Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 PENDAMPINGAN PEMBUATAN TAMAN SAINS DALAM PENGUATAN LITERASI SAINS SISWA KELAS IV SD N 6 YANGAPI Ni Komang Ayu Ulan Dari1. I Nengah Sueca2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. ITP Markandeya Bali e-mail: komangayuulan6@gmail. Su3ca. nngah@gmail. Abstrak Pendampingan pembuatan taman sains bertujuan untuk meningkatkan literasi sains di kalangan peserta didik dengan cara memberikan pengalaman langsung dalam memahami konsep-konsep sains. Melalui aktivitas ini, peserta diharapkan dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan keterampilan praktis, serta memahami pentingnya kolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang menarik. Kegiatan pengabdian ini di laksanakan di SD N 6 Yangapi pada bulan September sampai bulan Oktober 2024. Subjek dalam pendampingan ini adalah siswa kelas IV berjumlah 30 orang. Proses pelaksanaan pendampingan ini dilakukan dengan metode pendampingan belajar yang dilaksanakan dengan 3 tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Terdapat 4 hasil dari kegiatan pendampingan ini siswa berhasil memahami dan mengenal berbagai jenis tanaman, meningkatkan rasa kepedulian siswa terhadap lingkungan, siswa dapat melakukan eksplorasi langsung dan mengaitkan teori yang mereka pelajari di kelas dengan praktik di lapangan dan siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman berharga yang membangun karakter dan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Kata kunci: Pendampingan taman sains. Literasi sains Abstract The mentoring of the creation of a science park aims to improve science literacy among students by providing direct experience in understanding science concepts. Through this activity, participants are expected to develop curiosity and practical skills, and understand the importance of collaboration in creating an interesting learning This community service activity was carried out at SD N 6 Yangapi from September to October The subjects in this mentoring were 30 grade IV students. The process of implementing this mentoring was carried out using the learning mentoring method which was carried out in 3 stages, namely preparation, implementation, and evaluation. There were 4 results from this mentoring activity, students succeeded in understanding and recognizing various types of plants, increasing students' concern for the environment, students were able to explore directly and relate the theories they learned in class to practices in the field and students not only gained new knowledge, but also valuable experiences that build their character and responsibility towards the Keywords: Science park mentoring. Science literacy PENDAHULUAN Pendidikan Nasional memiliki fungsi untuk memberi peserta didik kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka sehingga mereka dapat membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat (Nanda 2019 dalam Atikasari & Desstya, 2. Sejalan dengan itu (Delima, 2. menyatakan bahwa siswa belajar lebih banyak melalui bermain dan melakukan percobaan dengan hal-hal nyata. Guru seorang fasilitator yang memungkinkan siswa dengan mudah menyerap pembelajaran yang menyenangkan dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran IPA. Pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai media dan sumber belajar lembaga pendidikan karena dapat digunakan sebagai sasaran belajar, sarana belajar, media, dan sumber belajar(Rizal et al. , 2. Menurut (Falamila & Anggraeni, 2. mengemukakan ada beberapa keuntungan dari pembelajaran di luar ruang kelas, seperti: . kegiatan pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan. materi yang dipelajari lebih kaya dan faktual, sehingga lebih akurat. sumber belajar lebih beragam karena lingkungan yang dapat dipelajari lebih . konsep belajar akan lebih relevan karena siswa dihadapkan pada kondisi atau situasi yang sebenarnya. Penggunaan media lingkungan sekolah dapat di manfaatkan sebagai taman sains, di mana pada taman ini akan berisikan tanaman - tanaman yang dapat di gunakan sebagai media pembelajaran IPA. Dengan adanya taman sains diharapkan dapat memberikan pembelajaran IPA dan konsep - konsep IPA dapat lebih bermakna dengan dihadapkan objek - objek yang nyata. Kemampuan literasi sangat penting untuk belajar, bekerja, dan berinteraksi sepanjang hidup. Oleh karena itu, literasi dibangun secara sistematis dan berkelanjutan baik dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas(I Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 Nengah Sueca & Ni Komang Suwarni, 2. Pada tingkat sekolah dasar, kemampuan literasi sangat penting karena menentukan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Namun, ada banyak masalah yang timbul dalam melaksanakan kegiatan literasi, terutama di sekolah dasar, seperti kekurangan buku(Nengah Sueca et al. Literasi sains adalah kemampuan untuk memahami sains, berkomunikasi dengan sains, dan menggunakan sains untuk memecahkan masalah (Supriatin & Anita, 2. Tujuan literasi sains adalah untuk memberi siswa kemampuan untuk memahami dan berpartisipasi dalam perdebatan sosial tentang masalah yang terkait dengan sains dan teknologi serta untuk memahami masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (Nurwidiyanti & Sari, 2. Masalah yang membuat siswa dari berbagai jenjang pendidikan masih belum menguasai literasi sains dengan baik seperti metode pembelajaran konvensional. Ini membuat mereka tidak terbuka dalam mencari pengetahuan dan menyelesaikan masalah(Tuti Rezeki Awaliyah Siregar, 2. Oleh karena itu, proses pembelajaran sains di sekolah dasar harus difokuskan pada proses ketercapaian produk dan sikap ilmiah siswa. SD N 6 Yangapi berdiri pada tanggal 1 Juli 1987, sekolah ini merupakan gugus inti nomor 3 di Kecamatan Tembuku. Kabupaten Bangli, yang berlokasi di Banjar Dinas Metra Kaja. Kecamatan Tembuku. Kabupaten Bangli. SD N 6 Yangapi mempunyai 12 orang guru dan tenaga pendidik yang terdiri dari 1 orang Kepala Sekolah, 6 orang guru kelas, 1 orang guru Agama Hindu, 1 orang guru PJOK dan 3 orang pegawai TU. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada bulan September di SD N 6 Yangapi, menurut kesaksian bapak Kepala Sekolah SD N 6 Yangapi, yaitu Bapak I Nengah Widastra. Pd. Sd. , bahwa pembelajaran IPA di SD N 6 Yangapi menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam penggunaan media pembelajaran yang kurang optimal. Terdapat tiga guru muda dan tiga guru tua di sekolah ini, di mana para guru lebih sering menggunakan presentasi PowerPoint sebagai satu-satunya media untuk menyampaikan materi. Selain itu, tidak ada guru yang memiliki keahlian khusus di bidang Ilmu Pengetahuan Alam, dan ketersediaan KIT IPA juga tidak memadai. Metode pengajaran yang dominan adalah ceramah, dengan buku mata pelajaran sebagai sumber utama, tanpa memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media belajar. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan pendampingan dalam pembuatan media pembelajaran berupa taman sains yang berbasis lingkungan. Taman sains dapat menjadi alternatif efektif untuk meningkatkan literasi sains siswa dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar sebagai media pembelajaran yang menarik dan interaktif. Kelebihan SD N 6 Yangapi terletak pada tersedianya lingkungan sekolah yang luas, yang sangat mendukung pembuatan taman sains sebagai media pembelajaran. Taman sains berfungsi untuk mendorong siswa memperoleh pengetahuan dan perspektif baru mengenai lingkungan sekitar. Melalui taman ini, siswa dapat belajar tentang ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pentingnya menjaga lingkungan hidup. Selain itu, taman sains juga dapat menumbuhkan kepedulian dan komitmen siswa untuk melindungi, memperbaiki, dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Dengan demikian, taman sains tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga membantu menciptakan pola perilaku baru yang bersahabat dengan lingkungan, sehingga membentuk generasi yang lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan alam(Zuhriyah & Rista Harimurti, 2. Keunggulan taman sains terletak pada kemampuannya untuk meningkatkan integrasi antara teori dan praktik, yang membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan bagi siswa. Taman sains tidak hanya menyediakan ruang untuk eksplorasi, tetapi juga menekankan penguatan literasi sains yang esensial bagi perkembangan siswa. Penguatan ini mencakup pengetahuan tentang sains, pemahaman proses ilmiah, dan pengembangan sikap ilmiah yang positif. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya sekadar memahami konsep sains, tetapi juga dilatih untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam memecahkan berbagai permasalahan sehari-hari. Hal ini memungkinkan siswa untuk mengambil keputusan yang lebih baik berdasarkan pertimbangan sains, sehingga mereka menjadi individu yang lebih kritis dan mampu berpikir analitis dalam menghadapi tantangan lingkungan di sekitar mereka. Berdasarkan wawancara di SD N 6 Yangapi pentingnya media dan sarana belajar yang interaktif, seperti taman sains, sangat berperan dalam menguatkan literasi sains siswa. Taman sains yang memuat berbagai konsep IPA dapat menjadi wahana pembelajaran yang menarik dan efektif, di mana siswa tidak hanya belajar secara teori tetapi juga melalui pengalaman langsung. Dengan visualisasi dan interaksi dengan elemen-elemen sains, siswa kelas IV SD N 6 Yangapi dapat lebih mudah memahami dan menginternalisasi materi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan pendampingan dalam pembuatan taman sains ini, guna mendukung penguatan literasi sains siswa, serta mendorong rasa ingin tahu dan kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan. METODE Kegiatan pendampingan ini dilaksanakan di SD N 6 Yangapi, yang terletak di Banjar Dinas Metra Kaja. Desa Yangapi. Kecamatan Tembuku. Kabupaten Bangli. Kegiatan ini dilakukan pada awal bulan September sampai akhir Oktober. Kegiatan pendampingan ini dilaksanakan selama 120 menit, pada setiap tahapan. Subjek dalam pendampingan ini adalah siswa kelas IV SD N 6 Yangapi, yang berjumlah 30 orang siswa, yang terdiri atas 13 orang siswa perempuan dan 17 orang siswa laki Ae laki. Proses pelaksanaan pendampingan ini melibatkan siswa dalam pembuatan taman sains. Kegiatan ini dilaksanakan sekali dalam setiap minggu dan dilakukan selama 6 Adapun metode pelaksanaan yang digunakan dalam pendampingan ini antara lain: . Persiapan, yang meliputi: pendampingan pembuatan taman sains di SD N 6 Yangapi dimulai dengan meminta izin kepada pihak sekolah untuk melaksanakan kegiatan ini di luar jam pelajaran, khususnya pada hari Sabtu. Setelah izin diperoleh. Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 komunikasi awal dilakukan dengan siswa yang akan terlibat, memastikan bahwa mereka berminat dan siap berkontribusi dalam proyek ini dengan menyumbangkan satu buah tanaman untuk taman sains. Lokasi kegiatan ditentukan di lapangan sekolah, tepatnya di sebelah timur ruang perpustakaan, dan akan dilaksanakan setiap hari Sabtu dari pukul 08. 00 hingga 10. Tim pendampingan kemudian menyusun rancangan dan daftar keperluan yang diperlukan untuk pembuatan taman sains, termasuk pengadaan bahan untuk pembuatan pagar taman, seperti mencari bambu yang akan digunakan sebagai pagar, yang kemudian akan dicat untuk mempercantik tampilan Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menciptakan ruang belajar yang menarik, tetapi juga melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, . Aksi nyata, yang meliputi: memberikan bimbingan secara langsung dalam pembuatan taman sains, mulai dari proses sosialisasi dan mencangkul tanah hingga menanam tanaman kepada 30 siswa, yang terdiri dari baik perempuan maupun laki-laki. Selama kegiatan, siswa diberikan kesempatan untuk menanam berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman toga, serta tanaman vegetatif dan generatif, sesuai dengan lahan yang telah disiapkan untuk taman sains. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, tim pendampingan menyampaikan materi terkait pembelajaran IPA yang relevan dengan tanaman yang ada di taman sains, menjelaskan manfaat dan fungsi setiap tanaman tersebut. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar tentang cara menanam, tetapi juga memahami pentingnya tanaman dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan, . Evaluasi, yang meliputi pendampingan melakukan evaluasi terhadap siswa kelas V SD N 6 Yangapi untuk menilai sejauh mana media pembelajaran berupa taman sains dapat membantu mereka dalam proses belajar. Evaluasi ini bertujuan untuk mendapatkan umpan balik dari siswa mengenai pengalaman mereka dan dampak positif yang dirasakan setelah berinteraksi dengan taman sains. Selain itu, tim pendampingan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan eksplorasi di taman sains. Dalam kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada berbagai jenis tanaman beserta fungsinya, sehingga mereka dapat mengenali keanekaragaman hayati yang ada di taman dan memahami peran penting tanaman dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan eksplorasi ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan pengetahuan siswa tentang sains secara menyenangkan dan interaktif. Untuk lebih sederhana setiap proses akan terlihat pada bagan di bawah ini. Gambar 1. Tahapan kegiatan HASIL DAN PEMBAHASAN Pengabdian pada masyarakat di laksanakan di SD N 6 Yangapi. Kecamatan Tembuku. Kabupaten Bangli, pendampingan pembuatan taman sains dalam penguatan literasi sains ini diberikan kepada siswa kelas IV. Program pengabdian ini dilaksanakan selama 2 bulan. Ada beberapa temuan dalam pengabdian ini antara lain: pertama, meminta izin ke pihak sekolah dan sekaligus meminta kepada siswa kelas IV untuk ikut dalam kegiatan pendampingan ini. Kedua, melakukan sosialisasi terkait jenis tanaman yang akan di tanam, pembuatan pagar, pembuatan taman sains bersama siswa kelas IV. Ketiga, evaluasi dilakukan untuk mengukur seberapa jauh siswa terbantu dengaan adanya media pembelajaran berupa taman sains, ketiga temuan akan di jelaskan di bawah ini: Langkah pertama Program pengabdian ini merupakan hasil temuan pertama dalam persiapan pembuatan taman sains di SD N 6 Yangapi, yang diawali dengan tahap persiapan sebagai langkah awal kegiatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menginformasikan kepada kepala sekolah dan wali kelas IV mengenai sasaran dan rencana kegiatan pengabdian. Kegiatan dimulai dengan observasi di lingkungan sekolah dan diskusi Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 langsung dengan kepala sekolah, yang menjelaskan bahwa kondisi lahan di sekolah sangat luas, namun sebagian guru masih kesulitan dalam membuat media pembelajaran, khususnya untuk pelajaran IPA. Wali kelas IV juga menekankan pentingnya media berbasis lingkungan sebagai alat pengantar materi pembelajaran IPA, yang dapat memperkuat kemampuan literasi sains siswa melalui eksplorasi langsung. Pada tahap ini, penulis bersama kepala sekolah menyepakati waktu pelaksanaan, durasi kegiatan, sasaran, dan luaran yang diharapkan. Di tahap akhir, penulis menyusun program taman sains yang telah disepakati, termasuk rincian tentang jenis tanaman yang akan ditanam, luas lahan yang digunakan, bahan untuk pagar taman, serta jadwal pendampingan pembuatan taman bersama siswa kelas IV. Gambar 2. Kegiatan Wawancara Bapak Kepala Kekolah SD N 6 Yangapi. Kedua, pada tahap sosialisasi program, informasi terkait taman sains di SD N 6 Yangapi disebarkan untuk memudahkan pemahaman di kalangan siswa, guru, dan masyarakat sekolah. Dalam sosialisasi ini, taman sains diperkenalkan dengan penjelasan mengenai konsepnya serta penjelasan tentang berbagai tanaman herbal yang memiliki khasiat baik untuk kesehatan tubuh. Pengenalan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana tanaman dapat memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan taman sains sebagai bentuk investasi bagi masyarakat sekolah untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik. Dengan adanya program taman sains, diharapkan siswa akan lebih peduli terhadap kesehatan dan mulai menjaga diri untuk terhindar dari berbagai penyakit. Antusiasme siswa dan guru dalam rangkaian aksi kolaborasi ini sangat tinggi, mereka aktif mempelajari manfaat dari tanaman herbal yang ditanam di pekarangan sekolah, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih hidup dan bermakna. Gambar 3. Kegiatan Sosialisasi Pengenalan Taman Sains Pembuatan pagar tanaman untuk taman sains di SD N 6 Yangapi dilakukan dengan menggunakan bambu yang dicat berwarna merah dan putih, yang merupakan ide kreatif untuk menggabungkan keindahan alam dengan semangat nasionalisme. Langkah pertama dalam pembuatan pagar adalah pengumpulan bahan-bahan yang diperlukan, termasuk bambu yang cukup kuat dan ukuran yang sesuai. Setelah itu, bambu dibersihkan dari kotoran dan kulit luar yang tidak diperlukan, kemudian dipotong sesuai dengan tinggi dan panjang yang diinginkan untuk Selanjutnya, bambu dicat dengan warna merah dan putih, yang melambangkan bendera nasional Indonesia. Proses pengecatan ini harus dilakukan dengan hati-hati agar warna merata dan tahan lama. Setelah cat mengering, langkah berikutnya adalah merangkai bambu menjadi struktur pagar. Bambu dapat disusun vertikal dengan jarak tertentu untuk menciptakan kesan artistik dan memudahkan pertumbuhan tanaman. Pagar kemudian dipasang di area yang telah ditentukan, di sekitar tanaman yang ada di taman sains. Dengan pagar yang sudah terpasang, taman sains tidak hanya mendapatkan perlindungan bagi tanaman, tetapi juga menambah estetika ruang belajar. Sentuhan warna merah dan putih pada pagar menciptakan tampilan yang menarik dan mencerminkan kecintaan siswa terhadap negara, sekaligus memberikan mereka rasa memiliki terhadap taman sains yang mereka rawat. Dengan demikian, pembuatan pagar tanaman ini tidak hanya fungsional, tetapi juga mengedukasi siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menumbuhkan rasa nasionalisme sejak dini. Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 Gambar 4. Kegiatan Pengecatan Pagar Taman Sains Pendampingan pembuatan taman sains di SD N 6 Yangapi dimulai dengan kegiatan penanaman yang melibatkan siswa kelas IV secara langsung. Lahan yang dipilih untuk taman sains terletak di pekarangan sekolah, tepatnya di sebelah timur ruang perpustakaan, yang menawarkan sinar matahari yang cukup dan aksesibilitas yang Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang akrab dengan kehidupan sehari-hari, seperti kunyit, kumis kucing, jahe, kencur, sereh, sirih, dan lidah buaya. Selain itu, ada juga tanaman bunga seperti jempiring, sandat, kembang sepatu, serta beberapa tanaman buah. Kegiatan penanaman ini merupakan praktik dari sosialisasi sebelumnya, di mana siswa diharapkan memahami manfaat tanaman tersebut. Kegiatan pengeburan tanah untuk lahan taman sains dimulai dengan proses mencangkul tanah secara Siswa kelas IV diajarkan untuk menggunakan cangkul dengan benar, sehingga mereka dapat menggali dan mengolah tanah dengan baik. Pertama-tama, siswa mengukur luas lahan yang akan digunakan sebagai taman sains, memastikan bahwa area tersebut cukup untuk menampung berbagai jenis tanaman yang akan Setelah pengukuran, mereka mulai mencangkul tanah, mengeluarkan batu dan akar tanaman yang mengganggu, serta menggemburkan tanah agar lebih subur. Proses ini tidak hanya melibatkan kerja fisik, tetapi juga memberi siswa pemahaman tentang pentingnya persiapan lahan dalam bercocok tanam. Dengan menggemburkan tanah, mereka belajar bahwa tanah yang baik adalah kunci untuk pertumbuhan tanaman yang Kegiatan ini menjadi pengalaman praktis yang memperkenalkan siswa pada dasar-dasar pertanian sekaligus meningkatkan rasa tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Setiap siswa berkontribusi dengan membawa bibit tanaman dari rumahnya, sehingga mereka merasa memiliki bagian dari taman sains ini. Dalam proses penanaman, peneliti mendampingi siswa untuk memastikan setiap langkah dilakukan dengan benar. Beberapa tanaman sudah tumbuh dan hanya perlu dipindahkan ke media tanah yang baru, sementara bibit tanaman lainnya yang belum tumbuh langsung ditanam ke media yang telah Siswa diajarkan cara menanam yang benar, mulai dari menggali lubang tanah dengan kedalaman yang sesuai, menempatkan tanaman dengan hati-hati, hingga menyiramnya dengan air secukupnya untuk membantu Dengan keterlibatan aktif dalam proses ini, siswa tidak hanya belajar tentang teknik bercocok tanam, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa tentang ilmu pengetahuan alam, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab dan kebersamaan dalam menjaga taman sains yang telah mereka ciptakan. Berikut ini adalah dokumentasi kegiatan pembuatan taman sains, yang mencerminkan semangat dan antusiasme siswa dalam belajar secara langsung di lingkungan sekolah. Gambar 5. Kegiatan Penanaman Taman Sains. Kegiatan penanaman di taman sains melibatkan siswa dalam mengelompokkan berbagai jenis tanaman berdasarkan kategori mereka, seperti tanaman TOGA, tanaman bunga, serta tanaman vegetatif dan generatif. Siswa diajak untuk berpartisipasi secara aktif dalam menanam tanaman herbal seperti kunyit, jahe, dan sereh, yang Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 termasuk dalam kategori tanaman TOGA, yang dikenal memiliki khasiat bagi kesehatan. Selain itu, mereka juga menanam berbagai bunga seperti jempiring dan kembang sepatu, yang tidak hanya mempercantik taman tetapi juga menarik serangga penyerbuk. Tanaman vegetatif, seperti sirih dan lidah buaya, ditanam bersama tanaman generatif seperti tomat dan cabai, yang diharapkan dapat memberikan hasil panen di masa depan. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar tentang berbagai jenis tanaman, tetapi juga memahami perbedaan fungsi dan manfaat masing-masing tanaman dalam ekosistem. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung yang menyenangkan, sekaligus menanamkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan, saat mereka merawat tanaman yang telah mereka tanam. Gambar 6. Penanaman Taman Sains dilakukan oleh Siswa kelas IV SD N 6 Yangapi. Hasil dari pendampingan ini merupakan temuan kedua pembuatan taman sains di SD N 6 Yangapi menunjukkan dampak yang signifikan dalam berbagai aspek. Pertama, siswa kelas IV berhasil memahami dan mengenal berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman TOGA, bunga, serta tanaman vegetatif dan generatif, yang memperkaya pengetahuan mereka tentang ilmu pengetahuan alam. Kedua, kegiatan ini meningkatkan minat dan rasa kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar, mendorong mereka untuk terlibat aktif dalam penghijauan dan perawatan taman. Siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi selama proses penanaman dan perawatan, serta saling berbagi informasi mengenai manfaat tanaman yang mereka tanam. Ketiga, taman sains berfungsi sebagai media pembelajaran yang interaktif, di mana siswa dapat melakukan eksplorasi langsung dan mengaitkan teori yang mereka pelajari di kelas dengan praktik di lapangan. Hal ini berkontribusi pada peningkatan literasi sains dan kemampuan observasi siswa. Keempat, keberadaan taman sains memberikan suasana belajar yang lebih nyaman dan menarik, menjadikan lingkungan sekolah lebih aman dan menyenangkan. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman berharga yang membangun karakter dan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Gambar 7. Penanaman Taman Sains. Ketiga, evaluasi program pendampingan ini merupakan temuan ketiga dalam pembuatan taman sains melalui angket kepuasan siswa merupakan langkah penting untuk mengukur keberhasilan program dan mendapatkan masukan yang konstruktif untuk perbaikan di masa mendatang. Angket ini dirancang untuk menggali pendapat siswa mengenai berbagai aspek kegiatan, termasuk sejauh mana mereka merasa terlibat dalam proses penanaman, pemahaman yang mereka peroleh tentang berbagai jenis tanaman, serta dampak taman sains terhadap minat mereka terhadap pelajaran IPA. Keberhasilan program pembuatan taman sains sebagai media pembelajaran IPA di kelas IV SD N 6 Yangapi terlihat jelas melalui peningkatan minat dan pemahaman siswa terhadap ilmu Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 Selain itu, taman sains menjadi tempat eksplorasi yang mendorong siswa untuk bertanya, melakukan observasi, dan belajar secara aktif, yang pada gilirannya memperkuat literasi sains mereka. Melalui evaluasi yang dilakukan, sebagian besar siswa melaporkan bahwa mereka merasa lebih terhubung dengan pelajaran IPA dan lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa taman sains tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun karakter siswa yang peduli dan bertanggung jawab terhadap alam. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di SD N 6 Desa Yangapi telah terlaksana dengan baik dan lancar, memberikan dampak positif bagi siswakegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi sains di kalangan peserta didik dengan cara memberikan pengalaman langsung dalam memahami konsep-konsep Selain itu, taman sains berfungsi sebagai sumber belajar yang mendukung eksplorasi dan penguasaan berbagai disiplin ilmu, sekaligus mendorong kesadaran akan keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Kegiatan ini mencakup meminta izin kepada pihak sekolah kemudian melakukan sosialisasi tentang jenis-jenis tanaman sains beserta manfaatnya, serta pendampingan dalam pembuatan taman sains bersama siswa kelas IV. Melalui kegiatan ini, siswa berhasil meningkatkan pengetahuan dan wawasan mereka mengenai berbagai jenis tanaman sains, serta memahami pentingnya peran tanaman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga mampu meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekolah mereka melalui aksi penghijauan dan penanaman tanaman. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan, saran yang dapat diberikan kepada SD N 6 Yangapi adalah untuk terus meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai jenis-jenis tanaman lainnya yang memiliki manfaat, serta selalu mendorong siswa untuk peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama lingkungan sekolah. Upaya ini diharapkan dapat terus menginspirasi generasi muda untuk menjaga dan melestarikan alam di sekitarnya. UCAPAN TERIMA KASIH