Tinjauan Buku Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 1 Nomor 1 (Oktober 2. SEJARAH RIYAYA UNDHUH-UNDHUH MOJOWARNO Judul Buku : Sejarah Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno Penulis : Tim Pencatat Sejarah GKJW Mojowarno (Madoedari Wiryoadiwismo. Antinah Mujiastuti. Hudo Wimboko. Prastowo Hadi, dan Wiryo Widiant. Bahasa : Indonesia ISBN : 978-602-6414-15-1 Terbit : 2018 Ukuran : 14 x 20,5 cm Tebal : x 74 halaman Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia Paulus Eko Kristianto Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta paulusekokristianto12@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Kajian rancang bangun teologi lokal sudah lama bersemayam di Indonesia melalui diskusi dan Teologi lokal membangun teologi dari bawah yang menggunakan bahan-bahan lokal yang terdapat di konteks tertentu. Drama dan patung di konteks bisa menjadi situs berteologi (Sedmark, 2002: . Bagaimana proses mengontruksi konteks menjadi teologi lokal? Sedmark menegaskan dua hal. Pertama, bagaimana dan kapan pun teologi diselenggarakan, teologi harus diproses dari suatu tempat. Tempat itu merupakan wilayah atau lingkungan kerja teologi yang berkenaan dengan manusia (Sedmark, 2002: 3-. Kedua, dalam mengembangkan dan membangun sebuah teologi lokal, teologi tersebut membutuhkankan sumber daya yang terdapat di dalam konteks tertentu (Sedmark, 2002: . Teologi lokal menekankan konteks sekitar refleksi logis dan juga mempunyai sejumlah ciri gerejawi melalui asosiasinya dengan gereja lokal (Schreiter, 2006: . Dalam praktiknya, teologi Tinjauan Buku Volume 2 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. lokal bisa diuraikan melalui pendekatan penerjemahan, adaptasi, dan kontekstual. Pendekatan penerjemahan yang melihat tugas teologi lokal dalam dua hal. Pertama, orang Kristen sedapat mungkin membebaskan pesan Kristen dari kandang budayanya sendiri. Kedua, penerjemahan ke dalam situasi baru (Schreiter, 2006: . Pendekatan adaptasi bisa dikatakan penerimaan budaya jauh lebih sungguh-sungguh ketimbang penerjemahan. Pendekatan adaptasi menerima kebudayaan lokal dan kekristenan sama tinggi. Pendekatan adaptasi biasa dilakukan melalui tiga Pertama, orang asing yang bergaul dengan pemimpin lokal akan mengembangkan filsafat atau pandangan dunia budayanya. Kedua, para pemimpin setempat dilatih menggunakan kategori-kategori Barat untuk mengungkapkan faktor-faktor yang membentuk pandangan dunia masyarakat mereka. Ketiga, tidak digunakannya filsafat atau konsep gereja Barat ketika membaca konteks (Schreiter, 2006: 18-. Pendekatan kontekstual cenderung berkonsentrasi pada konteks budaya tempat kekristenan berakar dan diungkapkan. Bila pendekatan adaptasi menekankan pada iman yang diterima, sedangkan kontekstual mulai dengan refleksinya dengan budaya setempat. Dengan kata lain, pendekatan kontekstual dilihat sebagai model yang memuat gambaran ideal berkenaan teologi lokal dan praktiknya di lapangan. Pendekatan kontekstual dilakukan dalam dua bentuk yaitu etnografi dan pembebasan. Etnografi di sini berkenaan dengan penelitian jati diri kebudayaan, sedangkan pembebasan menyentuh perhatian pada penindasan, penyakit sosial, dan perubahan sosial (Schreiter, 2006: . Bertitik pada uraian Sedmark. Schreiter, dan buku ini, undhuh-undhuh dapat dikatakan merupakan perwujudan upaya berteologi lokal dari warga Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno yang kemudian diteruskan ke jemaat-jemaat lainnya di lingkungan GKJW. Mereka menggunakan berbagai sumber daya yang ada di konteks lokal Mojowarno yaitu proses menanam padi hingga panen. Undhuh-undhuh merupakan hari raya persembahan yang berasal dan tumbuh di kelompok Kristen Mojowarno (Wiryoadiwismo, et. , 2018: . Undhuh-undhuh berangkat dari tradisi masyarakat agraris. Hal ini dimulai dari saat akan turun atau mulai mengerjakan sawah yang dilangsungkan tradisi kebetan. Dalam kebetan, jemaat berharap adanya perlindungan dan keselamatan agar tidak ada halangan selama bekerja. Setelah kebetan, mereka menyelenggarakan keleman. Keleman dilakukan ketika padi berusia 36 hari. Di sana, mereka meminta perlindungan Tuhan agar tidak ada serangan hama, air yang berkecukupan, dan pertumbuhan padi bisa bagus. Setelah keleman, mereka barulah melangsungkan undhuh-undhuh. Undhuh-undhuh di sini dimaksudkan sebagai perayaan memetik atau memanen dari apa yang sudah mereka upayakan selama ini. Undhuh-undhuh dibangun dengan kesadaran sebagai perjumpaan tradisi jawa dan Kristen (Wiryoadiwismo, et. , 2018: . Di masyarakat Jawa, mereka mengenal ritual panen raya dan penyimpanan padi ke lumbung. Ritual ini dilakukan secara gotong royong bersama Paulus Eko Kristianto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies tetangga yang dekat dan keluarga. Di kekristenan, mereka belajar dari hal yang dilakukan Musa sebagaimana mempersembahkan hasil panen pertama yang terbaik. Bagi saya, perjumpaan ini merupakan bentuk teologi lokal yang sudah dibangun oleh jemaat Mojowarno dengan mempertemukan peristiwa di konteks lokal yang mereka miliki dan nilai kekristenan yang mereka teladani. Undhuh-undhuh dilangsungkan dengan sukacita. Hal ini dilakukan sebagai wujud syukur atas hasil panen melalui persembahan. Mereka mempersembahkannya secara individu maupun kolektif. Keindividuan dimaknai mereka langsung menyampaikan persembahan tersebut ke gereja melalui panitia, sedangkan kekolektivannya dimaknai mereka membuat bangunan hasil panen arak-arakan yang dihias (Wiryoadiwismo, et. , 2018: . Bangunan ini bisa mengangkat dari cerita Alkitab. Mereka tentu bahu membahu membuat bangunan. Proses ini biasa mereka sebut krakalan. Saya menimbang bagi mereka yang hendak menggali dan merefleksikan teologi lokal, tentu undhuh-undhuh bisa diperhitungkan. Proses ini bisa terselenggara melalui metode James Spradley menerangkan etnografi sebagai metode penelitian yang mengamati perilaku masyarakat berkenaan dengan budaya yang ada di konteks tertentu (Spradley, 1997: Sebagai teologi lokal, undhuh-undhuh tidak hanya menampilkan kekhasan budaya lokal yang selayaknya karakteristik masyarakat agraris di Jawa, melainkan implementasi refleksi Saya menimbang di sini bisa menjadi sisi positifnya. Selain itu, undhuh-undhuh pun bisa dianalisa dari berbagai teori sosial, contohnya makna simbolik (Retnowati, 1. dan Talcot Parsons (Khotimah, 2. Buku Sejarah Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno menjadi pintu masuk sebelum mengunjungi lokasi secara mendalam melalui metode etnografi dan membangun refleksi teologi lokal. Uraian undhuh-undhuh disajikan penulis buku secara komprehensif di setiap bagiannya, khususnya berkenaan sejarah dan proses. Sejarah mengajak pembaca melihat latar belakang atau asal muasal undhuh-undhuh. Melalui sejarah, kita bisa mengenal bahwa undhuh-undhuh merupakan tradisi yang diselenggarakan secara turun-temurun sejak nenek moyang Mojowarno hingga masa kini. Proses menawarkan pembaca bahwa undhuh-undhuh tidak terjadi hanya saat panen saja, melainkan mulai proses awal dan pertengahan penanaman padi juga. Rupanya, proses yang diuraikan di sini tidak dapat dikatakan murni peta sejarah, melainkan gambaran undhuh-undhuh secara empiris. Kombinasi ini membuat peneropongan perjalanan undhuh-undhuh menjadi menarik dan lengkap. Bagi saya, uraian lengkap ini bisa dikatakan kelebihan dari buku. Undhuh-undhuh memang wujud nyata teologi lokal. Sayangnya, berpijak pada gagasan Sedmark dan Schreiter sebagaimana dijabarkan di atas, buku ini belum menunjukkan proses Tinjauan Buku Volume 2 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. berefleksi teologis, meskipun penulis buku mulai menguraikan proses berlangsungnya hari raya itu. Bagi saya, hal ini menjadi penting agar pembaca dan peneliti dapat menarik jarak terhadap konteks kemudian menimbang refleksi menggunakan dan bersama konteks. Celah ini bisa menjadi kelemahan dari buku ini. Pembaca dan peneliti diharapkan dapat berangkat ke konteks dan membangun proses refleksi teologi bersama mereka. Siapa tahu, rumpang ini bisa terisi dalam buku atau jurnal berdasarkan riset di kemudian hari. Selain itu, alasan teologis dan empiris terus berlangsungnya hari raya undhuh-undhuh pun belum teruraikan di buku ini. Padahal di riset teologis, pokok ini menjadi hal penting dan mendasar sebagai pembeda dengan bidang lainnya. Apakah hanya sebatas dialog antara tradisi dan pengalaman Musa dalam biblis? Bagi saya, hal ini bisa termasuk kelemahan buku ini. Bila kelemahan ini teratasi, gereja lain bisa menjadi terdorong dan terinspirasi terus melakukan hari raya ini sebagai wujud aktualisasi iman mereka. Kiranya sisi ini segera terisi oleh pembaca dan peneliti berikutnya. Pada akhirnya, saya merekomendasikan buku ini bagi semua peminat sejarah gereja, dosen, mahasiswa, dan warga jemaat yang hendak meneliti dan mengenal undhuh-undhuh. Gunakan buku ini sebagai pijakan awal, kemudian kunjungilah GKJW Mojowarno, khususnya ketika berlangsung undhuh-undhuh agar Anda dapat merasakan sensasi dan kedalaman tradisi sebagaimana bangunan berteologi lokal yang khas dari Mojowarno. Penulis Buku Buku ini ditulis oleh tim pencatat sejarah GKJW Mojowarno, yang terdiri dari: Madoedari Wiryoadiwismo. Antinah Mujiastuti. Hudo Wimboko. Prastowo Hadi, dan Wiryo Widianto. Daftar Pustaka