TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. Pengaruh Kebijakan Dividen. Leverage, dan Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba Robert Jao1. Marselinus Asri2. Anthony Holly3. Bryan Frenli Tunandar4 1, 2, 3, 4Universitas Atma Jaya Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia jaorobert1808@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebijakan dividen, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap praktik manajemen laba pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode tahun 2019-2023. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan menghasilkan 247 data. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan dividen memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap praktik manajemen laba. Sementara itu, leverage memiliki pengaruh positif, meskipun tidak signifikan, terhadap manajemen laba. Selain itu, ukuran perusahaan memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap manajemen laba ABSTRACT This research analyzed the effect of dividend policy, leverage, and firm size on earnings management practices in non-financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange from 2019 to 2023. This research uses secondary data obtained using the documentation method. Sample selection was done using a purposive sampling method and produced 247 data points. This research uses multiple regression analysis. The results of this research indicate that the dividend policy has a significant negative effect on earnings management practices. Meanwhile, leverage has a positive effect on earnings management, but not a significant one. Furthermore, firm size has a significant negative effect on earnings management. Volume 10 Nomor 1 Halaman 77-90 Makassar. Juni 2025 p-ISSN 2528-3073 e-ISSN 24656-4505 Tanggal masuk 16 Mei 2025 Tanggal diterima 27 Mei 2025 Tanggal dipublikasi 1 Juni 2025 Kata kunci : Kebijakan Dividen. Leverage. Ukuran Perusahaan. Manajemen Laba Keywords : Dividend Policy. Leverage. Firm Size. Earnings Management Mengutip artikel ini sebagai : Jao. Asri. Holly. Tunandar. Pengaruh kebijakan deviden, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap Manajemen Laba. Tangible Jurnal, 10. No. Juni 2025. Hal. https://doi. org/10. 53654/tangible. PENDAHULUAN Laba menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kinerja suatu Selain itu, laba juga digunakan sebagai dasar dalam mengukur risiko dan pengambilan keputusan investasi. Informasi laba sering menjadi sasaran atau target rekayasa manajemen untuk mementingkan kepentingan pribadinya dan hal tersebut dapat merugikan pemegang saham atau investor (Yudiastuti & Wirasedana, 2. Informasi laba yang tercantum dalam laporan keuangan menjadi media penghubung antara manajemen dengan investor. Kualitas penyajian laporan keuangan menentukan informasi yang akan diperoleh oleh investor dan calon investor. Manajemen selaku pengelola perusahaan memiliki kebebasan untuk memilih dan menggunakan metode akuntansi dalam menyusun laporan keuangan. Modifikasi yang dilakukan oleh manajer dengan memilih kebijakan akuntansi dari suatu standar tertentu mempunyai tujuan untuk memaksimisasi kesejahteraan pihak manajemen dan TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. nilai suatu perusahaan. Hal ini sejalan dengan teori akuntansi positif yaitu manajemen dapat memilih prosedur dan metode pelaporan keuangan untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara menaikkan, menurunkan, atau perataan laba (Arthawan & Wirasedana, 2. Tindakan manajemen melakukan upaya untuk mengintervensi atau memengaruhi informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan dikenal dengan manajemen laba (Sulistyanto, 2008. Carolin dkk. , 2. Pada dasarnya, manajemen laba itu digunakan untuk membuat laporan keuangan terlihat lebih baik agar membuat para investor dan calon investor lebih tertarik melakukan investasi pada perusahaan tersebut karena dinilai dapat menghasilkan return yang baik. Praktik manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen dapat merusak nilai informasi yang mengarahkan pengguna laporan keuangan ke keputusan ekonomi yang tidak akurat. Hal ini berdampak pada keandalan dan kredibilitas informasi akuntansi yang tersaji pada laporan keuangan (Selahudina dkk. , 2. Praktik manajemen laba terjadi karena perbedaan kepentingan antara pihak manajemen selaku agen dengan investor selaku prinsipal yang dikenal sebagai agency problem (Priscilla & Siregar, 2. Faktor yang mendorong praktik manajemen laba dilakukan karena adanya perbedaan kepentingan terdapat pada perusahaan terkait kebijakan dividen (Putriquitha & Vivianti, 2. Tinggi atau rendahnya kebijakan dividen bergantung pada besar atau kecilnya laba yang dihasilkan oleh suatu Semakin besar laba yang dihasilkan maka kebijakan dividen atau pembagian dividen kepada investor juga semakin tinggi. Pembagian dividen yang tinggi ini yang diinginkan oleh para investor selaku prinsipal. Di sisi manajemen selaku agen, kurang menyukai pembagian dividen yang tinggi dan lebih menyukai laba yang dihasilkan untuk ditahan guna pembiayaan investasi di masa mendatang (Kresna & Ardini, 2. Konflik kepentingan timbul karena adanya perbedaan kepentingan antara pihak manajemen dan investor. Adanya konflik kepentingan ini yang mendorong manajemen menggunakan teknik-teknik akuntansi dalam menyajikan laporan keuangan untuk mencapai kepentingannya (Dahayani dkk. , 2. Teknik yang dilakukan oleh manajemen adalah income decreasing. Dengan dilakukannya income decreasing, manajemen dapat mencegah terjadinya kebijakan dividen yang tinggi pada periode berikutnya. Hasil penelitian Dahayani dkk. menunjukkan bahwa kebijakan dividen berpengaruh negatif signifikan pada manajemen laba. Kebijakan dividen berpengaruh negatif pada manajemen laba yang menunjukkan semakin tinggi rasio pembagian dividen maka manajemen akan semakin melakukan manajemen laba dalam bentuk income decreasing. Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasty & Herawaty . serta Wirawati dkk. yang menemukan kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian yang dilakukan oleh Sari & Khafid . juga menemukan bahwa kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian yang dilakukan oleh Jeradu . menunjukkan bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Manajemen laba dapat dikaitkan dengan sumber dana eksternal yang diberikan oleh kreditur berupa hutang yang tercermin melalui rasio leverage. Perusahaan menggunakan hutang tersebut untuk mendanai aktivitas mereka seperti kegiatan operasional, investasi, ataupun ekspansi. Semakin tinggi rasio leverage maka semakin tinggi pula risiko perusahaan dalam membayar kewajibannya. Kreditur melihat leverage sebagai tingkat keamanan dalam mengembalikan dana pinjaman jika perusahaan tersebut dilikuidasi (Sari & Khafid, 2. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi berarti semakin dekat dengan pelanggaran perjanjian hutang (Amidreza & Mortazavi, 2. Debt covenant hypothesis yang menganggap bahwa TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. perusahaan dengan rasio hutang yang besar cenderung termotivasi untuk memilih prosedur akuntansi tertentu agar terjadinya perubahan laba yang dilaporkan untuk menghindari terjadinya pelanggaran kontrak yang telah disepakati (Dewi & Wirawati. Teknik manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen adalah dengan meningkatkan laba atau disebut income increasing. Dengan dilakukannya income increasing yang membuat laporan keuangan terlihat baik, membuat perusahaan dapat memperoleh pinjaman di kemudian hari dari kreditur. Penelitian dari Prastyawan & Saraswati . menemukan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap tindakan manajemen laba. Penelitian Sari & Astika . juga menemukan bahwa leverage memiliki pengaruh positif pada manajemen laba. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Zamri dkk. menemukan yang sebaliknya bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Penelitian Anggraeni & Wardhani . juga mengatakan hal yang serupa bahwa leverage berpengaruh negatif pada manajemen laba. Namun, pada beberapa penelitian seperti pada Irawan . Asyati & Farida . , serta Dharma dkk. menemukan bahwa leverage tidak memengaruhi tindakan manajemen laba pada suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat juga digunakan sebagai faktor yang dapat mendorong praktik manajemen laba (Kamalita, 2. Ukuran perusahaan menjadi salah satu indikator yang digunakan investor dalam menilai aset maupun kinerja perusahaan (Kusumawardhani, 2012. Munthe, 2. Besar kecilnya suatu perusahaan dapat dilihat dari total aset dan total penjualan . et sale. yang dimiliki perusahaan. Semakin besar perusahaan artinya semakin tinggi tingkat penjualan, dan laba yang dihasilkan juga semakin tinggi (Pasaribu dkk. , 2. Dalam positive accounting theory, political cost hypothesis menganggap bahwa perusahaan besar lebih erat dalam hubungan dengan regulator atau lembaga pengatur yang mengawasi industri mereka. Perusahaan yang memiliki tingkat laba yang tinggi akan menimbulkan biaya politis yang besar pula. Bentuk biaya politis tersebut, diantaranya munculnya intervensi pemerintah, pengenaan pajak yang lebih tinggi, dan berbagai macam tuntutan lain yang dapat meningkatkan biaya politis. Hal ini yang dapat mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba dengan menurunkan pelaporan laba yang diperoleh atau yang disebut income decreasing guna menghindari biaya politis tersebut. Penelitian Zeptian & Rohman . menemukan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen laba. Hasil penelitian Amertha dkk. juga menunjukkan ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba. Namun hasil penelitian Miftakhunnimah dkk. menunjukkan ukuran perusahaan mempunyai hubungan negatif signifikan terhadap manajemen Di sisi lain, hasil penelitian Anindya & Yuyetta . serta Paramitha & Idayati . menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian mengenai manajemen laba telah banyak dilakukan sebelumnya dengan beberapa variabel yang berbeda-beda. Adanya inkonsistensi hasil pada penelitian sebelumnya oleh Amertha dkk. Dahayani dkk. , serta Putri & Setiawati . mengenai hubungan antara kebijakan dividen, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba yang memotivasi penelitian ini dilakukan. Penelitian ini menggunakan perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai objek penelitian. Alasan pemilihan perusahaan non-keuangan karena perusahaan non-keuangan memiliki jumlah yang banyak sehingga dapat mewakili perusahaan yang ada pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini penting dilakukan sebab kebijakan dividen, leverage, dan ukuran perusahaan merupakan faktor yang dilihat oleh investor untuk menanamkan modalnya pada suatu perusahaan. Faktor ini juga dapat memengaruhi manajer melakukan manajemen laba. Manajemen perusahaan dapat menggunakan teknik79 TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. teknik akuntansi yang dapat mengubah laba yang dihasilkan pada laporan keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kebijakan dividen, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Kerangka Konseptual dan Pengembangan Hipotesis Penelitian ini didasarkan teori akuntansi positif . ositive accounting theor. dan teori keagenan . gency theor. serta penelitian-penelitian terdahulu, dan rasionalisasi untuk dapat membentuk model kerangka pemikiran teoretis ini. Teori akuntansi positif menjelaskan bahwa manajer dapat menggunakan teknik-teknik akuntansi dengan motif tertentu agar tujuannya tercapai. Teori keagenan menjelaskan tentang adanya hubungan keagenan dan pemisahan kontrol antara manajemen selaku agen dan investor selaku prinsipal yang menimbulkan konflik kepentingan. Motif yang mendorong manajer melakukan manajemen laba karena adanya konflik kepentingan. Kebijakan dividen seringkali menjadi konflik antara investor dan Besarnya pembagian dividen bergantung pada jumlah laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Semakin besar laba yang dihasilkan maka investor semakin menyukai laba tersebut didistribusikan melalui pembagian dividen yang Di sisi lain, pihak manajer lebih menginginkan laba tersebut untuk ditahan sebagai investasi di masa depan. Teori keagenan menganggap bahwa dengan adanya perbedaan kepentingan dan pemisahan kepemilikan serta kendali antara pemegang saham sebagai principal dan manajer sebagai agent maka dapat memotivasi dan mendorong manajer untuk melakukan moral hazard. Teknik manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen yaitu income decreasing. Dengan dilakukannya income decreasing, kebijakan dividen di periode berikutnya dapat dikurangi dan tujuan manajemen untuk menahan laba yang diperoleh dapat tercapai. Selain karena perbedaan kepentingan yang memotivasi manajer melakukan manajemen lama, motif lain yang dapat memicu manajer melakukan manajemen laba adalah rasio utang perusahaan yang tinggi atau biasa disebut leverage. Leverage adalah rasio utang dengan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin tinggi rasio leverage maka semakin tinggi risiko perusahaan dalam membayar kewajibannya. Dalam hipotesis persyaratan perjanjian pinjaman/utang . he debt covenant hypothesi. yang menyatakan bahwa semakin tinggi rasio leverage suatu perusahaan maka semakin dekat dengan batas perjanjian hutang dan memungkinan terjadinya pelanggaran. Dalam situasi di mana perusahaan memiliki tingkat rasio leverage yang tinggi, manajemen perusahaan harus membayar bunga pada hutang mereka secara teratur, sehingga keadaan inilah yang memotivasi perusahaan untuk melakukan manajemen Manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan mengurangi biaya operasional atau meningkatkan pendapatan dengan teknik income increasing agar terhindar dari pelanggaran perjanjian hutang. Manajemen laba menjadi salah satu praktik akuntansi yang digunakan oleh perusahaan untuk menghindari beberapa pelanggaran yang dapat terjadi. Perusahaan juga cenderung menghindari hal yang berhubungan dengan pembayaran pajak yang Faktor yang dapat dilihat dari perusahaan yang membayar pajak yang tinggi adalah dari ukuran perusahaan tersebut. Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya sebuah perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan artinya perusahaan tersebut memiliki aktiva yang besar, laba yang dihasilkan besar dan kapitalisasi pasarnya juga besar. Dalam political cost hypothesis perusahaan dengan laba yang besar juga dihadapkan dengan besarnya biaya politik yang tinggi. Biaya politik yang dimaksud adalah munculnya intervensi pemerintah, pengenaan pajak yang lebih tinggi, dan beberapa tuntutan lain yang dapat menurunkan pendapatan Untuk menghindari terjadinya biaya potilik yang tinggi tersebut maka TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. manajemen termotivasi untuk menggunakan metode akuntansi dengan cara menurunkan laba . ncome decreasin. yang dilaporkan. Kebijakan dividen Leverage Manajemen Laba Ukuran perusahaan Gambar 1. Kerangka Konseptual Pengaruh Kebijakan Dividen terhadap Manajemen Laba Kebijakan dividen dapat menjadi faktor yang memengaruhi para manajemen perusahaan melakukan manajemen laba. Perusahaan yang memiliki kebijakan dividen yang tinggi cenderung lebih terdorong untuk memanipulasi laporan keuangannya untuk mencapai target laba yang diinginkan (Dahayani dkk. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan kepentingan antara pihak manajemen dan investor terhadap laba yang dihasilkan. Pihak investor menginginkan laba yang dihasilkan dibagikan dalam bentuk dividen yang tinggi, sedangkan pihak manajemen menginginkan laba yang dihasilkan ditahan sebagai investasi bagi perusahaan di masa depan Dalam teori keagenan, terdapat perbedaan kepentingan antara pihak investor . dan manajemen perusahaan . Pihak investor lebih suka jika laba yang dihasilkan dibagikan dalam bentuk dividen yang tinggi, sedangkan pihak manajemen lebih suka laba yang dihasilkan ditahan sebagai investasi. Dengan adanya konflik kepentingan ini, membuat manajemen perusahaan akan cenderung melakukan manajemen laba untuk menurunkan pembayaran dividen kepada pemegang saham, tetapi menahan laba yang dihasilkan sebagai modal pembiayaan operasional dan ekspansi perusahaan di masa depan. Manajemen laba yang dilakukan adalah dengan income decreasing. Penelitian yang dilakukan Dahayani dkk. menemukan bahwa kebijakan dividen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Namun bertentangan dengan hasil penelitian oleh Jeradu . , yang menemukan bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dirumuskan hipotesis: H1: Kebijakan dividen berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba dalam bentuk income decreasing. Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba Leverage adalah proporsi yang menunjukkan besaran utang yang dimiliki perusahaan untuk melakukan pembiayaan atas investasinya (Sartono, 2. Ketika perusahaan memiliki tingkat leverage yang tinggi, manajemen perusahaan harus membayar bunga pada hutang mereka secara teratur, sehingga laba bersih perusahaan akan lebih rendah. Hal ini dapat menghasilkan tekanan pada manajemen untuk memperbaiki laporan keuangan mereka dengan melakukan manajemen laba dengan mengurangi biaya operasional atau memperbesar laba yang dihasilkan agar terlihat lebih baik dari yang sebenarnya. Dengan dilakukannya manajemen laba dengan teknik income increasing dapat membantu perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan mencegah gagal bayar. Leverage juga erat kaitannya dengan hipotesis perjanjian hutang . he debt covenant hypothesi. yang menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio utang perusahaan maka TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. semakin dekat perusahaan dengan batas perjanjian kredit. Semakin tinggi batasan kredit, maka makin tinggi kemungkinan penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran biaya. Hal ini yang memotivasi manajer memilih untuk melakukan manajemen laba dengan teknik income increasing yaitu menaikkan laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Hasil penelitian oleh Naftalia & Marsono . menemukan hasil bahwa leverage berpengaruh positif pada manajemen laba yang artinya semakin besar tingkat leverage suatu perusahaan maka manajemen cenderung melakukan manajemen laba. Namun, bertentangan dengan penelitian Putri & Setiawati . yang menemukan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Berdasarkan dari penjelasan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis: H2: Leverage berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba dalam bentuk income increasing. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba Ukuran perusahaan adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui apakah perusahaan memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks sehingga memungkinkan dilakukan manajemen laba (Kusumawardhani, 2012. Lubis & Suryani. Ukuran perusahaan juga merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui suatu perusahaan mempunyai tuntutan kontribusi lebih atau tidak terhadap Perusahaan yang menghasilkan laba yang lebih besar cenderung dituntut untuk berkontribusi lebih kepada pemerintah dengan membayar pajak yang lebih Hal ini yang memotivasi manajer melakukan manajemen laba untuk menghindari pembayaran pajak yang lebih kepada pemerintah. Teknik yang dilakukan oleh manajemen yaitu dengan mengurangi pelaporan laba dalam laporan Tujuan dilakukannya pengurangan laba tuntutan untuk pembayaran pajak kepada pemerintah dapat diperkecil. Berdasarkan political cost hypothesis, perusahaan besar lebih sensitif terhadap adanya biaya politik daripada perusahaan kecil. Biaya politik sendiri yang dimaksudkan adalah intervensi dari pemerintah dan pembayaran pajak yang Semakin besar tingkat pendapatan atau penjualan perusahaan membuat semakin tinggi pula biaya politisnya. Oleh karena itu, untuk menghindari tingginya biaya politis manajemen akan cenderung untuk melaporkan laba yang rendah. Hasil penelitian oleh Kusumawardhani . yang menemukan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Namun, bertentangan dengan penelitian Medyawati & Dayanti . , menemukan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Ukuran perusahaan diduga mampu memengaruhi besaran pengelolaan laba perusahaan, dimana jika pengelolaan laba efisien maka semakin besar ukuran perusahaan semakin tinggi pengelolaan labanya. Berdasarkan dari penjelasan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis: H3: Ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba dalam bentuk income decreasing. METODE PENELITIAN Penelitan ini adalah penelitian eksplanatori . xplanatory researc. Penelitian ini menggunakan data berupa laporan tahunan yang diterbitkan oleh seluruh perusahaan non-keuangan untuk periode 2019-2023 yang diperoleh dengan metode dokumentasi. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2019-2023. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. Tabel 1. Hasil Pemilihan Sampel Keterangan Perusahaan non-keuangan yang terdaftar di BEI selama periode 2019-2023 Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan dalam mata uang rupiah dari tahun 2019-2023 Perusahaan yang tidak memiliki data lengkap berhubungan dengan data yang dibutuhkan. Perusahaan yang menjadi sampel penelitian Jumlah sampel data penelitian . x 5 tahu. Data outlier Total sampel data penelitian Sumber: Data diolah Jumlah . Kebijakan dividen adalah mencakup keputusan mengenai apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham atau akan ditahan untuk reinvestasi dalam perusahaan (Musthafa, 2. Kebijakan dividen diproksikan dengan Dividend Payout Ratio (DPR) (Dahayani dkk. , 2. DPR = Dividen per lembar saham/Laba per lembar saham Leverage adalah mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang terdiri dari utang jangka pendek dan utang jangka panjangnya (Adiwibowo, 2. Leverage pada penelitian ini menggunakan debt to equity ratio. Rasio ini mencerminkan kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya (Warren dkk. , 2. Debt to equity ratio = Total Hutang/Total Ekuitas Ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan yang dapat diukur dengan nilai total aset atau penjualan bersih atau nilai ekuitas. Perusahaan yang berukuran besar merupakan perusahaan yang memiliki tingkat kestabilan yang lebih tinggi dan melibatkan lebih banyak pihak (Zeptian & Rohman, 2013. Suheny, 2. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini berdasarkan total aset (Pasaribu dkk. , 2. Ukuran Perusahaan = Log natural (Total Ase. Manajemen laba adalah upaya yang dilakukan oleh pihak manajemen untuk memengaruhi atau memanipulasi laba yang dilaporkan dengan menggunakan metode akuntansi tertentu atau mempercepat transaksi pengeluaran atau pendapatan, atau menggunakan metode lain yang dirancang untuk memengaruhi laba jangka pendek (Yahya dkk. , 2. Manajemen laba diukur dengan menggunakan modified Jones untuk menghitung discretionary accruals (Ruslan dkk. Total akrual sebuah perusahaan dapat dipisahkan menjadi nondiscretionary accruals . ingkat akrual yang norma. dan discretionary accruals . ingkat akrual yang tidak norma. Tingkat akrual yang tidak normal ini merupakan tingkat akrual hasil rekayasa laba yang dilakukan oleh manajer. Menghitung Nilai Total Akrual (TAC): Nilai Total Akrual (TA) yang diestimasi dengan persamaan regresi OLS: a Menghitung nilai Non Discretionery Accrual (NDA) TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. NDA dihitung dengan menggunakan koefisien regresi di atas dan dihitung dengan rumus: Menghitung Discretionary Accruals (DA): Nilai Discretionary Accruals (DA) sebagai proksi manajemen laba dapat diestimasi dengan menyisihkan total akrual dengan non discresionary accruals dengan menggunakan persamaan berikut: Keterangan: : Discretionary accruals perusahaan i pada periode ke t : Akrual total perusahaan i pada periode t : Laba bersih . et incom. perusahaan i pada tahun t : Kas dari operasi perusahaan i pada tahun t : Non discretionary accruals perusahaan i pada tahun t : Aset total perusahaan i pada periode t-1 : Piutang bersih perusahaan i pada periode t dikurangi piutang bersih pada periode sebelumnya : Pendapatan perusahaan i pada periode t dikurangi pendapatan pada periode sebelumnya : Aset tetap berwujud gross pada perusahaan i pada periode t : Error term perusahaan i pada tahun t Koefisien regresi HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil statistik deskriptif berupa nilai minimum, maksimum, rata-rata . , dan standar deviasi dari semua variabel yang diteliti disajikan sebagai berikut. Tabel 2. Statistik Deskriptif Standar Variabel N Minimum Maksimum Rata-rata Deviasi -35,660 8,030 0,298 2,457 Kebijakan Dividen ( ) Leverage (X. 0,100 0,980 0,503 0,209 Ukuran Perusahaan (X. 26,050 32,830 30,152 1,640 Manajemen Laba (Y) Sumber: Output SPSS -0,209 0,253 -0,003 0,075 Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda untuk menganalisis pengaruh kebijakan dividen, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen Tabel 3 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda Koefisien t hitung Konstanta Kebijakan Dividen Signifikan Leverage Tidak signifikan Ukuran Perusahaan Signifikan Variabel Adjusted R Square Sig. Keterangan 0,105 TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. F Hitung Sumber: Output SPSS 10,607 Pengaruh Kebijakan Dividen terhadap Manajemen Laba Perusahaan dengan tingkat kebijakan dividen yang tinggi akan cenderung memilih cara yang cermat dalam mengelola laporan keuangan. Manajemen memilih teknik akuntansi yang dikenal sebagai income decreasing sebagai upaya untuk menghindari pembagian dividen yang terlalu tinggi. Teknik ini melibatkan penyesuaian dalam pelaporan laba, dengan tujuan menurunkan angka laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Dengan mengurangi laba yang dilaporkan, perusahaan dapat memiliki lebih banyak dana yang tersedia untuk kegiatan investasi dan pertumbuhan jangka panjang. Hasil penelitian ini konsisten dan sejalan dengan hasil penelitian Putri . dan Dahayani dkk. yang menyatakan kebijakan dividen berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba. Penelitian ini juga sejalan dengan teori keagenan yang menyatakan manajemen dan pemegang saham memiliki kepentingan yang berbeda sehingga menyebabkan terjadinya konflik di antara kedua belah pihak. Kaitannya dengan kebijakan dividen yaitu pemegang saham lebih menginginkan laba dibagikan dalam bentuk dividen, sedangkan manajemen lebih memilih untuk menahan laba tersebut guna kegiatan investasi perusahaan. Perbedaan kepentingan tersebut yang memicu terjadinya tindakan manajemen laba. Hasil penelitian ini juga mendukung teori akuntansi positif yang menyatakan bahwa manajemen perusahaan yang melakukan tindakan manajemen laba dengan motif tertentu menggunakan teknik-teknik akuntansi seperti menurunkan laba . ncome decreasin. Manajemen menggunakan teknik akuntansi yang menurunkan laba pada laporan keuangan dengan maksud agar mengurangi pembagian dividen kepada pemegang saham dan menggunakan laba tersebut sebagai modal pembiayaan operasional dan ekspansi perusahaan di masa depan. Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba Leverage menjadi tolak ukur dalam melihat perilaku manajer dalam hal manajemen laba. Perusahaan yang memiliki rasio leverage yang tinggi, diduga akan melakukan manajemen laba dikarenakan terancam default, yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban membayar hutang pada waktunya (Shanti & Yudhanti, 2007. Mahawyahrti & Budiasih, 2. Hipotesis dalam teori akuntansi positif yang mendukung hal ini adalah debt covenant hypothesis. Hipotesis ini menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi, akan melakukan manajemen laba supaya terhindar dari pelanggaran perjanjian hutang. Selain terhindar dari pelanggaran perjanjian hutang, tujuan lainnya adalah agar tetap mempertahankan kinerja yang baik dan tetap mendapatkan kepercayaan dari kreditur. Hasil penelitian ini konsisten dengan Prastyawan & Saraswati . Sari & Astika . , serta Astuti . yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen Meskipun demikian, leverage tidak cukup kuat memengaruhi terhadap manajemen laba. Hal ini disebabkan oleh pengawasan yang ketat dari pihak kreditur terhadap perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi maka membuat manajer akan bertindak hati-hati dalam melakukan manajemen laba. Hasil penelitian ini sejalan dengan Irawan . Asyati & Farida . , serta Dharma dkk. yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba Semakin besar ukuran perusahaan menunjukkan semakin besar peluang bagi perusahaan tersebut untuk terlibat dalam praktik manajemen laba dalam bentuk income decreasing. Alasan di balik hal ini adalah kebutuhan untuk mengurangi potensi biaya politik. Perusahaan yang besar cenderung memiliki interaksi yang lebih kompleks dengan pemerintah, regulasi yang lebih ketat, dan eksposur terhadap berbagai tindakan pemerintah yang dapat memengaruhi pendapatan mereka, seperti pembayaran pajak yang lebih besar dan intervensi dari pemerintah. Manajer di perusahaan mengelola laporan keuangan mereka dengan cara menurunkan laba untuk mengurangi biaya politik tersebut. Penelitian ini konsisten dan sejalan dengan Kusumawardhani . dan Priharta dkk. yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba. Ukuran perusahaan dapat memotivasi manajemen untuk melakukan manajemen laba. Semakin besar suatu perusahaan berarti semakin besar peluang suatu perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan usahanya (Amertha dkk. , 2. Penelitian ini sejalan juga dengan hipotesis biaya politik yang menyatakan bahwa semakin besar suatu perusahaan maka akan semakin besar kemungkinannya untuk memilih metode akuntansi yang bertujuan untuk menurunkan biaya politik. Biaya politik yang dimaksud adalah tindakan pemerintah yang dapat menurunkan pendapatan perusahaan dengan menerapkan lebih banyak peraturan seperti regulasi, subsidi pemerintah, pajak yang lebih besar, tuntutan buruh, dan sebagainya. Metode akuntansi yang dipakai oleh manajer adalah dengan menurunkan laba . ncome decreasin. SIMPULAN Konflik kepentingan antara prinsipal . dan agen . yang dapat memengaruhi perilaku agen. Perbedaan kepentingan antara investor yang menginginkan laba yang dihasilkan perusahaan untuk dibagikan dalam bentuk dividen, sedangkan agen menginginkan laba tersebut ditahan guna sebagai investasi Untuk itu, manajer melakukan tindakan manajemen laba yang menurunkan laba pada laporan keuangan agar pembagan dividen menjadi rendah dan laba tersebut ditahan. Perusahaan yang mendekati pelanggaran perjanjian hutang akan memilih prosedur akutansi yang menaikkan laba agar terhindar dari konsekuensi pelanggaran tersebut. Untuk itu, perusahaan perlu melakukan pengelolaan hutang . dengan bijak, mengevaluasi perjanjian hutang sebelum menandatanganinya, serta membangun budaya transparansi dalam perusahaan agar mengurangi tekanan untuk melanggar perjanjian dan mengurangi insentif untuk melakukan manajemen laba yang tidak etis. Perusahaan dengan ukuran yang besar cenderung melakukan prosedur akuntasi yang menurunkan laba agar terhindar dari biaya politik. Pelaporan keuangan perusahaan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh tekanan politik yang timbul dari pihak berwenang. Semakin besar perusahaan, semakin tinggi tekanan politik yang membuat perusahaan terlibat dalam manajemen laba. Untuk itu, perusahaan dengan laba yang besar cenderung memilih tindakan manajemen laba dengan menurunkan laba pada laporan keuangan agar terhindar dari biaya politik seperti adanya intervensi lebih dari pemerintah dan pembayaran pajak yang lebih besar. Penelitian ini terbatas pada sampel yang terdiri dari perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, pengukuran leverage menggunakan debt to equity ratio belum dapat memberikan gambaran tentang kemampuan perusahaan untuk membayar bunga atas pinjamannya. Penelitian yang akan datang diharapkan dapat memperluas lingkup penelitian pada seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian berikutnya juga dapat TANGIBLE JOURNAL VOL. NO. JUNI 2025. HAL. mempertimbangkan pengukuran leverage dengan interest coverage ratio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar bunga. DAFTAR PUSTAKA