Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius. Vol. No. 1 bulan Desember 2025. e-ISSN : 3031-8793 JURNAL KESEHATAN CENDIKIA JENIUS (The Health Journal of a Brilliant Researche. https://jurnal. cendikiajenius-ind. id/index. php/jenius/index Perbedaan Pengaruh Pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap Gangguan Keseimbangan pada Lansia di Posyandu Dewi Sartika Sidoarum Differences in the Effect of Chair Based Exercise and Otago Exercise on Balance Disorders in the Elderly at Posyandu Dewi Sartika Sidoarum Anisa Aprianda1*. Muhamad Ali Jafar2. Tyas Sari Ratna Ningrum3 *Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. anisapr54@gmail. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. jafarali48789@gmail. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. tyassariratnaningrum@unisayogya. nisapr54@gmail. ABSTRACT Background: In the elderly there are changes in the biological and psychological functions of the elderly, which usually worsen, giving rise to problems including those within themselves such as sensory, cognitive, central nervous system and musculoskeletal disorders which cause a decrease in balance, resulting in balance disorders and decreased muscle strength. , and muscle flexibility decreases. Objective: The aim of this study is to determine the difference in the effect of providing Chair Based Exercise and Otago Exercise on improving balance in the elderly. Method: This study used quasi experimental with pre test and post test two group design, total sample 26 divided into 2 groups. Group I was treated with Chair Based Exercise and Group II was treated with Otago Exercise. This research was conducted for 4 weeks with 3x training per Results: Testing hypothesis I using the Wilcoxon Test showed a value of p0<001 . the results of testing hypothesis II using the Wilcoxon Test revealed a value of p0<001 . which means that the two treatments had an influence on improving the balance of the elderly. The results of hypothesis i using Mann-Whitney showed that the value in groups I and II was p=0. >0. , which means there was no difference between the two exercises. Conclusion: There was no difference in the effect of providing Chair Based Exercise and Otago Exercise on improving balance in the elderly. Suggestion: Future researchers can use the same method with broader data characteristics and a larger number of samples. Keyword : Chair Based Exercise. Otago Exercise. Balance ABSTRAK Latar Belakang : Pada lanjut usia terjadi perubahan pada fungsi biologis dan psikologis lansia biasanya memburuk, sehingga menimbulkan permasalahan diantaranya dari dalam dirinya sendiri seperti gangguan sensorik, kognitif, sistem saraf pusat, dan muskuloskeletal yang menyebabkan terjadinya penurunan keseimbangan sahingga mengakibatkan gangguan keseimbangan, penurunan kekuatan otot, dan fleksibilitas otot menurun. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap peningkatan keseimbangan lansia. Metode : Quasi experimental menggunakan pre test and post test two group design, sampel diambil dari posyandu lansia Dewi Sartika dengan jumlah sampel 26 yang dibagi 2 kelompok, penelitian ini dilakukan yakni pada bulan Oktober 2023- Januari 2024. Kelompok I perlakuan Chair Based Exercise dan Kelompok II perlakuan Otago Exercise. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu dengan 3x latihan per minggu. Hasil : Uji hipotesis I menggunakan Wilcoxon Test diperoleh nilai p0<001 . hasil uji hipotesis II menggunakan Wilcoxon Test diperoleh nilai p0<001 . yang berarti bahwa kedua perlakuan tersebut memiliki pengaruh terhadap peningkatan keseimbangan lansia. Hasil hipotesis i menggunakan Mann-Whitney diperoleh nilai pada kelompok I dan II ialah p=0. >0. yang berarti tidak ada perbedaan antara kedua latihan tersebut. Kesimpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh terhadap pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap peningkatan keseimabngan pada Saran : Peneliti selanjutnya dapat melakukan dengan metode yang sama dengan karakteristik data yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih banyak. Keywords : Latihan Berbasis kursi. Latihan Otago. Keseimbangan A 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). Anisa Aprianda, et al Differences in the Effect of Chair Based Exercise and Otago Exercise Perbedaan Pengaruh Pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise PENDAHULUAN Lanjut usia (Lansi. merupakan suatu bagian dari proses tumbuh kembang pada manusia yang dimulai dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, kemudian dewasa, dan menajadi tua. Seseorang dikatakan lansia apabila sudah berumur lebih dari 60 tahun. Pada saat memasuki kategori lansia, ada beberapa faktor yang akan berpengaruh pada tubuh, seperti adanya masa degeneratif dan juga adanya penurunan mulai dari fungsi fisik hingga kognitif 1. Menurut data dunia pada tahun 2014, gangguan keseimbangan pada lanjut usia diatas 65 tahun sekitar 28-35% dan usia diatas 70 tahun sekitar 32-42%2. Menurut Departemen RI . prevalensi gangguan keseimbangan pada lansia di Indonesia yaitu 63,8- 68,7%. Gangguan keseimbangan diperkirakan 25% dan akan meningkat pada usia lebih dari 60 tahun menjadi 35%. Prevalensi gangguan keseimbangan paling besar yaitu di Provinsi DKI Jakarta 67,0%, sedangkan yang terkecil yaitu di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45,4%3. Dalam proses penuaan akan mengalami lebih banyak penurunan pada keseimbangan dan adanya penyimpangan pada gait dibanding saat masih berusia muda4. Apabila seseorang yang sudah mengalami proses dengan usia lanjut, akan lebih rentan mengalami gangguan keseimbangan Yang dimana gangguan keseimbangan sendiri diakibatkan oleh adanya gangguan sensorik, kognitif, kekuatan otot, dan juga sistem saraf pusat, yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kesimbangan pada lansia5. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh dari pemberian latihan Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia. Serta dapat memberikan edukasi mengenai gangguan keseimbangan, cara mencegah, serta latihan untuk meningkatkan keseimbangan pada METODE Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan rancangan penelitian menggunakan pre test and post test two group design. Sampel diambil dari posyandu lansia Dewi Sartika dengan jumlah sampel 26 yang dibagi 2 kelompok, penelitian ini dilakukan yakni pada bulan Oktober 2023- Januari 2024. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Rancangan ini digunakan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian dari Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap gangguan keseimbangan pada lansia di Posyandu Dewi Sartika. Dalam penelitian menggunakan 2 kelompok perlakuan yang dimana kelompok pertama diberikan Chair Based Exercise dan kelompok kedua diberikan Otago Exercise. Tingkat keseimbangan pada lansia akan diukur terlebih dahulu, dengan menggunakan Time Up and Go Test. Kemudian setelah mendapat perlakuan selama 3 kali dalam semimggu selama 4 minggu. Pengukuran keseimbangan pada lansia tersebut kembali dilakukan untuk melihat perbandingan antar kedua perlakuan tersebut. Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penelitian yaitu kursi, garis bisa menggunakan lakban sepanjang 3 meter, meja, theraband, informed consent, formulir kuisioner, stopwatch, dan buku untuk mencatat hasil dari pengukuran. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode teknik purposive sampling. Untuk membagi menjadi 2 kelompok intervensi menggunakan Stratified random Besar sampel yang dibutuhkan pada masing-masing kelompok dalam penelitian ini berdasarkan perhitungan rumus Slovin: ycA ycu= 1 ycA. 2 Dari hasil perhitungan jumlah sampel maka didapatkan minimal penelitian ini adalah 21,25 dan dibulatkan menjadi 22 orang. Kemudian ditambahkan dengan 20% untuk kriteria drop out sehingga menghasilkan 26 orang. Setelah itu dibagi dua kelompok menjadi 13 orang dalam satu kelompok. Subyek penelitian adalah lansia yang berada di Posyandu Dewi Sartika yang memenuhi kriteria inklusi. Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius. Vol 3. No 1, 2025 Anisa Aprianda, et al Differences in the Effect of Chair Based Exercise and Otago Exercise Perbedaan Pengaruh Pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise Variabel Gangguan Keseimbangan Chair Based Exercise Otago Exercise Tabel 1. Definisi Operasional Definisi Gangguan keseimbangan merupakan kondisi yang terjadi pada saat tubuh mudah goyah dan tidak stabil dalam melakukan gerak. Pada gangguan keseimbangan terjadi karena adanya penurunan fungsi pada organ, gangguan muskuloskeletal, dan adanya gangguan fungsi Chair Based Exercise dapat dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan pada lansia di Posyandu Dewi Sartika. Hal tersebut dikarenakan CBE sendiri merupakan Latihan alternatif dan dapat dijangkau oleh lansia karena pada latihan ini hanya dilakukan dengan posisi duduk sehingga dapat meminimalisir resiko Otago Exercise dapat dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan pada lansia di Posyandu Dewi Sartika. Otago Exercise sendiri berfokus pada penguatan otot pada tungkai dan meningkatkan keseibangan pada lansia. Pada Otago Exercise juga memiliki intensitas beban7. Alat Ukur Time Up and Go Test Skala Ukur Nominal Stopwatch Nominal Stopwatch Nominal Data yang sudah terkumpul dalam tahap pengumupulan data akan diolah terlebih dahulu. Tujuannya untuk menyederhanakan semua data yang terkumpul, menyajikan dalam susunan yang rapi kemudian Pada tahap pengolahan data ada tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu : penyuntingan . , pengkodean . , dan tabulasi . Analisa data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis I. II, dan i. HASIL Hasil karakteristik berdasarkan usia pada kelompok Chair Based Exercise. Latihan Chair Based Exercise Otago Exercise Total Tabel 2. Karakteristik Berdasarkan Usia Usia Jumlah Responden Berdasarkan tabel 2, jumlah total keseluruhan responden pada kedua kelompok yaitu sebanyak 26 responden yang kemudian dibagi kedalam 2 kelompok perlakuan. Hasil Pengukuran Time Up and Go Test (TUGT) Sebelum dan Sesudah Pada Kelompok I dan II Tabel 3. Data Pengukuran TUGT Sebelum dan Sesudah Pada Kelompok I dan II Min Max Mean Std. Deviation Pre Chair Based Exercise Post Chair Based Exercise Pre Otago Exercise Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius. Vol 3. No 1, 2025 Anisa Aprianda, et al Differences in the Effect of Chair Based Exercise and Otago Exercise Perbedaan Pengaruh Pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise berpengaruh terhadap peningkatan terhadap keseimbangan lansia. Hasil Uji Normalitas Sebelum Sesudah Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Kelompok Kelompok I Kelompok II Kelompok I Kelompok II Berdasarkan Tabel 4, hasil uji normalitas pada kelompok Chair Based Exercise menunjukkan nilai signifikansi sebelum perlakuan sebesar 0,013 dan setelah perlakuan sebesar 0,202. Sementara itu, pada kelompok Otago Exercise nilai signifikansi sebelum perlakuan sebesar 0,036 dan setelah perlakuan sebesar 0,886. Hasil tersebut menunjukkan bahwa data sebelum perlakuan pada kedua kelompok memiliki nilai p < 0,05 yang berarti data tidak berdistribusi normal, sedangkan setelah perlakuan nilai p > 0,05 yang berarti data berdistribusi normal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setelah dilakukan intervensi Chair Based Exercise dan Otago Exercise selama empat minggu, distribusi data hasil pengukuran keseimbangan pada lansia menjadi lebih normal dibandingkan sebelum perlakuan, yang mengindikasikan adanya perbaikan kondisi keseimbangan setelah mengikuti latihan. Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas Kelompok I dan II Nilai p Pre Post Berdasarkan hasil uji homogenitas dapat disimpulkan bahwa populasi dari varian adalah homogen. Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis I Kelompok Perlakuan Kelompok I Pre Kelompok I Post Hasil uji hipotesis I menggunakan uji Wilcoxon dengan nilai p = 0,001 dan nilai p hitung lebih kecil 05 . <0,. , sehingga Ha diterima. Dapat disimpulkan ada pengaruh peningkatan keseimbangan pada lansia sebelum dan sesudah perlakuan Chair Based Exercise. Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis II Kelompok Perlakuan Kelompok II Pre Kelompok II Post Hasil uji hipotesis II menggunakan uji Wilcoxon dengan nilai p = 0,001 dan nilai p hitung lebih kecil dari 05 . <0,. , sehingga Ha diterima. Dapat disimpulkan ada pengaruh peningkatan keseimbangan pada lansia sebelum dan sesudah perlakuan Otago Exercise. Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis i Mann-Whitney U Post Chair Based & Otago Exercise Sig Hasil uji menggunakan Mann-Whitney untuk komprabilitas nilai TUGT setelah perlakuan pada kelompok I dan II. Dari hasil test tersebut diperoleh p=0. 383 yang berarti . >0. , sehingga Ho diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia. Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius. Vol 3. No 1, 2025 Anisa Aprianda, et al Differences in the Effect of Chair Based Exercise and Otago Exercise Perbedaan Pengaruh Pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise PEMBAHASAN Pada penelitian ini sampel terdiri dari dua kelompok, pada kelompok I dan kelompok II sampel perempuan sebanyak 26 orang . 0%). Kedua kelompok dibagi dua menjadi 13 orang pada tiap kelompok. Kelompok I berjumlah 13 orang dan kelompok II berjumlah 13 orang . %). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa semua sampel berjenis kelamin perempuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Furtado et. , . yang berjudul AuCombined Chair Based Exercie Improve Functional Fitness. Mental Well-Being. Salivary Steroid Balance and Anti-Microbial Activity in Pre-frail Older WomenAy8. Pada penelitian ini rerata lansia mengalami peningkatan keseimbangan setelah melakukan latihan Chair Based Exercise dari 19. 079 A 5. 1681 menjadi 12. 592 A 1. Chair Based Exercise dapat meningkatkan fleksibilitas lumbal setelah dilakukannya latihan selama 4 minggu. Pada latihan tersebut terdapat gerakan yang bertujuan untuk peregangan. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rini et al. dimana subyek dalam penelitian ini adalah lansia yang diberikan perlakuan berupa Chair Based Exercise yang dilakukan dengan posisi duduk di kursi sebanyak 3 kali perminggu dan dilakukan selama 4 minggu, secara signifikan dapat meningkatkan keseimbangan. Pada penelitian tersebut juga dikatakan bahwa latihan Chair Based Exercise memberikan bukti bahwa perubahan pada kekuatan, keseimbangan, dan juga fleksibilitas yang signifikan mungkin terjadi setelah latihan selama 4 minggu9. Berdasarkan hasil dari data keseimbangan sebelum dan sesudah perlakuan kelompok II menggunakan Wilcoxon Test diperoleh nilai p=0,001 . <0,. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian Otago Exercise berpengaruh meningkatkan keseimbangan lansia. Pemberian Otago Exercise dapat memberikan pengaruh yang signifikan dapat meningkatkan keseimbangan. Hal tersebut dikarenakan latihan kekuatan otot menyebabkan otot akan berkontraksi, dan akan membuat kinerja aktin dan myosin dalam myofibril menjadi meningkat, yang pada akhirnya akan membuat serabut otot menjadi bertambah. Dengan adanya peningkatan kekuatan otot pada lansia ini akan membuat tubuh semakin kokoh dan kuat dalam menopang posisi badan dan seimbang dalam mempertahankan gerakan7. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian terdahulu, dimana berdasarkan hasil setelah diberikan latihan Otago Exercise didapatkan hasil minimal dan maxsimal keseimbangan yang di rasakan responden sesudah dilakukan Otago Exercise adalah 10 nilai minimum dan 14 nilai maximum10. Hasil uji statistik diperoleh nilai P = . ,001< 0,. , dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh sesudah pemberian Otago Exercise setelah 4 minggu perlakuan terjadi peningkatan keseimbangan pada lanjut usia. Berdasarkan hasi penelitian11. Hasil Mann-Whitney untuk komprabilitas TUGT sesudah perlakuan pada kelompok I dan II dari hasil test tersebut diperoleh p=0. 383 yang berarti . >0. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia. Chair Based Exercise dan Otago Exercise keduanya dapat meningkatkan keseimbangan pada lansia dikarenakan pada kedua latihan tersebut terdiri dari komponen penguatan otot dan peningkatan keseimbangan. Pada kedua kelompok juga mengalami penurunan 0,1-10 detik setelah dilakukan kedua latihan tersebut. Selain itu, pada saat lansia melakukan latihan tersebut otot akan berkontraksi ketika menerima sinyal dari sistem saraf 12. Pada serat otot tersusun dari banyak myofibril, sedangkan myofibril tersusun dari sacromere, setiap sacromere terdiri atas protein tebal dan tipis yang akan membuat otot rangka terlihar lurik. Otot akan berkontraksi apabila filamen meluncur satu sama lain. Filamen yang tebal adalah myosin dan yang tipis adalah aktin yang terhubung dengan gari Z terluar dari bagian sacromere. Karena filamen aktin terhubung dengan garis Z, sacromere memendek dari kedua sisi ketika filamen aktin meluncur disepanjang filamen Pada hal tersebut filamen myosin mendorong filamen aktin14,15. Ikatan silang dari filamen myosin melekat pada filamen aktin dan memberikan kekuatan untuk bergerak, gerakan tersebut dikenal dengan mekanisme kontraksi otot13. Kontraksi dimulai ketika ATP terhidrolisis menjadi ADP dan fosfat anorganik. Myosin akan tetap melekat pada aktin sampai moleku baru Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius. Vol 3. No 1, 2025 Anisa Aprianda, et al Differences in the Effect of Chair Based Exercise and Otago Exercise Perbedaan Pengaruh Pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise ATP meningkat sehingga akan membebaskan myosin menjalankan ke siklus dan kontralisi lainnya atau myosin akan tetap melekat yang menyebabkan otot berileksasi. Ion kalsium tersimpan dalam retikulum sarkoplasma dan dikeluarkan sebagai respon terhadap sinyal dari sistem saraf 7. Sistem saraf akan mengaktifkan otot untuk melakukan kontraksi. Sehingga semakin banyak serabut otot teraktifasi, maka semakin besar pula kekatan yang dihasilkan otot tersebut. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai kemampuan otot dalam menahan beban, baik berupa beban eksternal seperti mengangkat suatu benda dan juga beban internal sepeti beban dari dalam tubuh. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian berjudul AuPerbedaan Pengaruh Pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap Gangguan Keseimbangan pada Lansia di Posyandu Dewi Sartika SidoarumAy bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas dua jenis latihan terhadap peningkatan keseimbangan lansia. Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan rancangan pre-test and post-test two group design yang melibatkan 26 responden lansia, dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing mendapatkan perlakuan Chair Based Exercise dan Otago Exercise selama empat minggu, tiga kali per minggu. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan kedua latihan secara signifikan meningkatkan keseimbangan lansia . <0,. , namun uji MannWhitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan pengaruh antara keduanya . =0,. Hal ini berarti kedua jenis latihan sama-sama efektif dalam meningkatkan keseimbangan tanpa perbedaan signifikan dalam Kesimpulan : Tidak ada perbedaan pengaruh terhadap pemberian Chair Based Exercise dan Otago Exercise terhadap peningkatan keseimabngan pada lansia. Saran : Peneliti selanjutnya dapat melakukan dengan metode yang sama dengan karakteristik data yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih banyak. DAFTAR PUSTAKA