Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Dalam Kitab TaAolimul MutaAoalim Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Di Pondok Pesantren Nasruddin Suhaimi Fajrin. Taufikurrahman Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jatim Email : Suhaimifajrin7@gmail. Taufik. 100493@gmail. Abstrak Sejak akhir tahun 1990 globalisasi industri media mulai masuk ketanah air yang menghadirkan wajah baru dan menawarkan berbagai tatanan kehidupan bagi masyarakat Indonesia, masyarakat dihadapkan dengan ruang publik yang padat akan pengetahuan . , canggihnya teknologi, gaya hidup transnasional, serta percepatan dalam berinteraksi dan bersosial. Dampak globalisasi tersebut telah dirasakan dalam sektor pendidikan, kompetisi global telah memaksa terhadap dunia pendidikan untuk berbenah dan terlibat dalam kompetisi ini. Khususnya lembaga pendidikan pondok pesantren yang tidak bisa dilepaskan dari dampak globalisasi, untuk merespon perubahan tersebut pondok pesantren harus memperkuat nilai-nilai akhlak untuk meningkatkan kedisiplinan santri dalam hal belajar dan beribadah dengan berbagai bentuk, demi tercapainya keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Dalam konsep nilai-nilai akhlak untuk memupuk kedisiplinan belajar yang menjadi panutan di Pondok Pesantren khususnya Pondok Pesantren Nasruddin ialah sosok intelektual muslim Syekh Burhanuddin Az-Zarnuzi dengan karya monumentalnya TaAolimul MutaAolim. Implikasi dari nilai akhlak dalam Kitab TaAolimul MutaAolim yang di implementasikan Pondok Pesantren Nasruddin akan mampu memberi bekal kepada para santri saat belajar sehingga tidak akan mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dalam sisi negatifnya dan juga dikehidupannya kelak akan mampu mengaktualisasikan apa yang ia sudah pelajari sesuai dengan aturan dan normanorma Agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-diskriptif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini dilakukan dipondok pesantren Nasruddin. Kesimpulan riset menyatakan bahwa internalisasi nilai akhlak dalam kitab TaAolimul MutaAoallim untuk meningkatkan kedisiplinan belajar dilakukan melalui: Pertama. Nilai akhlak kepada Allah, santri meluruskan niat belajar, mempelajari ilmu bersifat fardhu ain, mempunyai sifat tawakal. Kedua. Nilai akhlak kepada dirinya sendiri, santri sungguh-sungguh dan tekun dalam belajar, mengetahui tahapan belajar, memiliki sikap waraAo. Ketiga. Nilai akhlak santri kepada makhluk sesama, menghormati ilmu dan ahli ilmu, memilih guru dan memilih teman, memiliki sifat kasih sayang. Kata Kunci: Internalisasi. Nilai-Nilai Akhlak. Disiplin Belajar Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Abstract Since the end of 1990 the globalization of the media industry has begun to enter the country which presents a new face and offers various ways of life for the people of Indonesia, the community is faced with a public space that is dense with knowledge, sophisticated technology, transnational lifestyles, as well as acceleration in interacting and socializing. The impact of globalization has been felt in the education sector, global competition has forced the world of education to improve and be involved in this competition. In particular. Islamic boarding schools which cannot be separated from the impact of globalization, to respond to these changes. Islamic boarding schools must strengthen moral values to improve student discipline in terms of learning and worship in various forms, in order to achieve success in the teaching and learning process. In the concept of moral values to foster learning discipline, the role model in Islamic boarding schools, especially Nasruddin Islamic Boarding Schools, is the Muslim intellectual figure of Sheikh Burhanuddin Az-Zarnuzi with his monumental work Ta'limul Muta'lim. The implications of the moral values in the Book of Ta'limul Muta'lim which are implemented by the Nasruddin Islamic Boarding School will be able to provide provisions for students while studying so that they will not be easily influenced by the negative side of globalization and also in their lives will be able to actualize what they have learned in accordance with the rules and norms of Islam. This study uses a qualitative-descriptive research method with a case study approach, this research was conducted at the Nasruddin Islamic Boarding School. The conclusion of the research states that the internalization of moral values in the Ta'limul Muta'allim book to improve learning discipline is carried out through: First. Moral values to Allah, students straighten their learning intentions, study science is fardhu ain, have the nature of trust. Second. Moral values to themselves, students are serious and diligent in learning, know the stages of learning, have a wara' attitude. Third. The moral values of students to fellow creatures, respect for science and experts in science, choose teachers and choose friends, have compassion. Keywords: Internalization. Moral Values. Learning Discipline Pendahuluan Dalam membentuk generasi mendatang pendidikan merupakan aspek yang mempunyai peran penting, pendidikan dianggap sebuah investasi yang berharga dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menyimpan kekuatan luar biasa untuk menentukan nasib umat manusia sebagai individu, kelompok, maupun bangsa. Pendidikan secara kelembagaan tampak dalam berbagai bentuk dan variasi salah satunya pondok pesantren yang notabene sebagai lembaga pendidikan terlama dan yang memberikan banyak kontribusi terhadap perkembangan bangsa Indonesia, keunggulan pesantren dapat kita lihat dari berbagai sudut pandang seperti metodenya, kurikulumnya, transmisi keilmuanya, tradisi keilmuannya, dan juga internalisasi akhlakul karimah yang tidak bisa diragukan lagi. Kemunculan dan perkembangan lembaga pendidikan pondok pesantren tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan pendidikan tersebut, untuk membentengi dari unsur negatif globalisasi Ahmad Tafsir memberi penjelasan 1 Lestari. Pendidikan Islam Kontektual , (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 21. 2 Martin Van Bruenessen, (Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, (Jakarta: Raja Grafindo, 2. , 35. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 yang meliputi tiga paradigma yaitu mengembangkan paradigma ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh akal dan panca indra, mengembangkan ilmu mistis yang berhubungan dengan rasa, dan mengembangkan pola ilmu pengetahuan melalui objek abstrak, dan mengembangkan ilmu mistis yang berhubungan dengan rasa. Dalam hal ini Pondok Pesantren Nasruddin sebagai simbol pendidikan Islam di wilayah Kecamatan Dampit Kabupaten Malang yang kuat terhadap pengaruh kebiasaan atau budaya luar akan tetapi saat ini pondok pesantren Nasruddin mengalami dekadensi sehingga perluasan terjadi secara terus-menerus, dari segi moral para santri banyak terjadi perubahan misalnya kebiasaan buruk tidak mengikuti kegiatan pondok, malas belajar, tidak jujur, dan gaya berpakaian, berbicara yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang sudah membudaya dikalangan mereka. Selain itu dampak dari virus covid 19 yang melanda di negara Indonesia juga mempengaruhi perkembangan pendidikan khususnya dipondok pesantren Nasrudin dimana para santri dipulangkan kerumah masing-masing untuk waktu yang cukup lama, sehingga membuat belajar santri tidak efektif dan berkurang. Untuk mengatasi problematika tersebut Pondok Pesantren Nasruddin mengambil langkah yang cukup signifikan yaitu dengan menginternalisasikan nilai akhlak dalam Kitab TaAolimul MutaAoalim untuk meningkatkan kedisiplinan santri dalam hal belajar dan beribadah dengan berbagai bentuk kegiatan. Jika kita mengartikan Internalisasi yaitu dari kata intern yang berarti menunjukkan proses atau bagian dalam, sedangkan didalam kamus ilmiah populer internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pengasingan, dan pendalaman,4 dalam pandangan psikologi internalisasi diartikan sebagai penyatuan dan penggabungan sikap atau tingkah laku standar. Sedangkan nilai secara etimologi ialah harga atau derajat, asal kata nilai dari bahasa latin yaitu valeAore yaitu berdaya, berguna, mampu, berlaku, nilai juga dapa diartikan suatu yang dipandang bermanfat, baik, dan benar dalam keyakinan individu atau kelompok. 6 Dalam proses internalisasi nilai harus dilakukan secara terus menerus dalam upaya mengelola segala sesuatu yang terdapat dalam individu dengan tahapan-tahapan dan prosedur yang baik. Berikut ini beberapa komponen dalam proses internalisasi yang ditawarkan oleh Peter L Berger dalam teorinya konstruksi sosial, diantaranya: Eksternalisasi. Sebuah upaya mencurahkan atau menyesuaikan diri terhadap sosio-kultural, dimana manusia tidak bisa tinggal didalam dirinya secara terusmenerus untuk itu manusia perlu mengekspresikan dan menyesuaikan diri ditempat ia berada sesuai dengan kondisi sosial disekitarnya. Obyektivasi. Sebuah hasil yang dicapai oleh manusia dari kegiatan eksternalisasi, hal ini menjadi kelanjutan dari proses interaksi diri yang dialami dalam suatu lembaga atau kelompok setelah itu manusia akan menjadi suatu realitas yang sui generis atau unik. 3 Ahmad Tafsir, (Ilmu Pendidikan Perspektif Islam. Bandung: Rosda Karya, 2. , 30. 4 Windy Novia. Kamus Ilmiah Populer, (Pustaka Gama, 2. , 213. 5 James Camlin. Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Balai Pustaka 1. , 336. 6 Sutarjo Adi Susilo. Pembelajaran Nilai Karakter, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2. , 56. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Internalisasi. Sebuah identifikasi individu terhadap organisasi sosial, manusia dituntut untuk menafsirkan realitas sosial melalui pengalaman, pendidikan tertentu, prefensi, dan lingkungan tempat mereka tinggal. Dalam pandangan Muhaimin ada beberapa tahapan-tahapan penting yang harus diperhatikan untuk mencapai proses internalisasi, diantaranya: Tahap transformasi nilai. Pada tahap ini sebuah proses yang dilakukan pendidik dalam memberikan informasi kepada peserta didik terhadap perbandingan nilai-nilai yang baik dan buruk, tahapan ini hanya bersifat komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik. Tahap transaksi nilai. Pada tahap ini merupakan tahap komunikasi dua arah yaitu interaksi yang dilakukan pendidik dan peserta didik yang bersifat timbal balik, dimana pendidik lebih aktif dalam memberikan arahan kepada peserta Tahap transinternalisasi. Pada tahapan ini penanaman nilai lebih mendalam, artinya pendidik tidak hanya memberikan pendidikan yang hanya bersifat teori ataupun komunikasi secara verbal. Akan tetapi lebih kepada aplikasi dimana dapat menampilkan suatu sikap yang bernilai dan bisa dijadikan teladan oleh peserta didik. Kitab TaAolimul MutaAoalim yang dikarang Syekh Burhanuddin Az-Zarnuzi merupakan kitab yang menuangkan sebuah konsep kedisiplinan belajar seperti halnya bagaimana metode belajar yang benar, beliau juga menekankan kedisiplinan seorang peserta didik dalam belajar dan mencari ilmu pengetahuan dengan niat dan proses yang benar, dan meletakkan akhlak sebagai paradigma Dengan begitu sangat jelas tujuan pondok pesantren Nasrudin Dampit mempelajari dan menerapkan kitab TaAolimul MutaAoalim agar dalam proses belajar mengajar para santri mendapatkan kesuksesan, ilmu yang barokah dan bermanfaat, serta memiliki akhlak yang baik. Dalam proses belajar mengajar kedisiplinan menjadi alat yang bersifat preventif untuk mencegah dan menjaga hal-hal yang dapat mengganggu dan menghambat proses belajar, untuk itu berbagai aturan, tatatertib, pembiasaan, serta keteladanan yang dibuat dan dilakukan pihak pondok pesantren untuk menciptakan keadaan dan budaya yang baik dan tegaknya kedisiplinan dikalangan Seperti yang dijelaskan oleh A. G Hughes dan E. H Hughes bahwa ketika seorang sudah memiliki kedisiplinan maka ia akan tunduk dengan sendirinya pada apa yang sudah ditetapkan oleh gurunya, ia memiliki hasrat untuk mengikuti setiap langkah dari aturan dan tata tertib yang diberlakukan. 9 Hal ini juga diperkuat oleh pendapat A Fatah Yasin bahwa Pendidikan adalah salah satu kebutuhan hidup manusia dalam membentuk dan mempersiapkan pribadi untuk hidup dimasa datang dengan cara disiplin, 10 karena pendidikan merupakan 7 Peter L Berger. Langit Suci Agama Sebagai Realitas Sosial, terj. Hartono, (Jakarta: LP3ES, 1. , 4. 8 Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 301. 9 A. G Hughes E. H Hughes. Psikologi Pembelajaran Teori & Terapan, terj. Purwanto (Bandung: Nuansa Cendekia, 2. , 246. 10 A Fatah Yasin. Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, (Malang: Malang Press, 2. , 15. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 lembaga yang mempunyai proses komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan yang meliputi intelektual, spiritual, emosi dan fisik. Disiplin merupakan titik sentral pendidikan dengan adanya disiplin akan membentuk peserta didik memiliki sikap atau tindakan yang teratur dan sesuai dengan nilai-nilai, ketentuan, dan aturan yang telah berlaku. Sikap disiplin Belajar tidak timbul dengan sendirinya atau peristiwa yang terjadi dengan seketika, kedisiplinan secara fundamental timbul karena adanya intervensi dan pengaruh dari beberapa elemen seperti pendidik, orangtua, maupun lingkungan masyarakat yang akan menjadi modal awal pembentukan kedisiplinan pada diri individu. Menurut A. G Hughes dan A. H Hughes kedisiplinan dalam belajar memiliki tujuan sebagai berikut :12 . Menciptakan ketenangan dan keheningan didalam ruang belajar. Membantu peserta didik mengerjakan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Membuat kondisi menyenangkan terhadap diri peserta didik akan belajar. Membantu peserta didik yang memiliki tingkat kemalasan yang tinggi agar lebih . Mampu mengontrol peserta didik atas pengaruh luar. Memberikan rasa percaya diri dan mental yang kuat terhadap peserta didik. Hakikat dari disiplin belajar sangat memberi dampak besar bagi lembaga sekolah khususnya peserta didik, dengan adanya disiplin dalam belajar akan mampu meningkatkan prestasi bagi peserta didik dan juga membentuk sebuah sikap atau akhlak yang mulia serta mencegah dari pengaruh negatif arus globalisasi yang merugikan semua pihak. Metode Penelitian Dalam riset ini menggunakan pendekatan kualitatif, melalui pendekatan kualitatif diharapkan memperdalam sebuah temuan dalam penelitian secara alami dan didalam konteks yang direncakan, jenis penelitian ini ialah studi kasus, studi kasus merupakan penelitian yang mempunyai tujuan mengetahuai sebuah fenomena yang aktual secara intensif, 13 lokasi penelitian ini terletak di Pondok Pesantren Nasruddin Dampit Malang. Sumber data pada riset ini ialah dari mana subjek penelitian diperoleh, yangnantinya akan menghasilkan data deskriptif sesuai dengan keterangan yang didapat dari instansi tersebut. Sedangkan informannya ialah ketua dan wakil ketua pondok pesantren Nasruddin sebagai pemegang otoritas dilembaga ini, para ustadz dan santri dilembaga tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti berupa . wawancara yang dikenal dengan sebuah interaksi tatap muka antar individu, hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi terhadap obyek yang diteliti. Observasi merupakan perhatian yang terfokus pada kejadian, gejala atau sesuatu hal. Dokumentasi adalah dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis, 11 Teguh Wangsa Ghandi. Filsafat Pendidikan, (Jogjakarta: Ar Ruz, 2. , 63. 12 A. G Hughes E. H Hughes. Psikologi Pembelajaran Teori & Terapan, 230. 13 Teddi Prasetya Yuliawan. Fathul Himam. The Grasshoper Phenomenon: Studi Kasus Terhadap Profesional yang sering Berpindah-pindah Pekerjaan. Jurnal Psikologi. Vol. 34 No. 1,81. 14 Emzir. Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, (Jakarta: Rajawali Pers,2. , 50. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 dokumentasi dianggap penting dalam rangka mencari data-data yang berupa catatan, transkip, buku-buku, agenda, dan lain sebagainya. Pembahasan Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Dalam Kitab TaAolimul MutaAoalim Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Di Pondok Pesantren Nasrudin Dampit. Akhlak Kepada Allah Swt Niat Diwaktu Menuntut Ilmu Akhlak kepada Allah ini berupa bagaimana santri mampu meluruskan niatnya dalam belajar, bahwa manifestasi dari nilai pendidikan akhlak terhadap Allah yang tersimpul dalam akhlak seseorang santri akan membentuk niat yang benar dalam mencari ilmu dan akhlak kepada Allah. Setelah seorang peserta didik . memiliki niat yang benar, dipondok pesantren Nasruddin Dampit kemudian memberikan materi pertama yang sifatnya fardhu ain. hal pertama yang diajarkan kepada para santri meliputi ilmu fiqih, akhlak, dan tauhid baik materi ataupun prakteknya sebelum belajar ilmu yang lain. Dalam kitab TaAolimul MutaAoalim dijelaskan yang artinya Ilmu yang paling utama ialah ilmu hal, dan perbuatan yang mulia adalah menjaga hal atau menjaga kondisi. Memiliki Sifat Tawakal Abu Hanifah meriwayatkan dari Abdullah Bin Hasan Az-Zubaidi, seorang sahabat Rasulillah Saw yang artinya: Barang siapa mempelajari Agama Allah maka Allah akan mencukupi kebutuhannya dan memberikan rizki dari jalan yang tidak dikira sebelumnya. Bagi seorang peserta didik harus sebisa mungkin mengurangi ketergantungan dengan barang-barang duniawi, dan karena itulah para ulama lebih memilih untuk mengembara. Selain itu peserta didik harus sanggup menanggung segala musibah dan kesulitan saat mencari ilmu, peserta didik dituntut untuk selalu bersabar dan ketika ia mampu bersabar maka ia akan merasakan kelezatan dari ilmu tersebut. Akhlak Kepada Diri Sendiri Bersungguh-Sunguh Dan Tekun Bersungguh-sungguh dan tekun sesuatu bersifat fundamental dalam belajar yang harus ditanamkan setiap saat kepada para santri didik oleh pendidik dan orang tua agar mereka termotivasi dan semangat dalam menuntut ilmu, mengingat begitu banyak faktor-faktor yang membuat peserta didik malas dan putus asa dalam mempelajari sesuatu. Syekh Az-Zarnuzi menyatakan bahwa Seorang pelajar juga harus bersungguh hati dalam belajar serta tekun atau kontinyu . erus-meneru. Tahapan Belajar 15 Emzir. Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, 37. 16 M. Fathu Lillah. Kajian dan Analisis TaAolim MutaAoallim, (Kediri: Santri Salaf Press,2. , 6. 17 Ali AsAoad. TaAolimul MutaAoalim Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan, terj, (Kudus: Menara Kudus, 2. , 37. 18 Az-Zarnuzi. Pedoman Belajar Bagi Penuntut Ilmu, terj. Muhammadun Thaifuri, (Surabaya: Menara Surabaya, 2. , 90. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Kemudian untuk kadar batas ideal peserta didik dalam belajar bagi pemula yaitu sebatas kemampuan dalam menghafal dan mempelajari pelajarannya secara pelan-pelan dan bertahap dengan mengulangi sebanyak dua kali dan menambah pada setiap harinya, dalam kitab TaAolimul MutaAoalim dijelaskan Ketika kamu telah hafal suatu hal . ari ilm. maka ulangilah. Kemudian kuatkalan dengan sekuat-kuatnya, cacatatlah sampai kamu dapat mengulanginya dan mempelajarinya lagi selama-lamanya. Memiliki Sifat WaraAo Santri dipondok pesantren Nasruddin ini, juga harus memiliki sifat waraAo sebagaimana nilai akhlak kepada dirinya sendiri. Az-Zarnuzi menjelaskan bahwa bagi setiap penuntut ilmu harus memiliki sikap waraAo atau sederhana, sebab dengan sikap waraAo ilmunya akan berguna, belajar menjadi mudah dan memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang banyak. Maka, dipesantren ini dalam urusan makanan, para santri harus makan di dalam pesantren, dan dua kali sehari semalam. Karena ketika santri kekenyanagan juga akan mengurangi kosentrasi santri dalam menuntut ilmu. Akhlak Kepada Sesama Memilih Guru Dan Teman Seorang santri juga harus pandai dalam memilih teman baik teman dipondok, dirumah atau disekolah, bahwa teman itu juga bisa mempengaruhi keberhasilan dan kesuksesan belajar mereka jangan sampai teman mereka membawa santri terhadap jurang kemaksiatan atau perbuatan yang tercela. Kemudian dalam hal memilih guru beliau menganjurkan agar peserta didik tidak terburu-buru pilihlah guru yang alim, waraAo dan lebih tua usianya, karena jika timbul ketidak cocokan pada dirinya dan apa yang disampaikan tidak menarik, terus kita meninggalkan dan berpaling darinya maka hal tersebut akan menimbulkan ketidak berkahan pada proses belajar. Menghormati Ilmu Dan Ahli Ilmu Dalam konteks memuliakan ilmu dipondok pesantren Nasrudin dengan cara menghormati atau memelihara ilmunya dengan menaruh sebuah kitab di tempat tinggi, ditekankan oleh Az-Zarnuzi yang artinya: Ketahuilah, sesungguhnya pelajar tidak dapat meraih ilmu dan memanfaatkan ilmunya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu serta menghormati dan mengagungkan gurunya. Kedudukan akhlak santri dalam lingkungan pendidikan menempati tempat yang paling fundamental, sebab apabila murid mempunyai etika yang baik, maka akan bahagia lahir dan batinnya, akan tetapi bila memiliki etikanya buruk . idak berakhla. , maka rusak lahir atau batinnya. Murid ketika berhadapan dengan guru, harus senantiasa menghormati. Saat ia menjadi murid 19 M. Fathu Lillah. Kajian dan Analisis TaAolim MutaAoallim, 244. 20 lmam Burhanuddin Az-Zarnuji. TaAolim Al-MutaAoallim Thariq at-TaAoallum, (Jakarta: Dar al-Kutub al- lslamiyyah, 1434 H/2013 M), 121. 21 lmam Burhanuddin Az-Zarnuji. TaAolim Al-MutaAoallim Thariq at-TaAoallum, 34. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 dari seorang guru, selamanya status itu tidak akan bisa ia lepas. Dalam kamus kehidupan, tidak ada istilah Aumantan muridAy dan Aumantan guruAy. Kasih Sayang Dan Saling Menasehati Kasih sayang merupakan salah syarat orang yang berilmu didalam konsep pendidikan akhlak Syekh Az-Zarnuzi, dimana seseorang yang berilmu harus diimbangi dengan perbuatan-perbuatan baik yang akan membawa ilmu tersebut menjadi sempurna dan bermanfaat bagi sesama. Peserta didik juga harus menghiasia dirinya dengan akhlak yang mulia, menjahui perbuaanperbuatan yang tercela yang hanya menyia-nyiakan waktunya. Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuzi menjelaskan banyak ulama yang berkata putra sang guru dapat menjadi alim, karena sang guru selalu berkehendak pada muridnya kelak menjadi ulama ahli Al-QurAoan, atas berkah keyakinan dan kasih sayang itulah putranya menjadi alim. Proses Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Dalam Kitab TaAolimul MutaAoalim Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Di Pondok Pesantren Nasrudin Dampit. Akhlak Kepada Allah Swt Dalam Bentuk Transformasi Nilai Akhlak kepada Allah kaitannya dengan seorang yang mencari ilmu adalah dengan bagaimana santri meluruskan niatnya. seorang penuntut ilmu harus memulai mempelajari dengan niat yang benar, karena niat ialah dasar dari semua perbuatan. hal ini berdasarkan hadist Nabi Muhammad saw. AuSesungguhnya amal itu tergantung pada niat. Ay Internalisasi niat bagaimana memberikan arahan kepada santri dipondok pesantren Nasrudin ini biasanya dilakukan setiap awal santri baru masuk ke pesantren, kiyai dalam hal ini pengasuh pesantren memberikan pengarahan dan motivasi kepada santri baru tentang apa niat itu dan niat apa yang harus dimiliki seorang santri dalam proses belajar dipondok Nasrudin. Hal ini bertujuan agar para santri ketika sudah masuk pesantren memang benar-benar serius dalam belajar sehingga saat pulang nanti ia dapat mengamalkan apa yang sudah dipelajari dipesantren. Bagi santri yang sudah lama belajar dipondok Nasruddin ada jadwal atau agenda khusus yang diselenggarakan setiap satu bulan sekali untuk mengahadap pengasuh dalam hal ini kiyai, yang bertujuan meminta pengarahan dan barokah kiyai guna kembali menemukan semangat dan niat yang baru dalam belajar dipondok pesantren. Karena tidak jarang setiap santri mengalami kemunduran saat belajar disebabkan oleh rasa malas, rasa putus asa, pengaruh teman, dan lain sebagainya. Menurut Syaikh Utsaimin, seorang penuntut ilmu harus mencari ilmu untuk mendapatkan wajah Allah dan negeri akhirat, karena Allah mendorong dan menekankan hal itu kepada manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda. AuBarang siapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mengharap wajah Allah subhEnahu wa taAElE, lalu tidaklah dia mempelajarinya 22 Ignaz Goldziher. Mazhab Tafsir dari Aliran Klasik Hingga Modern, terj. Alaika Salamullah, (Depok: Elsaq Press, 2. , 115. 23 M. Fathu Lillah. Kajian dan Analisis TaAolim MutaAoallim, 328 Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 melainkan untuk mencari keuntungan dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surgaAy (HR. Imam Ahma. Begitu juga Muhammad Athiyah Al-Abrasyi mengatakan bahwa sebelum belajar seorang penuntut ilmu harus memulai dengan mensucikan hatinya dari sifat-sifat tercela, sebab proses menuntut ilmu merupakan ibadah dan keabsahan ibadah, serta mengorientasikan belajarnya dalam rangka memperbaiki dan menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat mulia. Kemudian dalam rangka internalisai nilai akhlak dalam kitab TaAolimul MutaAoalim untuk meningkatkan kediplinan belajar. Bagi santri baru yang masuk pada kelas IstiAodad, para ustadz dan ustadzah memprioritaskan mereka materi pelajaran yang berhubungan dengan Tauhid, akhlak, dan fiqih. Sebab pelajaran tersebut adalah yang wajib dipelajari pertama kali oleh santri bagaimana mengenal Allah, tata cara beribadah dengan benar, dan mempunyai akhlak yang Kemudian menanamkan sifat tawakal juga tak kalah penting untuk menunjang materi-materi yang sudah diajarkan dan direalisasikan dalam bentuk praktek, untuk menanaman sifat tawakkal dalam diri para santri pengurus pondok pesantren memberikan pengarahan dan pengawasan sebagai langkah awal kemudian dilanjutkan membuat sebuah aturan dan tata tertib yang bertujuan agar lebih teroganisir dan lebih efisian untuk mendidik mereka dan juga agar mereka selalu mempunyai sifat tawakal, selalu fokus dan tidak memikirkan atau bertindak yang mengganggu proses pembelajaran. Akhlak Kepada Diri Sendiri Dengan Pendekatan Transaksi Nilai Adapun Implementasi dari akhlak kepada dirinya sendiri adalah bagaimana santri mampu menyantuni dirinya sendiri dengan baik. Hal ini diimplementasikan dari berbagai aktifitas dipesantren ini yang sesuai dengan kekuatan fisik santri itu sendiri. Menanamkan kesungguhan dan ketekunan kepada santri dipondok pesantren Nasruddin Dampit dengan setiap saat masuk diawali dengan memberi mereka semangat dan motivasi oleh para pengajar, supaya apa yang disuguhkan oleh para santri mudah memahami. Kemudian dipesantren untuk menjaga semangatnya para santri selalu memperhatikan kesehatan santri, karena santri bukanlah robot yang harus diforsir tenaganya untuk belajar selama 24 jam, akan tetapi oleh pondok disediakan waktu istirahat ,waktu untuk makan yang cukup dan berolahraga dipagi hari. Ketika sudah menginjak waktu akhir kenaikan tingkat dalam madrasah diniyah diberikanlah penghargaan bagi setiap santri yang mempunyai peringkat atau nilai yang bagus, agar mereka terus semangat belajar dan memotivasi bagi santri yang dalam belajarnya kurang agar menjadi semangat dan bersungguh-sungguh. Melihat pernyataan di atas, bahwa dipesantren ini, kendati tempatnya belajar, akan tetapi pesantren sangat memperhatikan kapan waktunya santri harus istirahat dan makan sebagai bentuk dari pendekatan transaksi nilai. 24 Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, terj. Abu Haidar Al- Sundawy, (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2. , 25. 25 Muhammad Athiyah Al-Abrasyi. Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press,1. , 73. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Makanya ada beberapa jadwal yang sudah ditentukan dipesantren ini dalam rangka bagaimana santri tetap mempunyai tenaga lebih dalam melakukan proses pembelajaran, mengingat sehat adalah hal yang penting dalam proses mencari ilmu. Dan salah satu bagaimana santri tetap patuh kepada jadwal yang sudah ditentukan, maka pesantren ini menerapkan hukuman kepada santri yang tidak tidur malam, atau melakukan aktifitas yang tidak mempunyai nilai Kemudian, disamping santri diwajibkan mengikuti jadwal kegiatan yang sudah ditentukan sebagai pengejawantahan dari bagaimana santri bersungguhsungguh ,menjaga kesehatannya, santri juga harus memiliki sifat waraAo. Dalam implementasinya dipesantren ini kaitannya dengan waraAo dengan memberikan waktu kapan santri harus makan, artinya santri jangan terlalu banyak makan, karena itu akan mengganggu kedisiplinan santri. Az-Zarnuji berpendapat bahwa termasuk berbuat wara' adalah memelihara dirinya jangan sampai perutnya kenyang, terlalu banyak tidur dan banyak membicarakan hal yang tak bermanfaat. agi orang-orang yang mempunyai sifat waraAo mereka selalu berhati-hati tidak adanya keberanian untuk maju kepada sesuatu yang bisa membawa kepada yang haram. Akhlak Kepada Makhluk Sesama Dengan Pendekatan Transinternalisasi Nilai Akhlak kepada makhluk sesama ini, meliputi memilih guru dan teman pondok pesantren Nasruddin sangat serius dalam memilih para ustadz dan ustadzah untuk diamanahi mengajar dipondok ini, sebab ini menyangkut masa depan para santri juga. Untuk itu selain melaksanakan tes yang meliputi pengetahuan, wawasan, dan ketrampilan. Selanjutnya hal yang diterapkan pondok pesantren Nasruddin menjadikan santri dengan santri lain saling mensupport baik dalam hal pembelajaran dan hal yang lain untuk mempermudah para santri dalam beradaptasi dilingkungan pondok dan juga mendapatkan teman yang baik pondok pesantren dengan mengadakan kegiatan dengan sistem kerja kelompok. Kemudian bagaimana santri mampu menghormati ilmunya . dan ahli ilmunya. Implementasi di pesantren ini, dengan selalu kami ingatkan bagaimana caranya menjaga dan merawat kitabnya, dengan cara merapikan kitabnya ditempat yang layak, serta kalau bisa sebelum kitab itu digunakan, kami menganjurkan untuk mencover ulang dengan kertas plastik, dan membaca surat Al-fatehah yang ditujukan kepada pengarang kitab agar mendapatkan barokahnya dan mudah Disamping memulikan ilmu, melalui santri menjaga dan mencintai kitabkitabnya, santri juga harus memuliakan gurunya, dalam hal ini ustadz dan kyai. Implementasi di pondok Nasrudin bagaimana santri terbiasa menghormati kyai dan ustadznya adalah ketika melihat kyai berjalan didepan kalian, kalian harus berhenti dan menundukkan kepalanya sebagai symbol santri menghargai kyai. Serta diwajibkan mencium tangan ustadz-nya ketika bersamalaman, ini wajib 26 lmam Burhanuddin az-Zarnuji. TaAolim al-MutaAoallim Thariq at-TaAoallum, 66. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 bagi santri disini, karena santri terbentuk kebiasaan tentang cara memposisikan ustadz sebagai orang yang mengajarkan ilmu. Seseorang yang mengajar dan mendidik merupakan seseorang yang mulia, secara naluri ia dimuliakan dan dihormati. Sebab ilmu pengetahuan itu sendiri adalah mulia, maka mengajarkannya merupakan kemuliaan. Pendidik adalah orang kedua yang harus dihormati dan dimuliakan setelah orang tua, mereka menggantikan peran orang tua dalam mendidik anaknya atau peserta didik ketika berada di lembaga pendidikan. Sejalan dengan itu Al-Ghazali berpendapat bila seseorang yang berilmu, kemudian dia mengamalkan ilmunya. Maka orang itulah yang disebut berjasa besar dikolong langit. Orang tersebut bagaikan matahari yang menyinari orang lain dan menerangi pula dirinya sendiri ibarat minyak kestari yang baunya dinikmati orang lain dan dia sendiri pun harum. Dampak Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Dalam Kitab TaAoliml MutaAoalim Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Di Pondok Pesantren Nasrudin Dampit. Dampak Internalisasi Akhlak Kepada Allah Dampak yang sangat terasa oleh santri mampu memantapkan dirinya, tentang posisi tuhannya, sebagai tujuan akhir belajarnya. para santri baru tersebut banyak yang betah . tinggal dipondok pesantren ini. Dengan itu, para santri sangat disiplin dan semangat belajarnya, karena bagi santri semakin disiplin belajar, maka ridla Allah akan selalu menyertainya. Kemudian dampak proses internalisasi nilai-nilai akhlak melalui pemberian materi yang dibutuhkan oleh para santri yang sifatnya fardhu ain seperti fiqih, akhlak, dan tauhid, para santri semakin mengerti tata cara ibadah dengan benar dan baik mereka terlihat lebih khusuk dan lebih giat menjalankan ibadah wajib ataupun sunnah dari segi akhlak para santri sudah terlihat berubah lebih baik kepada para ustadz dan ustadzah nya dan juga pada kiyai, mereka semakin bisa beradaptasi pada lingkungan pondok yang kita ketahui bahawa pondok pesantren adalah tempatnyaorang-orang yang berakhlak. Sifat tawakal juga tak kalah penting untuk menunjang materi-materi yang sudah diajarkan dan direalisasikan dalam bentuk praktek. Dengan adanya aturan dan tata tertib yang diterapkan dipondok ini, para santri semakin disiplin dalam menjalankan aktifitas pondok, mereka juga lebih serius dalam belajar tidak ada gangguan dari luar atapun dari dalam. 27 Muhtar Jauhari. Fiqih Pendidikan. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2. , 25. 28 Zainuddin dkk. Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , 105. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Dampak Internalisasi Akhlak Kepada Dirinya Sendiri Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa wujud dari akhlak kepada diri sendiri adalah dengan memberi semangat dan memotivasi mereka pada setiap belajar dalam kelas ataupun diruang lainnya karena setiap santri akan mengalami mengalami rasa malas dan titik jenuhnya, untuk itu setelah ditenerapkan pada setiap sebelum aktifitas belajar mereka diberikan semangat dan memotivasi para santri, sehingga para santri kembali menemukan semangat dan sungguh-sungguh dalam belajar, mereka terlihat lebih aktif didalam kelas ataupun ruang diskusi, para santri sudah terlihat lebih disiplin tidak sering membolos pada waktu kegiatan Kemudian menjaga kesehatan santri, maka dipesantren ini dibuatlah jadwal kegiatan sesuai dengan kekuatan fisik santri tersebut, santri harus mempunyai stamina yang kuat dalam mengikuti kegiatan belajar. Karena memang jadwal belajarnya diatur sebagaimana diaturnya waktu istirahat, makan, dan berolahraga, maka bisa dilihat dari beberapa minggu perkembangan santri yang sangat disiplin dalam mengikuti segala proses yang ada di pesantren ini, juga bisa dilihat dari nilai sikap, nilai belajarnya mereka yang semakin hari semakin baik, tingkat pelanggaran santri setiap minggunya juga semakin sedikit. Disamping santri harus beraktifitas dengan baik sebagaimana jadwal yang sudah diberlakukan, yang terpenting dari nilai akhlak terhadap diri sendiri adalah, bagaimana santri memilik sifat waraAo. Maka dari itu, di pondok pesantren Nasrudin ini, setiap santri Santri jadwal makannya dua kali sehari, siang dan sore, tujuannya agar santri tidak kekenyangan, dan disiplin, dan jika santri sudah tidak waraAo, maka akan mengganggu semua aktifitas santri, bahkan nantinya di pesantren akan tidur makan saja. Dampak Internalisasi Akhlak Kepada Sesama. Dengan adanya tes bagi para ustadz-ustadzah sangat memberi dampak bagi pesantren ini, agar tidak salah dalam mencari pengajar untuk santri, karena ustadz-ustadzah disini lebih banyak yang muda diharapkan mampu memberi semangat baru bagi santri sendiri agar santri tidak merasa bosan dalam belajar juga agar memberi warna tersendiri dalam memajukan pesantren nasruddin baik dalam manejemen pesantren ataupun dalam pembelajaran. Selanjutnya salah satu dampak dari internalisasi akhlak sesama berupa memuliakan ilmu dan ahli ilmu di pesantren Nasrudin Dampit Malang, diantaranya: Penghormati santri kepada kitab atau bukunya, merupakan hal yang mempengaruhi kedisplinan santri. Dan akibat dari pembiasaan untuk memuliakan kitab ini, para santri mulai disiplin dalam belajar, karena mereka sadar bahwa dalam kitab itu berisi banyak ilmu yang menjadikan santri tahu dalam segala hal. Disamping memaparkan konsep penghormatan murid terhadap seorang guru Syekh Az-Zarnuzi juga menekankan penghormatan terhadap ilmu, karena seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan sebuah ilmu dan kemanfaatan dari ilmu tersebut terkecuali dengan mengagungkan ilmu, ahli ilmu, serta seorang guru Diceritakan juga bahwa Imam Syamsul Aimmah Al- Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Khalwaniy beliau berkata Aku peroleh ilmu-ilmu ini hanya dengan Kesimpulan Nilai akhlak yang ada dalam kitab TaAolimul MutaAoallim memiliki nuansa sufistik pedagogik, hal ini bisa dilihat pada landasan berfikir yang dibangun dari term-term akhlak sebagai landasan utama, yang pada akhirnya bermuara pada bagaimana membangun kedisiplinan santri dalam belajar. Setidaknya memuat tiga nilai akhlak. Pertama. Nilai akhlak santri kepada Allah Swt, yaitu meluruskan niat belajar karena Allah, memahami hakikat ilmu dan keutamaannya, dan bersifat tawakal. Kedua. Nilai akhlak kepada dirinya sendiri, yaitu mempunyai sifat sungguh-sungguh dan tekun, memahami tahapan belajar, dan bersikap waraAo. Ketiga. Nilai akhlak santri kepada makhluk sesama, menghormati ilmu dan ahli ilmu, memilih guru dan memilih teman, serta bersifat kasih sayang. Dampak internalisasi tiga nilai besar tersebut dipondok pesantren Nasrudin Dampit Malang, mampu meningkatkan kedisiplinan santri dalam belajar. Santri semakin betah . , lebih giat dan khusuk beribadah, memiliki akhlak yang baik, mudah beradaptasi, serius, fokus, dan nyaman saat belajar, selalu semangat dan aktif saat belajar. badan menjadi sehat dan jauh dari rasa capek, mengurangi tingkat pelanggaran, santri menjadi disiplin dan tertib, kitab selalu bersih dan rapi, mendapatkan barokah kiyai , ustadz, dan ilmu, dan memiliki sifat kasih sayang. Daftar Pustaka