Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 7 No. 3 Juli 2023 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 58258/jisip. 5126/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Analisis Pemberitaan Media Online Kumparan. com Tentang Perilaku Asusila Seorang Ustad Berdasarkan Teori Sara Mills Zaenal Mutaqin1 Asep Nurjamin2 Didin Sahidin3 Ardi Mulyana Haryadi4 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pascasarjana Institut Pendidikan Indonesia Article Info Article history: Received : 05 May 2023 Publish : 04 April 2023 Keywords: Keywords: Discourse. Sara Mills. Immoral Info Artikel Article history: Received : 05 Mei 2023 Publish : 04 April 2023 Abstract This research is entitled "An Analysis of Kumparan. com Online Media Reporting About the Immoral Actor of an Ustad Based on Sarra Mills' Theory. Based on this title, the author reveals the problem of ustad's representation in news texts published in online media com for the period December 2021 and January 2022. The news text is discussed based on the views of readers after reading the news. The analysis was carried out using Sara Mills' theory regarding critical discourse analysis. The research method used in this study is a qualitative approach. This type of research is descriptive. Thus the author will explain the news about the immoral behavior of an ustadz using words from the data that has been This research, considering the length of time, the authors limit it to reporting on the immoral behavior of a religious teacher in Bandung on the online media Kumbol. from December 2021 to January 2022. The data collection techniques are in the form of interviews and documentation studies. The results of interviews and documentation were analyzed qualitatively. The results of research on reporting on the immoral behavior of a ustadz in Bandung show that there is a tendency to marginalize the ustadz profession and Islamic boarding schools. Another result is that the reader in every story is always positioned to be an integral part of the text. Abstract Penelitian ini berjudul AuAnalisis Pemberitaan Media Online Kumparan. com Tetang Pelaku Asusila Seorang Ustad Berdasarkan Teori Sarra Mills. Berdasarkan judul tersebut, penulis mengungkap masalah representasi ustad dalam teks-teks berita yang dimuat dalam media online kumparan. com periode Desember 2021 dan Januari 2022. Teks berita tersebut dikupas berdasarkan pandangan pembaca setelah membaca pemberitaan tersebut. Analisis dilakukan menggunakan teori Sara Mills berkenaan dengan analisis wacana kritis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Dengan demikian penulis akan menjelaskan berita tentang perilaku asusila seorang ustadz dengan menggunakan kata-kata dari data yang telah dikumpulkan. Penelitian ini, mengingat lamanya waktu, penulis membatasi pada pemberitaan tentang perilaku asusila seorang ustadz di Bandung pada media online kumparan. com edisi Desember 2021 sampai Januari 2022. Teknik pengumpulan datanya berupa wawancara dan studi dokumentasi. Hasil wawancara dan dokumentasi dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian terhadap pemberitaan perilaku asusila seorang ustadz di Bandung menunjukkan bahwa ada kecenderungan memarjinalkan terhadap profesi ustadz dan lembaga pondok Hasil lainya adalah bahwa pembaca dalam setiap penceritaan selalu diposisikan menjadi bagian dalam teks yang integral. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. Internasional Corresponding Author: Ardi Mulyana Haryadi Institut Pendidikan Indonesia Email : ardimulyana@gmail. PENDAHULUAN Komunikasi merupakan salah satu kegiatan yang penting dilakukan oleh manusia. Komunikasi menjadi kebutuhan yang fundamental bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya di masyarakat. AuRelasi antar manusia dibangun melalui komunikasi, dengan kata lain komunikasi menjadi sarana yang ampuh untuk membangun sebuah relasi antara kita dengan orang lainAy (Hardjana, 2003: . Komunikasi yang mudah dilaukan seseorang dapat terjalin dalam sebuah media. Media yang dimaksud adalah media massa. Dalam penggunaannya media menjadi salah satu alat untuk menyampaikan pendapat dan memberikan suatu pernyataan tentang 1985 | Analisis Pemberitaan Media Online Kumparan. com Tentang Perilaku Asusila Seorang Ustad Berdasarkan Teori Sara Mills (Zaenal Mutaqi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 sesuatu dan dipublikasi melalui media massa. Publikasi yang dimaksud memungkinkan terjalinnya komunikasi antara penulis dan pembaca. Banyak sekali informasi yang dapat dikomunikasikan seorang penulis kepada pembaca dalam media massa. Salah satunya adalah pemberitaan perilaku asusila seorang ustadz di Bandung membuat jagat pemberitaan sangat menggebu-gebu. Dampaknya nama baik ustadz dan pondok pesantren menjadi sangat tercemar. Bagaimana tidak, imajinasi pendengar dan pembaca pemberitaan tersebut terhadap profesi ustadz menjadi kurang baik. Apalagi penggunaan bahasa dalam pemberitaan tersebut sangat terasa seperti menggiring opini publik seolah-olah begitulah perilaku ustadz secara umum. Hal inilah yang menjadi alasan penulis untuk menganalisis pemberitaan tersebut menurut kaca mata Sara Mills. Objek pemberitaan tersebut menurut penulis sangat menarik untuk diteliti. Alasannya adalah untuk membuktikan bahwa tidak ada media dalam memberitakan sesuatu yang bersifat netral. Artinya setiap media memiliki kepentingan tertentu dalam memberitakan sesuatu meskipun mereka selalu berdalih bahwa pemberitaannya bersifat netral dan objektif (Eriyanto,2013:. Salah satu bentuk komunikasi adalah adanya informasi baik dari lisan maupun tulisan. Informasi dari media massa baik media televisi maupun media online begitu mendominasi. Mulai dari informasi politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keagamaan. Salah satu berita yang sangat ramai dibicarakan pada kisaran bulan Desember 2021 sampai dengan bulan Januari 2022 adalah masalah perbuatan asusila seorang ustadz terhadap santrinya di daerah Bandung. Intensitas komunikasi antara santri dan ustadz di pesantren begitu padat. Selain itu, tingkat keakraban di antara mereka terjalin begitu sangat kuat. Ketaatan seorang santri kepada ustadznya juga sangat tinggi. Hal-hal inilah salah satu pemicu kemungkinan seorang ustadz berbuat salah atau khilaf. Hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang tidak mungkin karena ustadz juga sama dengan manusia pada umumnya, sebagai manusia biasa sehingga terpancing untuk berbuat Dengan demikian ketika seorang ustadz berbuat salah, media massa seolah-olah berbondong-bondong memberitakannya. Kadang-kadang pemberitaan itu tidak seimbang sehingga menimbulkan pemahaman yang tidak baik terhadap kredibilitas ustadz dan pesantren pada umumnya. Oleh karena itu, penulis akan mencoba meneliti pemberitaan seperti itu yang ada pada media online Kumparan,com pada periode Desember 2021 dan Januari 2022. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini, sebagai berikut. Bagaimanakah representasi ustadz dalam teks-teks berita yang dimuat media online kumparan. com periode Desember 2021 dan Januari 2022? . Bagaimanakah pandangan pembaca setelah membaca isi pemberitaan tersebut? METODE PENELITIAN Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif. Metode kualitatif dengan penelitian deskriptif. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif kualitatif. Hal tersebut dilakukan karena peneliti ingin menemukan fakta dan menganalisis teks pemberitaan sekitar perilaku tidak senonoh seorang ustadz di Bandung. Analisis yang dimaksud adalah sekitar representasi ustadz dalam teks-teks berita yang dimuat media online kumparan. com periode Desember 2021 dan Januari 2022 dengan menggunakan teori Sara Mills. Terdapat dua teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis untuk mendapatkan berbagai informasi. Kedua teknik tersebut adalah wawancara, dan studi Teknik pengolahan data pada penelitian ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu langkah identifikasi, kategorisasi, kodifikasi, reduksi, dan sintesis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Penelitian Teori yang dikemukakan Sara Mills lebih menekankan posisi aktor ditampilkan dalam Peran aktor dilihat sebagai bentuk menjadikan seseorang yang berpotensi sebagai Dalam perkembangannya suatu pihak memiliki posisi sebagai penfsir sementara piha lain memiliki posisi sebagai objek yang ditafsirkan secara umum. Dalam analisis ini ada dua 1986 | Analisis Pemberitaan Media Online Kumparan. com Tentang Perilaku Asusila Seorang Ustad Berdasarkan Teori Sara Mills (Zaenal Mutaqi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 hal yang harus diperhatikan. Pertama, siapa pihak sebagai aktor yang diposisikan sebagai subjek atau objek dalam pemberitaan. Selanjutnya siapa pihak yang diposisikan sebagai penafsir dalam teks untuk memaknai suatu peristiwa dan akibatnya. Kedua, bagaimana pembaca diposisikan dalam teks. Dalam memposisikan teks berita, akan bisa dilihat bagaimana berita dimaknai sebagai hasil negosiasi antara pembaca dan penulis. Dengan demikian, akan tampak seperti apa khalayak yang diharapkan oleh penulis untuk pembaca (Eriyanto, 2001: . Untuk meneliti dan membahas berita yang disuguhkan selama dua bulan berturut-turut, yaitu periode Desember 2021 dan Januari 2022 di kumparan. penulis akan mengambil sampel pemberitaan selama empat hari. Setiap pemberitaan akan dianalisis sesuai dengan teori Sara Mills. Teori tersebut adalah menganalisis posisi subjek, posisi objek, dan posisi pembaca. Selain itu penulis juga akan menampilkan komentarkomentar pembaca yang terdapat dalam setiap pemberitaan. Pertama, teks berita tanggal 9 Desember 2021. AuMelihat Ponpes Milik Herry Wirawan. Pemerkosa 12 SantriAy. Berdasarkan subjek-objek pemberitaan Melihat Ponpes Milik Herry Wirawan. Pemerkosa 12 Santri. Dengan melihat dan memperhatikan judul berita tersebut, menyebabkan banyak pembaca yang menggeneralisasi bahwa seolah-olah ponpes dan pemiliknya secara umum berperilaku seperti itu. Kemudian dalam teks beritanya dikatakan bahwa seorang pemilik pondok pesantren di kota Bandung. Herry Wirawan . , melakukan pemerkosaan pada 12 orang santrinya. Aksi bejat ini dilakukan pelakurentang waktu 20162021. Pemerkosaan dilakukan di pondok pesantren, apartemen, dan sejumlah hotel di Bandung. Teks berita mengakibatkan banyak pembaca yang mengasosiasikan antara lembaga pondok pesantren dengan tempat lain, seperti apartemen dan hotel, yang semuanya diasumsikan sebagai tempat yang lumrah untuk berbuat tidak senonoh. Dari data pada teks yang ditelaah, tidak ditemukan klarifikasi kepada korban (Para ustadz selain Herry Wirawa. Kehadirannya sebagai subjek pemberitaan dimarjinalkan oleh beberapa hal seperti korban selalu menjadi bahasa utama dalam teks berita dan terdapat pernyataan yang menyudutkan korban. Selain itu, foto-foto yang ditampilkan dalam bentuk berita menggambarkan penampilan keseharian seorang ustadz yang berbaju koko dan berpeci. Ada kesan menggiring opini untuk menyudutkan profersi ustadz secara keseluruhan. Pemberitaan perbuatan tidak seorang ustadz oleh media online kumparan. com pada tanggal 9 Desember 2021, setelah dianalisis ditemukan bahwa posisi ustadz dan lembaga pondok pesantren menjadi objek pemberitaan. Marjinalisasi ustadz dan pondok pesantren sebagai objek berita tidak hanya terlihat dari pilihan kata yang digunakan untuk judul berita, tetapi juga terdapat pada hampir keseluruhan isi berita. Segala sesuatu tentang korban baik santriwati sebagai korban langsung maupun ustadz dan pondok pesantren secara umum sebagai korban kedua lengkap sebagai interpretasi pembuat berita . 2 Pembahasan Berdasarkan posisi pembaca. Marjinalisasi posisi ustadz . ecara umu. oleh pembaca berita perbuatan tidak senonoh seorang ustadz di Bandung edisi 9 Desember 2021 ditemukan bahwa pembaca dalam setiap penceritaan diposisikan menjadi bagian yang integral dalam teks misalnya dengan pemakaian kata ganti. Kata ganti yang sering digunakan adalah AumerekaAy. Bukti bahwa dalam teks berikut ini. AuMereka hanya bisa keluar apabila hendak membeli jajanan ke warung di sekitar pondok. Aktivitas mereka . ondok perantre. cenderung tertutupAy. Hal tersebut menjadikan pembaca dominan atas teks. Dengan demikian, pembaca dapat memposisikan dirinya sebagai Aulaki-laki atau perempuanAy. Ketika pembaca diposisikan sebagai salah satu pihak, maka pembaca tidak akan banyak protes. Hal tersebut dikarenakan berjalan dengan apa yang diinginkan penulis. Data di depan membuktikan bahwa pembaca digiring untuk bersimpati pada pihak yang merasa Aukurang senangAy terhadap profesi ustadz dan lembaga pondok pesantren. Oleh karena itu, posisi ustadz dan lembaga pondok pesantren dianggap lebih lemah. Posisi ustadz dan lembaga pondok pesantren sebagai pihak yang salah di mata khalayak. Hal lain menjadi bukti posisi 1987 | Analisis Pemberitaan Media Online Kumparan. com Tentang Perilaku Asusila Seorang Ustad Berdasarkan Teori Sara Mills (Zaenal Mutaqi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 ustadz dan pondok pesantren secara umum tidak ditemukannya dalam pemberitaan mengenai klarifikasi dari pihak penulis. Berdasarkan komentar netizen dalam media mass. Komentar-komentar yang ditemukan bahwa tidak ada pembuat berita di suatu media yang benar-benar netral. Setiap wacana berita yang dibuat memiliki kepentingan sendiri di dalamnya di samping untuk menyampaikan Oleh sebab itu, isi berita tidak bersifat objektif. Pemberitaan perbuatan ustadz yang berperilaku tidak senonoh pun terasa menggiring opini kepada khalayak untuk menyudutkan posisi ustadz dan pondok pesantren. Kedua, teks berita tanggal 10 Desember 2021, 5 Dosa Besar Herry Wirawan. Pemerkosa 12 Santriwati hingga Melahirkan. Di dalam teks berita tersebut memuat beberapa fakta. Pertama. Herry Wirawan rusak Masa Depan Korban. Kedua. Herry Wirawan Jadikan Bayi dari Korban sebagai alat Minta Sumbangan. Ketiga. Herry Wirawan Selewengkan Dana Indonesia Pintar dan Dana Bos. Keempat. Herry Wirawan Merusak Citra Pesantren dan Pendidik. Berdasarkan posisi objek dan subjek pemberitaan. Peran aktor dilihat sebagai bentuk pensubjekan seseorang. Dalam perkembangannya suatu pihak memiliki posisi sebagi penafsir sementara pihak lain menjadi objek yang ditafsirkan secara umum. Dalam analisis ini ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama siapa pihak atau aktor sosial yang yang diposisikan dalam pemberitaan. Selanjutnya siapa pihak yang diposisikan sebagai penafsir dalam teks untuk memaknai peristiwa dan akibatnya. Kedua bagaimana pembaca diposisikan dalam teks. Dalam memposisikan teks beritaakan dilihat bagaimana berita dimaknai sebagai hasil negosiasi antara pembaca dan penulis. Dengan demikian, akan terlihat khalayak seperti apa yang diharapkan oleh penulis untuk pembaca. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Eriyanto . Media . sepenuhnya berposisi sebagai subjek pemberitaan. Oleh karena itu, posisinya sebagai wartawan sangat menguntungkan karena bisa dengan leluasa menceritakan peristiwa dan menafsirkan berbagai tindakan yang membangun peristiwa tersebut. Akan tetapi, kehadiran istilah ustadz dan lembaga pondok pesantren secara umum sebagai subjek masih dimarjinalkan. Hal tersebut dapat dilihat dengan keberadaannya yang tidak dapat leluasa dalam menceritakan peristiwa sesuai dngan sudut pandangnya sendiri. Bahkan sama sekali tidak diberika ruang untuk memberikan klarifikasi atau menjelaskan perihal kejadian yang menimpa sebuah pondok pesantren dan seorang ustadz di Bandung berbuat tidak senonoh. Merujuk pada keseluruhan data dalam teks berita yang dianalisis, tidak ditemukan klarifikasi kepada korban (Para ustadz selain Herry Wirawa. Bahkan kehadirannya sebagai subjek pemberitaan dimarjinalkan oleh beberapa hal seperti korban selalu menjadi bahasa utama dalam teks berita dan terdapat pernyataan yang menyudutkan korban. Selain itu, foto-foto yang ditampilkan dalam bentuk berita menggambarkan penampilan keseharian seorang ustadz yang berbaju koko dan berpeci. Dampanya muncul kesan menggiring opini untuk menyudutkan profersi ustadz secara keseluruhan. Berdasarkan posisi pembaca, pembaca dapat memposisikan dirinya sebagai Aulaki-laki atau perempuanAy. Ketika pembaca diposisikan sebagai salah satu pihak, maka pembaca tidak akan banyak protes. Hal tersebut disebabkan pemberitaan berjalan sesuai dengan keinginan Terjadi upaya menggiring opini kepada pembaca untuk tidak bersimpati kepada ustadz dan pondok pesantren secara umum. Selain itu, penulis berita pun menggiring opini kepada khalayak seolah-olah untuk menghindari ustadz dan pondok pesantren karena selalu berperilaku tidak sesuai dengan harapan orang tua yang berminat menitipkan anaknya ke lembaga pondok pesantren. Ketiga, teks berita edisi 20 Januari 2022. Herry Wirawan Jalani Sidang Pledoi. Kuasa Hukum Minta Hakim Beri Hukuman Adil. Berdasarkan subjek-objek pemberitaan. Media . sepenuhnya berposisi sebagai subjek pemberitaan. Oleh karena itu, posisinya sebagai wartawan sangat menguntungkan sebab leluasa menceritakan peristiwa dan menafsirkan berbagai tindakan yang membangun peristiwa tersebut. Namun, kehadiran 1988 | Analisis Pemberitaan Media Online Kumparan. com Tentang Perilaku Asusila Seorang Ustad Berdasarkan Teori Sara Mills (Zaenal Mutaqi. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 istilah ustadz dan lembaga pondok pesantren secara umum sebagai subjek masih Hal tersebut bisa dilihat dengan keberadaannya yang tidak dapat leluasa dalam menceritakan peristiwa sesuai dngan sudut pandangnya sendiri. Bahkan sama sekali tidak diberika ruang untuk memberikan klarifikasi atau menjelaskan perihal kejadian yang menimpa sebuah pondok pesantren dan seorang ustadz di Bandung. Dari keseluruhan data yang didapat dari teks berita, tidak ditemukan klarifikasi kepada korban (Para ustadz selain Herry Wirawa. Bahkan kehadirannya sebagai subjek pemberitaan dimarjinalkan oleh beberapa hal seperti korban selalu menjadi bahasa utama dalam teks berita dan terdapat pernyataan yang menyudutkan korban. Berdasarkan posisi pembaca, analisis pada pemberitaan media online kumparan. edisi 20 Januari 2022 hampir sama dengan edisi-edisi sebelumnya. Dengan menggunakan teori Sara Mills yang memposisikan pembaca dengan mengacu kepada gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai pandangan yang berbeda saat membaca suatu teks yang sama. Dalam hal ini posisi ustadz secara umum digambarkan sebagai orang yang selalu berbuat Dalam pengertian lain, posisi Herry Wirawan, yang berprofesi sebagai ustadz dan melakukan tindakan tidak senonoh berdampak pada profesi ustadz secara umum termasuk pada pesantren. Berdasarkan komentar para pembaca media massa. Semua pemberitaan di suatu media pasti ada target-target yang ingin dicapai. Oleh karena itu, isi beritanya jauh dari Pemberitaan sekitar perbuatan ustadz yang berperilaku tidak senonoh pun sangat terasa menggiring opini kepada khalayak untuk menyudutkan posisi ustadz dan pondok pesantren. KESIMPULAN Adapun kesimpulan penelitian ini, sebagai berikut. Pertama, kebebasan berekspresi dan berpendapat berimbas pada media massa. Perilaku asusila yang dilakukan oleh seorang ustadz yang bernama Herry Wirawan di Bandung periode Desember 2021 sampai Januari 2022 memancing beragam opini dari para penulis wacana berita pada media massa baik media cetak maupun online. Salah satunya adalah media online kumparan. Keberadaan dan gambaran ustadz dan pondok pesantren dalam pemberitaan pada kumparan. com menjadi wilayah pemberitaan yang termarjinalkan atau terpinggirkan. Posisi ustadz selalu menjadi objek Penulis berita begitu leluasa dalam menafsirkan kejadian yang terjadi di lapangan. Sementara itu, ustadz dan pondok pesantren yang menjadi objek pemberitaan tidak diberikan ruang untuk memberikan klarifikasi. Hal tersebut berdampak pada khalayak dalam menilai dan menggambarkan keadaan ustadz dan pondok pesantren secara umum. Seolah-olah gambaran dan keadaan ustadz dan pondok pesantren secara umum seperti yang terjadi dalam pemberitaan Oleh karena itu, akibat provokasi pemberitaan pada media online kumparan. profesi ustadz dan lembaga pondok pesantren mendapat penilaian negatif. Kedua, komentar pembaca setelah membaca pemberitaan seputar perbuatan asusila seorang ustadz di Bandung Terdapat tiga kelompok komentar. Komentar pembaca yang terpengaruh dengan pemberitaan yang provokatif. Pemberitaan yang menggiring kepada pemahaman pembaca bahwa seolah-olah begitulah kelakuan yang dilakukan oleh ustadz di pondok pesantren secara umum. Komentar pembaca yang tidak mau peduli dengan kejadian dalam pemberitaan. Komentar pembaca yang menerima informasi dari pemberitaan secara kritis. Dengan demikian, terdapat upaya pembelaan tidak semua ustadz berperilaku seperti yang diberitakan. DAFTAR PUSTAKA