Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman OPTIMALISASI KECERDASAN SPIRITUAL ANAK (Studi Pemikiran Nasih AoUlwAn Dalam Kitab Tarbiyatul AulA. Rahmat Rifai Lubis Dosen STAI Sumatera Medan Jl. Sambu No. 64 Medan pailubis8@gmail. Abstrak: Everyone has the provision of spiritual intelligence that he brought from In Islam the provision is called Fitrah. Fitrah will grow in accordance with the intake he received, if the received is a positive energy then he grows coloring one's positive side of life, and vice versa. AbdullAh NAsih 'UlwAn offers some alternatives for the optimization of the spiritual intelligence of the child, including binding the child with worship, binding the child with the Qur'an, binding the child with the house of worship, binding the child to the practice of sunnat, binding the child with the nature of muraqabah to Allah Swt. The existence of spiritual intelligence is at the same pentignya with intellectual intelligence, even its presence to harmonize and optimize the work of intlektual and emotional. Kata Kunci: Optimalisasi. Kecerdasan. Spritual Pendahuluan Anak merupakan anugrah terindah yang diamanahkan Allah kepada hamba yang dikehendakinya. Anugrah ini mesti dijaga, dirawat, dan dididik dengan baik oleh kedua orang tua, mulai dari dilahirkan hingga ia dewasa. Bahkan tatkala sudah dewasa orang tua juga dianjurkan untuk tetap memberikan nasihat. Proses menjaga, merawat, dan mendidik anak pada dasarnya merupakan proses untuk membentuk kecerdasan anak. Zaman modern yang dikenal sebagai zaman yang penuh dengan tantangan dan persaingan hidup, menuntut orang tua membekali anak dengan berbagai macam kecersdasan, tak cukup hanya kecerdasan akal dan pikiran, namun juga diperlukan kecerdasan hati dan spiritual. Jika anak hanya dibekali dengan kecerdasan akal dan pikiran, ia akan merasakan kesepian, seperti orang yang tak tau arah tujuan hidup. Sebab kecerdasan akal mungkin membuat anak menjadi sukses dalam bidang pekerjaan, dan dalam bidang keuangan. Namun dalam hal ketenangan belum tentu ia dapatkan, sebab ketenangan hati tak selamanya dapat ditukar dengan kesuksesan materi. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Kecerdasan spiritual berfungsi untuk menghantarkan seseorang kepada pengenalan terhadap sang maha pencipta. Sehingga mengetahui darimana asalnya, untuk apa ia hidup, hendak kemana ia setelah hidup. Agama Islam mengajarkan fungsi manusia itu diciptakan adalah untuk mendedikasikan hidupnya hanya kepada Allah Swt. Maka dari itu proses pendidikan Islam menuntut bahwa kecerdasan utama yang harus dimiliki peserta didik ialah kecerdasan spiritual, sebab hakikatnya itulah yang menjadi tolak ukur kemuliaan seseoang dihadapan sang pencipta. Selanjutnya tulisan ini akan memaparkan cara mengoptimalisasikan kecerdasan spiritual anak menurut Nashih Ulwan, yang merupakan tokoh pendidikan anak. Namun tentu saja penjelasan akan lebih diarahkan pada kondisi kekinian, yang diharapkan dapat diterapkan oleh para orang tua dan pendidik. Biografi Singkat NAsih AoUlwAn Riwayat Hidup Dr. Nasiu AoUlwAn memiliki nama lengkap AbdullAh Nasiu AoUlwAn, beliau begitu dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam khususnya pada bidang pendidikan anak lewat bukunya yang berjudul Tarbiyah al-AulAd f al-IslAm. Ia dilahirkan pada tahun 1928 di Qodhi Askar yang teletak di kota Halab. Syiria. Kota Halab saat ini berubah nama menjadi Aleppo, yang merupakan kota kedua terbesar dunia setelah Damaskus. Ayahnya. Syeikh Said AoUlwAn adalah seorang yang dikenal di kalangan masyarakat sebagai seorang ulama dan tabib yang disegani. Said AoUlwAn dapat mengobati berbagai penyakit dengan ramuan akar kayu yang dibuat sendiri. Ketika merawat orang sakit, lidahnya senantiasa membaca Alquran dan menyebut nama Allah. Said AoUlwAn senantiasa mendoakan semoga anak turunnya lahir sebagai seorang ulama AomurabbiAo yang dapat memandu masyarakat. Lihat Abdullah Nashih AoUlwan. Tarbiyatul Aulad. Pendoman Pendidikan Anak Dalam Islam. Terj: Anwar Rasyidi, dkk, (Semarang: As-Syifa, 1. , h. dan lihat juga John Borneman. Syrian Episodes: Sons. Fathers, and An Anthropologist in Aleppo,(New Jersey: Princenton University Press, 2. , h. Ahmad Atabik dan Ahmad Burhanuddin. Konsep Nasih Ulwan Tentang Pendidikan Anak, dalam Jurnal Elementary Vol. 3 No. 2 Juli-Desember 2015. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Berbagai literatur menyebutkan bahwa Nasiu AoUlwAn hidup pada masa perpolitikan Suriah di bawah kekuasaan asing. Ulwan dikenal sebagai orang yang berpengetahuan dan suka mengkritisi kebijakan pemerintah, sehingga tak heran dari kritikan itu ia harus terpaksa keluar dari Suriah akibat diusir dan meninggalkan kota tersebut untuk menetap di Jordan. Kejadian itu terjadi pada tahun 1954, bahkan akibat kemarahan pemerintah tersebut Nasiu AoUlwAn juga harus merelakan dirinya gagal meraih gelar doktor yang sedang ditempuhnya. Riwayat Pendidikan Nasiu AoulwAn terkenal sebagai ulama yang sangaat gigih dalam menuntut Pendidikan dasarnya diselesaikan di Madrasah yang berlokasi di Halab, di madrasah ini ia banyak mempelajari ilmu-ilmu agama yang sifatnya sangat mendasar, ia tergolong kedalam anak yang berprestasi. Sejak usia 15 tahun beliau sudah bisa menghafal Alquran dan menguasai ilmu Bahasa Arab dengan baik. Beliau juga aktif dalam berorganisasi dan piawai berpidato. Pada masa itu ia juga terkenal sebagai orang yang memiliki keluhuran akhlak. Perangai yang mudah senyum, ramah, dan selalu menjaga ikatan islamiyah menjadi ciri khas yang tat Beliau juga orang yang benci pada perpecahan dan mencegah orang untuk masuk dalam berbagai aliran yang dapat menimbulkan kontra, ia juga menyeru ummat untuk satu dalam keterpaduan. Ia menyelesaikan studi di sekolah lanjutan tingkat atas jurusan ilmu syariah dan pengetahuan alam di Halab, tahun 1949. Kemudian melanjutkan di alAzhar University. Mesir, mengambil Fakultas Ushuluddin yang diselesaikan pada Tahun 1954, lulus dan menerima ijazah spesialisasi pendidikan, setaraf dengan master of arts (M. A). namun ia tidak sempat meraih doktor pada perguruan tinggi tersebut karena tahun 1954, diusir dari Mesir pada masa pemerintahan Jamal Abden Naser. Abu Muhammad Iqbal. Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. Nurhadi. Pendidikan Kedewasaan Dalam Perspektif Psikologi Islami, (Yogjakarta: Deepublish, 2. , h. AoUlwan. Tarbiyatul, h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Beberapa Karya Tulis Abdullah Nasiu AoulwAn begitu dikenal lewat bukunya yang berjudul Tarbiyah al-AulAd f al-Islam, namun selain itu beliau juga banyak mengarang kitab-kitab seputar masalah fikih, akidah, dan yang paling banyak karnyanya bekisar pada masalah dakwah dan pendidikan. Terdapat sekitar 43 karya yang ditulisnya untuk umat Islam. Secara garis besar karya-karyanya dapat dibagi dalam empat kelompok besar, yaitu: Bidang pendidikan dan pengajaran, meliputi: Tarbiyah al-AulAd f alIslAm, ukm al-IslAm f al-Tilfiziyyn. Ila Wara ati al-AnbiyAAoi, attA YaAolama al-SyabAb. Bidang fiqh dan muamalah, meliputi: Fas ail al- iyAm wa Au kAmuh. Au kAm al-Zakat. AdAb al-Khi bah wa al-Zafaf wa Huqq al-Zaujain AoAqabat al-Zawaj wa uruqu MuAoajalatiha Aoala Dawai al-IslAm, ukm alIslAm f Wasail al-Ham, al-IslAm Syariat al-ZamAn wa al-MakAn. Bidang akidah, meliputi: Syubhat wa Rudud Haula al-Aqidah wa A l alIrtsan dan Huriyah al-IAotiqAd f al-SyariAoah . Bidang umum, meliputi: al-TakAfl al-IjtimAAoi f al-IslAm, alahuddn alAyybi. Au kAm al-TaAomn. Takwn al-Syahsyiyyah al-InsAniyyah f Nazhair al-IslAm. Al-Qoumiyyah f MizAn al-IslAm. Pengertian Kecerdasan Spiritual Kecerdasan spiritual atau dalam istilah lain disebut Spiritual Quotient (SQ) merupakan istilah untuk kecerdasan yang ketiga setelah Intelligence Quotient (IQ) dan Emotional Quetiont ( EQ). Disebut kecerdasan ketiga, karena memang secara kronologis istilah kecerdasan ini muncul belakangan setelah dua kecerdasan sebelumnya. Bahkan kehadiran SQ menandingi kepopularitasan IQ dan EQ. Namun sebelum lebih jauh membahas tentang kecerdasan spiritual ada baiknya terlebih dahulu dijelaskan pengertian, baik dari segi bahasa maupun dari segi istilah. Dari segi bahasa kata kecerdasan berarti prihal cerdas, sedangkan spiritual bermakna sesuatu yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan . Nurhadi. Pendidikan, h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Sehingga secara bahasa kecerdasan spiritual dapat diartikan sebagai kecerdasan yang berkenaan dengan rohani dan batin dalam hal ini tercakup di dalamnya kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan dari segi istilah akan dipaparkan melalui beberapa pendapat para tokoh, di antaranya: Zohar dan Ian Marshall Kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Ari Ginanjar Kecerdasan spiritual sebagai pencerminan dari rukun iman yang harus diimani oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam. Hakikat manusia dapat ditemukan dalam perjumpaan dan saat berkomunikasi antara manusia dengan Allah Swt. Munif Chatib Kecerdasan spiritual adalah bagian dari kecerdasan eksistensialis, menurutnya kecerdasan ini sebagai persiapan manusia dalam menghadapi Sehingga kecerdasan ini berdimensi keilahian yang memiliki prinsip mencari eksistensi diri dalam kehidupan. Sifat kecerdasan ini Kondisi kebutuhan untuk kehidupan setelah Dendy Sugono (Pimpinan Redaks. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (Jakarta: Pusat Bahasa, 2. , h. 279 dan 1503. Danah Zohar dan Ian Marshall. SQ. Kecerdasan Spiritual, (Bandung: Mizan, 2. , h. Ary Ginanjar. ESQ (Emotional Spiritual Quotien. , (Jakarta: Arga, 2. , h. Munif Chatib. Sekolah Anak-Anak Juara Berbasis Pendidikan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan, (Bandung: Kaifa, 2. , h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Toto Tasmara Kecerdasan mendengarkan hati nuraninya baik buruk dan rasa moral dalam caranya menempatkan diri dalam pergaulan. Dari beberapa pendapat para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa mengkompromikan akal dan budinya untuk menelaah hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan, sehingga dengan kemapuannya itu dapat melalui hidup dengan penuh makna, termasuk dalam hal mengatasi problem hidup. Sejarah Kemunculan Kecerdasan Spiritual (SQ) Pada awal abad kedua puluh. IQ pernah menjadi isu besar. Kecerdasan intlektual atau rasional adalah kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Para psikolog menyusun berbagai tes untuk megukurnya, dan tes-tes ini menjadi alat memilah manusia ke dalam berbai tingkatan kecerdasan, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah IQ . ntelegence Quotien. , yang katanya dapat menunjukkan kemampuan mereka. Menurut Teori ini, semakin tinggi IQ seseorang, semain tinggi pula kecerdasannya. Namun pada pertengahan 1990-an. Daniel Goleman mempopoulerkan penelitian dari banyak neurolog dan psikolog yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional . isingkat EQ), sama pentingnya dengan kecerdasan EQ memberi kita kecerdasaran mengenai perasaan miliki diri sendiri dan juga perasaan milik orang lain. EQ memberi kita rasa empati, cinta, motivasi dan kemampua untuk menanngapi keseihan atau kegembiraan secara tepat. Sebagaimana diyatakan goleman. EQ merupakan persyaraatn atas dasar untuk menggunakan IQ secara efektif. Jika bagian-bagian otak untuk merasa telah rusak, kita tidak dapat berpikir efektif. Saat ini, pada akhir abad ke dua puluh, serangkaian data ilmiah terbaru, yang sejauh ini belum banyak dibahas, menunjukkan adanya "Q" jenis ketiga. Toto Tasmara. Kecerdasan Ruhiah (Transdental Intelegensi: Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab. Professional dan Berakhla. ,( Jakarta: Gema Insani Press, 2. , h. Zohar dan Marshall. SQ. Kecerdasan Spiritual, h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Gambaran utuh kecerdasan manusia dapat dilengkapi dengan perbincangan mengenai kecerdasan spiritual . isingkat SQ). Dalam hal ini kemunculan SQ untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan Kemunculan SQ disebutsebut sebagai kecerdasan tertinggi. Perlu diketahui saat ini kecerdasan spiritual juga menjadi trend di Indonesia. Hal ini tampak dari perubahan kurikulum yang ada. Jika pada sebelumnya (Kurikulum KTSP) kompetensi yang ditekankan itu hanyalah tiga yakni kompetensi kognitif, kompetensi afektif, dan kompetensi psikomotorik, maka pada kurikulum saat ini (K-. terdapat penambahan satu kompetensi, bahkan menjadi kompetensi yang tertinggi yakni kompetensi spiritual. Perubahan kurikulum ini terjadi karena keprihatinan mayarakat dan pemerintah atas kondisi anak-anak yang terjebak pada dekadensi moral. Memilikii pengetahuan akan tetapi minim akan sikap dan budipekerti, oleh karena itulah agar akal dan budi dapat berkembang secara efektif maka perlu untuk didukung oleh kecerdasan Menurut Zohar dan Marshall Kecerdasan spiritual dibangun atas teori God Spot . itik Tuha. yang dipelopori oleh Terence Deacon dan Viktor Frankl pada akhir 1990. God spot merupakan sekumpulan saraf yang terletak di daerah lobus temporal otak dibalik pelipis. God spot berfungsi menyadarkan akan eksistensi fundamental yang menyebabkan kita bersikap idealistis dan mencari solusi atas problem yang ada. God spot membuat kita berhasrat pada sesuatu yang lebih tinggi . , sehingga muncul rasa cinta yang mendalam, rasa damai yang mendalam, rasa kesatuan eksistensi, dan keindahan yang mendalam. Penelitian neurologi terkini tampaknya menunjukkan dengan jelas bahwa "titik tuhan" memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spritual. Penelitian Persinger dan Ramachandran, serta para neurolog dan psikolog yang telah mengkaji aktivitas "titik tuhan" dalam hubungannya dengan kegilaan dan kreativitas, menemukan korelasi antara ransangan pada lobus temporal atau Ibid. , h. Lihat lebih lanjut dalam A. Ferry T. Indratno. Menyambut Kurikulum 2013, (Jakarta: Kompas, 2. , h. Danah Zohar dan Ian Marshall. Spritual Capital. Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, (Bandung: Mizan Pustaka, 2. , h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman area limbuk dengan pengalaman "abnormal" atau "luar biasa" dalam berbagai bentuknya, akan tetapi, untuk meilai dengan pasti peran "titik tuhan" dan pengalaman-pengalaman yang ditimbulkannya, serta kegilaan dan penyakit yang sering dikaitkan, kita harus memeriksa dari dekat beberapa percobaan itu, dan juga memeriksa peran positifnya dalam pemecahan masalah, imajinasi moral, dan Jika dalam perspektif barat disebut dengan istilah god spot, maka dalam Islam ada istilah AofitrahAo. Fitrah dalam hal ini dimaksudakan sebagai potensi ataupun naluri keberagamaan yang benar, yang telah dianugrahkan Allah Swt sejak manusia berasa di alam ruh. Sebagaimana firman Allah Swt. A Ca EOAEAAEuEaA CAACEEaCOEa CA A aECaE ACACAoa ACsAEuAE eOAUCa Ca aCsEEuEaE A AAoECUEaAoAA EOeaAuAAEaA aEa EAaEaAuaE aEAOAAEEACE CA EECACAoa AACaoEa CEIEIACa EAaEsACOAAEa EoeaAua CoCAEaACACU Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah. etaplah ata. fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itula. agama yang lurus. tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q. Ar-Rum . : . Karena potensi inilah, ketika manusia merasa bahwa problem tak lagi dapat diselesaikan dengan modal intlektual, maka secara alami akan mengantarkan manusia untuk mengadu pada potensi yang keberagamaan yang Maka sepatutnyalah potensi yang dimilki oleh manusia itu harus dipertajam, sehingga eksistensi dari fitrah tetap terjada pada diri manusia hingga akhir hayatnya. Naluri atau potensi fitrah ini akan berkembang mana kala di asah dengan pendidikan dan berada pada lingkungan yang baik pula. Tahapan perkembangan tersebut akan menghantarkan manusia pada satu tingkatan, yang disebut dengan fitrah yang suci. Tingkatan Fitrah suci itulah yang disebut dengan kesempurnaan dalam kecerdasan spiritual. Peran Kecerdasan Spiritual Terhadap Kecerdasan Lainnya Seperti yang telah disinggung pada pembahasan sebelumya, bahwa adanya kecerdasan spiritual sebagai penopang efektivitas untuk kerja kecerdasan Zohar dan Marshall. SQ. Kecerdasan Spiritual, h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman intlektual dan kecerdasan emosional. Dengan kata lain Spiritual Quotient (SQ) berfungi untuk memfungsikan Intelligence Quotient (IQ) Emotional Quotient (EQ). Bahkan kecerdasan spiritual atau SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. Seseorang yang cerdas dalam inlektual mungkin akan mampu mengatasi problem kehidupan dengan pikirannya, namun keberhasilan pikiran belum tentu dapat membuat hati seseoarang menjadi tenang. Oleh karenanya tak salah jika banyak orang yang mengatakan bahwa ketenangan hidup itu terletak pada hati. Ketenangan hati akan didapatkan mana kala seseorang memiki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Namun perlu juga diketahui, kecersdasan spiritual tidaklah dapar berjalan dengan sendiri, untuk dapat menyelami nilai-nilai keruhanian dan kebatinan, tidaklah dapat dengan pikiran kosong. artinya kecerdasan ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses pembelajaran akal juga. Seseorang yang mengenal Tuhan tanpa ilmu, dipastikan akan salah dalam mengenali. Untuk lebih mendekatkan pada pemahaman, maka di bawah ini akan ditampilkan gambar tentang dimensi kecerdasan manusia: Dimensi Fisik (Bod. Dimensi emosional (Min. insan kamil Dimensi spiritual . Gambar 1. Dimensi manusia17 Kriteria Seseorang Memiliki Kecerdasan Spiritual dan Cara Peningkatannya Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual secara umum ditandai dengan keharmonisan hidupnya. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual bukan berarti manusia yang tidak punya problem hidup, karena setiap orang pasti Yahya Jaya. Spiritual Islama, (Jakarta: Ruhama, 1. , h. 27 dan lihat juga Ginanjar. ESQ (Emotional Spiritual Quotien. , h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman memiliki hal itu, hanya saja ia tidak merasa masalah tersebut menjadi beban dalam hidupnya. Secara spesifik mereka yang memiliki kecerdasan spiritual memiliki beberapa indikator, dia antaranya sebagai berikut: A Kemampuan bersikap fleksibel . daftif secara spontan dan akti. A Tingkat kesadaran diri yang tinggi A Kemampuan untuk menghadapi dan manfaatkan penderitaan A Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit A Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai A Kengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu A Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara hal . erpandangan "holistik") A Kecenderungan nyata untuk bertanya "mengapa?" atau "bagaimana Jika?" untuk mecari jawaban-jawaban yang mendasar A Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai "bidang-bidang mandiri", yaitu Memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi. Seseorang yang tinggi SQ-nya juga cenderung menjadi seseorang pemimpin yang penuh pengabdian yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi kepada orang lain dan memberikan petunjuk penggunaanya. Dengan perkataan lain, seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain. Adapun cara untuk meningkatkan kecerdasan spiritual adalah dengan lebih menghayati agama yang dianutnya. Sebab banyak orang beragama namun tidak mengerti dengan ajaran agamanya, sehingga agama hanya sebagai simbolis saja. Implementasi terhadap ajaran ajaran agama akan menimbulkan rasa kecintaan terhadap sang pencipta sehingga akn mudah untuk menselaraskan pikiran, hati, dan agama. Pendidikan Spiritual Menurut Nasiu AoUlwAn Dalam agama Islam anak dipersiapkan tumbuh kembangnya agar kelak dewasa dapat menjadi penyejuk hati, menjadi anggota masyarakat yang saleh, dan yang terpenting bermanfaat bagi tubuh umat Islam yang satu. Untuk itu menurut Zohar dan Marshall. SQ. Kecerdasan Spiritual, h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Nasiu AoUlwAn anak harus dibekali dengan pengetahuan, ditanamkan budi pekerti, dan diasah kekuatan spritualnya. Menurutnya pendidikan spiritual merupakan proses memperhatikan anak dari segi muraqabah-nya kepada Allah Swt. Yakni dengan menjadikan anak merasa bahwa Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraanya, melihat setiap gerak-geriknya, mengetahui apa pun yang dirahasiakan dan dibisikkan. Jika hal ini terjadi maka anak pun akan mempunyai perasaan bahwa Allah mengetahui apa yang terjadi di langit dan dibumi. Hal ini yang jarang sekali dimiliki oleh anak-anak di zaman modern, anakanak pada zaman ini lebih ter-asah intlektualitasnya ketimbang spiritualnya. Sehingga kerap kali anak-anak minim kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib, termasuk akan keberadaan sang maha pencipta. Kecerdasan spiritual pada diri seorang anak merupakan sesuatu hal yang harus ada, sebab fitrah memang harus dibentuk sejak dini. Fitrah akan semakin mengarah kepada kesucian mana kala ia berada pada lingkungan yang Islami. Kesucian fitrah ini menghantarkan seseorang berbeda dengan yang lainnya, dan tingkat kesucian ini jugalah yang menghantarkan perbedaan kecerdasan spiritual Selain Muraqabah kecerdasan spiritual juga berarti kemampuan seseorang dalam khusyuAo, takwa, dan Aoubudiyah kepada Allah Tuhan semesta alam. Yakni dengan membuka penglihatan anak terhadap keangungan Allah Secara universal, masalah kecil ataupun besar, benda mati atau hidup, tumbuhan dan hewan dan sebagainya adalah jutaan ciptaan Allah yang menabjubkan. Karenanya, hati akan menghadapi semua ini dengan khusyuAo terhadap peagungan Allah. Jiwa manusia berupaya menghadapi semua ini dengan perasaan takwa kepada Allah dan beribadah kepada-nya. Bahkan pada waktu itu ia mendapatkan kenikmatan, taat, kelezatan ibadah kepada Allah Tuhan semesta alam. Mujahadah juga termasuk bagian dari kecerdasan spiritual, maksudnya bermujahadah dalam hal psikologi, ruhani, dan dakwah. Yang dimaksud dengan bermujahadah dalam hal psikologi di sini ialah berjihad dalam melawan hawa nafsu syaitan. Musuh terberat di kehidupan manusia ialah syaitan, oleh karenanya Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual tidak akan terjerumus dengan bujuk rayu syaitan, hal ini terlihat dari praktik kehidupannya, yang menjauhkan diri dari nafsu yang tak bermanfat. Sedangkan yang dimaksud dengan mujahadah ruhani ialah kesungguhan dalam mensucikan jiwa, sehingga dipenuhi dengan cahaya ilahi. Sejak dini lisan dan hati harus selalu dihiasi dengan keindahan Alquran. Ruhani akan kaku bila diisi dengan siraman-siraman syair dan lagu-lagu hedonis dan vulgar. Hati yang kaku tentu tidak akan dapat mengharmoniskan pikiran dan budi, begitu juga Kecerdasan spiritual juga menghendaki adanya mujahadah dakwah, maksudnya kemampuan menggunakan akal dan budinya untuk menarik orang masuk kedalam agama yang mulia ini. Menyebarkan amar maAoruf dan nahi mungkar menjadi ciri khas dalam mujahadah daAowah. Metode Peningkatan Kecerdasan Spiritual Anak menurut Nasiu AoUlwAn Terdapat beberapa metode yang dapat menjadi alternatif khususnya bagi orang tua dalam hal peningkatan kecerdasan spiritual anak, yakni: Mengikat anak dengan Ibadah Banyak orang tua beranggapan bahwa beribadah kepada Allah Swt merupakan kewajiban bagi setiap Mukkalaf. Pada dasarnya anggapan ini memang tidaklah salah, namun walaupun anak-anak tidak dijatuhi hukum kewajiban tersebut, sejak dini mereka perlu dikenalkan dan dibiasakan dalam kegiatankegiatan ibadah, seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya. Sehingga kelak dewasa ia sudah tidak asing lagi dengan kegiatan tersebut. Dalam hal pembiasaan ibadah Rasulullah Saw. memberikan penegasan kepada para orang tua dalam sebuah sabdanya: Dari 'Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata. Rasulullah Saw. bersabda: "Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat pada sa'at Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 . arena Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman meninggalkanny. pada saat berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka. " (H. Ahma. Menurut Nasiu AoUlwAn ketika anak terikat dengan ibadah, membiasakan diri mengerjakannya, taat kepada kepada-Nya, senantiasa berjalan pada jalan-Nya, ketika itu sang anak akan menjadi manusia yang berimbang, kurus, bekerja dengan tulus, menunaikan hak setiap pemilik dalam hidup, memberikan teladan yang baik kepada orang-orang, baik dalam tingkah laku dan pergaulannya. Menurut Abdul MaAoathi membiasakan anak dalam ibadah termasuk usaha untuk tidak mensia-siakan waktu masa kanak-kanak berlalu begitu saja. Setiap waktu yang telah diberikan kepada Allah sebaiknya digunakan untuk memberikan petunjuk kepada mereka tentang keberadaan Allah Swt. Anak yang sehari-hari waktunya diisi dengan berbagai macam kegiatan ibadah akan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Dari sini akan tercipta mindset hidup Rabbani , artinya pola pikir kehidupan semua diserahkan untuk Allah Swt. Mengikat Anak dengan Alquran al-Karim Ibnu Khaldun dalam muqaddimah-nya mengisyaratkan akan pentingnya mengajarkan Alquran kepada anak-anak, dan menghafalkannya. Ia pun mejelaskan bahwa pengajaran Alquran adalah dasar pengajaran dalam semua kurikulum sekolah di berbagai Negara Islam. Sebab ia merupakan semboyan agama yang mengokohkan akidah dan menegakkan iman. Sedangkan Al-Ghazali mengemukakan bahwa seorang anak hatinya bersih seperti permata yang berharga, kosong dari ukiran dan gambar, dan dia akan menerima dari apa yang Di sinilah peran orang tua untuk mengukir permata tersebut dengan tulisan-tulisan Alquran sehingga tatkala ia tumbuh dewasa akan condong pada akhlak yang tertuang dalam Alqura al-Karim. Alquran berperan dalam perluasan pengajaran dan pendidikan untuk umat Islam, seperti tuntutan untuk berakhlak mulia, dan memberikan batasan kepada seseorang untuk tidak selalu bergantung kepada orang lain walaupun dia sendiri AoUlwan. Tarbiyatul Aulad, h. Musthafa Abdul MaAoathi. Membimbing Anak Gemar Shalat, (Solo: Insan Kamil, 2. Ab amid Muu ammad Ibn Muu ammad al-Ghazal. IhyAAo Ulm al-Dn. Jilid i, (Beirut: dar al-Kutub Ilmiyah, t. , h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman sagat membutuhkan, dan Alquran juga menempatkan posisi wanita untuk mendapatkan hak-hak dan kewajibanya, dan mengajak untuk selalu menimba ilmu pengetahuan sampai Alquran menjadi sumber pendidikan dan pengajaran pertama dalam dunia Islam, dan pada saat yang bersamaan umat Islam juga berbeda metode dalam mengajarkan Alquran untuk anak-anak mereka. Menurut Nasiu AoUlwAn hendaknya orang tua mengetahui, bahwa akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali ddengan apa yang menjadikan umat pertama baik. Baiknya umat pertama adalah karena Alquran dibaca, dan Kemuliaanya dengan islam tercermin dala pikiran dan perbuatan. Karenanya, umat yang datang kemudian tidak akan sampai pada derajat kebaikan dan kemuliaan, kecuali jika bisa mengikat anak-anak dengan lquran yang dibaca, dihafal, ditafsir dan diphami sebagai satu-satunya pedoman dalam kehidupan. Jika demikian maka kita telah membentuk generasi qurani. Dengan tumbuhnya generasinya maka berdirilah daulah islamiyah, sehingga kejayaan dan kebesasaran umat ini muncul kembali. Mengikat Anak dengan Rumah-rumah Allah Masjid bukan sekedar tempat melaksanakan dzikir dan ibadah kepada Allah Swt. tetapi masjid juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Di tempat ini para anak menimba berbagai macam ilmu di antaranya Aqidah. Alquran, hadis. Pola penerimaan ilmunya pun beragam, ada yang langsung mendengarkan tausiah para guru, ada juga yang melalui kajian diskusi. Kita harus menyadari bahwa rasul membangun islam di madinah di mulai dari pendirian masjid, sehingga masjid memiliki fungsi yang sangat luas sekali tatkala itu, dan wajar kalau masjid disebut sebagai central of civilization . usat Masjid juga dijadikan sebagai tolak ukur peradaban suatu umat, tatkala masjid masih terpelihara dengan baik . angunan dan fungsiny. maka kualitas peradaban umat juga masih terpelihara, namun tatkala masjid taklagi dikunjungi dan diperhatikan, maka menurunlah kualitas peradaban umat di sekitaran masjid tersebut. Perlu untuk diketahui bahwa tanggung jawab pemeliharaan masjid bukanlah kepada orang tua saja, terlebih anak muda sangat Umar Ris a Kahhalah. DirAsAt IjtimAAoiyah f al-AoU ur al-IslAm, (Dimasyq. MuthabaAoah at-TaAoauniyah, 1. AoUlwan. Tarbiyatul Aulad, h. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan sekaligus pemakmuran masjid Ada beberapa alasan mengapa anak yang terikat hatinya di masjid disebut memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, di antaranya: Anak yang terikat hatinya di masjid akan selalu cenderung dan istiqamah dalam menjaga kedekatannya kepada Allah swt. Anak yang terikat hatinya di masjid akan selalu cenderung untuk bergaul dengan orang-orang yang shalih Anak yang terikat hatinya di masjid akan selalu mendapatkan ketentraman hati. Anak yang terikat hatinya di masjid maka akan terdidik untuk menjadi orang selalu menjaga kebersihan, kerapian, dan kedisiplinan Orang tua perlu menaruh kecurigaan yang besar terhadap anak-anak mereka, tentang frekuensi kehadiran mereka pada tempat-tempat hiburan dan seperti warung internet, kafe, dan lain sebagainya. Sebab jika anakanak lebih menghabiskan waktu di tempat-tempat tersebut maka perkembangan intlektual dan spritualnya akan condong kepada hal-hal yang negatif. Mengikat anak dengan dzikir kepada Allah Dzikir yang dilakukan anak dalam hal ini janganlah dipahami layaknya dzikir kaum dewasa atau kaum sufi. Namun dzikir di sini bermakna AomengingatAo, baik dengan lapadz, hati, maupun perbuatan. Terkait dengan lapadz, sebaiknya orang tua perlu untuk mengajarkan lapadz-lapadz doa dan kalimat Thayyibah, kalimat ini akan membiasakan lisan untuk terus basah selalu menyebut asmanya dalam kehidupan sehari-hari. Mengikat anak untuk berdzikir kepada Allah juga berfungsi untuk meminimalisasi ucapan-ucapan buruk, kurang sopan, atau pun ucapan yang dapat menimbulkan propaganda. Sebab saat ini hampir seluruh sekolah mengeluhkan tentang buruknya akhlak anak terutama dari tutur katanya yang kurang baik. Sebenarnya dzikir bukanlah kegiatan lisan semata, namun turut juga mengikutsertakan akal pikiran, hati, jiwa dan juga perbuatan. Oleh karena itu seseorang yang berzikir harus mampu menselaraskan pikiran, hati, jiwa, lisan. Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Jika tidak maka dzikirnya kepada Allah akan hampa, kosong tanpa Mengikat Anak Dengan Amalan-Amalan Sunnat Amalan sunnat itu ialah ibadah tambahan selain yang fhardu, seperti shalat, dan puasa. dalam kehidupan sehari-hari agak sulit kiranya menemukan anak yang gemar melakukan amalan-amalan sunnat. Contoh seperti shalat sunnah dhuha, puasa senin dan kamis,dan sebagainya. Sebab status amalannya yang masih tergolong kedalam sunnat. Melaksanakan amalan sunnat akan menjadikan seseorang memiliki keperibadian ruhani yang sangat baik. Tidak hanya di hadapan Allah, tetapi juga di hadapan manusia. Anak yang telah melaksanakan amalan-amalan sunnat karena Allah Swt semata, pasti memilki tingkat kecerdasan sritual yang lebih tinggi, sebab dilaksanakannya amalan sunnat itu, bermaksud untuk lebih dekat lagi dengan Allah Swt. Mengikat anak dengan rasa muraqabah Muraqbah berarti merasa selalu di awasi oleh sang maha pencipta. Puncak dari ikatan yang telah disebutkan di atas adalah muraqabah. Anak yang telah terbiasa sadar di awasi oleh Allah dalam kehidupannya, maka sesungguhnya memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi terutama dalam self control. Jika self control tak ada pada diri seseorang maka ia akan kehilangan arah dan mudah untuk digoyahkan. Teori barat menganggap bahwa self kontrol di dapat melalui proses rekayasa psikologi. Namun dalam Islam seseorang mendapatkan self control tersebut melalui kedekatannya kepada Allah Swt. Anak yang bermuraqabah patsi akan selalu berlaku jujur, dan tidak akan mengambil barang oran lain, sebab merasa selalu di awasi oleh Allah Swt. Penutup Perlu diketahui bahwa pembekalan anak dalam hal kecerdasan spiritual tidaklah cukup dilakukan di lingkungan sekolah saja, sebab jumlah jam untuk mata pelajaran agama tidaklah banyak. Oleh karena itu, orang tua sebagai madrasatul ula . embaga pendidikan pertam. harus menjadi kunci keberhasilan spiritual anak. Tumbuh kembang spiritualnya sangat berbanding dengan Vol. N0. 1 Januari Ae Juni 2018 Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman spiritualitas orang tua. Jika orang tua jauh dari agama maka anak juga akan jauh dari agama, sebaliknya jika orang tua dekat dengan agama maka anak juga akan Pendidikan keteladanan menjadi kunci sukses dalam optimalisasi kecerdasan spiritual anak ini. Sebab kecerdasan spiritual tidah hanya menuntut keberhasilan dari segi pemahaman saja, melainkan yang terpenting adalah dari segi pengamalan. Pemahaman tanpa pengamalan bagai orang yang sombong, sedang pengamalan tanpa pemahaman bagai orang yang bodoh. Daftar Pustaka