CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Pemanfaatan Limbah Kulit Durian sebagai Sumber Energi Terbarukan melalui Teknologi Inklusif Berbasis Biobriket Dwi Retna Sulistyawati1*. Gunawan Mohammad2. Muhammad Choiru Zulfa3. Desti Setiyowati4. Tiara Turay5. Ihwan Ghazali6 Kata Kunci: Limbah Kulit Durian. Biobriket. Energi Terbarukan. Teknologi Inklusif: Pemberdayaan Masyarakat. Keywords : Durian Peel Waste. Biobriquettes. Renewable Enable. Inclusive Technology. Community Empowerment. Corespondensi Author Fakultas Fakultas Sains & Teknologi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara Email: retno. seis@unisnu. Article History Received: 29-09-2025. Reviewed: 12-11-2025. Accepted: 25-11-2025. Available Online: 18-12-2025. Published: 28-12-2025. Abstrak. Kawasan Lenggong Perak sebagai salah satu pusat penghasil durian, namun belum mampu mengatasi permasalahan limbah durian, sehingga diperlukan suatu teknologi atau solusi dalam mengatasinya. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini, sepakat untuk mengelola kulit durian, yang merupakan masalah bagi masyarakat menjadi produk baru bermanfaat serta memiliki nilai jual. Adapun metode yang diperkenalkan dan digunakan dalam kegiatan ini yaitu teknologi inklusif yaitu teknologi pengolahan dengan memanfaatkan alat-alat sederhana, effisien dan efektif. Hasil dari kegiatan ini masyarakat dapat menghasilkan Biobriket dari pemanfaatan limbah kulit durian, dimana berdasarkan hasil uji coba dimana 250 gram briket kulit durian mampu mendidihkan 2,5 liter air dalam waktu 30 menit. Berdasarkan hasil riset uji kalor biobriket kulit durian dapat dijelaskan bahwa panas yang dihasilkan cukup untuk menggantikan batu arang yang saat ini tersedia. Dengan hasil tersebut diharapkan masyarakat mampu menciptakan peluang kerja baru pendapatan tambahan. Abstract. The Lenggong Perak area is one of the durian producing centers, but has not been able to overcome the problem of durian waste, so a technology or solution is needed to overcome this. The purpose of this community service activity is to agree to process durian skin, which is a problem for the community, into new, useful products that have a selling value. The method introduced and used in this activity is inclusive technology, namely processing technology using simple, efficient, and effective tools. The results of this activity, the community can produce Biobriquettes from the utilization of durian skin waste, where based on the results of the trial where 250 grams of durian skin briquettes can boil 2. 5 liters of water in 30 minutes. Based on the results of the research on the heat test of durian skin biobriquettes, it can be explained that the heat produced is sufficient to replace the currently available With these results, it is hoped that the community will be able to create new job opportunities producing biobriquettes as a source of additional income. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 yang tinggi pada kulit durian menjadikannya bahan baku yang potensial untuk diubah menjadi berbagai jenis energi terbarukan, seperti briket, bioetanol, atau biogas (Nuriana. Anisa, and Martana 2. Dalam konteks ini, teknologi inklusif dapat berperan sebagai solusi untuk mengubah limbah durian menjadi sumber energi yang ramah lingkungan. Teknologi inklusif yang dimaksud adalah penerapan teknologi yang dapat diakses dan digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di daerah dengan sumber daya terbatas (Arifin. Winarno, and Badrudin 2. Oleh karena itu, upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi limbah yang selama ini menjadi permasalahan, tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan ekonomi, serta mendukung (Mohammad. Sulistyawati, and Susila 2. Merujuk masalah yang dihadapi masyarakat pada umumnya dan kelompok petani pokok durian khususnya akan timbunan sampah atau limbah kulit durian saat panen raya, dengan mengusung teknologi inklusif diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Adapun skema penyelesaian masalah yang dikenalkan adalah dengan melakukan pengelolaan lanjutan pasca panen untuk menangani penumpukan kulit durian menjadi sebuah produk baru yang bermanfaatan dan memiliki nilai jual serta memiliki keunggulan mudah dalam proses produksinya yaitu memproduksi briket atau arang berbahan dasar kulit durian atau yang kita kenal dengan biokriket. Skema ini sangat potensial untuk dilakukan, karena jumlah sampah atau limbah berupa kulit durian sangat banyak, sehingga ketersediaan bahan baku dalam pembuatan biobriket terjaga. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Ida Ayu Widhiantari, dkk, . , yang menjelaskan tentang pemanfaatan limbah dari kulit durian sebagai alternatif bahan bakar, serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak. LPG, kayu bakar, serta sebagai solusi dalam menjaga lingkungan dari Kelompok petani pokok durian maupun masyarakat Lenggong Perak hingga saat ini belum memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam melakukan pengelolaan lanjutan hasil perkebunan PENDAHULUAN Limbah kulit durian merupakan hasil sampingan dari konsumsi buah durian yang populer, sering kali dianggap sebagai masalah lingkungan yang perlu diatasi. Banyaknya kulit durian, biji durian, serta bagian-bagian lain dari buah ini yang terbuang begitu saja, tidak hanya menyebabkan masalah sampah tetapi juga menambah beban pada pengelolaan limbah di berbagai daerah penghasil durian (Amalia et al. , 2. Padahal, durian adalah buah yang sangat banyak dikonsumsi, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia. Malaysia. Thailand, dan Filipina. Lenggong merupakan sebuah kota di bagian utara negeri Perak. Malaysia dengan produksi durian 59. 217,3 ton durian tiap tahunnya dengan nilai RM462,28 juta (Ahmad et al. Dimana Sebagian besar kawasan Lenggong merupakan daerah penghasil Saat musim panen raya Pusat Penggumpulan Hasil Pertanian (PPHP) PPK Lenggong, menghadapi permasalahan yang sama yaitu penumpukan kulit durian dimanamana, yang mengakibatkan bau tidak sedap. Sebuah terobosan inovasi radikal pada memperkenalkan teknologi, proses, atau inovasi baru dalam pengelolaan menjadi produk thoyyib dan mudah digunakan (Sulistyawati. Mutamimah, and Hartono Keterbatasan akan informasi dan pengetahuan dalam pengelolaan lanjutan pasca panen hasil perkebunan khususnya limbah dari buah-buahan diantaranya kulit durian, jika tidak dikelola dengan baik (Maria. Susilo, and Nur Hidayat 2. Dibalik sampah/limbah kulit durian di Lenggong Perak, terdapat potensi besar yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Limbah kulit durian memiliki kandungan nutrisi yang pengelolaan lebih lanjut sebagai bahan baku untuk berbagai produk bernilai jual tinggi, baik di sektor energi maupun pangan (Mahmudati Selain itu, pemanfaatan limbah kulit durian juga berpotensi mendukung upaya pengurangan pencemaran lingkungan melalui daur ulang limbah organik (Zulfa et al. , 2022. Mohammad et al. , 2. Kandungan selulosa Sulistyawati, et al. Pemanfaatan Limbah Kulit Durian. khususnya limbah kulit durian . Hingga saat ini pemanfaatan limbah biomassa . ulit duria. menjadi biobriket yang memiliki nilai kalor yang cukup tinggi belum maksimal oleh masyarakat. Merujuk hasil observasi awal, maka tim pengabdian sepakat untuk mengelola kulit durian, yang merupakan masalah bagi masyarakat menjadi produk baru bermanfaat serta memeiliki nilai jual dengan metode yang sederhana, effisien dan efektif. Sosialisasi, pembekalan, pendampingan dan pelatihan secara insentif dilakukan tim pengabdian kepada kelompok petani pokok durian dan masyarakat Lenggong Perak Malaysia, dalam melakukan pengolahan lanjutan limbah kulit durian. Disini tim akan mengenalkan kepada mitra khususnya pembuatan biobriket dengan memanfaatkan kulit durian sebagai bahan bakunya. Inisiasi masyarakat berbasis teknologi inklusif untuk mengubah limbah kulit durian menjadi sumber energi terbarukan menawarkan solusi inovatif untuk masalah limbah dan kebutuhan energi. Program ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan akibat penumpukan limbah kulit keterampilan praktis. Lenggong Perak Malaysia sebagai bentuk awal pendampingan dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran mengenai manfaat yang bisa dihasilkan dari produk samping yang berasal dari limbah hasil perkebunan durian. Sosialisasi ini dilakukan dengan penyampaian materi oleh tim bertujuan memberikan deskripsi atau gambaran akan proses pembuatan biobriket berbahan kulit durian, sehingga memudahkan untuk tahapan selanjutnya dalam kegiatan praktek langsung membuat briket. Tahap ketiga melakukan pelatihan teknis pembuatan biobriket. Pelatihan dengan metode inklusi pembuatan biobriket, dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku berupa kulit durian hingga diolah menjadi produk briket kulit durian atau biobriket dengan memanfaatkan alat-alat sederhana untuk memudahkan semua peserta khususnya dan masyarakat umumnya dapat melakukan secara mandiri. Pendampingan pelatihan inklusi dalam pembuatan biobriket berbahan kulit durian ini dapat memotivasi kelompok petani durian / masyarakat untuk terus dapat memanfaatkan potensi limbah yang ada menjadi produk yang bernilai. Tahap akhir dari kegiatan ini dengan melakukan uji coba biobriket yang telah dihasilkan, untuk selanjutnya dapat dilakukan evaluasi atas produk maupun tahapan-tahapan dalam melakukan proses produksi. Tujuan dari kegiatan evaluasi ini adalah untuk mengetahui kemampuan dan keberhasilan kelompok dalam penyerapan materi dan melakukan praktek pengolahan limbah berupa kulit durian menjadi biobriket, sehingga jika ada ketidakseuaian dapat dilakukan penyesuaian untuk menghindari kegagalan dalam produksi METODE Kegiatan pengabdian masyarakat kolaboratif antara Fakultas Sains dan Teknologi Unisnu Jepara Bersama dua perguruan tinggi dari Malaysia. Kegiatan ini berlokasi di Leggong Perak Malaysia dengan menjadikan masyarakat dan petani durian sebagai sasarannya. Metode pengabdian yang digunakan Participatory Action Research (PAR)(Brewer and Kliewer 2. Metode PAR dapat memberikan contoh bagaimana kolabirasi universitas dan komunitas dapat mendekati perubahan dengan cara baru. Adapun tahapan kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD). Tahap awal dari kegiatan pengabdian kolaborasi ini adalah dengan melakukan FGD dengan seluruh anggota yang terlibat yaitu tim pengabdian Unisnu dengan tim dari Malaysia untuk menyatukan visi dan misi dari kegiatan ini. Selanjutnya tahap kedua dari kegiatan ini, yaitu tim pengabdian melakukan sosialisasi pada petani pokok durian dan masayarakat HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program pengabdian Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisn. Jepara bersama dengan dua perguruan tinggi dari Malaysia yaitu University Technical Malaysia Melaka (UTeM) dan City University Malaysia, kepada masyarakat dan petani durian di Lenggong Perak. Kegiatan yang diawali dengan koordinasi bersama rekanrekan dari dua kampus yang berbeda di Malaysia, untuk mempersiapkan segala keperluan dalam kegiatan pengabdian ini. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 dengan murah. Adapun secara alur pembuatan biobriket tampak pada bagan berikut ini. FGD dan Sosialisasi Program Pengabdian Mengenalkan sebagai strategi penting dalam pemberdayaan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan menjadi strategi dalam peningkatan usaha mikro (Farida et al. Dimana tim pengabdian bersama mitra melakukan eksplorasi dan adopsi teknologi inklusif serta kolaborasi ekosistem dalam meningkatkan kinerja kelompok petani Setelah dilakukan FGD dengan semua tim pengabdian yang tergabung, tim pengabdian melakukan sosialisasi kepada para petani durian dan masyarakat Lenggong Perak Malaysia. Dalam kegiatan ini akademisi dari Malaysia berperan aktif untuk memudahkan dalam berkomunikasi. Meskipun kendala Bahasa tidak terlalu dirasa, akan tetapi langkah ini dirasakan lebih efektif dalam menjalin komunikasi dengan teman-teman mitra petani durian. Gambar 2. Alur Pembuatan Briket Kulit Durian Tahapan pendampingan pembuatan biobriket kulit durian yang diawali dengan persiapan alat dan Adapun alat dan bahan yang diharus dipersiapakan untuk praktek membuat biobriket kulit durian yaitu : multi use mincer, talenan, pisau, pencacah, kompor, pengaduk, baskom, wajan, sarung tangan, masker, panci dan nampan. Untuk bahan baku kulit durian yang telah dikeringkan dan tepung tapioca. Selnjutnya adaah proses pengarangan atau Setelah memastikan kulit durian telah benar-benar kering setelah dilakukan pengeringan dengan sinar matahari selama kurang lebih 1 minggu, maka dilanjutkan proses pengarangan dengan memanfaatan drum bekas atau tempat lainnya tahan panas untuk pengrangan kulit durian yang dibakar di Proses dilakukan dengan menggunakan tempat yang dapat ditutup rapat, dengan tujuan dapat menekan oksigen yang masuk, saat pembakaran hingga menjadi abu dengan durasi waktu 6 - 8 jam (Mahmudati 2. Setelah kulit durian dilakukan pengarangan selama kurang lebih 6 Ae 8 jam, didinginkan terlebih dahulu kemudian Gambar 1. FGD Tim Pengabdian dan Mitra Pelatihan Inklusi Pembuatan Biobriket Kulit Durian Tahapan penyampaikan materi tahapan-tahapan dalam pemanfaatan sampah organik menjadi produk baru yang memiliki nilai jual (Zulfa. Akbar, and Azzat 2. disini limbah kulit durian, serta pengolahannya dengan teknologi inklusif yaitu metode dan alat sederhana. Pada tahap ini dijelaskan tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menghasilkan biobriket dari kulit durian. Materi ini disampaikan sebelum dilakukan pendampingan pada kegiatan praktek pembuatan biobriket kulit durian. Adapun materi yang diberikan yaitu pemanfaatan dan pengolahan limbah kulit durian menjadi briket, dengan menggunakan alat-alat serta metode yang sederhana sehingga mudah untuk di lakukan oleh masyarakat Sulistyawati, et al. Pemanfaatan Limbah Kulit Durian. penghalusan arang kulit durian menjadi serbuk atau butir-butir halus. Proses penumbukan bisa dilakukan dengan memanfaatkan alat yang tersedia di lingkungan mitra, missalnya dengan lumpang/lesung, cobek. Proses selanjutnya adalah membuat adonan perekat dengan tepung pati kanji/tapioca dengan mencampurkan tepung dengan air dingin setelah larut dimanaskan hingga menjadi bening warna adonan artinya siap digunakan menjadi perekat, dengan perbandingan tepung dan air 1:3 . gr tepung kanji dicampur dengan 1200 ml ai. (Rahayuningtyas et al. Proses Pencampuran Abu Kulit Durian dan Lem/Perekat dilakukan dengan cara mencampur lem kanji dengan arang kulit durian yang sudah ditumbuk dengan perbandingan 1 : 10 . kg adonan perekat dicampur dengan 10 kg arang tumbu. (Sonia Tampubolon 2. Arang kulit durian dengan lem kanji dicampur hingga merata dan menjadi adonan, hingga siap dicetak. Selama pencampuran ditambahkan air sebanyak 10% dari berat arang. Setelah serbuk arang dan lem tercampur rata, proses berikutnya adalah pencetakan dengan menggunakan alat multi use mincer untuk membantu agar proses cetak lebih mudah dan mendapat ukuran yang seragam, rapi dan menarik, serta memudahkan Penggunaan multi use mincer sangat mudah untuk digunakan dan familiar bagi masyarakat, untuk menghasilkan produk Hasil campuran serbuk arang dan lem kanju yang sudah tercampur rata, kemudian dimasukkan kedalam corong multi use mincer adonan/campuran yang lengket. Tujuan adonan ditekan supaya masuk dalam leher multi use mincer, sambal tuas diputar untuk mengeluarkan adonan/campuran tersebut dalam bentuk yang sesuai cetakan. Setelah adonan keluar dari cetakan tahapan selanjutnya adalah memotong sesuai ukuran yang diinginkan. Untuk memotong sesuai ukuran dilakukan pada saat kondisi adonan briket masih dalam kondisi setengah basah atau belum mengeras. Akhir dari semua tahapan dalam proses pembuatan biobriket kulit durian adalah pengeringan, pada kondisi normal artinya tidak terkendala cuaca dan sinar matahari cukup terik. Maka proses pengeringan dengan menggunakan sinar matahari atau alami memerlukan waktu 1 benar-benar Sedangkan untuk kondisi tertentu yaitu saat musim penghujan proses pengeringan memerlukan waktu yang lebih lama jika bergantung pada terik matahari. Kondisi menjelaskan dimana, jika untuk produksi skala besar nantinya untuk proses pengeringan tidak bisa bergantung pada alam atau matahari, sehingga perlu dapat dikembangkan alat memanfaatkan mesin oven untuk proses Uji Coba Biobriket dan Evaluasi Kegiatan Biobriket kemudian dilakukan percobaan penyalaan, dari hasil uji coba diperoleh data bahwa 250 gram briket kulit durian mampu mendidihkan 2,5 liter air dalam waktu 30 menit. Berdasarkan hasil riset uji kalor biobriket kulit durian dapat dijelaskan bahwa panas yang dihasilkan cukup untuk menggantikan batu arang yang saat ini tersedia. Berdasarkan hasil penelitian Nuriana et al. , . Dimana biobriket berbahan kulit durian memiliki nilai kalor lebih besar disbanding biobriket lainnya yang berbahan sekam padi, cangkang sawit, serbuk gergaji (Siregar et al. , 2021. Faradaiza et al. , 2. Berdasarkan hassil penelitian tersebut dapat dilihat kalor yang dihasilkan oleh biobriket berbahan kulit durian sebesar 274,29 kal/g berada dibawah batubara dan lebih tinggi dibandingan dengan serbuk Melihat potensi tersebut sangat layak jika biobriket kulit durian ini dikembangkan menjadi sebuah industri rumah tangga. Tabel 1. Perbandingan Nilai Kalor Biobriket Hasil penelitian oleh Siregar et al. menjelaskan akan kandungan senyawa Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 kulit durian menunjukkan dimana senyawa karbon cukup tinggi 57,42% . UCAPAN TERIMAKASIH