Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau MANAJEMEN PENGEMBANGAN KOMPETENSI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SUKAMENANG GURU SMA DALAM NEGERI Wahidin1. Agusni Efendi2 Universitas PGRI Silampari. Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A C T Received: 21 Februari 2025 Revised: 9 April 2025 Available online: 30 Juni 2025 Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran gaya kepemimpinan kepala sekolah yang kuat, terstruktur, dan visioner terhadap peningkatan prestasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang kuat mampu menciptakan lingkungan yang disiplin dan stabil melalui ketegasan dalam pengambilan keputusan, efisiensi pengelolaan sumber daya, serta penerapan disiplin yang adil. Gaya kepemimpinan terstruktur tercermin dari perencanaan program kerja yang sistematis, pengelolaan kurikulum yang terarah, dan evaluasi berkala, yang semuanya berkontribusi pada efektivitas pembelajaran. Sementara itu, kepemimpinan visioner terlihat dari kemampuan merumuskan visimisi jangka panjang yang inspiratif, mendorong inovasi, serta menggerakkan seluruh warga sekolah untuk mencapai tujuan bersama. Ketiga gaya kepemimpinan tersebut secara sinergis menciptakan iklim sekolah yang kondusif, terorganisir, dan penuh motivasi, yang berdampak langsung pada peningkatan prestasi siswa secara akademik maupun non-akademik. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah sebagai strategi utama dalam peningkatan mutu pendidikan. KEYWORDS Kepemimpinan. Kepala Sekolah. Prestasi Siswa CORRESPONDENCE E-mail: 77hidin@gmail. INTRODUCTION Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing di era globalisasi. Perubahan zaman yang sangat cepat menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi dan melakukan pembaruan, baik dalam hal kurikulum, metode pembelajaran, maupun pengembangan sumber daya pendidik. Salah satu langkah strategis yang diambil pemerintah Indonesia dalam merespons tantangan pendidikan abad ke-21 adalah dengan menerapkan Kurikulum Merdeka (Wahidin & Sulistiyono, 2. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan keleluasaan bagi satuan pendidikan dan guru dalam menyesuaikan pembelajaran Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, serta mendorong terciptanya pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan karakter. Implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan kesiapan dari berbagai elemen pendidikan, terutama guru sebagai pelaksana utama pembelajaran di kelas (Ardianti & Amalia, 2. Peran guru dalam konteks ini tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, inovator, dan pembimbing yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang merdeka, inklusif, dan membangun kompetensi siswa secara utuh (Santoso, 2. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi guru menjadi hal yang sangat krusial. Kompetensi yang dimaksud mencakup kemampuan pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang saling terintegrasi dalam proses Dalam konteks Kurikulum Merdeka, guru dituntut untuk mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, serta melakukan asesmen diagnostik dan formatif secara efektif (Marzoan, 2. Di sisi lain, masih banyak guru yang menghadapi kendala dalam mengadaptasi pendekatan-pendekatan baru ini karena keterbatasan pemahaman, keterampilan, dan Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis dan terencana dalam manajemen pengembangan kompetensi guru agar dapat menjawab tantangan tersebut. SMA Negeri Sukamenang sebagai salah satu lembaga pendidikan menengah atas di wilayahnya telah mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Dalam perjalanannya, pihak sekolah menyadari bahwa keberhasilan implementasi kurikulum ini sangat bergantung pada sejauh mana guru memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum baru. Berdasarkan pengamatan awal, masih terdapat variasi dalam tingkat kesiapan dan pemahaman guru terhadap konsep dan praktik Kurikulum Merdeka. Beberapa guru menunjukkan antusiasme dan keterampilan yang baik, namun tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan dalam menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan paradigma baru ini. Oleh sebab itu. SMA Negeri Sukamenang memandang perlu untuk melakukan pengelolaan yang baik dalam pengembangan kompetensi guru, baik melalui pelatihan, lokakarya, kegiatan Manajemen pengembangan kompetensi ini harus mencakup tahap perencanaan kebutuhan guru, pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas, hingga evaluasi dan tindak lanjut hasil pengembangan. Selain itu. Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau pengembangan kompetensi guru juga harus memperhatikan prinsip relevansi, keberlanjutan, dan partisipatif agar benar-benar memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Dalam praktiknya, manajemen pengembangan kompetensi guru di SMA Negeri Sukamenang menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan anggaran, kurangnya sumber daya pelatih yang kompeten, serta rendahnya motivasi sebagian guru untuk mengikuti program-program peningkatan kapasitas. Namun demikian, dengan kepemimpinan yang visioner dari kepala sekolah serta dukungan dari seluruh warga sekolah, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Salah satunya adalah melalui optimalisasi komunitas belajar . earning communit. dan penguatan budaya berbagi praktik baik antar guru. Fenomena ini menarik untuk diteliti lebih lanjut mengingat pentingnya peran guru dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian mengenai manajemen pengembangan kompetensi guru dalam konteks ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang strategi, tantangan, dan dampak pengembangan kompetensi guru terhadap pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan, baik di tingkat sekolah maupun dinas pendidikan, dalam merancang program pengembangan profesional guru yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, latar belakang ini menegaskan pentingnya manajemen pengembangan kompetensi guru dalam mendukung transformasi pembelajaran yang diusung oleh Kurikulum Merdeka. Fokus pada SMA Negeri Sukamenang sebagai studi kasus diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dan teoretis terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan di tingkat satuan pendidikan menengah. RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memahami secara mendalam fenomena manajemen pengembangan kompetensi guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menggali makna, persepsi, pengalaman, strategi, dan tantangan yang dihadapi oleh para pemangku kepentingan di SMA Negeri Sukamenang secara langsung. Metode studi kasus digunakan karena penelitian ini difokuskan pada Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau satu lokasi atau satuan pendidikan tertentu, yakni SMA Negeri Sukamenang. Menurut Moleong . studi kasus memungkinkan peneliti untuk menginvestigasi suatu fenomena dalam konteks kehidupan nyata secara menyeluruh. Dalam penelitian ini, studi kasus memungkinkan peneliti untuk memperoleh gambaran utuh mengenai bagaimana manajemen sekolah mengelola pengembangan kompetensi guru, termasuk strategi, kebijakan, program yang dijalankan, serta dampaknya terhadap implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri Sukamenang yang berlokasi di Kabupaten Musi Rawas Utara. Sumatera Selatan. Sekolah ini dipilih karena telah ditetapkan sebagai salah satu sekolah penggerak dan secara aktif mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sejak tahun ajaran 2023/2024. Selain itu, sekolah ini memiliki dinamika yang menarik dalam hal pengelolaan pengembangan kompetensi guru yang relevan untuk dikaji secara akademik. Subjek dalam penelitian ini meliputi: Kepala sekolah selaku pengambil kebijakan dan pemimpin manajemen sekolah. Wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Koordinator guru penggerak. Beberapa guru dari berbagai mata pelajaran yang telah mengikuti pelatihan atau program pengembangan kompetensi. Ketua komunitas belajar guru di sekolah tersebut. Untuk mendapatkan data yang lengkap dan mendalam, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara Mendalam (In-depth Intervie. Observasi Partisipatif dan Studi Dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman . yang terdiri dari tiga tahapan utama: Reduksi data. Penyajian data dan Penarikan Kesimpulan serta Verifikasi. RESULTS ANDDISCUSSION Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana manajemen pengembangan kompetensi guru dilaksanakan di SMA Negeri Sukamenang dalam rangka mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Berdasarkan hasil wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, ditemukan beberapa temuan penting yang dikelompokkan ke dalam empat aspek Perencanaan Pengembangan Kompetensi Guru, . Pelaksanaan Program Pengembangan, . Evaluasi dan Monitoring Kompetensi Guru, dan . Dampak terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka. Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Perencanaan Pengembangan Kompetensi Guru Perencanaan pengembangan kompetensi guru di SMA Negeri Sukamenang dilaksanakan secara terstruktur dan berbasis kebutuhan. Proses perencanaan ini melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan koordinator guru penggerak. Dalam tahap awal, dilakukan pemetaan kompetensi melalui refleksi guru dan observasi pembelajaran. Kepala sekolah menjelaskan bahwa dalam menyusun rencana pengembangan guru, pihak sekolah mengacu pada hasil evaluasi kinerja guru, hasil supervisi akademik, serta kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan. Fokus utama diarahkan pada penguatan kompetensi guru dalam tiga aspek utama Kurikulum Merdeka, yaitu pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek . roject-based learnin. , dan asesmen diagnostik. Pemetaan kebutuhan juga dilakukan melalui forum diskusi guru dan pengisian kuesioner Dari hasil pemetaan tersebut, diperoleh gambaran bahwa sebagian besar guru masih memerlukan peningkatan dalam hal: Menyusun tujuan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual. C Merancang asesmen formatif yang sesuai dengan capaian pembelajaran. C Mengintegrasikan profil pelajar Pancasila dalam aktivitas kelas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Qamariyah & Nurhadi . dalam manajemen SDM, yang menyebutkan bahwa perencanaan pengembangan harus dimulai dengan analisis kesenjangan kompetensi . ap analysi. Pelaksanaan Program Pengembangan Kompetensi Pelaksanaan program pengembangan kompetensi di SMA Negeri Sukamenang dilakukan melalui berbagai strategi, baik internal maupun eksternal. Program pengembangan yang paling dominan adalah: Pelatihan internal . n-house trainin. C Workshop Kurikulum Merdeka yang difasilitasi oleh guru penggerak. C Penguatan komunitas belajar . earning communit. C Partisipasi dalam pelatihan eksternal yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan atau platform Merdeka Mengajar. Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Kegiatan pelatihan internal difokuskan pada materi-materi praktis yang dapat langsung diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. Misalnya, pelatihan tentang cara merancang modul ajar, menyusun asesmen diagnostik, dan melakukan refleksi pembelajaran. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada awal semester atau saat libur tengah semester. Guru penggerak memiliki peran penting sebagai fasilitator dalam pelatihan tersebut. Mereka tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memandu diskusi dan praktik langsung. Hal ini mencerminkan pendekatan peer-to-peer learning yang diyakini lebih efektif karena sesama guru dapat saling memahami tantangan dan konteks masing-masing. Komunitas belajar guru juga menjadi wadah utama dalam proses pengembangan berkelanjutan. Dalam komunitas ini, guru secara rutin berbagi pengalaman, tantangan, dan solusi terkait implementasi Kurikulum Merdeka. Kegiatan komunitas belajar dilakukan minimal dua minggu sekali dan menjadi bagian dari pengembangan profesional yang terstruktur. Pembelajaran dari narasumber luar juga dilakukan, terutama melalui pelatihan daring dari Kemendikbudristek. Beberapa guru menyampaikan bahwa platform Merdeka Mengajar sangat membantu mereka dalam memahami prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka secara mandiri. Namun, keterbatasan akses internet dan rendahnya literasi digital menjadi kendala bagi sebagian guru senior. Evaluasi dan Monitoring Pengembangan Kompetensi Evaluasi dan monitoring merupakan bagian integral dalam manajemen pengembangan SMA Negeri Sukamenang menerapkan pendekatan berkelanjutan dalam mengevaluasi peningkatan kemampuan guru. Kepala sekolah bersama tim kurikulum secara berkala melakukan observasi pembelajaran dan diskusi reflektif pasca-observasi. Setiap guru juga diminta untuk menyusun portofolio pembelajaran yang berisi: Rencana pembelajaran . odul aja. C Asesmen dan hasilnya. C Refleksi diri terhadap praktik pembelajaran. C Dokumentasi penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis proyek. Evaluasi tidak hanya menilai sejauh mana guru memahami konsep Kurikulum Merdeka, tetapi juga bagaimana mereka mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran. Penilaian dilakukan secara holistik dan bersifat formatif. Dalam proses evaluasi ini, ditemukan bahwa sebagian guru Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau mengalami perkembangan signifikan, khususnya dalam hal menyusun pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan. Namun, tantangan masih muncul dalam penerapan asesmen formatif yang berkelanjutan, serta penyusunan rubrik penilaian yang akurat. Dampak Terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, pengembangan kompetensi guru yang terkelola dengan baik berdampak positif terhadap implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri Sukamenang. Dampak tersebut terlihat dalam beberapa aspek berikut: Inovasi Pembelajaran Guru lebih berani mencoba pendekatan baru seperti pembelajaran berbasis proyek, penggunaan media digital, serta strategi pembelajaran kolaboratif. Siswa menjadi lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Keterlibatan Siswa Pendekatan diferensiasi membuat siswa merasa lebih diperhatikan sesuai kemampuan dan gaya belajarnya. Guru mulai mengelompokkan siswa berdasarkan kebutuhan belajar dan memberikan tugas yang berbeda sesuai dengan profil siswa. Budaya Kolaboratif Kegiatan komunitas belajar memperkuat semangat kolaborasi antarguru. Mereka saling berbagi modul, saling mengobservasi kelas, dan berdiskusi secara terbuka mengenai tantangan yang dihadapi. Perubahan Mindset Guru mulai memiliki pemahaman baru bahwa pembelajaran bukan hanya soal menyelesaikan silabus, tetapi tentang membentuk karakter dan kompetensi siswa secara utuh. Hal ini selaras dengan semangat profil pelajar Pancasila. Namun demikian, hasil penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan, di antaranya: . Belum semua guru memiliki literasi digital yang memadai untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, . Kegiatan pengembangan kompetensi masih bergantung pada jadwal yang ditetapkan sekolah, belum sepenuhnya tumbuh dari kebutuhan dan inisiatif pribadi guru, . Evaluasi terhadap kompetensi guru belum menyentuh aspek kualitas secara mendalam, masih bersifat administratif pada beberapa kegiatan. Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Temuan penelitian ini menguatkan bahwa dalam manajemen sumber daya manusia bahwa pengembangan kompetensi merupakan proses yang terstruktur dan harus berkelanjutan. SMA Negeri Sukamenang menunjukkan bahwa manajemen yang baik yang diawali dengan perencanaan berbasis kebutuhan, pelaksanaan program yang relevan, dan evaluasi yang terukur dapat meningkatkan kualitas guru secara signifikan. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pengembangan kompetensi guru menjadi krusial karena kurikulum ini menuntut guru tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang adaptif, reflektif, dan inovatif. Temuan ini juga sejalan dengan hasil penelitian Novita dan Radiana . yang menyatakan bahwa guru yang aktif dalam komunitas belajar menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal inovasi dan efektivitas pembelajaran. Selain itu, pendekatan pengembangan berbasis komunitas juga menunjukkan efektivitasnya. Sejalan dengan prinsip communities of practice, guru yang terlibat dalam diskusi dan berbagi praktik baik cenderung lebih termotivasi dan berkembang secara profesional. Namun, penting dicatat bahwa pengembangan kompetensi tidak hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga menuntut motivasi intrinsik dari guru sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan budaya belajar sepanjang hayat di kalangan guru sebagai bagian dari transformasi pendidikan. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa manajemen pengembangan kompetensi guru di SMA Negeri Sukamenang dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur, meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Proses perencanaan didasarkan pada pemetaan kebutuhan kompetensi guru yang relevan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, dan asesmen formatif. Pelaksanaan program pengembangan kompetensi dilakukan melalui berbagai strategi, baik internal maupun eksternal, seperti pelatihan internal, komunitas belajar, dan pemanfaatan platform digital. Guru penggerak berperan aktif sebagai fasilitator dalam kegiatan pelatihan dan pendampingan. Selain itu, budaya kolaborasi di antara guru semakin berkembang melalui kegiatan komunitas belajar yang rutin dan Evaluasi pengembangan kompetensi dilakukan melalui observasi pembelajaran, penyusunan portofolio, dan diskusi reflektif yang memungkinkan guru melakukan perbaikan dan Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau inovasi dalam pembelajaran. Hasilnya menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi guru berdampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan keterlibatan siswa dalam proses Dengan manajemen yang efektif dan dukungan kolaboratif, implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Negeri Sukamenang menunjukkan potensi yang besar untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan karakter serta kompetensi siswa. REFERENCES