapi situasi masyarakat sekitar. Oleh karenanya, mereka perlu didengarkan dan difasilitasi dengan baik agar dapat menghadapi berbagai tantangan dimasyarakat plural dengan bijak dan mampu membangun sikap dialog antarumat beragama yang sesuai, demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan bangsa Indonesia yang semakin damai dan bersatu. (Ramdhani, 2. METODE Subjek penelitian ini terdiri dari siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Kersana. SMK Negeri 1 Kersana, dan SMK Bina Bangsa di kecamatan Kersana, kabupaten Brebes. Pemilihan kelas XII sebagai populasi penelitian didasarkan pada fakta bahwa materi pembelajaran mengenai dialog antarumat beragama (DAUB) diajarkan pada semester pertama kelas tersebut sesuai dengan kurikulum nasional. Penelitian ini mengadopsi pendekatan deskriptif dengan metode survei. (Arikunto, 2. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan cara mendeskripsikan berbagai variabel yang berkaitan dengan masalah dan unit yang diteliti. (Marzuki, 2. Dalam konteks penelitian ini, peneliti ingin memahami persepsi siswa SMA/K di Kersana. Brebes tentang DAUB. Metode survei digunakan untuk mengukur gejala yang ada tanpa menyelidiki penyebab Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama kemunculan gejala tersebut, dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran umum tentang karakteristik populasi. Data penelitian dikumpulkan menggunakan instrumen berupa Google Form, yang memungkinkan pengumpulan data secara daring. Data yang berhasil dikumpulkan melalui pengisian Google Form kemudian dianalisis sesuai dengan pertanyaan penelitian yang ingin dijawab. Ruang lingkup survei ini disebut sebagai sampel, (Arikunto, 2. yang merupakan bagian kecil dari populasi yang terdiri dari siswa kelas XII. Seluruh siswa kelas XII dari SMA dan SMK di Kersana. Brebes diminta untuk mengisi Google Form yang dibagikan oleh peneliti melalui guru kelas secara daring. Berdasarkan jawaban dari para responden, peneliti memperoleh gambaran tentang persepsi mereka terhadap DAUB. HASIL DAN PEMBAHASAN Dialog antaragama tidak akan berhasil jika seseorang hanya fokus pada sejarah umum agama yang dianut dan ajaran tradisionalnya, tanpa mengakui komitmen pada iman dan kehidupan para penganutnya (Hans, 2. Dengan kata lain, dialog antarumat beragama seharusnya mendorong para pelakunya untuk lebih mendalami keyakinan masing-masing sekaligus menghargai keyakinan orang lain. (Amin, 2. Berdasarkan pemikiran ini, peneliti merasa terdorong untuk menyelidiki persepsi dari siswa di sekolah menengah atas atau kejuruan mengenai dialog antarumat beragama . elanjutnya disebut DAUB). Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai apakah siswa kelas XII di sekolah tersebut benarbenar diajarkan dan memahami DAUB, sehingga mereka memiliki kesadaran untuk membangun sikap dialog di masyarakat urban yang sangat plural. Pertanyaan penelitian yang dihasilkan adalah, apa persepsi siswa di SMA/K di Kec. Kersana Kab. Brebes mengenai DAUB? apakah mereka menerima pelajaran khusus tentang DAUB?, seberapa efektif pengetahuan tentang DAUB yang mereka peroleh di sekolah dalam membangun sikap dialog?, dan sejauh mana siswa SMA/K di Kec. Kersana Kab. Brebes mulai mengembangkan sikap dialog di sekolah dan dalam lingkungan pertemanan mereka? Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami persepsi siswa SMA/K di Kec. Kersana Kab. Brebes mengenai dialog antarumat beragama. Responden yang mengisi survei penelitian ini berasal dari SMA dan SMK yang ada di Kec. Kersana Kab. Brebes. Urgensi penelitian ini terletak pada kurangnya penelitian, publikasi ilmiah, serta modul kebangsaan yang menyoroti pemahaman dan pemikiran remaja, khususnya di sekolah menengah atas atau kejuruan. Penelitian ini ditujukan secara khusus kepada siswa di SMA Negeri 1 Kersana. SMK Negeri 1 Kersana, dan SMK Bina Bangsa Kersana. Siswa SMA/K sebagai generasi muda yang sedang belajar berpikir kritis perlu didengarkan dan difasilitasi agar siap menghadapi tantangan di masyarakat plural dengan bijak, serta mampu membangun sikap DAUB yang sesuai untuk mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif dan bangsa Indonesia yang semakin bersatu (Riyanto, 2. Responden penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kersana. SMK Negeri 1 Kersana, dan SMK Bina Bangsa Kersana, dengan pemilihan kelas XII sebagai populasi penelitian karena materi DAUB diajarkan pada semester pertama kelas tersebut sesuai kurikulum nasional. Peneliti tidak dapat memastikan bentuk aplikasi atau tindakan dialog yang dilakukan oleh responden. Namun, mayoritas responden menyatakan bahwa mereka telah melakukan DAUB, yang merupakan penilaian diri mereka sendiri tanpa intervensi dari peneliti atau guru (Suprijono, 2. Peneliti menggunakan Google Form sebagai instrumen penelitian untuk memudahkan pengumpulan data secara daring. Instrumen ini disusun untuk mencapai tujuan penelitian dan terdiri dari 14 pertanyaan yang dirancang untuk menjawab pertanyaan penelitian. Bagian pertama mencakup 6 pertanyaan mengenai penerimaan materi DAUB di sekolah. Bagian kedua menggunakan skala Likert untuk mengukur manfaat materi DAUB yang dirasakan responden dalam membangun sikap dialog. Bagian ketiga menggunakan teori transtheoretical model of behavior change . tages of change mode. untuk mengevaluasi sejauh mana responden telah membangun dan menerapkan sikap DAUB (Fatih, 2. Pemilihan model stages of change dianggap tepat untuk mengukur tingkat persepsi siswa yang tercermin dalam tahapan perubahan cara berpikir dan sikap Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama mereka (Gunawan, 2. Ketiga bagian instrumen diharapkan dapat memberikan jawaban atas masalah penelitian dan mencapai tujuan penelitian ini. Bagian awal dari survei mencakup pertanyaan mengenai identitas dan pengetahuan para responden. Sebagian besar responden, yaitu 80%, adalah siswa yang beragama Islam. Sementara itu, terdapat juga responden yang menganut agama Kristen sebesar 20%. Hasil dari pertanyaan ini mencerminkan karakteristik sekolah, di mana biasanya sekolah yang menerima semua agama berasal dari sekolah yang moderat dan memiliki sikap toleran yang tinggi. Agama anda: 200 siswa Islam Kristen Diagram 1. Agama Responden Pertanyaan kedua berfokus pada apakah para siswa telah menerima materi tentang DAUB dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah. Para responden seharusnya telah mempelajari materi mengenai dialog antarumat beragama, mengingat mereka diwajibkan mengikuti PAI di sekolah-sekolah. Namun, terdapat 15% responden yang merasa ragu dan 10% responden yang menyatakan tidak mendapatkan materi tentang DAUB. Meskipun jumlahnya kecil, hal ini terkesan aneh. Mungkin saja mereka yang ragu sudah lupa tentang materi yang diajarkan selama mengikuti PAI, atau mereka yang tidak mendapatkan materi tersebut tidak hadir saat guru memberikan penjelasan mengenai DAUB. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Apakah anda memperoleh materi dialog antarumat beragama dalam mata pelajaran agama Islam di sekolah? Ragu-ragu Tidak Diagram 2. Pernah Mendapatkan Materi DAUB Di sisi lain, jawaban atas pertanyaan ini juga menunjukkan bahwa para guru PAK di SMA dan SMK di Kec. Kersana Kab. Brebes telah menyampaikan materi kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian, pertanyaan penelitian nomor 2 telah terjawab melalui data survei yang menunjukkan bahwa para siswa telah menerima pelajaran khusus mengenai DAUB dalam mata pelajaran PAI di sekolah. Peneliti berharap agar responden mengisi survei setelah mengikuti pembelajaran DAUB tanpa adanya tekanan untuk mengingat kembali materi Responden mungkin menjawab dengan perasaan dan berdasarkan pengalaman mereka, karena mereka mungkin sudah tidak mengingat secara detail tentang pelajaran yang telah diajarkan. Apa makna dialog antarumat beragama bagi Saya semakin menghayati iman saya sendiri saya semakin menghormati agama lain A & B benar untuk saya tidak ada pilihan jawaban benar untuk saya Diagram 3. Pernah Mendapatkan Materi DAUB Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Meskipun materi tentang dialog antarumat beragama (DAUB) dirancang agar siswa dapat memahami imannya sendiri sekaligus menghargai iman orang lain, hanya 70% responden yang menjawab sesuai dengan dua poin tersebut. Sementara itu, 18% responden lainnya menggunakan pengetahuan DAUB untuk menghormati agama orang lain, dan hanya 10% yang memanfaatkan pengetahuan DAUB untuk menghayati imannya sendiri. Padahal DAUB seharusnya membawa individu kepada pemahaman dan penghayatan terhadap imannya sendiri. (Hans, 2. Dalam survei ini, ditemukan adanya kesalahan dalam pemaknaan manfaat sikap DAUB oleh responden. Pemahaman sebagian responden tampak kurang mendalam. Hal ini mungkin disebabkan oleh penggunaan istilah DAUB yang secara harfiah merujuk pada interaksi antar agama, sehingga orang cenderung berpikir bahwa DAUB hanya bertujuan untuk menghormati agama lain. Namun, untuk dapat berkomunikasi dengan umat beragama lain, seseorang harus terlebih dahulu memahami dan menghayati imannya sendiri. (Khotimah, 2. Orang yang melaksanakan nilai Islami, tanpa menganut agama Islam juga merupakan orang Islam? Tidak tahu Tidak Diagram 4. Pengetahuan tentang Islam Selanjutnya, pertanyaan survei berikutnya menguji pemahaman responden mengenai apakah orang-orang yang melaksanakan nilai-nilai Islam, meskipun tidak menganut agama Islam, dapat dianggap sebagai seorang Islam. Hasilnya menunjukkan bahwa 30% responden menjawab ya, 20% menjawab tidak tahu, dan 50% menjawab tidak. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi siswa sekolah menengah masih mempertimbangkan status agama yang dianut. Mereka Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama beranggapan bahwa jika seseorang melaksanakan nilai-nilai dan ajaran Islam, maka orang tersebut pasti beragama Islam. Responden yang menjawab ya, kemungkinan besar memahami materi pembelajaran DAUB di sekolah, termasuk konsep Islam yang diperkenalkan oleh guru agama Islam. Karl Rahner. Rahner berpendapat bahwa setiap individu yang bukan penganut agama tertentu, bahkan yang mungkin belum pernah mengenal agama tertentu, namun perilaku sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai agama tertentu, maka orang tersebut dapat dianggap sebagai penganut agama yang memiliki nilai-nilai yang serupa dengan perilakunya dalam sehari-hari (Nurcholish. Berdasarkan data survei yang diperoleh, secara jelas dapat dijelaskan bahwa meskipun seseorang yang bukan Islam pun dapat disebut Islam jika sikap hidupnya mencerminkan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, siapa pun sebenarnya dapat menjalankan nilai-nilai Islam tanpa harus menganut agama Islam, asalkan mereka tidak hanya menghafal pelajaran atau pengetahuan agama, tetapi juga menyerap dan mengimplementasikan pendidikan iman dalam kehidupan sehari-hari (Taher. Sebagai catatan bagi para guru Pendidikan Agama Islam, ketika mengajarkan konten agama Islam, penting bagi mereka untuk bersikap bijaksana dalam pembelajaran di kelas agar tidak menyinggung atau memaksakan ajaran Islam kepada siswa non-Islam, mengingat setiap siswa pasti sudah memiliki keyakinan terhadap ajaran agamanya masing-masing (Nurcholish, 2. Orang yang bukan beragam Islam juga akan mendapat keselamatan? Tidak tahu Tidak Diagram 5. Pengetahuan tentang Keselamatan di luar Agama Nasrani Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Melanjutkan ke diagram kelima, bagian ini menunjukkan jawaban yang sangat humanis, dimana 75% responden berpendapat bahwa seseorang tetap dapat memperoleh keselamatan meskipun ia bukan seorang Islam. Pandangan ini mungkin dipengaruhi oleh pemahaman mengenai ajaran agama-agama yang memiliki konsep surga dan neraka. Secara umum, agama-agama yang diakui di Indonesia memiliki konsep keselamatan yang berkaitan dengan masuk surga, yang diartikan sebagai mencapai kesempurnaan atau keselamatan abadi (Ismail, 2. Hal ini memungkinkan para penganut agama, serta masyarakat secara keseluruhan, untuk memahami bahwa setiap agama mengajarkan tentang keselamatan. Apakah anda melakukan . tau pernah melakuka. dialog antarumat beragama dalam kehidupan seharihari? Tidak tahu Tidak Diagram 6. Tindakan DAUB Diagram 6 di atas, menunjukkan hasil yang cukup positif, di mana 85% responden menyatakan bahwa mereka pernah melakukan DAUB dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 10% responden merasa ragu apakah mereka sudah melakukan DAUB atau belum, sementara 5% lainnya mengaku tidak pernah Dari total 200 responden, 170 orang melaporkan bahwa mereka telah menerima materi tentang DAUB dan menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Hasil ini menggembirakan dan sesuai dengan harapan peneliti, karena mayoritas responden yang telah memperoleh informasi tentang DAUB di sekolah dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan mereka sehari-hari . erlu dicatat bahwa peneliti tidak mengkategorikan secara spesifik perilaku dialog antar umat beragama yang dilakukan oleh responde. Satu hal yang mengejutkan bagi peneliti Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama adalah adanya 20 responden yang menyatakan tidak pernah melakukan DAUB, meskipun mereka mengaku telah mendapatkan materi tersebut di sekolah. Namun, temuan ini tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil penelitian, mengingat jumlah responden yang terlibat sangat kecil . anya 20 oran. Saya tertarik tema pembelajaran dialog antarumat bergama Diagram 7. Ketertarikan Responden dengan Materi Pembelajaran DAUB Terkait dengan ketertarikan responden terhadap materi pembelajaran DAUB di sekolah, hasilnya cukup memuaskan, seperti yang terlihat pada skala Likert di Dari 200 responden, sebanyak 90 orang memberikan penilaian 4 dari 5 untuk ketertarikan mereka terhadap pembelajaran DAUB. Hanya 10 dari 200 responden yang menunjukkan ketertarikan yang rendah terhadap materi tersebut. Sementara itu, 45 responden memilih posisi netral dengan memberikan nilai 3 dari 5 dalam skala Likert. Selain itu, 55 responden menyatakan bahwa mereka sangat tertarik dengan materi pembelajaran DAUB. Temuan ini konsisten dengan hasil sebelumnya yang menunjukkan sikap responden yang telah menerapkan DAUB dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasakan pentingnya mempelajari teori dialog antarumat beragama Diagram 8. Kepentingan Mempelajari Materi DAUB Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Diagram 8 menunjukkan bahwa 75% responden merasa bahwa materi pembelajaran DAUB sangat penting untuk dipelajari di sekolah. Sementara itu, 15% responden menganggap pembelajaran DAUB biasa saja ketika ditanya mengenai tingkat kepentingannya. Adapun 10% responden menyatakan bahwa mempelajari materi DAUB kurang penting. Hasil ini sangat menggembirakan karena menunjukkan bahwa para responden menyadari pentingnya DAUB dan perlunya pembelajaran tersebut untuk mewujudkan toleransi antar umat beragama di Indonesia. Materi tentang dialog antarumat beragama menambah pengetahuan saya tentang agama-agama lain Diagram 9. Materi DAUB Menambah Pengetahuan tentang Agama-Agama Lain Diagram 9 menunjukkan bahwa 82,5% responden merasa bahwa materi tentang DAUB telah menambah pengetahuan mereka mengenai agama-agama lain. Sementara itu, 10% responden menganggap dampaknya biasa saja. Sedangkan 7,5% responden menyatakan bahwa materi tentang DAUB kurang atau bahkan tidak menambah pengetahuan mereka tentang agama lain. Hasil ini mencerminkan bahwa siswa memperoleh materi DAUB yang cukup memadai di sekolah melalui pengajaran dari guru pamong Pendidikan Agama Katolik. Pengetahuan ini juga berkontribusi dalam membangun persepsi mereka tentang DAUB di lingkungan Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Materi dialog antarumat beragama Menghilangkan Prasangka Buruk terhadap Penganut Agama Lain Diagram 10. Materi DAUB Menghilangkan Prasangka Buruk terhadap Penganut Agama Lain Hasil survei yang ditunjukkan pada diagram 10 mengindikasikan bahwa 77,5% responden percaya bahwa materi tentang DAUB dapat membantu menghilangkan prasangka buruk terhadap penganut agama lain. Sementara itu, 15% responden menganggap dampaknya biasa saja. Selain itu, 7,5% responden merasa bahwa materi DAUB di sekolah kurang efektif atau bahkan tidak mampu menghilangkan prasangka buruk tersebut. Hasil ini cukup menggembirakan, karena mayoritas responden menunjukkan kesadaran dan merasakan manfaat dari pembelajaran DAUB dalam mengatasi prasangka buruk terhadap penganut agama Saya merasakan pentingnya mempelajari teori dialog antarumat beragama Diagram 11. Materi DAUB Membuat Responden Lebih Menghormati Umat Beragama Lain Selain menghilangkan prasangka buruk, responden juga menunjukkan kemampuan yang lebih besar untuk menghormati umat beragama lain. Hal ini terlihat dari hasil survei yang menunjukkan bahwa 85% responden merasa bahwa materi DAUB membuat mereka lebih menghormati umat beragama lain. Sementara Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama itu, 10% responden merasa biasa saja, dan 5% merasa bahwa materi DAUB kurang atau bahkan tidak dapat meningkatkan rasa hormat mereka terhadap umat beragama Data hasil survei selanjutnya menggunakan pendekatan transtheoretical model of behavior change . tages of chang. untuk mengevaluasi sejauh mana responden dapat menerapkan sikap DAUB sesuai dengan persepsi mereka. Stages of change merujuk pada serangkaian aktivitas yang dilakukan individu saat mereka berusaha mengubah perilaku yang dianggap kurang baik menjadi perilaku yang lebih baik (Lumbard, 2. Model ini berpendapat bahwa proses perubahan sering kali terkait dengan persuasi pengalaman, kognitif, dan psikoanalitik yang paling efektif selama tahap prakontemplasi dan kontemplasi (Basrowi, 2. Pendekatan stages of change dianggap tepat untuk menganalisis persepsi subjek penelitian (Casanova, 2. Dalam model ini, waktu yang dihabiskan individu di setiap tahap dapat bervariasi, sehingga pencapaian responden juga akan berbeda di setiap tahapan (Robert, 2. Berikut adalah penjelasan singkat tentang tahapan dalam stages of change: Pra-kontemplasi . re-contemplatio. yaitu Individu tidak memiliki niat untuk mengubah perilaku dalam jangka waktu yang dapat diprediksi (Kahmad, 2. Kontemplasi . yaitu Individu menyadari adanya masalah dan serius memikirkan untuk mengatasinya, tetapi belum berkomitmen untuk bertindak (Galtung, 2. Persiapan . yaitu Individu berniat untuk mengambil tindakan dalam waktu dekat dan melakukan beberapa perubahan kecil . angkah keci. Tindakan/aksi . yaitu Individu memodifikasi perilaku, pengalaman, dan/atau lingkungan untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Purwasito, 2. Pemeliharaan . yaitu Individu berusaha mempertahankan tindakan yang baik dan seharusnya dilakukan. Kembali ke situasi awal . yaitu Individu kembali ke situasi awal karena berbagai faktor. Pertanyaan pertama dalam kategori ini berfokus pada relasi pertemanan. Hasil yang diperoleh cukup memuaskan, di mana 60% responden sudah memelihara persahabatan dengan teman-teman yang berbeda agama. Ini menunjukkan bahwa mereka berada dalam tahap pemeliharaan . dalam stages of change. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Selain itu, 30% responden menyatakan bahwa mereka sudah berteman dengan teman-teman yang berbeda agama, yang menunjukkan bahwa responden telah mampu melakukan tindakan . untuk menerapkan sikap DAUB dalam relasi Relasi Pertemanan 1% 2% 3% saya tidak memikirkan berteman dengan orangA. saya mulai tertarik berteman dengan orangA. saya sering mencari tahu dan bertanya tentang agamaA. saya berteman dengan yang berbeda agama saya menjaga persahabatan AA Diagram 12. Relasi Pertemanan Responden di Sekolah Sayangnya, 4% responden tidak pernah mempertimbangkan untuk berteman dengan orang yang berbeda agama. Meskipun jumlahnya kecil, hal ini tetap Selain itu, 1 % responden mengalami kemunduran . , di mana mereka sebelumnya pernah bersahabat dengan teman yang berbeda agama, tetapi kini sudah tidak lagi. Di sisi lain, 3,8% responden mulai menunjukkan ketertarikan, sementara 2% responden mengaku sering mencari informasi dan bertanya mengenai agama teman-teman mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa mereka berada dalam tahap kontemplasi . dan persiapan . dalam proses perubahan perilaku (Taufik, 2. Ucapan hari raya saya tidak terpikirkan memberikan ucapan hari rayaA saya tahu memberi ucapan itu sepertinya baik, tapi sayaA. saya tahu memberi ucapan itu baik dan saya berencanaA. saya memberikan ucapan hari raya kepada temanA. satu tahun ke belakang, saya a. saya dulu sering memberikanAA Diagram 13. Ucapan Hari Raya bagi Teman Beragama Lain Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama Diagram berikutnya bertujuan untuk mengamati bagaimana responden memberikan ucapan selamat hari raya kepada teman-teman yang beragama Hasilnya menunjukkan bahwa 70% responden telah memberikan ucapan hari raya kepada teman yang beragama lain. Sementara itu, 15% responden berada dalam tahap persiapan . untuk mulai memberikan ucapan tersebut. Sebanyak 10% responden masih berada dalam tahap kontemplasi . , di mana mereka mempertimbangkan untuk memberikan ucapan hari raya. Di sisi lain, 4% responden sudah berada dalam tahap pemeliharaan . , karena mereka secara konsisten memberikan ucapan hari raya kepada teman-teman yang beragama lain selama setahun terakhir. Hanya 2% responden yang tidak pernah terpikir untuk memberikan ucapan hari raya kepada teman-teman beragama lain. Terakhir, terdapat 1 orang responden . %) yang sebelumnya sering memberikan ucapan hari raya kepada teman beragama lain, tetapi sekarang sudah tidak lagi, sehingga responden ini berada dalam tahap relaps. Relasi Pertemanan saya tidak terpikir untuk punya geng yang terdiri dariA saya tahu mempunyai teman berbeda agama itu baik,A. saya sempat bertanya untuk bisa gabung dengan gengA saya punya geng pertemanan yang beranggotaA. satu tahun ke belakang, sayaA saya dulu sering nongkrong denganA Diagram 14. Relasi Pertemanan Responden di Luar Sekolah Diagram terakhir bertujuan untuk mengevaluasi persepsi responden mengenai DAUB dalam konteks pertemanan di luar sekolah. Dari hasil survei, 3% responden tidak pernah terpikir untuk memiliki teman atau komunitas yang terdiri dari anggota dengan agama yang berbeda di luar sekolah. Sementara itu, 15% responden menyadari bahwa memiliki teman yang berbeda agama itu baik, namun Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama mereka tidak tahu harus mulai dari mana untuk bersosialisasi atau berteman dengan orang-orang tersebut. Sebanyak 2% responden pernah bertanya-tanya atau mencari tahu bagaimana cara bergabung dengan komunitas atau kelompok pertemanan yang terdiri dari berbagai agama. Di sisi lain, 60% responden menyatakan bahwa mereka sudah memiliki kelompok pertemanan atau komunitas yang beranggotakan teman-teman dari berbagai agama di luar lingkungan sekolah. Sebanyak 12% responden berada dalam tahap pemeliharaan . , karena selama setahun terakhir mereka secara rutin bersosialisasi atau berteman dengan orang-orang yang berbeda agama, merasa nyaman, dan merasakan manfaat dari hubungan tersebut. Namun, 8% responden dulunya sering bersosialisasi atau bergabung dengan komunitas yang beranggotakan teman-teman dari berbagai agama, tetapi kini sudah tidak lagi, yang menunjukkan bahwa mereka berada dalam tahap relaps. KESIMPULAN Berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap siswa kelas XII mengenai pandangan mereka terhadap dialog antarumat beragama (DAUB), peneliti menemukan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi yang positif terhadap DAUB, sesuai dengan materi yang diajarkan di sekolah oleh guru. Analisis data survei menunjukkan bahwa mayoritas responden percaya bahwa mereka telah menerima materi tentang DAUB di sekolah. Ini menunjukkan bahwa para guru telah menyampaikan materi yang sesuai dengan kurikulum yang Materi tentang DAUB tampaknya dapat dipahami dengan baik oleh siswa . Hal ini tercermin dari hasil survei yang menunjukkan bahwa banyak responden mengaku telah menerapkan tindakan DAUB dalam kehidupan seharihari mereka. Pernyataan ini diperkuat oleh tiga pertanyaan terakhir dalam survei yang menggunakan pendekatan stages of behavior change. Dalam pendekatan ini, terlihat bahwa sebagian besar responden telah mengambil langkah . dan mempertahankan . sikap berdialog antar umat beragama baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. 1, 2025 Ahmad Abdul Rochim. Sangkot Sirait. Mahmud Arif Persepsi Siswa Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan tentang Dialog Antarumat Beragama REFERENSI