Gorontalo Development Review https://jurnal. id/index. php/gdrev Vol 09. No 01. Tahun 2026 P-ISSN : 2614-5170. E- ISSN :2615-1375 Nationally Accredited Journal. Decree No. 225/E/KPT/2022 Analisis Determinan Kemiskinan Kultural di Kawasan Kedu Raya Determinant Analysis of Cultural Poverty in Kedu Raya Region Siti Nur Jannah . Riko Setya Wijaya . Putra Perdana Program Studi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur Email : sitinurjj717@gmail. 1,2,3 1,2,3 Article info Article history: Received. 29-11-2025 Revised. 17-12-2025 Accepted. 09-01-2026 Abstract. This study aims to analyze the determinants of cultural poverty in the Kedu Raya Region by examining the effects of Minimum District/City Wage. Life Expectancy. Average Years of Schooling, and Dependency Ratio on the number of poor people. Using panel data from six districts/cities in Kedu Raya from 2015 to 2024, the analysis was conducted through a log-linear panel regression model. The results show that City Minimum Wage has a negative and significant effect on poverty levels, indicating that higher minimum wages help reduce Average Years of Schooling also has a negative and significant effect, emphasizing the crucial role of education in shaping economic behavior and reducing cultural poverty. Life Expectancy and Dependency Ratio exhibit positive but insignificant effects. Simultaneously, all variables collectively influence poverty levels in the region. These findings highlight that improving education, enhancing health quality, and implementing appropriate wage policies can effectively reduce cultural poverty and support sustainable human development in the Kedu Raya Region. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kemiskinan kultural di Kawasan Kedu Raya dengan menggunakan variabel Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Angka Harapan Hidup (AHH). Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), dan Rasio Ketergantungan terhadap jumlah penduduk Penelitian menggunakan data panel dari enam kabupaten/kota di Kedu Raya periode 2015Ae2024 dan dianalisis menggunakan regresi data panel dengan model loglinear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel UMK berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin, yang berarti peningkatan UMK mampu menurunkan kemiskinan. RLS juga berpengaruh negatif signifikan, menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam mengubah pola nilai dan perilaku ekonomi Sebaliknya. AHH dan RK berpengaruh positif namun tidak signifikan. Secara simultan, seluruh variabel memberikan pengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Keywords: Cultural poverty. Minimum wage. Education Temuan peningkatan pendidikan, perbaikan kualitas kesehatan, serta kebijakan upah yang tepat sasaran mampu mendorong pembangunan manusia berkelanjutan di Kawasan Kedu Raya. Coresponden author: Email: sitinurj717@gmail. Pendahuluan Kemiskinan menjadi fokus utama dari pemerintah di berbagai negara. Rendahnya tingkat kemiskinan menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan karena kesejahteraan masyarakat akan meningkat seiring menurunnya jumlah penduduk miskin (Bintang & Woyanti, 2. Di Indonesia, kemiskinan masih banyak ditemukan di pedesaan yang sulit dijangkau Kemiskinan mencakup aspek sosialAiyang terkait dengan stratifikasi antara si kaya dan si miskinAiserta aspek ekonomi yang berkaitan dengan tingkat pendapatan individu maupun nasional. Badan Pusat Statistik . menjelaskan bahwa penyebab kemiskinan meliputi kemiskinan struktural, natural, dan kultural (Baiquni. , & Feriyanto, 2. Kemiskinan struktural terjadi ketika ketimpangan sosial membuat kelompok tertentu mendominasi akses terhadap sumber daya ekonomi, sosial, budaya, dan Sementara itu, kemiskinan kultural muncul akibat nilai, kebiasaan, dan pola pikir masyarakat yang menghambat perubahan, seperti sikap pasrah, rendahnya minat pendidikan, dan pola hidup tidak produktif (Bird. , & Manning. Dalam kondisi ini, kemiskinan bertahan karena masyarakat terbiasa hidup dalam kekurangan dan kurang dorongan untuk meningkatkan kapasitas diri. Oscar Lewis . menyebut fenomena ini sebagai culture of poverty, yaitu pola budaya yang diwariskan antar generasi dan membuat kemiskinan berulang (World Bank, 2. Salah satu wilayah kemiskinan kultural banyak dijumpai di wilayah pedesaan yang memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pertanian tradisional dan keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, serta lapangan kerja Salah satu kawasan yang merepresentasikan kondisi tersebut adalah Kawasan Kedu Raya di Provinsi Jawa Tengah, yang meliputi Kabupaten Magelang. Kota Magelang. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Kebumen. Meskipun dikenal sebagai kawasan Aulumbung pangan nasionalAy. Kedu Raya masih menghadapi tingkat kemiskinan yang relatif tinggi dibandingkan wilayah lain di Jawa Tengah. Meskipun kaya sumber daya, kawasan ini masih menghadapi angka kemiskinan cukup tinggi. Pada 2023, tercatat sekitar 690. 000 penduduk miskin atau sekitar 12% dari total populasi. Kabupaten Kebumen dan Wonosobo menjadi wilayah dengan kemiskinan tertinggi. Pola konsumsi musiman, dominasi sektor pertanian tradisional, rendahnya mobilitas sosial, serta budaya nrimo dan ketergantungan pada kredit konsumtif menjadi ciri kemiskinan kultural di Kedu Raya. Faktor-faktor pembangunan manusia seperti pendidikan, kesehatan, dan struktur keluarga diyakini turut memengaruhi pola kemiskinan tersebut (Agusalim. , & Lestari, 2. Salah satu wilayah menjadi perhatian adalah Kawasan Kedu Raya, terdiri dari beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, seperti Kabupaten Magelang. Kota Magelang. Kabupaten Temanggung. Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Kebumen. Kedu Raya merupakan kawasan Aulumbung pangan nasionalAy terbesar di Jawa Tengah. Grafik 1. Jumlah Penduduk Miskin di Kawasan Kedu Raya Periode Tahun 2017-2021 (Ribu Jiw. Sumber : Badan Pusat Statistika Provinsi Jawa Tengah Data 2017Ae2021 menunjukkan Kabupaten Kebumen sebagai wilayah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di Kedu Raya (Badan Pusat Statistik, 2. Tahun 2017Ae2019 mencerminkan kondisi ekonomi relatif stabil, sementara tahun 2020Ae2021 menunjukkan perubahan signifikan akibat perlambatan ekonomi, pembatasan aktivitas, serta penurunan pendapatan masyarakat, khususnya di sektor informal dan pertanian tradisional yang mendominasi Kawasan Kedu Raya (Badan Pusat Statistik, 2. Pada Maret 2024. Wonosobo mencatat persentase kemiskinan tertinggi sebesar 15,28%, disusul Kebumen yang juga tinggi akibat dominasi pertanian tradisional. Kabupaten Magelang memiliki tingkat kemiskinan 10,83%. Temanggung 8,67%, dan Purworejo masih menghadapi kemiskinan Kota Magelang mencatat kemiskinan terendah, yaitu 5,94%, didukung sektor perdagangan, jasa, dan infrastruktur yang lebih baik (Badan Pusat Statistik. Secara umum, perbedaan tingkat kemiskinan di Kedu Raya berkaitan dengan struktur ekonomi lokal, ketergantungan pada pertanian, serta kesenjangan akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan formal. Ketimpangan geografis juga memperkuat kemiskinan kultural, karena wilayah yang jauh dari pusat kota cenderung memiliki akses terbatas terhadap layanan dasar dan peluang ekonomi. Hal ini sesuai dengan pandangan Chambers . bahwa keterbatasan akses dapat membuat masyarakat terjebak dalam pola kemiskinan berulang. Mobilitas sosial yang rendah turut mempertahankan kemiskinan kultural, karena keterbatasan lapangan kerja di luar sektor pertanian membuat masyarakat mempertahankan pola hidup yang sama dari generasi ke generasi. (Todaro. & Smith, 2. menjelaskan bahwa rendahnya mobilitas sosial memperkuat reproduksi kemiskinan antar-generasi. Tingginya angka kemiskinan di Kedu Raya tercermin dari beberapa indikator, yaitu lemahnya nilai tambah sektor pertanian akibat ketidakseimbangan antara potensi produksi dan akses pasar, budaya konsumtif yang mendorong masyarakat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier melalui kredit, serta dominasi penduduk usia tua karena kelompok usia produktif banyak merantau ke luar daerah (World Bank, 2. Data menunjukkan bahwa kebijakan upah minimum turut memengaruhi jumlah penduduk miskin karena berperan menjaga daya beli masyarakat. Di Kedu Raya. UMK tahun 2024 tertinggi terdapat di Kota Magelang sebesar Rp2. sedangkan yang terendah di Wonosobo dan Kebumen, masing-masing Rp2. dan Rp2. 620 (Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, 2. Wilayah dengan UMK rendah memiliki kemiskinan lebih tinggi, seperti Kebumen dengan 15,04%, dibanding Kota Magelang yang hanya 7,44% (BPS Jateng, 2. Namun, efektivitas UMK tetap bergantung pada struktur ketenagakerjaan dan kepatuhan pengusaha (Siregar. , & Wahyuni, 2. Indikator kesehatan seperti Angka Harapan Hidup (AHH) juga menunjukkan hubungan dengan kemiskinan. AHH Jawa Tengah mencapai 72,19 tahun pada 2023, dan daerah dengan AHH lebih tinggi umumnya memiliki kemiskinan lebih rendah, seperti Kota Magelang dibanding Kebumen dan Wonosobo (Badan Pusat Statistik, 2. Penelitian Putri & Nugroho . menegaskan AHH yang meningkat berkorelasi dengan penurunan kemiskinan karena penduduk lebih produktif (Putri. , & Nugroho, 2. Faktor pendidikan turut memengaruhi kualitas hidup melalui Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), sedangkan Rasio Ketergantungan (RK) menentukan beban ekonomi penduduk usia produktif. RK yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kerentanan ekonomi, terutama di negara berkembang (LDFE UI). Dengan indikator-indikator tersebut, penelitian ini akan menguraikan secara komprehensif berbagai faktor yang memengaruhi kemiskinan kultural di Kawasan Kedu Raya. Fokus analisis tidak hanya melihat kondisi ekonomi masyarakat, tetapi juga dinamika budaya lokal, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, serta struktur sosial yang membentuk pola perilaku Masyarakat (Sen. Metode Penelitian Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena variabel dianalisis dalam bentuk data numerik menggunakan prosedur statistik (Sugiyono. , 2. Data dikumpulkan melalui dokumentasi berupa data sekunder dari BPS Jawa Tengah, mencakup Jumlah Penduduk Miskin. UMK. AHH. RLS, dan Rasio Ketergantungan periode 2015Ae2024. Selain itu, studi kepustakaan melalui buku, jurnal, dan publikasi resmi digunakan untuk memperkuat teori dan analisis (Hermawan, n. Teknik Analisis Data Metode regresi data panel digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel dengan memanfaatkan gabungan data time series dan cross section. Metode ini lebih unggul karena mampu menangkap perubahan antar waktu dan perbedaan antar unit, serta mengurangi bias akibat variabel yang tidak teramati (Gujarati. , & Porter, 2. Penelitian ini menggunakan metode Least Square (LS and AR) yang diolah melalui aplikasi EViews 12. Analisis Regresi Data Panel Sebelum melakukan serangkaian uji. Model ditransformasikan ke bentuk log-linier untuk menyamakan satuan variabel, menstabilkan varians, dan mengurangi heteroskedastisitas. Gujarati . menjelaskan bahwa log-linier memudahkan interpretasi elastisitas, sementara Anders . menekankan bahwa transformasi log diperlukan saat variabel berbeda skala. Berikut transformasi persamaan regresi dari bentuk awal. Menjadi : Dengan demikian, penggunaan model logaritma linier dipandang lebih tepat dalam penelitian ini dan dapat dilakukan penelitian selanjut. Hasil Dan Pembahasan Uji Pemilihan Estimasi Model Data Panel Pengujian regresi pada data panel dalam memperoleh model baik serta tetap terdapat tiga model yakni Common Effect Model. Fixed Effect Model, dan Random Effect Model. Berlandaskan perolehan estimasi dari tiap-tiap model Adalah sebagai Uji Chow Tahap pengujian Chow menjadi penentu dari dua model terpilih antara Commont Effect Model dan Fixed Effect Model. Tabel 1. Uji Chow Effects Test Cross-section F Cross-section Chisquare Statistic Prob. Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Berdasarkan hasil pengujian chow, terlihat bahwa cross-section chi square menentukkan nilai probabilitas yaitu sebesar 0. 0000, dimana nilai ini lebih kecil dari nilai signifikan = 0,05. Maka dapat disimpulkan penolakan H0 dan penerimaan H1, sehingga dari pengujian chow ini model terpilih yaitu Fixed Effect Model (FEM). Uji Hausman Pengujian Hausman merupakan penentu dari dua model terpilih diantara Fixed Effect Model dan Random Effect Model. Tabel 2. Uji Hausman Chi-Sq. Statistic Test Summary Cross-section Random Chi-Sq. Prob. Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Berdasarkan hasil uji Hausman, nilai probabilitas sebesar 0,0062 (<0,. menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga model yang tepat adalah Fixed Effect Model (FEM). Karena FEM sudah teridentifikasi sebagai model terbaik. Uji Lagrange Multiplier tidak diperlukan lagi untuk membandingkan Common Effect Model dan Random Effect Model. Estimasi Hasil Uji Model Data Panel (Fixed Effect Mode. Hasil uji model menunjukkan bahwa Fixed Effect Model adalah model terbaik karena mampu menangkap perbedaan karakteristik antar objek, dengan kemiringan variabel independen yang tetap dari waktu ke waktu. Tabel 3. Estimasi Hasil Uji Regresi Data Panel Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. log_UMK log_AHH log_RLS log_RK Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Dari hasil persamaan regresi data panel diatas diperoleh model persamaan sebagai berikut: JPM = -0. 145 Ae 0. 280*UMK 0. 748*AHH Ae 0. 961*RLS 1. 109*RK Keterangan JPM = Jumlah Penduduk Miskin UMK = Upah Minimum Kabupaten AHH = Angka Harapan Hidup RLS = Rata-Rata Lama Sekolah = Rasio Ketergantungan Dengan interpretasi hasil regresi sebagai berikut Nilai konstanta sebesar -0. 145 menyatakan bahwa jika variabel Upah Minimum Kabupaten (X. Angka Harapan Hidup (X. Rata-Rata Lama Sekolah (X. , dan Rasio Ketergantungan (X. mengalami peningkatan, maka variabel Jumlah Penduduk Miskin (Y) menurun sebesar 0,14. Nilai koefisien Upah Minimum Kabupaten (X. 280 menyatakan terdapat hubungan negatif terhadap Jumlah Penduduk Miskin, arti jika Upah Minimum Kabupaten naik akan menurunkan Jumlah Penduduk Miskin sebesar 0,28. Nilai koefisien Angka Harapan Hidup (X. 748 menyatakan terdapat hubungan positif terhadap Jumlah Penduduk Miskin, arti jika Angka Harapan Hidup naik akan menurunkan Jumlah Penduduk Miskin sebesar 0,74. Nilai koefisien Rata-Rata Lama Sekolah (X. 961 menyatakan terdapat hubungan negatif terhadap Jumlah Penduduk Miskin, arti jika Rata-Rata Lama Sekolah menurun akan menurunkan Jumlah Penduduk Miskin sebesar 0,96. Nilai koefisien Rasio Ketergantungan (X. 109 menyatakan terdapat hubungan negatif terhadap Jumlah Penduduk Miskin, arti jika Rasio Ketergantungan naik akan menurunkan Jumlah Penduduk Miskin sebesar 1,1. Uji Asumsi Klasik Setelah melakukan pengujian model terbaik, perlu ada regresi terhadap data Dalam meregresi data panel tidak keseluruhan uji asumsi klasik dengan metode OLS digunakan, hanya memerlukan uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi. Uji Multikolinearitas Tabel 4. Uji Multikolnearitas log_UMK log_AHH log_RLS log_RK log_UMK log_AHH log_RLS log_RK Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Hasil dari pengujian multikolinearitas terlihat pada nilai correlation antar variabel dengan syarat bernilai diatas 0. 8 untuk terhindar dari gejala Namun suatu uji multikolinearitas dilakukan dengan hasil diperoleh kurang dari 0. 8 maka model tidak terdentifikasi gejala multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas telah dilakukan dan menunjukkan seluruh variabel independent tidak memiliki nilai korelasi diatas 0. Dengan ini Kesimpulan ditarik adalah tidak terjadi multikolinearitas antar variabel indipenden pada model diatas dan model ditakan bebas dari gejala maupun multikolinearitas. Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas digunakan untuk mendeteksi ketidakserupaan varian berlandas dari pengamatan satu terhadap pengamatan lain pada model Tabel 5. Uji Heterokedastisitas Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. log_UMK log_AHH log_RLS log_RK Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Manfaat dari uji heterokedastisitas yakni untuk mengidentifikasi gejala heterokedastisitas dengan standar perolehan nilai probabilitas lebih kecil dari . rob, < 0. pada model atau data akan teridentifikasi heterokedastisitas sehingga perlu ada antisipasi terhadap korelasi antar variabel. Dari hasil uji asumsi heterokedastisitas telah dilakukan dengan menunjukkan nilai probabilitas setiap variabel independent diatas 0. 05 sehingga Kesimpulan ditarik yaitu tidak terjadi heterokedastisitas dari setiap variabel independent sekaligus model terpilih dalam penelitian. Uji Autokorelasi Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara data observasi diurutan berdasarkan urut waktu . ata time serie. atau data diambil pada waktu tertentu . ata cross-sectiona. (Gudjarati, 2010:. Untuk mengetahui ada tidak gejala autokorelasi dalam penelitian maka perlu dilihat nilai DW tabel. Diketahui jumlah variabel bebas adalah 4 . dan banyak data Adalah . sehingga diperoleh nilai DW tabel sebesar dL = 1. 727 dan dU = 1. Grafik 2. Kurva Statistik Durbin-Watson dU DW test 4-dU 4-dL Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Berdasarkan hasil perhitungan Durbin-Watson, posisi DW berada di antara dU dan . -dU). Sehingga, pada model ini tidak terjadi gejala autokorelasi dikarenakan nilai tes DW berada pada daerah tidak ada korelasi (Ghozali, 2. Berdasarkan hasil Uji Asumsi Klasik telah dilakukan dapat ditarik Kesimpulan bahwa pada model penelitian ini tidak terjadi pelanggaran asumsii klasik, maka dapat dilakukan analisis lanjutan. Uji Hipotesis Uji hipotesis digunakan untuk mengukur seberapa jauh variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Berikut beberapa pengujian hipotesis. Uji Koefisien Determinasi Tabel 6. Output Koefisien Determinasi ( R-squared Adjusted R0. Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Berdasarkan tabel hasil uji koefisien determinasi ( ) di atas, didapatkan nilai Adjusted R-squared sebesar 0. 905208 atau 90,52%. Menyatakan bahwa variabel independen Upah Minimum (LOG_UMK). Angka Harapan Hidup (LOG_AHH). Rata-rata Lama Sekolah (LOG_RLS), dan Rata-rata Konsumsi (LOG_RK) dapat menjelaskan variabel dependen Jumlah Penduduk Miskin sebesar 90,52% dan sisa sebesar 9,48% dijelaskan oleh faktor lain tidak terdapat dalam Sehingga dapat dikatakan bahwa hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dapat dijelaskan dengan sangat baik dalam model ini. Uji F . ignifikasi simulta. Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah secara bersama-sama . variabel Upah Minimum Kabupaten (X. Angka Harapan Hidup (X. Rata-Rata Lama Sekolah (X. , dan Rasio Ketergantungan (X. memiliki pengaruh terhadap Jumlah Penduduk Miskin (Y) dengan Tingkat signifikasi digunakan adalah sebesar 5%. Tabel 7. Output Uji F F-statistic Prob(F-statisti. Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Berdasarkan tabel hasil uji F di atas, didapatkan nilai F-statistic sebesar 746 dengan probabilitas 0. Nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, berarti variabel independen Upah Minimum Kabupaten (X. Angka Harapan Hidup (X. Rata-Rata Lama Sekolah (X. , dan Rasio Ketergantunagn (X. secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu jumlah penduduk miskin di Kawasan Kedu Raya. Uji t . ignifikasi parsia. Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah secara parsial variabel Upah Minimum Kabupaten (X. Angka Harapan Hidup (X. Rata-Rata Lama Sekolah (X. , dan Rasio Ketergantunagn (X. memiliki pengaruh terhadap Jumlah Penduduk Miskin (Y) dengan Tingkat signifikasi digunakan adalah sebesar 5%. Tabel 8. Output Uji t Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. log_UMK log_AHH log_RLS log_RK Sumber : Data Diolah. Eviews 12, 2025 Analisis Pengaruh Variabel Upah Minimum Kabupaten (UMK) Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Berdasarkan hasil regresi, variabel Upah Minimum Kabupaten (X. memiliki nilai t Oe2,584292 dengan signifikansi 0,0127 (<0,. , sehingga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Kawasan Kedu Raya. Koefisien negatif menunjukkan bahwa kenaikan UMK menurunkan jumlah penduduk miskin, sesuai efficiency wage theory yang menyatakan bahwa upah lebih tinggi meningkatkan motivasi, produktivitas, dan pendapatan rumah tangga. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya (Institute, 2024. Sari, 2. yang menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum umumnya berkontribusi pada penurunan kemiskinan. Namun, efektivitas UMK tetap bergantung pada produktivitas tenaga kerja dan kemampuan usaha daerah, karena kenaikan upah tanpa peningkatan produktivitas dapat menekan biaya usaha atau mendorong informalitas. Analisis Pengaruh Variabel Angka Harapan Hidup (AHH) Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Berdasarkan hasil uji t, variabel Angka Harapan Hidup (AHH) memperoleh nilai t-statistic sebesar 0,678472 dengan tingkat signifikansi 0,5006 (> 0,. Hal ini menunjukkan bahwa AHH tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap jumlah penduduk miskin di Kawasan Kedu Raya. Koefisien yang bernilai positif mengindikasikan bahwa peningkatan AHH cenderung diikuti kenaikan jumlah penduduk miskin, namun pengaruh tersebut tidak signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 95%. Secara teoritis, peningkatan AHH merefleksikan perbaikan kualitas kesehatan yang dalam kerangka teori pembangunan manusia dan modal manusia diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan (Niastuti. , & Setyowati, 2. Namun, dalam konteks Kedu Raya, peningkatan kesehatan belum mampu diterjemahkan secara langsung menjadi penurunan kemiskinan, kemungkinan akibat keterbatasan struktur ekonomi dan kondisi lokal (Bintang. , & Woyanti, 2. Hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa AHH tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap kemiskinan, meskipun berpengaruh secara simultan bersama indikator pembangunan manusia Ketidaksignifikanan pengaruh AHH diduga disebabkan oleh ketimpangan peningkatan kesehatan antarwilayah, dominasi faktor ekonomi lain seperti pendidikan dan kesempatan kerja, serta kemungkinan efek tidak langsung AHH melalui variabel perantara. Dengan demikian, peran AHH dalam mengurangi kemiskinan di Kawasan Kedu Raya dalam model ini masih relatif terbatas (Wulandari. Sihombing. , & Hutabarat, 2. Analisis Pengaruh Variabel Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Berdasarkan hasil regresi, variabel Rata-Rata Lama Sekolah (X. memiliki nilai t Oe2,106280 dengan signifikansi 0,0402 (<0,. , sehingga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Kawasan Kedu Raya. Koefisien negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi rata-rata lama sekolah, semakin rendah jumlah penduduk miskin, sesuai dengan human capital theory yang menyatakan bahwa pendidikan meningkatkan keterampilan, produktivitas, dan peluang kerja sehingga berdampak pada kenaikan pendapatan (Becker, 1. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, seperti (Setiawan. , & Prasetyo, 2. , (Wijaya, 2. , dan (Knight, 2. , yang sama-sama menemukan bahwa peningkatan rata-rata lama sekolah berpengaruh negatif signifikan terhadap Namun, dampak pendidikan sering membutuhkan waktu lebih panjang dan dipengaruhi faktor lain seperti kualitas sekolah, relevansi kurikulum, dan ketersediaan lapangan kerja (Psacharopoulos. , & Patrinos, 2. , sehingga peningkatan RLS di Kedu Raya tidak selalu langsung menurunkan kemiskinan tanpa dukungan sistem pendidikan dan pasar kerja yang selaras. Analisis Pengaruh Variabel Rasio Ketergantungan Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Hasil uji t menunjukkan bahwa Rasio Ketergantungan (X. memiliki nilai t-statistic sebesar 0,889547 dengan tingkat signifikansi 0,3780 (> 0,. Hal ini menandakan bahwa secara parsial rasio ketergantungan tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Kawasan Kedu Raya. Koefisien bernilai positif meningkatkan kemiskinan, namun pengaruh tersebut belum signifikan secara Secara teoritis, rasio ketergantungan yang tinggi meningkatkan beban ekonomi penduduk usia produktif dan berpotensi menekan tabungan serta investasi rumah tangga (Todaro. , & Smith, 2. Namun, ketidaksignifikanan hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa beban tanggungan di Kedu Raya kemungkinan masih dapat ditopang oleh pendapatan keluarga besar, partisipasi kerja penduduk produktif, serta dukungan program bantuan sosial. Temuan ini sejalan dengan (Indah. , & Mulyono, 2. serta (Rahmawati. , & Yusuf, 2. , yang menyatakan bahwa produktivitas penduduk produktif dan perlindungan sosial dapat meredam dampak rasio ketergantungan terhadap Perbedaan hasil dengan penelitian (T. Sari, 2. menunjukkan bahwa pengaruh rasio ketergantungan sangat bergantung pada kondisi sosial ekonomi lokal. Oleh karena itu, upaya pengurangan kemiskinan di Kawasan Kedu Raya tidak cukup hanya menekan rasio ketergantungan, tetapi perlu diiringi dengan peningkatan produktivitas penduduk usia kerja, perluasan kesempatan kerja, serta penguatan program jaminan sosial dan pendidikan, agar beban tanggungan tidak berkembang menjadi kemiskinan struktural dan kultural. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis. UMK berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Kawasan Kedu Raya karena peningkatan pendapatan mampu memperkuat kemandirian ekonomi dan mengurangi pola hidup subsisten. RLS juga berpengaruh negatif dan signifikan, menunjukkan bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk orientasi masa depan dan mendorong perubahan nilai serta perilaku masyarakat sehingga menurunkan kemiskinan Sebaliknya. AHH dan Rasio Ketergantungan (RK) menunjukkan pengaruh positif namun tidak signifikan. Peningkatan AHH mencerminkan perbaikan kesehatan, tetapi belum diikuti perubahan etos kerja dan aspirasi ekonomi, sementara pengaruh RK relatif lemah karena masih kuatnya dukungan keluarga, budaya gotong royong, dan bantuan sosial yang menahan dampak beban tanggungan terhadap kemiskinan. Secara simultan. UMK. AHH. RLS, dan RK berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin di Kawasan Kedu Raya, sehingga pengurangan kemiskinan kultural memerlukan kebijakan terpadu yang mengintegrasikan peningkatan pendapatan, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial. Saran Kebijakan UMK di Kedu Raya perlu dievaluasi dan disesuaikan secara berkala dengan mempertimbangkan kebutuhan hidup layak agar dapat meningkatkan kesejahteraan tanpa menimbulkan kesenjangan antarwilayah. Peningkatan kualitas pendidikan harus diperkuat melalui pengawasan wajib belajar dan penyediaan pelatihan keterampilan bagi masyarakat berpendidikan rendah. Selain itu, pemerintah daerah perlu menyinergikan kebijakan ekonomi dan sosial dengan penciptaan lapangan kerja baru di sektor potensial seperti pertanian modern, pariwisata, dan industri kreatif agar dampak penurunan kemiskinan lebih merata dan berkelanjutan. Daftar Pustaka