Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 [ICO-FUCEGAS (MICROBIAL FUEL CELL AND BIOGAS): INOVASI PENGOLAH LIMBAH FESES SAPI TERINTEGRASI MENJADI ENERGI TERBARUKAN] [Ico-Fucegas (Microbial Fuel Cell And Bioga. : Innovation Of Integrated Caow Feature Waste Processing Into Renewable Energ. Azkia Putra Wibawa. Faisal Ramadhan, dan Muhammad Said Nur Universitas Padjajaran ABSTRACT The increase in human population and the development of people's lifestyles have had a major impact on increasing greenhouse gas (GHG) emissions, one of which is in the dairy farming industry. Cows produce feces every day which is degraded into CO2. CH4. H2. H2S, which are the gases that cause greenhouse gas emissions. A total of 20,650 dairy cows in the Pangalengan area produce an average of 206. 5 Ae 619. 5 tons of feces per day. The total greenhouse gas emissions produced every day reach 29,921. 85 tons of CO2 e/year, this figure is a large number of contributions to greenhouse gas emissions. Therefore, to reduce the emissions produced, innovation was carried out in the form of ICO-Fucegas as a sustainable energy producing technology. ICO-Fucegas is one way that can be developed to reduce greenhouse gas emissions with output in the form of electricity, biogas and organic fertilizer using native bacteria. The total electrical energy in MFC produced from Pangalengan data is 2. 57 kV per MFC unit per year with a time efficiency of generating electricity and biogas as a whole for 60 days. Processing livestock manure using this innovation can reduce emissions by a maximum of 10,082. 1 tonnes of CO2 equivalent/year. So the percentage reduction in emissions is 28. 64% per year. Keywords: Energy. Emission. Feces. Waste ABSTRAK Meningkatnya populasi manusia dan berkembangnya pola kehidupan masyarakat mempunyai dampak yang besar dampaknya terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), salah satunya adalah pada industri peternakan sapi perah. Sapi menghasilkan feses setiap hari yang terdegradasi menjadi CO2. CH4. H2. H2S dimana gas tersebut penyebab emisi gas rumah kaca. Sebanyak 20. 650 ekor sapi perah di daerah Pangalengan dengan feses yang dihasilkan rata-rata 206,5 Ae 619,5 ton per hari. Total gas rumah kaca emisi yang dihasilkan setiap harinya mencapai 29. 921,85 ton CO2 e/tahun, angka ini merupakan angka yang besar jumlah kontribusi emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, untuk mengurangi emisi yang dihasilkan, dilakukan inovasi berupa ICO-Fucegas sebagai sebuah teknologi penghasil energi berkelanjutan. ICO-Fucegas adalah salah satu cara yang dapat dikembangkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan output berupa listrik, biogas, dan organik pupuk dengan memanfaatkan bakteri asli. Total energi listrik di MFC yang dihasilkan dari data Pangalengan sebesar 2,57 kV per unit MFC per tahun dengan efisiensi waktu sebesar pembangkitan listrik dan biogas secara keseluruhan selama 60 hari. Pengolahan kotoran ternak dengan menggunakan inovasi ini mampu menurunkan emisi sebanyak maksimal 082,1 ton CO2 setara/tahun. jadi persentase penurunan emisi sebesar 28,64% per tahun. Kata kunci: Energi. Emisi. Feses. Limbah Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 PENDAHULUAN Berdasarkan sensus penduduk 2020 yang dilakukan oleh BPS . , jumlah penduduk di Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduknya 1,25% per tahunnya terhitung sejak 20102020. Angka ini merupakan angka yang besar dan akan terus meningkat setiap tahunnya. Artinya, semakin bertambahnya penduduk maka akan semakin meningkat kebutuhan akan pangannya. Kebutuhan pangan akan terus meningkat sehingga diperlukan adanya peningkatan dalam produksi kebutuhan pangan. Akibatnya, terjadi peningkatan juga produksi untuk memenuhi pangan penduduk, salah satunya dari sumber pangan hewani. Pertambahan lahan untuk kebutuhan pangan hewani akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat akan produk hewani khususnya daging, telur dan susu. Menurut FAO konsumsi produk hewani akan meningkat 80% pada tahun 2030. Hal ini merupakan sebuah potensi untuk meningkatkan dan menggerakkan ekonomi masyarakat, namun juga dapat menjadi bencana untuk masyarakat sekitar. Masyarakat umum dan khususnya yang berada di daerah industri tersebut dapat mengalami dampak dari perkembangan industrinya. Sektor agrikultur menurut (FAO, 2006 yang disitasi dari Weiss & Leip, 2. menyumbang kurang lebih 18% emisi GRK antropogenik global. Emisi yang dihasilkan oleh sektor agrikultur, terutama peternakan tersebut dihasilkan oleh berbagai aktivitas, yaitu aktivitas dari pencernaan ternak . ermentasi enteri. dan pengolahan feses ternak . anure managemen. (Yulianingsih. E & Pramono. Industri peternakan melepaskan emisi GRK ke atmosfer dalam bentuk seperti nitrogen dioksida (NO. , metan (CH. dan juga karbondioksida (CO. yang dapat menyebabkan pemanasan suhu bumi serta menyebabkan perubahan iklim. Oleh karena itu. PBB mencanangkan terbentuknya program yang dapat mengatasi permasalahan umat manusia dalam berbagai aspek, salah satunya mengatasi permasalahan perubahan iklim dalam program bernama Sustainable Development Goals (SGD. atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Jawa Barat memiliki banyak sentra peternakan dari berbagai macam komoditas hewan, salah satunya sapi perah. Daerah Pangalengan Bandung Selatan, memiliki sentra sapi perah besar yang memiliki banyak populasi sapi, salah satunya adalah KPBS Pangalengan. Koperasi Peternakan Bandung Selatan adalah sebuah koperasi yang anggotanya merupakan kumpulan para peterrnak yang berdomisili di Pangalengan. Dilansir dari laman resmi desa Pangalengan, pada tahun 2019 KPBS memiliki total populasi berjumlah 20. 650 ekor sapi Setiap sapi menghasilkan feses yang mencapai 10 kilogram per hari (Pratiwi et al. Akumulasi dari limbah feses ternak tersebut setiap harinya menimbulkan dampak terhadap penambahan emisi GRK yang dihasilkan di lingkungan sekitar sehingga diperlukan adanya tindakan nyata untuk mitigasi, adaptasi dan pengurangan dampak terhadap apa yang menyebabkan perubahan iklim. Salah satunya adalah dengan inovasi yang dapat mengurangi emisi yang dihasilkan dari hewan ternak tersebut. Penanggulangan yang bertujuan untuk mengurangi dampak perubahan iklim akan menyelamatkan bumi kedepannya dan menciptakan pembangunan manusia yang berkelanjutan, oleh karena itu dibuat suatu teknologi inovasi yang dapat mengatasi dan mengurangi permasalahan yang menghasilkan emisi GRK tersebut, yaitu dengan mengintegrasikan digester biogas. MFC . icrobial fuel cel. dengan alat penampung excess yang nantinya menghasilkan biogas yang Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 dapat digunakan untuk energi terbarukan dan sludge yang dapat digunakan sebagai pupuk ICOFucegas (Microbial Fuel Cell and Bioga. suatu alat yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh feses ternak dan dimanfaatkan dengan mengkonversi gas-gas penghasil emisi tersebut menjadi bahan bakar energi, mengkonversi senyawa organik menjadi energi terbarukan dan memanfaatkan hasil sisaan . menjadi pupuk organik baik pupuk padat maupun cair. METODE PENELITIAN Pengumpulan Data dan Informasi Penulisan karya tulis ilmiah ini disusun berdasarkan pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan teknik studi kepustakaan atau studi pustaka dari berbagai sumber terpercaya terkait dengan upaya pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi terbarukan. Tidak hanya itu teknik pengumpulan data juga didapatkan dari sumber-sumber media massa elektronik yaitu internet. Selain itu, metode observasi juga dilakukan pada penulisan karya tulis ilmiah ini. Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara melihat dan mengamati secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan keadaan lingkungan setempat dan permasalahan yang terdapat pada lingkungan tersebut. Observasi bisa juga disebut dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lainnya. Hasil observasi kemudian dibuat skenario-skenario yang mendukung dan membuat alur masalah. Lokasi dan Waktu Penulisan Penulisan ini dilaksanakan di Universitas Padjadjaran yang beralamatkan di Jl. Raya Bandung Sumedang KM. Hegarmanah. Kec. Jatinangor. Kabupaten Sumedang. Jawa Barat 45363. Waktu penulisan ini akan penulis laksanakan Oktober-November 2023. Teknik Analisis Data Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menganalisis Data yang diperoleh melalui observasi dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu dengan cara data yang diperoleh dari hasil observasi dengan informan di deskriptifkan secara menyeluruh. Penulisan deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan permasalahan yang diteliti dalam bentuk kalimat, sehingga data yang diperoleh dapat dipahami maksud dan maknanya. Analisis SWOT Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Metode perencanaan strategi yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan . , kelemahan . , peluang . , dan ancaman . dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT. SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strengths dan weaknesses serta lingkungan eksternal opportunities dan threats yang dihadapi dunia bisnis. Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 PEMBAHASAN Ancaman Limbah Peternakan Kasus peternakan di KPBS Pangalengan yang turut menyumbang emisi gas rumah kaca melalui limbah yang dihasilkan oleh hewan ternak, diperlukan adanya inovasi perubahan dalam mengurangi emisi yang dihasilkan tersebut. Dengan total sapi yang berjumlah 20. ekor sapi, tentunya akan menimbulkan limbah yang tidak sedikit. Secara teori, produksi feses ternak dapat mencapai 5-10% dari BB/ekor/hari. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Saputro . , menjelaskan bahwa ternak mengeluarkan feses 20kg Ae 30kg Ada juga yang menjelaskan, bahwa ternak sapi mengeluarkan feses 10 kg/harinya. Berdasarkan angka tersebut, dapat disimpulkan KPBS Pangalengan menghasilkan limbah yang berjumlah 206,5 Ae 619,5 ton limbah feses per harinya. Jumlah tersebut tentunya akan berdampak sangat besar jika tidak adanya manajemen pengolahan feses yang baik, dan akan terus menyumbang emisi gas rumah kaca dunia jika tidak segera Namun juga, dengan angka tersebut tentunya dapat dijadikan peluang besar juga sebagai potensi untuk meningkatkan perekonomian peternak, menciptakan peternakan yang berkelanjutan, mengurangi pengeluaran untuk penggunaan energi, serta dapat mengurangi emisi GRK yang dihasilkan dari limbah ternak tersebut. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sektor peternakan dapat dihitung dari emisi metana yang dihasilkan dari dua aspek yaitu fermentasi enterik ternak dan emisi metana serta dinitro oksida yang berasal dari pengolahan feses ternak. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup . , emisi CO2 yang dihasilkan dari peternakan tidak dihitung karena emisi CO2 diasumsikan nol sebab CO2 diserap oleh tanaman melalui fotosintesis dan dikembalikan lagi ke atmosfer dalam bentuk O2 melalui respirasi. Dalam fermentasi enterik, dihasilkan oleh hewan memamah biak . oleh suatu proses dimana karbohidrat akan dipecah menjadi molekul sederhana oleh mikroba yang nantinya akan diserap dalam aliran darah dan akan keluar melalui gas-gas dalam perut keluar melalui mulut dan dalam pengolahan, penyimpanan serta pengendapan/ penumpukan feses pun berpotensi untuk menghasilkan emisi gas metana yang faktor utamanya adalah dipengaruhi jumlah dari feses yang didekomposisi secara anorganik. Hal ini didukung dari penelitian Hidayati et al . , bahwa limbah peternakan turut menyumbang emisi GRK dan emisinya dapat diestimasikan. Emisi yang dihasilkan dari limbah feses dapat dihitung berdasarkan metode yang telah dikeluarkan oleh IPCC 2006 (Hutagulung et al, 2. Berdasarkan studi kasus yang diangkat, yaitu peternakan KPBS Pangalengan yang memiliki jumlah populasi ternak sebanyak 20. ekor ternak sapi perah, dapat dihitung total emisi gas metana yang dihasilkannya. Karena komoditas dalam peternakan tersebut adalah sapi perah, maka dalam perhitungannya, sapi perah memiliki faktor koreksi untuk fermentasi enteriknya 61 kg/ekor/tahun dan untuk faktor koreksi dari pengolahan feses ternaknya 31 kg/ekor/tahun dan untuk faktor koreksi satuan ternak agar dapat diubah menjadi animal unit adalah 0,75. Oleh karena itu, dengan seluruh angka tersebut, dapat dihitung jumlah emisi yang dihasilkan dengan menggunakan metode IPCC 2006, dan hasil perhitungan dapat dilihat dari Tabel 1 berikut. Tabel 1. Perhitungan jumlah emisi yang dihasilkan oleh ternak. Tahun Spesies Jumlah populasi Fermentasi Enterik Pengelolaan Feses Ternak Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 Faktor Ekor Koreksi Satuan N(X) Populasi Animal Unit Emisi Faktor 2022 perah enterik (Gg Ternak CH4/t. k(T) CH4 (Gg N (T) EF (T) Sapi CH4 Emisi CH4 Faktor emisi dari feses ternak feses ternak EF(T) CH4/tahu. 650 0,75 0,9447 CH4 ternak (Gg CH4/t. 31,00 0,4801 Hasil perhitungan tersebut, didapatkan emisi CH4 pengolahan feses ternak/tahun atau angka 0,9447 Gg emisi CH4 enterik/tahun setara dengan 480,1 ton CH4/tahunnya yang atau 944,7 ton CH4/tahunnya dan 0,4801 Gg setara dengan 10. 082,1 ton CO2 ekuivalen/pertahun. Dengan kata lain, hasil perhitungan emisi GRK khususnya metana yang dihasilkan dari peternakan KPBS Pangalengan per tahunnya mencapai 1. 424,8 ton CH4/tahunnya. Emisi CH4 ini jika dikonversikan dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan . , maka total emisi yang dihasilkan selama satu tahun adalah 921,85 ton CO2 ekuivalen selama satu tahun. Angka ini merupakan angka yang sangat besar sekali dan akan memperburuk dampak perubahan iklim jika tidak segera diatasi. Rancangan Model ICO-Fucegas ICO-Fucegas (Microbial Fuel Cell and Bioga. merupakan suatu alat kombinasi dari digester. MFC (Microbial Fuel Cel. , dan ruangan penampung sludg . isa produks. yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh feses ternak terintegrasi yang multifungsi mulai dari menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk pengganti bahan bakar fosil, menghasilkan listrik dengan pengkonversian menggunakan MFC yang memanfaatkan zat organik yang terkandung dalam feses untuk dijadikan energi listrik dengan bantuan bakteri anaerob sehingga dapat menciptakan sustainable energy use . enggunaan energi yang berkelanjuta. serta hasil ikutan dari proses pembentukan biogas . yang berbentuk lumpur akibat dari proses anaerob yang dapat dimanfaatkan untuk dibuat pupuk organik padat dengan proses aerasi terlebih dahulu sehingga membentuk crumble yang nantinya akan menjadi pupuk organik yang bernilai jual tinggi serta dapat meningkatkan produksi tanaman. Dari manfaat tersebut, maka akan dapat menciptakan peternakan yang ramah lingkungan, dan berkelanjutan serta dengan hasil produksi dan ekonomi yang ICO-Fucegas dapat menjadi solusi dalam mengatasi perubahan iklim dan mengurangi emisi yang dihasilkan dari sektor peternakan, total emisi yang dapat direduksi adalah emisi yang dihasilkan dari pengolahan feses ternak, sebab emisi yang dihasilkan melalui proses enterik hewan, belum dapat terkontrol. Dalam penggunaannya, alat ini terbagi menjadi 3 bagian tahapan penting dalam pengolahan limbah feses ternak yaitu biogas digester. MFC, dan ruang penampung sludg. Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 Gambar 1 Ilustrasi Alat ICO-Fucegas: alat pengolahan limbah feses ternak terintegrasi Dalam prosesnya, feses ternak yang dihasilkan setiap harinya akan dikumpulkan terlebih dahulu di dalam ruangan penampungan yang nantinya akan dilanjutkan dan diproses dengan menggunakan mesin ICO-Fucegas. Dalam prinsipnya alat ini merupakan alat tertutup untuk menghasilkan kondisi anaerobik mengikuti prinsip dari alat biogas serta memanfaatkan dekomposisi bahan organik oleh mikroba sehingga menghasilkan gas metan . ang mudah terbakar sehingga dapat dijadikan alternatif pengganti ICO-Fucegas (Microbial Fuel Cell and Bioga. merupakan suatu alat kombinasi dari digester. MFC (Microbial Fuel Cel. , dan ruangan penampung sludg . isa produks. yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh feses ternak terintegrasi yang multifungsi mulai dari menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk pengganti bahan bakar fosil, menghasilkan listrik dengan pengkonversian menggunakan MFC yang memanfaatkan zat organik yang terkandung dalam feses untuk dijadikan energi listrik dengan bantuan bakteri anaerob sehingga dapat menciptakan sustainable energy use . enggunaan energi yang berkelanjuta. serta hasil ikutan dari proses pembentukan biogas . yang berbentuk lumpur akibat dari proses anaerob yang dapat dimanfaatkan untuk dibuat pupuk organik padat dengan proses aerasi terlebih dahulu sehingga membentuk crumble yang nantinya akan menjadi pupuk organik yang bernilai jual tinggi serta dapat meningkatkan produksi tanaman. Dari manfaat tersebut, maka akan dapat menciptakan peternakan yang ramah lingkungan, dan berkelanjutan serta dengan hasil produksi dan ekonomi yang ICO-Fucegas dapat menjadi solusi dalam mengatasi perubahan iklim dan mengurangi emisi yang dihasilkan dari sektor peternakan, total emisi yang dapat direduksi adalah emisi yang dihasilkan dari pengolahan feses ternak, sebab emisi yang dihasilkan melalui proses enterik hewan, belum dapat terkontrol. Dalam penggunaannya, alat ini terbagi menjadi 3 bagian tahapan penting dalam pengolahan limbah feses ternak yaitu biogas digester. MFC, dan ruang penampung sludg. Dalam prosesnya, feses ternak yang dihasilkan setiap harinya akan dikumpulkan terlebih dahulu di dalam ruangan penampungan yang nantinya akan dilanjutkan dan diproses dengan menggunakan mesin ICO-Fucegas. Dalam prinsipnya alat ini merupakan alat tertutup untuk menghasilkan kondisi anaerobik mengikuti prinsip dari alat biogas serta memanfaatkan Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 dekomposisi bahan organik oleh mikroba sehingga menghasilkan gas metan . ang mudah terbakar sehingga dapat dijadikan alternatif pengganti LPG) dan gas karbondioksida. Dalam penggunaannya pada proses pembuatan biogas terdiri dari 3 tahapan, yaitu tahapan hidrolisis, asetogenesis, dan terakhir adalah tahapan methanogenesis. Awalnya feses yang telah dikumpulkan dari hewan ternak akan dimasukan kedalam ruang digester dan diberi penambahan air dengan perbandingan 1:1 dan diaduk hingga tekstur feses ternak seperti Namun, sebelum gas digunakan, pada hari ke 1-8 gas yang dihasilkan harus dikeluarkan terlebih dahulu sebab dalam jangka waktu tersebut gas yang dihasilkan adalah gas CO2 dan pada rentang waktu ini terjadi 2 proses yaitu tahap hidrolisis yang dimana pada tahap ini merupakan awal dari proses terjadinya penguraian bahan organik yang kompleks menjadi produk yang lebih sederhana seperti monosakarida, asam lemak, serta asam amino yang nantinya dapat langsung digunakan oleh bakteri asidogenik (Yuwono & Soehartanto, 2. dan selanjutkan akan melalui proses pengasaman oleh bakteri asidogenesisasetogenesis yang menghasilkan produk berupa asam lemak volatile dan CO2 dan nantinya akan diubah lagi menjadi asam asetat H2 pada proses asetogenesis, dan setelah jangka waktu tersebut pada hari ke 9-14 mulai dapat digunakan disalurkan melalui pipa penyalur gas karena pada rentang waktu ini, mulai memasuki tahapan methanogenesis dimana akan dibentuk gas metan CH4 dari bahan tahapan sebelumnya yaitu asam asetat. CO2 dan H2. Pada proses ini terdapat jenis bakteri, yaitu eceticlastic methanogens yang berfungsi untuk membagi asetat pada gas methan dan gas karbondioksidan dan hidrogen meneruskan elektron untuk menghasilkan gas metan (Yuwono & Soehartanto, 2. Setelah selesai pembuatan gas nantinya akan diarahkan pada tungku masak sebagai pengganti gas LPG. Pada tahap ini, komposisi gas yang dihasilkan adalah 54% gas CH4 dan 27% gas CO2. Seiring dengan berjalannya proses dekomposisi, hasil bahan baku tersebut akan berhubungan dengan alat yang bernama MFC yang merupakan pembangkit listrik dengan menggunakan interaksi bakteri yang terdapat di alam. Sifat bakteri tersebut salah satunya dapat mendegradasi medium organik . nrichment medi. dan pada kasus kali ini menggunakan bahan organik feses ternak yang dihasilkan di peternakan KPBS Pangalengan. Dalam prosesnya, pendegradasian tersebut menghasilkan ion proton dan elektron yang jika disambungkan dengan menggunakan kabel akan menghasilkan perbedaan potensial listrik yang menghasilkan energi. Secara umum MFC terdiri dari dua ruangan yang terdiri dari ruang anoda dan katoda yang dipisahkan oleh membran yang menjadi tempat terjadinya pertukaran proton . roton exchange membran. Bakteri yang terisolasi biasanya merupakan bakteri CD64 yang teridentifikasi sebagai bakteri Bacillus sp. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kumar et al . didapatkan hasil listrik yang dihasilkan dari 500 ml/0,5L bahan feses ternak yang digunakan dalam optimalisasi pH 7,0 dan suhu 37 C menghasilkan 195,6 mV pada waktu 40 menit. Yang artinya, dalam sehari dapat menghasilkan 7. 041,6 mV atau 7,04 Volt dan dalam setahun dapat menghasilkan 2. 57 kV hanya dengan satu alat MFC. Dalam penggunaannya, banyak MFC akan dihubungkan dengan alat penampung atau digester sehingga penghasilan energi listriknya akan lebih efektif dan efisien lagi. MFC sendiri memiliki berbagai keuntungan baik dari segi alat yang ramah lingkungan dan finansial yang terjangkau disebabkan penggunaannya memanfaatkan bakteri aerob dan sumber yang digunakan merupakan limbah, sehingga MFC ini efisien apabila dikembangkan dalam lingkungan guna mengurangi emisi GRK dan memaksimalkan potensi limbah daerah masyarakat sekitar. Selain melalui kedua tahap tersebut juga, nantinya ICO-Fucegas akan memiliki alat penampung bahan sisaan yang telah digunakan dalam kedua proses diatas, yang dimana nantinya bahan sisaan ini akan dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pupuk organik ini dapat Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 dimanfaatkan oleh peternak untuk dijual kembali kepada para petani untuk kesuburan tanaman yang ditanamnya. Sehingga hal ini dapat menjadi solusi dari permasalahan mengatasi perubahan iklim, meningkatkan pendapatan peternak. Mendukung dan menyukseskan Program SDGs poin 13 Climate Action, menambah pendapatan, mengurangi pengeluaran dan menjaga lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, dalam penggunaannya, alat ini dapat mengurangi emisi maksimal dari pengolahan feses ternak dan pada kasus di peternakan KPBS Pangalengan ini dapat mengurangi total emisi sebesar 10. 082,1 ton CO2 ekuivalen/tahunnya. Atau dengan kata lain, persentase penurunan emisinya sebesar 28,64% pertahunnya. Tentunya angka ini merupakan angka yang besar dan akan berdampak besar pula akan keberlangsungan makhluk hidup dan pengurangan dampak dari perubahan iklim. Analisis SWOT ICO-Fucegas Tabel 2. Analisis SWOT Model Analisis Hasil Analisi Strengths - Ketersediaan feses sapi yang terus menerus. - Pemanfaatan feses sapi menjadi bernilai ekonomi. - Mendukung program pengurangan emisi GRK dan perubahan iklim Weaknesses - Diperlukan alat untuk membuat sistem ICO-Fucegas. - Stigma masyarakat terkait sulitnya mengolah limbah. Opportunities - Mengurangi pencemaran limbah peternakan bagi lingkungan. - Renewable energy. - Peningkatan ekonomi masyarakat Threats - Masyarakat tidak mau menerima inovasi. - Perlu dukungan dari pihak terkait agar inovasi dapat maksimal SIMPULAN Meningkatnya populasi manusia dan perkembangan pola kehidupan masyarakat berdampak terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), salah satunya di peternakan sapi perah yang dijadikan sebagai salah satu komoditas untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh. Sapi menghasilkan feses setiap harinya yang nantinya akan terdegradasi menjadi CO2. CH4. H2. H2S dimana gas tersebut merupakan penyebab emisi gas rumah kaca. Total 20. 650 ekor sapi perah di wilayah Pangalengan dengan feses yang dihasilkan rata-rata mencapai 206,5 Ae 619,5 ton per harinya. Total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan setiap hari mencapai 921,85 ton CO2 e/tahun angka tersebut merupakan angka yang besar dalam sumbangan emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, untuk mengurangi emisi yang dihasilkan tersebut, dibuat inovasi berupa ICO-Fucegas sebagai teknologi penghasil energi berkelanjutan. ICOFucegas merupakan salah satu cara yang dapat dikembangkan untuk menekan emisi gas rumah kaca dengan output berupa listrik, biogas, dan pupuk organik dengan memanfaatkan bakteri indigeneous. Pada tahap asetogenesis dalam proses pembuatan menghasilkan H2 CO2 yang selanjutnya akan melalui proses metanogenesis menghasilkan produk berupa biogas sebagai bahan bakar alternatif dan asam asetat yang menimbulkan adanya transfer elektron dalam reaksi reduksi oleh H pada katoda dengan bantuan bakteri anaerob untuk kemudian membentuk energi listrik pada sel volta. Total energi listrik dalam MFC yang Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor 2023 dihasilkan dari data Pangalengan sebesar 2. 57 kV per satuan alat MFC pertahunnya dengan efisiensi waktu terhadap keseluruhan pembuatan listrik dan biogas selama 60 hari. Pengolahan feses ternak menggunakan inovasi ini dapat mengurangi emisi maksimal 082,1 ton CO2 ekuivalen/tahunnya. sehingga persentase penurunan emisinya sebesar 28,64% harinya. MFC sendiri memiliki berbagai keuntungan baik dari segi alat yang ramah lingkungan dan finansial yang terjangkau disebabkan penggunaannya memanfaatkan bakteri anaerob dan sumber yang digunakan merupakan limbah, sehingga MFC ini efisien apabila dikembangkan dalam lingkungan guna mengurangi emisi GRK dan memaksimalkan potensi limbah daerah masyarakat sekitar. SARAN Implementasi pembuatan alat ini diperlukan pemahaman terlebih dahulu dari alur rancangan model ICO-Fucegas agar mendapatkan hasil yang maksimal. Hal lain yang perlu dilakukan adalah penyuluhan terlebih dahulu apabila akan dilakukan penyebaran informasi kepada UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Terutama kepada pihak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang senantiasa mewadahi kreativitas mahasiswanya serta senantiasa mendukung dalam hal keperluan materill. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepasa seluruh temanteman yang senantiasa memberi semangat dalam selesainya karya tulis ini. DAFTAR PUSTAKA