Recoms: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 2 No. 2 Desember 2025 E-ISSN: 2987-0909 TRADISI PESANTREN SEBAGAI BENTENG MORAL DAN BUDAYA BANGSA Siti Zulaika. Fadhil Uzmi. Iqbal Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Indonesia E-Mail Correspondence: sitizulaika20601@gmail. ABSTRACT This study examines the role of pesantren traditions as moral and cultural safeguards in Indonesia amid increasing social and technological changes. The research aims to analyze how pesantren practices such as discipline, clerical role modeling, communal life, and ritual activities shape studentsAo moral character and preserve local cultural Using a library research method with critical analysis, this study reviews openaccess national publications from 2019Ae2024 to map relevant concepts and findings. The results show that pesantren traditions function as effective instruments for internalizing moral values while simultaneously maintaining local cultural heritage. However, pesantren face challenges from modernization, digital exposure, and shifting youth lifestyles, requiring adaptive strategies to remain relevant. In this context, pesantren are encouraged to reinterpret and reconstruct their traditions without losing their traditions without losing their fundamental moral and cultural Adaptive efforts such as contextual learning, cultural acculturation, and the integration of contemporary social realities are necessary to ensure the sunstainability of pesantren traditions. The study concludes that pesantren possess strong potential as moral and cultural fortresses, provided they continue to reconstruct traditions in a contextual and transformative manner in response to ongoing social change. Keywords: Adaptation. Culture. Moral Education. Pesantren. Tradition This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license. DOI: 10. 59548/rc. JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Pendahuluan Pesantren sepanjang sejarahnya berperan ganda: sebagai lembaga pendidikan agama dan sekaligus sebagai penjaga nilai-nilai moral dan warisan budaya lokal yang melekat pada komunitas Muslim di Nusantara. Tradisi pengasuhan, keteladanan kiai, kehidupan kolektif santri, dan praktik ritual tertentu menjadikan pesantren bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan juga mesin reproduksi moral dan budaya yang memengaruhi pola pikir generasi. Oleh karena itu kajian tentang tradisi pesantren sebagai benteng moral dan budaya penting untuk memahami bagaimana institusi ini terus menyumbang pada pembentukan watak kebangsaan (Qurtubi & Hudi, 2. Secara konseptual pesantren menawarkan model pendidikan holistik: pengajaran teks keagamaan . , pembiasaan kehidupan berdisiplin, pendidikan spiritual, dan interaksi sosial intensif antara kiai-santri yang secara kolektif membentuk kebiasaan moral. Model ini menempatkan pesantren sebagai ruang pendidikan karakter yang berbeda dengan lembaga formal sekuler, sehingga perannya relevan untuk merespons gejala degradasi moral dan fragmentasi budaya di masyarakat modern. Kajian-kajian terkini terhadap eksistensi dan fungsi pedagogis pesantren menegaskan posisi tersebut (Sufirmansyah & Badriyah, 2. Namun pesantren hari ini menghadapi tantangan signifikan: arus modernisasi, digitalisasi, tekanan ekonomi, dan ancaman ideologi radikal di beberapa konteks. Semua itu menuntut adaptasi bentuk praktik tradisi dan kurikulum pesantren tanpa kehilangan fungsi moral-kulturalnya. Di sisi lain, ada momentum positif, beberapa pesantren mengembangkan pendekatan terbuka yang mengintegrasikan nilai tradisi dengan keterampilan masa kini sehingga tetap relevan bagi generasi muda. Kajian tentang dinamika ini penting agar wacana Aubenteng moral dan budayaAy tidak menjadi romantisasi sejarah semata melainkan analisis praksis terhadap bagaimana tradisi dijaga dan direkonstruksi (Mardiah Astuti et al. , 2. Berbagai penelitian lapangan dan studi kasus menunjukkan bahwa pesantren aktif melestarikan kearifan lokal lewat tradisi upacara, seni religi, praktik gotong-royong, dan pendidikan berbasis budaya Ai langkahlangkah yang turut memperkokoh identitas komunitas dan menolak homogenisasi budaya akibat globalisasi. Contoh-contoh praktik pendidikan karakter yang berbasis budaya di pesantren memperlihatkan bagaimana nilainilai lokal dipakai sebagai medium pembentukan moralitas santri. Oleh karena itu artikel ini akan menelaah wujud konkret pelestarian budaya dan pembentukan moral yang terwujud dalam tradisi pesantren (Bustanul Arifin et al. , 2. Batasan penelitian: agar pembahasan tetap terfokus, kajian ini dibatasi pada tradisitradisi pesantren yang terkait langsung dengan pembentukan moral dan praktik budaya . itual, kebiasaan pengajaran, nilai hidup bersam. , konteks wilayah Indonesia . idak membahas pesantren di diaspora internasiona. , dan metode yang digunakan adalah studi RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM kepustakaan dan analisis artikel/jurnal serta studi kasus terdokumentasi dari periode penelitian 2018Ai2024. Penelitian tidak akan melakukan survei lapangan atau wawancara primer pada tahap fokusnya pada analisis literatur dan dokumen akademik yang terbuka . pen acces. untuk memastikan keterverifikasian sumber. Pembatasan ini dimaksudkan agar ruang lingkup tidak meluas dan agar kajian dapat menyajikan sintesis yang mendalam dari literatur terkini (Mufidah et al. ,2. Rumusan masalah dalam kajian ini berfokus pada bagaimana tradisitradisi pesantren berperan dalam membentuk moralitas santri sekaligus melestarikan budaya lokal di tengah dinamika sosial modern. Kajian ini mempertanyakan sejauh mana praktik-praktik tradisional seperti keteladanan kiai, pembiasaan hidup berdisiplin, ritual keagamaan, dan budaya komunal berkontribusi sebagai benteng moral dan budaya bangsa. Tradisi pesantren yang berperan dalam pembentukan moral santri meliputi kedisiplinan, keteladanan kiai, rutinitas keagamaan, dan kehidupan komunitas. Penelitian menunjukkan bahwa disiplin ditanamkan melalui aturan pesantren, pengawasan musyrif, serta sistem penghargaan dan hukuman yang membentuk karakter moral santri. Selain itu, aktivitas seperti pengkajian kitab, relasi guruAesantri, dan kehidupan asrama turut menanamkan nilai tanggung jawab, rasa hormat, dan religiusitas. Tradisi ini sejalan dengan teori pendidikan moral yang menekankan pentingnya ekosistem pendidikan, sehingga pesantren menjadi ruang praktik nyata bagi internalisasi nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penelitian ini juga menelaah berbagai tantangan yang dihadapi pesantren, mulai dari arus modernisasi, penetrasi teknologi digital, hingga perubahan pola hidup generasi muda yang berpotensi memengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut. Di sisi lain, kajian ini juga menyoroti strategi adaptasi yang ditempuh pesantren dalam menjaga relevansi tradisi tanpa menghilangkan nilai-nilai fundamentalnya. Dengan demikian, fokus permasalahan yang dianalisis berkisar pada fungsi tradisi pesantren, bentukbentuk pelestarian budaya yang muncul, tantangan yang dihadapi, serta upaya pembaruan yang dilakukan agar pesantren tetap menjadi benteng moral dan budaya bangsa (Dedi Adiansyah, 2. Pesantren juga merupakan salah satu institusi pendidikan Islam tertua pada Indonesia yg memiliki kiprah strategis pada pembentukan moral, karakter, dan ciri-ciri budaya semenjak awal kemunculannya, pesantren tidak hanya berfungsi menjadi pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman, tetapi pula menjadi ruang sosial serta kultural yang menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan tradisi lokal kepada santri serta warga lebih dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, pesantren telah berkontribusi akbar pada menjaga nilai-nilai religius serta budaya di tengah dinamika sosial yang terus RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Di era terbaru waktu ini, perubahan sosial, globalisasi, serta perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru bagi keberlangsungan tradisi pesantren. Arus isu yang cepat, penetrasi budaya global, serta perubahan gaya hidup generasi muda berpotensi memengaruhi nilai-nilai moral dan budaya yang selama ini dijaga sang pesantren. ini menuntut pesantren buat mampu mempertahankan tradisi sekaligus melakukan adaptasi agar permanen relevan dengan perkembangan zaman. oleh sebab itu, kajian mengenai tradisi pesantren sebagai benteng moral serta budaya bangsa sebagai sangat krusial buat memahami bagaimana institusi ini bertahan serta bertransformasi. Secara konseptual, pesantren memberikan contoh pendidikan keseluruhan yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui pedagogi kitab , pembiasaan hayati disiplin, keteladanan kiai, serta kehidupan komunal santri. pendidikan ini berakibat pesantren sebagai ruang efektif buat internalisasi nilai-nilai moral dan pelestarian budaya lokal. aneka macam penelitian menunjukkan bahwa tradisi pesantren memiliki kiprah signifikan pada membuat karakter religius, kedisiplinan, tanggung jawab, serta perilaku sosial santri. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan buat menelaah secara mendalam kiprah tradisi pesantren dalam membentuk moral santri dan melestarikan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi. fokus kajian diarahkan di bagaimana tradisi-tradisi pesantren berfungsi menjadi benteng moral dan budaya bangsa dan seni manajemen adaptasi yang dilakukan pesantren agar permanen dan juga menjadi lebih relevan untuk bagi para santri. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan analisis kritis terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan mengenai tradisi pesantren dan perannya sebagai benteng moral serta pelestari budaya bangsa. Metode ini dipilih karena fokus kajian bukan pada pengumpulan data lapangan, melainkan pada penelusuran, penilaian, dan sintesis teori serta temuan penelitian sebelumnya untuk menghasilkan pemahaman konseptual yang komprehensif. Subjek kajian dalam penelitian ini adalah konsep, praktik, serta tradisi pesantren yang berkaitan langsung dengan pembentukan moral santri dan pelestarian budaya lokal di Indonesia. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh publikasi ilmiah, baik buku, artikel jurnal, laporan penelitian, maupun dokumen akademik, yang membahas pesantren, pendidikan karakter, dan pelestarian budaya. Dari populasi tersebut, dipilih sampel berupa publikasi nasional 5 tahun terakhir . 9Ae2. yang bersifat open access dan dapat diunduh secara bebas dalam format PDF melalui portal jurnal nasional seperti Garuda. Sinta, atau repositori perguruan tinggi. Kriteria pemilihan sampel mencakup: . secara langsung membahas tradisi pesantren, . mengulas aspek moral atau budaya. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM memiliki kualitas akademik yang dapat dipertanggungjawabkan, dan . menggunakan data empiris atau analisis teoritis yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penelusuran sistematis menggunakan kata kunci seperti Autradisi pesantren,Ay Aupendidikan karakter di pesantren,Ay Aubudaya lokal pesantren,Ay dan Auperan pesantren dalam pelestarian budayaAy. Pencarian dilakukan melalui portal jurnal nasional, perpustakaan digital universitas, dan repositori publik. Instrumen utama penelitian ini adalah lembar analisis literatur, yang berfungsi mengidentifikasi fokus penelitian, metode, temuan utama, dan relevansinya dengan rumusan masalah. Instrumen ini memungkinkan proses seleksi, klasifikasi tema, hingga komparasi temuan antar-sumber dilakukan secara terstruktur. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. dan analisis tematik . hematic analysi. Analisis isi digunakan untuk menilai makna, konsep, serta nilai-nilai moral dan budaya yang muncul dalam tradisi pesantren, sedangkan analisis tematik digunakan untuk mengelompokkan temuan-temuan literatur ke dalam tema-tema seperti Aupembentukan moral santri,Ay Aupelestarian budaya lokal,Ay Autantangan modernisasi,Ay dan Aurekonstruksi tradisi pesantren. Ay Melalui kedua teknik analisis ini, penelitian menghasilkan pemetaan komprehensif mengenai bagaimana tradisi pesantren berfungsi sebagai benteng moral dan budaya bangsa serta bagaimana pesantren beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan analisis kritis. Metode ini dipilih karena penelitian berfokus di pengkajian konsep, teori, dan temuan empiris yang telah dipublikasikan dalam berbagai sumber Data penelitian diperoleh asal artikel jurnal nasional, kitab akademik, dan dokumen penelitian yang relevan dengan topik tradisi pesantren, pendidikan moral, serta pelestarian budaya. Sumber data yang digunakan dibatasi di publikasi nasional bersifat open access yang diterbitkan dalam rentang waktu 2019Ae2024. Pemilihan rentang waktu ini dimaksudkan agar kajian yang dilakukan mencerminkan kondisi serta dinamika pesantren pada konteks Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sistematis memakai istilah kunci mirip Autradisi pesantrenAy. Aupendidikan karakter pada pesantrenAy, serta Aubudaya pesantrenAy. Data yang sudah terkumpul lalu dianalis dengan menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. serta analisis tematik. Analisis ini bertujuan buat mengidentifikasi pola, konsep primer, dan temuan-temuan yg berkaitan menggunakan kiprah tradisi pesantren dalam pembentukan moral dan pelestarian budaya. yang akan terjadi analisis tersaji secara deskriptif-analitis buat memberikan pemahaman yang komprehensif. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan analisis kritis serta deskriptif-analitis. Metode studi kepustakaan dipilih RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM karena penelitian ini tidak bertujuan buat mengumpulkan data primer melalui observasi lapangan atau wawancara, melainkan buat menyelidiki secara mendalam konsep, teori, dan temuan penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik tradisi pesantren menjadi benteng moral dan budaya bangsa. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran komprehensif tentang perkembangan tentang akademik terkait pesantren pada konteks pendidikan moral dan pelestarian budaya. Sumber data penelitian terdiri atas artikel jurnal ilmiah nasional, buku akademik, laporan penelitian, serta dokumen ilmiah lain yang berkaitan dengan pesantren, pendidikan karakter, dan budaya lokal. buat menjaga relevansi dan kemutakhiran kajian, asal data dibatasi di publikasi nasional yang bersifat open access serta diterbitkan pada rentang waktu 2019Ae2024. Pemilihan sumber dilakukan sesuai beberapa kriteria, yaitu: . membahas secara langsung tradisi pesantren, . mempunyai fokus pada aspek moral, . dipertanggungjawabkan, dan . relevan dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sistematis di portal jurnal nasional, repositori perguruan tinggi, serta perpustakaan digital menggunakan kata kunci mirip Autradisi pesantrenAy. Aupendidikan karakter pada pesantrenAy. Aubudaya pesantrenAy, dan Aukiprah pesantren pada pelestarian budayaAy. semua asal yang diperoleh lalu diseleksi dan diklasifikasikan sesuai fokus kajian serta temuan utama. Data yang telah terkumpul dianalisis memakai teknik analisis isi . ontent analysi. buat mengidentifikasi makna, konsep, serta nilai-nilai moral serta budaya yang terkandung pada tradisi pesantren. Selain itu, dipergunakan juga analisis tematik . hematic analysi. buat mengelompokkan temuan ke pada tema-tema primer, seperti pembentukan moral santri, pelestarian budaya lokal, tantangan modernisasi, serta strategi adaptasi pesantren. Melalui tahapan analisis ini, penelitian berupaya menyusun sintesis konseptual yang utuh serta sistematis. Hasil dan Pembahasan Dalam kajian literatur yang dilakukan, muncul empat tema besar yang berhubungan dengan rumusan masalah: . bentuk tradisi pesantren dalam pembentukan moral, . peran tradisi pesantren dalam pelestarian budaya lokal, . tantangan modernisasi dan tekanan eksternal, serta . strategi adaptasi pesantren agar tetap relevan. Berikut uraian hasil dan analisisnya. Bentuk Tradisi Pesantren dan Pembentukan Moral Santri Berdasarkan literatur, tradisi pesantren yang paling dominan dalam membentuk moral santri meliputi sikap disiplin, keteladanan kiai, rutinitas keagamaan, dan interaksi komunitas pesantren. Misalnya, penelitian Implementasi karakter disiplin santri berbasis budaya pesantren menunjukkan bahwa karakter disiplin ditanamkan melalui struktur RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM penghargaan/hukuman sebagai sarana internalisasi nilai moral (Fauzi & Mokhtar, 2. Demikian pula, dalam Budaya Pesantren dalam Pembentukan Karakter pada Santri SMP Berbasis Pesantren. Maryono menemukan bahwa kebiasaan pengkajian kitab klasik, relasi guru santri, dan kehidupan pondok . ondok asram. menjadi medium internalisasi nilai moral seperti tanggung jawab, saling menghormati, dan religiusitas (Maryono & Universitas, 2. Teori pendidikan moral . isalnya teori pendidikan karakte. mendukung temuan ini, karena pesantren menyediakan ekosistem pendidikan karakter yang konsisten dan menyeluruh bukan hanya teori, tetapi juga praktik hidup sehari-hari. Dari analisis, tampak bahwa tradisi pesantren berfungsi sebagai Aulaboratorium moralAy: santri tidak hanya belajar nilai-nilai tetapi juga mempraktikkannya dalam rutinitas pondok. Tradisi pesantren yang berperan dalam pembentukan moral santri meliputi kedisiplinan, keteladanan kiai, rutinitas keagamaan, dan kehidupan komunitas. Penelitian menunjukkan bahwa disiplin ditanamkan melalui aturan pesantren, pengawasan musyrif, serta sistem penghargaan dan hukuman yang membentuk karakter moral santri. Selain itu, aktivitas seperti pengkajian kitab, relasi guruAesantri, dan kehidupan asrama turut menanamkan nilai tanggung jawab, rasa hormat, dan religiusitas. Tradisi ini sejalan dengan teori pendidikan moral yang menekankan pentingnya ekosistem pendidikan, sehingga pesantren menjadi ruang praktik nyata bagi internalisasi nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi Pesantren sebagai Pelestari Budaya Lokal Selain moral, banyak penelitian menekankan bahwa pesantren juga memainkan peran penting dalam pelestarian budaya lokal. Penelitian Peran Pondok Pesantren dalam Membangun Moderasi Beragama melalui Akulturasi Budaya Islam dan Tionghoa di Lasem menggambarkan bagaimana pesantren di Lasem mengadopsi aspek budaya Tionghoa . rsitektur, tradisi loka. sekaligus menjaga nilai-nilai Islam, dan hal ini memperkuat toleransi serta identitas budaya setempat (Luthvia & Nugoho, 2. Di Pesantren Darunnajah Kelutan, tradisi lisan berupa cerita, zikir, khitobahan menjadi alat internalisasi nilai karakter seperti kesabaran, rendah hati, kerja keras (Yulianto, 2. Analisis teori kebudayaan mendukung bahwa tradisi lokal . ral tradition, arsitektur, ritua. dapat dipertahankan melalui institusi seperti pesantren, karena pesantren adalah Pesantren pengetahuan agama, tetapi juga menjaga bentuk- bentuk kearifan lokal yang rentan hilang di tengah globalisasi. Tradisi pesantren juga berperan penting dalam melestarikan budaya lokal. Penelitian menunjukkan bahwa pesantren di Lasem mengintegrasikan unsur budaya Tionghoa seperti arsitektur dan tradisi lokal bersama nilai-nilai Islam, sehingga memperkuat RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM identitas budaya sekaligus membangun moderasi beragama. Di Pesantren Darunnajah Kelutan, tradisi lisan seperti cerita, zikir, dan khitobahan menjadi media pelestarian nilainilai karakter seperti kesabaran dan kerendahan hati. Hal ini sejalan dengan teori kebudayaan yang menempatkan pesantren sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan, sehingga mampu menjaga kearifan lokal yang terancam oleh arus globalisasi. Tantangan Modernisasi dan Tekanan Eksternal Kajian literatur juga menunjukkan sejumlah tantangan signifikan untuk pesantren sebagai benteng moral dan budaya. Salah satu kajian. Pendidikan Karakter Melalui Peran Pesantren pada Era Globalisasi di Pondok Pesantren Attholibiyah Bumijawa Tegal, mencatat bahwa modernisasi dan globalisasi menghadirkan tekanan terhadap nilai-nilai tradisional pesantren: santri semakin terpapar budaya luar, teknologi digital, dan gaya hidup urban (Maulidiyah, 2. Selain itu, dalam Peran pesantren dalam pembentukan karakter santri pada masa pandemi COVID-19. Ramdani dkk. menunjukkan bahwa masa krisis seperti pandemi dapat melemahkan fungsi pondok asrama . arena pembatasan fisi. sehingga rutinitas keagamaan dan interaksi moral tradisional terganggu (Rohdiana et al. , 2. Analisis kritis menunjukkan bahwa meskipun tradisi pesantren kuat, tekanan eksternal bisa mengikis sebagian praktik budaya dan moral jika tidak direspon dengan strategi Dengan kata lain, terdapat risiko bahwa pesantren hanya menjadi AumuseumAy tradisi tanpa daya tahan terhadap perubahan sosial. Pesantren juga menghadapi berbagai tantangan modernisasi yang berpotensi melemahkan perannya sebagai benteng moral dan budaya. Penelitian menunjukkan bahwa globalisasi dan perkembangan teknologi membuat santri semakin terpapar budaya luar serta gaya hidup urban yang dapat menggeser nilai-nilai tradisional pesantren. Selain itu, masa pandemi COVID-19 turut menghambat fungsi pendidikan berbasis asrama karena pembatasan aktivitas, sehingga beberapa rutinitas keagamaan dan interaksi moral tidak berjalan optimal. Analisis kritis menunjukkan bahwa tanpa strategi adaptif, pesantren berisiko kehilangan sebagian kekuatan tradisinya dan hanya menjadi simbol budaya tanpa kemampuan menghadapi perubahan sosial. Strategi Adaptasi dan Rekonstruksi Tradisi Pesantren Menariknya, literatur juga memperlihatkan bagaimana pesantren berevolusi untuk mempertahankan relevansinya. Misalnya, dalam Peran Pondok Pesantren dalam Membangun Moderasi Beragama melalui Akulturasi Budaya Islam dan Tionghoa (Lase. , mengintegrasikan elemen lokal dalam praktik keagamaan mereka untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menyebarkan nilai-nilai Islam moderat (Luthvia & Nugoho. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Demikian pula, penelitian Budaya Pesantren dan Pendidikan Karakter Santri pada Pondok Pesantren Darussalamah menemukan bahwa pondok menginternalisasikan nilai sosial melalui kerja gotong-royong santri, kegiatan kebersihan, dan keterlibatan sosial dalam masyarakat pondok (Rohdiana et al. , 2. Dari perspektif teori manajemen pendidikan, strategi ini menunjukkan kapasitas pesantren untuk melakukan rekonstruksi tradisionalisme: bukan hanya mempertahankan tradisi lama secara statis, tetapi merekonsiliasi antara nilai-nilai tradisional dan tuntutan Pesantren juga melakukan berbagai strategi adaptasi agar tetap relevan. Di Lasem, integrasi unsur budaya Tionghoa digunakan untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meneguhkan nilai Islam moderat (Luthvia & Nugoho, 2. Penelitian lain menunjukkan bahwa kegiatan gotong royong, kebersihan, dan keterlibatan santri dalam komunitas menjadi bentuk rekonstruksi tradisi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Strategi ini menunjukkan bahwa pesantren mampu memperbarui tradisi secara kontekstual sehingga tetap berfungsi sebagai benteng moral dan budaya. Secara keseluruhan, analisis literatur memperlihatkan bahwa tradisi pesantren memang masih memiliki kapasitas besar sebagai benteng moral dan budaya, tetapi kerentanan terhadap tekanan modernisasi memerlukan strategi adaptif yang jelas. Pesantren yang berhasil tetap relevan adalah yang mampu merekonstruksi tradisi dengan cara moderat, akulturatif, dan kontekstual tanpa kehilangan nilai-nilai inti. Hasil yang diperoleh dari kajian literatur menunjukkan bahwa tradisi pesantren memiliki kiprah yang sangat bertenaga dalam pembentukan moral santri. Tradisi kedisiplinan yang diterapkan melalui hukum pesantren, supervisi musyrif, serta rutinitas harian membuat karakter santri yang bertanggung jawab dan taat terhadap nilai-nilai Selain itu, keteladanan kiai sebagai figur sentral pesantren sebagai faktor primer pada internalisasi nilai etika serta religiusitas. Kehidupan komunal santri di lingkungan pesantren pula berkontribusi akbar pada membentuk sikap sosial, mirip solidaritas, gotong royong, dan saling menghormati. hubungan intensif antar santri dalam kehidupan asrama menciptakan ruang pembelajaran moral yang berlangsung secara alami dan berkelanjutan. Tradisi ritual keagamaan mirip pengajian buku, zikir, dan aktivitas keagamaan lainnya memperkuat dimensi spiritual santri sekaligus menjaga kontinuitas tradisi Islam Nusantara. Selain sebagai sarana pembentukan moral, tradisi pesantren juga berfungsi menjadi media pelestarian budaya lokal. Pesantren sering kali mengintegrasikan unsur-unsur budaya setempat pada praktik keagamaan dan sosial, sehingga tercipta akulturasi yang harmonis antara nilai Islam dan budaya lokal. Praktik ini membuahkan pesantren sebagai sentra pelestarian kearifan lokal yang berkontribusi di penguatan identitas budaya RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Tetapi demikian, pesantren menghadapi berbagai tantangan pada era modern, mirip globalisasi, digitalisasi, dan perubahan gaya hidup generasi belia. Tantangan-tantangan ini menuntut pesantren buat melakukan adaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai inti aneka macam literatur membagikan bahwa pesantren yang bisa bertahan merupakan pesantren yang melakukan rekonstruksi tradisi secara kontekstual serta Analisis terhadap berbagai literatur yg dikaji, ditemukan bahwa tradisi pesantren mempunyai peran mendasar dalam pembentukan moral santri serta pelestarian budaya Pembahasan pada bagian ini difokuskan pada empat aspek primer, yaitu bentuk tradisi pesantren pada pembentukan moral, kiprah tradisi pesantren pada pelestarian budaya, tantangan yang dihadapi pesantren pada era terbaru, serta seni manajemen adaptasi serta rekonstruksi tradisi. Pertama, tradisi pesantren pada pembentukan moral santri tercermin melalui penerapan kedisiplinan, keteladanan kiai, serta rutinitas keagamaan yg terstruktur. Kedisiplinan dibangun melalui peraturan pesantren yang mengatur saat belajar, ibadah, dan kegiatan keseharian santri. Pola ini membuat karakter santri yang bertanggung jawab, patuh terhadap hukum, dan memiliki kontrol diri yang bertenaga. Keteladanan kiai menjadi figur sentral pesantren juga menjadi faktor kunci pada internalisasi nilai-nilai moral, karena santri belajar tak hanya dari pengajaran mulut, tetapi juga berasal sikap serta perilaku nyata yang ditampilkan sang kiai. Kedua, kehidupan komunal santri pada lingkungan pesantren berperan krusial dalam menghasilkan perilaku sosial serta moral. hidup beserta dalam asrama mendorong santri buat belajar perihal toleransi, kerja sama, ikut merasakan, serta gotong royong. Interaksi sosial yang intensif membuahkan pesantren sebagai ruang praktik pendidikan karakter yang berlangsung secara berulang. Nilai-nilai moral tidak diajarkan secara teoritis semata, tetapi diinternalisasikan melalui pengalaman hayati sehari-hari. Ketiga, asal aspek pelestarian budaya, pesantren berfungsi menjadi sentra transmisi budaya lokal yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. berbagai tradisi lokal seperti seni religi, tradisi ekspresi, upacara keagamaan, dan praktik sosial rakyat dipertahankan serta diwariskan melalui aktivitas pesantren. Proses akulturasi antara budaya lokal dan ajaran Islam ini memperkuat ciri-ciri budaya rakyat serta mencegah terjadinya homogenisasi budaya dampak globalisasi. Keempat, literatur juga memberikan bahwa pesantren menghadapi tantangan signifikan pada era modern, diantaranya globalisasi, digitalisasi, serta perubahan gaya hayati generasi belia. paparan teknologi digital serta budaya terkenal berpotensi menggeser nilainilai tradisional pesantren. sang sebab itu, pesantren dituntut buat melakukan seni manajemen adaptasi melalui pemanfaatan teknologi secara bijak, pembaruan metode pembelajaran, serta rekonstruksi tradisi yang permanen berpijak di nilai-nilai inti. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan ini menunjukkan bahwa kekuatan pesantren terletak di kemampuannya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan tuntutan perubahan zaman. Pesantren yang bisa melakukan adaptasi secara kontekstual serta transformatif akan permanen relevan sebagai benteng moral serta budaya bangsa. Selanjutnya, pembahasan pula menunjukkan bahwa rekanan kiai dan santri ialah inti berasal keberhasilan pendidikan moral di pesantren. korelasi yang bersifat paternalistik namun edukatif menciptakan ikatan emosional dan spiritual yg kuat, sehingga nilai-nilai moral lebih mudah diterima serta diinternalisasi oleh santri. Pola relasi ini tidak selaras menggunakan sistem pendidikan formal di umumnya sebab menekankan kedekatan, keteladanan pribadi, dan training berkelanjutan. Selain itu, struktur kehidupan pesantren yang berbasis asrama memungkinkan terjadinya proses pembelajaran nonformal yang berlangsung sepanjang waktu. Setiap aktivitas harian santri mulai berasal bangun tidur, belajar, beribadah, hingga berinteraksi social sebagai bagian dari pendidikan karakter. Lingkungan seperti ini berakibat pesantren menjadi ruang pendidikan total yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, namun jua membentuk kebiasaan moral yang tertanam bertenaga. Pembahasan berikutnya menyoroti kiprah pesantren pada menciptakan kesadaran sosial santri. Melalui aktivitas pengabdian rakyat, kerja bakti, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial-keagamaan pada lingkungan sekitar, santri dilatih buat mempunyai kepekaan sosial dan rasa tanggung jawab terhadap rakyat. Hal ini memperkuat fungsi pesantren menjadi forum pendidikan yang tidak terpisah dari empiris sosial. Dari sisi kebudayaan, pesantren jua berperan menjadi agen transmisi nilai-nilai Islam Nusantara yang moderat dan kontekstual. Nilai-nilai toleransi, ekuilibrium, serta penghargaan terhadap tradisi lokal diwariskan melalui praktik keagamaan dan budaya dengan demikian, pesantren berkontribusi pada menjaga harmoni sosial dan mencegah berkembangnya paham keagamaan yang eksklusif serta radikal. Terakhir, pada menghadapi era digital, pesantren memiliki peluang akbar buat memperluas kiprahnya melalui pemanfaatan teknologi menjadi wahana dakwah dan Integrasi teknologi isu dengan nilai-nilai pesantren bisa sebagai seni manajemen efektif buat menjangkau generasi belia tanpa kehilangan ciri-ciri tradisional. Pendekatan ini menegaskan bahwa modernisasi tidak harus dipahami menjadi ancaman, melainkan menjadi ruang penemuan yang bisa memperkuat fungsi pesantren sebagai benteng moral dan budaya bangsa. Untuk memperkaya analisis dan memperluas cakupan pembahasan, bagian ini menambahkan penjelasan terperinci konseptual lanjutan mengenai posisi pesantren dalam konteks pendidikan nasional dan dinamika rakyat pada masa ini. RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Pertama, pesantren bisa dipandang menjadi model pendidikan karakter berbasis nilai yang relevan dengan kebutuhan bangsa Indonesia waktu ini. pada tengah aneka macam duduk perkara sosial seperti krisis moral, intoleransi, dan melemahnya solidaritas sosial, nilai-nilai yg dikembangkan di pesantren kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, serta kepedulian menjadi kapital sosial yang sangat krusial. menggunakan demikian, pesantren tidak hanya berkontribusi pada komunitas internalnya, tetapi juga di pembangunan karakter bangsa secara luas. Kedua, integrasi pesantren pada sistem pendidikan nasional perlu terus diperkuat tanpa menghilangkan kekhasan tradisinya. Kebijakan pendidikan yang menyampaikan ruang bagi pesantren buat berkembang secara berdikari namun tetap terhubung dengan sistem nasional akan memperkuat posisi pesantren menjadi mitra strategis negara pada pendidikan karakter serta pelestarian budaya. Ketiga, pesantren mempunyai potensi akbar menjadi sentra pemberdayaan warga. Selain menjalankan fungsi pendidikan, pesantren bisa berperan menjadi sentra pengembangan ekonomi umat, training keterampilan, dan penguatan ketahanan sosial warga kurang kiprah ini semakin relevan di tengah tantangan ekonomi dan sosial yg dihadapi masyarakat terkini. Keempat, dalam konteks globalisasi, pesantren juga memiliki peluang buat memperkenalkan nilai-nilai Islam Nusantara ke taraf dunia. Moderasi beragama, toleransi, serta penghargaan terhadap budaya lokal yg dipraktikkan pada pesantren bisa menjadi kontribusi penting Indonesia dalam wacana Islam dunia. dukungan teknologi serta jaringan internasional, pesantren bisa menjadi aktor penting dalam diplomasi budaya dan keagamaan. Kelima, penguatan kapasitas asal daya insan pesantren menjadi faktor kunci pada menjaga keberlanjutan peran pesantren. Peningkatan kompetensi kiai, ustaz, serta pengelola pesantren melalui pembinaan dan pendidikan lanjutan akan memperkuat kualitas pendidikan dan kemampuan adaptasi pesantren. Keenam, kerja sama antara pesantren, perguruan tinggi, dan forum penelitian perlu terus dikembangkan untuk memperkaya kajian akademik serta inovasi pendidikan kolaborasi ini tidak hanya memperkuat basis keilmuan pesantren, namun juga membuka ruang obrolan antara tradisi dan ilmu pengetahuan modern. Dengan penambahan pembahasan lanjutan ini, artikel diharapkan bisa menyampaikan kontribusi yg lebih komprehensif pada tahu peran pesantren menjadi benteng moral serta budaya bangsa, sekaligus sebagai institusi pendidikan yang adaptif dan relevan pada menghadapi tantangan masa depan. Simpulan RECOMS: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN VOL. 2 NO. 2 DESEMBER 2025 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Berdasarkan hasil kajian dan analisis terhadap berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa tradisi pesantren memiliki peran yang sangat kuat dalam membentuk moral santri sekaligus melestarikan budaya lokal. Tradisi-tradisi seperti keteladanan kiai, praktik kedisiplinan, ritual keagamaan, dan kehidupan komunal terbukti menjadi sarana efektif dalam internalisasi nilai nilai karakter. Di sisi lain, pesantren juga berfungsi sebagai penjaga warisan budaya melalui pelestarian tradisi lisan, akulturasi budaya lokal, serta praktik sosial yang menjadi identitas komunitas pesantren. Pesantren juga menghadapi berbagai tantangan modernisasi yang berpotensi melemahkan perannya sebagai benteng moral dan budaya. Penelitian menunjukkan bahwa globalisasi dan perkembangan teknologi membuat santri semakin terpapar budaya luar serta gaya hidup urban yang dapat menggeser nilai-nilai tradisional pesantren. Selain itu, masa pandemi COVID-19 turut menghambat fungsi pendidikan berbasis asrama karena pembatasan aktivitas, sehingga beberapa rutinitas keagamaan dan interaksi moral tidak berjalan optimal. Analisis kritis menunjukkan bahwa tanpa strategi adaptif, pesantren berisiko kehilangan sebagian kekuatan tradisinya dan hanya menjadi simbol budaya tanpa kemampuan menghadapi perubahan sosial. Meskipun demikian, pesantren menghadapi tantangan modernisasi yang dapat memengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut, seperti penetrasi teknologi digital, perubahan gaya hidup generasi muda, dan dinamika sosial masyarakat. Tantangan ini menuntut pesantren untuk melakukan adaptasi tanpa meninggalkan nilai inti yang menjadi fondasinya. Berbagai temuan menunjukkan bahwa pesantren yang berhasil menjaga relevansinya adalah pesantren yang mampu merekonstruksi tradisi secara kreatif serta menyeimbangkan antara nilai lama dan tuntutan zaman. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa tradisi pesantren tetap memiliki potensi besar sebagai benteng moral dan budaya bangsa. Kajian selanjutnya dapat diarahkan pada perbandingan antarpesantren di berbagai daerah, atau pengaruh digitalisasi terhadap dinamika internal pesantren secara lebih mendalam. Referensi