Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 ANALISIS PERSEPSI KELOMPOK WANITA TANI TERHADAP PROGRAM PEKARANGAN PANGAN LESTARI (P2L) DI KECAMATAN SELAPARANG, KOTA MATARAM ANALYSIS OF THE PERCEPTIONS OF WOMEN FARMERS GROUP MEMBERS TOWARD THE PEKARANGAN PANGAN LESTARI PROGRAM (P2L) IN SELAPARANG DISTRICT. MATARAM CITY Afida Sylvana Abbas1. Ni Made Wirastika Sari2. Baiq Yulfia Elsadewi Yanuartati3 123 Universitas Mataram 1 wirastikasari@unram. id, 2 Afidasylvana@gmail. com, 3 yulfiae@unram. Masuk: 28 Desember 2025 Penerimaan: 29 Desember 2025 Publikasi: 30 Desember 2025 ABSTRAK Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Kota Mataram, menghadapi keterbatasan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi fasilitas umum dan permukiman. Kondisi ini mendorong pemerintah mengembangkan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan rumah tangga secara Program P2L dilaksanakan melalui kerja sama kelompok masyarakat, termasuk kelompok wanita tani, dan telah diterapkan di Kecamatan Selaparang. Kota Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi wanita tani terhadap Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya di Kecamatan Selaparang. Kota Mataram. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Selaparang. Responden penelitian terdiri atas 30 orang anggota dari lima kelompok wanita tani pelaksana program P2L, dengan masing-masing kelompok diwakili oleh enam responden. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi wanita tani terhadap Program P2L tergolong dalam kategori baik, berdasarkan lima aspek penilaian, yaitu keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, ketercobaan, dan Adapun kendala utama dalam pelaksanaan program meliputi serangan hama dan penyakit tanaman, cuaca yang tidak menentu, gangguan hewan ternak, serta kurangnya monitoring dari penyuluh pendamping program P2L. Kata kunci: Kendala,Pekarangan_Pangan_Lestari. Persepsi. Wanita Tani. ABSTRACT West Nusa Tenggara (NTB) Province, particularly Mataram City, faces limited agricultural land due to the conversion of agricultural areas into public facilities and residential settlements. This condition has encouraged the government to develop the Sustainable Food Garden Program (Pekarangan Pangan Lestari/P2L) as an effort to optimize the use of household yards in supporting sustainable household food security. The P2L program is implemented through collaboration among community groups, including women farmers groups, and has been applied in Selaparang District. Mataram City. This study aims to examine the perceptions of women farmers toward the Sustainable Food Garden Program (P2L) and to identify the constraints encountered in its implementation in Selaparang District. Mataram City. The research method employed is descriptive analysis, with the study conducted in Selaparang District. The respondents consisted of 30 members from five women farmers groups implementing the P2L program, with each group represented by six respondents. Data were collected through interviews using questionnaires and analyzed descriptively. The results indicate that the perceptions of women farmers toward the P2L program fall into the good category, based on five assessment aspects: relative advantage, compatibility, complexity, trialability, and observability. The main constraints in program implementation include pest and plant disease attacks, unpredictable weather conditions, disturbances from livestock, and insufficient monitoring by P2L program extension facilitators. Keywords: Constraints. Perceptions. Sustainable Food Gardens. Women Farmers. Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 PENDAHULUAN Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) adalah kegiatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang bekerja sama untuk mengusahakan lahan pekarangan sebagai sumber penghasil pangan secara berkelanjutan. Kegiatan P2L dilaksanakan untuk mendukung program pemerintah dalam menangani daerah prioritas intervensi stunting, daerah rentan rawan pangan atau pemantapan daerah tahan pangan. Kegiatan P2L ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan seperti pekarangan, lahan tidur, dan lahan kosong yang tidak produktif (BKP, 2. Menurut Nuryana dkk. , program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) merupakan upaya yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan, aksebilitas, dan pemanfaatan pangan bagi rumah tangga sesuai dengan kebutuhan pangan yang beragam, bergizi seimbang, aman, dan berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Untuk mencapai upaya tersebut kegiatan P2L dilakukan melalui beberapa pendekatan yakni pendekatan pengembangan pertanian berkelanjutan . ustainable agricultur. , pemanfaatan sumberdaya lokal . ocal wisdo. , pemberdayaan masyarakat . ommunity engangemen. , dan berorientasi pasar . o to marke. Penyebaran pelaksanaan program P2L di Indonesia sudah sangat luas, dan hampir semua provinsi telah menerapkan program ini demi meningkatkan ketahanan pangan melalui pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga. Salah satunya adalah di Kota Mataram (Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, 2. Kecamatan Selaparang merupakan satu dari 6 Kecamatan di Kota Mataram yang sudah melaksanakan kegiatan P2L. Di Kecamatan Selaparang, program P2L telah diterapkan dengan berfokus pada Kelompok Wanita Tani (KWT). Melalui penerapan program P2L diharapkan dapat membuka peluang bagi anggota kelompok untuk mengembangkan lahan pekarangan mereka sebagai sumber untuk menghasilkan pangan yang berkelanjutan. Menurut Ayakeding . , persepsi yang positif tentu dapat memotivasi anggota kelompok untuk lebih aktif, dan berkomitmen dalam mengelola pekarangan pangan mereka sehingga program dapat berjalan dengan baik dan dapat dilaksanakan secara terus menerus dan Namun sebaliknya, persepsi yang negatif akan dapat menghambat keberhasilan dari program P2L ini. Persepsi anggota Kelompok Wanita Tani terhadap program P2L di Kecamatan Selaparang dapat menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program P2L ini. Oleh karena itu, penelitian mengenai persepsi anggota Kelompok Wanita Tani terhadap Program P2L menjadi penting. Sehingga dengan demikian. Peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul AuPersepsi Anggota Kelompok Wanita Tani Terhadap Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan SelaparangAy. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persepsi kelompok wanita tani terhadap program pekarangan pangan lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang. Kota Mataram dan mengetahui kendala yang dihadapi oleh wanita tani dalam melaksanakan program P2L. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian untuk membuat deskripsi, gambaran maupun lukisan yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi atau gejala pada saat penelitian dilakukan (Abdullah, 2. Unit analisis dalam penelitian ini adalah anggota kelompok Wanita Tani yang telah mengimplementasikan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Penentuan daerah penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling . yakni dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Selaparang merupakan salah satu kecamatan yang menjadi sasaran kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Wilayah Kecamatan Selaparang secara administratif terdiri dari 9 Kelurahan. Selanjutnya dari 9 Kelurahan di Kecamatan Selaparang diambil 5 Kelurahan yang ditetapkan secara random sampling . , yaitu kelurahan Dasan Agung. Dasan Agung Baru. Karang Baru. Monjok, dan Monjok Barat. Responden dalam penelitian ini adalah para pengurus dan anggota KWT yang telah mendapatkan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dari Dinas Pertanian Kota Mataram melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Selaparang. Jumlah Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Selaparang pelaksana program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) adalah 9 Kelompok. Kemudian, dari 9 KWT dipilih 5 KWT dengan menggunakan metode random sampling . yakni KWT Aneka. KWT Melati. KWT Kaderasa. KWT Monjok Lestari, dan KWT Galih Karya. Oleh karena itu, responden dalam penelitian ini adalah wanita tani atau anggota yang terlibat dalam 5 . KWT tersebut. Tiap kelompok ditentukan secara quota sampling, yaitu diambil masing-masing 6 . responden pada tiap kelompok. Dari tiap kelompok diambil masing-masing 3 . orang pengurus yaitu Ketua Kelompok. Sekretaris dan Bendahara secara Purposive Sampling dengan mempertimbangan kedudukan dalam kelompok Kemudian 3 . orang responden dipilih secara random dari daftar anggota kelompok sampai jumlah tertentu yakni 3 . orang anggota kelompok. Oleh karena itu, total jumlah responden adalah sebanyak 30 orang. Pengukuran persepsi Wanita Tani dilihat berdasarkan 5 aspek yaitu keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, ketercobaan dan keteramatan program Pekarangan Pangan Lestari dengan 22 pertanyaan yaitu sebagai beikut: Keuntungan relatif . Indikator yang dianalisis untuk menentukan persepsi Wanita Tani terhadap Program P2L jika dilihat dari indikator keuntungan relatif program dengan masing-masing pertanyaan memiliki skor 1 sampai 3 yang mana diukur berdasarkan: Menguntungkan secara ekonomi . Sebagai tambahan pangan keluarga sehingga pangan keluarga terpenuhi . Pemanfaatan pekarangan secara maksimal . Meningkatkan pengetahuan perawatan tanaman untuk dibudidayakan . Meningkatkan pengetahuan dalam mengolah limbah rumah tangga untuk dijadikan sebagai pupuk kompos . Kesesuaian . Indikator yang dianalisis untuk menentukan persepsi Wanita Tani terhadap Program P2L dengan masing-masing pertanyaan memiliki skor 1 sampai 3 yang mana diukur tingkat kesesuaian program didasarkan pada: Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 Keadaan lingkungan . Kebutuhan . Kemampuan finansial . Kerumitan . Indikator yang dianalisis untuk menentukan persepsi Wanita Tani terhadap Program P2L dengan masing-masing pertanyaan memiliki skor 1 sampai 3 yang mana diukur tingkat kerumitan program terhadap implementasi program: Persiapan kegiatan P2L . Persiapan lahan . Pembibitan . Persiapan alat dan lahan . Pelaksanaan kegiatan P2L . Penanaman . Perawatan . Panen . Pasca panen . Kegiatan pendukung P2L . Pembukuan . Penyuluhan . Pertemuan kelompok . Dapat dicoba . Indikator yang dianalisis untuk menentukan persepsi Wanita Tani terhadap Program P2L dengan masing-masing pertanyaan memiliki skor 1 sampai 3 yang mana diukur berdasarkan tingkat uji coba program terhadap: Menerapkan kegiatan teknik baru . dalam bercocok tanam seperti sistem Aquaponic . Menerapkan pembuatan dan penggunaan pupuk kompos . Dapat diamati . Indikator yang dianalisis untuk menentukan persepsi Wanita Tani terhadap Program P2L dengan masing-masing pertanyaan memiliki skor 1 sampai 3 diukur berdasarkan tingkat program untuk dapat diamati: Hasil dan kondisi tanaman dapat diamati oleh Wanita Tani . Kegiatan P2L dapat dicontoh oleh orang lain . Cara pemberian Skor Persepsi Bobot ini diletakkan dalam tanda kurung setelah masing-masing aspek . dan masing-masing kriteria . agian dari bobot total untuk kriteri. Bobot ini diberikan berdasarkan Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 perkiraan kualitatif yang menguji kriteria dan indikator serta metode di lapangan. Bobot pada penelitian ini tidak memperlakukan sebagai nilai mutlak. Pemberian nilai berupa angka pada jawaban pertanyaan untuk memperoleh data Dalam penelitian ini urutan pemberian skor berdasarkan tingkatan jawaban yang diterima dari responden yaitu : Untuk jawaban baik mendapat skor 3 Untuk jawaban cukup baik mendapat skor 2 Untuk jawaban tidak baik mendapat skor 1 Dalam penelitian ini urutan pemberian skor yaitu pengelompokan atas jawaban-jawaban yang teratur dan teliti kemudian dihitung dan dijumlahkan dan disajikan dalam bentuk tabel. Berdasarkan tabel tersebut setelah diolah diperoleh hasil tentang persepsi Wanita tani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Identifikasi kendala dalam pelaksanaan Program P2L dilakukan dengan menyiapkan daftar kendala-kendala yang kemungkinan dihadapi oleh responden dalam pelaksanaan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang. Kendala-kendala yang dihadapi petani seperti: kendala hama dan penyakit tanaman, cuaca yang tidak menentu, hewan ternak dan kurangnya monitoring dari penyuluh pendamping program P2L. Responden dapat memilih satu atau lebih kendala dengan ketentuan keempat aspek tersebut bisa berkurang ataupun bertambah tergantung dari permasalahan yang diungkapkan petani pada saat wawancara. Analisis data yang digunakan untuk menganalisis persepsi wanita tani petani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif. Untuk mengetahui persepsi wanita tani petani terhadap program P2L dilakukan dengan mengelompokkan skor parsial . kor tiap Ae tiap ite. menjadi skor gabungan dengan berdasarkan kelipatan jumlah item tiap-tiap sub indikator/kategori serta jumlah responden. Berdasarkan pendekatan diatas maka pada penelitian ini diketahui jumlah keseluruhan item pertanyaan adalah sebanyak 22. Selanjutnya masing-masing skor digunakan untuk menentukan kategori yang ditentukan yaitu: persepsi baik, cukup baik, dan tidak baik. Masing-masing kategori ditentukan berdasarkan skor dasar yaitu: Tidak baik = 1 . Cukup baik = 2 . Baik = 3 Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam penelitian, maka data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan skoring yaitu interval skor dan model analisis data (Kategorika. untuk pernyataan yang akan diajukan. Analisis kategorikal dilakukan dengan cara menentukan skor maksimum dan skor minimum dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Interval Skor = (Skor Maksimum-Skor Minimu. /(Jumlah Kategor. = (. 9 30 6 . 3 10 2 . )/3 = 14,67 Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 = 15 Tabel 1. Skala Tingkat Persepsi Wanita Tani terhadap Program P2L Nilai Tingkat Persepsi Tidak Baik Cukup Baik Baik HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, luas lahan pekarangan dan pengalaman dalam melaksanakan program P2L. Adapun uraian karakteristik responden dapat dilihat sebagai berikut. Umur Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar atau sebanyak 29 orang atau 96,67 % responden berada pada kisaran umur 15-64 tahun yang mana berada pada usia produktif. Untuk lebih jelasnya kisaran umur responden dapat dilihat pada Tabel 4. 6 berikut: Tabel 2. Kisaran Umur Responden Anggota Kelompok Wanita Tani di Kecamatan Selaparang Tahun 2024. Kisaran Umur (Tahu. >64 Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2024 No. Jumlah Responden Orang Persentase (%) 96,67 3,33 Tabel 2. menunjukkan bahwa terdapat 96,67% berada pada kisaran umur 15-64 tahun yakni sebanyak 29 orang atau berada pada usia produktif dan sisanya yakni 1 orang yang berada pada kisaran umur diatas 64 tahun atau 3,33%. Hal ini sesuai dengan pendapat Mantra dalam Septa . yang menyatakan bahwa seseorang dikatakan mempunyai umur produktif pada golongan usia 15-64 tahun. Umur produktif merupakan usia seseorang yang secara fisik dan mental sudah mempunyai kemampuan untuk melakukan praktik pertanian. Hal ini sesuai dengan pendapat Imtihana . dan Septa . , pada umur produktif seseorang akan mempunyai kemampuan yang matang dalam menerima pengetahuan-pengetahuan serta mempengaruhi wanita tani pada tingkat adopsi inovasi dan partisipasi pada suatu program. Maka dapat dikatakan bahwa usia produktif memiliki hubungan yang linier dengan kecepatan adopsi teknologi yang diberikan. Jika seseorang berada pada rentang usia produktif, maka akan semakin cepat juga kecepatan adopsi teknologi yang diberikan. Oleh karena itu, umur produktif pada akhirnya juga akan mempengaruhi persepsi baik dalam pelaksanaan program Pekarangan Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 Pangan Lestari (P2L), sebab wanita tani sudah memiliki kemampuan yang baik dalam menerima pengetahuan dan inovasi baru sehingga mampu berperan aktif dalam mengimplementasikan praktik-praktik pertanian yang memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Tingkat Pendidikan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat Pendidikan responden beragam mulai dari lulusan SMP hingga Perguruan Tinggi. Untuk lebih jelasnya tingkat pendidikan responden anggota kelompok Wanita tani di Kecamatan Selaparang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kisaran Tingkat Pendidikan Responden Anggota Kelompok Wanita Tani di Kecamatan Selaparang Tahun 2024. No. Tingkat Pendidikan TSD TSLTP TSLTA Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Jumlah Responden Orang Persen (%) 23,33 56,67 Mengacu pada Soekartawi dalam Sukma . , yang membagi tingkat pendidikan menjadi 3 . golongan, apabila responden lulusan SD kebawah maka pendidikannya rendah, apabila responden lulusan SLTP-SLTA tergolong tingkat sedang, sedangkan bila responden lulusan diatas SLTA tergolong tingkat pendidikannya tinggi. Pada Tabel 4. 7 menunjukkan bahwa tidak ada responden yang berada pada tingkat pendidikan rendah, sebagian besar responden yakni sebesar 80% atau sebanyak 24 orang responden berada pada tingkat pendidikan sedang dan 20% atau sebanyak 6 orang responden berada pada tingkat pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan wanita tani yang baik akan mempengaruhi pola pikir yang baik dalam rangka menerapkan proses adopsi inovasi seperti program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Mardikanto dalam Sukma . , mengatakan bahwa kemampuan berfikir yang baik dan kritis dapat berperan dalam kecepatan melakukan adopsi inovasi. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Sutiknjo . , bahwa faktor sosial seperti tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap persepsi, sikap dan tingkat partisipasi anggota kelompok tani pada suatu program Jenis Pekerjaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar responden memiliki pekerjaan utama sebagai ibu rumah tangga yakni sebanyak 23 responden . ,67%). Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 Tabel 4. Sebaran Responden Berdasarkan Pekerjaan Utama di Kecamatan Selaparang Tahun No. Jenis Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Guru Wiraswasta Pegawai Swasta Penjahit Staff Kelurahan Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Pekerjaan Utama Orang Persen (%) 76,67 6,67 6,67 3,33 3,33 3,33 Berdasarkan Tabel 4. menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan utama responden adalah sebagai ibu rumah tangga yakni sebanyak 23 responden . ,67%). Sasaran utama dalam program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) adalah wanita yang memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab atas kebutuhan pangan keluarga. Selain itu, wanita tani juga berperan aktif dalam mengelola pekarangan untuk memproduksi berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, dan buah-buahan, sehingga mendukung ketahanan pangan keluarga secara Hal ini sesuai dengan pendapat Safitri . , bahwa upaya pemanfaatan lahan melalui Pekarangan Pangan Lestari dilakukan oleh wanita/kelompok sasaran, dimana wanita sebagai ibu rumah tangga merupakan penentu/pengambil keputusan dalam pemenuhan pangan dan gizi keluarga dengan membudidayakan berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan sebagai tambahan untuk memenuhi ketersediaan pangan sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Tabel 5. Sebaran Responden Berdasarkan Pekerjaan Sampingan di Kecamatan Selaparang Tahun 2024. No. Jenis Pekerjaan Tidak ada Pedagang Kader Posyandu Guru Bimbel Tukang Pijat Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Pekerjaan Sampingan Orang Persen (%) 53,33 23,33 16,67 3,33 3,33 Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yakni sebanyak 16 responden . ,33%) tidak memiliki pekerjaan sampingan. Dengan demikian, berdasarkan penelitian diketahui bahwa beberapa responden memiliki berbagai macam pekerjaan dan hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi responden untuk menjadi anggota kelompok wanita tani dan berperan aktif dalam menjalankan praktik-praktik pertanian pada program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Dengan demikian, diketahui bahwa keseluruhan responden dalam penelitian ini yang merupakan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) tidak ada yang bekerja sebagai petani. Wanita tani dalam penelitian ini merujuk pada wanita yang telah mendapatkan Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 pengetahuan serta keterampilan untuk melaksanakan praktik-praktik pertanian. Lebih lanjut Margayaningsih . , mengatakan bahwa istilah AuWanita TaniAy merujuk kepada perempuan yang ikut berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan keluarga melalui kegiatan pertanian seperti pelaksanaan praktik pertanian di pekarangan rumah pada program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Luas Lahan Pekarangan Luas lahan pekarangan dalam penelitian ini adalah luas lahan pekarangan secara keseluruhan baik yang sudah maupun belum dimanfaatkan untuk program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Tabel 6. Luas Lahan Pekarangan Keseluruhan Responden di Kecamatan Selaparang Tahun No. Luas Lahan . A) Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Jumlah Responden Orang Persen (%) 16,67 13,33 Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 6 diketahui bahwa sebagian besar responden yakni 21 orang . %) memliki pekarangan yang cukup yakni berkisar 1-10 mA dan berpeluang baik untuk dimanfaatkan dalam program P2L. Sehingga pekarangan tidak dibiarkan sia-sia dan dimanfaatkan secara optimal sebagai tempat sumber pangan keluarga melalui praktik pertanian pada kegiatan program P2L. Hal demikian sejalan dengan pendapat Nirmala, dkk. mengatakan bahwa program P2L bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan melalui pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman hortikultura. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang sebelumnya tidak digunakan untuk menanam tanaman sayur-sayuran dan lauk-pauk yang dapat dikonsumsi sendiri dan dijual. Persepsi Wanita Tani terhadap Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang Persepsi wanita tani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang Kota Mataram diukur menggunakan 5 . karakteristik inovasi. Karakteristik inovasi yang dimaksud adalah aspek keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, ketercobaan, dan Berikut disajikan data persepsi petani terhadap Program P2L di Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Tabel 7. Persepsi Anggota Kelompok Wanita Tani terhadap Program P2L di Kecamatan Selaparang Kota Mataram 2024. No. Kriteria Baik Cukup Baik Jumlah Responden Orang Persen (%) Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 Tidak Baik Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2024 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 Tabel 7. menggambarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi wanita tani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang Kota Mataram berada dalam kategori Baik. Hal ini ditunjukkan oleh sebagian besar responden yakni sebanyak 27 orang atau 90% memberikan persepsi Baik. Hal ini berarti bahwa wanita tani memiliki pandangan yang positif terhadap program P2L. Seperti yang disampaikan oleh responden, bahwa program P2L mampu memberikan manfaat serta membantu dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka melalui praktik-praktik pertanian pada lahan pekarangan. Selain itu, program P2L juga mampu meningkatkan pengetahuan responden dalam pengolahan dan perawatan tanaman pangan, sayur, dan buah untuk dibudidayakan sehingga meningkatkan keterampilan mereka dalam bercocok tanam. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Assyifa . , yang mengatakan bahwa persepsi dengan kategori baik oleh petani responden terhadap suatu program berarti bahwa petani memiliki tanggapan, pandangan atau penerimaan yang positif dan memuaskan terhadap pelaksanaan, manfaat, pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh dari program tersebut. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Azmidar . , menjelaskan bahwa program P2L secara keseluruhan memiliki kategori sangat tinggi, dikarenakan program P2L yang cocok untuk anggota KWT Anggrek, dianggap memiliki banyak manfaat, dan cukup mudah untuk Sedangkan 3 orang atau 10% responden memberikan persepsi Cukup Baik. Alasan responden memberikan persepsi Cukup Baik dikarenakan responden menghadapi beberapa kendala atau tantangan dalam pelaksanaan program, seperti adanya kendala hama dan penyakit tanaman, cuaca yang tidak menentu, atau kesulitan dalam penerapan teknik pertanian baru. Meskipun demikian, mereka tetap merasakan adanya manfaat dari program ini, hanya saja belum maksimal sesuai dengan harapan mereka. Hasil penelitian ini secara keseluruhan sejalan dengan hasil penelitian Sukma . , di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah tentang persepsi wanita tani terhadap program Kawasan Rumah Pangan Lestari yang berada pada kategori Baik. Hal ini dikarenakan program tersebut mendapatkan tanggapan atau penerimaan yang positif di kalangan wanita tani. Adapun hal-hal yang mendukung penerimaan ini antara lain adalah adanya keuntungan yang didapatkan yakni menguntungkan secara ekonomi, biaya yang dikeluarkan tidak banyak, meningkatkan gizi keluarga, dan memenuhi pangan keluarga. Selain itu, program ini juga sesuai dengan keadaan lingkungan, sesuai kebutuhan, serta sebagai kegiatan pemanfaatan waktu luang wanita tani. Alasan lainnya mengapa persepsi wanita tani berkategori baik ialah karena program ini mudah dalam pelaksanaananya, serta memiliki dampak nyata yang terlihat oleh anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Tabel 8. Sebaran Responden menurut Aspek pada Persepsi Anggota Kelompok Wanita Tani terhadap Program P2L di Kecamatan Selaparang Kota Mataram 2024. Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 No. Aspek Keuntungan Relatif Kesesuaian Kerumitan Ketercobaan Keteramatan Gabungan Sumber: Data Primer Diolah, 2024 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 Gabungan Modus Skor Kategori Baik Baik Baik Tidak Baik Baik Baik Tabel 8. menunjukkan bahwa persepsi wanita tani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang Kota Mataram adalah termasuk dalam kategori Baik dilihat dari gabungan modus skor dari setiap aspek yakni 60 yang menunjukkan kategori baik. Responden memberikan persepsi yang baik pada sebagian besar aspek yaitu aspek keuntungan Hal ini berarti bahwa pada aspek keuntungan relatif, responden telah merasakan manfaat dari adanya program P2L ini. Aspek keuntungan relatif diukur dari 5 komponen yakni menguntungkan secara ekonomi, pangan keluarga terpenuhi, pemanfaatan pekarangan secara maksimal, meningkatkan pengetahuan dalam perawatan tanaman untuk dibudidayakan, dan meningkatkan pengetahuan dalam mengolah limbah rumah tangga untuk dijadikan sebagai pupuk kompos. Aspek kesesuaian berada pada kategori Baik. Aspek kesesuaian diukur dari 3 komponen yakni kesesuaian dengan keadaan lingkungan, kebutuhan, dan kemampuan finansial. Dari 3 komponen kesesuaian, keseluruhan komponen berada pada kategori Baik yaitu kesesuaian dengan keadaan lingkungan, kebutuhan, dan kemampuan finansial. Persepsi wanita tani terhadap program P2L pada aspek kesesuaian berada pada kategori yang Baik berarti bahwa pada aspek kesesuaian, responden menganggap bahwa program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) sesuai atau cocok dengan kondisi lingkungan, memenuhi kebutuhan, dan dapat diakses secara finansial. Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek kerumitan pada persepsi wanita tani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang berada dalam kategori Baik yaitu sebanyak 28 orang atau 93,33%. Responden menyampaikan bahwa program P2L dapat dijalankan dengan relatif mudah oleh mereka, tanpa terlalu membebani mereka dengan kerumitan yang berlebihan. Selain itu, responden menganggap bahwa kegiatan dalam program P2L ini mudah dilaksanakan, disebabkan adanya bimbingan, bantuan atau panduan yang baik dari pihak penyelenggara program melalui penyuluh pertanian, serta kemungkinan adanya pengalaman atau keterampilan yang sebelumnya sudah dimiliki oleh wanita tani. Aspek kerumitan diukur dari 10 komponen yakni kerumitan pada tahap persiapan lahan, pembibitan, persiapan alat dan bahan, penanaman, perawatan, panen, pasca panen, pembukuan, penyuluhan, dan pertemuan kelompok. Persepsi yang baik dalam aspek kerumitan menunjukkan bahwa responden menganggap bahwa kegiatan pertanian dan pendukung pada program P2L berada pada kategori yang mudah, mulai dari persiapan lahan hingga kegiatan pasca panen dan kegiatan pendukung program seperti pembukuan, penyuluhan, dan pertemuan kelompok. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Mariyani . Murniati . Nirmala . , yang mengatakan bahwa secara keseluruhan, program P2L dianggap mudah atau tidak rumit untuk diterapkan. Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 karena adanya dukungan pemerintah melalui penyuluhan pertanian dan bantuan berupa dana maupun alat dan bahan pertanian. Sehingga program ini dapat dilaksanakan dengan mudah oleh masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek ketercobaan pada persepsi wanita tani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang berada dalam kategori Tidak Baik yaitu sebanyak 13 orang atau 43,33%. Aspek ketercobaan diukur dari 2 komponen yakni mampu menerapkan kegiatan teknik baru . dalam bercocok tanam seperti sistem Aquaponic dan menerapkan pembuatan dan penggunaan pupuk kompos untuk menutrisi tanah. Aspek ketercobaan menjadi satu satunya aspek yang berada dalam kategori tidak baik karena responden mengatakan bahwa teknik baru dalam penanaman seperti teknik akuaponik tidak mudah dipelajari dan membutuhkan pengetahuan serta keterampilan khusus. Responden juga menyampaikan bahwa untuk menerapkan pembuatan dan penggunaan pupuk kompos dirasakan sangat tidak praktis oleh responden dan memerlukan waktu serta usaha yang lebih dibandingkan dengan menggunakan pupuk yang dijual dipasaran. Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa aspek keteramatan pada persepsi wanita tani terhadap program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang berada dalam kategori Baik yaitu sebanyak 26 orang atau 86,67%. Aspek keteramatan diukur dari 2 komponen yakni hasil dan kondisi tanaman untuk diamati oleh Wanita Tani serta apakah hasil dapat dicontoh oleh orang lain. Responden mengatakan bahwa program P2L ini benar-benar memberikan manfaat positif yang bisa disaksikan dan dirasakan secara langsung oleh responden. Selain itu, responden menyampaikan bahwa program P2L juga berhasil dalam memberikan manfaat yang dapat dilihat dan dijadikan inspirasi oleh orang lain dalam hal pemanfaatan lahan. Kendala yang Dihadapi Wanita Tani Dalam Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang Berdasarkan penelitian dan pengolahan data yang dilakukan maka didapatkan hasil bahwa kendala-kendala yang dihadapi oleh petani dalam pelaksanaan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) ada 3 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Kendala-kendala yang dihadapi Wanita Tani program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang 2024 No. Kendala Hama dan Penyakit Tanaman Cuaca yang tidak menentu Hewan Ternak Unggas Kurangnya monitoring dari penyuluh pendamping program P2L. Sumber: Data Primer Diolah, 2024 Jumlah Responden yang Memilih Orang Persentase (%) Tabel 9 menunjukkan bahwa kendala-kendala yang dihadapi oleh responden dalam pelaksanaan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L), yakni kendala hama dan penyakit Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 tanaman, cuaca yang tidak menentu, gangguan dari hewan ternak, dan kurangnya monitoring dari penyuluh pendamping program P2L. Kendala hama dan penyakit tanaman dialami oleh keseluruhan atau 100% responden Serangan hama dan penyakit tanaman dapat mengancam produktivitas dan kelangsungan tanaman yang dibudidayakan dalam P2L. Menurut responden, hama tanaman selalu ada pada tanaman yang mereka tanam seperti hama kutu putih, belalang, dan ulat. Sedangkan penyakit tanaman yang umumnya dihadapi oleh responden adalah penyakit bercak daun dan antraknosa pada tanaman cabai. Hal ini dibenarkan oleh pendapat Wattimena dan Latumahina . , bahwa hama dan penyakit tanaman dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman, seperti cacat, kematian, atau pengurangan pertumbuhan. Kerusakan ini dapat berlangsung dalam jangka panjang dan mempengaruhi kualitas tanaman yang dihasilkan. Kendala berikutnya yang dihadapi oleh 100% responden adalah cuaca yang tidak Responden mengatakan bahwa perubahan cuaca yang ekstrem atau tidak dapat diprediksi, seperti cuaca yang semula cerah tiba-tiba turun hujan deras, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Menurut mereka, cuaca yang tidak stabil dapat menyebabkan tanaman yang sebelumnya sehat tiba-tiba mati karena genangan air yang terjadi secara tiba-tiba dapat memicu perkembangan penyakit tanaman atau membusukkan akar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Agustina . , yang mengatakan bahwa cuaca yang tidak menentu dapat menyebabkan kerusakan akar tanaman yang dapat mengganggu pertumbuhan Kerusakan akar dapat disebabkan oleh perubahan suhu dan kelembaban yang tidak stabil karena cuaca yang tidak menentu. Kendala hewan ternak dihadapi oleh 6 orang atau 20% responden. Responden menyampaikan bahwa selain menanam tanaman responden juga memelihara hewan ternak unggas yakni ayam di pekarangan rumah mereka. Responden mengatakan bahwa kehadiran hewan ternak ayam dapat menjadi kendala dalam P2L, sebab ayam dapat merusak dan memakan tanaman sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Sukma . , yang menyebutkan bahwa salah satu kendala dalam pemanfaatan pekarangan sebagai tempat budidaya tanaman adalah adanya gangguan hewan ternak seperti ayam, bebek, dan sapi. Hal ini disebabkan hewan-hewan ternak tersebut dapat merusak tanaman sebab berkeliaran dengan bebas di pekarangan rumah yang juga merupakan tempat tanaman Kendala terakhir yakni kendala kurangnya monitoring dari penyuluh lapangan untuk program P2L, dirasakan oleh 24 orang atau 80% responden. Responden menyampaikan bahwa penyuluh lapangan kurang memberikan pemantauan dan pengawasan yang memadai terhadap Agrita Vol. 7 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 2723-6455 e-ISSN: 2721-0022 kegiatan kelompok mereka. Monitoring yang kurang dapat menghambat efektivitas dan keberlanjutan program, karena penyuluh lapangan memiliki peran penting dalam memberikan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi terhadap pelaksanaan P2L di lapangan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Nurwati. ,et al . , yang menjelaskan bahwa monitoring penyuluhan merupakan proses pendampingan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian terkait dengan usaha budidaya pertanian yang dilakukan oleh petani. Dalam penyelenggaraan kegiatan penyuluhan, bagian terpenting adalah melakukan monitoring terhadap pencapaian hasil pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang telah diberikan kepada petani. Sejauh mana perubahan yang diperoleh oleh petani dapat dilihat dari hasil monitoring dan evaluasi. Selain itu, hal ini juga dibutuhkan untuk mengetahui kendala dan tantangan yang dialami oleh petani, sehingga dapat segera diberikan masukan dan solusi yang tepat kepada mereka. KESIMPULAN Persepsi wanita tani terhadap Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Kecamatan Selaparang. Kota Mataram tergolong baik, berdasarkan penilaian lima aspek, yaitu keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, ketercobaan, dan keteramatan. Aspek keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, dan keteramatan berada pada kategori baik, menunjukkan bahwa program P2L dirasakan bermanfaat, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan, mudah diterapkan, serta memberikan dampak yang dapat diamati secara langsung. Namun, aspek ketercobaan masih tergolong kurang baik, terutama terkait penerapan inovasi seperti sistem akuaponik dan penggunaan pupuk kompos. Kendala utama dalam pelaksanaan Program P2L meliputi serangan hama dan penyakit tanaman, cuaca yang tidak menentu, gangguan hewan ternak, serta kurangnya monitoring dari penyuluh pendamping program P2L. Oleh karena itu, memperkuat bagian monitoring oleh penyuluh pendamping merupakan hal yang penting untuk dilakukan guna mengatasi serangan hama dan cuaca. DAFTAR PUSTAKA