Amphibious Journal Vol. No. 1 Juni 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 DOI: a Available online at: https://journal. id/index. php/Amphibious Optimalisasi Latihan Para Dasar Taruna Korps Marinir Guna Mengurangi Resiko atau Bahaya Saat Exit. Mengemudi Dan Mendarat Muh Anwar 1. Maryono 2. Kakung Priyambodo2 Taruna Akademi Angkatan Laut angkatan 66 Korps Marinir Dosen Program Study Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat AAL Abstract: The Marine Department is a Diploma IV study program - Land Aspect Marine Defense Management. This Study Program has the mission of providing education for Marine Corps cadets to become Marine Corps Officers who are able to carry out their duties as Marine Infantry Platoon Commanders who are professional, have a fighting spirit, are disciplined, proud, work hard and work smart and have high physical fitness. In the Marine Department Study Program, basic subjects are taught and trained. In an operation, moving and sending combat troops and equipment to a target area is something that is absolutely necessary. One way to move troops and equipment is by parachuting them in by airplane . tatic parachutin. The implementation of this static plunge contains quite high risks and dangers. So it is necessary to carry out basic training to prepare Marine soldiers to be ready to face all fields of assignment. The implementation of this static plunge contains quite high risks and dangers. So it is necessary to carry out basic training to prepare Marine soldiers to be ready to face all fields of assignment. Para Basic is a training that must be followed and mastered by Marine Corps AAL level i cadets. Para Basic training material includes Para Basic theory. Ground Training, day and night diving practice and armed diving. Keywords: Basics. Ground Training, static jump Abstrak: Departemen Marinir merupakan Program studi Diploma IV Ae Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat. Program Studi ini memiliki misi menyelenggarakan pendidikan taruna Korps Marinir untuk menjadi Perwira Korps Marinir yang mampu melaksanakan tugas sebagai Komandan Peleton Infanteri Marinir yang professional, berjiwa juang, disiplin, kebanggaan, kerja keras dan kerja cerdas serta memiliki kesamaptaan jasmani yang tinggi. Di dalam Program Studi Departemen Marinir diajar dan dilatihkan Mapel Para Dasar. Dalam suatu operasi, pemindahan dan pengiriman pasukan tempur dan perlengkapannya ke suatu daerah sasaran merupakan suatu hal yang mutlak dilaksanakan. Salah satu cara pemindahan pasukan dan perlengkapannya dengan cara diterjunkan melalui pesawat udara . erjun stati. Pelaksanaan terjun statik ini mengandung resiko dan bahaya yang cukup tinggi. Sehingga perlu dilaksanakan latihan Para Dasar untuk menyiapkan prajurit Marinir agar siap menghadapi segala medan penugasan. Pelaksanaan terjun statik ini mengandung resiko dan bahaya yang cukup tinggi. Sehingga perlu dilaksanakan latihan Para Dasar untuk menyiapkan prajurit Marinir agar siap menghadapi segala medan penugasan. Para Dasar merupakan latihan yang wajib diikuti dan dikuasai oleh Taruna AAL tingkat i Korps Marinir. Materi latihan Para Dasar meliputi teori Para Dasar. Ground Training. Praktek terjun siang dan malam serta terjun dengan bersenjata. Keywords : Para Dasar. Ground Training, terjun statik PENDAHLUAN Latar Belakang. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) merupakan angkatan perang yang memiliki misi Menjamin tegaknya kedaulatan dan hukum, keamanan wilayah laut, keutuhan wilayah NKRI, serta terlaksananya diplomasi Angakatan Laut dan pemberdayaan wilayah pertahanan laut dan juga Mewujudkan organisasi TNI AL yang bersih dan berwibawa. Korps Marinir disamping sebagai Kotama Ops sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63, juga sebagai Kotama Bin yang bertugas membina kekuatan dan kesiapan operasi satuan Received Juni 01, 2024. Received Juni 14, 2024. Accepted Juni 28, 2024. Publish Juni 30, 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Marinir serta membina potensi maritim menjadi kekuatan pertahanan keamanan matra laut yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Staf Angkatan Laut. Akademi Angkatan Laut (AAL) Lembaga TNI-AL yang menyelenggarakan proses pendidikan yang terdiri dari pengajaran, pelatihan dan pengasuhan untuk menghasilkan lulusan Perwira TNI AL yang berjiwa juang, profesional, disiplin, kebanggaan, kerja keras dan kerja cerdas serta memiliki kesamaptaan jasmani, melalui upaya penerapan manajemen dan teknologi pendidikan secara tepat. Akademi Angkatan Laut juga menyelenggarakan evaluasi pendidikan yang berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan ke arah pengembangan yang lebih baik, inovatif dan bermanfaat, menumbuh kembangkan pendidikan karakter yang berdasarkan pada nilai-nilai moral dan etika akademik untuk membangun kehidupan lingkungan ketentaraan yang berbudaya dan beradab di kalangan civitas akademika. Prodi Marinir merupakan Program studi Diploma IV Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat. Program Studi ini memiliki misi menyelenggarakan pendidikan taruna Korps Marinir untuk menjadi Perwira Korps Marinir yang mampu melaksanakan tugas sebagai Komandan Peleton Infanteri Marinir yang professional, berjiwa juang, disiplin, kebanggaan, kerja keras dan kerja cerdas serta memiliki kesamaptaan jasmani yang tinggi dan melaksanakan manajemen pendidikan yang mengacu kepada perkembangan dan perubahan ilmu pengetahuan dan Alutsista TNI AL serta menciptakan lingkungan dan suasana pendidikan yang nyaman, aman dan kondusif dalam proses belajar mengajar dengan berpegang teguh pada disiplin, hirarki dan kehormatan militer. Di dalam Program Studi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat diajar dan dilatihkan Mapel Para Dasar. Dalam suatu operasi, pemindahan dan pengiriman pasukan tempur dan perlengkapannya ke suatu daerah sasaran merupakan suatu hal yang mutlak Salah satu cara pemindahan pasukan dan perlengkapannya dengan cara diterjunkan melalui pesawat udara . erjun stati. Pelaksanaan terjun statik ini mengandung resiko dan bahaya yang cukup tinggi. Sehingga perlu dilaksanakan latihan Para Dasar untuk menyiapkan prajurit Marinir agar siap menghadapi segala medan penugasan. Para Dasar merupakan latihan yang wajib diikuti dan dikuasai oleh Taruna AAL tingkat i Korps Marinir. Materi latihan Para Dasar meliputi teori Para Dasar. Ground Training. Praktek terjun siang dan malam serta terjun dengan bersenjata. Permasalahan. Identifikasi Masalah. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut : AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 Kursus Para Dasar tahun 2019 yang dilaksanakan taruna Korps Marinir angkatan 65 berlangsung selama 17 hari hal ini sangat tidak sesuai dengan jumlah jam pelajaran. Materi Kursus Para Dasar tahun 2019 tidak tersampaikan secara efektif. Sarana prasarana yang digunakan sebagai alat instruksi latihan Para Dasar merupakan sarana prasarana dengan usia puluhan tahun yang perlu adanya modernisasi peralatan sehingga dapat meningkatkan tingkat keselamatan para siswa. Rumusan Masalah. Dari pengidentifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas mengoptimalisasikan Latihan Para Dasar Taruna Korps Marinir sehingga dapat Mengurangi Resiko Atau Bahaya Saat Exit. Megemudi Dan Mendarat taruna? Tujuan dan manfaat. Tujuan. Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai masukan kepada pimpinan dan lembaga pendidikan Akademi Angkatan Laut agar Para Taruna Korps Marinir dapat melaksanakan penerjunan secara efektif dan lebih aman dari sebelumnya. Manfaat. Hasil Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengoptimalisasian latihan praktek terjun Para Dasar Taruna Korps Marinir sehingga dapat dilaksanakan untuk mengurangi resiko atau bahaya saat exit, mengemudi dan mendarat. Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan pengoptimalisasian latihan praktek terjun Para Dasar Taruna Korps Marinir untuk mengurangi resiko atau bahaya saat exit, mengemudi dan mendarat METODE PENELITIAN Metode Penelitian. Metode penelitian merupakan salah satu faktor yang cukup penting dalam melakukan suatu penelitian, karena pada dasarnya metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji suatu kebenaran pengetahuan dengan cara-cara ilmiah. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam suatu penelitian harus tepat. Berdasarkan pendekatan dan jenis data yang digunakan, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian Kualitatif sehingga akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata. Data yang dianalisis di dalamnya berbentuk deskriptif dan tidak berupa angka-angka seperti halnya pada penelitian kuantitatif. Menurut Arikunto . 8, h. penelitian kualitatif dimaksudkan AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian itu dilakukan. Oleh karena itu, penelitian kualitatif mampu mengungkap fenomena-fenomena pada suatu subjek yang ingin diteliti secara Penelitian difokuskan pada efektivitas latihan Para Dasar Taruna Korps Marinir guna mengurangi resiko atau bahaya ketika exit, mengemudi dan mendarat. Bogdan dan Taylor dalam Molleong . mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan (Hadjar dalam Basowi dan Suwandi, 2008:. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataankenyataan. Unit Analisis. Menurut Hamidi . 5: 75-. menyatakan bahwa unit analisis adalah satuan yang diteliti yang bisa berupa individu, kelompok, benda atau suatu latar peristiwa sosial seperti misalnya aktivitas individu atau kelompok sebagai subjek penelitian. Dari cara mengungkap unit analisis data dengan menetapkan kriteria responden tersebut, peneliti dengan sendirinya akan memperoleh siapa dan apa yang menjadi subjek Menurut Uma Sekaran . unit analisis adalah tingkat pengumpulan data yang dikumpulkan selama analisis data. Maka unit analisis adalah tempat dimana peneliti mengumpulkan data dan data tersebut dapat digunakan untuk penelitian. Menurut Zulganef . unit analisis adalah sumber informasi mengenai variabel yang diolah dalam penelitian. Dalam penelitian ini unit analisis yang akan diteliti adalah Lembaga pendidikan Akademi Angkatan Laut dan Kolatmar dengan kegiatan Latihan Para Dasar taruna Korps Marinir sebagai sasarannya. Sumber dan Jenis Data. Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 Data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah Taruna tingkat IV Korps Marinir angkatan 65. Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan media internet, penelitian-penelitian terdahulu, serta buku petunjuk pelaksanaan latihan praktek terjun Para Dasar Taruna Korps Marinir Akademi Angkatan Laut. Instrumen Penelitian. Menurut Nasution . menyatakan dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semua tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya. Berdasarkan dua pernyataan tersebut dapat difahami bahwa, dalam penelitian kualitatif pada awalnya dimana permasalahan belum jelas dan pasti, maka yang menjadi instrumen adalah peneliti sendiri. Tetapi setelah masalahnya yang akan dipelajari jelas, maka dapat dikembangkan suatu instrumen. Teknik Pengumpulan Data dan Pengolahan Data. Dalam metode penelitian kualitatif, lazimnya data dikumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu wawancara, observasi, dokumentasi dan diskusi terfokus (Focus Group Discussio. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:. Peneliti menggunakan metode wawancara dalam pengumpulan data untuk mendapatkan informasi dan data yang dibutuhkan dari obyek Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai Metode Wawancara (Intervie. Merupakan teknik pengambilan data di mana peneliti langsung berdialog dengan responden untuk menggali informasi dari responden. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Studi Dokumentasi Studi dokumentasi atau yang biasa disebut dengan kajian dokumen merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian dalam rangka memperoleh informasi terkait objek penelitian. Terdapat dua jenis dokumen yang digunakan dalam studi dokumentasi yaitu: Dokumen primer yaitu, dokumen yang ditulis langsung oleh orang yang mengalami Dokumen sekunder yaitu, dokumen yang ditulis kembali oleh orang yang tidak langsung mengalami peristiwa berdasarkan informasi yang diperoleh dari orang yang langsung mengalami peristiwa. Metode Pengamatan (Observas. Observasi berasal dari bahasa latin yang berarti memperhatikan dan mengikuti, memperhatikan dan mengikuti dalam arti mengamati dengan teliti dan sistematis sasaran perilaku yang dituju. Teknik Analisis Data Berdasarkan pada tujuan penelitian yang akan dicapai, maka dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah tersedia dari berbagai sumber yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi dengan mengadakan reduksi data, yaitu data-data yang diperoleh di lapangan dirangkum dengan memilih hal hal yang pokok serta disusun lebih sistematis sehingga mudah dikendalikan. Dalam hal ini penulis menggunakan analisa data kualitatif, dimana data yang diperoleh dianalisa dengan metode deskriptif dengan cara berfikir induktif yaitu penelitian dimulai dari fakta-fakta yang bersifat empiris dengan cara mempelajari suatu proses, suatu penemuan yang terjadi, mencatat, menganalisa, menafsirkan, melaporkan serta menarik kesimpulan dari proses tersebut. Menurut Bogdan dan Biklen sebagaimana dikutip oleh Lexy J. Moleong, mengatakan bahwa analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Pengolahan data dilakukan berdasarkan pada setiap perolehan data dari perolehan dari catatan lapangan, direduksi, dideJurnalkan, dianalisis, kemudian ditafsirkan. Prosedur analisis data terhadapa masalah lebih difokuskan pada upaya menggali fakta sebagaimana adanya . atural settin. , dengan teknik analisis pendalaman kajian . Untuk memberikan gambaran data hasil penelitian maka dilakukan prosedur sebagai berikut : AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 Tahap penyajian data : data disajikan dalam bentuk deskriptif yang terintegrasi Tahap analisis data : merupakan proses pembandingan hasil analisis data yang telah deJurnalkan dengan integrasi data untuk menjawab masalah yang diteliti. Data yang diperoleh dari hasil deJurnal akan dibandingkan dan dibahas berdasarkan landasan teori, yang dikemukakan pada bab 2 Tahap pembahasan: tahap ini dilakukan setelah tahap komparasi yang kemudian dirangkum dan diarahkan pada kesimpulan untuk menjawab masalah masalah yang telah dikemukakan peneliti. PEMBAHASAN Penyajian Data. Pada bab ini peneliti akan menguraikan serta menerangkan data dan hasil penelitian tentang permasalahan yang telah dirumuskan pada Bab I. Hasil dari penelitian ini diperoleh dengan teknik wawancara mendalam secara langsung kepada informan sebagai bentuk pencarian dan dokumentasi langsung di lapangan. Sistem Kredit Semester (SKS) Latihan Para Dasar Rangka Pekuliahan Terurai (RPT) Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat Taruna tingkat i angkatan 65 semester VI tahun Akademi 2018/2019 Periode 28 Januari s. 29 Juli 2019 yang disahkan dengan Keputusan Gubernur Akademi TNI Angkatan Laut Nomor KEP/65/VII/2018 Tanggal 27 JULI 2018. Berdasarkan Prolakdik Taruna AAL Korps Marinir angkatan 65 TA 2018/2019 dapat diketahui bahwa jumlah SKS untuk latihan Para Dasar 2 SKS. Penulis mengumpulkan keterangan dari para ahli untuk mendapatkan informasi mengenai SKS latihan Para Dasar. Berikut hasil wawancara dengan para ahli Para Dasar Hasil Wawancara Sistem Kredit Semester (SKS) Pertanyaan : Latihan para dasar merupakan latihan praktek yang sangat beresiko keamanan Apakah 2 SKS sudah cukup untuk taruna menguasai teori dan praktek sehingga siap sepenuhnya dalam penerjunan sesungguhnya? Narasumber 1 : Kolonel Mar Teddy Yulianda Bakri NRP. 12710/P (Kaprodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Dara. Au2 SKS cukup. Program sesuai juklak kormar. Penerjunan 7 kali 1 penerjunan bisa dua kali jadi bisa lebih dari batas minimal terjun 7 kali, 6 siang satu malam. Ground training 10 hari atau lebih sesuai juklak. Lattek SKS 2 kali lipat karena pelaksanaannya malam bisa digunakan latihan. Ay AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Narasumber 2 : Kapten Mar Agung L NRP. 17488/P (Katim PL Para Dasar Kolatma. AuMenurut saya 2 SKS itu secara tertulis belum cukup. Namun apabila dilaksanakan dalam latihan sesungguhnya di lapangan itu sudah memenuhi syarat. Karena latihan di lapangan dilaksanakan selama 24 jam berbeda dengan latihan di akademi yang memakan waktu 8 jam Namun apabila SKS itu ditambah maka akan lebih baik. Ay Materi Latihan Para Dasar Sebagai patokan tentang waktu minimal yang dibutuhkan dalam melatih prajurit agar mampu melaksanakan terjun statik di darat maka ditentukan sebagai berikut: Ground Training Kegiatan Ground Training bertujuan untuk memelihara kemampuan dan kesiapan dalam rangka pelaksanaan penerjunan, mengingat besarnya resiko yang di alami peterjun saat MATERI PELAJRAN/KEGIATAN JAM PELAJARAN PRAKTE MAPEL TEORI BINJAS PARA PENGENALAN PERALATAN PARA MELIPAT DAN MENGEPAK PARASUT DRILL MASUK PESAWAT PROSEDUR KEGIATAN DI PESAWAT TEHNIK EXIT TEHNIK MELAYANG DAN MENGEMUDI TEHNIK MENDARAT PROSEDUR DARURAT/KESULITAN KEADAAN JUMLAH Pembagian Waktu dan Materi pelajaran Ground Training Sumber : Buku Paket Instruksi Latihan Para Dasar Materi Ground Training : Senam para tanpa senjata Senam para bersenjata Lari jauh AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 Gerakan gerakan tambahan untuk memperkuat otot engkel : Jalan dengan ujung sepatu sejauh kurang lebih 50 meter Jalan dengan tumit sepatu sejauh kurang lebih 50 meter Jalan dengan Gigi sepatu sebelah luar sejauh kurang lebih 50 meter Jalan dengan gigi sepatu sebelah dalam sejauh 50 m baru Gerakan gerakan tambahan untuk memperkuat otot kaki Loncat jongkok atau loncat gagak sejauh kurang lebih 50 meter Jalan jongkok sejauh kurang lebih 50 meter Gambar 3. Latihan Ground Training Taruna Korps Marinir sumber : Dinas Penerangan Akademi Angkatan Laut Gambar 3. Latihan Ground Training Taruna Korps Marinir Sumber : Dinas Penerangan Akademi Angkatan Laut AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Gerakan-gerakan tambahan untuk memperkuat otot tangan : Pull up minimal 7 Kali . Push up minimal 30 kali . Pull up berganda sepanjang kurang lebih 5 meter Naik turun tali kurang lebih 5 meter Gerakan-gerakan tambahan untuk memperkuat ketahanan badan Jungkir ke depan kurang lebih 50 meter Jungkir ke belakang kurang lebih 50 meter Guling ke kanan kurang lebih 50 meter Guling ke kiri kurang lebih 50 meter Ngebor bumi kurang lebih 15 kali ke kanan15 kali ke kiri. Angkat beban kurang lebih 50 kg sejauh kurang lebih 50 meter. Materi Drill . Pengenalan karakteristik material para . Latihan pelipatan dan pengepakan . Latihan naik pesawat . Latihan di dalam pesawat . Teknik Exit Teknik Exit yang benar berdasarkan juknik pelaksanaan Latihan Praktek Para Dasar apabila peterjun pertama atau peterjun nomor 1 yang sedia menunggu mendapat aba-aba AuGOAy dari Jump Master maka peterjun harus segera meninggalkan pintu pesawat sesuai Prosedur tersebut terbagi dalam beberapa cara, antara lain: Pintu lambung kiri. Lemparkan kaki kanan jauh kedepan dan secara cepat merapatkan kaki kiri pada kaki kanan, bersamaan dengan tangan kiri menolak pada bibir pintu sebelah luar dan segera merapatkan tangan kiri diatas tangan kanan. Pintu Belakang. Pelaksanaannya seluruhnya sama, hanya pada saat meninggalkan pesawat tangan kiri tidak membuat tolakan pada bagian pesawat. Teknik mengemudi Teknik mengemudi merupakan cara-cara yang dilakukan penerjun untuk mengemudikan payung setelah payung mengembang sempurna sampai saat kaki peterjun menyentuh tanah. Urut-urutan kegiatan yang harus Dilakukan peterjun untuk menjamin keselamatan selama di udara sebagai berikut: AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 Lima detik melaksanakan pengecekan terhadap parasut. Cek situasi sekitar untuk menghindari tabrakan. Betulkan posisi tempat duduk. Amati posisi sasaran DZ. Tarik tougle kemudi Arahkan payung ke sasaran DZ. Siap mendarat Arahkan up wind posisi kompak. Teknik Mendarat. Teknik Mendarat Pada ketinggian 15 sampai 10 meter terjun harus sudah pada posisi siap mendarat, dengan cara sebagai berikut: Tarik tali kemudi atau sabuk kemudi yang berlawanan arah dengan arah laju Kedua lengan dibengkokkan pada siku, siku menekan ke bawah untuk menahan payung cadangan badan dibulatkan kepala tunduk, dagu merapat pada dada, kaki rapat sejajar, lutut sedikit dibengkokkan, kedua ujung sepatu menyerong sesuai dengan arah pendaratan, kemudi tetap dipegang sampai ketinggian 5 m kemudian dilepaskan. Bentuk badan pada posisi kompak Arah Pendaratan. Prosedur Keadaan Darurat Peterjun tersangkut pesawat . Twiss Angka delapan . Tali-tali payung membelit . Tali-tali putus dan kanopi sobek JAM PELAJARAN MATERI PELAJARAN/KEGIATAN TERJUN SIANG LAMBAT TANPA SENJATA TERJUN SIANG CEPAT TANPA SENJATA TERJUN SIANG LAMBAT BERSENJATA MATA PELAJARAN TEORI PRAKTE TERJUN SIANG CEPAT BERSENJATA TERJUN MALAM AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT WING DAY Jumlah . Kuncup . Waktu latihan praktek penerjunan Tabel Pembagian Materi Jam Pelajaran Penerjunan Sumber : Buku Latihan Para Dasar Departemen Marinir Hasil wawancara dengan para ahli Para Dasar Hasil Wawancara Materi Latihan Para Dasar (SKS) Bagaimana pendapat anda bila di Akademi Angkatan Laut diberikan 1 SKS yang berisi materi ajaran teori dan praktek seperti pengenalan peralatan para, pengepakan parasut, teknik exit pesawat, teknik mengemudi dan teknik mendarat sehingga pada saat praktek di kolatmar dapat memaksimalkan latihan ground training? Narasumber 1 : Kolonel Mar Teddy Yulianda Bakri NRP. 12710/P (Kaprodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Dara. AuBimbingan para diberikan cukup baik. Depmar telah memberikan perencanaan untuk melengkapi dua payung yang sudah rusak untuk digunakan di Akademi Angkatan Laut untuk digunakan menyegarkan kembali taruna yang sudah dikpara dan juga memberikan pengetahuan awal taruna yang akan melaksanakan dikpara. Ay Narasumber 2 : Kapten Mar Agung L NRP. 17488/P (Katim PL Para Dasar Kolatma. AuMenurut saya merupakan hal yang bagus. Karena pengasuhan Departemen atau bimbingan Departemen dapat memberikan bekal ilmu bagi taruna mengenai para dasar sebelum mereka mengikuti latihan praktek para dasar. Ay Hasil Wawancara Pembagian Waktu Pelaksanaan Lattek Para Dasar Teknik exit, teknik mengemudi dan teknik mendarat memiliki resiko yang sangat tinggi dari faktor keselamatan bila tidak dilakukan dengan benar. Apakah Latihan Ground Training yang dilaksanakan selama 9 hari dapat menyiapkan fisik taruna untuk melaksanakan penerjunan? Narasumber 1 : Kolonel Mar Teddy Yulianda Bakri NRP. 12710/P (Kaprodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Dara. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 AuTidak masalah. Kenyataannya pelaksanaan lattek lebih dari 2 SKS karena pelajaran dilaksanakan siang dan malam dalam 24 jam dibandingkan pelajaran di Akademi Angkatan Laut yang satu hari 8 jam, apabila menambah SKS maka akan merubah sistem SKS yang Jumlah SKS yang diharuskan dikti kepada AAL minimal 140 dan maksimal 160. Ay Narasumber 2 : Kapten Mar Agung L NRP. 17488/P(Katim PL Para Dasar Kolatma. AuSeperti yang saya katakan sebelumnya apabila tidak diamalkan maka lebih baik. Namun dalam pelaksanaannya 2 SKS sudah cukup untuk Taruna tersebut melaksanakan latihan praktek para dasar. Ay Sumber : hasil wawancara dengan narasumber Ketersediaan Alins Alongins atau Sarana Pra Sarana yang mendukung Latihan Praktek Para Dasar di Akademi Angkatan Laut Di Kolatmar sekarang telah menggunakan parasut baru buatan dalam negri (Tulungagun. , sehingga parasut lama yang tidak dipakai dapat diberikan untuk Akademi Angkatan Laut terutama taruna Korps Marinir digunakan untuk alins pelajaran Para Dasar atau sarana informasi bagi Taruna yang akan melaksanakan latihan terjun Para Dasar. Hasil Wawancara terhadap Alins Alongins Lattek Para Dasar Pertanyaan : Bagaimana pendapat anda bila dibangun sarana seperti miniatur pesawat dan disediakannya payung bekas di Akademi Angkatan Laut sebagai sarana belajar Taruna Korps Marinir sebelum Lattek Para Dasar? Narasumber 1 : Kolonel Mar Teddy Yulianda Bakri NRP. 12710/P (Kaprodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Dara. AuSudah dicanangkan dan sekarang menunggu respon dari satuan samping yang kita Parasut titan yang kita ajukan berfungsi untuk pengenalan dan penyegaran bagi para taruna yang talah melaksanakan penerjunan ataupun taruna yang akan melaksanakan Dan akan menjadi media pengenalan agar taruna familiar dengan parasut bagaimana cara menggendong, bagaimana cara membawa atau bagaimana cara menyiapkanAy. Narasumber 2 : Kapten Mar Agung L NRP. 17488/P (Katim PL Para Dasar Kolatma. AuSangat bagus. Karena hal tersebut dapat meningkatkan kualitas latihan para dasar dari Taruna sebelumnya. Dimana sebelumnya taruna melaksanakan latihan tanpa bekal maka dengan dibangunnya sarana prasarana latihan para dasar dan disediakannya alins parasut untuk digunakan Taruna berlatih. Sehingga keadaan akan lebih baik dari sebelumnyaAy. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Tenaga kepelatihan di Akademi Angkatan Laut. Hasil wawancara dengan para Taruna Hasil Wawancara terhadap sumber daya pengajar Para Dasar Bagaimana pendapat anda terhadap pelatih yang memberikan materi dan melatih Ground Training selama 17 hari jam pelajaran? Narasumber 1 : Sermatutar (M) Diki Tri Raharjo No. Ak. 280 (Taruna Akademi Angkatan Laut Korps Marinir Tingkat IV angkatan 65 bermasalah ketika mendara. AuSudah maksimal,namun karena waktu yang singkat memiliki tuntutan yang besar untuk bisa menguasai kemampuan para dasar yang memiliki resiko atau bahaya yang sangat tinggi terhadap keamanan taruna. Ay Narasumber 2 : Sermatutar (M) Diki Deniswara No. Ak. 251 (Taruna Akademi Angkatan Laut Korps Marinir Tingkat IV angkatan 65 bermasalah ketika mengemud. AuPelatih sudah efektif dan maksimal juga mumpuni. Pelaksanaan latihan tergantung dengan motivasi yang dimiliki oleh Taruna. Ay Penggambaran yang integratif Salah satu cara untuk menghasilkan proses pembelajaran yang menarik adalah dengan memanfaatkan video sebagai sumber dan media pembelajaran. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa orang lebih tertarik belajar menggunakan media video daripada belajar melalui media teks dan gambar diam (Fadhli, 2. Pembelajaran yang dilakukan dengan media video efektif membuat siswa bisa menerima pembelajaran yang diberikan kepadanya (Putri, 2. Hasil Wawancara terhadap penggambaran melalui video Lattek Para Dasar Agar taruna tidak menyepelekan teknik exit, mengemudi dan mendarat yang benar. Bagaimana pendapat anda apabila sebelum latihan diperlihatkan gambaran suasana di pesawat ketika exit, suasana sesungguhnya ketika mengemudi dan suasana sesungguhnya ketika mendarat melalui media pemutaran video? Narasumber 1 : Kolonel Mar Teddy Yulianda Bakri NRP. 12710/P (Kaprodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Dara. AuBagus sekali. Pemutaran video dapat meningkatkan modernisasi latihan sehingga taruna dapat melaksanakan latihan dengan baik dan serius. Pemutaran video dapat memberikan taruna gambaran awal sebelum para taruna melaksanakan penerjunan. Ay AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 Narasumber 2 :Kapten Mar Agung L NRP. 17488/P (Katim PL Para Dasar Kolatma. AuSangat setuju. Semakin canggih teknologi maka kita harus makin bijak, menggunakannya langkah tersebut dapat memberikan gambaran yang akan dihadapi oleh para penerjun sebelum "mereka exit dari pintu pesawat. Melayang di udara dengan parasut yang belum tentu kita ketahui mengembang atau tidak Dan sikap yang akan kita laksanakan ketika menapak daratan. Ay Sarana Pra Sarana Latihan Para Dasar Taruna . Sarana Pra Sarana untuk latihan tehnik exit. Sarana Pra Sarana yang digunakan untuk latihan tehnik exit dari pesawat di Kolatmar menggunakan sarana latihan Pull up yang dimodifikasi dengan menggunakan kayu yang diikat dengan tali sebagai pintu pesawat , para taruna dibentuk menjadi 2 sourtey dalam 1 sourtey dibagi menjadi 10 taruna, taruna dilatihkan cara bagaimana masuk kedalam pesawat kemudian posisi menunggu sebelum melaksanakan exit. Gambar 3. Latihan tehnik exit menggunakan gantungan monyet Sumber : Dinas Penerangan Kolatmar Latihan tehnik exit juga dilatihkan dikolam renang sarana yang digunakan menggunakan menara lompat indah yang tinggi nya mencapai 5 meter. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Gambar 3. latihan exit dikolam renang Sumber : Dinas Penerangan Kolatmar Sarana yang digunakan untuk latihan tehnik mengemudi. Latihan tehnik mengemudi dilatihkan kepada taruna bertujuan memberikan keterampilan serta kemampuan dalam mengemudikan parasut pada saat setelah exit dari Sarana yang digunakan di Kolatmar menggunakan tali dengan ukuran 10 meter yang diikat ditas parasut yang telah dilepas dari parasut. Kemudian pelatih memberikan instruksi belok kanan maupun balik kiri yang kemudian dilaksanakan oleh taruna sesuai Sarana yang sekarang digunakan untuk latihan teknik Gambar 3. 5 latihan tehnik mengemudi menggunakan panjatan tali Sumber : Dinas Penerangan Kolatmar e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 mengemudi belum memberikan gambaran sesuai dengan keadaan sebenarnya pada saat mengemudi dengan keadaan melayang di udara. Kondisi alins yang seadanya memiliki resiko yang cukup tinggi kepada taruna pada saat latihan tehnik mengemudi. Sarana yang digunakan untuk latihan tehnik mendarat Tehnik mendarat merupakan suatu hal yang wajib dikuasi oleh taruna Korps Marinir dalam kursus Para Dasar karena dengan menggunakan tehnik mendarat yang baik dan benar dapat mengurangi kecelakaan yang tidak diinginkan pada saat mendarat. Sarana yang digunakan di Kolatmar untuk latihan tehnik exit menggunakan tangga yang memiliki 4 anak tangga dengan anak tangga yang tertinggi setinggi 2 meter. Gambar 3. 6 latihan tehnik mendarat Dengan menggunakan tangga khusus Sumber : Dinas Penerangan Kolatmar Hasil Wawancara terhadap sarana prasarana Lattek Para Dasar Pertanyaan : Bagaimana pendapat anda mengenai sarana pra sarana latihan praktek para dasar Korps Marinir yang sekarang dalam segi keamanan dan keselamatan penerjunan? Narasumber 1 : Kolonel Mar Teddy Yulianda Bakri NRP. 12710/P (Kaprodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Dara. AuUntuk sarana yang dimiliki kolatmar sekarang semuanya ada dan sesuai standart, tetapi memang di satuan luar memiliki peralatan yang lebih dari standart. Yang sekarang sudah sesuai standart namun apabila ditingkatkan lebih baik lagi menjadi baik dan optimal. Ay AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Narasumber 2 : Kapten Mar Agung L NRP. 17488/P (Katim PL Para Dasar Kolatma. AuSudah sesuai standar dan cukup baik Namun apabila ingin ditingkatkan lebih baik maka lebih baik. Ay Analisis Data. Wawancara Peneliti mengumpulkan data dengan wawancara secara terstruktur untuk mengetahui hal-hal dari responden lebih mendalam. Menurut Prof. Dr. Sugiyono . , teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri, atau setidaktidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Wawancara dilaksanakan oleh peneliti dengan narasumber yang ahli di bidang Para Dasar yang diharapkan dapat menghasilkan data yang valid untuk memperkuat data penelitian. Adapun hasil wawancara merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan terhadap narasumber maupun saran dari narasumber kepada peneliti agar hasil penelitian dapat direalisasikan dengan ideal dan bersifat dinamis terhadap dinamika di lapangan. Peneliti telah melaksanakan wawancara dengan beberapa narasumber dengan menggunakan teknik wawancara terstruktur sebagai teknik pengumpulan data untuk melihat respon dari beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dengan contoh permasalahan suatu kondisi. Para dasar merupakan latihan yang wajib diikuti dan dikuasai oleh Taruna AAL tingkat i Korps Marinir, materi latihan para dasar meliputi teori para dasar, ground training, praktek terjadi siang dan malam serta terjun dengan bersenjata. Latihan dasar selain latihan mental dan fisik juga merupakan jenis latihan keterampilan. Guna mendapatkan keterampilan tersebut siswa para dasar perlu dilatih berulang-ulang tentang kegiatan atau tindakan dalam penerjunan. Hal ini Tentunya membutuhkan waktu yang Latihan Para Dasar dilaksanakan dengan bobot pelaksanaan sebanyak 2 SKS atau selama 14 hari. Dalam kalender akademik latihan Praktek Para Dasar dilaksanakan selama 17 hari. Dalam buku program pelaksanaan pendidikan bobot yang dimiliki latihan Para dasar berada pada range 0-4. 4 SKS adalah bobot maksimum yang bisa diberikan untuk lattek Para Dasar. Untuk berpatokan pada rangka perkuliahan Akademi Angkatan Laut. Satuan satuan sistem kredit semester yang telah diberikan oleh Dikti dan telah di tata ulang oleh Akademi Angkatan Laut guna memenuhi kebutuhan belajar dan mengajar Taruna Akademi Angkatan Laut. Maka setiap satuan sistem kredit semester di muat dalam buku program pelaksanaan pendidikan Taruna Akademi Angkatan Laut yang memuat seluruh AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 sistem kredit semester termasuk Latihan Praktek Para Dasar Taruna Korps Marinir tingkat i Akademi Angkatan Laut. 3 Materi Latihan Para Dasar Berdasarkan hasil wawancara dan membandingkan dengan hasil dari studi dokumentasi, materi para dasar hendaknya dilaksanakan dengan waktu yang lebih efisien dan efektif sesuai dengan SKS dengan begitu akan lebih mengena untuk pembelajaran taruna dikemudian hari. Latihan Dasar dapat dikembangkan dengan memperpanjang pemberian materi ground training atau teknik drill exit, mengemudi dan mendarat serta dalam keadaan darurat di Akademi Angkatan Laut dalam waktu pembimbingan departemen atau pelajaran Jadwal Latihan Para Dasar di Lapangan Dari jadwal kegiatan yang dilaksanakan Taruna saat mengikuti latihan Para Dasar tahun 2019, bahwa pelaksanaan latihan ground training pemberian materi harus dilaksanakan secara berulang-ulang sesuai dengan teori latihan. Menurut Harsono, . 8: . mengatakan bahwa latihan juga bisa dikatakan sebagai sesuatu proses berlatih yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang yang semakin hari beban latihannya kian bertambah Berulang-ulang maksudnya adalah gerakan-gerakan yang sukar dilakukan menjadi semakin mudah dan reflektif pelaksanaannya. Beban makin bertambah maksudnya adalah setiap kali, secara perodik setelah tiba saatnya maka beban ditambah demi meningkatkan perubahan-perubahan dan tercapainya prestasi. Ketersediaan Alins Alongins atau Sarana Pra Sarana yang mendukung Latihan Praktek Para Dasar di Akademi Angkatan Laut. Akademi Angkatan Laut belum memilik alins alongins atau sarana prasarana pendukung latihan Para Dasar. Sarana prasarana atau alin alongins Para Dasar menggunakan beberapa fasilitas yang ada di Akademi Angkatan Laut. Contohnya menara Jala Krida Mangagra atau menara panjat tebing, monumen pesawat dan gedung Usman Harun yang dapat digunakan sebagai tempat pelipatan atau pengepakan Parasut. Serta Lapangan rumput depan gedung Malahayati yang dapat digunakan untuk materi Ground Training. Di Kolatmar sekarang telah menggunakan parasut baru buatan dalam Negri (Tulungagun. sehingga parasut lama yang tidak dipakai dapat diberikan untuk Akademi Angkatan Laut untuk dijadikan alins pelajaran Para Dasar atau sarana informasi bagi setiap Taruna yang akan melaksanakan latihan terjun Para Dasar. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Tenaga kepelatihan di Akademi Angkatan Laut. Para Pelatih yang memiliki kemampuan memberikan pelatihan khusus Korps Marinir di Akademi Angkatan Laut cukup banyak dan berkualitas tetapi untuk tenaga pelatih yang memiliki spesifikasi atau brivet Para Dasar tidak semuanya. Penggambaran yang integratif Sarana Pra Sarana untuk latihan di Kolatmar sudah cukup bagus. Dari segi keamanan hendaknya ditingkatkan lagi dan dikembangkan. Guna menjaga faktor keamanan dan keselamatan Taruna saat latihan teknik exit, mengemudi dan mendarat. Laporan Pelaksanaan Latihan Praktek Para Dasar Taruna AAL Tingkat i Korps Marinir Angkatan Ke-65 TA. 2018/2019 Kendala Yang Dihadapi dan Upaya Mengatasi Pelaksanaan lattek para dasar mendapat alokasi waktu 17 hari pelaksanaan di lapangan dibagi dua tahap yaitu ground training 9 hari dan pelaksanaan praktek penerjunan 8 hari. Untuk tahap ground training dengan alokasi pelaksanaan 9 hari masih kurang sehingga belum mendapatkan hasil ketahanan fisik atau pengetahuan kepalaan secara maksimal. Faktor jadwal latihan yang terlalu mepet dengan latihan berikutnya sehinngga untuk penyiapan Taruna tidak sesuai program yang direncanakan sehingga kurang normal. Upaya mengatasi Memaksimalkan alokasi waktu yang ada memberikan materi latihan crown training dan binjas para pada saat jam-jam tertentu seperti sebelum makan atau sebelum istirahat malam dan demi kelancaran rencana latihan. Selalu berkoordinasi secara terus menerus dengan pihak pelatih untuk menambah waktu ground training di waktu sebelum istirahat malam karena apabila dalam pelaksanaan training kurang maksimal akan merugikan Taruna saat pelaksanaan penerjunan. Pembahasan Hasil Penelitian. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh penulis baik dari proses observasi, wawancara dan dokumentasi mengungkapkan bahwa pelaksanaan kegiatan latihan Para Dasar di Komando Latih Marinir Surabaya sudah berjalan sesuai dengan rencana kegiatan latihan, penyampaian materi oleh pelatih dapat diterima dengan baik oleh taruna, dan taruna juga harus dapat memahami prosedur penerjunan yang disampaikan oleh pelatih, serta yang paling penting adalah melaksanakan latihan yang memiliki tingkat resiko berbahaya yakni AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 teknik exit, teknik mengemudi dan teknik mendarat secara berulang-ulang agar optimal karena memiliki peran yang besar dalam memberikan gambaran sesuai dengan keadaan sebenarnya pada saat pelakasanaan terjun sesuai dengan pengertian latihan suatu proses kegiatan olahraga yang dilakukan secara sadar, sistematis, bertahap dan berulang-ulang, dengan waktu yang relatif lama, untuk mencapai tujuan akhir dari suatu penampilan yaitu peningkatan prestasi yang optimal. Agar latihan mencapai hasil prestasi yang optimal, maka program/bentuk latihan disusun hendaknya mempertimbangkan kemampuan dasar individu, dengan memperhatikan dan mengikuti prinsip-prinsip atau azas-azas pelatihan. Sistematis berarti terencana, menurut jadwal dan menurut pola sistem tertentu, metodis dari yang mudah ke yang sukar dari yang sederhana ke yang kompleks. Berulang-ulang maksudnya adalah gerakan-gerakan yang sukar dilakukan menjadi semakin mudah dan reflektif pelaksanaannya. Beban makin bertambah maksudnya adalah beban dinaikkan secara perodik sehingga kemampuan taruna akan terus bertambah. Pada prinsip nya latihan merupakan suatu proses perubahan kearah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan kualitas fisik kemampuan fungsional peralatan tubuh dan kualitas psikis Penyampaian materi oleh pelatih kemudian dipraktekan agar pemahaman dan penguasaan keterampilan menjadi relatif permanen. Berdasarkan data yang didapat penulis 5 tahun sebelumnya masih terdapat kecelakaan pada saat pelaksanaan latihan kursus Para Dasar. Kecelakaan tersebut mengalami resiko yakni cidera engkel yang terjadi pada saat latihan tehnik mendarat, diakibatkan kurang nya pemahaman serta kemampuan taruna terhadap materi yang diajarkan sehingga terjadi nya resiko dan kecelakaan. Menurut Soelaiman kemampuan adalah sifat yang dibawa lahir atau dipelajari yang memungkinkan seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya. Untuk itu agar meningkatkan kemampuan terjun, diibutuhkan latihan serta peralatan optimal dalam hal ini latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang terutama pada latihan yang beresiko tinggi seperti latihan exit, latihan mengemudi dan latihan mendarat agar pemahaman yang dimiliki menimbulkan kemampuan terhadap taruna sehingga kecelakaan yang sering terjadi pada saat latihan pada tahap Ground Training dapat diminimalisir serta alat instruksi yang optimal memberikan gambaran terhadap taruna tentang kondisi sebenarnya sehingga saat latihan tidak terjadi kecelakaan . ero Acciden. Sistem Kredit Semester Latihan Para Dasar Pelaksanaan Latihan Para Dasar membutuhkan setidaknya sebanyak 114 jam pelajaran untuk latihan ground training dan 60 jam pelajaran untuk drill basah atau penerjunan. 114 jam AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT pelajaran terbagi menjadi 14 jam pemberian teori dan 100 jam pelaksanaan ground training. Dengan materi yang demikian banyak dan dilaksanakan dalam waktu 17 hari mengakibatkan potongan waktu untuk latihan yang sebagaimana seharusnya. Mengingat latihan para dasar merupakan latihan yang beresiko terhadap keamanan dan keselamatan penerjun atau Taruna maka kekurangan jam pelajaran ini sebaiknya ditambahkan 1 SKS. Berdasarkan data hasil wawancara dengan seluruh narasumber. Dapat disimpulkan bahwa waktu latihan yang singkat menjadikan latihan kurang maksimal sehingga latihan dilaksanakan dengan terburuburu dan kurang memandang waktu antara istirahat dan berlatih. Hal ini menjadi bahan penelitian peneliti. Karena kurangnya pemahaman taruna dalam berlatih hal ini berdampak kepada penguasaan-penguasaan teknik mengemudi, teknik mengemudi dan teknik mendarat yang harus dilaksanakan dengan benar-benar menjadi terabaikan. Pelajaran Para Dasar bagi Taruna Korps Marinir di Akademi Angkatan Laut. Latihan praktek para dasar memiliki range SKS 0-4 dalam buku program pelaksanaan pendidikan taruna akademi TNI angkatan laut. Namun sesuai di lapangan berkaitan dengan sistem SKS yang dilaksanakan hanya 2 SKS. Apabila dimanfaatkan secara maksimal maka 3 atau 4 SKS dapat meberikan efektifitas latihan pada taruna Korps Marinir yang melaksanakan latihan para dasar. Untuk beban materi pembagian dapat dibagi secara rata dan terfokus pada setiap materi yang akan diajarkan, kesiapan mental dan fisik dapat dibagi menjadi 2 SKS, 1 SKS untuk pemberian materi dan 1 SKS untuk pelaksanaan penerjunan beserta kegiatan protokoler berupa administratif dan wing day. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan. Narasumber setuju dilaksanakannya pengasuhan dan bimbingan dari Departemen Marinir di dalam lingkungan Akademi Angkatan Laut sebelum melaksanakan latihan di Kolatmar Hal ini bertujuan untuk menyiapkan taruna dari awal sebelum melaksanakan Latihan penerjunan sangat beresiko dan berbahaya untuk faktor keamanan dan Terutama dalam menguasai teknik exit, teknik mengemudi dan teknik mendarat. Tiga teknik dasar yang harus dikuasai, tidak bisa dilaksanakan secara asal dan tidak disiplin. Karena dalam tahapan latihan ground training untuk menyiapkan taruna agar mampu exit, mengemudi dan mendarat dengan benar maka perlu dilaksankannya latihan yang berulangulang dalam jangka waktu yang lama. Hal ini untuk melatih refleks taruna agar dapat melaksanakan apa yang harus dilaksanakan dengan cepat dan tanggap bahkan tanpa perlu memikirkan masalah yang dihadapi. Untuk mengurangi resiko tersebut maka lebih baik dilaksanakannya latihan mengepak parasut, pengenalan latihan teknik exit pesawat, teknik mengemudi dan teknik mendarat sehingga pada saat praktek di Kolatmar dapat dimaksimalkan latihan ground training. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 Peningkatan materi latihan ground training dan manajemen waktu istirahat agar taruna siap melaksanakan latihan selanjutnya agar dapat menguasai teknik exit, teknik mengemudi dan teknik mendarat yang benar. Dengan dilaksanakannya latihan ground training diharapkan taruna dapat melatih dirinya secara berulang-ulang dengan mengasah kemampuan fisik. Kemampuan Fisik (Physical Abilit. , merupakan kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, ketrampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa. Kemampuan fisik akan meningkat bila dilatihkan secara berulang-ulang dan diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup. Untuk latihan Ground training exit, mengemudi dan mendarat dalam latihannya mudah dilaksanakan tetapi untuk menumbuhkan refleks yang dilakukan dalam hitungan detik membutuhkan latihan yang berulang ulang dan disiplin yang tinggi. Materi latihan ground training dapat ditingkatkan dengan menambah jam berlatih tanpa mengurangi waktu istirahat Meningkatkan kemampuan personel pelatih para di Akademi Angkatan Laut untuk melatih teknik exit, teknik mengemudi dan teknik mendarat serta pengetahuan para, karena untuk meningkatkan atau mengoptimalkan latihan Para Dasar dibutuhkan pelatih-pelatih yang berkompeten dan menguasai bidang penerjunan yang diajarkan dengan baik. Akademi Angkatan Laut telah memiliki para pelatih yang berkompeten dalam bidang para dasar dan telah membawa taruna latihan para dasar dari tahun 90 an. Namun jumlah yang masih produktif sangat kurang dikarenakan beberapa dari para pelatih telah mendekati masa-masa pensiun, maka perlu adanya regenerasi. Sesuai dengan hasi wawancara dengan pelaku latihan para dasar AuPelatih sudah efektif dan maksimal juga mumpuni. Pelaksanaan latihan tergantung dengan motivasi yang dimiliki oleh TarunaAy. Memberikan gambaran yang terintegrasi pada awal latihan atau sebelum penerjunan agar taruna memahami apa yang harus dilakukan ketika exit, mengemudi dan mendarat melalui pemutaran media berupa video. Pelaksanaan pemutaran video yang dilaksanakan sebelum melaksanakan penerjunan atau pelaksanaan pemutaran video yang dilaksanakan setelah penerjunan dalam bentuk evaluasi dan diputar melalui rekaman video baik sebelum penerjunan ataupun sesudah pelaksanaan bertujuan untuk memberikan gambaran yang terintegrasi antara latihan satu dengan latihan lainnya pada saat latihan ground training sehingga dapat tercapai tujuan latihan. Dilengkapinya sarana latihan para dasar dilingkungan Akademi Angkatan Laut berupa parasut yang dapat digunakan taruna untuk belajar dan berlatih materi para dasar dan juga pembangunan sarana dan fasilitas yang lain untuk mendukung latihan para dasar seperti AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT simulator pesawat yang digunakan untuk melaksanakan teknik exit teknik mengemudi dan teknik mendarat. Penyediaan parasut cadangan dan parasut pokok yang sudah tidak digunakan di Kolatmar untuk digunakan sebagai alins dan alongins di Akademi Angkatan Laut berfungsi untuk menyegarkan kembali pengetahuan Taruna mengenai para dasar bagi Taruna yang telah melaksanakan penerjunan atau latihan praktek para dasar dan juga memberikan pengetahuan dan informasi kepada Taruna yang belum atau akan melaksanakan penerjunan dalam latihan praktek para dasar. Selain memberikan informasi dan pengetahuan penyediaan parasut di lingkungan Akademi Angkatan Laut memberikan pengalaman tersendiri bagi Taruna agar lebih familiar dalam materi para dasar dan karateristik parasut dan cara penggunaan parasut. Melaksanakan modernisasi Alins alongins latihan praktek para dasar di Akademi Angkatan Laut dan Kolatmar ataupun dalam lingkungan Marinir. Peremajaan atau modernisasi alat instruksi latihan praktek para dasar dilaksanakan guna menunjang tugas pokok satuan Korps Marinir yang diantaranya adalah pasukan yang mampu diturunkan atau diterjunkan dalam Medan apapun dan melalui sarana apapun. Agar Taruna dapat melaksanakan latihan exit, latihan mengemudi dan latihan mendarat dengan baik dan benar maka Taruna diharuskan Memiliki gambaran situational di dalam pesawat ketika berada di udara. Selain itu Taruna juga Harus Memiliki gambaran bagaimana ketika keluar dari pesawat, gambaran ketika parasut telah mengembang dan gambaran ketika posisi tubuh sudah mendekati daratan. Hal ini harus digambarkan sedemikian rupa sehingga Taruna dapat melaksanakan hal-hal yang bersifat emergency dan berbahaya yang mengakibatkan cidera fisik secara reflek. Maka diharapkan adanya modernisasi alat instruksi latihan praktek para dasar yang lebih baik Agar Taruna dapat melaksanakan latihan dengan baik dan aman. Dalam hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Kadepmar yakni AuBagus sekali. Intinya latihan ini memberikan gambaran yang terintegrasi tentang situasi latihan sesungguhnya sehingga taruna lebih mengerti dan mengetahui situasi apa yang sedang dia alami. Sehingga taruna mengetahui apa yang harus dilakukan. Kecanggihan teknologi akan memberikan kemajuan dan gambaran bagi taruna sehingga lebih familiar dan mengertiAy. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 36-61 PENUTUP Kesimpulan Pada prinsipnya dalam pelaksanaan latihan Para Dasar bertujuan membentuk Taruna sesuai dengan sasaran latihan yang diinginkan. Taruna Korps Marinir yang dipersiapkan untuk menjadi komandan peleton dan diharapkan memiliki kemampuan yang lebih dari anggota yang dipimpinnya. Latihan tersebut harus didukung dengan pelatih yang handal dan latihan yang intensif dan dilaksanakan secara maksimal dengan manajemen waktu yang tepat serta sarana prasarana yang mendukung keamanan dan keselamatan. Berdasarkan hasil penelitian dan data yang diperoleh di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa : Penyampaian materi pelajaran Para Dasar perlu dilakukan pengoptimalan dengan meningkatkan jumlah pelatih yang berkompeten di AAL, memanfaatkan teknologi visual, memberikan pengetahuan Para Dasar saat pengasuhan. Waktu Latihan Para Dasar sudah terlaksana sesuai dengan bobot SKS Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat Taruna tingkat i angkatan 65 semester VI tahun Akademi 2018/2019, namun dapat dimaksimalkan dengan menggunakan bobot maksimum SKS Latihan Para Dasar serta memanfaatkan waktu di Akademi Angkatan Laut untuk membekali Taruna sebelum berlatih di Kolatmar agar ketika melaksanakan teknik exit, mengemudi dan mendarat dengan lebih baik. Sarana dan prasarana serta alins alongins latihan Para Dasar perlu di tingkatkan untuk mencegah dan mengurangi resiko bahaya saat latihan exit, mengemudi dan mendarat. Saran Berdasarkan uraian di atas, untuk menunjang kemampuan terjun taruna Korps Marinir, maka penulis menyarankan : Untuk latihan praktek terjun Para Dasar tahun ajaran berikutnya agar dilaksanakan menjadi 3 SKS sehingga latihan dapat tercapai dengan maksimal dan efisien, lebih memperhatikan antara waktu latihan dan waktu istirahat untuk menyiapkan latihan esok Sebelum melaksanakan lattek Para Dasar di Kolatmar agar Taruna dibekali pelajaran mengepak parasut, ground training, teknik yang memilik resiko lebih atau bahaya lebih tinggi terlebih dahulu yakni teknik exit dari pesawat, mengemudi dan mendarat di landing zone yang tepat. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti cidera atau patah tulang. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PARA DASAR TARUNA KORPS MARINIR GUNA MENGURANGI RESIKO ATAU BAHAYA SAAT EXIT. MENGEMUDI DAN MENDARAT Mohon kepada pimpinan Korps Marinir agar pengajuan pengadaan alat instruksi latihan Para Dasar di Akademi Angkatan Laut seperti parasut atau pembangunan sarana latihan penerjunan ditanggapi dengan bijaksana agar pelaksanaan latihan dapat berjalan dengan baik dan dapat membentuk taruna Korps Marinir khusus nya dan prajurit Korps Marinir pada umumnya menjadi prajurit-prajurit handal serta prajurit-prajurit yang memiliki kemampuan terjun yang hebat Demikian kesimpulan dan saran dari saya selaku penulis, semoga dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran kepada lembaga Akademi TNI Angkatan Laut untuk rencana program belajar kedepannya sehingga dapat membekali kemampuan para Taruna untuk menghadapi berbagai problem dan dipersiapkan sebagai Perwira TNI AL yang handal dan DAFTAR PUSTAKA