Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Analisis Perilaku Resiliensi Siswa Korban Bullying di SMK Negeri 1 Makassar This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License CC-BY-NC-4. 0 A2020 by author . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/ ). (Received: January-2025. Reviewed: February-2025. Accepted: Maret-2025. Available online: April-2025. Published: April-2. Salmi Adhawi Yah Taufik1. Abdullah Sinring2. Suciani Latif3 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: salmitfk26@gmail. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: abdullah. sinring@unm. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: suciani. latif@unm. Abstract. This research analyzes the resilience of student victims of bullying and their handling of one student at SMK Negeri 1 Makassar. The aim of this research is to determine: . a description of resilience in students who are victims of bullying, . Factors that cause resilience in students who are victims of bullying, . The impact of resilience in students who are victims of bullying. The approach used in this study is a qualitative approach with a case study research type. Data analysis techniques were data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that: . The description of student resilience is in the low category, characterized by the inability to control emotions, acting impulsively, pessimistic, appearing less able to empathize, and avoiding help, . Factors causing student resilience include negative self-understanding, poor coping strategies, and lack of peer support, . The impact of low AP category resilience is lack of self-confidence, isolation, declining academic performance, and emotional problems. Keywords: Resilience. Bullying Victims. Solution-Focused Brief Counseling. Abstrak. Penelitian ini menganalisis resiliensi siswa korban Bullying dan penanganannya terhadap satu siswa di SMK Negeri 1 Makassar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: . gambaran resiliensi pada siswa korban bullying, . Faktor penyebab resiliensi siswa korban bullying, . Dampak dari resiliensi siswa korban bullying, . Upaya penanganan resiliensi siswa korban bullying. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Gambaran resiliensi siswa berada pada kategori rendah ditandai dengan ketidakmampuan mengontrol emosi, bertindak impulsif, pesimis, terlihat kurang mampu berempati, dan menghindari bantuan, . Faktor penyebab resiliensi siswa meliputi pemahaman diri negatif, strategi coping yang buruk, dan kurangnya dukungan teman sebaya, . Dampak dari resiliensi kategori rendah AP yaitu tidak percaya diri, terisolir, performa akademik menurun, dan masalah Kata Kunci: Resiliensi. Korban Bullying. Solution-Focused Brief Counseling 80 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. PENDAHULUAN SMK Negeri 1 Makassar merupakan salah satu sekolah menengah kejuruan yang ada di Kota Makassar. Berdasarkan hasil observasi awal di SMK Negeri 1 Makassar masih ditemukan adanya bullying yang terjadi di kalangan siswa. Hal ini diperoleh dari hasil wawancara dengan guru BK yang menyampaikan bahwa siswa-siswi di SMK Negeri 1 Makassar memiliki berbagai macam permasalahan baik dari segi akademik maupun pergaulan. Masalah yang kerap terjadi yang mana juga merupakan salah satu kekhawatiran besar di dunia pendidikan yaitu timbulnya kebiasaan buruk yakni adanya perundungan atau bullying, baik itu bullying verbal maupun bullying fisik. Bullying verbal seperti mengejek, memfitnah, menghina, menertawai, dan merendahkan, sedangkan bullying fisik seperti memukul, mendorong, dan menendang. Dari survei yang dilakukan oleh pihak sekolah pada tahun 2024 terhadap 200 siswa, sekitar 35% mengaku pernah menjadi korban bullying, dengan 25% mengalami bullying verbal seperti diejek, dihina, dan ditertawakan, serta 10% mengaku mengalami bullying fisik seperti didorong, dipukul, atau ditendang. Dampak dari bullying ini sangat signifikan. Sebagian besar korban mengaku merasa tertekan secara emosional, mengalami penurunan kepercayaan diri, dan menderita kecemasan. Bahkan, 15% dari korban menunjukkan penurunan kehadiran di sekolah akibat trauma yang dialami. Selain itu, guru BK melaporkan bahwa perilaku bullying ini lebih sering terjadi pada siswa yang dianggap lebih lemah atau memiliki sifat tertutup, sehingga mereka menjadi sasaran yang lebih rentan. Perilaku bullying itu sendiri biasanya ditujukan kepada individu yang dianggap kurang kuat atau rentan, sehingga mereka yang menjadi korban bullying sering kali menghadapi tekanan baik secara fisik maupun mental, bahkan mungkin merasa enggan untuk terlibat dalam interaksi sosial mereka (Sujadi et al. , 2. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dan juga wawancara dengan salah satu guru BK di sekolah terkait beberapa siswa korban bullying tepatnya pada tanggal 30 November 2023 di SMK Negeri 1 Makassar, terdapat satu orang korban bullying yang teridentifikasi memiliki ketahanan diri atau resiliensi yang negatif atau rendah yaitu siswa yang berinisial AP. Kriteria atau gambaran yang menunjukkan resiliensi rendah pada korban bullying yakni AP di antaranya yaitu ia merasa insecure atau tidak percaya diri, cenderung menarik diri dari interaksi sosial, merasa tertekan dan cemas, lebih sensitif atau mudah tersinggung, serta kesulitan untuk mengatasi ataupun menanggapi tindakan bullying yang dialaminya. Dari fenomena yang terjadi di lapangan, siswa korban bullying dengan ketahanan diri atau resiliensi yang rendah cenderung mudah merasa stres dan frustasi, karena kesulitan untuk bersikap tegas dan sering kali merasa tidak berdaya. Kondisi ini membuat korban sering merasa frustasi dan memilih untuk membatasi interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya. Korban merasa dirinya lemah, polos, dan rentan dibodohi oleh teman-temannya. Akibatnya, ia menghindari orang lain dan sulit bersikap tegas dalam menghadapi tindakan bullying yang dialaminya, sehingga kemampuan resiliensinya rendah. Dalam konteks bullying, resiliensi memiliki peran yang sangat penting bagi siswa yang menjadi korban bullying untuk mengatasi dampak negatif yang muncul. Menurut Pratiwi et al. , . , dampak seorang yang menjadi korban bullying akan mengalami kesulitan dalam bergaul serta korban bullying juga merasa takut dan tidak nyaman saat datang ke sekolah sehingga menyebabkan absensi siswa tinggi, tertinggal pelajaran, mengalami kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran, dan mengalami gangguan kesehatan mental maupun fisik dalam jangka pendek maupun panjang. Selain itu, bullying juga dapat mempengaruhi kesejahteraan dan perkembangan psikososial korban, serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang tidak aman dan tidak menyenangkan (Harum et al. , 2. Tanpa resiliensi yang kuat, korban bullying seperti AP berpotensi mengalami dampak negatif jangka panjang, termasuk masalah akademik, sosial, serta masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres. Menurut Saman & Sinring . , bullying memiliki dampak negatif yang signifikan bagi korban, baik secara fisik maupun psikologis, di mana dampak fisik bisa berupa lukaluka atau cedera yang menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan. sedangkan dampak psikologis seringkali lebih merusak, termasuk efek-efek emosional dan mental seperti kecemasan, depresi, hilangnya kepercayaan diri, dan perasaan terisolasi di lingkungan sekolah. Dalam konteks ini, resiliensi menjadi faktor kunci yang memungkinkan siswa untuk pulih dan melanjutkan perkembangannya dengan baik. Mohamed & Thomas (Freska et al, 2. mengemukakan 81 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. bahwa remaja dengan tingkat resiliensi yang positif cenderung lebih mampu menghadapi dan mengatasi dampak negatif dari bullying, serta memiliki peluang lebih besar untuk pulih dan berkembang dari pengalaman tersebut. Menurut Grotberg (Nuraini & Ramli, 2. resiliensi adalah kemampuan individu untuk tetap tegar dan pulih dalam situasi sulit atau penuh tekanan, serta di masa-masa yang berat. Konsep resiliensi juga mencakup kapasitas yang universal bagi individu atau kelompok untuk mencegah, mengurangi, atau bahkan mengatasi dampak negatif. Sementara itu Reivich dan Shatte mengemukakan bahwa resiliensi merupakan kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat atau masalah yang terjadi dalam kehidupan (Pratiwi & Yuliandri, 2. Resiliensi merupakan kemampuan individu atau kelompok untuk bertahan, pulih, dan tumbuh melalui tantangan, tekanan, atau situasi sulit. Ini mencakup kapasitas untuk menyesuaikan diri, mengatasi stres, dan mempertahankan keseimbangan emosional dalam menghadapi perubahan atau krisis. Resiliensi juga melibatkan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya internal dan eksternal untuk mengatasi hambatan, menjaga kesejahteraan mental, dan meraih potensi penuh dalam kehidupan. Reivich dan Shatte (Adhha, 2. mengemukakan bahwa resiliensi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup kemampuan berpikir, pandangan tentang diri sendiri, tingkat harga diri, kemampuan dalam hubungan sosial yang dipengaruhi oleh jenis kelamin, dan kedalaman keterlibatan individu dalam budaya. Adapun faktor eksternal mencakup struktur dan aturan rumah dan dukungan sosial dari keluarga, komunitas, teman, rekan kerja, dan lingkungan sekitar. Konsep resiliensi juga mencakup kemampuan untuk mencegah, mengurangi, atau mengatasi dampak negatif dari situasi yang menantang. Selain itu, resiliensi melibatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri, mengatasi stres, dan mempertahankan keseimbangan emosional. Remaja dengan tingkat resiliensi yang positif cenderung dapat mengatasi stres yang berasal dari berbagai faktor, termasuk tekanan dari lingkungan sekolah dan hubungan interpersonal, seperti hubungan dengan teman sebaya dan dinamika keluarga. METODE Berdasarkan dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah peneliti tentukan maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan kualitatif merupakan metode penelitian yang tidak mengandalkan prosedur statistik atau perhitungan lainnya untuk mendapatkan temuan, dan fokus pada pemahaman holistik dan kontekstual dari fenomena dengan mengumpulkan data dari lingkungan alami, dengan peneliti sendiri berperan sebagai instrumen utama dalam proses penelitian (Sugiarto, 2019:. Penelitian studi kasus merupakan pendekatan yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam mengenai suatu hal yang diteliti baik berupa program, peristiwa, aktivitas dan lainnya untuk memperoleh pengetahuan/informasi secara mendalam tentang hal tersebut Baxter & Jack (Fadli, 2. Peneliti memilih menggunakan penelitian jenis studi kasus untuk mencermati individu secara menyeluruh dan mendalami tentang fenomena atau kasus yang dialami oleh satu individu. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Makassar yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya di Jl. Andi Mangerangi No. Bongaya. Kecamatan Tamalate. Kota Makassar. Pemilihan lokasi ini didasarkan studi awal yang dilakukan peneliti yang dimana terdapat satu siswa yakni AP yang teridentifikasi memiliki resiliensi yang rendah. Selain subjek dalam penelitian ini sumber data lain diantaranya teman subjek, wali kelas, guru BK, dan orang tua subjek. Proses pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dengan pedoman wawancara yang telah disusun, sedangkan Observasi dilakukan guna memperoleh informasi tentang subjek korban bullying yang memiliki resiliensi rendah dengan cara mengamati langsung subjek penelitian. Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni model dari Miles & Huberman yang terdiri dari tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan serta verifikasi kesimpulan. Validitas data diuji melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. 82 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada subjek AP, guru BK, wali kelas, teman, dan orang tua subjek, telah diperoleh informasi terkait gambaran resiliensi AP, faktor-faktor yang menyebabkan resiliensi AP, dan dampak dari resiliensi AP yang diuraikan sebagai berikut: Gambaran Resiliensi Subjek AP Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai informan, ditemukan bahwa gambaran resiliensi yang rendah pada subjek AP tercermin dari beberapa sikap atau perilaku yang muncul. Gambaran yang pertama yaitu ketidakmampuan mengontrol emosi, terutama saat menghadapi situasi yang menekan. Hal ini dinyatakan langsung oleh subjek AP dalam wawancaranya yang mengatakan AuKalau saya diolok-olok atau dibercandai begitu kak, langsungkaAo tersinggung dan Tidak bisa saya tahan emosiku kak. Itu biasa kasi stress ka juga kalau saya sudah marah tapi mereka masih mengolok-olok terus. Ay (DP/wwc01/AP/11092. Hal tersebut juga diungkapkan oleh guru BK, yang mengungkapkan bahwa AP seringkali kesusahan dalam mengendalikan emosi pada situasi stressnya. Guru BK menyebutkan. AuKalau saya lihat AP ini memang sering keliatan sulit menangani stressnya, emosional sekali terus gampang tersinggung. Biasa kalau tertekan sekalimi. AP ini sering bereaksi berlebihan seperti mengamuk begitu . Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas menambahkan. AuSering sekali hilang fokusnya saat belajar. Kalau adami yang mengolok-olok, langsung pasti tersulut emosinya terus setelahnya itu susahmi untuk kembali tenang . Ay (DS/wwc03/WK/17092. Selain itu teman sebaya AP juga mengungkapkan bahwa. AuSusah dikasi tenang kak kalau terlanjur emosimi. Selain gampang marah dia juga cepat sekali tersinggung. Kalau dibercandai sedikit, langsungmi emosi Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Selanjutnya, gambaran perilaku yang tercermin dari resiliensi yang rendah pada AP yaitu kecenderungan untuk bertindak impulsif, terutama saat menghadapi situasi yang penuh tekanan. Subjek AP dalam wawancaranya mengatakan. AuTidak bisa saya kendalikan biasa emosiku kak. Kadang kalau saya marah sekali, saya lempar barang-barang dekatku. Kalau marah juga, saya biasa menyendiri dan tidak mau bicara sama orang-orang. Ay (DP/ wwc01/AP/11092. Selain itu guru BK menambahkan. AuIya pernah satu kesempatan saya dapati AP lagi mengamuk teriak-teriak di depan kelasnya karena dibercandai sama teman-temannya. Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Tindakan impulsif AP juga didukung oleh pernyataan wali kelas. AuBeberapa kali saya dapat laporan dari guru lain terkait perilaku AP yang kadang tidak terkendali ketika diganggui sama temannya. Saya juga pernah amati sendiri, waktu itu dia sampai menangis dan berteriak. Sepertinya tertekan sekaliki AP saat itu. Ay (DS/wwc03/WK/17092. Teman AP juga menyatakan. AuIye beberapa kali kak. Tapi pernah itu kejadian pas lagi proses pembelajaran di kelas, ada yang tuduhki AP kentut. Berusaha sekalimi membantah AP tapi tetapji diolok-olok sama ini temanku. Akhirnya, marahmi AP terus mengamukki. Sempat juga banting meja waktu itu padahal posisinya masih ada guru mengajar. Deh baru toh kak susah sekali dikasi tenang itu hari . Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Selain itu. AP menunjukkan sikap pesimis terhadap dirinya dan masa depannya. Dalam wawancara. AP mengungkapkan. AuSaya rasa nda ada jalan keluarnya kak. Nda akan ada habisnya saya dikasi begini. Pasti saya akan dibully terus. Mungkin takdirku mi dikasi begini kak, nda bakalan bisa saya atasi . Ay (DP/wwc01/AP/11092. Guru BK menambahkan bahwa AP 83 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. kerap meragukan kemampuannya untuk mengatasi situasi bullying, dengan mengatakan. AuPesimiski juga kadang dia. Kalau saya coba bahas potensi dan bakatnya, dia sering menjawab dengan nada putus asa, seperti, 'Untuk apa itu semua, bu? Nanti saya bakalan dibully ji lagi. ' Kelihatan sekali kalau sangat terbebaniki sama pengalamannya dan seakan-akan merasaki tidak ada jalan untuk bangkit dari situasi ini. Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Hal senada diungkapkan oleh wali kelas, yang menyebutkan. AuBiasa kalau saya suruh naik untuk presentasi, nda mauki. Nabilang takutki beng diejek-ejek sama teman-temannya kalau ada salah bicaranya. Padahal saya tahu persisiji bahwasanya AP ini bisa dan paham betulji sama materinya karena dia itu lumayan pintar sebenarnya. Ay (DS/wwc03/WK/17092. Kemudian teman subjek juga turut mengungkapkan bahwa. AuDia juga jarang mau ikut kalau ada kegiatan di sekolah. Nabilang toh kak untuk apa ikut, nanti pasti bakalan diolok-olokja. Kadang kutanya ji juga kak kubilang ikut mi sekali-sekali supaya bisa senang-senang, tapi selaluji menolak karena nda mau beng dijadikan bahan ejekan terus. Ay (DS/ wwc05/tmn/18092. Gambaran lainnya yang menunjukkan resiliensi rendah pada AP adalah terlihat kurang mampu berempati terhadap orang Hal ini terungkap dari pernyataan AP yang mengatakan. AuSusah kak. Kalau ada teman yang curhat tentang masalahnya, saya kadang rasa itu cuma buang-buang waktu saja. Saya berpikir, 'Semua orang punyaji masalah sendiri, jadi kenapa harus merasa kasihan?'. Selain itu kak, selama ini saya kayak merasa diasingkan jadi saya juga biasa menjauh. Nda mau terlalu peduli sama orang. Ay (DP/wwc01/AP/11092. Guru BK juga mengungkapkan. AuSepenglihatan saya kurang bisa dia berempati sama teman sebayanya. Kebanyakan dia menyendiri dan cuek. Saya pernah liat waktu ada temannya menangis di kelas. AP kayak cuekji begitu di pojokan, bahkan nda bertanya apa yang terjadi. Mungkin karena fokusnya sendiri sama masalah pribadinya. Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas AP juga turut mendukung hal itu dengan menyatakan. AuSelaluki mengasingkan diri dari teman-temannya. Terus cuek sekali juga. Kalau ada situasi emosional, semisal ada temannya yang lagi sedih atau kesusahan begitu, dia cenderung tidak merespon. Atau kalaupun merespon, pasti kayak datarji terus singkat. Ay (DS/wwc03/WK/17092. teman AP juga turut mengemukakan kondisi AP ini, dalam wawancaranya teman AP menyatakan. AuKalau ceritaki toh kak terkait masalahta, biasa lainji responnya. Kadang juga mengalihkanji pembicaraan. Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Terakhir, subjek AP cenderung menghindari bantuan atau solusi atas masalahnya. AP mengaku. Au Saya tidak mau cerita atau melapor ke guru tentang masalahku kak. Takutka nanti dia kasi tau orang tuaku. Saya tidak mau orang tuaku khawatir atau merasa terbebani dengan masalahku. Banyak mi pikirannya, saya tidak mau lagi tambah-tambahi bebannya. Ay (DP/wwc01/AP/11092. Guru BK juga menegaskan bahwa. AuDia jarang mau cerita masalahnya. Kalau ditanya, dia cuman jawab singkat dan kadang juga semacam menghindari pertanyaan saya. Keliatan sekali kalau dia tidak nyaman kalau saya bahas topik itu padahal kita sebagai guru BK mau bantu dia . Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas juga mengemukakan hal serupa akan sikap AP yang cenderung menutup diri dan tidak mau terbuka. Wali kelas menjelaskan. AuLebih sering dia pendam masalahnya terus jarang mau melapor ke guru untuk minta bantuan. Kalaupun ditanya, biasa nda mau terbuka dan cenderung menghindarki . Ay (DS/wwc03/WK/17092. Teman AP juga mengungkapkan hal serupa. AuTerlalu seringki menyendiri dia kak. Baru nda tegaski ungkapkan apa yang na rasakan. Kalau ada masalahnya. AP lebih banyak diam dan tidak mau tong cerita atau minta bantuan begitu . Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Gambaran terkait resiliensi subjek AP di SMK Negeri 1 Makassar dapat dilihat dari tabel berikut: 84 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Tabel 1 Gambaran Resiliensi Subjek AP Aspek Resiliensi Perilaku Deskripsi Ketidakmampuan mengontrol emosi Mudah tersinggung dan tidak bisa menahan emosi marah. Sangat sensitif pada olokan dan bercandaan. Kesulitan untuk kembali tenang saat kondisi Bertindak impulsive Berperilaku agresif. Melempar barang dan mengamuk ketika dihadapkan pada situasi tertekan. Berteriak dan membanting meja sebagai respons terhadap tekanan emosional. Perasaan putus asa. Merasa tidak ada jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi. Sering berpikiran negatif dan meragukan kemampuannya. Pesimis Terlihat kurang mampu berempati Menghindari bantuan Bersikap acuh tak acuh dan cuek, tidak merespon dengan baik ketika teman mengemukakan masalahnya. Cenderung menghindar dan tidak mau terlibat pada situasi emosional di sekitarnya. Tidak berusaha mencari solusi atau bantuan, enggan menceritakan permasalahan kepada orang lain, cenderung memendam perasaan dan masalah sendiri, serta bersikap menutup diri dan tidak mau terbuka. Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel di atas, gambaran resiliensi subjek AP di SMK Negeri 1 Makassar menunjukkan bahwa subjek mengalami berbagai bentuk kesulitan dalam menghadapi tekanan emosional dan sosial. Secara umum, resiliensi subjek tergolong rendah, yang terlihat dari beberapa aspek perilaku. Pertama, subjek menunjukkan ketidakmampuan mengontrol emosi, yang ditandai dengan mudah tersinggung, tidak dapat menahan amarah, dan kesulitan untuk menenangkan diri setelah berada dalam situasi tertekan. Selain itu, subjek juga sering bertindak impulsif, seperti menunjukkan perilaku agresif, membanting barang, atau berteriak sebagai respons terhadap tekanan emosional. Subjek juga memiliki kecenderungan untuk bersikap pesimis, dengan perasaan putus asa dan pikiran negatif yang menghambat kepercayaan diri dalam menghadapi masalah. Hal ini diperburuk oleh rendahnya kemampuan subjek untuk berempati, yang tercermin dari sikap acuh tak acuh terhadap teman dan ketidakmauan untuk terlibat dalam situasi emosional di sekitarnya. Terakhir, subjek cenderung menghindari bantuan dengan tidak menceritakan masalahnya kepada orang lain, memendam perasaan, dan bersikap tertutup. Faktor-faktor Penyebab Resiliensi Subjek AP Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai informan, ditemukan bahwa faktor-faktor penyebab resiliensi yang rendah pada subjek AP di antaranya yaitu pertama, pemahaman diri negatif. Subjek AP menganggap dirinya sebagai pribadi yang lemah, bodoh, dan tidak berdaya. Dalam wawancara. AP mengungkapkan. AuSaya terlalu lemah kak terus tidak bisa melawan, makanya saya sering dibodoh-bodohi dan diejek. Ay (DP/wwc01/AP/11092. Kemudian AP menambahkan. AuBagaimana bisa bangkit kak. Saya terlalu lemah, gampang dibodoh-bodohi, dan tidak bisa berbuat apa-apa, jadi nda adaji gunanya itu semua kak karena bakalan dibully ja terus-terusan. Susah deh kak, mending saya pasrah saja Ay (DP/wwc01/AP/11092. Hal ini juga diperkuat oleh guru BK yang menyatakan bahwa AP kesulitan dalam mengidentifikasi kelebihan dirinya dan lebih fokus pada kelemahan-kelemahannya. Guru BK menyatakan,Ay Pas saya tanya tentang kelebihan dirinya, dia kayak bingung dan tidak bisa sebutkan satupun. Bahkan dia sempat bilang kalau kekurangannya ji yang banyak. Terlalu lemah jadi sering dibodoh-bodohi. Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas juga mengungkapkan. AuBagaimana dia persepsikan 85 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. dirinya sebagai orang yang lemah dan serba kekurangan. Yah, karena persepsinyami itu makanya dia serba anggap dirinya tidak bisa. Ay (DS/wwc03/WK/17092. Dalam wawancaranya, orang tua AP juga menyatakan. AuDia sering ngomong Aosaya nda sehebat teman-temanku di sekolah, bodoh juga, tidak ada sama sekali yang bisa dibanggakan dari diriku . Ay (DS/wwc04/ort/19092. Teman AP juga menyatakan. AuBaru nabilangi tongmi dirinya lemah, tidak ada na bisa. Padahal toh kak saya tahuji kalau AP itu banyakji potensinya. Tapi entah kenapa kek na ragukan dirinya baru kelemahanna terusji na ungkit. Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Faktor kedua yang ditemukan adalah strategi coping yang buruk. AP cenderung menghindari masalah dan lebih sering menyalahkan dirinya sendiri ketika menghadapi kesulitan. Hal ini juga yang turut berkontribusi pada rendahnya resiliensi pada diri AP. Dalam wawancaranya AP mengatakan. AuSetiap kali saya hadapi masalahku kak, saya sering berpikir. AoPasti ini semua salahku, karena saya terlalu lemah dan tidak bisa melawanAo . (DP/wwc01/AP/11092. Kemudian AP menyatakan lagi,Ay Saya takut untuk hadapi semua dan lebih pilih untuk menghindar saja. Biasa juga saya mengurung diri di kamar karena seperti tidak ada yang bisa saya lakukan kak untuk ubah keadaan . Ay (DP/wwc01/AP/11092. Guru BK juga menyatakan. AuSusah karena alih-alih hadapi masalah seperti dengan cari dukungan atau minta bantuan. AP lebih pilih untuk menghindar. Terus selalu dia selalu salahkan dirinya, itumi semakin terpurukki dan susahmi juga hadapi ini Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas AP juga mengungkapkan hal serupa, yang menyatakan Au Tidak mau dia ungkapkan dengan tegas perasaanya baik itu ke kami selaku guru ataupun ke teman-temannya. Lebih seringki dia bungkam dan salahkan dirinya terus menerus. Makanya susahmi dia lihat arah jalan keluar dari masalahnya . Ay (DS/wwc03/WK/17092. Dari wawancara dengan orang tua AP juga diperoleh bahwa AP juga bersikap menutup diri dan menghindari diskusi tentang masalah yang dia hadapi. Orang tua AP menyatakan. AuBeberapa kali saya perhatikan kalau dia pulang dari sekolah murung mukanya. Pernah saya tanya bilang Aokenapaki nak?Ao terus tidak adaji nabilang-bilang langsungji masuk ke kamarnya baru nakunci. Saya tauji dia pasti diganggui lagi sama teman-temannya, cuma itumi deh dia kayak pasrahji begitu baru tidak mau tong cerita. Ujung-ujungnya stres mi, nasalahkan mi seng dirinya . Ay (DS/wwc04/ort/19092. Kemudian teman AP menyatakan juga. AuNa salahkan terus dirinya kak terus kebanyakan dia menghindar setiap ada masalahnya. Kayak na pendam sendiriji ini semua makanya makin terpurukki . Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Faktor ketiga yang turut menjadi penyebab rendahnya resiliensi yang pada AP yaitu kurangnya dukungan dari teman AP merasa terasing dan tidak diperhatikan oleh teman-temannya. Dalam wawancaranya. AP menyatakan. AuKadang saya merasa seperti orang asing di sekolah. Jarang ada teman yang ajakka ngobrol. Seperti saya tidak dianggap Ay (DP/wwc01/AP/11092. Selanjutnya guru BK juga mengemukakan terkait kurangnya dukungan emosional teman sebaya terhadap AP. Guru BK menyatakan. AuTerus itu juga kadang kalau butuh bantuan AP, rata-rata diabaikanji sama teman-temannya. Pasnya menangis juga itu hari gara-gara ada yang ganggui, satu dua orangji yang kelihatan peduli, selebihnya cuek ji. Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas AP juga turut mengungkapkan. AuMereka sering tidak sadar kalau AP sedang kesulitan. Kebanyakan dari mereka asyik dengan urusannya masing-masing. Kadang juga bukannya mereka bantu AP tapi malah na olok-olokji kasian. Ay (DS/wwc03/WK/17092. Selain itu, hal serupa juga diungkapkan oleh teman AP yang menyatakan. AuBiasa juga toh kak kayak diperlakukan tidak adilki. Kalau ada tugas kelompok nda ada itu yang mau ambil AP masuk di kelompoknya. Baru biasa kalau diganggui sama kakel, teman-teman kelasku na liatiji saja terus kadang ikut juga ketawa-ketawa. Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Faktor-faktor penyebab resiliensi subjek AP di SMK Negeri 1 Makassar dapat dilihat dari tabel berikut: 86 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Tabel 2 Faktor Penyebab Resiliensi Subjek AP Faktor penyebab Pemahaman diri negatif Strategi coping yang buruk Kurangnya dukungan teman sebaya Deskripsi Pemahaman diri negatif siswa yang mencakup persepsi terhadap pribadinya terkait kelemahan atau kekurangan dirinya serta pengabaian pada kelebihan diri. Beberapa sikap siswa yang menggambarkan penggunaan strategi coping yang buruk yakni seperti cenderung menyalahkan diri sendiri dan menghindari masalah. Minimnya dukungan dari teman sebaya yang diperoleh siswa seperti mengalami keterasingan sosial, cenderung diabaikan saat membutuhkan bantuan, dan tidak mendapatkan empati ketika mengalami bullying. Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel di atas, terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebab rendahnya resiliensi pada diri AP. Pertama, pemahaman diri negatif yang ditunjukkan oleh persepsi AP terhadap dirinya sebagai pribadi yang lemah dan tidak AP lebih fokus pada kelemahan dan kekurangan dirinya, serta mengabaikan potensi dan kelebihan yang dimilikinya. Kedua, strategi coping yang buruk, di mana AP cenderung menyalahkan diri sendiri dan menghindari masalah. Alih-alih mencari solusi atau dukungan. AP memilih untuk mengurung diri dan merasa tidak ada yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan, yang semakin memperburuk kondisi emosionalnya. Ketiga, kurangnya dukungan teman sebaya yang mengakibatkan AP merasa terasingkan. Temanteman sekelas AP cenderung mengabaikan kebutuhannya akan dukungan emosional, bahkan kadang ikut mengolok-olok ketika AP mengalami kesulitan atau bullying. Hal ini membuat AP semakin merasa sendiri dan rentan terhadap stres. Dampak Resiliensi Subjek AP Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai informan, ditemukan bahwa dampak dari resiliensi yang rendah pada subjek korban bullying (AP) di antaranya yaitu pertama, tidak percaya diri. Resiliensi yang rendah pada AP berdampak pada kepercayaan dirinya, dimana subjek AP merasa minder dan tidak berani tampil di depan kelas, seperti yang diungkapkan oleh AP dalam wawancara. AuCuma saya terkadang sudah tidak pede maju di depan kelas kalau semisal presentasi begitu atau disuruh naik sama guru. Ay (DP/wwc01/AP/11092. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan guru BK dalam wawancaranya. AuBerpengaruh sekali pasti ini sama kemampuan publik speakingnya, kemampuannya untuk tampil di depan umum. Jelas sekali terlihat kalau potensinya selama ini tertutupiki sama rasa tidak percaya dirinya . Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Selain itu, wali kelas juga menambahkan dalam pernyataannya. AuSusah sekalimi diminta tampil di depan teman-temannya. Mau itu presentasi, kerja soal di papan tulis, pidato, atau apa tidak mauki. Kalau saya suruh langsungmi berubah itu ekspresinya baru langsung keringatan. Ay (DS/wwc03/WK/17092. Teman sebaya AP juga ikut merespon terkait kondisi dari dampak resiliensi AP ini. Temannya mengatakan. AuBerpengaruh juga kayaknya kak. Karena biasa kalau disuruh kerja di papan tulis selalu tidak bisa. Baru kalau diminta juga sama guru naik di depan, tidak Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Dampak yang kedua yakni terisolir. AP lebih memilih untuk menyendiri karena takut diejek oleh teman-temannya. Dalam wawancaranya. AP mengungkapkan. AuIye kak, saya nda mau gabung sama mereka-mereka. Nanti saya diolok-olok ji lagi. Sudah susah juga untuk percaya sama orang lain jadi lebih suka ka menyendiri kalau di kelas atau di luar kelas, bahkan di luar sekolah . Ay (DP/wwc01/AP/11092. Guru BK menambahkan dengan menyatakan. AuSering saya perhatikan itu AP kemana-mana sendiriki. Makin keliatan nda mau berinteraksi sama teman-temannya. Pernah juga pas ada event sekolah, ada duduk di pojokan nda mau gabung sama teman-teman sekelasnya. Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Kemudian wali kelas juga memberikan pernyataan serupa. AuAkhirnya menjadi minder dan tidak mau bergabung sama teman-temannya. Ay (DS/wwc03/WK/17092. AuSekarang dia jadi selektif 87 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. kalau pilih teman, baik itu sekedar teman bicara ji. Yah karena itu, pengalaman buruk sebelumnya bikin dia ragu untuk membuka diri . Ay (DS/wwc03/WK/17092. Orang tua AP juga mengatakan demikian. Hal tersebut dapat dilihat dari wawancara orang tua AP yang menyatakan. AuBerpengaruh sepertinya. Hampir nda pernah keluar rumah. Paling ituji kalau dia bantu ka jualan ikan di pasar. Dan kalaupun keluar rumah adapi temannya dan itu-itu tongji temannya yang dua orang sering saya liat. Ay (DS/wwc04/ort/19092. Selain itu. Teman AP juga mengiyakan hal ini. Dalam wawancaranya teman AP mengatakan. AuIye kak berpengaruhki. Karena takut sekalimi mungkin lagi diejek-ejek, dibercandai sama teman yang lain makanya nda mau mi juga itu dekat-dekat, sering menghindar. Orang-orang tertentu mami ini na temani bicara biasa kak. Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Dampak ketiga adalah penurunan performa akademik. AP menunjukkan penurunan minat dan motivasi untuk belajar, serta kesulitan dalam mengelola waktu dan menyelesaikan tugas. Dalam wawancara. AP menyatakan AuBerat sekali saya rasa untuk belajar kak. Malas ka karena susah mka fokus. Susah mi juga saya atur waktuku kak makanya sering sekali saya telat kumpul tugas . Ay (DP/wwc01/AP/11092. Hal ini dibenarkan oleh guru BK yang menyatakan. AuYang paling kelihatan itu kalau di kelas, lebih banyak melamun dan tidak fokus ikuti pelajaran dengan baik. Terus dia juga pasif sekali kalau kita diskusi. Itu semua yang berdampak juga pada kualitas akademiknya. Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas AP juga menambahkan. AuSudah berubah sekali dia, nilai-nilainya menurun drastis. Dulu. AP terbilang aktifji dan cepat kumpulkan tugas-tugasnya, tapi sekarang dia jarang berpartisipasi saya liat dan semacam kehilangan semangat juga. Ay (DS/wwc03/WK/17092. Orang tua subjek pun mengiyakan dampak ini dalam lingkup aktivitas AP di lingkungan rumah. Orang tua AP menjelaskan. AuSekarang dia lebih banyak habiskan waktunya di kamar baring atau main hp. Dulu setelah dia bantu saya menjual, pasti langsungji pergi belajar. Tapi sekarang ini kayak uring-uringan mi saya liat. Belakangan ini juga keliatan loyo kalau disuruh pergi ke sekolah. Ay (DS/wwc04/ort/19092. Selain itu, teman sebaya AP juga menjelaskan bahwa AP seperti orang yang tidak ada semangat belajarnya. Hal ini dinyatakan teman AP dalam wawancaranya yang mengatakan. AuSekarang toh kak lebih tidak semangatki diliat kalau belajar di kelas. Sering melamun baru murung juga mukanya, kayak orang mengantuk juga. Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Dampak keempat adalah masalah emosional yang dialami oleh AP. Subjek AP sering mengalami kecemasan, kesedihan, dan perubahan suasana hati yang tidak stabil. AP mengungkapkan. AuSaya sering cemas dan sedih kak, kadang juga saya sering mau marah biarpun nda ada alasan jelas kenapa . Ay (DP/wwc01/AP/11092. Hal tersebut kemudian dibenarkan oleh guru BK yang memberikan penjelasan perihal kondisi emosional AP. Dalam wawancaranya guru BK menyatakan. AuAP sering tunjukkan tanda-tanda stres, seperti gampang marah dan sulit mengontrol emosinya . Ay (DS/wwc02/GBK/16092. Wali kelas AP juga menjelaskan hal serupa terkait kondisi AP ini. Di mana wali kelas menyatakan. AuSaya perhatikan AP sering juga keliatan murung dan tidak stabil emosinya. Kadang dia tiba-tiba bisa marah atau menangis tanpa sebab yang jelas. Ay (DS/wwc03/WK/17092. Selain itu, orang tua AP juga menjelaskan dampak dari resiliensi ini terhadap kondisi emosional AP di rumah. Dalam wawancaranya dia menjelaskan. AuDia jadi lebih pendiam dan makin sering habiskan waktunya sendirian. Kadang-kadang saya dengar ki menangis di kamar, tapi dia tidak mau cerita kenapa. Ay (DS/wwc04/ort/19092. Teman sebaya AP ikut memberikan penjelasan terkait kondisi emosional AP yang terlihat semakin kurang baik. Teman AP menyatakan. AuPernah beberapa hari itu dia nda masuk ke sekolah kak. Jadi ke rumahnya ka. Terus na bilang sakit dadanya beng karena beberapa hari ini menangis terus na bikin. Stress ki beng kak banyak na pikirkan. Ay (DS/wwc05/tmn/18092. Dampak resiliensi subjek AP di SMK Negeri 1 Makassar dapat dilihat dari tabel berikut: 88 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Tabel 3 Dampak Resiliensi Subjek AP Dampak Tidak percaya diri Terisolir Performa akademik menurun Masalah emosional Deskripsi Siswa tidak percaya diri untuk menampilkan apa yang dimiliki atau menunjukkan kemampuannya di hadapan teman-temannya. Siswa cenderung menolak dan menghindar tampil atau berpartisipasi di hadapan teman-temannya di kelas. Siswa cenderung menolak dan menghindari interaksi sosial, merasa enggan untuk bergabung dengan teman-teman karena takut diejek. Hal ini menyebabkan siswa lebih memilih menyendiri, baik di kelas maupun di luar kelas, dan menjadi sangat selektif dalam memilih teman. Siswa kehilangan motivasi untuk belajar, mengalami kesulitan dalam fokus, dan sering terlambat mengumpulkan tugas. Ketidakaktifan di kelas dan berkurangnya semangat belajar berdampak negatif pada nilai akademiknya. Siswa mengalami kecemasan, kesedihan, dan frustrasi. Tanda-tanda stres terlihat dari perubahan suasana hati yang tidak stabil, seperti mudah marah dan menangis tanpa alasan jelas. Siswa menjadi lebih pendiam dan menghabiskan waktu sendirian, serta sering merasa tertekan. Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel di atas, diketahui bahwa dampak dari rendahnya resiliensi pada subjek AP dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan sosial, akademik, dan emosionalnya. Pertama. AP mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan diri, yang mengakibatkan penolakan dan penghindaran untuk tampil di depan kelas atau berpartisipasi dalam aktivitas di sekolah. Hal ini menunjukkan adanya perasaan minder dan kecemasan terkait dengan kemampuan dirinya. Selain itu, dampak lainnya adalah terisolasi secara sosial. AP cenderung menghindari interaksi dengan teman-temannya karena takut diejek, sehingga lebih memilih untuk menyendiri baik di kelas maupun di luar kelas, serta menjadi sangat selektif dalam memilih teman. Dalam hal akademik. AP kehilangan motivasi belajar, kesulitan dalam berkonsentrasi, dan sering terlambat dalam mengumpulkan tugas. Hal ini memengaruhi performa akademiknya yang Dampak emosional juga sangat terasa, di mana AP mengalami kecemasan, kesedihan, dan frustrasi, dengan perubahan suasana hati yang tidak stabil, seperti mudah marah atau menangis tanpa alasan yang jelas. Secara keseluruhan, rendahnya resiliensi pada AP berdampak pada kesejahteraan dirinya yang terganggu, baik dalam hubungan sosial, akademik, maupun emosional. Pembahasan Gambaran Resiliensi Siswa Korban Bullying di SMK Negeri 1 Makassar (AP) Resiliensi merupakan kemampuan individu dalam bertahan dan bangkit dari problematika atau permasalahan yang sedang terjadi dalam kehidupannya (Rahmanisa et al, 2. Adapun menurut Luthar (Sari et al, 2. resiliensi merupakan suatu kemampuan seorang individu untuk bangkit kembali dari tekanan hidup, belajar dan mencari elemen positif dari lingkungannya untuk membantu kesuksesan proses beradaptasi dengan segala keadaan dan mengembangkan seluruh kemampuannya, walau berada dalam kondisi hidup tertekan, baik secara eksternal atau Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap subjek AP yang menunjukkan adanya resiliensi yang rendah dalam dirinya. Beberapa sikap dan perilaku yang ditunjukkan dalam masalah resiliensi rendah 89 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. ini seperti ketidakmampuan mengontrol emosi, bertindak impulsif, pesimis, terlihat kurang mampu berempati, dan mengindari bantuan. Sikap AP yang tidak mampu mengontrol emosi menggambarkan adanya keterbatasan dalam mengelola stres dan Beberapa sikap yang muncul seperti mudah tersinggung, tidak bisa menahan emosi marah, emosi meledakledak, dan cenderung sangat sensitif. Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Digdyani & Kaloeti . bahwa seseorang yang memiliki resiliensi akan mampu mengontrol emosi negatif menjadi positif sehingga dapat meningkatkan kesehatan mental dirinya. Kemudian pada sikap bertindak impulsif menunjukkan kurangnya kontrol diri dalam menghadapi situasi yang menekan. Perilaku ini dapat terlihat dalam reaksi yang cepat dan tidak dipikirkan, seperti membuat keputusan terburu-buru tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Misalnya, siswa korban bullying akan merespons dengan agresi fisik atau verbal, yang dapat memperburuk situasinya dan menciptakan lebih banyak Gambaran resiliensi yang rendah ini didukung oleh penjelasan Harahap & Situmorang . bahwa ketika individu memiliki kontrol impuls yang kurang baik, mereka cenderung mengikuti dorongan impulsif pertama dan menganggap situasi tersebut sebagai realitas, bertindak sesuai dengan persepsi tersebut yang mana hal itu dapat mengurangi tingkat resiliensi individu. Selain itu, gambaran lain dari bentuk resiliensi yang rendah pada subjek korban bullying yaitu bersikap pesimis yang mencerminkan pandangan negatif terhadap diri sendiri dan masa depan. Siswa sering kali merasa bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi, dan cenderung fokus pada aspek-aspek negatif dari situasinya. Hal ini ada relevansinya dengan pendapat Durell . yang menyatakan bahwa salah satu aspek penting resiliensi yaitu aspek optimisme dan orang yang memiliki resiliensi merupakan orang yang optimis. Kemudian gambaran lainnya yang ditunjukkan dari resiliensi subjek yakni terlihat kurang mampu berempati terhadap orang lain yang ditandai dengan sikap acuh dan kurang peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain. Hal ini didukung oleh Rasmanah . yang mengemukakan bahwa kemampuan resilien pada seseorang juga dapat terlihat pada aspek empati yang ditandai dengan kepedulian pada sesama dan sikap sosial yang tinggi. Sikap menghindari bantuan yang diperlihatkan oleh subjek di sekolah juga menjadi sorotan sebagai bagian dari gambaran atau bentuk resiliensi yang negatif. Hal ini didukung oleh pendapat Adni et al . yang menyatakan bahwa keterampilan untuk secara aktif mencari bantuan didefinisikan sebagai aspek I have dalam resiliensi. Faktor-faktor Penyebab Resiliensi Siswa Korban Bullying di SMK Negeri 1 Makassar (AP) Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab resiliensi pada siswa korban bullying. Faktor-faktor tersebut dikategorikan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri subjek. Faktor ini di antaranya adalah faktor pemahaman diri negatif dan faktor strategi coping yang Faktor pemahaman diri negatif subjek memberikan gambaran persepsi yang tidak sehat tentang dirinya Menurut Fatmasari & Ambarwati . pemahaman diri atau konsep diri sebagai faktor yang memengaruhi resiliensi karena ketika seorang individu mampu memiliki konsep diri positif akan memiliki kemampuan dalam merencanakan harapan atau tujuan di dalam hidupnya dengan baik, sehingga dalam keadaan yang sulit pun akan tetap mampu bertahan serta mampu mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi. Faktor lain yang menyebabkan resiliensi yang negatif pada subjek yakni penggunaan strategi coping yang buruk ditunjukkan dengan 90 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. sikap subjek yang cenderung menyalahkan diri sendiri dan menghindari mengatasi masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Nurhidayah et al . yang menjelaskan bahwa individu yang menggunakan strategi coping yang tidak tepat dan tidak efektif akan mengganggu resiliensi dan sulit dalam menghadapi masalah, sehingga akan mencari pelarian negatif. Adapun faktor eksternal yang turut menjadi penyebab resiliensi negatif pada subjek yaitu kurangnya dukungan teman sebaya. Kurangnya dukungan teman sebaya seperti keterasingan sosial, cenderung diabaikan saat membutuhkan bantuan, dan tidak mendapatkan empati ketika mengalami bullying. Temuan ini ada relevansinya dengan pendapat Sari & Prasetyaningrum . yang menyatakan bahwa dukungan teman sebaya yang tinggi membuat kemampuan resilien individu meningkat pula, hal ini dikarenakan ketika individu memiliki dorongan dari lingkungannya terutama teman teman sebaya mereka akan lebih mudah menghadapi segala permasalahan yang ada karena memiliki teman yang bersedia menjadi tempat untuk bercerita dan memberi nasihat. Dampak Resiliensi Siswa Korban Bullying di SMK Negeri 1 Makassar (AP) Resiliensi yang rendah pada siswa korban bullying turut berdampak pada pribadi dan aktivitas sehari-hari siswa yang bersangkutan. Pada subjek AP dampak resiliensinya dapat dilihat dari sikap tidak percaya diri, terisolir, performa akademik menurun, dan masalah emosional. Dampak pertama yakni tidak percaya diri. Hal ini ditandai dengan rasa tidak yakin siswa akan kemampuan dirinya. Siswa cenderung menghindar dan menolak menampilkan kemampuan dirinya di hadapan orang lain. Temuan ini juga didukung oleh Wijayanti et al . bullying dan ketidakmampuan adaptasi seseorang terhadapnya dapat menyebabkan stres yang berkepanjangan, yang berkontribusi pada penurunan rasa percaya diri. Ketidakpercayaan diri ini tidak hanya memengaruhi interaksi sosial AP, tetapi juga kemampuannya dalam meraih potensi akademik dan keterlibatan dalam kegiatan sekolah. Dampak kedua yaitu terisolir. Resiliensi yang negatif pada subjek juga berdampak pada hubungan sosialnya di mana siswa korban bullying sering merasa terasing dari lingkungan sosialnya, baik di sekolah maupun di luar. Dia cenderung menarik diri dari interaksi sosial, menghindari kegiatan kelompok, dan kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya ia nikmati. Hal ini didukung oleh Cahyanti et al . bahwa apabila resiliensi seseorang baik, maka ketika seseorang tersebut tertimpa musibah maka ia akan segera bangkit dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan, sehingga hal ini mampu menjadikan seseorang dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan sosial. Tetapi dalam kasus AP, resiliensi negatif membuatnya terjebak dalam perasaan terasing yang memperburuk isolasi sosialnya. Isolasi ini berdampak langsung pada kesejahteraan emosional AP dan menghambat pengembangan hubungan yang sehat dengan teman sebayanya. Dampak lainnya ditandai dengan menurunnya performa akademik. Siswa cenderung kehilangan motivasi untuk belajar, mengalami kesulitan dalam fokus, dan kesulitan menghadapi tugas sekolah. Hal ini tentu akan berpengaruh pada prestasi dan nilai akademik siswa. Sejalan dengan pendapat Pratiwi et al . bahwa resiliensi rendah adalah sebuah proses hasil dari adaptasi negatif saat berada dalam masa sulit yang menyebabkan remaja terpuruk dari dampak bullying seperti merasa takut dan tidak nyaman saat datang ke sekolah sehingga menyebabkan absensi siswa tinggi, tertinggal pelajaran, mengalami kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran, dan mengalami perkembangan kesehatan mental maupun fisik dalam jangka pendek maupun panjang. Dalam kasus AP, hilangnya motivasi belajar dan kemampuan untuk berkonsentrasi saat proses pembelajaran memperburuk kesulitan akademik yang ia alami. Masalah emosional juga termasuk salah satu dampak dari resiliensi yang negatif pada siswa korban 91 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 80-94 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Siswa menjadi rentan mengalami stress, kecemasan, kesedihan, dan frustrasi. Pratiwi & Yuliandri . menyatakan bahwa emosi positif sebagai faktor penting resiliensi yang dimiliki individu mampu membuat seseorang lebih positif dalam memandang setiap permasalahan dan meningkatkan rasa syukur yang mampu mengurangi stres dan emosi negatif dalam dirinya. Dalam kasus AP, minimnya emosi positif dalam dirinya memperburuk ketidakstabilan emosionalnya dan membuatnya rentan terhadap dampak psikologis lebih lanjut. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan di SMK Negeri 1 Makassar pada siswa korban bullying dengan resiliensi yang rendah, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Gambaran resiliensi yang terlihat pada subjek AP yakni ketidakmampuan mengontrol emosi, bertindak impulsif, pesimis, terlihat kurang mampu berempati, dan menghindari bantuan. Faktor yang menyebabkan resiliensi pada diri subjek AP dikategorikan ke dalam dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain faktor pemahaman diri negatif dan faktor strategi coping yang buruk. Sedangkan faktor eksternal yakni kurangnya dukungan teman sebaya. Dampak dari resiliensi yang dialami oleh subjek AP, yakni tidak percaya diri, terisolir atau mengasingkan diri, performa akademik menurun, dan masalah emosional. Saran