Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Pendidikan Budi Pekerti dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara dan Implikasinya terhadap Karakter Siswa Muslim Dini Rahmadani 1 . Dinda Selviza 2 . Aulia Dwi Putri Herrian3. Mhd. Zulfadi Maha4. Zaifatur Ridha5 Email: Putrie. aulia0603@gmail. com, selvizadinda@gmail. com, dinirh1210@gmail. aldi201925@gmail. com, zaifatur_ridha@staijm. (Institut Jam`iyyah Mahmudiya. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan budi pekerti dan menganalisis relevansinya terhadap pembentukan karakter siswa Muslim di era kontemporer. Latar belakang penelitian ini dilandasi oleh urgensi penguatan pendidikan karakter di tengah meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa pendidikan karakter harus dilandasi pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan kondusif yang menumbuhkan nilai moral, spiritual, dan intelektual secara terpadu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Sumber data diperoleh dari buku-buku, artikel ilmiah, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan konsep pendidikan budi pekerti dan karakter dalam pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara memiliki keselarasan yang erat dengan ajaran Islam, terutama dalam hal pengembangan akhlak mulia. Tiga pendekatan utama Ki Hadjar, yaitu metode Ngerti . Ngrasa . , dan Nglakoni . , terbukti efektif dalam membentuk karakter peserta didik yang utuh. Implikasi dari pemikiran ini terhadap siswa Muslim mencakup penguatan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab sosial, hormat dan toleransi, serta cinta tanah air, yang semuanya sejalan dengan nilai-nilai dalam pendidikan Islam. Dengan demikian, pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara dapat menjadi fondasi strategis dalam membentuk karakter siswa Muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Penelitian ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai karakter Ki Hadjar dalam kurikulum pendidikan Islam untuk memperkuat pembentukan kepribadian siswa di tengah tantangan zaman. Kata Kunci: Pendidikan karakter. Ki Hadjar Dewantara. Siswa Muslim Pendahuluan Pendidikan karakter telah menjadi isu sentral dalam dunia pendidikan Indonesia, terutama di tengah meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan remaja, termasuk siswa yang masih berstatus pelajar. Kondisi ini memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter yang kuat kepada peserta didik, agar generasi bangsa terhindar dari kemerosotan moral dan mampu menjadi pribadi yang berakhlak mulia (Supriyadi, 2. Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan nasional menawarkan konsep pendidikan karakter yang menekankan pembentukan karakter melalui pembiasaan, keteladanan dan 219 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin lingkungan yang kondusif. Metode-metode yang dikenal seperti among, ngemong dan prinsip memahami, merasakan dan berbuat, menekankan pentingnya peran guru dan lingkungan dalam membimbing tumbuh kembang karakter siswa sesuai dengan fitrahnya. (Bustomi, 2. Nilainilai utama yang ditekankan meliputi kedisiplinan, kerja keras, kemandirian, kepedulian sosial, tanggung jawab dan cinta tanah air. (Sidon, 2. Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidikan karakter juga menjadi tujuan utama, dengan orientasi pada pembentukan karakter, pengembangan intelektual dan spiritualitas. Konsep Ki Hajar Dewantara mempunyai relevansi dengan pendidikan Islam, khususnya dalam integrasi moral, intelektual dan spiritual yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari siswa Muslim. (Salam, 2. Pentingnya pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara tidak hanya untuk membentuk peserta didik yang cerdas secara intelektual saja, tetapi juga cerdas secara sosial dan emosional, sehingga mampu menjadi generasi yang berdaya saing dan berbudi luhur(Haryati. Dengan demikian, mengkaji pendidikan karakter dalam perspektif Ki Hajar Dewantara dan implikasinya terhadap karakter peserta didik muslim menjadi sangat relevan untuk memperkuat landasan moral dan karakter generasi muda di era modern. Dalam konteks siswa Muslim, pendidikan budi pekerti sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan akhlak mulia. Sebagaimana di dalam hadist . alah satu sumber hukum Isla. Dari Jabir ra. bahawasanya Rasulullah saw. bersabda: AuSesungguhnya termasuk golongan orang yang paling saya cintai di antara engkau semua serta yang terdekat kedudukannya dengan saya pada hari kiamat ialah yang terbaik budipekartinya di antara engkau semua itu dan sesungguhnya termasuk golongan orang yang paling saya benci di antara engkau semua serta yang terjauh kedudukannya dengan saya pada hari kiamat ialah orang-orang yang banyak berbicara, sombong bicaranya serta merasa tinggi apa yang dipercakapkannya itu - kerana kebongkakannya. Ay Para sahabat berkata: AuYa Rasulullah, kita semua telah mengarti apa arti orang yang banyak bicara serta orang yang sombong bicaranya. Tetapi apakah yang dimaksud mutafaihiq itu. Ay Beliau menjawab: AuMereka itu ialah orang-orang yang sombong - merasa tinggi isi Ay(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidz. Di dalam hadist ini ditekankan pentingnya memiliki Budi pekerti yang baik. Oleh karena itu, menggali kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan mengkaji implikasinya terhadap pembentukan karakter siswa Muslim menjadi penting untuk memperkuat pendidikan moral yang holistik dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji 220 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan budi pekerti dan menganalisis relevansinya terhadap pembentukan karakter siswa Muslim di era kontemporer. Metode Penelitian Penelitian tentang konsep Pendidikan Budi Pekerti Dalam Perspektif Ki Hadjar Dewantara Dan Implikasinya Terhadap Karakter Siswa Muslim ini didasarkan pada tinjauan pustaka dan data yang dikumpulkan dan dievaluasi dari berbagai sumber antara lain buku dan publikasi ilmiah. Analisis deskriptif dan argumentatif digunakan untuk melakukan teknik kualitatif ini. Metode pengumpulan data dengan mencari informasi tentang item-item yang berupa variabel, serta catatan, buku, tulisan tangan dan formulir catatan penelitian (Dr. Rukin, 2. Dalam artikel ini, peneliti mengambil pendekatan kualitatif untuk penyelidikannya. Sedangkan pengumpulan data menggunakan metode penelitian kepustakaan. Telaah berbagai literatur berupa buku, catatan dan laporan hasil penelitian terdahulu yang fokus pada konsep Pendidikan Budi Pekerti Dalam Perspektif Ki Hadjar Dewantara Dan Implikasinya Terhadap Karakter Siswa Muslim. Hasil dan Pembahasan Pengertian Budi Pekerti Budi pekerti adalah gabungan antara akal sehat dan perilaku baik yang tercermin dalam tindakan, ucapan dan sikap seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Istilah AubudiAy merujuk pada akal, pikiran dan perasaan dalam diri manusia, sedangkan AupekertiAy berarti watak, sikap, atau karakter yang muncul dari dalam diri seseorang. Dengan demikian, budi pekerti dapat dipahami sebagai kesatuan antara akal yang berpikir dan hati yang merasa, yang kemudian menghasilkan perilaku yang baik, santun dan terpuji. Budi pekerti mencakup nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, empati, keadilan dan rasa hormat terhadap orang lain. Seseorang yang berbudi pekerti luhur akan mampu membedakan mana yang benar dan salah, serta bertindak dengan bijaksana dalam setiap situasi. Budi pekerti tidak hanya terlihat saat seseorang berbicara atau bersikap di depan umum, tetapi juga dalam bagaimana ia menjalani hidup sehari-hari dengan penuh tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama. Pengembangan budi pekerti tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui proses pendidikan dan pembiasaan sejak dini. Keluarga memiliki peran besar sebagai lingkungan pertama tempat anak belajar nilai-nilai moral. Sekolah juga turut membentuk budi Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin pekerti melalui pendidikan karakter dan keteladanan dari guru. Lingkungan masyarakat yang baik pun akan mendorong seseorang untuk bertingkah laku sesuai dengan norma sosial yang Budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara bukan sekadar teori atau pelajaran tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Budi pekerti juga bukan soal memberikan ceramah panjang tentang etika atau kehidupan jiwa manusia. Bagi Ki Hadjar, budi pekerti adalah sesuatu yang harus diajarkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang beradab. Pengajaran budi pekerti dilakukan lewat kebiasaan dan contoh nyata, misalnya mengajarkan anak duduk dengan sopan, tidak berteriak agar tidak mengganggu orang lain, menjaga kebersihan tubuh dan pakaian, menghormati orang tua dan sesama, serta bersikap suka menolong. Semua ini bertujuan agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang baik dalam masyarakat dan terbiasa melakukan hal-hal positif tanpa harus diajari teori panjang lebar. Tujuan Pendidikan Budi Pekerti Pendidikan budi pekerti merupakan program pengajaran di sekolah yang bertujuan mengembangkan watak atau tabiat siswa dengan cara menghayati nila-inilai dan keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral dalam kehidupannya melalui kejujuran, dapat dipercaya, disiplin dan kerja sama yang menekankan ranah afektif . erasaan dan sika. tanpa meninggalkan ranah kognitif . erpikir rasiona. dan ranah psikomotorik . eterampilan, terampil mengolah data, mengemukakan pendapat dan kerja sam. Tidak hanya itu pendidikan budi pekerti juga bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada satuan Melalui pendidikan budi pekerti peserta didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai budi pekerti dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Budi Pekerti Bangsa Indonesia yang telah mendeklarasikan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945 memiliki kondisi yang amat unik dilihat dari perkembangan pendidikannya saat ini. Kurang lebih 71 tahun rakyat Indonesia menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara secara Namun sangat ironis ketika kondisi bangsa sudah terkontaminasi oleh moral generasi muda yang rusak. Berbagi macam tindak kriminal, pelecehan seksual, kekerasan, seks 222 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin bebas, narkoba dan lain sebagainya sudah bukan hal tabu dikalangan generasi muda Indonesia. Jika hal ini dibiarkan, maka tidak menutup kemugkinan bangsa Indonesia akan mengalami degradasi di berbabagai sektor. Fenomena ini seakan menunjukkan bahwa pendidikan berkarakter menjadi kebutuhan mutlak bagi bangsa Indonesia. Sehingga nantinya tidak ada lagi generasi muda yang hanya pintar tapi tidak benar. Seperti yang diuraikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Budi pekerti, atau watak, yaitu bulatnya jiwa manusia, yang dalam bahasa asing disebut AukarakterAy. Orang yang telah mempunyai kecerdasan budi pekerti senantiasa memikirkan, merasakan serta selalui memakai ukuran, timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya tiap- tiap orang itu dapat kita kenal wataknya dengan pasti, karena watak atau budi pekerti itu memang bersifat tetap dan pasti buat satu-satunya manusia, sehingga dapat dibedakan orang yang satu dari pada yang lain. Budi pekerti, watak atau karakter, itulah bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, yang menimbulkan tenaga. Jadi budi pekerti itu sifatnya jiwa manusia, mulai angan-angan hingga terjelma sebagai tenaga (Andika, 2. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lainnya, tabiat, watak. Karakter merupakan kepribadian yang mencakup beberapa aspek yang luas, baik itu kualitas atau kekuatan mental seseorang, tercakup didalamnya juga akhlak atau juga budi pekerti dan ini merupakan kepribadian khusus yang dimiliki oleh individu. Meski demikian, dalam pendidikan budi pekerti, pembentukan karakter anak bangsa menjadi kewajiban. Dalam penerapannya di Indonesia dapat dilakukan dengan beberapa hal Menerapkan pendekatan modeling dan exemplary Menjelaskan atau mengklarifikasi secara kontinu tentang nilai kebaikan. Menerapkan pendidikan berdasarkan karakter . haracter based educatio. Perkembangan moral melibatkan tiga komponen dasar. Kohlberg menyebutkan ketiga komponen itu ialah moral behavior . aitu bagaimana seseorang bertingkah lak. , moral emotion . aitu apa yang dirasakan oleh seseorang setelah melakukan sesuat. , moral judgement . lasan yang dipakai orang dalam mengambil keputusa. Kohlberg membagi perkembangan moral seseorang dalam tiga tingkat, yaitu tingkat prakonvesional, tingkat konvesional dan tingkat pasca konvesional. Dari ketiga tingkat tersebut Kohlberg membagi menjadi enam tahap yaitu sebagai berikut. Orientasi pada hukuman dan ketaatan (Punishment-obedience orientatio. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Tahap orientasi hedonis (Instrumental-relativist orientatio. Orientas anak manis (Interpersonal concordance orientatio. Orientasi terhadap hukum dan ketertiban (Law and Order orientation/Social-order Maintainin. Orientasi kontrak sosial legalitas (Social contract orientatio. Orientasi suara hati (Universal ethical principle orientatio. Tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg berkaitan dengan penalaran . oral thinkin. bukan tindakan . oral actio. Orang yang mempunyai penalaran moral tingkat tinggi belum tentu berperilaku demikian pula, sehingga korelasi yang sempurna dari penalaran moral dan tingkah laku moral tidak dapat diharapkan. Hasil penelitian Kohlberg menemukan bahwa factor intelegensi, status sosial ekonomi, kelompok sosial dan factor pribadi dianggap sebagai hal-hal yang mempengaruhi perkembangan moral. Di samping itu faktor situasi, motivasi dan emosi juga dianggap mempengaruhi perilaku individu, sehingga sering terjadi ketidaksesuaian antara moral judgement dan moral behavior. Hal tersebut diatas senada dengan yang diuraikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa setiap manusia memiliki potensi berbeda yang merupakan bawaan sejak lahir. Hanya dengan pendidikanlah seluruh potensi yang dimiliki manusia berkembang sehingga menjadi manusia yang seuutuhnya. Maksud dari apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara ini bahwa pendidikan harus diarahkan pada pengolahan empat domain, diantaranya: olah pikir, olah rasa, olah raga dan olah hati. Proses pendidikan karakter diajarkan untuk mengupayakan keberhasilan dalam pendidikan karakter, ada beberapa proses pendidikan karakter yang perlu diterapkan di Indonesia, yaitu: (Ranu, 2. Knowing the good . aAoli. , yaitu tahap memberikan pemahaman tentang nilai-nilai agama/ akhlak melalui dimensi akal, rasio dan logika dalam setiap bidang studi Loving the good . , yaitu tahap menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai kebaikan, melalui dimensi emosional. Hati dan jiwa. Doing the good . , yaitu tahap mempraktekkan nilai-nilai kebaikan, melalui dimensi perilaku dan amaliyah. Berdasarkan keinginan dan dambaan orang tua dan para pendidik pada umumnya manusia seperti apa yang mereka inginkan terjadi dalam diri anak didik. Yang jelas mereka menginginkan bahwa anak didik menjadi manusia yang utuh, yang berkembang bukan hanya ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan nilai kemanusiaan yang lain. Lebih jelasnya manusia macam apa yang didambakan oleh pendidikan budi pekerti, diantaranya: Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Manusia sebagai makhluk yang berakal budi Manusia sebagai pribadi Manusia adalah makhluk sosial Manusia sebagai makhluk yang berbudaya Sebenarnya, pendidikan budi pekerti telah dipikirkan oleh para pendiri bangsa sejak Indonesia merdeka. Hal ini tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi ikut mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan Pancasila. Akantetapi sekitar tahun 1970- an pendidikan budi pekerti mulai tergerus bahkan sampai dihilangkan. Akibat dari ketiadaan budi pekerti. Indonesia harus menanggung konsekuensinya berupa bermacam- macam kasus KKN (Korupsi, kolusi dan Nepotism. Sehingga masyarakat mulai menuntut untuk mengembalikan pendidikan budi pekerti yang sudah terlupakan. Setelah melalui perdebatan panjang antara pihak Diknas dan Kemenag, akhirnya sejak tahun 1975 pendidikan budi pekerti diintregasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan (Civic. , yang kemudian menjadi mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Dalam kurikulum 1984. Moral pancasila diintregasikan ke dalam empat mata pelajaran, yaitu PMP. Pendidikan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). P4 dan Sejarah Nasional. Dalam kurikulum 1994 pelajaran ini tercakup dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPK. Dan pada kurikulum terakhir tercakup dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PK. Kemudian akibat berbagai macam tuntutan, pendidikan budi pekerti pun dicanangkan pada tahun 1994 melalui kurikulum. Sudah semestinya nilai-nilai budi pekerti diajarkan di sekolah agar generasi muda mampu berperilaku sesuai dengan moral yang diharapkan menuju terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang bermoral, berkarakter, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan tujuan pembangunan manusia Indonesia yang kemudian dicanangkan ke dalam tujuan pendidikan nasional. Hal tersebut senada dengan yang dianjurkan oleh Ki Hajar Dewantara agar kita tetap memperhatikan ilmu jiwa, ilmu jasmani, ilmu keadaban dan kesopanan . tika dan mora. , ilmu estetika dan menerapkan cara-cara pendidikan yang membangun karakter (Firdiani, 2. Dasar-dasar pendidikan barat dirasakan Ki Hadjar tidak tepat dan tidak cocok untuk mendidik generasi muda Indonesia karena pendidikan barat bersifat regering, tucht, orde . erintah, hukuman dan ketertiba. Karakter pendidikan semacam ini dalam prakteknya merupakan suatu perkosaan atas kehidupan batin anak-anak. Akibatnya, anak-anak rusak budipekertinya karena selalu hidup di bawah paksaan/tekanan. Menurut Ki Hadjar, cara 225 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin mendidik semacam itu tidak akan bisa membentuk seseorang hingga memiliki AukepribadianAy. Masih menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan adalah daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti . ekuatan batin, karakte. , pikiran . dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Pertama, manusia Indonesia yang berbudi pekerti ialah yang memiliki kekuatan bathin dan karakter dimana pendidikan mengarah pada peningkatan citra manusia Indonesia yang berpendirian teguh serta berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Kedua, manusia Indonesia yang maju pikirannya. Ini yang disebut kecerdasan secara Manusia Indonesia yang cerdas secara intelektual akan terbebas dari pembodohan. Ketiga, manusia Indonesia yang maju dalam tataran fisik atau tubuh. Tentunya dalam hal ini tidak hanya sehat secara jasmani akantetapi penegtahuan yang benar dalam memerdekakan diri dari berbagai dorongan kearah tindak kejahatan. Pikiran yang maju dan budi pekerti yang maju memperoleh dukungan untuk mendeklarasi kemerdekaan diri dari segala bentuk penindasan ego diri yang pongah dan serakah serta memiliki kemampuan untuk menegaskan eksistensi diri secara beradab sebagai manusia yang merdeka secara jasmani dan ruhani. Dalam konteks penalaran mengenai konsep pendidikan Ki Hajar diatas dapat dikonklusikan bahwa pendidikan merupakan upaya pemanusiaan manusia secara manusiawi, utuh dan mengarah pada kemerdekaan lahiriyah dan bathiniyah. sehingga pendidikan harus bersentuhan dengan upaya-upaya konkret berupa pengajaran dan pendidikan. Sejalan dengan tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Cakupan pendidikan karakter meliputi aspek kognitif, afektif dan perilaku moral yang dialami individu, baik sebagai individu maupun warga negara yang baik. Oleh karena itu, sekolah bertanggung jawab untuk memberikan bantuan terhadap anak didik dalam menguasai moralitas dan kebangsaan sehingga menjadi warga Negara yang baik. 31 Tentunya pernyataan ini linier dengan pendapat Ki Hajar Dewantara bahwa keseimbangan unsure cipta, rasa dan karsa yang tidak dapat dipisah-pisahkan ini memperlihatkan bahwa Ki Hajar Dewantara tidak memandang pendidikan hanya sebagai proses penulasan atau transfer ilmu pengetahuan . ransfer of knowladg. Hal ini sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh Ki Hajar Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Dewantara bahwa pendidikan pada masa itu . olonial Beland. penuh dengan semangat keduniawian . , penalaran . serta individualism. Ada tiga unsur penting yang perlu diperhatikan dalam menanamkan nilai moral diantaranya unsur pengertian, perasaan dan tindakan moral. Ketiga unsur ini saling berkaitan. Ketiga unsur ini perlu diperhatikan supaya nilai yang kita tanamkan tidak tinggal sebagai pengetahuan saja, tetapi sunguh menjadi tindakan nyata. Unsur pengertian moral menyangkut peserta didik dibantu untuk mengerti apa isi nilai yang digeluti dan mengapa nilai itu harus dilakukan dalam kehidupan mereka. Sejalan dengan konsep pendidikan budi pekerti Ki Hajar Dewantara bahwa budi pekerti berarti pikiran, perasaan dan kemauan. Budi pekerti merupakan sifat jiwa, dari angan-angan sampai terjelma menjadi tenaga. Tiga unsur tersebut tertuang dalam tiga macam metode pengajaran budi pekerti yang dikembangkan oleh KI Hajar Dewantara diantaranya: (Kinara, 2. Metode Ngerti, memberikan pemahaman sebanyak-banyaknya terhadap peserta didik. Didalam pendidikan budi pekerti, seorang guru dan orang tua wajib menanamkan pemahaman tentang tingkah-laku yang baik, sopan-santun dan tata krama yang baik kepada peserta didiknya agar mereka mengetahui. Pemahaman ini mengandung harapan agar peserta didik mengetahui nilai-nilai kebaikan dan dapat memahami maksud serta akibat dari tingkah laku yang buruk yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain serta membawa penyesalan dikemudian hari. Selain itu seorang guru juga memiliki tugas untuk memberikan pengertian kepada peserta didik tentang hakikat hidup bermsyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara agar peserta didik mampu menjadi manusia yang merdeka dan memahami pengetahuan tentang perilaku baik dan buruk serta memliki budi pekerti yang luhur. Metode Ngrasa. Maksud dari metode ini adalah berusaha semaksimal mungkin memahami dan merasakan tentang pengetahuan yang diperolehnya. Dalam hal ini peserta didik akan dididik untuk dapt memperhitungkan dan membedakan antara yang benar dan yang Metode Nglakoni. Ki Hajar Dewantara menjadikan metode ini sebagai tahapan pamungkas dalam metode pengajaran budi pekerti. Maksud dari metode nglakoni adalah mengerjakan setiap tindakan, bertanggung jawab serta memikirkan dari tindakan berdasarkan pengetahuan yang didapat. Sebuah pemahaman akan tertuang dalam bentuk tindakan jika dirasa tidak mengganggu hak orang lain, tidak menyakiti orang lain maka dia harus melakukan tindakan tersebut. Dari ketiga tahapan metode tersebut, tidak terlalu jika 227 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin penulis menyimpulkan bahwa metode ini menekankan pada penyadaran diri peserta Analisis di atas menjadikan pendidikan di Indonesia mengkaji dan membangkitkan pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh bangsa dan masyarakat Indonesia saja sebenarnya, akan tetapi juga oleh negara-negara maju. Bahkan di negara-negara Industri dimana ikatan moral menjadi semakin longgar, masyarakatnya mulai merasakan perlunya revival dari pendidikan moral yang pada akhir-akhir ini mulai di telantarkan. Perlu diketahui bahwa desain pembelajaran budi pekerti semestinya tidak muncul sebagai suatu mata pelajaran atau tidak diatasnamakan mata pelajaran budi pekerti. Namun, aplikasi nilai-nilai budi pekerti itu terserap sebagai muatan di setiap aktivitas pembelajaran yang sudah dirancang. Dengan demikian, setiap mata pelajaran dapat bermuatan nilai-nilai budi pekerti. Oleh karena itu, pendidikan karakter untuk mengembangkan nilai budi pekerti ini tentu saja tidak dapat berhasil dalam waktu yang singkat. Misalnya, langsung dapat dilihat melalui bentuk spot mata pelajaran di awal, di tengah, ataupun di akhir saja. Di samping itu, juga jangan diharapkan langsung dapat berhasil dalam satu mata pelajaran. Pendidikan karakter yang hanya menekankan pada satu atau dua mata pelajaran saja tidak akan dapat menjamin tercapainya karakter peserta didik yang diinginkan. Implikasi Pendidikan Budi Pekerti Ki Hajar Dewantara Terhadap Karakter Siswa Muslim Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional yang sangat berpengaruh dan memiliki pemikiran yang relevan hingga kini. Beliau merupakan keturunan Sri Paku Alam, yang juga memiliki keterkaitan sejarah dengan Sunan Kalijaga. Dari latar belakang tersebut, terlihat bahwa kehidupan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai religius dan kebudayaan Islam. Oleh sebab itu, konsep pendidikan yang beliau tawarkan tidak bisa dilepaskan dari muatan moral, etika dan budi pekerti yang sangat sejalan dengan ajaran Islam. Pendidikan Agama Islam bertujuan membimbing peserta didik agar mampu memahami, meyakini dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh. Pendidikan ini bukan hanya soal pengetahuan keagamaan, tetapi mencakup pengembangan akhlak dan kepribadian. Dalam situasi modern saat ini, di mana degradasi moral menjadi tantangan serius, peran Pendidikan Agama Islam menjadi sangat strategis dalam membentuk karakter yang baik dan kuat (Susan, et al, 2. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Tujuan dari Pendidikan Agama Islam mencakup pembentukan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki keterampilan, semangat kerja tinggi dan sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, bangsa dan agama. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pun menegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, serta bertanggung jawab sebagai warga negara. Pendidikan budi pekerti dalam Islam dikenal dengan istilah akhlak. Akhlak dalam Islam bukan hanya soal hubungan manusia dengan sesamanya, melainkan juga hubungan dengan Allah SWT dan alam semesta. Akhlak adalah gambaran dari sifat batin manusia yang diwujudkan dalam perbuatan nyata. Dengan kata lain, akhlak adalah cermin jiwa seseorang yang menggerakkan seluruh tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-QurAoan. Allah SWT berfirman: c a a a a a e a e a e a e a e a e e e a e a a c a )76 :20/A ( NA n AI sI aO aII aN EIN aE aOI aAONO aEE II EOA Artinya: AuSesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak Kami akan menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi dalam surga yang mengalir di bawahnya sungaisungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang yang menyucikan diri. Ay (QS. Taha: Ayat ini menunjukkan bahwa amal saleh dan kebersihan jiwaAiyang merupakan buah dari akhlak mulia mendapat balasan istimewa di sisi Allah. Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti pada dasarnya memiliki kesamaan arah dan Keduanya membentuk akhlak mulia peserta didik melalui pembiasaan, pengamalan dan penerapan nilai-nilai Islam. Pendidikan ini berdiri di atas dasar aqidah Islam yang mengajarkan keesaan Allah sebagai sumber utama nilai-nilai kehidupan. Akhlak merupakan manifestasi dari aqidah dan menjadi fondasi dalam membentuk karakter siswa Muslim. Pendidikan ini membina empat jenis hubungan utama. Pertama, hubungan manusia dengan Allah SWT yang menumbuhkan iman dan takwa. Kedua, hubungan manusia dengan dirinya sendiri yang menumbuhkan kesadaran diri, penghargaan terhadap potensi dan semangat memperbaiki diri. Ketiga, hubungan dengan sesama yang menumbuhkan sikap toleransi, kasih sayang dan tanggung jawab sosial. Keempat, hubungan manusia dengan lingkungan yang menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan tata kehidupan sekitar. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Pendidikan adalah usaha sadar yang bertujuan mengembalikan manusia pada fitrahnya, yaitu menjadi makhluk yang berakhlak mulia. Pendidikan bertujuan mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, pendidikan harus memprioritaskan pembentukan karakter atau budi pekerti sebagai fondasi utama. Rasulullah SAW bersabda: ACA a AauIac aI a aea aEa a aI aI aI aEA a A aI eaE a eaEA AuSesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Ay (HR. Ahma. Hadis ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan inti dari misi kenabian. Penanaman akhlak harus dimulai sejak usia dini, karena akhlak yang baik akan membuat seseorang mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhannya, sesama manusia dan alam Pendidikan karakter berbasis agama Islam dan budaya bangsa memiliki unsur-unsur Sistem pendidikan harus diarahkan kepada visi Islam yang mencakup akhlak dan Tujuannya adalah membentuk peserta didik yang tidak hanya saleh secara pribadi tetapi juga mampu beradaptasi, berpikir terbuka, toleran dan bersikap demokratis. Metode pendidikan pun harus sesuai dengan nilai-nilai tersebut dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam (Albany, 2. Menurut pemikiran Muzayyin Arifin, pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar dari orang dewasa Muslim untuk membimbing pertumbuhan anak-anak sesuai fitrah mereka. Pendidikan ini menggunakan ajaran Islam sebagai dasar untuk mengembangkan potensi anak hingga mencapai titik maksimal pertumbuhan spiritual dan moralnya. Islam menekankan pentingnya akhlak mulia karena akhlak ini akan membawa kebaikan tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi pribadi seseorang. Beberapa manfaat akhlak mulia antara lain memperkuat agama, memudahkan hisab di akhirat, menghilangkan kesulitan hidup dan membawa keselamatan dunia akhirat. Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti bekerja sama dalam membentuk karakter siswa Muslim. Pendidikan agama memberikan nilai, sedangkan budi pekerti mewujudkan nilai itu dalam perilaku sehari-hari. Akhlak yang dimiliki siswa adalah representasi nyata dari hasil pendidikan tersebut. Jika siswa memiliki pemahaman yang baik tentang iman. Al-QurAoan, hadits, fiqh dan sejarah Islam, maka perilakunya akan mencerminkan nilai-nilai Islam yang Kedekatan konsep antara Pendidikan Agama Islam dan pemikiran Ki Hajar Dewantara menjadi sangat relevan, karena keduanya menekankan pentingnya moral, etika Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin dan akhlak dalam membentuk kepribadian yang utuh. Pendidikan tidak hanya mengisi kepala dengan ilmu, tetapi juga membentuk hati dan perasaan agar menjadi manusia yang bijak dan bermartabat (Ar Rozi, 2. Karakter siswa Muslim yang terbentuk melalui pendidikan budi pekerti yang menyatu dengan nilai-nilai keislaman akan meliputi beberapa aspek berikut: Kejujuran dan Amanah Siswa menjadi terbiasa berkata jujur, tidak mencontek dan mampu dipercaya dalam melaksanakan tugas. Kedisiplinan Siswa melatih diri untuk tepat waktu, mengikuti aturan sekolah dan berkomitmen terhadap tanggung jawabnya. Tanggung Jawab Sosial Siswa memiliki kesadaran untuk membantu teman, menjaga lingkungan, serta memiliki empati terhadap sesama. Sikap Hormat dan Toleran Siswa menunjukkan sopan santun kepada guru dan teman, serta menghargai perbedaan pendapat. Pembentukan karakter seperti ini sangat penting dalam membangun generasi muda yang tangguh, berdaya saing, namun tetap memiliki identitas keislaman yang kuat. Pendidikan budi pekerti secara tidak langsung juga membangun kemampuan kepemimpinan dan keteladanan dalam diri siswa. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, maka dapat ditarik Kesimpulan sebagai Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan budi pekerti menekankan pentingnya pembentukan karakter manusia secara utuh melalui pengolahan akal, rasa, raga, dan hati secara seimbang. Pendidikan harus mengarah pada pemanusiaan manusia secara utuh, membangun kekuatan batin, pikiran, dan fisik demi menciptakan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batin, serta berakhlak mulia. Pendidikan karakter, menurut beliau, tidak boleh bersifat menekan atau memaksa, melainkan harus menumbuhkan kesadaran batin dan tanggung jawab pribadi terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Implikasi pendidikan budi pekerti Ki Hajar Dewantara terhadap karakter siswa Muslim terlihat pada upaya membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan selaras dengan ajaran Islam dalam membina akhlak mulia, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Pendidikan seperti ini membantu siswa Muslim menginternalisasi nilai-nilai keislaman secara menyeluruh dan menjadikannya pedoman dalam berperilaku sehari-hari, sehingga tercipta generasi yang beriman, berilmu, dan beradab. Daftar Pustaka