Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi PENGARUH FRAUD TRIANGLE TERHADAP FRAUDULENT FINANCIAL STATEMENT DENGAN CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL MODERASI Yuni Widawati1 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta yuniiwida@gmail. Adam Zakaria2 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta azdelima@yahoo. Petrolis Nusa Perdana3 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta petrolis@unj. Abstrak Kecurangan pada laporan keuangan merupakan salah satu bentuk fraud yang menyebabkan kerugian bagi stakeholder. Baru-baru ini kecurangan pada laporan keuangan marak terjadi pada sektor industri finansial dan perbankan yang menyebabkan industri finansial dan perbankan menjadi sektor yang paling dirugikan akibat fraudulent financial statement. Sasaran dari riset ini adalah untuk melakukan uji coba aspek-aspek yang berpengaruh pada fraudulent financial statement dengan pendekatan fraud triangle. Objek riset ini ialah lembaga bank yang listed pada Bursa Efek Indonesia pada kurun waktu 2017-2019. Riset ini memakai 102 sampel yang diambil memakai teknik purposive sampling. Analisa data dilaksanakan dengan regresi data panel. Hasil riset ini memperlihatkan bahwa rationalization mempunyai korelasi signifikan kepada fraudulent financial statement, sementara variabel financial target dan ineffective monitoring tidak mempunyai korelasi signifikan kepada fraudulent financial statement. Selain itu, riset ini menunjukkan bahwa corporate governance dapat memperlemah pengaruh rationalization kepada fraudulent financial statement namun tidak dapat memperlemah pengaruh financial target dan ineffective monitoring terhadap fraudulent financial statement. Kata kunci: Kecurangan laporan keuangan, fraud triangle, target keuangan, pengawasan tidak efektif, rasionalisasi, tata kelola perusahaan Pendahuluan Berdasarkan Survei Fraud Indonesia pada tahun 2019 yang dipublikasikan oleh Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) memperlihatkan bahwa pihak banyak mendapat kerugian diakibatkan fraud ialah industri finansial serta perbankan dengan persentase sebesar 41,4%, kemudian di posisi kedua yaitu pemerintahan sebesar 33,9% dan posisi ketiga yaitu industri Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi pertambangan sebesar 5%. Hal ini selaras dengan Report to The Nations 2018 yang juga memperlihatkan bahwa industri perbankan dan keuangan menjadi organisasi yang paling dirugikan akibat fraud. Padahal sebelumnya pada Survei Fraud Indonesia 2016, industri perbankan dan keuangan berada pada posisi kedua lembaga yang banyak mendapatkan kerugian akibat fraud. Maka dapat disimpulkan bahwa sejak 2016 sampai 2019, kerugian yang dialami industri keuangan dan perbankan akibat fraud justru meningkat dan Kasus fraud paling baru yang terjadi pada bulan November 2020 menimpa Winda Lunardi yang merupakan nasabah Bank Maybank Indonesia menggegerkan publik atas kasus kehilangan uang puluhan miliar rupiah miliknya. Kepala Cabang Bank Maybank Cipulir akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut setelah diketahui menilap uang sebesar Rp 22,87 Menindaklanjuti kasus tersebut. Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan. Anto Prabowo mengimbau Maybank untuk melakukan investigasi dan mengimbau agar segera melakukan tindak lanjut terkait perlindungan nasabahnya (Kontan. com, 2. Suatu kejadian fraud yang dipaparkan tersebut menjadi bukti bahwa meskipun sudah hadir semenjak beratus tahun lalu, sampai sekarang kasus kecurangan . masih kerap terjadi di berbagai sektor industri dan dalam beberapa kasus, kecurangan . bahkan masih sulit dideteksi. Maka dapat disimpulkan meskipun fraud sudah hadir emenjak beratus tahun lalu, sampai sekarang kasus kecurangan . masih kerap terjadi di berbagai sektor industri dan dalam beberapa kasus, kecurangan . bahkan masih sulit dideteksi. Demi mempertahankan nilai perusahaan dan tidak merusak kepercayaan para stakeholder, kecurangan terhadap laporan keuangan sudah seharusnya diminimalisir atau bahkan Cara mendeteksi potensi kecurangan terhadap laporan keuangan menggunakan berbagai teori terkemuka salah satunya yaitu teori fraud triangle. Acuan pada penelitian ini sebagian penelitian-penelitian sebelumnya berupa jurnal dan prosiding yang kecurangan serta beberapa referensi yang menggunakan pendekatan fraud diamond. Dari jurnal- jurnal tersebut, peneliti masih menemukan bahwa banyak hasil penelitian yang belum konsisten terhadap berbagai faktor yang menyebabkan fraudulent financial statement, terutama pada tiga faktor yang jadi variabel bebas pada riset ini. Pertama, dalam riset yang dilaksanakan oleh Rahayu & Dini . financial target tidak berkorelasi kepada kecurangan laporan Hal ini selaras dengan tiga riset lainnya yaitu yang dilaksanakan oleh Safiq & Seles . Wahyuni & Budiwitjaksono . dan Tiapandewi. et al. yang juga menjelaskan bahwa financial target tidak mempunyai korelasi kepada kecurangan laporan finansial. Namun dalam penelitian Sesaria & Manda . menunjukkan bahwa financial target mempunyai korelasi kepada kecurangan laporan finansial. Kedua, menurut penelitian yang dilakukan Rahayu & Dini . dan Rahman. Deliana, & Rihaney . ineffective monitoring tidak memiliki pengaruh terhadap kecurangan laporan finansial, padahal hasil riset Lestari Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi & Henny . memperlihatkan hal yang sebaliknya yaitu ineffective monitoring berkorelasi kepada kecurangan laporan Ketiga, rationalization dikatakan mempunyai korelasi atas fraudulent financial statement berdasarkan riset terdahulu yang ditulis oleh Wahyuni & Budiwitjaksono . Namun Rahman. Deliana, & Rihaney . dalam penelitiannya yang juga menggunakan pendekatan fraud triangle menjelaskan bahwa rationalization tidak mempunyai korelasi kepada fraudulent financial statement. Riset terdahulu yang masih menghasilkan temuan yang belum konsisten, membuat topik ini masih relevan dan menarik untuk dikaji. Kajian Pustaka dan Pengembangan Hipotesis Teori Agensi Jensen & Meckling . pertama kali mengemukakan teori keagenan (Agency Theor. yang menyatakan hubungan antara dua pihak yang mempunyai kepentingan berlainan yaitu principal dan agent. Principal yang dimaksud adalah pihak yang memberikan kewenangan pada agent untuk mengelola perusahaan, pada perihal ini yakni Investor. Sedangkan yang dimaksud agent ialah pihak yang diberi kewenangan untuk menjalankan perusahaan, dalam hal ini yaitu Menurut Zou & Elder . dalam Natalia & Samuel . , asymmetric information merupakan keadan dimana informasi internal perusahaan lebih banyak dimiliki oleh manajemen dibandingkan para pemegang saham. Perihal ini menjadi peluang bagi pihak pengelola untuk mengelola bahkan memanipulasi laba pada laporan keuangan. Maka dari itu, teori keagenan memiliki dua masalah utama yang timbul dalam hubungan diantara pengelola dan investor, yaitu perbedaan kepentingan dan adanya asymmetric information antara principal dan agent. Kedua masalah tersebut kemudian menjadi cikal bakal tindakan Kecurangan Laporan Keuangan (Fraudulent Financial Statemen. Fraudulent financial statement ialah perbuatan tidak etis yang sengaja dilakukan oleh individu atau sekumpulan individu pada menampilkan informasi keuangan yang sudah dimanipulasi sehingga dapat menyesatkan para stakeholder. Menurut Repousis . , kecurangan laporan dilakukan dengan mengabaikan pengendalian manajemen dengan beberapa teknik berikut. Pertama, jurnal fiktif. Kedua, salah memperkirakan penyesuaian dan mengubah pertimbangan yang telah dibuat untuk memperkirakan saldo akun tertentu. Ketiga, memperlambat pengakuan peristiwa dan transaksi yang terjadi selama pelaporan Keempat, menutupi atau tidak menyajikan fakta. Kelima, menggunakan transaksi kompleks yang dilakukan untuk mengungkap laporan keuangan yang salah. Terakhir, mengubah catatan dan kebijakan terkait transaksi yang tidak biasa dan Teori Fraud Triangle Fraud triangle theory pertama kali dijelaskan oleh Donald R. Cressey pada tahun Menurut Cressey, tindakan fraudulent financial statement kerap diikuti dengan tiga elemen yang diistilahkan dengan fraud Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi triangle, yaitu tekanan, peluang, dan Pressure (Tekana. Pada teori fraud triangle, pressure yang disebabkan oleh diri sendiri atau pihak lain menjadi salah satu alasan pelaku berbuat Merujuk Statement on Auditing Standars (SAS) No. 99, ada tiga keadaan umum pada tekanan yang berakibat kepada individu berbuat dalam berbuat curang, yakni external pressure, financial stability, financial target dan personal financial need. Kesempatan (Opportunit. Kesempatan (Opportunit. keadaan ketika seseorang melihat peluang untuk menipu atau berbuat kecurangan. Kesempatan (Opportunit. keadaan ketika seseorang melihat peluang untuk menipu atau berbuat kecurangan. Merujuk pada Statement on Auditing Standards (SAS) No. 99, peluang pada fraudulent financial statement dapat terjadi jika memiliki faktor nature of industry. Rasionalisasi (Rationalizatio. Nakashima . mendefinisikan rasionalisasi sebagai alasan bahwa seorang manajer mengalihkan keputusan subjektifnya pada signifikan sosial dan universal dalam memberikan pembenaran kesalahan atau Merujuk pada SAS No. 99, dua keadaan yang sering terjadi sebagai tolak ukur dari rasionalisasi yaitu pergantian auditor . uditor switc. dan opini audit. Metode Penelitian Penelitian ini menetapkan populasi yaitu lembaga bank yang tercantum di BEI pada tahun 2017 - 2019 yaitu sejumlah 42 Teknik Penarikan sampel dilakukan memakai teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil dari purposive sampling, didapatkan 40 lembaga yang menjadi sampel pada riset ini sedangkan dua lembaga lainnya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan. Kemudian peneliti menemukan sebanyak 18 data outlier sehingga total sampel yang diteliti pada riset ini sejumlah 102 unit. Variabel Dependen Variabel terikat atau variabel Y dalam riset ini ialah kecurangan Laporan Keuangan (Fraudulent financial statemen. Financial statement fraud sebagai variabel dependen dalam riset ini diukur dengan memakai metode F-score yang dikemukakan oleh Dechow. Larson, & Sloan . Perhitungan model F-score adalah dengan menjumlahkan RSST akrual dan financial performance (Skousen. Smith, & Wright. Persamaan dari teknik F-score sebagai F-score = RSST Akrual Financial OIycyc OIycAycyc OIycycycA RSST Akrual = ycyeyeIyeeyeCyeOyeI ycyeayeiyeCyes ycyeiyeiyeIyei Keterangan: WC (Working Capita. = Current Asset Ae Current Liability. NCO (Non-current Operating Accrua. = (Total Asset Ae Current Asset Ae Investment and Advance. Ae (Total Liabilities Ae Current Liabilities Ae Long Term Deb. FIN (Financial Accrua. = Total Investment Ae Total Liabilities ATS (Average Total Asse. yaAyceyciycnycuycuycnycuyci ycNycuycycayco yaycycyceycOeyaycuyccycnycuyci ycNycuycycayco yaycycyceyc Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi Financial Performance = Change in receivable Change in inventory Change in cash sales Change in earnings dalam penelitian ini. mengkalkulasikan ROA dibawah ini: Rumus ycAyceyc ycEycycuyceycnyc ROA = ycNycuycycayco yaycycyceyc Keterangan: Change in receivable = Change in inventory = OIycIyceycayceycnycycaycaycoyce yaycNycI OIyaycuycyceycuycycuycyc yaycNycI OIycIycaycoyceyc OIycIyceycayceycnycycaycaycoyce Change in cash sales = ycIycaycoyceyc . -ycIyceycayceycnycycaycaycoyce . Change in earning = yaycaycycuycnycuyci . cOe. yaycNycI . yaycNycI . cOe. Terdapat modifikasi yang dilakukan pada penelitian ini terhadap rumus financial performance dikarenakan lembag bank termasuk lembaga jasa maka perusahaan perbankan tidak mempunyai akun inventory sehingga nilai change in inventory Disamping itu karena perusahaan perbankan tidak memiliki akun cash sales maka change in cash sales dimodifikasi menjadi change in operating Rumus dari change in operating income yaitu: Change OIycNycuycycayco ycuycyyceycycaycycnycuyci ycnycuycaycuycoyce OIycIyceycayceycnycycaycaycoyce ycNycuycycayco ycuycyyceycycaycycnycuyci ycnycuycaycuycoyce . ycIyceycayceycnycycaycaycoyce . Atas modifikasi tersebut maka rumus financial performance ialah seperti dibawah: Financial performance = change in receivable change in inventories change in operating income change in earnings Variabel Independen Target Keuangan (Financial targe. Financial target ialah target finansial yang ditentukan guna mengukur kinerja Return on assets (ROA) menjadi alat ukur dari financial target Ineffective Monitoring Ineffective monitoring diartikan sebagai pengawasan yang kurang efektif terhadap manajemen sehingga menimbulkan peluang untuk melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan. Riset ini menjadikan rasio jumlah dewan komisaris independen (BDOUT) selaku alat mengukur ineffective monitoring dengan persamaan seperti BDOUT = yaycycoycoycaEa yccyceycycaycu ycoycuycoycnycycaycycnyc ycnycuyccyceycyyceycuyccyceycu yaycycoycoycaEa ycycuycycayco yccyceycycaycu ycoycuycoycnycycaycycnyc Rationalization Rasionalisasi alasan bahwa seorang manajer mengalihkan keputusan subjektifnya pada signifikan sosial penyalahgunaannya (Nakashima, 2. Pada riset ini ini rasionalisasi dilakukan proksi dengan opini audit. Pada riset ini rasionalisasi (AUDREPORT) dengan pengukuran sebagai AUDREPORT = Variabel dummy, kode 1 jika perusahaan menerima opini wajar Wajar Tanpa Pengecualian dan kategori 0 jika perusahaan menerima opini lain selain Wajar Tanpa Pengecualian Variabel Moderasi Riset ini memakai variabel moderasi yakni corporate governance yang dilakukan institusional (Institutional ownershi. sebagai alat ukur variabel corporate governance. Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi Kepemilikan institusional ialah kuantitas surat berharga yang dipunyai oleh investor Merujuk pada penelitian dirumuskan sebagai berikut: INST = ycIycaEaycayco ycycaycuyci yccycnycoycnycoycnycoycn ycnycuycycycnycycycycn ycoycaycnycu ycIycaEaycayco ycycaycuyci ycayceycyceyccycayc Teknik Analisa Data Analisa Statistik Deskriptif Berdasarkan pendapat Ghozali . , analisa statistik deskriptif memberi gambaran data dengan melihat nilai rerata, nilai maksimum, standar deviasi, dan nilai minimum, range, sum, kemencengan dan Sehingga tujuan analisis deskriptif adalah untuk menggambarkan variabelvariabel yang diteliti dengan utuh pada periode riset yang ditentukan dan bermanfaat dalam melaksanakan analisa data. Uji Pemilihan Model Estimasi Riset ini memakai data panel untuk lembaga perbankan yang tercantum di BEI dan telah memenuhi kriteria yang telah Ada tiga model estimasi untuk menganalisa regresi data panel, yaitu common effect model, random effect model dan fixed effect model. Selanjutnya dalam memilah model estimasi terbaik ada tiga uji yang dapat dilaksanakan, yakni uji coba chow, uji cba hausman, dan uji coba lagrange multiplier. Uji Asumsi Klasik Uji coba asumsi klasik yang dilaksanakan pada riset ini ialah uji coba Tujuan multikolinearitas yaitu untuk mencari tahu apakah terdapat korelasi antar variabel bebas (Ghozali. Sedangkan heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah error bersifat tetap atau berubahubah. Analisis Regresi Data Panel Analisa regresi data panel dilakanakan memakai menggunakan software Eviews 9 untuk menjelaskan pengaruh financial target, ineffective monitoring dan rationalization kepada fraudulent financial statement serta menjabarkan korelasi corporate governance dalam melakukan moderasi pengaruh financial target, ineffective monitoring dan dan rationalization kepada fraudulent financial statement. Maka persamaan regresi pada penelitian ini yaitu: FRit = yuya yuya ycycycyeOyei yuya ycycycycycyeOyei yuyc ycycycycycycycycycyeOyei yuye . cycycyeOyei Oe ycycAycycyeOye. cycycycycyeOyei Oe ycycAycycyeOye. cycycycycycycycycyeOyei Oe ycycAycycyeOye. yuyeOyei Dimana: FR = Fraudulent financial statement. Konstanta. 1-6 = Koefisien regresi. ROA = Financial target. BDOUT = Ineffective AUDREPORT = Rasionalisasi. |ROA-INST|= Interaksi antara financial target dengan corporate governance. |BDOUT-INST| = Interaksi antara ineffective monitoring dengan corporate governance. |AUDREPORT-INST| = Interaksi antara rasionalisasi dengan corporate governance. = Error. i = Cross section. t = Time series Uji T Tujuan tes statistik T pada penelitian ini adalah guna menguji dampak dari setiap variabel bebas kepda variabel terikat (Ghozali, 2. Uji coba statistik T dapat dilaksanakan dengan memakai tingkat signifikan 5% ( = 0,. Hipotesa pada uji coba berikut ini: Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi H0 = Variabel bebas berkorelasi kepada variabel terikat - H1 = Variabel bebas berkorelalsi secara signifikan kepada variabel Ketentuan nilai signifikansi sebagai dasar pembuatan keputusan uji coba t adalah sebagi - Angka signifikan <0,05 hingga H0 ditolak dan Ha diterima . - Angka signifikan >0,05 hingga H0 diterima dan Ha ditolak . idak Hasil dan Pembahasan Analisa Statistik Deskriptif Tujuan analisa deskriptif adalah untuk memberi gambaran variabel-variabel yang diteliti dengan kompleks pada waktu riset yang ditentukan dan bermanfaat untuk melakukan analisa data. Hasil dari analisis statement, variabel bebas yaitu financial target (ROA), ineffective monitoring (BDOUT) dan rasionalisasi (AUDREPORT) serta variabel moderasi (INST) secara rinci tersaji pada tabel berikut: Tabel 1. Hasil Analisa Statistik Deskriptif Std. Mean Deviati F-SCORE 102 -169,19 95,30 -784,05 -7,69 29,52 Variabel Min Max Sum ROA 102 -0,05 0,04 0,93 0,01 0,02 BDOUT 102 0,33 0,80 56,64 0,56 0,09 INST 0,92 38,82 0,38 0,33 Variabel Dummy AUDREP ORT Analisa Regresi Data Panel Hasil regresi data panel dengan ketiga pendekatan yaitu common effect model, fixed effect model dan random effect model. Berikutnya dilaksankan uji untuk memilih model yang paling baik untuk dipakai yaitu dengan uji coba chow, uji coba hausman dan uji coba lagrange multiplier. Hasil pengujian chow menunjukkan nilai probabilitas crosection F ialah 0. 5580 yang artinya nilai probabilitas tersebut lebih besar dari alpha . hingga metode yang digunakan ialah common effect model. Selanjutnya Menurut hasil uji coba hausman, nilai probabilitas cross-section random yakni 0. 3030 yang artinya nilai probabilitas tersebut melebihi dari alpha . hingga teknik yang dipakai ialah random effect model. Terakhir untuk menguji model terbaik digunakan antara common effect model dan random effect model, dilakukan uji coba lagrange Menurut hasil uji coba langrange multiplier, nilai probabilitas breusch-pagan 6103 yang artinya nilai probabilitas tersebut melebihi dari alpha . hingga metode yang digunakan adalah common effect model. Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas Multikolinearitas dapat dideteksi apabila hasil uji multikolinearitas menunjukkan nilai diatas 0,90 atau terdapat korelasi yang cukup tinggi antara variabel-variabel independen. Hasil uji multikolinearitas yang dilaksanakan ialah seperti dibawah: Tabel 2. Hasil Uji Multikolinearitas Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi Menurut tabel di atas, nilai yang dihasilkan antar variabel tidak ada yang melebihi 0,90. Maka dapat kesimpulannya ialah tidak ada pengarh yang tinggi kepada masing-masing variabel independen sehingga terbebas dari multikolinearitas. data panel yaitu dengan memasukkan nilai hasil analisa regresi data panel ke dalam persamaan regresi. Berikut hasil regresi data panel yang dilakukan memakai common effect model: Tabel 4. Hasil Uji Common Effect Model Uji Coba Heteroskedastisitas Pengujian dilaksanakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual suatu obervasi ke pengamatan yang lain. Suatu model dinyatakan lepas dari heterokedastisitas apabila hasil signifikansi pada tabel lebih tinggi dari 0,05. Tabel 3. Hasil Uji Heteroskedastisitas Kemudian dilakukan uji moderasi ketiga variabel independen terhadap variabel moderasi yaitu institutional ownership (INST): Tabel 5. Hasil Uji Moderasi ROA terhadap INST Tabel 6. Hasil Uji Moderasi BDOUT terhadap INST Menurut tabel di atas, nilai yang dihasilkan masing-masing variabel tidak ada 0,05. Sehingga kesimpulannya ialah variabel-variabel yang digunakan terbebas dari heteroskedastisitas. Hasil Regresi Data Panel Korelasi variabel bebas kepada variabel terikat dapat diketahui melalui analisa regresi Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi Tabel 7. Hasil Uji Moderasi AUDREPORT terhadap INST Maka, model atau persamaan regresi yang dihasilkan yaitu: FR = -180. 0766ROA 57192BDOUT 166. 8385AUDREPORT ROAINST| 73. BDOUT_I NST| 275. AUDREPORT_INST| e Pengaruh Financial Target*Terhadap Fraudulent Financial Statement Financial yang dilakukan pengukuran dengan ROA memiliki nilai probablitias sebesar 0. 3047 dimana nilai tersebut lebih besar dari alpha 0,05. Maka riset ini memperlihatkan bahwa financial target tidak berpengaruh positif signifikan kepada fraudulent financial statement. Hasil riset ini selaras dengan riset yang dilaksanakan oleh Safiq & Seles . Wahyuni & Budiwitjaksono . dan Tiapandewi. Suryandari. Susandya, & Arie . yang juga menyatakan bahwa financial target tidak mempunyai korelasi kepada fraudulent financial statement. Hal ini menunjukkan bahwa jika ROA suatu lembaga naik dan lembaga tersebut dapat memberikan hasil kenaikan laba dari asset yang dimiliki maka untuk melakukan investasi perusahaan akan menggunakan dana dari penjualan Harga saham sangat dipengaruhi oleh kondisi finansial lembaga maka peningkatan harga saham yang menunjukkan bahwa kondisi finansial lemaga semakin baik maka Peningkatan keyakinan investor ini membuat menjalankan kecurangan laporan finansial. Pengaruh Ineffective Monitoring Kepada Fraudulent Financial Statement Ineffective monitoring yang diukur dengan rasio dewan komisaris independen memiliki nilai probabilitas sejumlah 0. yang mana nilai itu lebih besar dari alpha 0,05. Sehingga riset ini memperlihatkan mempunyai korelasi positif signifikan kepada fraudulent financial statement. Hasil riset ini konsisten dengan riset yang dilaksanakan Rahayu . dan Rahman. Deliana, & Rihaney . bahwa ineffective monitoring tidak mempunyai korelasi kepada kecurangan laporan keuangan. Menurut Rachmania . , dewan komisaris berperan untuk meminimalisir agency problem yang terjadi diantara investor dan dewan direksi. Namun hasil riset ini memperlihatkan bahwa komposisi dewan komisaris independent tidak berarti dewan komisaris melakukan memperbesar potensi manajemen dalam melakukan kecurangan laporan keuangan (Restuningdiah, 2011 dalam Wahyuni & Budiwitjaksono, 2. Pengaruh Rasionalisasi Terhadap Fraudulent Financial Statement Rasionalisasi yang diukur dengan opini audit memiliki nilai probabilitas sebesar 0000 yang mana nilai tersebut lebih kecil dari alpha 0,05. Maka penelitian ini mempunyai korelasi positif signifikan kepada Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi fraudulent financial statement. Hasil riset ini selaras dengan riset terdahulu yang ditulis oleh Wahyuni & Budiwitjaksono . yang menjelaskan bahwa rasionalisasi tidak berkorelasi kepada fraudulent financial Menurut Ardiyani & Utaminingsih . dalam Indriani & Terzaghi . , pengecualian dengan bahasa penjelas menjadi bentuk toleransi dari praktik manajemen laba. Hal ini juga ditunjang oleh pernyataan Chen . yang dikutip Sofia . bahwa MAO (Modified Audit Opinion. oleh auditor kepada perusahaan yang diauditnya akan berdampak pada meningkatnya perhatian dari investor, media dan regulator serta berakibat pada kecilnya kesempatan bagi para eksekutif dengan integritas yang rendah untuk melakukan Institutional Ownership Memoderasi Pengaruh Financial target Kepada Fraudulent Financial Statement Berdasarkan institutional ownership terhadap korelasi financial target kepada fraudulent financial statement bernilai probabilitas sebesar 0. yang mana nilai tersebut lebih besar dari alpha 0,05. Maka riset ini memperlihatkan bahwa institutional ownership tidak dapat memperlemah korelasi financial target kepada fraudulent financial statement. Hasil ini selaras dengan pernyataan Ulfah & Nuraina . dalam (Komala & Triyani, institusional bukan merupakan faktor langsung dan memberikan tekanan pada Perusahaan mempertimbangkan tawaran yang diajukan oleh orang atau lembaga dan telah menjadi kewajiban perusahaan untuk memberikan keuntungan yang layak sebagai investor. Institutional Ownership Memoderasi Pengaruh Ineffective Monitoring Kepada Fraudulent Financial Statement Berdasarkan institutional ownership terhadap korelasi ineffective monitoring kepada fraudulent financial statement bernilai probabilitas 4884 yang mana nilai tersebut melebihi alpha 0,05. Maka riset ini ownership dapat memperlemah korelasi ineffective monitoring kepada fraudulent financial statement. Menurut Skousen et al. , pengawasan yang tidak efektif manajemen yang mendominasi, yaitu yang dilakukan oleh seseorang atau sekumpulan kecil orang tanpa dikendalikan oleh pengawasan kompensasi, pengawasan dewan direksi dan komisaris independen terhadap laporan keuangan dan internal control yang Namun, kepemilikan institusional tidak membuat pengawasan menjadi lebih kuat. Institutional Ownership Memoderasi Pengaruh Rasionalisasi Kepada Fraudulent Financial Statement. Menurut hasil uji moderasi institutional ownership terhadap pengaruh rasionalisasi terhadap fraudulent financial statement bernilai probabilitas sebesar 0. 0000 yang mana nilai tersebut lebih kecil dari alpha 0,05. Maka riset ini menunjukkan bahwa institutional ownership dapat memperlemah korelasi rasionalisasi kepada fraudulent Yuni Widawati. Adam Zakaria dan Petrolis Nusa Perdana. Pengaruh Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Statement Dengan Corporate Governance Sebagai Variabel Moderasi Kepemilikan institusional berperan untuk meningkatkan monitoring terhadap manajemen dalam manajemen tidak melakukan kecurangan laporan keuangan. Maka penilaian dari manajemen dilakukan secara subyektif dan dalam pengawasan yang ketat sehingga tindakan kecurangan laporan keuangan dapat Pengawasan yang optimal ini mampu dilakukan oleh investor institusional. Maka dapat dikatakan bahwa melalui pengawasan oleh institutional ownership akan lebih memastikan kinerja manajemen sesuai dengan etika yang berlaku maka menghindari dari kecurangan laporan Simpulan Menurut hasil penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya, hingga dapat diperoleh simpulan bahwa variabel financial target yang memakai proksi return on asset tidak berkorelasi positif signifikan kepada fraudulent financial statement, variabel ineffective monitoring yang memakai proksi rasio dewan komisaris tidak berkorelasi positif signifikan kepada fraudulent financial statement dan variabel rasionalisasi yang memakai proksi opini audit berkorelasi positif signifikan terhadap fraudulent financial statement. Serta variabel moderasi yaitu corporate governance yang diproksikan dengan institutional ownership tidak dapat memperlemah pengaruh financial target dan memperlemah pengaruh rasionalisasi kepada fraudulent financial statement. Riset ini mempunyai keterbatasan yakni pendeteksian fraudulent financial statement pada riset ini memakai model F-score. Meskipun pada penelitian sebelumnya model F-score dianggap lebih unggul dari model Beneish M-Score namun model F-score dianggap kurang cocok digunakan jika yang objek penelitian adalah perusahaan dalam sektor keuangan dengan sub-sektor bank. Maka menggunakan alat ukur lain dalam mengukur fraudulent financial statement seperti model Beneish M-Score atau Discretionary Accrual jika akan meneliti perusahaan perbankan. Kemudian peneliti berikutnya dapat memakai lini industri lain dengan kuantitas lembaga yang lebih banyak dari perusahaan perbankan sehingga sampel yang didapatkan akan lebih besar karena riset ini hanya memakai lembaga perbankan yang tercantum di BEI sebagai objek riset sehingga jumlah sampel yang didapatkan relatif sedikit. Saran