Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. COST OVERRUN AKIBAT DESAIN. ESTIMASI DAN REWORK SEBELUM IMPLEMENTASI KONSTRUKSI DIGITAL PADA KINERJA BIAYA KONSTRUKSI GEDUNG INDONESIA Bagus Prima Anugerah1. Mawardi Amin2, dan Agus Suroso3 1Prodi Magister Teknik Sipil. Universitas Mercu Buana. Jl. Meruya Selatan No. Kembangan. Jakarta Barat 11650 Email korespondensi: bagusprimaa@yahoo. 2Prodi Magister Teknik Sipil. Universitas Mercu Buana. Jl. Meruya Selatan No. Kembangan Jakarta Barat 11650 Email: s2. tsumb@gmail. 3Prodi Magister Teknik Sipil. Universitas Mercu Buana. Jl. Meruya Selatan No. Kembangan Jakarta Barat 11650 Email: agussrs@yahoo. ABSTRAK Cost overrun merupakan fenomena yang masih terjadi pada pekerjaan konstruksi gedung Indonesia sampai dengan saat ini dengan beragam faktor penyebabnya. Hampir seluruh konstruksi gedung mengalami penambahan biaya, yang terkadang diiringi oleh penambahan Perubahan desain yang tak terduga selalu menimbulkan masalah baru dalam suatu pekerjaan konstruksi. Estimasi yang salah, serta rework yang terjadi dapat menghasilkan cost overrun yang mempengaruhi kinerja biaya. Tidak hanya Indonesia, permasalahan dunia konstruksi masih pada ketepatan kesesuaian pencapaian atas rencana biaya, mutu, dan waktu. Penambahan biaya ini sudah menjadi keniscayaan, hanya para stakeholder kegiatan konstruksi selalu berupaya memperkecil nilai tambahan biaya yang akan terjadi. Banyak variabel penyebab cost overrun, diantaranya pada tahap pra pelaksanaan: desain, estimasi, dan pada tahap pelaksanaan: rework. Penelitian ini mempelajari cost overrun yang terjadi akibat tiga variabel penyebab cost overrun tersebut serta mempelajari perubahan kinerja biaya itu sendiri dengan RII. Hasil analisa menggunakan SPSS dengan Model Regresi Linier Berganda, didapatkan ketiga variabel tersebut masih berpengaruh menyebabkan cost overrun dengan nilai > 3%, dengan RII hasil cost overrun pada kinerja biaya terjadi pada biaya alat, nilai akhir kontrak, dan biaya operasional. Hasil dari uji kebaikan model menunjukkan nilai adjusted r square sebesar 3. 5% yang artinya variabel bebas dalam model menjelaskan keragaman dari variabel terikatnya sebesar 3. 5% sedangkan 96. 5% lainnya dijelaskan oleh variabel bebas lain yang tidak disertakan dalam model penelitian. Hal ini dapat terjadi karena begitu banyaknya variabel penyebab cost overrun pada konstruksi. Kata Kunci: Cost overrun. Kinerja Biaya. Desain. Estimasi. Rework ABSTRACT Cost overrun is a phenomenon that still occurs in Indonesian building construction work until now with various factors causing it. Almost all building constructions experience additional costs, which are sometimes accompanied by additional time. Unexpected design changes always cause new problems in a construction work. Incorrect estimates, as well as rework that occurs can result in cost overruns that affect cost performance. Not only Indonesia, the problem in the construction world is still the accuracy of the achievement of the planned cost, quality, and time. This additional cost has become a necessity, only the stakeholders of construction activities always try to minimize the value of the additional costs that will occur. Many variables cause cost overrun, including at the pre-implementation stage: design, estimation, and at the implementation stage: rework. This research studies the cost overrun that occurs due to the three variables causing the cost overrun and studies the changes in cost performance itself with RII. The results of the analysis using SPSS 42 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 with Multiple Linear Regression Model, it was found that the three variables still had an effect on causing cost overrun with a value of > 3%, with RII the results of cost overrun on cost performance occurred in tool costs, final contract value, and operational costs. The results of the model goodness test show the adjusted r square value of 3. 5%, which means that the independent variable in the model explains the diversity of the dependent variable by 3. 5% while the other 96. 5% is explained by other independent variables not included in the research model. This can happen because there are so many variables that cause cost overrun in construction. Keywords: Cost overrun. Cost Performance. Design. Estimation. Rework PENDAHULUAN Faktor kesuksesan kinerja konstruksi dapat dinilai dari performa biaya, mutu, dan Pencapaian akhir penyelesaian konstruksi dengan biaya dan waktu yang tepat, serta sesuai dengan mutu yang telah dipersyaratkan dan disepakati bersama merupakan nilai tambah bagi suatu tim menyebutkan bahwa faktor realisasi nilai akhir kontrak juga dapat dipertimbangkan dalam penilaian kinerja. Selain tiga faktor kesuksesan kinerja konstruksi diatas . menyebutkan bahwa faktor lingkup pekerjaan juga perlu diperhatikan untuk mendukung kesuksesan suatu proyek, dan pada akhirnya empat faktor ini akan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Cost overrun merupakan satu dari permasalahan konstruksi di Indonesia . Penambahan anggaran tak terduga selalu menimbulkan masalah baru dalam suatu Tidak Indonesia, permasalahan dunia konstruksi pencapaian atas rencana biaya, mutu, dan Walaupun pencapaian target mutu sudah mulai berhasil, namun ketepatan kesesuain pencapaian atas rencana biaya, dan waktu masih menjadi isu hangat dalam dunia konstruksi saat ini. Banyak penelitian menyebutkan bahwa ketidakjelasan atau kesalahan desain juga merupakan salah satu faktor menyebabkan terjadinya cost overrun di banyak negara, seperti Malaysia. Pakistan. Jordan. Nigeria. Qatar. New Zealand, dll Beberapa contohnya antara lain, seperti menurut . menyimpulkan bahwa dalam ada 28 penyebab cost overrun di Malaysia, faktor yang signifikan diantaranya desain . erencanaan yang tidak benar, seringnya perubahan desain, dl. Sementara itu menurut . di Pakistan menyimpulkan pengambilan keputusan juga menyebabkan cost overrun. Secara garis besar permasalahan yang seringkali terjadi dalam dunia konstruksi sampai dengan saat ini dapat kita identifikasi sebagai berikut: Kinerja memuaskan saat proyek telah selesai Cost overrun masih seringkali terjadi dengan beragam Desain, estimasi, dan perbaikan masih menjadi masalah utama penyebab cost overrun Ketidakjelasan atau kesalahan desain membuat tahap pelaksanaan susah untuk dijalankan, integrasi antar lingkup pekerjaan struktur, arsitektur, dan ME menjadi kendala utama dengan sistem desain yang parsial. Proses perencanaan yang tidak akurat, baik metode, waktu, dan biaya seringkali terjadi baik dari proses tender, maupun Seringkali ini terjadi karena estimator tidak mampu menganalisa detail dan konstruksi yang akan diakukan Biaya perbaikan masih saja sering terjadi, hal ini disebabkan kesalahan pelaksanaan sebagai akibat dari tidak 43 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 Penelitian ini bertujuan mempelajari nilai rentang cost overrun yang terjadi pada variabel desain, estimasi, dan rework untuk konstruksi gedung di Indonesia Teknologi digital saat ini telah memasuki seluruh bidang kehidupan dan profesi, tidak terlepas pada industri konstruksi yang biasa disebut konstruksi digital, dan penerapan konstruksi digital telah berjalan beberapa tahun terakhir pada dunia konstruksi internasional, dan konstruksi Indonesia Cost Overrun Cost overrun adalah suatu kondisi realisasi biaya konstruksi melebihi dari rencana anggaran yang telah dibuat. Menurut . hal ini terjadi di seluruh kegiatan konstruksi, dengan salah satu penyebab utama terlalu banyak perubahan dari owner. Konstruksi gedung di Indonesia lebih banyak mengalami cost overrun dari pada time overrun . , dan penyebab utama hal ini diantaranya adalah tidak akurat dalam perhitungan volume. menyatakan perubahan dan desain yang tidak efektif dari owner juga menjadi faktor penyebab cost and time overrun. menyimpulkan bahwa rework juga faktor penyebab utama cost Indonesia. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu sampai dengan saat ini dapat disimpulkan bahwa fenomena ini masih tetap ada dan belum ada solusi yang tepat di Indonesia. METODOLOGI Penelitian kuesioner dengan menggunakan variabelvariabel penyebab cost overrun pada penelitian sebelumnya. Jenis data yang digunakan berupa data kuantitatif yang terukur secara langsung dalam bentuk rentang persentase bilangan atau angka diperlukan untuk mengamati perubahan kinerja biaya sebagai akibat dari variabel cost overrun. Sumber data primer diperoleh melalui kuesioner kepada pelaku jasa konstruksi yang belum menerapkan BIM Kuesioner akan dibagi pada dua bagian utama, bagian pertama pertanyaan terkait profil responden mulai dari nama, usia, tingkat pendidikan, jabatan, pengalaman kerja, dan proyek yang telah/sedang Bagian kedua pertanyaan terkait besar rentang nilai cost overrun akibat variabel Variabel Penelitian Untuk mempermudah dan membatasi permasalahan yang ada diperlukan definisi konseptual yang diteliti dibatasi pada variabel yang dijadikan acuan penelitian: Desain Variabel desain dalam penelitian ini responden terkait cost overrun dan perubahan kinerja biaya yang terjadi akibat hasil perencanaan yang dibuat tanpa menggunakan konstruksi digital pada setiap tahapan project life cycle. Estimasi Variabel estimasi dalam penelitian ini responden terkait cost overrun dan perubahan kinerja biaya yang terjadi akibat hasil estimasi yang dibuat tanpa menggunakan konstruksi digital pada setiap tahapan project life cycle. Perbaikan . Variabel pekerjaan dalam penelitian ini untuk menganalisis pendapat responden terkait cost overrun dan perubahan kinerja biaya yang terjadi akibat rework yang terjadi karena tidak sempurnanya proses desain dan estimasi yang dibuat tanpa menggunakan konstruksi digital pada setiap tahapan project life cycle. 44 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 Uji Validitas Suatu instrumen penelitian dapat dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat mengukur sesuai dengan harapan peneliti. Salah satu metode yang digunakan dalam menguji validitas adalah metode Alpha. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut: Menuliskan hipotesis H0 : skor butir pertanyaan berkorelasi positif dengan skor H0 : skor butir pertanyaan tidak berkorelasi positif dengan skor Menentukan nilai r tabel dengan tingkat signifikansi 5% Menghitung nilai r pada masing-masing pertanyaan yang ada dalam kuesioner pada output SPSS di bagian correlated item correlation Menentukan keputusan Jika r > 0 dan rkuesioner > rtabel maka variabel tersebut valid Jika r < 0 dan rkuesioner < rtabel maka variabel tersebut tidak valid Uji Reliabilitas Suatu instrumen penelitian dapat dikatakan reliabel apabila instrumen tersebut dapat dipercaya atau dapat memberikan hasil yang relatif konsisten ketika digunakan berulang kali. Uji reliabilitas ini dapat digunakan jika hasil dari uji validitas memiliki hasil yang valid. Metode yang digunakan dalam uji reliabilitas adalah metode CronbachAos alpha. Suatu instrumen dikatakan reliabel dan dapat digunakan lebih lanjut jika CronbachAos alpha pada semua butir pertanyaan bernilai lebih dari 0,6. Selain menggunakan metode CronbachAos menggunakan metode uji t dengan rumus sebagai berikut: ycOoycuOe2 yc = Oo1Oeyc2 Dengan n = jumlah observasi, r = nilai pada uji validitas. Jika thitung > ttabel maka terdapat korelasi Jika thitung < ttabel maka tidak terdapat Secara umum, analisis regresi bertujuan mengetahui hubungan antar variabel . Selain itu juga dapat digunakan dalam memprediksi suatu variabel . ariabel terikat/. yang didasarkan satu atau lebih variabel . ariabel bebas/. Variabel terikat memiliki sifat stokastik atau random yang berarti variabel akan mengikuti distribusi peluang tertentu. Sedangkan variabel bebas memiliki sifat deterministik atau tidak random yang berarti variabel ditentukan oleh peneliti. Analisis regresi linier berganda digunakan apabila memenuhi kondisi berikut: Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat memiliki sifat linier Terdapat lebih dari satu variabel bebas di dalam model Model regresi linier berganda Menurut . model umum regresi linier persamaan berikut: ycycn = yu0 yu1 ycu1ycn yu2 ycu2ycn U yuycyOe1 ycuycyOe1 ycn yuAycn Dengan yi = variabel terikat pada pengamatan ke-I, x1i, x2i. A, xp-1i = variabel bebas pada pengamatan ke-I, 0 = intercept, 1, 2. A, p-1 = parameter yang digunakan. Ai = error pada pengamatan ke-I, i = pengamatan ke 1, 2. A, n. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 1. menunjukkan karakteristik responden berdasarkan umur, didapatkan bahwa penelitian ini didominasi oleh responden pada kategori umur 30 Ae 40 tahun yaitu sebanyak 25 dari 55 responden atau sebesar 45. 5% responden penelitian, selanjutnya diikuti oleh kategori umur 40 Ae 50 tahun sebesar 32. 7% dan kategori umur 20 Ae 30 tahun sebanyak 14. 5% serta sisanya 3% berumur diatas 50 tahun. 45 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur. Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Bidang Pekerjaan. Bidang_Pekerjaan Usia Freq Valid > 50 thn Valid Cum. 20 - 30 thn 30 - 40 thn 40 - 50 thn Total Valid Tabel 2. menunjukkan karakteristik responden menurut Pendidikan, didapatkan bahwa responden penelitian ini didominasi oleh lulusan S1 yaitu sebanyak 43 dari 55 orang atau sebesar 78. 2% responden penelitian, berikutnya diikuti oleh lulusan S2 sebesar 14. 5% serta sisanya yaitu lulusan SMA/STM dan D3 secara berturut Ae turut adalah sebesar 5. 5% dan 1. Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan. Pendidikan Freq Valid Cum. Valid D3 SMA / STM Total Tabel 3. menunjukkan karakteristik responden berdasarkan bidang pekerjaan, didapatkan bahwa responden penelitian ini sangat didominasi oleh responden dengan bidang pekerjaan kontraktor yaitu sebanyak 47 dari 55 responden atau sebesar 85. responden penelitian, sedangkan 7. berada pada bidang pekerjaan Instansi Swasta/Developer. Konsultan Pengawasan/Manajemen, dan 1. 8% lainnya. Valid Cum. Kontraktor Lainnya Total Freq Instansi Swasta / Developer. Konsultan Pengawasan Managemen Tabel responden berdasarkan posisi/jabatan, didapatkan bahwa responden penelitian ini cukup didominasi oleh posisi/jabatan project manager sebanyak 17 dari 55 responden atau sebesar 30. 9% responden posisi/jabatan engineering manager/PEM /SEM sebanyak 11 dari 55 responden atau 0% responden penelitian, sedangkan posisi/jabatan sisanya yaitu staff manager/construction manager sebanyak 5%, staff produksi dan lainnya masing Ae masing sebesar 5. 5%, manager biro sebesar 8%, staff QHSE sebesar 1. 8%, dan general Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Posisi/Jabatan Posisi Freq % ValidEngineering Manager / PEM / SEM Valid Cum. General Manager / Kepala Divisi / Kepala Unit Lainnya 46 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 Posisi Freq % Valid Cum. Manager Biro / Divisi / Unit Production Manager / Construction Manager / PPM / SOM Project Manager Staff Engineering Staff Produksi Staff QSHE Total Tabel 5. menunjukkan karakteristik responden berdasarkan lama bekerja, didapatkan bahwa responden penelitian ini cukup merata dari responden yang memiliki lama bekerja dari umur nol sampai dengan tiga puluh tahun. Adapun yang tertinggi yaitu responden dengan kategori lama bekerja pada kategori 10 Ae 15 tahun sebanyak 17 dari 55 orang atau sebesar 9% diikuti oleh responden dengan kategori 5-10 tahun dengan responden sebanyak 14 dari 55 orang atau sebesar 5% responden penelitian, serta sisanya 2% pada kategori 15 Ae 20 tahun, 5% pada kategori 20 Ae 30 tahun dan 9% pada kategori 0 Ae 5 tahun. Tabel 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja. Lama_Bekerja Freq Valid 0 - 5 tahun Valid Cum. Uji validitas dan reliabilitas Tabel 6. menunjukkan hasil uji validitas menggunakan item correlation dari variabel desain sebelum digitalisasi. Indikator dapat dikatakan valid apabila memiliki nilai item correlation lebih besar daripada 0. idapatkan dari nilai r tabel dengan derajat kebebasan N-2 = . Tabel 6. bahwa masing Ae masing indikator yaitu X11. X12. X13. X14 dan X15 berturut-turut memiliki nilai item correlation sebesar 736, 0. 649, 0. 827, 0. 719 dan 0. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh indikator dari variabel desain sebelum digitalisasi telah valid. Tabel 6. Uji Validitas Variabel Desain No. Indikator Item Correllation Ket. X11 Valid X12 Valid X13 Valid X14 Valid X15 Valid Tabel 7. menunjukkan hasil uji validitas menggunakan item correlation dari variabel estimasi sebelum digitalisasi. Tabel 7. menunjukkan bahwa masing Ae masing indikator yaitu X21. X22. X23. X24 dan X25 berturut-turut correlation sebesar 0. 741, 0. 782, 0. 809 dan 0. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh indikator dari variabel estimasi sebelum digitalisasi telah Tabel 7. Uji Validitas Variabel Estimasi 10 - 15 tahun No. Indikator Item Correllation Ket. 15 - 20 tahun X21 Valid 20 - 30 tahun X22 Valid 5 - 10 tahun X23 Valid Total X24 Valid 47 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 No. Indikator Item Correllation Ket. X25 Valid Tabel 8. menunjukkan hasil uji validitas menggunakan item correlation dari variabel perbaikan pekerjaan sebelum digitalisasi. Tabel 8. menunjukkan bahwa masingmasing indikator yaitu X31. X32. X33. X34 dan X35 berturut-turut memiliki nilai item correlation sebesar 0. 792, 0. 770, 0. 860 dan 0. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh indikator dari variabel perbaikan pekerjaan sebelum digitalisasi telah valid. Tabel 8. Uji Validitas Variabel Rework No. Indikator Item Correllation Ket. X31 Valid X32 Valid X33 Valid X34 Valid X35 Valid Tabel 9. menunjukkan hasil uji validitas menggunakan item correlation dari variabel kinerja biaya sebelum digitalisasi. Tabel 9. masing-masing indikator yaitu Y11A. Y12A. Y13A. Y14A. Y15A. Y16A dan Y17A berturut-turut memiliki nilai item correlation sebesar 766, 0. 649, 0. 751, 0. 788 dan 0. 661, 0. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh indikator dari variabel kinerja biaya sebelum digitalisasi telah Tabel 9. Uji Validitas Variabel Kinerja Biaya Indikator Item Correllation Ket. Y11A Vali Y12A Vali Indikator Item Correllation Ket. Y13A Vali Y14A Vali Y15A Vali Y16A Vali Y17A Vali Tabel 10. menunjukkan hasil uji reliabilitas dari variabel-variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian. Suatu variabel dapat dikatakan reliabel apabila memiliki nilai CronbachAos Alpha sebesar 0. 600 keatas. Tabel 10. menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai CronbachAos Alpha 600 sehingga seluruh variabel dapat dikatakan reliabel. Tabel 10. Uji Realibilitas No. Variabel Cronbach's Alpha Ket. Desain Reliabel Estimasi Reliabel Rework Reliabel Kinerja Biaya Reliabel Hasil Regresi Linear dan RII Tabel 11 menunjukkan hasil dari uji kebaikan model penelitian, dari tabel 11 ditunjukkan nilai adjusted r square sebesar 035 atau sebesar 3. 5% yang artinya variabel bebas dalam model yaitu variabel desain, variabel estimasi, dan variabel perbaikan pekerjaan, dapat menjelaskan keragaman dari variabel terikatnya yaitu variabel kinerja biaya sebesar 3. 5% lainnya dijelaskan oleh variabel bebas lain yang tidak disertakan dalam model penelitian. 48 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 Tabel 11. Uji Kebaikan Model Model Summaryb Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. X3. X1. X2 Dependent Variable: YA Tabel 12 menunjukkan hasil uji simultan dari penelitian, dari tabel 12 didapatkan nilai statistik uji dari uji F sebesar 1. dengan P-value sebesar 0,188 . iatas taraf signifikansi alpha sebesar 0,. Dengan demikian dengan taraf signifikansi lima persen belum dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh simultan yang signifikan dari variabel bebas penelitian yaitu variabel desain, variabel estimasi, dan variabel perbaikan pekerjaan, terhadap variabel terikatnya yaitu variabel biaya kinerja. Tabel 12. Hasil Uji Simultan (Uji F) ANOVAa Model Sum of Mean Squares df Square 1Regression Residual Total 0,357. Hal tersebut mengartikan bahwa variabel desain memiliki hubungan positif (Kofisien Beta = 0,. dan tidak signifikan (P-value = 0,357 > 0,. terhadap variabel biaya kinerja. Pengaruh Variabel Estimasi terhadap Variabel Biaya Kinerja Pada tabel 13. ditunjukkan nilai koefisien beta untuk pengaruh variabel estimasi terhadap variabel biaya kinerja sebesar -0,117 dengan P-value sebesar 0,496. Hal tersebut mengartikan bahwa variabel estimasi memiliki hubungan negative (Kofisien Beta = -0,. dan tidak signifikan (P-value = 0,496 > 0,. terhadap variabel biaya kinerja. Pengaruh Variabel Perbaikan Pekerjaan terhadap Variabel Biaya Kinerja Pada tabel 13. ditunjukkan nilai koefisien beta untuk pengaruh variabel perbaikan pekerjaan terhadap variabel biaya kinerja sebesar 0,177 dengan Pvalue sebesar 0,295. Hal tersebut mengartikan bahwa variabel perbaikan pekerjaan memiliki hubungan positif (Koefisien Beta = 0,. dan tidak signifikan (P-value = 0,295 > 0,. terhadap variabel biaya kinerja. Sig. Tabel 13. Hasil Uji Parsial (Uji T) Coefficientsa Std. Unstd. Coeff. Coeff. Dependent Variable: YA Predictors: (Constan. X3. X1. X2 Hal ini menunjukkan tingkat hubungan antar variabel sangat rendah, ketiga variabel bebas sebelum digitalisasi tidak mampu menjelaskan pengaruh terhadap kinerja Berdasarkan Hasil Uji Parsial (Uji T): Pengaruh Variabel Desain terhadap Variabel Biaya Kinerja Pada tabel 13. ditunjukkan nilai koefisien beta untuk pengaruh variabel desain terhadap variabel biaya kinerja sebesar 0,156 dengan P-value sebesar Mode Std. Error Beta Coll. Stat. Sig. Tol. (Const 1. Dependent Variable: YA Pada tabel 14 menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan variabel desain dapat menyebabkan penambahan biaya 2 - 3%, bahkan dapat lebih dari 3% 49 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 jika seringnya terjadi perubahan desain bahkan terjadi kesalahan desain. Tabel 14. Mayoritas Jawaban Responden Atas Variabel Desain Pertanyaan Cost Overrun X23 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat durasi pekerjaan dan waktu pelaksanaan tdk realistis 1 Ae 2% X24 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat kesalahan perhitungan biaya >3% X25 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat proses estimasi tidak akurat 1-2% Cost Overrun Pertanyaan X11 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat kesalahan >3% X12 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat desain tdk 2 Ae 3% X13 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat perubahan >3% X14 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat seringnya perubahan desain >3% X15 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat keterlambatan desain 2 Ae 3% Pada Tabel 16 menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan variabel perbaikan pekerjaan dapat menyebabkan penambahan biaya 1 - 2%, bahkan dapat lebih dari 3% jika seringnya terjadi perubahan pekerjaan yang tidak dapat tergambarkan sebelumnya menggunakan Tabel 16. Mayoritas Jawaban Responden Atas Variabel Rework Pada Tabel 15 menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan variabel estimasi dapat menyebabkan penambahan biaya 1 - 2%, bahkan dapat lebih dari 3% jika terjadi kesalahan proses perhitungan keseluruhan estimasi biaya. Pertanyaan Cost Overru Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat kompleksitas pekerjaan yang 1 - 2% Tabel 15. Mayoritas Jawaban Responden Atas Variabel Estimasi. Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat kesalahan pelaksanaan yang tidak tergambarkan 1 - 2% Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat sering / terlalu banyak perubahan pekerjaan yang dapat >3% Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat buruknya management / tata kelola proyek 1 - 2% Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat 1 - 2% Pertanyaan X21 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat kesalahan perhitungan volume X22 Berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat kesalahan perhitungan waktu Cost Overrun 1 Ae 2% 1 Ae 2% 50 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 Cost Overru Pertanyaan komunikasi / koordinasi yg kurang baik antar para pihak Pada Tabel 17 menunjukkan RII Kinerja Biaya, hal ini terlihat bahwa kinerja biaya alat menempati peringkat teratas diikuti oleh nilai akhir kontrak, dan kinerja biaya operasional dengan nilai penambahan biaya 2 Ae 3%. Tabel 17. Hasil Uji RII Kinerja Biaya Pertanyaan Cost Overrun Berapa kinerja biaya upah yang 2 Ae 3% Berapa kinerja biaya bahan yang Berapa kinerja biaya alat yang RII Indeks Rank 2 Ae 3% 2 Ae 3% 2 Ae 3% 2 Ae 3% Berapa total kinerja biaya yang terjadi 2 Ae 3% Berapa kinerja biaya nilai akhir 2 Ae 3% Berapa kinerja biaya yang terjadi Berapa kinerja biaya yang terjadi Pertanyaan Cost Overrun RII Indeks Rank kontrak yang Pembahasan Karena variabel desain, estimasi dan rework tidak banyak menjelaskan keragaman terhadap variabel kinerja biaya, sehingga nilai R - Square nya kecil sebesar 0. 089, hal tersebut didukung oleh hasil dari uji t dengan seluruh variabel bebas memiliki pvalue diatas 0. 05 yang menyatakan bahwa keseluruhan variabel bebas dalam model penelitian tidak mampu menjelaskan pengaruh terhadap kinerja biaya. Selain itu, diindikasikan bahwa variabel multidimensi dimana banyak faktor yang mempengaruhi atau menentukan tinggi atau rendahnya kinerja biaya tersebut, contoh variabel lain yang mempengaruhi kinerja biaya adalah faktor lingkungan dan faktor Tidak signifikannya ketiga variabel ini dapat terjadi mengingat banyaknya komponen penyebab cost overrun, mulai dari lima belas faktor yang telah diteliti di Israel . , dua puluh faktor pada proyek rumah sakit di Vietnam . , dua puluh delapan faktor proyek gedung di Malaysia. , bahkan dapat mencapai tiga puluh sembilan faktor . , serta enam puluh empat faktor proyek gedung di Pakistan . Penelitian terdahulu di beberapa negara lain, tiga variabel ini . esain, estimasi, dan rewor. masih menjadi penyebab cost overrun dalam dunia konstruksi, begitu juga konstruksi gedung di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwasanya fenomena cost overrun pada konstruksi gedung Indonesia sejak 1997 masih terjadi dengan beberapa akibat seperti kompleksitas pekerjaan melalui desain dan tidak akuratnya estimasi . , dan hal ini ditegaskan kembali ditambah seringnya perubahan desain sangat mempengaruhi cost overrun . 51 | K o n s t r u k s i a Jurnal Konstruksia | Volume 13 Nomer 2 | [Bagus-Mawardi-Agus_Jul. 2022 Walaupun variabel desain dinilai tidak signifikan, namun dapat menyebabkan cost overrun > 3%. Dapat kita simpulkan bahwa kesalahan dan seringnya perubahan desain menyebabkan cost overrun > 3% jauh lebih besar dari pada keterlambatan desain dan desain yang tidak efektif. Hal ini sangat mungkin terjadi karena awal dari setiap proses perencanaan konstruksi gedung adalah desain. Ketika merencanakan sesuatu atas desain yang salah maka akan berakibat fatal terhadap biaya. Sama dengan variabel desain, variabel estimasi dapat menyebabkan cost overrun > 3% jika terjadi kesalahan saat total perhitungan rencana anggaran biaya. Kesalahan pada salah satu unsur proses estimasi biaya seperti perhitungan volume, harga, atau waktu, hanya menyebabkan cost overrun 1 - 2%. Hal ini sangat memungkinkan terjadi karena kesalahan pada salah satu unsur proses estimasi masih dapat ditutupi dari unsur lainnya, namun ketika salah pada estimasi total komponen biaya akan menyebabkan cost overrun kepada keseluruhan biaya. Pada variabel perbaikan pekerjaan / rework dapat menyebabkan cost overrun > 3% akibat sering atau terlalu banyaknya perubahan pekerjaan. Hal ini dapat dipahami bahwa perubahan pekerjaan apalagi terjadi saat pekerjaan sedang berjalan atau sudah selesai akan menimbulkan biaya perbaikan yang besar sehingga berdampak kepada kinerja biaya akhir proyek. KESIMPULAN Dari uraian ini dapat kita simpulkan bahwa variabel utama penyebab adalah: Dengan kondisi kurang sempurna, tidak kesalahan desain, variabel desain dapat menyebabkan cost overrun > 3% Dengan kondisi kurang dan atau kesalahan dalam proses estimasi dan detil perhitungan rencana anggaran biaya, termasuk dalam hal ini perhitungan volume, perhitungan waktu, penetapan metode kerja, sampai dengan perhitungan final anggaran menyebabkan cost overrun > 3% Dengan kondisi seringnya perubahan pekerjaan, variabel rework dapat menyebabkan cost overrun > 3% Urutan cost overrun pada kinerja biaya terjadi pada biaya alat, nilai akhir kontrak, dan biaya operasional DAFTAR PUSTAKA