5th Conference on Research and Community Services STKIP PGRI Jombang AuPeningkatan Kinerja Dosen Melalui Penelitian dan Pengabdian MasyarakatAy 4 Oktober 2023 ANALISIS ASESMEN PSIKOMOTOR TERINTEGRASI BERPIKIR KRITIS DAN KREATIVITAS DI MODUL AJAR GURU SMP SEKOLAH PENGGERAK Diah Puji Nali Brata*1. Edy Setiyo Utomo2. Ahmad Farhan3 STKIP PGRI Jombang, 3UNIPDU Jombang * pujidiah37@yahoo. com, 2edystkipjb@gmail. com, 3ahmadfarhan@ft. Abstract Projections of the learning process can be seen from the assessments carried out by the Psychomotor assessment in the school context is an assessment process used to measure students' physical, motor and behavioral skills in various areas. However, quite a few teachers do not provide clear indicators when conducting psychomotor The aim of this research is to analyze integrated psychomotor assessments of critical thinking abilities and creativity in teaching modules. This type of research is descriptive qualitative research. The research subjects were 26 teachers at SMPN 2 Mojokerto from various fields of study. The main instrument is the researcher, and the supporting instruments consist of a questionnaire sheet and interview guide. Data collection techniques include administering questionnaires via Google Form and Checking the validity of the data using source triangulation. The research results showed that teachers had carried out psychomotor assessment techniques with 1% of research subjects focusing more on practical techniques. This means that the teacher has carried out a psychomotor assessment that is tailored to the learning objectives and each subject. However, the number of teachers who have not included criteria or indicators of creativity and innovation is still not optimal because there are still 50% of teachers who say no. This certainly needs special attention, especially the principal as the main supervisor in identifying teacher success in the learning process which can be seen in the teaching module. Keywords: Psychomotor assessment, critical thinking, creativity, teaching modules Abstrak Proyeksi proses pembelajaran dapat dilihat dari asesmen yang dilakukan guru. Asesmen psikomotor dalam konteks sekolah adalah proses penilaian yang digunakan untuk mengukur keterampilan fisik, motorik, dan perilaku siswa dalam berbagai bidang. Namun, tidak sedikit guru belum memberikan indiaktor yang jelas dalam melakukan asesmen psikomotor. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis asesmen psikomotor terintegrasi kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dalam modul ajar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah 26 guru SMPN 2 Mojokerto dari berbagai bidang studi. Instrumen utama adalah peneliti, dan instrumen pendukung terdiri dari lembar kuesioner dan pedoman wawancara. Teknik pengambilan data meliputi pemberian kuesioner melalui google form dan wawancara. Pengecakan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah melakukan teknik asesmen psikomotor dengan 73,1% subjek penelitian lebih mengarah pada teknik praktek. Artinya, guru sudah melakukan asesmen psikomotor yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan setiap mata pelajaran. Namun, jumlah guru yang belum memasukkan kriteria atau indikator kreavitasn dan inovatif masih belum maksimal karena masih terdapat 50% guru yang menyatakan tidak. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus terutama kepala sekolah sebagai supervisi utama dalam identifikasi keberhasilan guru dalam proses pembelajaran yang dapat dilihat dalam modul ajar. Kata kunci: asesmen psikomotor, berpikir kritis, kreativitas, modul ajar PENDAHULUAN Proyeksi proses pembelajaran terletak pada asesmen yang dilakukan oleh guru secara komprehensif dan berkelanjutan. Asesmen psikomotor dalam konteks sekolah adalah proses penilaian yang digunakan untuk mengukur keterampilan fisik, motorik, dan perilaku siswa dalam berbagai bidang (Amorim et al. , 2022. Dahlia et al. , 2. Tujuannya adalah untuk memantau perkembangan keterampilan siswa, memberikan umpan balik yang berguna kepada siswa dan guru, serta membantu dalam perencanaan kurikulum dan program pengajaran yang sesuai. Peran penting asesmen psikomotor di sekolah yaitu asesmen psikomotor digunakan untuk mengukur kemajuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan keterampilan fisik dan motorik (Hamid et al. Yatimah, 2. instrumen asesmen Sekolah dapat membantu guru dan evaluator untuk mengukur kinerja siswa secara objektif, jenis instrumen yang biasa digunakan adalah seperti checklist, rubrik, peringkat kinerja, atau portofolio. Asesmen psikomotor berkaitan erat dengan kurikulum sekolah, kurikulum harus dirancang dengan jelas sehingga mencakup tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan keterampilan fisik, dan asesmen digunakan untuk mengukur pencapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran (Viscione et al. , 2017. Yoshida et al. , 2022. Hasil asesmen psikomotor dapat digunakan untuk merencanakan pengembangan keterampilan lebih lanjut. Guru dapat merancang pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa berdasarkan hasil asesmen. Asesmen psikomotor dapat digunakan secara formatif, yaitu untuk memantau perkembangan siswa selama proses pembelajaran, atau secara sumatif, yaitu untuk menilai pencapaian akhir siswa pada suatu periode waktu tertentu (Hernon et al. Kuo et al. , 2023. Viscione et al. , 2. Asesmen psikomotor harus inklusif, berarti harus memperhitungkan perbedaan individual siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Selain itu, asesmen juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi bakat dan potensi siswa dalam bidang-bidang tertentu. Asesmen psikomotor di sekolah membantu menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih komprehensif, mengakui pentingnya pengembangan keterampilan fisik dan motorik selain keterampilan akademik, dan memberikan siswa kesempatan untuk meraih prestasi dalam berbagai bidang. Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyusun gagasan atau argumen secara kritis dan rasional (Kurniawan, 2021. Partono et al. , 2. Kemampuan ini penting dalam pengembangan peserta didik karena membantu mereka menjadi pembelajar yang lebih efektif, pemecah masalah yang lebih baik, dan individu yang dapat berpikir secara mandiri. Sedangkan Kemampuan kreatif yaitu siswa dapat menghasilkan ide-ide baru, inovatif, dan orisinal dalam berbagai konteks (Indrawati et al. , 2022. Kurniawan, 2021. Partono et al. , 2. Kemampuan ini penting karena mendukung pemecahan masalah, pemikiran lateral, dan inovasi dalam pendidikan yang bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari. Dua kemampuan ini adalah dua kemampuan yang saling melengkapi dan sangat penting dalam pengembangan siswa. Mempadukan keduanya dapat membantu siswa mengembangkan pemikiran yang lebih mendalam, inovatif, dan kreatif. Analisis Asesmen Psikomotor Terintegrasi Berpikir Kritis dan Kreativitas di Modul Ajar Guru SMP Sekolah Penggerak adalah suatu proses yang dilakukan untuk mengidentifikasi, merencanakan, dan mengintegrasikan pengukuran keterampilan psikomotor dengan aspek berpikir kritis dan kreativitas dalam modul pembelajaran yang ditujukan kepada guru SMP di Sekolah Penggerak. Namun kenyataannya masih banyak guru yang belum mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dalam asesmen psikomotor. Dimana guru lebih condong kepada produk atau hasil dari peserta didik, tanpa adanya indikator yang jelas dalam melakukan asesmen psikomotor terutama di modul Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asesmen psikomotor yang terdapat di modul ajar secara holistik dan mendalam, serta untuk mendukung pengembangan siswa sebagai individu yang kreatif dan berpikir kritis. Dengan mengintegrasikan asesmen psikomotor dengan berpikir kritis dan kreativitas dalam modul ajar, guru SMP di Sekolah Penggerak dapat memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dan relevan dalam pembelajaran. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Menurut (Creswell, 2. bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui fenomena-fenomena secara mendalam dari suatu objek sesuai dengan tujuan spenelitian yang disajikan dalam bentuk deskriptif Subjek penelitian terdiri dari 26 guru di SMPN 2 Mojokerto dengan berbagai bidang studi. Intrumen utama adalah peneliti dan instrument pendukung terdiri dari lembar kuesioner dan pedoman wawancara. Kuesioner yang diberikan kepada subjek lebih menekankan pada asesmen psikomotor yang telah dilakukan serta keterkaitan dengan kemampuan kolaborasi dan kreativitas siswa yang terdiri dari 11 pertanyaan yang ditunjukkan pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Daftar isian kuesioner No. Pertanyaan Apakah Bapak/Ibu memahami tentang Asesmen Psikomotor? Apakah selama ini bapak/ibu sudah melakukan asesmen psikomotor pada pembelajaran? Teknik apa yang Bapak/Ibu gunakan dalam melakukan asesmen Psikomotor? Apakah Bapak/Ibu guru pernah memberikan contoh pemikiran kritis atau pemecahan masalah bagi peserta didik? Apakah Bapak/ibu guru menggunakan lingkungan belajar untuk ketrampilan memecahkan masalah di kelas sebagai pengalaman Apakah Bapak/ibu guru terlibat secara aktif dalam mendampingi peserta didik untuk berpikir kritis selama menyelesaikan masalah yang dikaitkan dengan asesmen psikomotor? Apakah Bapak/ibu guru mencontohkan kreativitas yang inovasi untuk peserta didik? Apakah Bapak/Ibu guru mendorong kreativitas Peserta Didik di kelas? Apakah Bapak/ibu guru memasukkan kreativitas dan inovasi pada asesmen psikomotor di modul ajar? Apakah Bapak/ibu guru mendorong peserta didik untuk lebih inovatif? Apakah Bapak/ibu guru dan teman sejawat bekerja sama untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas antar kelas? Teknik pengambilan data terdiri pemberian kuesioner melalui google form dan melakukan wawancara melalui kegiatan Forum Group Discussion (FGD). Pengecekan keabsahan data melalui triangulasi sumber, dimana data dilihat sumber hasil kuesioner dan hasil wawancara untuk melihat keajegan data. Analisis data penelitian terdiri dari kategorisasi data, reduksi data, pemaparan data, analisis data dan pengambilan simpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dilakukan pada subjek penelitian di SMPN 2 Mojokerto diperoleh sebaran data guru mata pelajaran yang mengisi terdiri dari guru matematika sebanyak 19,2% atau 5 orang, guru bahasa inggris sebanyak 15,4% atau 4 orang, guru bahasa Indonesia sebanyak 15,4% atau 4 orang, guru Bimbingan Konseling sebanyak 7,7% atau 2 orang, guru IPS sebanyak 3,8% atau 1 orang, guru IPA sebanyak 7,7% atau 2 orang, guru PJOK sebanyak 7,7% atau 2 orang, guru TIK sebanyak 3,8% atau 1 orang, guru Bahasa Jawa sebanyak 3,8% atau 1 orang, guru PAI sebanyak 3,8% atau 1 orang, guru Seni Budaya sebanyak 3,8% atau 1 orang, guru Prakarya sebanyak 3,8% atau 1 orang, dan guru PPKn sebanyak 3,8% atau 1 orang, sehingga secara keseluruh jumlah guru sebanyak 26 orang. Adapun lama mengajar dari subjek penelitian ditunjukkan pada Gambar 1 berikut. Gambar 1. Lama Mengajar Subjek Penelitian Berdasarkan Gambar 1 di atas bahwa data lama mengajar subjek penelitian di SMPN 2 Mojokerto bervariasi, yaitu sebanyak 2 guru atau 7,7% yang telah memiliki lama mengajar kurang dari 3 tahun, sebanyak 6 guru atau 23,1% yang telah memiliki lama mengajar antara 3-5 tahun, dan sebanyak 18 guru atau 69,2% yang telah memiliki lama mengajar lebih dari 10 tahun, sedangkan tidak ada guru yang memiliki lama mengajar antara 6-10 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa subjek penelitian dapat dikatakan mayoritas telah memiliki pengalaman mengajar yang cukup lama. Di samping itu, berkaitan dengan asesmen yang telah dilakukan tentunya banyak strategi untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selanjutnya berdasarkan hasil kuesioner pada setiap pertanyaan ditunjukkan Gambar 2 berikut. Gambar 2a. Hasil Pertanyaan 1 Gambar 2b. Hasil Pertanyaan 2 Berdasarkan Gambar 2 di atas, untuk 2a menyatakan hasil kuesioner untuk pertanyaan 1 yang berbunyi AuApakah Bapak/Ibu memahami tentang Asesmen Psikomotor?Ay. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 57,7% subjek menyatakan AuyaAy, artinya terdapat 15 guru yang menyatakan sudah memahami tentang asesmen psikomotor. Sedangkan sebanyak 42,3% subjek penelitian menyatakan AutidakAy, artinya terdapat 11 guru yang menyatakan belum memahami asesmen Hal ini menunjukkan hampir 50% guru belum mampu memahami asesmen psikomotor secara mendalam. Selain itu, hasil wawancara dengan subjek penelitian menyatakan bahwa masih ada kebingungan ketika melakukan asesmen psikomotor terutama bagi guru-guru yang mengajar selain PJOK. Lebih lanjut. Gambar 2b menunjukkan hasil kuesioner untuk pernyataan ke-2 yang berbunyi AuApakah selama ini bapak/ibu sudah melakukan asesmen psikomotor pada pembelajaran?Ay. Hasil menujukkan bahwa sebanyak 19,2% subjek penelitian menyatakan AuselaluAy, artinya terdapat 5 guru yang selalu melakukan asesmen psikomotor ketika mengajar di kelas. Sebanyak 73,1% subjek penelitian menyatakan Aukadang-kadangAy, artinya terdapat 19 guru yang masih belum tentu melakukan asesmen psikomotor. Dan sebanyak 7,7% subjek penelitian yang menyatakan Autidak pernahAy, artinya terdapat 2 guru yang belum pernah melakukan asesmen psikomotor. Berdasarkan hasil wawancara bahwa guru yang tidak pernah melakukan asesmen psikomotor karena belum adanya indikator atau rubrik yang jelas. Selanjutnya hasil kuesioner untuk pertanyaan ke-3 yang berbunyi AuTeknik apa yang Bapak/Ibu gunakan dalam melakukan asesmen Psikomotor?Ay ditunjukkan pada Gambar 3 berikut. Gambar 3. Hasil Kuesioner pertanyaan ke-3 Berdasarkan hasil Gambar 3 di atas bahwa subjek penelitian diperkenankan untuk memilih lebih dari satu teknik ketika melakukan asesmen psikomotor, sehingga diperoleh bahwa sebanyak 23,1% subjek penelitian yang telah menggunakan teknik observasi, artinya sebanyak 6 guru yang menggunakan teknik obervasi. Hal ini diperkuat saat wawancara bahwa mayoritas guru mata pelajaran IPA yang melakukan teknik observasi dalam asesmen psikomotor yang berkaitan dengan lingkungan sekitar. Sebanyak 73,1% subjek penelitian yang telah menggunakan teknik praktek, artinya sebanyak 19 guru yang menggunakan asesmen psikomotor dalam bentuk praktek, dan biasanya dilakukan oleh beberapa mata pelajaran seperti IPA. PAI. PJOK dan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Sebanyak 50% subjek penelitian yang telah melakukan asesmen psikomotor dalam bentuk produk, artinya terdapat 13 guru yang telah menggunakan teknik produk untuk asesmen psikomotor. Hal ini diperkuat saat wawancara, dimana mayoritas guru mata pelajaran Matematika dan Prakarya lebih banyak untuk menilai hasil produk dari peserta didik. Terakhir, sebanyak 38,5% subjek penelitian menyatakan menggunakan teknik proyek dalam asesmen psikomotor, artinya terdapat 10 guru yang menggunakan teknik proyek terutama guru IPA. Matematika dan prakarya. Secara keseluruhan dari hasil pertanyaan ke3 menunjukkan bahwa guru di SMPN 2 Mojokerto mayoritas masih menggunakan teknik asesmen psikomotor berupa praktek. Hasil kuesioner pada pertanyaan ke-4 dan 5 ditunjukkan pada Gambar 4 Gambar 4a. Hasil Pertanyaan 4 Gambar 4b. Hasil Pertanyaan 5 Berdasarkan Gambar 4a di atas yang menyatakan hasil kuesioner 4 yang berbunyi AuApakah Bapak/Ibu guru pernah memberikan contoh pemikiran kritis atau pemecahan masalah bagi peserta didik?Ay, terdapat 92,3% subjek penelitian menyatakan AuyaAy, artinya terdapat 24 guru yang menyatakan telah memberikan contoh berpikir kritis kepada peserta didik ketika melakukan pemecahan masalah di kelas maupun di luar kelas. Sedangkan terdapat 7,7% subjek penelitian yang menyatakan belum melakukan pemodelan berpikir kritis kepada peserta didik, artinya sebanyak 2 guru yang belum memberikan contoh berpikir Hal ini diperkuat saat menganalisis modul ajar yang telah dibuat oleh guru, dimana guru masih memberikan catatan indikator bahwa siswa tidak mampu berpikir kritis. Berdasarkan Gambar 4a di atas yang menyatakan hasil kuesioner 5 yang berbunyi Aupakah Bapak/ibu guru menggunakan lingkungan belajar untuk ketrampilan memecahkan masalah di kelas sebagai pengalaman belajar?Ay, terdapat 84,6% subjek penelitian menyatakan AuyaAy, artinya sebanyak 22 guru yang menyatakan telah menggunakan lingkungan sekitar untuk belajar terutama pada guru mata pelajaran IPA yang berkaitan dengan lingkungan sekitar. Sedangkan sebanyak 15,4% guru yang menyatakan belum pernah menggunakan lingkungan sekitar untuk belajar dan mengembangkan keterampilan peserta didik, artinya terdapat 4 guru yang belum mengkaitkan lingkungan sekitar untuk pembelajaran, terutama pada guru PAI. Hasil kuesioner pada pertanyaan ke-6 dan 7 ditunjukkan pada Gambar 5 Gambar 5a. Hasil Pertanyaan 6 Gambar 5b. Hasil Pertanyaan 7 Berdasarkan Gambar 5a diperoleh bahwa pada pertanyaan 6 yang berbunyi AuApakah Bapak/ibu guru terlibat secara aktif dalam mendampingi peserta didik untuk berpikir kritis selama menyelesaikan masalah yang dikaitkan dengan asesmen psikomotor?Ay, bahwa terdapat 38,5% subjek penelitian menyatakan AuyaAy telah terlibat aktif dalam mendampingi peserta didik dalam berpikir kritis, artinya sebanyak 10 guru yang sudah memberikan motivasi dan dorongan kepada peserta didik untuk selalu berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah. Terdapat 57,7% subjek penelitian yang menyatakan Aukadang-kadangAy dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik untuk berpikir kritis, artinya sebanyak 15 guru yang masih belum ajeg untuk memberikan motivasi dan pendampingan kepada peserta didik khususnya untuk berpikir kritis. Terdapat 3,8% subjek penelitian yang menyatakan Autidak pernahAy dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik untuk berpikir kritis, artinya masih ada 1 guru yang belum pernah memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah. Secara keseluruhan masih lebih dari 50% guru yang menyatakan kadang-kadang, dan hal ini tentunya menjadi perhatian khusus bagi sekolah untuk selalui memberikan arahan kepada guru supaya mampu dan memberikan pendampingan kepada peserta didik secara maksimal dalam berpikir kritis. Pada Gambar 5b diperoleh bahwa pada pertanyaan 7 yang berbunyi AuApakah Bapak/ibu guru mencontohkan kreativitas yang inovasi untuk peserta didik?Ay, terdapat 73,1% subjek penelitian yang menyatakan sudah memberikan contoh kepada peserta didik terkait kreativitas untuk berinovasi, artinya ada 19 guru yang sudah mendorong peserta didik untuk kreatif dalam membuat suatu Hal ini didukung saat wawancara dengan guru bahwa guru prakarya lebih banyak memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan ide sesuai dengan topik yang telah disepakati. Terdapat 26,9% subjek penelitian yang menyatakan AubelumAy dalam memberikan contoh kreativitas kepada peserta didik untuk berinovasi, artinya ada 7 guru yang belum memaksimalkan untuk pemberian contoh kepada peserta didik untuk Hasil kuesioner pada pertanyaan ke-8 dan 9 ditunjukkan pada Gambar 6 Gambar 6a. Hasil Pertanyaan 8 Gambar 6b. Hasil Pertanyaan 9 Berdasarkan Gambar 6a diperoleh bahwa hasil pertanyaan 8 yang berbunyi AuApakah Bapak/Ibu guru mendorong kreativitas Peserta Didik di kelas?Ay, terdapat 88,5% subjek penelitian menyatakan AusudahAy mendorong peserta didik untuk berkreasi, artinya sebanyak 23 guru yang telah memberikan dorongan dan motivasi kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitasnya. Terdapat 11,5% subjek penelitian yang menyatakan AutidakAy memberikan dorongan kepada peserta didik dalam mengembangkan kreativitasnya, artinya ada 3 guru yang belum memotivasi peserta didik untuk berkreasi. Berdasarkan Gambar 6b diperoleh bahwa hasil pertanyaan 9 yang berbunyi AuApakah Bapak/ibu guru memasukkan kreativitas dan inovasi pada asesmen psikomotor di modul ajar?Ay, terdapat bahwa 50% subjek penelitian menyatakan AuyaAy telah memasukkan kreativitas dan inovasi pada modul ajar khususnya pada asesmen psikomotor, artinya ada 13 guru yang telah menjadikan kreativitas dan inovasi sebagai salah satu indikator asesmen psikomtor. Hal ini juga didukung hasil wawancara dengan guru prakarnya bahwa kreatif dan inovatif menjadi indikator penilaian pada produk yang telah dibuat oleh peserta didik. samping itu, terdapat 50% subjek penelitian yang belum memasukkan indikator kreativitas dan inovasi pada modul ajar khususnya asesmen psikomotor. Hal ini menunjukkan bahwa guru masih perlu diberikan dorongan dan arahan untuk menjadikan kreativitas dan inovasi sebagai salah satu asesmen psikomotor dengan tetap memperhatikan materi dan tujuan pembelajaran yang ingin Hasil kuesioner pada pertanyaan ke-10 dan 11 ditunjukkan pada Gambar 7 Gambar 7a. Hasil Pertanyaan 10 Gambar 7b. Hasil Pertanyaan 11 Berdasarkan Gambar 7a di atas diperoleh bahwa hasil pertanyaan 10 yang berbunyi AuApakah Bapak/ibu guru mendorong peserta didik untuk lebih inovatif?Ay, terdapat bahwa 76,9% subjek penelitian menyatakan bajwa AusudahAy mendorong peserta didik untuk lebih berinovasi, artinya terdapat 20 guru yang memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengembangkan inovasi dalam beberapa hal seperti membuat karya atau produk. Sedangkan terdapat 23,1% subjek penelitian yang menyatakan AubelumAy mendorong peserta didik untuk lebih inovatif dalam membuat suat karya, artinya terdapat 6 guru yang belum mengembangkan sifat inovatif dari peserta didik secara maksimal. Berdasarkan Gambar 7b di atas diperoleh bahwa hasil pertanyaan 11 yang berbunyi AuApakah Bapak/ibu guru dan teman sejawat bekerja sama untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas antar kelas?Ay, terdapat 57,7% subjek penelitian yang menyatakan AusudahAy bekerja dengan teman sejawat untuk mengembangkan inovatif dan kreativitas peserta didik, artinya ada 15 guru yang sudah mampu berkolaborasi secara tim maupun teman sejawat untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi peserta didik. Sedangkan terdapat 43,2% subjek penelitian yang menyatakan AubelumAy bekerja dengan teman sejawat untuk mengembangkan inovatif dan kreativitas peserta didik, artinya ada 11 guru yang belum menerapkan bekerja secara tim maupun teman sejawat untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi peserta didik. Secara keseluruhan hasil analisis kuesioner menunjukkan bahwa asesmen psikomotor yang dilakukan oleh guru sudah mengarah pada kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Asesmen psikomotor berkaitan erat dengan kinerja yang dilakukan secara mandiri maupun berkelompok, sehingga kreativitas dapat menunjang pencapaian hasil yang lebih optimal (Rifdarmon. Yoshida et al. , 2022. Selanjutnya, asesmen psikomotor juga mendukung guru dalam memgembangkan proses berpikir kritis peserta didik terutama dalam menyelesaian masalah atau proyek (Alobaidi, 2020. Iskandar. Viscione et al. , 2. Namun terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa guru sebaiknya juga memberikan motivasi dan contoh secara konkrit kepada peserta didik dalam mengimplementasikan berpikir kritis maupun kreativitas. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis kuesioner dan wawancara yang dilakukan diperoleh bahwa subjek penelitian telah mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas dalam modul ajarnya terutama saat melakukan asesmen psikomotor. Hal itu ditunjukkan bahwa guru telah melakukan teknik asesmen psikomotor dengan 73,1% guru lebih mengarah pada teknik praktek. Artinya, guru sudah melakukan asesmen psikomotor yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan setiap mata pelajaran. Namun, jumlah guru yang belum memasukkan kriteria atau indikator kreavitasn dan inovatif masih belum maksimal karena masih terdapat 50% guru yang menyatakan tidak. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus terutama kepala sekolah sebagai supervisi utama dalam identifikasi keberhasilan guru dalam proses pembelajaran yang dapat dilihat dalam modul SARAN Diharapkan guru dapat memberikan memasukkan kriteria kemampuan berpikir kritis dan kreativitas di modul ajar supaya dapat memberikan gambaran yang jelas atau sebagai petunjuk dalam asesmen psikomotor. Guru perlu memberikan contoh, mendorong atau memotivasi setiap peserta didik dalam mengembangkan berpikir kritis dan kreativitas baik secara individu maupun berkelompok sesuai tujuan pembelajaran. UCAPAN TERIMA KASIH Tim peneliti menyampaikan terima kasih kepada DIPA Kemdikbudristek Nomor SP DIPA-023. 690523 /2023 yang telah membiaya penelitian ini melalui Hibah Penelitian Fundamental Reguler Tahun 2023. Peneliti juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua STKIP PGRI Jombang yang telah memberikan motivasi kepada tim Peneliti. DAFTAR PUSTAKA