Vol 4 No 2 Oktober 2025 Diterima: 23 September 2025 Direvisi: 18 Oktober 2025 Disetujui: 22 Oktober 2025 Kebijakan Madrasah Dalam Pembentukan Karakter Siswa Di MTsS Sirajul Huda Marindi Chairul Echwan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Muhammad Nafis Tabalong. Indonesia Email: chairulechwan@stitnafistabalong. Abstract MTsS Sirajul Huda Marindi has a madrasah policy in shaping student character through activities oriented towards religious activities and other activities intended to shape student This study aims to determine the madrasah policy in shaping student character along with the supporting and inhibiting factors faced. This type of research is field research using qualitative descriptive methods. The subjects of this study were the Principal of MTsS Sirajul Huda Marindi, the Deputy Head of Student Affairs and the Teachers Council. Data collection techniques in this study were obtained from the results of observations, interviews and documentation. Data analysis techniques used range from data reduction, data display and data verification. The results of this study are that at the agenda preparation stage, a policy is issued by creating a program of activities related to improving student character and discussed in meetings. Then at the policy formulation stage, the program is discussed by policy makers. Furthermore, at the policy adoption stage, the policy program is approved with mutual support and agreement. It is implemented by instilling daily habits for students in the madrasah environment that are oriented towards religious activities and other Finally, at the policy evaluation stage, evaluation meetings are regularly held. supporting factor is the strong cooperation between teachers and educational staff at every stage of madrasah policy implementation. Meanwhile, a hindering factor is the problem faced by some students due to broken homes and the lack of parental supervision and guidance at home. Keywords: Madrasah Policy and Student Character Development. Abstrak MTsS Sirajul Huda Marindi memiliki kebijakan madrasah dalam membentuk karakter siswa melalui kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada kegiatan keagamaan dan kegiatan lainnya yang dimaksudkan untuk membentuk karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan madrasah dalam membentuk karakter siswa beserta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi. Jenis penelitian ini yaitu penelitian lapangan atau field research dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Kepala MTsS Sirajul Huda Marindi. Wakamad bidang kesiswaan dan Dewan Guru. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, wawamcara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan mulai dari reduksi data, display data dan verifikasi data. Hasil dari penelitian ini yaitu pada tahap penyusunan agenda mengeluarkan kebijakan dengan membuat program kegiatan yang berhubungan dengan Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. meningkatkan karakter siswa dan dimusyawarakan dalam rapat. Kemudian pada tahap formulasi kebijakan, program dibahas oleh para pembuat kebijakan. Selanjutnya pada tahap adopsi kebijakan, program kebijakan disetujui dengan dukungan dan kesepakatan bersama. Pada tahap implementasi kebijakan, dilaksanakan dengan penanaman pembiasaan seharihari bagi siswa di lingkungan madrasah yang berorientasi pada kegiatan keagamaan dan kegiatan lainnya. Terakhir pada tahap evaluasi kebijakan, secara rutin mengadakan rapat Faktor pendukung yaitu adanya kerja sama yang baik dari guru dan tenaga kependidikan dalam setiap tahapan kebijakan madrasah. Sedangkan faktor penghambatnya ada beberapa siswa yang bermasalah dikarenakan dari keluarga yang berantakan atau broken home dan tidak adanya pengawasan bimbingan orang tua di rumah. Kata Kunci: Kebijakan Madrasah dan Pembentukan Karakter Siswa. PENDAHULUAN Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar didik . yaitu memelihara dan memberi latihan . jaran, pimpina. mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan, pendidikan mempunyai pengertian proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan pola ajaran Islam. Karena ajaran Islam berdasarkan Alquran. Sunah, pendapat ulama serta warisan sejarah, maka pendidikan Islam pun mendasarkan diri pada Alquran. Sunah, pendapat ulama serta warisan sejarah tersebut. Posisi pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional secara normatif dapat dilihat dari perkembangan kebijakan negara terhadap pendidikan Islam, baik pendidikan itu yang diselenggarakan di lembaga pendidikan Islam, seperti pendidikan di madrasah dan pondok pesantren, maupun pendidikan agama sebagai bagian dari kurikulum di sekolah umum. Madrasah adalah wadah atau tempat yang diatur untuk belajar ilmu pengetahuan agama Islam yang paling utama dan ilmu pengetahuan keahlian Sebelum Indonesia merdeka madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam merupakan lembaga pendidikan yang mandiri, setelah Indonesia merdeka barulah mendapatkan perhatian pemerintah. Dalam perkembangannya, madrasah berada dalam naungan Kementerian Agama. 1Rahmat Hidayat dan Abdillah. Ilmu Pendidikan: Konsep. Teori dan Aplikasinya, (Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LpI), 2. , h. 2Munir Yusuf. Pengantar Ilmu Pendidikan, (Palopo: Lembaga Penerbit Kampus IAIN Palopo, 2. , h. 3Rahmat Hidayat. Ilmu Pendidikan Islam: Meunutun Arah Pendidikan Islam Indonesia, (Medan: LpI, 2. , h. 4Syafaruddin. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan, (Jakarta: grasindo, 2. , h 48. 5Lukman Asha. Manajemen Pendidikan Madrasah, (Yogyakarta: Azyan Mitra Media, 2. , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. Peraturan Menteri Agama Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah Bab I Pasal 1 ayat 2 Madrasah adalah satuan pendidikan formal dalam binaan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dan kejuruan dengan kekhasan agama Islam yang mencakup Raudhatul Athfal. Madrasah Ibtidaiyah. Madrasah Tsanawiyah. Madrasah Aliyah, dan Madrasah Aliyah Kejuruan. Setiap lembaga pendidikan itu memiliki kebijakan masing-masing maka menurut Carl Friedrich, menyatakan bahwa kebijakan adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan- hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencari tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan. Kebijakan pendidikan merupakan proses suatu penilaian terhadap sistem nilai dan faktor-faktor kebutuhan situasional yang sudah dirumuskan secara strategis oleh lembaga pendidikan yang dijabarkan dari visi dan misi pendidikan dan dioperasikan dalam sebuah lembaga pendidikan sebagai perencanaan umum dalam rangka untuk mengambil keputusan agar tujuan pendidikan yang diinginkan bisa tercapai. Dalam berbagai bidang kehidupan, kebijakan dapat menimbulkan dampak positif dimana kebijakan tersebut mampu membangun kehidupan masyarakat kearah yang lebih baik untuk itu perlu ada kriteria kebijakan sebagai tolak ukur dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan. Menurut Dunn sebagaimana dikutip oleh Wibawah adalah sebagai berikut: Penyusunan agenda. Dalam penyusunan agenda semua permasalahan yang ada menempatkan masalah pada agenda kemudian dibahas bersama sampai pada penentuan keputusan. Formulasi kebijakan. Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Adopsi kebijakan. Banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dan kesepakatan bersama. Implementasi kebijakan. Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatancatatan elit jika program tersebut tidak diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun masyarakat madrasah. Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumber daya financial dan manusia. Tahap evaluasi kebijakan. Dalam tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi, untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan. 6Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah. 7Awan Y. Abdoellah dan Yudi Rusfiana. Teori Dan Analisis Kebijakan Publik, (Bandung: Alfabeta, 2. , h. 8Lukman Asha. Manajemen Pendidikan Madrasah, (Yogyakarta: Azyan Mitra Media, 2. , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. Berdasarkan penjelasan di atas, maka tolak ukur dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan kebijakan yaitu penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Metode pendidikan Islam dalam penerapannya banyak menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri, sehingga dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan itu hanyalah merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga yang menjadi salah satu metode pendidikan yaitu metode pembiasaan digunakan untuk mengubah seluruh sifat-sifat baik membentuk karakter, sehingga jiwa dapat menunaikan karakter itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Salah satu pembentukan karakter adalah melalui pembiasaan, menurut E. Mulyasa, pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulangulang agar sesuatu itu dapat membentuk karakter. Perilaku yang baik yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang diulang-ulang akan menjadi karakter yang menempel pada diri seseorang. Kebiasaan yang dilakukan oleh anak dipengaruhi oleh kebiasaan yang dicontohkan oleh orang tua atau guru, karena mereka adalah panutan anak-anaknya yang diisyaratkan Allah di dalam Al Quran Surah Al-Alaq Ayat 1-5 yang berkaitan dengan metode pembiasaan dan pengulangan. a AeEIe aI aII EaCA AyA AE eEa eEaIA AE Eac a eO aEa aCA a caAy Ce ae aOaA a aACe ae aa e aI aA a e a Ay aEa aCA a Ay EacIA a a ca a ca AyA u AeEIe a aI aI aaEe Oa eEa eIA a a AE eO aE aI aEe aCEaIA Kata AuiqraAy disini memiliki arti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui. Maknanya juga berarti mengeja atau menghafalkan apa yang tertulis untuk mengetahui makna yang terkandung di Pesan yang disampaikan oleh ayat diatas adalah perintah membaca. Kata AmembacaA dalam surah ini melambangkan segala apa yang dilakukan manusia baik dari segi aktif maupun pasif. Kemudian dalam ayat selanjutnya mempunyai tujuan agar manusia memiliki kemampuan untuk menerima informasi. Secara umum menyampaikan manusia agar tidak buta huruf yang berarti juga akan buta informasi. Terus berusaha memperoleh pelajaran dari setiap informasi untuk terus balajar. Kebiasaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang biasa Dengan pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa kebiasaan adalah suatu kegiatan yang biasa dikerjakan dan akan berlangsung secara terus menerus atau continue. Dapat disimpulkan pembiasaan demikian pula dalam proses pembentukan karakter anak, salah satu strateginya dapat dilakukan melalui proses pembiasaan di lingkungan sekolah atau melalui budaya di sekolah,proses pembiasaan Kholil AsyAoari. AuMetode Pendidikan IslamAoAo. Jurnal Qathruna. Vol. 1 No. 1, . , h. 10Jariah Ainun, "Meningkatkan Kecerdasan Emosional Siswa Melalui Kebiasaan Membaca Al- Qur'an". Jurnal Stadia Insania. Vol 7. No 1, . , h. 11Nur Hidayat, "Implementasi Pendidikan Karakter Melalui pembiasaan Di Pondok Pesantren Pabelan JPSD". Jurnal Pendidikan Dasar. VoL. No. 1, (Maret 2. , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. berlangsung sepanjang hayat, dimana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti dapat dari Kepala Madrasah beliau menyatakan bahwa kegiatan pembiasaan siswa/i untuk membentuk karakter yang sudah terlaksana di MTsS Sirajul Huda Marindi yaitu sholat subuh di rumah atau di masjid tepat waktu yang mana setelah melaksanakan sholat tersebut, setiap siswa/i mendokumentasikan dirinya menggunakan alat sholat kemudian foto tersebut di kirim melalui grup WhatsApp, grup tersebut di pantau langsung oleh Kepala Madrasah dan Dewan guru yang mana tujuannya sebagai bukti bahwa siswa/i telah melaksanakan sholat subuh. Kemudian, kegitan sebelum proses belajar mengajar di mulai seluruh siswa/i diwajibkan mengikuti kegiatan tersebut yang mana kegiatan pembiasaan tersebut berbeda-beda setiap harinya seperti hari senin upacara bendera, hari selasa membaca ratibul haddad, hari rabu membaca asmaul husna dan Surah Ar-Rahman, hari kamis membaca asmaul husna dan Surah Yasin, hari jumAoat senam, dan hari sabtu sholat dhuha dan membaca Surah Al-WaqiAoah. Kemudian setelah membaca surah dan kegiatan lainnya, ada kegiatan sarapan bersama siswa/i yang mana kegiatan tersebut dilakukan setiap hari selasa waktu pagi hal ini dikarnakan kepala madrasah prihatin dengan sebagian siswa/i yang tidak sarapan sehingga adanya kebijakan kegiatan sarapan bersama pada hari Selasa dan diberi waktu 15 menit. Kemudian, kegiatan tadarus setelah maghrib itu ada dari Kemenag saat wabah Corona, namun hanya beberapa sekolah saja yang masih menerapkan kebijakan ini, salah satunya di madrasah Sirajul Huda Marindi. Kegiatan ini awalnya pada tahun 2019 dan sempat berjalan selama 1 tahun kemudian, pada saat covid-19 kegiatan ini terhenti, dan kembali berjalan pada 1 tahun belakangan ini. Kebijakan ini mempunyai peraturan yaitu saat tadarus tidak boleh membuka HP dan TV, kegiatan tersebut diberlakukan untuk semua kelas dan menggunakan buku kontrol yang dikumpul setiap 15 hari sekali. Adapun yang menilai kegiatan tersebut adalah wali kelas masing-masing, dari seluruh kelas dipilih 1 siswa dan 1 siswi yang banyak memperoleh mengajinya kemudian diberi reward setiap akhir semester. Adapun kegiatan takziah seluruh siswa/i untuk di biasakan hadir dalam takziah, maka daripada itu pihak madrasah selalu mengarahkan peserta didik untuk pergi bertakziah apabila ada masyarakat sekitar ada yang sedang berduka cita. METODE PENELITIAN Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian mengenai kebijakan madrasah dalam pembentukan karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggali makna, konteks, dan pengalaman secara mendalam dalam pelaksanaan kebijakan tersebut di lingkungan madrasah. Pendekatan ini memfokuskan pada pemahaman fenomena sosial secara holistik dan naturalistik. Sementara jenis deskriptif digunakan agar penelitian dapat memberikan gambaran yang jelas dan sistematis An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. mengenai kebijakan pembentukan karakter yang diterapkan di madrasah ini tanpa menguji hipotesis tertentu. Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian terdiri dari kepala madrasah, guru, dan staf tata usaha yang berperan sebagai pengambil kebijakan serta pelaksana dalam pembentukan karakter siswa. Objek penelitian adalah kebijakan madrasah yang mencakup program, peraturan, dan aktivitas yang dirancang untuk mengembangkan karakter peserta didik secara menyeluruh. Pemilihan subjek dan objek ini bertujuan agar data yang diperoleh relevan dan komprehensif, menggambarkan bagaimana kebijakan dirumuskan dan diimplementasikan serta dampaknya terhadap karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui beberapa teknik utama yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara diarahkan kepada kepala madrasah, guru pembina, dan pengurus madrasah untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai kebijakan pembentukan karakter dan proses Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung penerapan kebijakan dalam kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler. Dokumentasi berupa arsip kebijakan, program kerja, dan laporan evaluasi juga dikaji untuk melengkapi data primer dan memberikan gambaran lengkap. Teknik Pengolahan Data Data pengorganisasian, transkripsi, dan penyusunan ulang agar siap dianalisis. Proses ini meliputi pemilahan data berdasarkan tema dan relevansi terhadap fokus Pengolahan dilakukan baik secara manual maupun dengan bantuan perangkat lunak analisis data kualitatif, sehingga memudahkan klasifikasi dan interpretasi data dalam tahap selanjutnya. Teknik Analisis Data Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas tiga tahap utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan menyaring dan merangkum informasi yang Penyajian data berupa narasi deskriptif dan tabel yang mengilustrasikan kebijakan dan implementasinya. Tahap penarikan kesimpulan didasarkan pada data yang telah direduksi dan disajikan, serta dikaitkan dengan teori-teori tentang kebijakan pendidikan dan pembentukan karakter. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , h. 13Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Kuantitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2. , h. Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2. Miles. Huberman & J. Saldana. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, (Alih Bahasa oleh Tjetjep Rohendi Rohid. , (Jakarta: UI Press, 2. , h. Nasution. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 2. , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. Keabsahan Data Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan, seperti kepala madrasah, guru, dan staf tata usaha. Sedangkan triangulasi teknik memadukan hasil wawancara, observasi, dan Peneliti juga melakukan pengecekan ulang dengan para informan guna memastikan akurasi dan kesesuaian data, sehingga kredibilitas dan validitas temuan dapat terjamin. HASIL DAN PEMBAHASAN Kebijakan Madrasah dalam Membentuk Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi Penyusunan Agenda Hasil wawancara dan juga observasi menunjukan, bahwa dalam penyusunan agenda semua permasalahan yang ada menempatkan masalah pada agenda kemudian dibahas bersama sampai pada penentuan keputusan. Adapun penelitian yang dilakukan, ditemukan Kepala Madrasah MTsS Sirajul Huda Marindi dalam merumuskan sebuah program tentunya terlebih dahulu dimusyawarakan dalam rapat, dan disepakati secara bersama oleh semua pihak yang terkait. Hasil penelitian di atas sejalan dengan pendapat teori partisipasi dalam pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh Robbins dan Judge yang menyatakan bahwa keterlibatan berbagai pihak dalam proses musyawarah akan memperkuat kualitas keputusan yang diambil. 18 Selain itu, hal ini juga diperkuat oleh penelitian dari Wibowo dalam bukunya tentang manajemen sumber daya manusia yang menegaskan pentingnya penyusunan agenda secara kolektif untuk mencapai kesepakatan bersama dalam organisasi. 19 Temuan ini juga didukung oleh penelitian jurnal dari Sari dan Prasetyo yang menunjukkan bahwa musyawarah dalam penyusunan program sekolah berkontribusi positif pada efektivitas kebijakan dan peningkatan karakter siswa. Formulasi Kebijakan Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Adapun hasil wawancara dan juga observasi terhadap Kepala Madrasah MTsS Sirajul Huda Marindi dan Ibu NM menunjukan, bahwa pada kebijakan madrasah dalam membentuk karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi tentunya melalui beberapa tahap salah satunya Raco. Metode Penelitian Kualitatif: Jenis. Karakteristik dan Keunggulannya, (Jakarta: Grasindo, 2. , h. Robbins & T. Judge. Perilaku Organisasi (Edisi Bahasa Indonesi. , (Jakarta: Salemba Empat, 2. , h. Wibowo. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2. , h. Sari & H. Prasetyo, "Musyawarah dalam Penyusunan Program Sekolah dan Dampaknya terhadap Peningkatan Karakter Siswa". Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. No. 1, . , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. penetapan dan pengambilan keputusan kebijakan di mana kepala sekolah tidak hanya mementingkan perannya sebagai kepala sekolah melainkan ia sebagai pendengar, dan menganalisis berdasarkan pendapat para guru sehingga penentu kebijakan yang dilakukan berjalan dengan demokrasi. Hasil penelitian di atas sejalan dengan pendapat teori pengambilan keputusan partisipatif yang dikemukakan oleh Sutrisno yang menjelaskan bahwa pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai pihak dalam organisasi pendidikan dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dan dapat diterima secara luas. Kepala madrasah dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang mendengarkan serta menganalisis masukan dari guru dan staf lainnya, sehingga proses formulasi kebijakan berjalan secara demokratis. 21 Widodo menambahkan bahwa musyawarah sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan mampu menciptakan alternatif solusi yang terbaik dan mendukung efektivitas pelaksanaan kebijakan, terutama dalam pengembangan karakter siswa di sekolah. Adopsi Kebijakan Dalam tahap adopsi kebijakan, banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu dari alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dan kesepakatan bersama. Adapun hasil wawancara dan juga observasi menunjukan, bahwa kebijakan madrasah dalam membentuk karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi pada kriteria Adopsi Kebijakan, kepala madrasah membuat program yang sesuai dengan visi misi madrasah dan berorientasi pada kegiatan-kegiatan keagamaan, baik yang dilaksanakan oleh siswa saat berada di madrasah maupun saat berada di rumah. Kebijakan kepala madrasah juga menekankan kepada para guru agar dalam melaksanakan pembelajaran dibarengi dengan meningkatkan karakter siswa melalui nasehat maupun keteladanan, hingga nantinya dimasukkan dalam penilaian mata pelajaran. Dalam hal ini setiap pembelajaran siswa harus memiliki sifat jujur, disiplin, bertanggung jawab, bekerja keras, dan semangat belajar yang Hasil penelitian di atas sejalan dengan pendapat teori kebijakan publik yang menyatakan bahwa tahap adopsi kebijakan merupakan proses pemilihan alternatif kebijakan terbaik yang didukung oleh kesepakatan bersama para pembuat 23 Menurut Anderson, kebijakan yang diadopsi harus selaras dengan visi, misi, dan nilai-nilai organisasi sehingga pelaksanaan kebijakan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. 24 Dalam konteks MTsS Sirajul Huda Marindi, kepala madrasah mengambil peran penting dalam mengadopsi kebijakan yang menekankan peningkatan karakter siswa melalui integrasi nilai-nilai keagamaan dan keteladanan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini memperkuat teori bahwa keberhasilan implementasi kebijakan tidak hanya ditentukan oleh Sutrisno. Manajemen Pendidikan: Konsep dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Widodo, "Pengambilan Keputusan Partisipatif dalam Manajemen Sekolah". Jurnal Administrasi Pendidikan. Vol. No. 2, . , h. Easton. A Systems Analysis of Political Life, (New York: Wiley, 2. , h. Anderson. Public Policy Making: An Introduction, . th ed. ), (Boston: Wadsworth, 2. , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. kesepakatan formal, tetapi juga oleh relevansi kebijakan terhadap tujuan organisasi dan budaya yang dianut. Implementasi Kebijakan Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan elit jika program tersebut tidak diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun masyarakat madrasah. Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumber daya financial dan manusia. Adapun hasil wawancara dan juga observasi menunjukan, bahwa di MTsS Sirajul Huda Marindi, implementasi kebijakan madrasah dalam meningkatkan karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi yaitu dengan menanamkan pembiasaan sehari-hari bagi siswa di lingkungan madrasah seperti melalui keteladanan, pengawasan, nasehat, reward dan funishment. Di samping itu juga dilaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan Madrasah setiap jam pertama untuk tadarus Al-QurAoan surah pilihan dan Shalat Dhuha yang ditutup dengan ceramah, lalu arahan/nasehat kepala madrasah atau guru, shalat Zuhur berjamaah serta pengawasan Shalat Shubuh berjamaah yang disebut juga pejuang shubuh dan pembinaan membaca Al-QurAoan setelah Shalat Maghrib di rumah atau disebut Maghrib mengaji dan juga menghafal surah-surah pilihan. Selain itu juga ada kegiatan Pramuka, olahraga dan ikut serta dalam bermasyarakat seperti Shalat Kifayah. Habsyi dan membaca Simtudduror. Madrasah juga menyiapkan sarana dan prasarana atau fasilitas untuk membentuk karakter siswa di sini menyediakan ruang untuk kegiatan keagamaan seperti dilengkapi buku keagamaan Al-Quran untuk setiap siswa. Hasil penelitian di atas sejalan dengan teori pembelajaran karakter yang menekankan pentingnya pembiasaan dan keteladanan dalam pembentukan karakter siswa. 26 Menurut Lickona, karakter dapat dikembangkan melalui rutinitas sehari-hari yang konsisten, pengawasan, serta pemberian reward dan punishment sebagai bagian dari proses pembelajaran moral. Selain itu, aktivitas keagamaan yang rutin seperti tadarus Al-QurAoan, shalat berjamaah, dan kegiatan sosial keagamaan juga berperan penting dalam membentuk nilai spiritual dan sosial siswa, sebagaimana dijelaskan oleh Hasan dalam konteks pendidikan Islam. Madrasah yang menyediakan sarana dan prasarana pendukung untuk kegiatan keagamaan dan pengembangan karakter, sesuai dengan teori lingkungan belajar yang menyatakan bahwa fasilitas yang mendukung dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran dan pengembangan karakter siswa. Tahap Evaluasi Kebijakan Sutopo. Manajemen Pendidikan dan Implementasi Kebijakan di Sekolah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2. , h. Lickona. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility, (New York: Bantam Books, 2. , h. Hasan, "Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam". Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. 2, . , h. 28Depdiknas. Pengembangan Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Formal, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2. , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. Dalam tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi, untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat untuk meraih dampak yang Adapun hasil wawancara dan juga observasi menunjukan, bahwa di MTsS Sirajul Huda Marindi dalam tahap evaluasi kebijakan, madrasah membuat buku monitoring siswa, membuat absensi shalat berjamaah, dan mengirim foto setelah siswa melaksanakan Shalat Shubuh berjamaah. Secara rutin kepala madrasah, wakamad dan guru juga mengadakan rapat untuk mengevaluasi sejauh mana kebijakan dalam meningkatkan karakter siswa sudah dapat dilaksanakan. Hasil penelitian di atas sejalan dengan teori evaluasi kebijakan yang menegaskan pentingnya mekanisme monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas pelaksanaan kebijakan. 29 Menurut Widodo, evaluasi kebijakan merupakan proses sistematis yang dilakukan untuk menilai pencapaian tujuan serta mengidentifikasi kendala dan keberhasilan dalam implementasi kebijakan, sehingga dapat dilakukan perbaikan berkelanjutan. 30 Dalam konteks MTsS Sirajul Huda Marindi, penggunaan buku monitoring, absensi shalat berjamaah, serta pengiriman bukti foto sebagai alat kontrol dan pelaksanaan rapat evaluasi rutin oleh kepala madrasah, wakil kepala madrasah, dan guru menggambarkan praktik evaluasi yang efektif. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan teori manajemen pendidikan yang menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam evaluasi untuk meningkatkan kualitas program pembentukan karakter siswa. Faktor Pendukung dan Penghambat Kebijakan Madrasah dalam Meningkatkan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi Faktor Pendukung Berdasarkan hasil wawancara dan juga observasi menunjukan, bahwa faktor pendukung kebijakan madrasah dalam meningkatkan karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi adalah adanya kerja sama yang baik dari guru dan tenaga kependidikan alam setiap tahapan kebijakan madrasah ini. Adanya kerjasama guru dan orang tua siswa menjadi faktor pendukung keberhasilan meningkatnya karakter siswa. Kerjasama antara guru dan tenaga kependidikan di madrasah sangat penting untuk memastikan bahwa kebijakan madrasah dapat dijalankan dengan efektif seperti keterlibatan guru dan tenaga kependidikan dalam setiap proses tahapan kebijakan. Guru dan tenaga kependidikan terlibat melalui diskusi dan pembuatan kebijakan, dengan begitu madrasah dapat memastikan bahwa kebijakan tersebut praktis dan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Hasil penelitian di atas sejalan dengan teori manajemen pendidikan yang menekankan pentingnya kerja sama antar pemangku kepentingan dalam pelaksanaan kebijakan agar dapat berjalan efektif. 32 Menurut Hasibuan, kolaborasi antara guru, tenaga kependidikan, dan orang tua siswa merupakan faktor kunci yang mendukung keberhasilan implementasi kebijakan pendidikan, karena Dunn. Public Policy Analysis: An Introduction, . th ed. ), (New York: Routledge, 2. , h. Widodo, "Evaluasi Kebijakan Pendidikan: Pendekatan dan Praktik di Sekolah". Jurnal Pendidikan dan Manajemen. Vol. No. 1, . , h. Sutrisno. Manajemen Pendidikan . , h. Robbins & T. Judge. Perilaku Organisasi . , h. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. keterlibatan aktif mereka dalam proses perencanaan hingga evaluasi memungkinkan kebijakan menjadi lebih relevan dan aplikatif. 33 Kerja sama ini juga diperkuat oleh teori partisipasi dalam pengambilan keputusan yang menyatakan bahwa keterlibatan berbagai pihak secara langsung meningkatkan komitmen dan efektivitas kebijakan yang dijalankan. 34 Dalam konteks MTsS Sirajul Huda Marindi, kolaborasi ini terlihat jelas melalui diskusi dan pembuatan kebijakan bersama, sehingga kebijakan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Faktor Penghambat Dari hasil wawancara dan juga observasi menunjukan, bahwa faktor penghambat kebijakan madrasah dalam meningkatkan karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi dapat diketahui bahwa ada beberapa siswa yang bermasalah dikarenakan dari keluarga yang berantakan atau broken home dan tidak adanya pengawasan bimbingan orang tua di rumah. Ketika orang tua tidak memberikan pengawasan atau keterlibatan aktif dalam perkembangan anak, dampaknya bisa sangat signifikan terhadap peningkatan karakter siswa. Kurangnya pengawasan dari orang tua dapat menyebabkan siswa membuat keputusan yang kurang bijaksana karena mereka tidak memiliki panduan yang memadai dalam menentukan perilaku yang benar atau salah. Hasil penelitian di atas sejalan dengan teori perkembangan anak dan pengaruh lingkungan keluarga yang dikemukakan oleh Bronfenbrenner yang menegaskan bahwa keluarga merupakan salah satu ekosistem utama dalam membentuk karakter dan perilaku anak. 35 Menurut Santrock, kurangnya pengawasan dan keterlibatan orang tua, terutama dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home, dapat berkontribusi pada perilaku negatif dan kesulitan dalam pembentukan karakter anak. 36 Hal ini didukung pula oleh penelitian dari Hurlock yang menyatakan bahwa bimbingan dan dukungan orang tua sangat krusial dalam perkembangan moral dan sosial siswa, sehingga ketiadaan peran aktif orang tua dapat menjadi penghambat utama dalam keberhasilan program peningkatan karakter di sekolah. Oleh karena itu, kebijakan madrasah dalam membentuk karakter siswa harus mempertimbangkan peran keluarga sebagai faktor pendukung utama. SIMPULAN MTsS Sirajul Huda Marindi pada tahap penyusunan agenda mengeluarkan kebijakan dengan membuat program kegiatan yang berhubungan dengan meningkatkan karakter siswa dan dimusyawarakan dalam rapat dengan semua pihak yang terkait. Kemudian pada tahap formulasi kebijakan, program yang telah masuk ke agenda kebijakan dibahas oleh para pembuat kebijakan, program33M. Hasibuan. Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Bumi Aksara. , 2. , h. Wibowo. Manajemen Sumber Daya . , h. Bronfenbrenner. The Ecology of Human Development: Experiments by Nature and Design, (Cambridge. MA: Harvard University Press, 2. Santrock. Child Development, . th ed. ), (New York: McGraw-Hill, 2. , h. Hurlock. Developmental Psychology: A Life-Span Approach, (New York: McGraw-Hill, 2. An-Nafis: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol, 4 No. 2 Oktober 2025 Homepage https://ejurnal. id/index. php/annafis Chairul Echwan: Kebijakan Madrasah dalam Pembentukan Karakter Siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi. program didefinisikan untuk dicari pemecahan masalah terbaik. Selanjutnya pada tahap adopsi kebijakan, program kebijakan disetujui dengan dukungan dan kesepakatan bersama. Program yang ditetapkan berorientasi kepada kegiatan keagamaan dan sesuai visi misi Madrasah. Pada tahap Implementasi Kebijakan, pendidikan karakter dilaksanakan dengan penanaman pembiasaan sehari-hari bagi siswa di lingkungan madrasah seperti melalui keteladanan, pengawasan, nasehat, reward dan funishment. Program yang dilaksanakan banyak yang berorientasi pada kegiatan keagamaan diantaranya tadarus Al-QurAoan. Shalat Dhuha disertai ceramah, arahan/nasehat kepala madrasah atau guru. Shalat Shubuh berjamaah dan program Pejuang Shubuh. Shalat Maghrib berjamaah dan program Maghrib Mengaji. Selain itu juga ada kegiatan Pramuka, olahraga dan ikut serta dalam kegiatan masyarakat. Terakhir pada tahap evaluasi kebijakan, secara rutin kepala madrasah, wakamad dan guru mengadakan rapat untuk mengevaluasi sejauh mana kebijakan dalam meningkatkan karakter siswa sudah dapat Faktor pendukung kebijakan madrasah dalam meningkatkan karakter siswa di MTsS Sirajul Huda Marindi adalah adanya kerja sama yang baik dari guru dan tenaga kependidikan dalam setiap tahapan kebijakan madrasah. Sedangkan faktor penghambatnya ada beberapa siswa yang bermasalah dikarenakan dari keluarga yang berantakan atau broken home dan tidak adanya pengawasan bimbingan orang tua di rumah. DAFTAR PUSTAKA