Volume 5 No. 1 September 2025 http://jurnal. PENGEMBANGAN PARIWISATA HALAL DI JALUR LINTAS SELATAN TULUNGAGUNG Siti Masruroh Institut Agama Islam Badrus Sholeh Kediri masruroh047@gmail. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis potensi pengembangan pariwisata berkelanjutan dan moderasi beragama sebagai strategi untuk menciptakan pariwisata halal. Dalam Penelitian ini, pariwisata halal tidak hanya berfokus pada penyediaan layanan yang sesuai dengan prinsip syariah, tetapi juga pada penguatan kerukunan antar umat beragama yang dapat mendukung keberlangsungan industri Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman moderat terhadap ajaran agama yang dapat mendorong interaksi sosial yang harmonis sehingga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan destinasi wisata halal. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya wisata, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga nilai-nilai spiritual dan budaya. Penelitian ini juga menggali tantangan yang dihadapi dalam implementasi pariwisata halal, seperti kurangnya fasilitas yang mendukung kebutuhan wisatawan muslim. Dengan demikian, pengembangan pariwisata halal di Jalur Lintas Selatan Tulungagung diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam memadukan keberlanjutan ekonomi dengan nilai-nilai keagamaan, sehingga menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya menarik secara alam tetapi juga bermakna secara sosial dan spiritual. Kata Kunci: Pariwisata berkelanjutan, destinasi, moderasi, pariwisata halal. ABSTRACT This research analyze potential of sustainable tourism development and religious moderation as a strategy to create halal tourism. In this study, halal tourism focuses not only on providing services that comply with sharia principles, but also on strengthening interfaith harmony that can support the sustainability of the tourism industry. This research highlights the importance of a moderate understanding of religious teachings that can encourage harmonious social interactions so as to create an environment conducive to the development of halal tourism destinations. By utilising local potential and involving the community in the management of tourism resources, it is expected to improve the economic welfare of the community while maintaining spiritual and cultural values. This research also explores the challenges faced in the implementation of halal tourism, such as the lack of facilities that support the needs of Muslim tourists. Thus, the development of halal tourism in the Tulungagung Southern Crossing is expected to be a model for other regions in combining economic sustainability with religious values, thus creating a tourist destination that is not only naturally attractive but also socially and spiritually meaningful. Keywords: Sustainable tourism, destination, moderation, halal tourism. PENDAHULUAN Pembangunan jalan sirip di Pariwisata sepanjang Jalur Lintas Selatan Tulungagung saat ini akan dimaksimalkan pada tahun 2025 mendatang, setelah seluruh ruas jalan yang ada di JLS terhubung. Pada tahun 2024 ini, pembangunan jalan sirip di JLS Tulungagung mulai dicicil dengan pembiayaan dari APBD maupun dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat (Zainul Fikri. Mukhamad, t. Pantai yang menghubungkan delapan Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. wilayah yang ada di Jawa Timur ini diperkirakan akan membentang sepanjang 684 Km. Rinciannya adalah Pacitan sepanjang 87,4 Km. Trenggalek 78 Km. Tulungagung 54 km. Blitar 68 Km. Malang 134 Km. Lumajang sepanjang 65,50 Km. Jember 88 Km dan Banyuwangi 163 Km. Delapan lokasi tersebut masih dalam proses pembangunan dan pembebasan lahan. Menurut Laman Radar Tulungagung Grup Jawa Pos bahwa anggaran yang digelontorkan dalam pembangunan JLS LOT 65-6b RUAS Sine-Molang mencapai 240 Miliar (Sarti. Rofia Ismania, 2. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah serius dalam mengembangkan pariwisata di Jawa Timur, khusus nya di JLS Tulungagung. Pariwisata merupakan salah satu bagian penting dan sudah menjadi kebutuhan manusia dan merupakan salah satu sektor yang memberikan pengaruh dalam perekonomian di dunia. Kemajuan dari sektor pariwisata saat ini merupakan bagian urgent dalam produktivitas negara maju dan berkembang. Hal ini dapat dilihat dari trend halal yang semakin berkembang mulai dari produk halal, komestik halal, fashion halal, gaya hidup halal, dan wisata halal. Dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim terbesar didunia yang mencapai 230 juta jiwa. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan industri halal, khususnya pariwisata. Besarnya Muslim di Indonesia tidak serta merta membuat masyarakat Indonesia menyadari dengan baik potensi wisata syariah. Wisata syariah masih dianggap dan seolaholah hanya untuk masyarakat Muslim saja. Masyarakat Muslim belum memahami sepenuhnya konsep pariwisata syariah secara menyeluruh. Dengan mayoritas Muslim di Indonesia seharusnya diimbangi dengan berkembangnya wisata yang dikemas dalam Pariwisata Halal. Namun pentingnya toleransi yang diciptakan oleh masyarakat yang heterogen dan banyak menganut agama seperti agama Islam. Kristen. Hindu. Budha. Konghucu, dan agama lainnya akan menciptakan perdamaian dalam keberagaman. Toleransi ini lah yang akan menguatkan moderasi beragama masyarakat Indonesia khususnya diwilayah Tulungagung. Moderasi beragama dapat mencakup Moderasi Islam. Moderasi Kristen. Moderasi Budha. Moderasi Hindu. Moderasi Khonghucu dan moderasi agama lain. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai moderat. Hal ini menandakan bahwa sikap dan perbuatan yang ekstrem tidak dibenarkan dalam semua aspek kehidupan umat beragama. Hal tersebut didasarkan pada pernyataan Al Quran bahwa umat yang akan dibangun oleh Al Quran adalah umat yang wasath . (QS. Al Baqarah . Manshur dan Husni . menyatakan bahwa Ummatan Wasatan adalah masyarakat yang berada di pertengahan dalam artian moderat. Posisi pertengahan ini menjadikan masyarakat tidak condong ke kiri dan ke kanan dan mengantarkan manusia untuk bersikap adil (Salim dkk. , 2. Pengembangan Pariwisata berkelanjutan dan sikap moderasi beragama akan memberikan dampak positif untuk mendukung adanya pariwisata halal. Meskipun diusung oleh agama Islam namun konsep pariwisata halal dapat dinikmati untuk semua kalangan Oleh karena itu lapisan masyarakat Muslim dengan mengusung dan mengupayakan pariwisata syariah sudah seharusnya tidak hanya diterima dari sudut pandang agama, namun juga memiliki rasa bangga dan kepercayaan yang tinggi bahwa pariwisata halal merupakan industri yang kompetitif dan menjanjikan untuk dilakukan dan diterapkan di Jalur Lintas Selatan Tulungagung. Pesona alam yang indah akan menarik wisatawan dari Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. berbagai daerah untuk berkunjung dan hal ini menarik untuk dikaji dan dikembangkan sebagai langkah awal dalam mengembangkan pariwisata di JLS Tulungagung. Brundtland . menyatakan bahwa Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep pembangunan dengan mempertimbangkan kebutuhan masa depan tanpa mengesampingkan kebutuhan saat ini dalam memenuhi kebutuhannya. Konsep tersebut yang kemudian digunakan dalam konsep dari pembangunan wisata berkelanjutan. Sustainable tourism merupakan proses pembangunan pariwisata yang memfokuskan pada kelestarian sumberdaya untuk membangun pariwisata di masa yang akan datang. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif . menyatakan bahwa UNWTO (United Nations-World Tourism Organizatio. mengartikan sustainable tourism adalah sebuah konsep pariwisata yang mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa mendatang, memenuhi kebutuhan wisatawan dan industri pariwisata, lingkungan serta masyarakat lokal (Rahmat, 2. Oleh Karena itu. Pariwisata halal harus selaras dengan keseimbangan alam sehingga konsep sustainable tourism juga perlu untuk dilakukan agar tidak merusak ekosistem atau lingkungan didaerah wisata tersebut. Sustainable tourism dan sikap toleransi penting untuk terus dikaji sehingga hal tersebut dapat menciptakan dan mengupayakan adanya pariwisata halal agar semua kalangan masyarakat dapat berkembang baik dari segi budaya, agama dan lingkungan yang dapat bersinergi untuk menciptakan ekonomi yang maju dari sektor pariwisata dan menciptakan harmoni antar masyarakat. Oleh sebab itu, penulis menggali apa saja potensi sustainable tourism yang ada di sepanjang Jalur Lintas Selatan Tulungagung. Potensi tersebut kemudian dihubungkan dengan bagaimana sikap moderasi beragama yang ditunjukkan sehingga konsep pariwisata halal dapat diterima dengan baik oleh semua lapisan agama di masyarakat. Sehingga penelitian ini dapat memberikan kontribusi keilmuan tentang pariwisata berkelanjutan dan moderasi beragama sehingga kedepan penelitian akan terus berkembang dan dapat menjadikan Pariwisata JLS menjadi destinasi Pariwisata Halal. Diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi dalam bentuk manfaat praktis kepada pemerintah dan stakeholder setempat di JLS Tulungagung dalam bentuk rencana program tahunan yang dapat diambil dari penelitian ini. Pariwisata halal dapat diwujudkan dengan banyak melakukan analisis dan melakukan upaya untuk segera mewujudkan apasaja yang sudah dicanangkan dalam bentuk penelitian-penelitian sejenis dan terus berupaya bersama semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan pariwisata halal di Jalur Lintas Selatan Tulungagung. METODE PENELITIAN Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dengan penelitian kualitatif, peneliti akan menerapkan pendekatan Penelitian eksploratif yang berfokus pada menggali aspek-aspek yang belum banyak diteliti atau dipahami. Dalam konteks ini, penelitian eksploratif bisa digunakan untuk meneliti potensi wisata halal di suatu daerah yang mungkin masih dalam tahap pengembangan atau belum banyak diketahui secara umum, yakni potensi wisata di JLS Tulungagung dengan menggali potensi sustainable tourism dan moderasi beragama yang ada disana. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan sumber data yang digunakan Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. sebagai berikut: Pertama. Data Primer merupakan hasil penelitian yang langsung berasal dari pemangku kepentingan dan beberapa masyarakat yang ikut andil di wisata Jalur Lintas Selatan Tulungagung. Kedua. Data sekunder adalah data atau dokumen yang digunakan sebagai sumber data yang diperoleh dalam bentuk dokumen-dokumen seperti buku, karya ilmiah, jurnal, dan karya lainnya yang masih memiliki hubungan dengan masalah yang Teknik penetapan responden dalam penelitian kualitatif adalah bersifat nonprobabilistik, artinya tidak dilakukan secara acak atau representatif secara statistik, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu yang dianggap memberikan informasi yang kaya dan mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pihak seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung. MUI Tulungagung. Warga sekitar JLS Tulungagung, pengunjung destinasi wisata Tulungagung, dan beberapa pihak yang berkaitan dengan penelitian ini. Sumber sekundernya adalah beberapa literatur terkait pariwisata halal, potensi sustainable tourism dan moderasi beragama yang dapat dijadikan sebagai suatu pengembangan konsep pariwisata halal dan artikel yang berkaitan. Teknik pengumpulan data yang digunakan di penelitian ini adalah observasi, wawancara secara mendalam, dan dokumentasi seluruh rangkaian kegiatan penelitian. Analisis data yang digunakan di penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang bersifat eksploratif, yaitu untuk mengeksplorasi fenomena baru yang belum diketahui. Fenomena baru tersebut adalah mengupayakan menjadikan pariwisata halal dimana saat ini trend halal semakin berkembang dan output nya akan terbentuk logbook atau acuan yang dapat menjadi masukan untuk Pemangku kepentingan wisata sepanjang Jalur Lintas Selatan Tulungagung. HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Sustainable Tourism Pariwisata berkelanjutan, seperti yang digambarkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), mencakup bentuk pariwisata yang dengan cermat mempertimbangkan konsekuensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang komprehensif baik di masa sekarang maupun untuk generasi mendatang, sementara secara bersamaan menangani kebutuhan wisatawan, sektor pariwisata, lingkungan, dan penduduk lokal. Ini menyiratkan bahwa kemajuan pariwisata berkelanjutan merupakan upaya yang kohesif dan sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dengan mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan, dan pelestarian sumber daya alam dan budaya yang Tujuan ini dapat dicapai melalui pemberlakuan kerangka tata kelola yang kuat yang mendorong keterlibatan aktif dan adil di antara entitas pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat secara lebih luas (Sulistyadi dkk. , t. Sesuai dengan ketentuan yang diuraikan dalam Pasal 3 Peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016, pedoman destinasi pariwisata berkelanjutan meliputi pengelolaan daerah pariwisata berkelanjutan, manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat, pelestarian warisan budaya baik bagi penduduk maupun pengunjung, serta pelestarian sumber daya lingkungan. Pemanfaatan potensi sumber daya alam sering terjadi dengan cara yang kurang optimal dan menunjukkan Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. kecenderungan terhadap praktik eksploitatif. Tren yang berlaku ini memerlukan perbaikan melalui kemajuan sektor pariwisata, yang harus melibatkan alam dan budaya yang didasarkan pada kerangka pembangunan regional yang terintegrasi dan komprehensif. Potensi yang melekat pada pariwisata alam dan budaya di wilayah tertentu harus dibudidayakan untuk menumbuhkan sinergi di antara berbagai kepentingan, serta untuk meningkatkan signifikansi daerah melalui manajemen yang terpadu dan strategi promosi, yang dirangkum oleh konsep layanan one stop service, di mana lokasi dapat menawarkan berbagai layanan dan dapat menikmati beragam pengalaman yang bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya pariwisata dan budaya, sehingga berfungsi sebagai tolok ukur untuk pemberdayaan masyarakat (Setijawan, 2. Dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan dan pariwisata berkelanjutan memiliki banyak tantangan dan kita seharusnya menentukan apakah suatu destinasi tertentu benar-benar memiliki nilai Oleh karena itu, para pengelola pariwisata harus bertanya pada dir lembaga mereka sendiri mengapa sumber daya yang langka seperti itu harus menjadi subjek dari strategi keberlanjutan. Bramwell dan Lane menunjukkan bahwa pemantauan keberlanjutan secara aktif lebih disukai dibanding dengan ketidakaktifan yang meningkatkan kemungkiann hasil yang tidak berkelanjutan dalam keberlanjutan destinasi tersebut (Angelevska-Najdeska & Rakicevik, 2. Peran Moderasi Beragama Dalam penelitian ini. Kajian teori moderasi beragama adalah topik yang menarik dalam konteks studi agama dan sosial. Moderasi beragama merujuk pada pendekatan dalam beragama yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan penolakan terhadap ekstremisme atau fanatisme. Pendekatan ini sering ditekankan dalam upaya untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai, terutama di negara-negara dengan keragaman agama dan budaya. Pariwisata memiliki daya tarik berupa keragaman budaya di daerah wisata tersebut, ekonomi yang berkembang didaerah pariwisata tersebut sehingga masyarakat perlu untuk mengolah agar wisata tersebut dapat dijadikan destinasi yang memiliki daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke wisata tersebut. Dalam penelitian ini adalah Wisata JLS Tulungagung. Kata moderasi secara bahasa berasal dari bahasa Latin. Yakni moderasi yang berarti keadilan . idak berlebihan. tidak kekuranga. , sedangkan moderasi dalam bahasa Inggris biasanya di istilahkan dengan kata core, average, standard dan non-aligned. Yang berarti moderat memerlukan keseimbangan baik dalam konteks keyakinan, moral dan akhlak, serta dalam memandang orang lain sebagai individu maupun dalam berurusan dengan lembaga pemerintah. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia . , moderasi diartikan sebagai penguragan kekerasan dan penghindaran keekstreman (Salim dkk. Dalam konteks pemahaman Indonesia yang multikultural dan multireligius, teori moderasi beragama menekankan pentingnya sikap toleransi, saling menghargai, dan menghindari segregasi agama atau diskriminasi. Moderasi beragama di sini dilihat sebagai landasan untuk membangun persatuan dalam keberagaman, melalui dialog antaragama dan pembelajaran lintas budaya. Moderasi beragama terdiri dari moderasi Islam, moderasi Kristen. Moderasi Budha, moderasi Hindu, moderasi Khonghucu, dan moderasi agama lain. Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Banyak teori yang menyebutkan istilah moderasi beragama secara eksplisit dan implisit, namun praktik moderasi beragama tidaklah mudah untuk diidentifikasikan dan Menurut Hamid . Moderasi juga sering diistilahkan sebagai Wasathiyyah dan dihadapkan dengan istilah Liberalisme, radikalisme, ekstremisme, dan puritarisme (Salim dkk. , 2. Pariwisata Halal dengan Potensi Sustainable Tourism dan Moderasi Beragama di Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung Pengembangan destinasi wisata menuju Pariwisata halal diperlukan analisis lebih mendalam Apakah wisata tersebut sudah memenuhi kriteria dan standar yang sudah ditetapkan untuk menjadi destinasi wisata halal atau tidak. Menganalisis potensi sustainable tourism . eberlanjutan wisat. dan moderasi beragama dinilai penulis diperlukan dalam pengembangan destinasi wisata halal. Keberlanjutan wisata dinilai perlu dijadikan kriteria agar pariwisata tidak hanya di explore untuk masa kini tetapi perlu ditindaklanjuti agar generasi mendatang wisata ini tetap terjaga alam dan keasriannya. Fatwa DSN MUI No: 108/DSN-MUI/X/2016 menyebutkan bahwa Destinasi Wisata Syariah adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih kawasan administratif yang didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas ibadah dan fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan saling melengkap dalam mewujudkan kepariwisataan yang sesuai dengan prinsip syariah (Majelis Ulama Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki payung hukum terkait pariwisata halal walaupun belum dipraktikkan secara maksimal karena tidak ada hukum yang mewajibkan adanya pariwisata halal di destinasi wisata yang ada di Indonesia. Bidang pengembangan Pariwisata Tulungagung Endang Sirtupilaeli . mengatakan bahwa Masyarakat sekitar wisata di Jalur Lintas Selatan perlu menyadari kekayaan alam wisata nya sehingga dapat memberikan dampak positif ke masyarakat lokal Tulungagung. Dinas Pariwisata Tulungagung telah ikut berpartisipasi dalam mengembangkan wisata di sepanjang Jalur Lintas Selatan yang bekerjasama dengan pemerintah provinsi Jawa timur untuk mengadakan sharing anggaran untuk melakukan pelatihan dan mengundang pengelola wisata (Pokdarwis/Kelompok Sadar Wisat. untuk mengikuti pelatihan pemandu wisata yang diperlukan untuk meningkatkan keahlian dan skill mengenai pengembangan wisata di daerah Tulungagung. Saat ini Jalur Lintas Selatan belum selesai dibangun sehingga sampai saat ini masih dalam proses pembangunan jalan yang ada di sepanjang Jalur Lintas Selatan yang menghubungkan antara Trenggalek. Blitar, dan Tulungagung Jawa Timur. Menurut Informasi yang dihimpun dari laman DPRD Jawa Timur tahun 2020 bahwa panjang JLS mulai dari Pacitan hingga Banyuwangi akan terbentang dengan total 684 KM. Sementara itu, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun jalan JLS berkisar sampai Rp 4,78 Triliun (Sarti. Rofia Ismania, 2. Pariwisata didaerah sepanjang Jalur Lintas Selatan Tulungagung terdiri dari beberapa pantai, seperti Pantai Lumbung. Pantai Mutiara. Pantai Pasir Putih Karanggongso. Pantai Simbaronce. Pantai Prigi. Pantai Cngkrong. Pantai Damas. Pantai Midodaren. Pantai Gemah. Pantai Bayeman. Pantai Klatak. Ngelinci. Teluk Popoh. Adapun destinasi goa sepanjang Jalur Lintas Selatan Tulungagung seperti: Goa selomangleng. Goa pasir. Goa Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Tenggar. Goa Tan Tik Soe Sian. Keindahan wisata yang ada di sepanjang Jalur Lintas Selatan ini diharapkan dapat menarik wisatawan dari luar untuk mengunjungi wisata di JLS. Namun, tentunya kesiapan dari masyarakat lokal dan pemerintah kabupaten Tulungagung untuk memberikan fasilitas yang nyaman dan aman sehingga hal ini dapat menarik wisatawan dari luar lebih banyak untuk datang berwisata ke JLS. Dan masyarakat lokal akan dapat pemasukan berupa pendapatan dari wisatawan luar dengan menjual makanan, pernak penik khas, pakaian dan semua dagangan yang tidak bertentangan dengan standar Diantara wisata tersebut terdapat 1 destinasi yang menurut penulis dapat difokuskan untuk dikembangkan menjadi pariwisata halal dan dapat menjadi referensi objek wisata lain di JLS yaitu pantai midodaren. Fasilitas dari pantai ini cocok jika dikembangkan menjadi wisata halal di JLS Tulungagung. Fasilitas yang disediakan berupa: Shuttle mini bus, resort semilir, kebun kelapa kopyor, kebun durian musang king, kebun alpukat, fasilitas toilet gratis, musholla yang memadai, laundry semilir, mess karyawan semilir, cafetaria semilir. RM didalam pantai midodaren, gajebo di tepi pantai, fasilitas ayunan di tepi pantai. Alfamart, dan fasilitas lain penunjang wisata di pantai midodaren. Lengkap nya fasilitas midodaren ini merupakan perwujudan dari kerjasama pemerintah, investor yaitu PT TWSS (Taman Wisata Sumo Supart. , sebagian tanah milik Perhutani yang sama-sama memiliki keinginan untuk membangun dan mengembangkan wisata di pantai midodaren. Hal ini diungkap oleh Bidang pengembangan Pariwisata Endang Sirtupilaeli . yang menyatakan bahwa dibutuhkan kerjasama antar pemangku wisata agar dapat mengembangkan destinasi wisata yang menarik dan tetap menjaga keasrian dari wisata (E. Sirtupilaeli, komunikasi pribadi. Desember 2. Arida menyebutkan bahwa dalam membangun pariwisata yang bersifat keberlanjutan (Sustainable Tourim. maka diperlukan prinsip-prinsip berikut yang dapat mendorong pariwisata berkelanjutan (Putri. I Gusti Ayu Volly dkk. , 2. Partisipasi. Masyarakat harus mengawasi pembangunan pariwisata dengan keterlibatan dalam menentukan visi pariwisata, mengkategorikan sumber daya yang akan dipelihara dan ditingkatkan, serta mengembangkan tujuan-tujuan dan strategistrategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan dan mengelola wisata. Jika dikaitkan dengan penelitian ini, maka Partisipasi masyarakat di sekitar JLS Tulungagung sudah baik karena mereka ikut serta dalam mengembangkn wisata dengan membentuk POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisat. yang per desa sudah ada 1 kelompok yang ikut bergabung di Organisasi POKDARWIS tersebut. Keikutsertaan para pelaku/stakeholder. Para pelaku yang ikut dalam pembangunan pariwisata merupakan kelompok dan institusi LSM (Lembaga Swadaya Masyaraka. , kelompok sukarelawan, pemerintah daerah, asosiasi wisata, asosiasi bisnis dan pihakpihak lain yang berpengaruh dan berkepentingan serta pihak yang akan menerima dampak dari kegiatan pariwisata. Di JLS sudah ada POKDARWIS yang merupakan sukarelawan yang ikut serta dalam mengembangkan wisata yang ada di Tulungagung. Kepemilikan Lokal. Dalam membangun pariwisata harus menawarkan lapangan pekerjaan yang berkualitas untuk masyarakat sekitar. Fasilitas penunjang kepariwisataan meliputi hotel, restoran, dan lain sebagainya. Di sepanjang JLS Tulungagung banyak sekali wisata yang ada disana. Walaupun belum semua terdapat Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. fasilitas yang memadai namun ada Pantai Midodaren yang dibangun dengan menggandeng investor dari luar yakni PT TWSS (Taman Wisata Sumo Supart. Pemerintah kabupaten Tulungagung, dan Perhutani. Fasilitas di pantai ini lengkap: meliputi musholla, warung makan, gajebo gratis. Resort, perbelanjaan, dan lain-lain. Penggunaan sumber daya yang berkelanjutan. Dalam membangun pariwisata harus menggunakan sumber daya yang berkelanjutan yang artinya kegiatan yang dilakukan harus menghindari penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui secara Hal ini masih menjadi kajian oleh pemerintah dan stakeholders terkait untuk mengkaji apa saja yang dikembangkan dan tidak agar tidak ada yang dirugikan dalam pengembangan wisata yang ada di Jalur Lintas Selatan. Seperti yang sudah di katakan Bidang pengembangan Pariwisata yaitu Bu Endang Sirtupilaeli perlu nya pemerintah, stakeholders dan pihak-pihak yang berkaitan untuk duduk bersama dalam mengkaji wisata yang ada di Tulungagung (E. Sirtupilaeli, komunikasi pribadi. Desember 2. Monitor dan Evaluasi. Hal ini mencakup penyusunan pedoman, evaluasi dampak kegiatan wisata serta pengembangan indikator-indikator dan batasan-batasan untuk mengukur dampak pariwisata. Menurut Penulis bahwa masih belum adanya monitoring secara berkala oleh pihak pihak yang terkait di wisata yang ada disepanjang Jalur Lintas Selatan Tulungagung namun sudah banyak dilakukan seperti Dinas Pariwisata Tulungagung sudah memberikan himbauan kepada masyarakat sekitar jika terdapat sesuatu yang dirasa tidak sesuai dengan pedoman wisata yang ada di Tulungagung. Pelatihan. Dalam membangun pariwisata berkelanjutan membutuhkan implementasi program-program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan meningkatkan keterampilan bisnis, vocational, dan profesional. Pelatihan yang dilakukan harus berkaitan dengan topik pariwisata berkelanjutan, manajemen perhotelan, serta topik-topik lain yang relevan. Hal ini sudah di lakukan oleh pemerintah kabupaten Tulungagung melalui Dinas Pariwisata yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memberikan pelatihan kepada mereka yang ada di sekitar wisata seperti POKDARWIS untuk mengikuti pelatihan seperti pelatihan pemandu wisata, dan lain sebagainya yang mendukung pengembangan wisata yang ada di JLS Tulungagung. Promosi. Dalam membangun pariwisata berkelanjutan harus melibatkan promosi penggunaan lahan dan kegiatan yang menunjukkan aktivitas masyarakat lokal Hal ini sudah dilakukan oleh pemerintah maupun swasta untuk menunjukkan promosi atau pengenalan wisata melalaui sosial media seperti Instagram, website dan lain lain yang berisi destinasi wisata di sepanjang Jalur Lintas Selatan Tulungagung. Instagram Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung: @disbudparkabtulungagung . Prinsip prinsip dari sustainable tourism perlu dikaji dan perlu ada tindakan lanjutan agar keindahan alam dan sesuatu didalam nya dapat terus terjaga. Keindahan alam JLS tentu menarik wisatawan untuk berkunjung dan menikmati panorama alam dan fasilitas yang disediakan di sana. Menurut Data Badan Pusat Statistik Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Kabupaten Tulungagung jumlah wisatawan mancanegara dan domestik di Kabupaten Tulungagung pada tahun 2015-2022 sebagai berikut: Tahun Wisatawan Jumlah Domestik Mancanegara Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabel diatas menunjukkan jumlah wisatawan yang mengunjungi destinasi di Tulungagung terus meningkat walaupun pada tahun 2021 mengalami penurunan yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Wisatawan mancanegara belum banyak mengunjungi Tulungagung. Hal ini menunjukkan bahwa Wisata ini belum banyak diminati oleh wisatawan mancanegara. Hal ini terus menjadi kajian bagi pemerintah untuk bersamasama membangun destinasi wisata yang ada di Tulungagung, khususnya di JLS Tulungagung. Moderasi beragama juga diperlukan dalam pengembangan wisata halal karena penulis menilai Kita semua harus memiliki sikap moderasi beragama yakni sikap yang moderat . alan tenga. tidak menilai sesuatu condong ke kanan atau ke kiri. Jadi sikap moderat ini perlu untuk menilai bahwa wisata halal tidak hanya diperlukan untuk Muslim saja tetapi semua agama bisa dijadikan alasan untuk pengembangan wisata halal. Karena sejatinya pengembangan wisata halal tidak merugikan agama lain jika sudah dikembangkan dan berdiri menjadi destinasi wisata halal. Dalam pengembangan sebuah destinasi wisata menjadi Pariwisata Halal tentunya dibutuhkan adanya penyesuaian masyarakat dan wisatawan dalam menerapkan standar wisata halal. Seperti Bagaimana wisatawan nonMuslim merasa nyaman dan aman berada di daerah wisata yang berstandar wisata Sikap mental yang moderat, adil, dan berimbang menjadi kunci dalam mengelola keberagaman yang ada di Indonesia. Dalam rangka membangun negara-bangsa, setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk membangun kehidupan bersama yang damai. Kamali . menyatakan bahwa moderat mengandung dua kata kunci, yaitu seimbang dan adil. Widyana dkk . mengatakan bahwa moderat bukan berarti kita mengkompromikan prinsip-prinsip dasar . dalam ajaran agama yang diyakini sebagai ibadah demi bersikap toleran, tetapi bersikap yakin pada halhal berlawanan dan menghargai untuk menciptakan kerukunan sosial (Bahri Soi dkk. Dalam konsep pariwisata halal, sikap moderat disini berarti harus seimbang dan adil bahwa dengan pariwisata halal tidak condong untuk membuat nyaman wisatawan Muslim saja tetapi semua pengikut agama merasa aman dan nyaman berada di destinasi wisata halal dan tertarik untuk berkunjung di destinasi wisata halal khususnya di JLS Tulungagung. Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Seperti yang dikatakan M. Anang Muhsin . MUI Tulungagung bahwa pantai dan wisata di sepanjang Jalur Lintas Selatan masih seperti destinasi wisata lainnya. Belum ada label desinasi wisata di JLS yang disebut wisata halal, namun ada peluang dan potensi untuk menjadi pariwisata halal karena fasilitas ibadah seperti Mushola juga disediakan di JLS. Berkunjung ke suatu tempat wisata baiknya diniati untuk refreshing dan tadabbur untuk menikmati keindahan ciptaan Allah maka wisata seperti ini diharapkan dan jauh dari kemunkaran (M. Muhsin, komunikasi pribadi, 13 September 2. Sikap moderat dalam mengembangkan pariwisata diperlukan agar dalam menciptakan wisata halal kita dapat rukun, toleran dan damai antar semua umat beragama. Sikap moderasi beragama adalah sebagai berikut: Pertama. Tasamuh . Sikap ini sudah ditunjukkan oleh masyarakat sekitar Jalur Lintas Selatan dan dibuktikan dengan adanya pendirian gereja dan masjid disekitar JLS. Bahkan beberapa masjid berdampingan walaupun berbeda golongan seperti golongan LDII dan aswaja. Kedua. AoAdalah . Penulis menilai bahwa JLS sudah menunjukkan sikap keadilan dengan masyarakat sekitar JLS yang sudah berbondong-bondong untuk mengembangkan wisata dengan berjualan berbagai dagangan yang tidak menentang prinsip Islam. Ketiga, ukhuwah Islamiyyah. Penulis menilai bahwa masjid yang berdampingan walaupun berbeda golongan dan aliran menunjukkan bahwa masyarakat sekitar JLS khususnya di Besuki ditemui beberapa masjid yang saling berdampingan maka ukhwah Islamiyyah diantara mereka Keempat, ukhuwah Insaniyah. Penduduk JLS juga menjaga hubungan antar umat karena mereka juga menerima tamu dari luar Tulungagung untuk dapat berwisata dengan nyaman di JLS. Kelima, keberagaman dalam beragam agama, yang dinilai penulis disana ada berbagai macam agama terbukti ada gereja, masjid dimana mana dan lain Keenam. Islam Rahmatan lil Aoalamiin. JLS merupakan jalan lintas selatan yang menjadi penghubung antar kota seperti Tulungagung. Blitar, dan kota disekitarnya dinilai penulis sudah menjalankan prinsip Islam Rahmatan LilAoalamin karena fasilitas musholla yang ada di setiap destinasi wisata disana dinilai penulis walaupun tempat ibadah Muslim ada namun agama lain tidak terganggu dengan hal itu merupakan sikap yang ditunjukkan oleh prinsip ke enam ini. Sikap moderasi beragama adalah sebagai berikut: Pertama. Tasamuh . Sikap ini sudah ditunjukkan oleh masyarakat sepanjang Jalur Lintas Selatan dan dibuktikan dengan adanya pendirian gereja dan masjid disekitar JLS. Bahkan beberapa masjid berdampingan walaupun berbeda golongan seperti golongan LDII dan aswaja. Kedua. AoAdalah . Penulis menilai bahwa JLS sudah menunjukkan sikap keadilan dengan masyarakat sekitar JLS yang sudah berbondong-bondong untuk mengembangkan wisata dengan berjualan berbagai dagangan yang tidak menentang prinsip Islam. Ketiga, ukhuwah Islamiyyah. Penulis menilai bahwa masjid yang berdampingan walaupun berbeda golongan dan aliran menunjukkan bahwa masyarakat sekitar JLS khususnya di Besuki ditemui beberapa masjid yang saling berdampingan maka ukhwah Islamiyyah diantara mereka Keempat, ukhuwah Insaniyah. Penduduk JLS juga menjaga hubungan antar umat karena mereka juga menerima tamu dari luar Tulungagung untuk dapat berwisata dengan nyaman di JLS. Kelima, keberagaman dalam beragam agama, yang dinilai penulis disana ada berbagai macam agama terbukti ada gereja, masjid dimana mana dan lain sebagainya. Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Keenam. Islam Rahmatan lil Aoalamiin. JLS merupakan jalan lintas selatan yang menjadi penghubung antar kota seperti Tulungagung. Blitar, dan kota disekitarnya dinilai penulis sudah menjalankan prinsip Islam Rahmatan LilAoalamin karena fasilitas musholla yang ada di setiap destinasi wisata disana dinilai penulis walaupun tempat ibadah Muslim ada namun agama lain tidak terganggu dengan hal itu merupakan sikap yang ditunjukkan oleh prinsip ke enam ini. Seperti yang dikatakan oleh Bidang Pengembangan Pariwisata Bu Endang Sirtupilaeli bahwa Pantai Midodaren merupakan pantai yang dibangun oleh Investor bersama dengan Perhutani dan pemerintah kabupaten Tulungagung telah mendapatkan penghargaan pantai terbaik menurut AuEast Java Tourism WorldAy pada tahun 2023 (E. Sirtupilaeli, komunikasi pribadi. Desember 2. Hal ini tentunya dapat menjadi referensi pantai lain yang ada di sepanjang JLS Tulungagung untuk dapat meningkatkan dan membangun wisata agar dapat menjadi pilihan destinasi wisatawan untuk berkunjung Pariwisata Halal adalah konsep yang unik bagi wisatawan Muslim dan non Muslim. Tim Kementerian Pariwisata meraih kemenangan awal dalam pariwisara halal sebagai berikut (Aviva dkk. , t. ): Pertama, membuat paket wisata halal yang terintegrasi di daerah, khususnya di daerah masing-masing dengan menawarkan fasilitas dengan suguhan kekayaan alam dan budaya yang unggul. Hal ini masih menjadi rencana yang diusung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung. Kedua, mempromosikan barang-barang wisata halal yang unggul kepada masyarakat dengan branding wisata halal menggunakan media sosial dan pameran. Hal ini sudah banyak promosi mengenai wisata dan produk unggulan Tulungagung oleh Dinas kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung namun belum ada branding wisata/produk halal didalamnya. Ketiga, membuat dan menyetujui Undangundang yang mengatur wisata halal. Ada Perda No 2 2017 kab. Tulungagung tapi belum memasukkan wisata halal didalamnya. Wisata halal sudah ada potensi didalamnya hanya saja perlu pengembangan dari semua pihak dalam membangun pariwisata halal di JLS Tulungagung karena potensi sustainable tourism dan moderasi beragama disana sudah ada hanya saja seperti keberlangsungan sustainable tourism perlu menggandeng pemerintah agar ada payung hukum yang dapat menjadi kekuatan oleh berbagai pihak dalam menjalankan keberlangsungan dari konsep sustainable tourism . eberlanjutan pariwisat. dan moderasi beragama ini dapat ditunjukkan oleh pihak yang akan mengembangkan pariwisata halal agar toleransi dan kerukunan antar umat dapat terjalin dengan baik dan membuat nyaman semua agama dari pengunjung yang datang ke JLS Tulungagung. Pariwisata halal tidak dapat diwujudkan sendiri, tetapi harus bersinergi dengan semua pihak yang terlibat seperti industri halal, termasuk sektor finansial dan pembiayaan. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama dalam mendorong pengembangan pariwisata halal. Dengan mengembangkan pariwisata halal, maka harapannya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan lebih luas adalah negara. Masyarakat akan mendapatkan penghasilan dengan beragam pekerjaan dan berdagang maupun penyewaan di sekitar wisata dan pemasukan devisa negara sebagai kekayaan negara. Hal ini harus menjadi perhatian bersama karena potensi wisata halal ini memiliki prospek yang bagus di masa yang akan datang (Reza, 2. Ad- Diwan: Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. SIMPULAN Pengembangan pariwisata halal di Jalur Lintas Selatan Tulungagung memiliki potensi besar dengan menggali pariwisata berkelanjutan . ustainable touris. dan moderasi beragama. Potensi alam yang melimpah, budaya lokal yang beragam, serta nilainilai Islam yang sudah mengakar di masyarakat setempat menjadi keunggulan yang dapat diintegrasikan dalam pengembangan pariwisata halal. Konsep moderasi beragama yang mengedepankan toleransi dan kerukunan memperkuat penerimaan masyarakat terhadap wisatawan dari berbagai latar belakang. Hal ini berkontribusi dalam menciptakan harmoni sosial dan ekonomi di kawasan tersebut. Namun, terdapat beberapa tantangan seperti infrastruktur yang belum selesai, keterbatasan SDM dalam pelayanan pariwisata halal, serta minimnya promosi yang terfokus pada segmen halal tourism. Saran dari penulis dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut: . Dalam rangka meningkatkan infrastruktur pemerintah daerah dan pihak pariwisata dinas dinas yang berkaitan perlu memprioritaskan pengembangan infrastruktur seperti musholla . empat ibada. di titik-titik tertentu di pusat wisata di JLS, akses jalan, akomodasi yang sesuai dengan prinsip halal, . Penguatan SDM dengan pelatihan dan sertifikasi untuk pelaku usaha pariwisata JLS Tulungagung mengenai konsep halal tourism, . Meningkatkan kerjasama dengan stakeholder, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata halal di JLS Tulungagung dengan konsep sustainable tourism dan moderasi beragama . Promosi secara gencar-gencaran lewat website, sosmed seperti IG. Instagram. Fb, dan lain lain, . Mengelola lingkungan dengan program pelestarian lingkungan dengan melibatkan dinas terkait seperti dinas kesehatan, masyarakat lokal, komunitas masyarakat sekitar dalam mempertahankan alam wisata secara jangka panjang. Dengan implementasi Hal-hal diatas, diharapkan Jalur Lintas Selatan Tulungagung dapat menjadi destinasi pariwisata halal yang unggul, berkelanjutan, dan inklusif, serta menunjukkan kerukunan antar umat beragama. DAFTAR PUSTAKA