I Gede Yuda Pramada. I Nengah Mariasa. Trisakti Implementasi Ajaran Tri Hita Karana pada Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali I Gede Yuda Pramada. I Nengah Mariasa. Trisakti Pascasarjana Pendidikan Seni Budaya. Universitas Negeri Surabaya Lidah Wetan. Surabaya, 60231. Indonesia Tlp. E-mail: yudapramada@gmail. ABSTRACT The teachings of Tri Hita Karana are implemented in the Sanghyang ritual. The Sanghyang Grodog ritual is a vision of the universality of life and life, it is also a teaching of real behavior, respect or politeness in living together in relation to God, fellow creatures and nature. The subject of this research is the entire community of Lembongan Village. The method used in this study is a qualitative method, all of which data were obtained from observations, interviews, and literature studies. The data analysis technique in this study uses data reduction as a way to sort out the data that is considered relevant in this study, then triangulates to get the validity of the data. The triangulation used is source triangulation and triangulation to the theory used in this study, namely semiotics. Semiotics is the study of signs, their functions and the production of meanings of signs and signs giving meaning to someone. This study aims to describe the implementation of the teachings of Tri Hita Karana in the Sanghyang Grodog ritual in Lembongan Village. Nusa Penida. Klungkung Bali. The teachings of Tri Hita Karana are parhayangan, which is the relationship between humans and God, the weak relationship between humans and humans, and the pawongan relationship between humans and nature, the relationship between humans and humans, and the pawongan relationship between humans and nature. Keywords: Implementation. Tri hitakarana. Sanghyang Grodo ABSTRAK Ajaran Tri Hita Karana yang di implementasikan pada ritual Sanghyang. Ritual Sanghyang Grodog merupakan visi kesemestaan hidup dan kehidupan, juga merupakan ajaran prilaku nyata penghargaan atau kesantunan hidup bersama dalam kaitan dengan tuhan, sesama mahluk dana alam. Subjek penelitian ini adalah seluruh masyarakat Desa Lembongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif yang seluruh datanya diperoleh dari observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data sebagai cara untuk memilah data yang dianggap relevan dalam penelitian ini, kemudian melakukan trianggulasi untuk mendapatkan keabsahan data. Trianggulasi yang digunakan adalah trianggulasi sumber dan trianggulasi terhadap teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu semiotik. Semiotika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tanda, fungsinya serta produksi makna tanda dan tanda memberikan arti bagi seseorang. Penelitian ini bertujuan sebagai gambaran Implementasi ajaran Tri Hita Karana dalam ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan. Nusa Penida. Klungkung Bali. Ajaran Tri Hita Karana terdapat parhayangan yang di mana hubungan manusia dengan Tuhan, palemahan hubungan manusia dengan manusia, dan pawongan hubungan manusia dengan alam bungan manusia dengan manusia, dan pawongan hubungan manusia dengan alam. Kata kunci: Implementasi. Tri hitakarana. Sanghyang Grodog Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Implementasi Ajaran Tri Hita Karana pada Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali PENDAHULUAN sesuai dengan tujuan dari Agama Hindu yaitu Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang sangat terkenal di dunia dan AuMoksartam jagadhita yacaiti dharmaAy yaitu, mencapai kesejahteraan dan kemakmuran. memiliki nilai jual yang tinggi di bidang Tri Hita Karana merupakan keseim- Pulau Bali disebut Bali Dwipa, bangan dalam hidup, yang di mana hidup kata ini merupakan kata jadian dari unsur harus seimbang antara memuja Tuhan, peduli bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata Bali terhadap sesama manusia dan lingkungan dan Dwipa. Kata Bali mempunyai berbagai (Wiana dalam Bali Menuju Jagaditha: Aneka arti, antara lain: kembali, persembahan, sesaji. Perspektif, 2004, hlm. kurban untuk mohon pengampunan, sungguh. Pada tanggal 11 November 1966, pada pasti, dan yang lainnya yang sepadan dengan saat diselenggarakan Konferensi Daerah I kata tersebut, sedangkan Dwipa berarti pulau Badan Perjuangan Hindu Bali yang bertempat (Dewi, 2016, hlm. di Perguruan Dwijendra Denpasar ajaran Bali Tri Hita Karana ini pertama kali dilahirkan mengenal yang disebut dengan Catur Marga (Ashrama, 2006, hlm. Konferensi tersebut yang berarti empat cara atau jalan dalam menghubungkan diri dengan Tuhan, untuk Hindu akan dharmanya untuk berperan mengarungi kehidupan dan memantapkan serta dalam pembangunan bangsa menuju diri mencapai tujuan Agama. Keempat jalan masyarakat sejahtera, adil dan makmur tersebut adalah sebagai berikut: . Bhakti berdasarkan Pancasila. Setelah itu istilah Tri Marga merupakan cara untuk pencapaian Hita Karana mengalami perkembangan, dan dalam kesempurnaan dengan cara sujud mulai di ketahui masyarakat. Pada kehidupan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang masyarakat Hindu, ajaran Tri Hita Karana akan menuntun kita dalam kehidupan kearah merupakan keseimbangan dan keselarasan yang lebih baik/sempurna, . Karma Marga antara bhuana agung dan bhuana alit yang merupakan kewajiban bagi umat manusia berpusat pada bakti manusia terhadap tuhan/ untuk mencapai kesejahteraan, . Jnana Marga Ida Sanghyang Widhi Wasa. (Ashrama, 2. merupakan cara/jalan mencapai kesempuraan Pelaksanaan Tri Hita Karana harus dijalankan dengan cara menggunakan pengetahuan, . secara seimbang dan selaras dan bila dapat Yoga Marga merupakan cara membersihkan dihindarkan dari unsur negatif yang ada, hidup Masyarakat Agama Hindu kesempurnaan (Surayin, 2005, hlm. menjadi damai dan tentram. Manusia dengan Hal ini adalah karena keberagaman alam semesta harus menjalin hubungan kebudayaan di Bali pada umumnya didasari dengan nilai-nilai yang berasal dari ajaran dijalankan dengan sekehendak manusia tanpa Agama Hindu sewenang-wenang mengantarkan umatnya mencapai kedamaian alam, kemurkaan alam tidak akan bisa diatasi rohani dan kesejahteraan hidup jasmani, oleh manusia. Ketiga unsur dalam Tri Hita Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 I Gede Yuda Pramada. I Nengah Mariasa. Trisakti Karana harus diterapkan dengan utuh dan baik, karena pertunjukan tari dan ritual teratur, di dalam pengimplementasiannya, merupakan kebutuhan integral (Suharti, 2013, karena unsur Parahyangan. Pawongan, dan Palemahan harus mengalami keseimbangan Sanghyang Grodog dalam pemikiran, tindakan dan ucapan. Tri Hita Karana memberikan sebuah apresiasi dilaksanakan masyarakat Desa Lembongan terhadap masyarakat dunia sehingga menjadi setiap 2 tahun sekali bertempat di pusat desa konsep keharmonisan Agama Hindu. Bagian atau yang disebut dengan AuCatus PataAy posisi Parahyangan adalah unsur yang di perempatan jalan desa setempat. Ritual manusia menjalin hubungan keharmonisan ini dilaksanakan sebagai sebuah bentuk dengan tuhan (Ida Sanghyang Widhi Was. upacara keagamaan yang berfungsi memohon dapat diterapkan dengan aktivitas ritual keselamatan, menjauhkan dunia dari unsur- upacara keagamaan . sebagai suguhan unsur negative dan memohon unsur-unsur suci dan ikhlas sebagai bakti umat kepada positif kehidupan kepada Tuhan, yang kelak Tuhan Sang Pencipta dan salah satunya berdampak baik bagi kehidupan semesta pelaksanaan upacara keagamaan, konsep Pawongan, mengajarkan masyarakat Hindu dilaksanakan adalah sebagai sebuah upaya sarpa-naya, masyarakat mencegah munculnya mu-sibah, salulung sabayantaka yakni beker-jasama wabah penyakit, kekeringan yang melanda dengan saling tolong menolong yang dilandasi dan seraya memohon kebaikan alam baik cinta kasih dan keikhlasan, dan filosofi dari daratan dan lautan agar manusia mam-pun konsep Tat Twam Asi yang menjadi dasar bertahan hidup. untuk mempertegas kebera-daan masyarakat Ritual paras-paros Ritual Sanghyang Sanghyang Grodog Grodog Hi-ndu yang cinta sesama, ramah dan seperti tari Sanghyang pada umumnya di Bali. beradaptasi dengan baik. Ritual Sanghyang Grodog sangat mengalami Sebuah ritual keagamaan di Bali yang perbedaan dibandingan dengan tari Sanghyang dilaksanakan secara rutin oleh umat Hindu, lainnya di Bali. Biasanya sebuah tari Sanghyang baik dilaksanakan dalam sehari-hari maupun Para penari seringkali kerasukan (Suharti, dilaksanakan pada saat perayaan hari suci, 2013, hlm. yakni kehilangan kesadaran sebagai wujud bakti umat, rasa syukur dan diri dimasuki roh karakter Sanghyang yang permohonan keselamatan semesta beserta akan ditarikan. Dalam ritual tradisi Sanghyang isinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Grodog Gegulak atau properti Sanghyang yang Aktivitas ritual atau upacara keagaman diupacarakan yang ditarikan, jadi bukan para di Bali seringkali diiringi oleh aktivitas pengusung tersebut yang menari menjadi Hal ini juga terjadi dalam pelaksanaan Sanghyang, namun para penggusung Gegulak Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan atau sebuah tempat properti Sanghyang akan Klungkung Bali. Tari Sanghyang mengarak dan memutar serta mendorong- kepentingan upacara masih tumbuh dengan dorong secara berkelompok atau sendiri jika Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Implementasi Ajaran Tri Hita Karana pada Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali memang bisa dilakukan sendirian. dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi Arti kata Grodog diambil dari suara dinamika pada objek, yang mempunyai tujuan yang ditimbulkan oleh berputarnya roda untuk memahami fenomena penelitian secara gegulak yang berbunyi grodog-grodog, hal holistik . , dengan cara mendeskripsikan ini dikarenakan media yang digunakan di data dalam bentuk kata-kata dan bahasa. dorong-dorong pada saat menarikannya. Selanjutnya untuk menjadikan penelitian ini Ritual Sanghyang Grodog ini sangat unik dan ekplanasi yang lebih tajam dilakukan juga sangat berbeda dengan Tari Sanghyang lain di pendekatan budaya. Teknik pengumpulan Bali, karena dalam satu rangkaian prosesinya memakan waktu 11 hari lamanya dengan wawancara dan studi pustaka. Pada tahap mempersembahkan 23 jenis sanghyang dan pengumpulan data melalui observasi di- pelaksanaannya dilakukan memilih sasih karo lakukan seperti pengamatan langsung dari agar tidak terhalang dengan musim hujan. Ritual Sanghyang Grodog, yaitu di Desa dan juga karena waktu ritual masing-masing Lembongan. Nusa Penida Klungkung. Bali. sanghyang selalu berbeda, ada pagi hari. Teknik pengumpulan data selanjutnya adalah tepat siang atau tengah hari, sore, bahkan ada wawancara, dalam tahap ini beberapa pihak tengah malam hingga dini hari. Adapun kedua yang terkait dalam penelitian ini diwawancarai, puluh tiga sanghyang tersebut diantaranya narasumber tersebut di antaranya tokoh- Bumbung. Sanghyang tokoh Desa Lembongan . emangku des. Sampat. Sanghyang Lingga. Sanghyang Penyalin. Penggalian data yang dilakukan dalam tahap Sanghyang Joged. Sanghyang Jaran. Sanghyang ini adalah menggali pustaka yang berkaitan Dukuh Ngabe cicing. Sanghyang Dukuh Masang dengan kajian nilai dan simbol dalam upacara Bubu. Sanghyang Sampi. Sanghyang Kebo, ritual, dari hasil penelusuran studi terdahulu Sanghyang Bangu-Bangu. Sanghyang Tiling- mengenai ritual Sanghyang Grodog. Sanghyang Tiling. Sanghyang Enjo-Enjo. Sanghyang Tutut. Teknik analisis data dalam penelitian Sanghyang Manjangan. Sanghyang Jangolan, ini menggunakan reduksi data sebagai cara Sanghyang Barong. Sanghyang Capah. Sanghyang untuk memilah data yang dianggap relevan Kelor. Sanghyang Perahu. Sanghyang Payung, dalam penelitian ini, kemudian melakukan Sanghyang Sumbul, dan Sanghyang Perahu. trianggulasi untuk mendapatkan keabsahan Trianggulasi yang digunakan adalah trianggulasi sumber dan trianggulasi terhadap METODE teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Penelitian ini menggunakan metode Semiotika adalah ilmu pengetahuan penelitian kualitatif. Sugiyono . 4, hlm. yang mempelajari tentang tanda, fungsinya . mengatakan bahwa Aupenelitian kualitatif serta produksi makna tanda dan tanda adalah penelitian yang menggunakan latar memberikan arti bagi seseorang (Sobur, 2003, alamiah . atural settin. yaitu berkembang 34-. Semiotik juga disebut sebagai apa adanya tidak dimanipulasi oleh peneliti salah satu ilmu yang mempelajari salah satu Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 I Gede Yuda Pramada. I Nengah Mariasa. Trisakti tanda dari peran itu sendiri dan merupakan sarana upacara dan dapat dilihat dari aktivitas bagian dari kehidupan masyarakat yang disampaikan oleh Ferdinand de Saussure melalui keyakinan, ketulusan hati masyarakat . iliang, 2003, hlm. melaksanakan upacara yang menggerakkan Dituangkan jiwa masyarakat secara sadar bahwa Tuhan telah menciptakan alam beserta isinya dan HASIL DAN PEMBAHASAN manusia diberikan segala kebutuhan untuk Tri Hita Karana merupakan konsep da- kelangsungan hidupnya. Kehidupan yang sar keseimbangan dan kesamaan antara bhuana telah tuhan berikan untuk umatnya sehingga agung dan bhuana alit yang berpusat pada bakti menyadarkan manusia mengucapkan rasa manusia terhadap tuhan (Ida Sanghyang Widhi syukur akan kebesaran Tuhan. Rasa syukur Was. Pada tata ruang dan gambaran arsitektur akan apa yang telah diperoleh manusia dalam Bali. Konsep Tri Hita Karana terdapata pada kehidupan ini diwujudkan dalam sebuah kon-sep Tri Angga . oros vertica. dan Tri upacara ritual sebagai ungkapan terima kasih Mandala . oros horizonta. (Ashrama, 2. dan memohon agar senantiasa diberikan Kehidupan masyarakat tidak terlepas dari perlindungan keselamatan dan dijauhkan dari kegiatan yang sarat akan makna simbolis. kesengsaraan, dan dihindarkan dari serangan Makna simbolis adalah suatu tata pemikiran wabah penyakit. atau paham akan makna yang menekankan Para pemangku kepentingan di desa atau mengikuti pola-pola yang mendasar pada bersama-sama dengan pemuka adat dan simbol-simbol seperti yang dikemukakan oleh Pemangku desa bersamasama merencanakan Daliman . alam Wildan. Dulkiah, & Irwandi, dan mempersiapkan segala keperluan upacara, 2019, hlm. untuk pelaksanaan Ritual Sanghyang Grodog. Implementasi Tri Hita Krana dalam Ritual Setelah semua siap, pelaksanaan upacara Sanghyang Grodog di Bidang Parahyangan Pengertian Ritual menurut Kamus Besar Kebersamaan masyarakat dalam mewujudkan Bahasa Indonesia adalah hal ihwal ritus atau pelaksanaan ritual ini adalah sebuah wujud tata cara dalam upacara keagamaan. Upacara bakti, bukti kesadaran umat bahwa yang ritual atau ceremony adalah sistem atau telah diberikan Tuhan kepada manusia, alam rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau laut yang penuh berkah, pariwisata yang me- hukum yang berlaku dalam masyarakat yang ngangkat citra Pulau Lembongan menjadi berhubungan dengan berbagai macamperistiwa salah satu pilihan wisatawan, perkebunan yang yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang subur adalah anugerah yang sangat luar biasa. bersangkutan (Purnama Dewi, 2016, hlm. Rasa syukur melalui ritual Sanghyang Grodog Wujud ajaran parahyangan yang diterapkan / disimbolkan pada apa yang telah membantu diimplementasikan ke dalam ritual Sanghyang manusia dalam kehidupannya ke dalam bentuk- Grodog bisa dilihat dari bentuk ritual upacara, bentuk properti Sanghyang seperti Kuda. Sapi. Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Implementasi Ajaran Tri Hita Karana pada Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali Payung. Dukuh Ngabe Bubu. Kelor. Perahu. Penyalin. Sapu, dan lainnya. Simbol-simbol ini merupakan sarana ungkapan rasa terima kasih atas karunia Tuhan kepada umatnya, karna telah membantu manusia dalam kehidupannya. Desa Lembongan berada di tengah lautan dan mata pencaharian masyarakat sebagian besar dahulu adalah nelayan dan bertani rumput laut. Dalam ritual Sanghyang Grodog ada disimbulkan dengan Sangyang Perahu salah satunya, ini adalah karena manusia Gambar 1. Prosesi pemujaan masyarakat terhadap tuhan yang disimbolkan melalui Sanghyang Dedari (Sumber: Baliantara. News, 2. serta isiannya sebagai kesejahteraan rakyat. rutinitas sebagai nelayan dalam mencari Sekaligus memohon agar selalu dihindarkan peng-hidupan. Rasa syukur akan apa yang dari kesengsaraan dan wabah yang mematikan. telah diberikan Tuhan dalam berkehidupan Tuhan sebagai pencipta menciptakan alam dengan hasil laut yang dinikmati oleh manusia, semesta serta segenap muatannya, manuasia wujud terima kasih disimbolkan dengan merupakan salah satunya ciptaan Beliau. ritual Sanghyang berbentuk perahu, yang telah Manusia menikmati alam, hidup dari alam, membantu manusia dalam mencari nafkah. menggunakan alam untuk melangsungkan Tuhan Maha Penyayang. Maha Bijaksana, hidup, dan menjadi kewajiban pula menjaga alam beserta isinya, namun manusia juga Ritual Sanghyang Grodog adalah ungkapan rasa syukur umat kepada Sang hasil alam harus dengan perhitungan yang Pencipta atas semua anugerahnya, karena bijaksana, bukan semena-mena dan harus sadar sepenuhnya dengan segala keyakinan menjaga ekosistem alam agar tidak hancur. dan ketulusan melaksanakan upacara ritual Bila manusia tidak lagi menyayangi alam, ini sebagai bagian dari kewajiban manusia atas tidak menjaga keseimbangan alam dengan berkah yang telah diberikan, melalui gending- melakukan penyelamatan terhadap kerusakan gending/lagu suci, sarana upakara banten, dan sebagainya. Tuhan pasti akan murka dan menimbulkan kesengsaraan dengan bencana Sanghyang alam yang melanda bumi untuk menghindari Parahyangan dalam ritual ini. Masyarakat kemurkaan Tuhan akibat ulah manusia dalam sadar bahwa Tuhan adalah segala-galanya memanfaatkan alam semesta beserta isinya, dan manusia hanyalah debu di mata Beliau, inilah menjadi sebuah keyakinan masyarakat Ritual memberikan segala kebutuhan hidup manusia Sanghyang Grodog sebagai ungkapan syukur atas atas alam beserta isinya adalah bukti Tuhan apa yang sudah diberikan Tuhan yakni alam sangat penyayang umatnyaa dan oleh karena Lembongan Tuhan Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 I Gede Yuda Pramada. I Nengah Mariasa. Trisakti itu sudah sepantasnya manusia mengembalikan sampai dengan proses akhir upacara. Dalam rasa kasih sayang tersebut dalam bentuk upacara ritual persembahan dengan ketulusan dengan aparat desa dengan sadar membangun hati dan keikhlasan dengan harapan Tuhan komitmen menjalin suatu hubungan yang akan selalu memberikan segala kebutuhan harmoni antara manusia bersama Tuhan, umatnya dan menjaga manusia beserta alam melalui berbagai kegiatan yang bersifat relegi. dari segala kemurkaannya. Wujud bakti manusia sebagai ciptaan Tuhan bersama-sama yang telah diberikan kehidupan yang indah dan Implementasi Tri Hita Karana dalam Ritual dengan hasil alam laut yang melimpah, serta Sanghyang Grodog di Bidang Pawongan apa yang telah dinikmati tersebut diwujudkan Manusia adalah mahluk sosial yang dalam sebuah upacara sebagai rasa syukur senantiasa akan membutuhkan manusia lainnya dan sekaligus memohon agar selalu dijauhkan dalam menjalankan kehidupan di bumi, karena dari mara bahaya dan derita kesengsaraan. dalam hidupnya harus ada proses komunikasi. Persiapan upacara dibangun dengan penuh dan saling membutuhkan dalam berinteraksi. keyakinan, masyarakat bersama-sama ber- Dalam Tri Hita Karana. Pawongan merupakan sinergi dan mewujudkan upacara Ritual dasar di mana manusia sebagai individu yang sanghyang Grodog dengan semangat yang dapat membentuk hasil kombinasi dengan tinggi, membentuk kelompok-kelompok ngayah yang akan melaksanakan 23 jenis Sanghyang Implementasi Tri Hita Karana dalam Ritual Sanghyang Grodog dalam 11 hari lamanya. Kelompok-kelompok ini adalah masyarakat dari masing-masing pelaksanaannya khususnya di Desa Lembongan banjar adat yang ada, diberikan tanggung ini konsepnya berdasarkan pada adat istiadat, jawab dalam mempersiapkan masing-masing misalnya mengadakan pertemuan-pertemuan/ gegulak yang menjadi tugas mereka. Gegulak rapat membahas segala persiapan upacara, dan akan di kerjakan dengan penuh rasa bakti yang mendalam, luapan kebahagiaan terhadap apa kelompok-kelompok melakukan kegiatan gotong royong (Ngaya. , yang telah tuhan berikan. bersinergi antar-kelompok masyarakat saling Sebagai contoh, satu banjar mendapatkan membantu dan bekerjasama, melakukan ke- 2 gegulak yang menjadi tanggung jawab mereka wajiban secara bersama-sama, dan bergantian untuk melaksanakan upacara Sanghyang, yakni saling melengkapi. Hal ini tidak lain adalah gegulak Sanghyang Perahu dan Gegulak Sanghyang persembahan yang tulus sebagai sajian ter- Kebo. Kelompok masyarakat yang mendapat hadap Tuhan. Ritual Sanghyang Grodog mengadakan pertemuan intern, musyawarah, masyarakat dari berbagai unsur di Desa dan setelah mencapai kesepakatan, secara Lembongan, dari para Pemuka Adat, perangkat bergotong royong mewujudkan Gegulak sampai desa, dan masyarakat desa pekraman, yang dengan proses upacara tersebut dilaksanakan. secara langsung terjun dari awal perencanaan. Hal ini merupakan bukti bagaimana manusia Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Implementasi Ajaran Tri Hita Karana pada Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali Grodog Catuspata perempatan Agung Desa Lembongan. Inilah titik nol kilometer Desa Lembongan dipilih adalah karena tempat tersebut mengandung makna filosofi bahwa Sanghyang Grodog ingin kembali memurnikan masyarakat Lembongan dengan mengajak kembali ke titik nol dalam diri masing-masing, yang berarti kembali Gambar 2. Masyarakat Desa Lembongan melaksanakan prosesi upacara Sanghyang Grodog (Sumber: waklaba. com, 2. mengungkapkan syukur terhadap tuhan atas anugerah yang telah diberikan kepada manusia yakni alam beserta isinya untuk kehidupan dan kebahagiaan mereka dan bersama-sama menyukseskan pelaksanaan ritual Sanghyang saling melengkapi, saling berkordinasi antarkelompok satu dengan lainnya demi kelancaran pelaksanaan upacara. Sanghyang Grodog di Bidang Palemahan Palemahan merupakan konsep yang akan mengantarkan kehidupan manusia ke arah menuju kebahagiaan menekankan hubungan yang harmonis manusia dengan alam. Yang dimana dalam manuasia harus selalu menjaga alam semesta ini, untuk mewujudkan keharmonisan serta tetap menjaga keseimbangan alam untuk mewujudkan hubungan yang harmonis dengan alam. Implementasi Tri Hita Karana di bidang palemahan dalam ritual sanghyang Grodog adalah terlihat dimana Desa Lembongan dan apa yang harus dijauhi dan mengajak mengingatkan kembali apa tujuan hidup yang ingin dicapai, serta mengajarkan kembali tentang keseimbangan hidup, keharmonisan antar sesama maupun dengan alam yang telah menyediakan kecukupan dan dengan Sang Pencipta yang telah menjadi pelindung selama Ritual Sanghyang Grodog Desa Lembongan kehidupan, juga merupakan ajaran prilaku Implementasi Tri Hita Karana dalam Ritual mengevaluasi apa yang dicapai selama ini kegiatan bersih-bersih di kawasan desa dan seputar Catus Pata Desa Lembongan. Tempat pelaksanaan Ritual Sanghyang nyata penghargaan atau kesantunan hidup bersama dalam kaitan dengan Tuhan Sang Pencipta, waktu, alam, semesta, dan sesama mahkluk hidup. Ini bisa dibuktikan dengan gending-gending . Sanghyang yang dilan-tunkan itu menunjukkan penghargaan tinggi kepada seluruh ekosistem kehidupan di tanah atau daratan, pertanian, perkebunan, air, udara hingga kehidupan sehari-hari yang Sanghyang Grodog Desa Lembongan menjadi sangat istimewa bila didalami hakikat guna, makna, dan nilai maupun kearifan hidup yang terkandung dibalik kedalaman Ritual Sanghyang Grodog ini. Ada yang dinamakan Sanghyang Kelor. Sanghyang Penyalin. Sanghyang Dukuh Ngabe Cicing. Sanghyang Sampi (Sap. , ini membuktikan manusia berterima kasih melalui persembahan suci kepada Tuhan sebagai wujud Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 I Gede Yuda Pramada. I Nengah Mariasa. Trisakti penghargaan atas ciptaannya. semesta dan dengan persembahan tersebut Manusia merupakan ciptaan tuhan dan manusia akan memperoleh anugerah alam bagian dari alam, dan manusia harus pula semesta ini yang pasti terjaga, lestari, dan tunduk pada hukum alam, untuk mencapai harmonis, serta hidup berdampingan dengan kehidupan yang harmonis, karena dengan sesama makhluk hidup lainnya. merasakan ketentraman dan kenikmatan hidup Manusia merasakan, mendengar. SIMPULAN menikmati segala keindahan ciptaan Tuhan Ritual Sanghyang Grodog merupakan adalah sebuah anugrah kehidupan akan upacara ritual sebagai penetralisisr unsur sesuatu yang indah. Konsep hidup bagi umat Hindu di Bali melaksanakan Yadnya merupakan kewajiban hidup. Sebab kehidupan Lembongan manusia dan semua mahkluk di alam semesta Makna melepaskan energi- ini dilandasi oleh adanya yadnya yang berupa energi negatif dalam diri manusia untuk pengorbanan dan cinta kasih. Upacara ritual keseimbangan hidup dalam diri masyarakat merupakan salah satu bagian dari ajaran Lembongan Agama Hindu, meliputi: tattwa, etika, dan kesemestaan hidup dan kehidupan dalam upacara (Surayin, 2005, hlm. Implementasi ajaran Tri Hita Masyarakat telah diikat dengan adat. Implementasi Pawongan Dan Palemahan. Karana pada Ritual Sanghyang Grodog adalah kebudayaan serta kepercayaan maka dari Sanghyang Grodog mempunyai Metode Parahayangan, nilai kebudayaan yang adi luhung di dalam penelitian ini metode kualitatif yang seluruh 23 jenis Sanghyang yang terdapat pada ritual datanya diperoleh dari observasi, wawancara. Sanghyang Grodog memiliki simbolis budaya, dan studi kepustakaan. Trianggulasi yang misalnya seperti. simbol kesuburan (Sanghyang digunakan adalah trianggulasi sumber dan Enjo-enj. Dedar. , trianggulasi terhadap teori yang digunakan Kekerabatan (Sanghyang Penyali. Legenda dalam penelitian ini yaitu semiotik. Semiotik (Sanghyang Perah. , pelestarian sumber daya juga disebut sebagai salah satu ilmu yang alam laut (Sanghyang Dukuh masang Bub. , mempelajari salah satu tanda dari peran itu keperkasaan/kekuatan dan keanekaragaman sendiri dan merupakan bagian dari kehidupan hayati di Lembongan (Sanghyang Giling-Giling, masyarakat yang disampaikan. Religius (Sanghyang Sanghyang Dukuh ngabe cicing, sanghyang Samp. Implementasi ajaran Tri Hita Karana Filosofi yang terkandung dalam tradisi dalam bidang Parahayangan yaitu masyarakat Sanghyang Grodog adalah bahwa manusia menerapkannya dengan upacara ritual sebagai perwujudan syukur terhadap tuhan. Pawongan Tuhan sepatutnya mempersembahkan semua isi alam Jurnal Panggung V32/N2/06/2022 Implementasi Ajaran Tri Hita Karana pada Ritual Sanghyang Grodog di Desa Lembongan Klungkung Bali kekerabatan dan saling menghargai sesama manusia dan Pelemahan yaitu, masyarakat Lembongan yaitu dengan cara melaksanakan kegiatan kebersihan di catus pata . usat kot. dan lingkungan yang ada di Desa Lembongan. Ritual Sanghyang Grodog Desa Lembongan merupakan visi kesemestaan hidup dan kehidupan, juga merupakan ajaran prilaku nyata penghargaan atau kesantunan hidup bersama dalam kaitan dengan Tuhan Sang Pencipta, waktu, alam, semesta, dan sesama mahkluk hidup. Ini bisa dibuktikan dengan gendingAegending . Sanghyang yang dilantunkan itu menunjukkan penghargaan tinggi kepada seluruh ekosistem kehidupan di tanah atau daratan, pertanian, perkebunan, air, udara hingga kehidupan sehari-hari yang nyata. Sanghyang Grodog Desa Lembongan menjadi sangat istimewa bila didalami hakikat guna, makna, dan nilai maupun kearifan hidup yang terkandung dibalik kedalaman Ritual Sanghyang Grodog. *** DAFTAR PUSTAKA