Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 ANALISIS KANDUNGAN FORMALDEHID DALAM MINUMAN DENGAN KEMASAN PLASTIK POLYETHYLEN TEREFTALAT (PET) YANG BEREDAR DI KODYA PEKANBARU Itnawita. Abu Hanifah. Amelia,. Khoirul. Eriesa Laboratorium Analitik. Jurusan Kimia. FMIPA. Universitas Riau Jln. Raya Bangkinang KM 12,5 Pekanbaru 28293 E-mail: itna_05@yahoo. ABSTRAK Salah satu kelemahan dari plastik Polietylen tereftalat (PET) yang digunakan sebagai kemasan minuman adalah terjadinya migrasi monomer-monomer berupa formaldehid dan asetaldehid selama penyimpanan. Dari hasil penelitian terhadap beberapa jenis minuman dengan kemasan PET yang beredar di Kodya Pekanbaru menunjukkan terjadinya peningkatan kandungan formaldehid dalam minuman selama penyimpanan. Kandungan formaldehid dalam minuman yoghurt yang disimpan sampai 70 hari adalah 1,488 mg/L dan dalam HDPE 3,250 mg/l, minuman berkarbonat 2,31 mg/l dan air mineral 0,27 mg/l yang disimpan selama 30 hari dalam keadaan terpapar matahari. Penyimpanan minuman joghurt, dan minuman berkarbonat setelah 50 hari telah melebihi NAB yang ditetapkan oleh tiga lembaga organisasi di PBB yaitu ILO. UNEP serta WHO yaitu 1 mg/L. yang diperbolehkan. sedangkan air mineral masih berada dibawah Kata Kunci: Polyetylen Tereftalat, formaldehid, migrasi dengan proses polimerisasi adisi dari gas PENDAHULUAN Plastik menjadi suatu wadah atau etilen yang diperoleh sebagai hasil samping kemasan yang populer digunakan di kalangan dari kegiatan industri dan minyak. Plastik Plastik mempunyai beberapa polietilen tereftalat dan polietilen banyak keunggulan antara lain tidak berkarat, mudah digunakan untuk kemasan minuman karena dibentuk, kuat, ringan, dapat diberi label atau bisa di pakai dalam jangka waktu tertentu. dicetak sesuai dengan kreasi dan dapat dibuat Namun demikian, plastik menyimpan Ada beberapa jenis plastic yang kelemahan disebabkan adanya migrasi zat umum digunakan seperti polyetylen tereftalat monomer pada plastik ke dalam makanan (PET) dan poli propilen (PP). Plastik ataupun minuman selama penyimpanan polietilen tereftalat dibuat dari polimer (Azriani,2. Migrasi ini akan lebih cepat poliester yang dihasilkan dari reaksi antara terjadi jika lingkungan dalam minuman atau etilen glikol dengan asam tereftalat atau makanan tersebut mengandung materi yang dimetil tereftalat dengan menggunakan mampu mempercepat tejadinya pelepasan katalis seperti garam Mn. Co. Cd. Pb, dan rantai monomer (Duncans, 2. lain-lain ( Artha,2007 ). Polietilen dibuat OOCC6H4COOCH2CH2 OH Ie -OOCC6H4COOCH = CH2 H2O . IeOOCC6H4COOH CH3CHO Uzairu dan yoghurt . ppm ) yang kandungan formaldehid dalam minuman bir dijual dipasaran lokal Makurdi. Mutsuga dkk FMIPA-UMRI Vol. 4 No. Mei2014 . adanya migrasi formaldehid dari kemasan kedalam minuman air mineral dari jepang yaitu formaldehid . ,1-27,9 pp. dan asetaldehid . ,3-107,8 pp. Villain dkk . meneliti degradasi PET dengan berbagai suhu dan terbentuknya senyawa mudah menguap salah satunya dapat terbentuk formaldehid. Lawrence dkk . menemukan bahwa kandungan formaldehid pada soft drink kemasan plastik lebih tinggi . ,7 pp. dari pada bir kemasan botol . ,46 Formaldehid adalah gas yang mudah terbakar, tidak berwarna, memiliki bau yang tajam, mudah larut didalam air dan sangat reaktif dengan banyak zat ( Mujiarto,2. Formaldehid mempunyai sifat racun bagi manusia pada konsentrasi tinggi yaitu di atas 1 mg/L yang akan mengganggu saluran pernapasan, mata dan kulit ( Rianto, 2. Untuk itu diperlukan suatu metoda yang Spektrofotometri dipilih karena waktu pengerjaannya yang cepat, selektif, sensitive. METODOLOGI PENELITIAN Sampel supermarket di Kota Pekanbaru secara acak . andom samplin. Sampel yang diambil berkarbonat dan air mineral yang dikemas dalam wadah polyethylene tereftalate (PET). Analisis migrasi formaldehid diuji melalui analisa kandungan formaldehid dengan menggunakan reagen Schiffs dan pengukuran dengan metode Spektrofotometri. Analisis dilakukan pada rentang waktu tertentu tergantung masa kadaluarsa masing-masing Bahan yang digunakan dalam penelitian ini asam klorida (HC. pekat, asam fosfat (H3PO. 10%, formaldehid standar 37%, reagen schiffAos . sam fuksin. NaSO3. HCl. , asam sulfat (H2SO. pekat, akuades. Alat Jurnal Photon yang digunakan meliputi Spektrofotometer (Thermoscientific Genesys . , timbangan analitik (Mettler AE . , seperangkat alat destilasi dan seperangkat peralatan gelas yang umum digunakan. Penetapan formaldehid masing-masing dilarutkan dengan aquadest 50 mL, 1 mL HClp dan 1 mL H3PO4 10%, kemudian didestilasi pada suhu 100oC dengan mengandung formaldehid. Sebanyak 10 mL larutan standar formaldehid 5,0 ppm dicampurkan dengan 10 mL destilat dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang telah diberi Sebanyak 1 mL reagen SchiffAos kemudian ditambahkan ke dalam erlenmeyer dan 1 mL H2SO4 . yang telah berisi destilat sampel tadi . erwarna ungu mud. Homogenkan larutan dan diamkan selama 25 menit. Larutan menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang 570 nm. Kandungan formaldehid dalam sampel dapat diketahui dari kurva kalibrasi dengan membuat plot dari absorban dan konsentrasi formaldehid standar dan hasilnya dinyatakan dalam mg L-1 dalam setiap sampel yang diujikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kandungan formaldehid dari sampel minuman kemasan PET dan HDPE dengan interval waktu penyimpanan mulai dari waktu dipasarkan sampai masa kadaluarsa dapat dilihat pada Tabel 1. FMIPA-UMRI Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 Tabel 1. Hasil analisis kandungan senyawa formaldehid dalam minuman yoghurt, minuman berkarbonat dan air mineral pada kemasan PET Waktu ( har. Sampel Samel Waktu . Sampel Waktu . SampelD Sampel 0,05 0,72 0,44 1,43 0,67 0,02 0,06 1,67 1,07 0,23 0,27 2,87 2,31 1,48 3,25 Keterangan: Sampel A = yohgurt. C = minuman berkarbonat. D dan E air mineral dengan kemasan PET. dan B* yoghurt dengan kemasan HDPE Dari tabel 1, secara umum terlihat bahwa minuman yang dikemas dengan plastic PET terjadi peningkatan kandungan formaldehid dalam minuman selama penyimpanan, dimana semakin lama penyimpanan maka kandungan formaldehid semakin besar hal ini pelarutan monomer kedalam minuman. Terjadinya migrasi ini sangat dipengaruhi oleh sifat minuman dan kondisi lingkungan. Untuk minuman yoghurt (A) yang disimpan dalam PET sampai penyimpanan 60 hari formaldehid belum terdeteksi, namun pada 70 hari formaldehid terdeteksi sebesar 1,488 mg/L. Sedangkan yoghurt (B) yang disimpan dengan HDPE formaldehid sudah terdeteksi pada penyimpanan 30 hari sebesar 0,7mg/l. Pada hari ke 60 meningkat menjadi 3,25 mg/l. Terjadinya migrasi formaldehid ini dalam minuman yoghurt bisa timbul akibat dari proses fermentasi bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus yang dapat menghasilkan asam. Apabila minuman yoghurt disimpan dengan jangka waktu lama maka kandungan asam teroksidasi dan membentuk senyawa aldehid diantaranya asetaldehid, formaldehid dan lain-lain. Dari tabel juga terlihat bahwa migrasi pada HDPE lebih cepat dibanding PET hal ini disebabkan oleh 2 faktor, yaitu FMIPA-UMRI kemasan HDPE dibuat dari proses polimerisasi adisi dari gas etilen, yang memiliki berat jenis dan tingkat transmisi oksigen yang tinggi, degradasi dan komposit dari plastik HDPE lebih besar daripada PET. Akibatnya HDPE mempunyai pori-pori yang lebih banyak daripada PET. Adanya pori-pori kandungan asam yang tinggi mampu memutuskan monomer lebih banyak dan membentuk ikatan yang memiliki berat molekul yang rendah salah satunya terbentuk senyawa formaldehid. Disamping hal diatas terkontrolnya kondisi suhu dan tekanan kemurnian bahan baku dan distribusi yang kurang memuaskan sehingga monomer dapat terbentuk dalam kemasan minuman dan asetaldehid dan formaldehid yang lebih Pada minuman berkarbonat kandungan penyimpanan 20 hari dan meningkat samapai 2,31mg/l pada hari ke 60. Hal ini terjadi karena pembentukan formalin juga terjadi karbonmonoksida dengan air dalam keadaan anaerob, selain itu juga juga terjadi karena adanya tekanan mengakibatkan tegagangan Vol. 4 No. Mei2014 pemukaan palstik semakin besar yang akan memicu pembentukan monomer semakin Hal yang sama juga terlihat pada air mineral yang terpapar matahari secara langsung, pembentukan formaldehid lebih cepat karana panas akan mengakibatkan reaksi termal akan terjadi lebih cepat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terhadap kandungan formaldehid terhadap minuman yoghurt, minuman berkarbonat dan air mineral dapat disimpulkan. Adanya migrasi formaldehid dari kemasan kedalam minuman selama Untuk minuman yoghurt dan minuman berkarbonat penyimpanan sampai 50 hari formaldehid belum terdeteksi Untuk minuman dalam wadah PET pada penyimpanan 60 hari kandungan formaldehid dalam yoghurt 1,488 mg/l, 2,33mg/l, yoghurt dalam HDPE 3,25 mg/l. Kandungan ini telah melebihi batas ditetapkan oleh tiga lembaga organisasi di PBB yaitu ILO. UNEP serta WHO yaitu 1 mg/L yang boleh masuk ke dalam tubuh manusia DAFTAR PUSTAKA