Pengaruh Komposisi Media Dan Nutrisi Hidroponik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Selada Hijau (Lactuca sativa Var. Rika Agustina Jurusan Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian ,Universitas Malikussaleh Jl. Cot Teungku Nie Reuleut Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara ABSTRAK Selada adalah sayuran yang paling banyak digemari masyarakat, akan tetapi ditengah pesatnya pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan kepadatan penduduk sehingga jumlah produksi dan kualitas selada menurun, oleh sebab itu perlu adanya konservasi terhadap budidaya selada dengan mengutamakan produksi dan kualitas selada. Demi mencapai hal tersebut dibutuhkan peran dari pemberian pupuk hidroponik dan media tanamnya sebagai salah satu jawaban dari permasalahan tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian mengenai budidaya tanaman selada secara hidroponik dengan berbagai jenis nutrisi dan media tanam. Penelitian dilaksanakan di Agro Wisata Hidroponik. Meuria Paloh. Kecamatan Muara Satu. Lhokseumawe pada bulan April sampai Juni 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media dan nutrisi hidroponik terhadap pertmbuhan dan hasil selada hijau (Lacuca sativa Var. L). Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode percobaan dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah pemberian nutrisi tanaman (N) yang terdiri dari 6 taraf yatiu N1 . ml AB Mix/ L). N2 . ml POC/L). N3 . ml Gandasil D/ L). N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC/L). N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D/L) dan N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D/L). Faktor kedua penggunaan media tanam (M) terdiri dari 2 taraf yaitu M1 . edia rockwoo. dan M2 . edia pecahan batu bat. Hasil penelitian menunjukkan komposisi nutrisi dan media tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil selada hijau. Serta menunjukkan adanya pengaruh interaksi terhadap bobot segar daun. Kata kunci: AB Mix. POC NASA. Gandasil D. Rockwool. Selada ABSTRACT The research conduct to hydroponic cultivation of lettuce plants with hydroponic media and nutrient composition to the growth and yield of lettuce. The research conducted at the Agro Wisata Hidroponik Meuria Paloh Muara Satu Subdistrict Lhokseumawe city. The activities started in April untill June 2019. This study aimed was determine the influence ofmedia and nutrient composition to the growth and yield of lattuce (Lactuca sativa Var. L). This study used a Completely Randomized Design (CRD) factorial with 2 factors and 4 replications. The first factoris the provision of Nutrient (N) with 6 levels is: N1. ml AB Mix/ L). N2 . ml POC/L). N3 . ml Gandasil D/ L). N4 . ml AB Mix and 3 ml POC/L). N5 . ml AB Mix and 3 ml Gandasil D/L) dan N6 . ml POC and 3 ml Gandasil D/L). The second factor is the uses of planting media (M) with 2 M1 . dan M2 . rick fragment. The result of this research showed that nutrients compotition and media hydroponics that treatment N4 and N5 give the better result of plant growth and yield mean while on the other hand and there is an interaction of fresh leaf weight. Keywords: AB Mix. POC NASA. Gandasil D. Rockwool. Lettuce PENDAHULUAN Latar Belakang Malikussaleh. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2019. Bahan dan Alat Permintaan terhadap komoditas hortikultura terutama sayuran terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesejahteraan dan jumlah penduduk baik secara kualitas maupun kuantitas. Namun di lain pihak, pengembangan komoditas sayuran dihadapkan pada semakin sempitnya lahan pertanian yang Sistem pertanian konvensional tidak cukup efektif untuk dapat berkualitas, mengingat kondisi alam di Indonesia yang kurang menguntungkan seperti curah hujan yang tinggi diikuti dengan suhu dan kelembaban udara juga tinggi sepanjang tahun. Selain hal-hal tersebut, meningkatnya jumlah penduduk pertanian semakin sempit karena digunakan untuk perumahan dan perluasan perkotaan. Selada dapat tumbuh di daerah dingin maupun tropis. Pemasaran selada meningkat seiring dengan pertumbuhan (Cahyono, 2. Salah satu cara untuk mendapatkan produksi selada terbaik di tengah pesatnya pertumbuhan perkotaan diikuti oleh sempitnya lahan pertanian yaitu dapat menggunakan teknologi hidroponik secara sederhana. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Agro Wisata Hidroponik. Meuria Paloh. Kecamatan Muara Satu. Lhokseumawe dan Laboratorium Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bahan yang digunakan adalah. rockwool, pecahan batu bata. AB Mix. Pupuk Organik Cair, pupuk daun Gandasil D, benih selada hijau. Sedangkan alat yang digunakan adalah. botol air mineral ukuran 1000 ml, kain flanel. TDS meter, meteran/penggaris, timbangan analitik, chlorophyl meter, cutter, gelas ukur plastik 1000 ml dan 5000 ml. Rancangan Penelitian Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 2 faktor dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama adalah pemberian nutrisi tanaman (N), dan faktor kedua penggunaan media tanam (M). Faktor pertama, pemberian nutrisi (N) terdiri dari 6 taraf: N1 : Pemberian nutrisi AB Mix 6 ml/ liter air . ml Mix A dan 3 ml Mix B) N2 : Pemberian nutrisi POC 6 ml/ liter N3 : Pemberian Gandasil D 6 ml/ liter N4 : Pemberian nutrisi campuran 3 ml AB Mix dan 3 ml POC N5 : Pemberian nutrisi campuran 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D N6 : Pemberian nutrisi campuran 3 ml POC dan 3 ml Gandasil D Faktor kedua, penggunaan media tanam sebanyak 2 taraf yaitu: : Media rockwool : Media Pecahan batu bata Berdasarkan perlakuan di atas perlakuan dengan percobaan diulang sebanyak 4 kali ulangan sehingga didapatkan 48 kali percobaan. Prosedur Kerja Media tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah rockwool dan pecahan batu bata. Batu bata setelah kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam wadah Mempersiapkan botol air mineral ukuran 1000 ml sebagai wadah penanaman hidroponik nantinya. Botol air mineral tersebut dibagi menjadi dua Kedua bagian tersebut nantinya disatukan dengan posisi bagian atas botol terbalik sehingga membentuk seperti corong, pada bagian tutup botol dilubangi dan dipasangkan kain flanel Kemudian dimasukkan media tanam berupa rockwool dan pecahan batu bata ke dalam masing-masing wadah sesuai dengan perlakuan. Proses penyemaian dilakukan dengan meletakkan benih selada pada rockwool yang ditempatkan dalam tray Kemudian diberi pelindung agar benih terhindar dari cahaya matahari sehingga hal ini dapat membantu pertumbuhan akar. Setelah satu minggu dalam persemaian selada mulai diberikan nutrisi masing-masing sebanyak 200 Nutrisi diberikan sampai 15 hari setelah semai (HSS). Pemberian pemupukan dilakukan setiap semiggu menggunakan nutrisi AB Mix. Pupuk Organik Cair (POC) dan Gandasil D yang sudah dilarutkan sesuai dengan masing-masing perlakuan Perawatan meliputi penggantian larutan nutrisi untuk menjaga ketersediaan nutrisi dan kestabilan kepekatan air larutan. Parameter pengamatan yang diamati pada penlitian ini adalah sebagai Tinggi tanaman . , diukur mulai dari permukaan tanah sampai ujung daun tertinggi. Jumlah daun, menghitung jumlah daun yang telah membuka penuh tiap tanaman. Jumlah klorofil, jumlah klorofil diukur dengan menggunakan alat Chlorophyl meter. Panjang akar . , panjang akar diukur mulai dari leher akar sampai ujung akar tanaman pada saat panen. Bobot segar daun . , bobot segar daun dihitung dengan menimbang daun bagian konsumsi dengan timbangan analitik Bobot segar akar . , ditimbang dengan timbangan analitik. Bobot . , menimbang tanaman secara utuh segera setalah panen sebelum tanaman layu dengan satuan gram . HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Budidaya tanaman selada hijau (Lactuca sativa Var. L) secara hidroponik sistem wick dengan kombinasi perlakuan pemberian nutrisi dan media tanam rockwool dan pecahan batu bata tidak memberikan interaksi yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan dan hasil selada hijau. Seperti yang telah dilampirkan dalam Tabel 3, dari 7 parameter yang diamati hanya pada Berat Segar Daun yang memberikan hasil berbeda nyata sedangkan yang lainnya tidak menunjukkan adanya interaksi secara nyata. Tabel 3. Hasil Sidik Ragam ANOVA Pengaruh Komposisi Media dan Nutrisi Hidroponik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada Hijau (Lactuca sativa Var. L). Faktor Interaksi Pengamatan KK (%) KxI Tinggi Tanaman 7,15** 0,29tn 0,85tn 0,01 Jumlah Daun 19,66 6,90 1,52 0,61 Jumlah Klorofil 8,26** 0,07tn 0,91tn 0,74 Panjang Akar 2,48 0,00016 0,73 7,35 Bobot Segar Daun 26,18** 14,00** 3,42* 0,44 Bobot Segar Akar 8,63 6,72 1,20 0,58 Berat Segar Tanaman 6,13** 5,01* 1,34tn 0,57 Keterangan: N: Pemberian nutrisi. M: Penggunaan media tanam. KK: Koreksi keragaman *: Berbeda Nyata. **: Berbeda sangat nyata. tn: tidak berbeda nyata. Pemberian nutrisi memberikan hasil Tinggi Tanaman, yang berbeda pada setiap parameter Jumlah Klorofil, dan Panjang Akar Pada tidak memberikan pengaruh yang Tinggi Tanaman. Jumlah Daun, berbeda secara signifikan terhadap Jumlah Klorofil. Bobot Segar Daun, pertumbuhan dan hasil selada hijau. Bobot Segar Akar dan Bobot Segar Tanaman memberikan hasil yang Tinggi Tanaman berbeda sangat nyata. Sedangkan Hasil pada Panjang Akar pemberian nutrisi menunjukkan pemberian nutrisi berpengaruh berbeda nyata terhadap pertumbuhan dan hasil selada hijau. sangat nyata terhadap tinggi tanaman Penggunaan media tanam selada hijau pada minggu pertama, rockwool dan pecahan batu bata juga kedua dan ketiga. Sedangkan memberikan pengaruh yang berbeda penggunaan media tidak memberikan pada setiap parameter yang diamati, pengarauh terhadap pertumbuhan tiga dari tujuh parameter yang diamati memberikan hasil yang Penggunaan kombinasi perlakuan berbeda nyata yaitu. Jumlah Daun, juga tidak memberikan respon yang Bobot Segar Akar, dan Bobot Segar berbeda nyata terhadap tinggi Tanaman, sedangkan pada Bobot tanaman selada. Pengaruh pemberian Segar Daun menunjukkan hasil nutrisi dapat kita lihat pada Tabel 4. berbeda sangat nyata. Namun pada Tabel 4. Rata-rata Tinggi Tanaman Selada Hijau (Lactuca sativa Var. 1 mspt 2 mspt 3 mspt Perlakuan -----cm----N1 . ml AB Mi. 3,94 b 11,69b 17,57ab N2 . ml POC) 3,06 7,50 11,44c N3 . ml Gandasil D) 3,75 9,13 14,82bc N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) 4,75a 13,25a 22,13a N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) 4,75 12,85 20,82a N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) 3,38c 9,50c 14,51cd DMRT 0,05 M1 (Rockwoo. 3,81a 11,55a 17,21a M2 (Pecahan Batu Bat. 4,06 9,75 16,54a DMRT 0,05 Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Minggu pertama, pengaruh pemberian nutrisi 3 ml AB Mix dan 3 ml POC (N. tidak berbeda nyata dengan pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D dimana keduanya sama-sama menghasilkan tinggi tanaman 4,75 cm, akan tetapi sangat berbeda nyata dengan pemberian 6 ml POC (N. dimana perlakuan tersebut menghasilkan tinggi paling rendah yaitu 3,06 cm. Pengaruh tertinggi pada minggu kedua juga terdapat pada perlakuan N4 yaitu dengan tinggi 13,25 cm yang berbeda sangat nyata dengan N2 yang menghasilkan tanaman selada paling pendek yaitu hanya mencapai 7,50 Berdasarkan Tabel diketahui bahwa pada minggu ketiga N4 juga menjadi perlakuan terbaik dengan tinggi tanaman mencapai 22,13 cm sedangkan yang paling pendek yaitu perlakuan N2 yang menghasilkan 11,44 cm. Maka dari itu dapat disimpulkan pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml POC merupakan campuran nutrisi terbaik bagi pertumbuhan tinggi tanaman selada hijau, sedangkan pemberian 6 ml POC tidak memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan tinggi tanaman selada hijau. Sedangkan media, baik pada minggu pertama sampai minggu ketiga pengamatan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tinggi Meskipun begitu pada minggu pertama penggunaan media pecahan batu bata merupakan hasil terbaik bagi pertumbbuhan tinggi tanaman, sedangkan pada minggu kedua dan ketiga, media rockwool menghasilkan tinggi tanaman selada terbaik dibandingkan pecahan batu Jumlah Daun Pemberian sangat nyata terhadap jumlah daun pada minggu pertama sampai minggu Sedangkan hanya terjadi pada minggu pertama Rata-Rata Jumlah Daun Selada Hijau dapat dilihat pada Tabel Tabel 5. Rata-rata Jumlah Daun Selada Hijau (Lactuca sativa Var L) 1 mspt 2 mspt Perlakuan -----helai----N1 . ml AB Mi. 3,63b 7,13a N2 . ml POC) 2,88c 3,38b N3 . ml Gandasil D) 3,00 3,50b N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) 4,13 4,38b N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) 4,88 b 6,88a N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) 3,38 6,20a DMRT 0,05 M1 (Rockwoo. 3,96a 6,50a M2 (Pecahan Batu Bat. 3,33b 4,50b DMRT 0,05 3 mspt 8,50ab 4,25d 5,63cd 9,63a 10,00a 6,38bc 7,83a 6,96b Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Jumlah daun pada minggu yaitu 10 helai dan yang paling sedikit pertama yang paling banyak adalah pada N2 4,25 helai daun. pada perlakuan N5 yaitu pemberian 3 Penggunaan media pada ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D minggu kedua sampai minggu ketiga yaitu 4,88 helai sedangkan yang menunjukkan pengaruh yang berbeda terendah terdapat pada N2 pemberian nyata dan dari hasil penelitian 6 ml POC. Sedangkan pada minggu tersebut penggunaan media rockwool kedua jumlah daun yang paling merupakan pilihan terbaik dengan banyak terdapat pada pemberian hasil yang lebih baik dibandingkan nutrisi 6 ml AB Mix dan yang paling pecahan batu bata. Pengaruh rendah pada 6 ml POC. Pada minggu interaksi yang diberikan oleh ketiga jumlah daun yang paling masing-masing perlakuan dapat banyak di jumpai pada perlakuan 3 dilihat pada Tabel 6. ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D Tabel 6. Tabel Interaksi Pertumbuhan Jumlah Daun 1 minggu setelah pindah tanam . Helaian Perlakuan (Media Rockwoo. N1 . ml AB Mi. N2 . ml POC) N3 . ml Gandasil D) N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) 3,50d 2,75e 3,25d 4,75b 6,50a 3,00de (Media Pecahan Batu bat. 3,75a 3,00c 2,75c 3,50ab 3,25b 3,75a Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Konsentrasi 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D dengan media terhadap jumlah daun tanaman selada hijau yaitu 6,50 helai daun, sedangkan yang paling rendah yaitu pemberian nutrisi 6 ml Gandasil D dan media batu bata (N3M. yang pemberian 6 ml POCdengan media rockwool (N2M. dengan nilai 2,75 Jumlah Klorofil Jumlah klorofil tanaman selada hijau paling tinggi yaitu 4,92 yaitu pemberian nutrisi 3 ml AB Mix dan 3 ml POC, sama halnya dengan pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D. Sedangkan jumlah klorofil paling sedikit terdapat pada pemberian 6 ml POC tanpa Penggunaan media tanam tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah klorofil tanaman selada, dimana keduanya memiliki jumlah nilai yang hampir sama yaitu 4,29 media rockwool dan 4,22 media batu bata. Jumlah ratarata klorofil dan alat menghitung jumlah klorofil dapat dilihat dalam Tabel 7. Rata-rata Jumlah Klorofil Tanaman Selada Hijau. Perlakuan ----CCI--N1 . ml AB Mi. 4,81a N2 . ml POC) 2,71c N3 . ml Gandasil D) 4,30ab N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) 4,92a N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) 4,92a N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) 3,86b DMRT 0,05 M1 (Rockwoo. 4,29a M2 (Pecahan Batu Bat. 4,22a DMRT 0,05 Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Panjang Akar Berdasarkan uji sidik ragam menunjukkan pemberian nutrisi memberikan pengaruh beda nyata terhadap panjang akar, sedangkan penggunaan media tanam tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap panjang akar. Pemberian nutrisi 6 ml AB Mix (N. menghasilkan akar terpanjang yaitu 23,69 cm, sedangkan akar tependek 16,25 cm terdapat pada pemberian campuran nutrisi 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D. Meskipun begitu N1 perlakuan N4. Rata-rata panjang akar dapat dilihat dalam Tabel 8. Tabel 8. Rata-rata Panjang Akar Tanaman Selada Hijau Perlakuan N1 . ml AB Mi. N2 . ml POC) N3 . ml Gandasil D) N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) DMRT 0,05 M1 (Rockwoo. M2 (Pecahan Batu Bat. DMRT 0,05 Akar -----cm----23,69a 19,75ab 18,63b 23,13a 16,25b 18,50b 19,63a 19,64a Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Penggunaan rockwool dan batu bata tidak memberikan hasil yang berbeda Meskipun penggunaan batu bata unggul . ,64 c. namun tidak dapat dikatakan media batu bata lebih baik dibandingkan rockwool . ,63 c. terhadap pertumbuhan panjang akar. Berat Segar Daun Berdasarkan hasil uji sidik ragam DMRT 5% terdapat pengaruh beda nyata terhadap pemberian nutrisi dan penggunaan media serta ditemukan juga interaksi yang berbeda nyata. Rata-rata Berat Segar Daun Selada Hijau dapat dilihat dalam Tabel 9. Tabel 9. Rata-rata Berat Segar Daun Selada Hijau Perlakuan Helaian -----g----12,96b 1,89c 3,37c 20,24a 18,22a 4,41c N1 . ml AB Mi. N2 . ml POC) N3 . ml Gandasil D) N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) DMRT 0,05 M1 (Rockwoo. 12,72a M2 (Pecahan Batu Bat. 7,69b DMRT 0,05 Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Penggunaan media rockwool menghasilkan Bobot Segar Daun paling baik yaitu 12,72 g sedangkan media batu bata 7,69 g. Hasil uji lanjut sidik ragam DMRT 5% diketahui adanya interaksi terhadap kombinasi perlakuan yang diberikan. Pemberian nutrisi 3 ml AB Mix dan 3 ml POC menghasilkan bobot segar daun paling baik yaitu 20,24 g yang pemberian nutrisi 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D yang menghasilkan Bobot Segar Daun 18,22 g. Sedangkan pemberian 6 ml POC menghasilkan Bobot Segar Daun paling ringan yaitu 1,89 g yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan N3 dan N6. Deskripsi Bobot Segar Daun dapat dilihat pada Gambar 3 dan pengaruh interaksi dapat dilihat pada Tabel 10. Gambar 3. Alat menghitung bobot segar daun. Daun selada hijau Tabel 10. Tabel Interaksi Pengaruh Pemberian Nutrisi dan Penggunan Media Tanam Terhadap Bobot Segar Daun Helaian Perlakuan (Media Rockwoo. (Media Pecahan Batu bat. ------------g------------N1 . ml AB Mi. 12,65c 13,27ab N2 . ml POC) 2,50 1,29c N3 . ml Gandasil D) 4,39 2,36c N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) 26,70 13,75a N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) 24,11 12,56b N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) 5,92 2,90c Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Hasil DMRT terhadap interaksi yang terjadi, kombinasi perlakuan terbaik terdapat N4M1 pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml POC dengan media tanam batu bata menghasilkan bobot segar daun 26,70 g, sedangkan perlakuan paling buruk yaitu N2M2 dengan bobot 1,29 g. Berat Segar Akar Berdasarkan hasil uji sidik ragam DMRT 5% diketahui bahwa pemberian nutrisi dan penggunaan media tanam memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap berat segar akar. Hasil analisis rata-rata Berat Segar Akar dapat dilihat dalam Tabel 11. Tabel 11. Rata-rata Berat Segar Akar Selada Hijau Perlakuan N1 . ml AB Mi. N2 . ml POC) N3 . ml Gandasil D) N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) DMRT 0,05 M1 (Rockwoo. M2 (Pecahan Batu Bat. DMRT 0,05 Berat Segar Akar -----g----5,80b 2,80d 4,19bc 7,45ab 8,10a 3,66cd 4,56b 6,11a Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Pemberian campuran nutrisi sebanyak 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D memberikan berat segar akar paling baik yaitu 8,10 g yang pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml POC 7,45 g. Kedua perlakuan terbaik untuk menambah bobot segar menghasilkan Bobot Segar Akar paling ringan yaitu pemberian 6 ml POC tanpa campuran nutrisi lainnya dengan bobot 2,80 g akar. Media batu bata menghasilkan bobot akar sebesar 6,11 g lebih baik dibanding rockwool yang menghasilkan berat segar akar sebanyak 4,56 g. Berat Segar Tanaman Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pemberian nutrisi dan penggunan media tanam memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap Berat Segar Tanaman. Namun keduanya tidak ditemukan akan adanya interaksi yang berbeda nyata terhadap Berat Segar Tanaman. Ratarata Berat Segar Tanaman dapat dilihat dalam Tabel 12 dan data penimbangan Berat Segar Tanaman dapat dilihat dalam Gambar 5. Tabel 12. Rata-rata Berat Tanaman Selada Hijau Perlakuan N1 . ml AB Mi. N2 . ml POC) N3 . ml Gandasil D) N4 . ml AB Mix dan 3 ml POC) N5 . ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D) N6 . ml POC dan 3 ml Gandasil D) DMRT 0,05 M1 (Rockwoo. M2 (Pecahan Batu Bat. DMRT 0,05 Helaian -----g----24,15ab 5,96c 8,49bc 34,11a 36,67a 10,92b 25,02a 15,08b Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata Gambar 5. Berat Segar Tanaman Selada Tanaman perlakuan yang menghasilkan Berat menghasilkan bobot paling berat Segar Tanaman paling ringan yaitu terdapat pada perlakuan N5 yaitu 5,96 g. Berat segar tanaman meliputi pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml berat keseluruhan bagian tanaman Gandasil D yaitu 36,67 g, perlakuan Penggunaan media tanam ini tidak berbeda nyata dengan N4 rockwool memberikan hasil selada yaitu campuran nutrisi 3 ml AB Mix dengan bobot paling baik yaitu 25,02 dan 3 ml POC sebesar 34,11 g. g sedangkan batu bata menghasilkan Pemberian 6 ml POC merupakan bobot 15,08 g. PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml POC memberikan pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman pada minggu pertama yaitu 4,75 cm dan tidak berbeda nyata dengan pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D. Pada minggu kedua pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml POC memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman selada yaitu 13,25 cm, sedangkan pada minggu ketiga pengamatan perlakuan yang sama juga memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanama selada yaitu sebesar 22,13 cm. Penelitian yang dilakukan oleh Muhadiansyah et al. kombinasi pemberian pupuk AB Mix 150 ml dan POC 125 ml tinggi tanaman pada 30 HST menunjukkan rerata tinggi tanaman sebesar 26,50 cm. Tinggi tanaman paling rendah pada minggu pertama pengamatan terdapat pada pemberian 6 ml POC yaitu sebesar 3,06 cm, pada minggu kedua juga terdapat pada pemberian 6 ml POC yaitu sebesar 7,50 cm dan 11,44 cm pada minggu ketiga. Rerata tinggi tanaman yang rendah terdapat pada perlakuan P5 yaitu komposisi pupuk AB Mix 0 ml dengan POC 100 ml dengan tinggi tanaman 50 cm (Muhaddiansyah et , 2. Pemberian nutrisi dengan berbagai konsentrasi memberikan berbeda-beda terhadap tinggi tanaman. Pemberian nutrisi AB Mix memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Sebaliknya pemberian pupuk organik cair (POC) tanpa penambahan nutrisi lain tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tinggi tanaman. Menurut Muhaddiansyah et al. unsur hara yang terkandung di dalam pupuk organik cair tersebut tidak dapat menggantikan hara yang terkandung di dalam pupuk AB Mix. Penggunaan media tanam, pengunaan rockwool maupun batu bata tidak memberikan hasil yang Meski begitu berdasarkan hasil rata-rata tinggi tanaman peggunaan media tanam rockwool memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman. Hasil penelitian Saroh . penggunaan hidroponik sistem wick merupakan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman selada. Jumlah Daun Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat pengaruh interaksi yang berbeda sangat nyata terhadap jumlah daun pada minggu Merujuk pada tabel interaksi (Tabel . diketahui bahwa penggunaan kombinasi perlakuan N5M1 yaitu pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D dengan media rockwool memberikan hasil terbaik pada rata-rata jumlah daun yaitu sebanyak 6,50 helai daun. Jumlah daun yang tinggi disebabkan oleh unsur hara nitrogen yang terkandung di dalam larutan nutrisi, karena nitrogen adalah komponen utama dari berbagai substansi penting didalam pembentukan daun tanaman. Nitrogen juga dibutuhkan untuk membentuk senyawa penting seperti klorofil, asam nukleat, dan enzim (Novizan, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada minggu pertama, kedua dan ketiga pengamatan rata-rata jumlah daun terbanyak terdapat pada pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D yaitu sebanyak 4,88 helai daun, 6,88 helai daun pada minggu kedua, dan 10 helai daun pada minggu ketiga. Jumlah daun paling sedikit terdapat pada minggu pertama 2,88 helai daun, kedua 3,38 helai dan ketiga 4,25 helai daun terdapat pada pemberian 6 ml POC (N. Serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhaddiansyah et al. Pemberian 0% AB Mix dan 100% POC menghasilkan jumlah daun selada paling sedikit yaitu 5,67 helai Dapat dilihat perbedaan antara menggunakan campuran AB Mix dan tanpa AB Mix. Tanaman selada yang tidak dicampuri nutrisi AB Mix cenderung lebih sedikit jumlah Menurut Muhaddiansyah et . hal ini diduga karena perlakuan tanpa pupuk AB Mix mengalami kekurangan unsur hara mikro yaitu Zn. Mo. Fe. Mn. Co, dan Kekurangan unsur hara Zn. Mo. Fe. Mn. Co dan B dapat vegetatif tanaman khususnya jumlah daun (Supari, 1. Penggunaan media tanam rockwool memberikan pengaruh terbaik terhadap jumlah dan selada pada minggu pertama, kedua dan ketiga pegamatan. Menurut Saroh et . penggunaa n media tanam rockwool dengan konsentrasi larutan nutrisi 10 ml/ liter air paling berpengaruh pada tinggi tanaman. organik cair juga mengandung unsur hara mikro yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses sintesis protein dan pembentukan klorofil. Jumlah klorofil paling sedikit terdapat pada pemberian 6 ml POC yaitu hanya mencapai 2,71. Jumlah klorofil dipengaruhi oleh jumlah daun, semakin banyak jumlah daun Seperti Furoidah semakin banyak jumlah daun pada tanaman akan berpengaruh terhadap klorofil dalam daun berperan sebagai melangsungkan proses fotosintesis. Apabila kandungan klorofil dalam fotosintesis yang dihasilkan semakin Luas daun dan jumlah menyebabkan proses fotosintesis berjalan dengan baik. Semakin banyak jumlah daun maka hasil fotosintesis tinggi sehingga tanaman tumbuh dengan baik (Ekawati et al. 2006 ). Perwitasari et al. berpendapat bahwa pemberian nutrisi berpengaruh nyata terhadap jumlah Penambahan tinggi tanaman secara langsung dapat meningkatkan jumlah daun yang mengandung pigmen klorofil yang berfungsi menyerap cahaya untuk digunakan dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan glukosa dan oksigen. Jumlah Klorofil Panjang Akar Hasil penelitian menunjukkan pemberian nutrisi 6 ml AB Mix memberikan pengaruh akar paling panjang yaitu 23,69 cm. Penelitian yang dilakukan Muhadiansyah et al. memberikan hasil yang serupa dimana pemberian 50% AB Berdasarkan hasil penelitian jumlah klorofil terbanyak yaitu sebesar 4,92 terdapat pada pemberian nutrisi 3 ml AB Mix dan 3 ml POC. Pupuk mengandung unsur nitrogen yang berfungsi menyusun semua protein, asam amino dan klorofil, pupuk Mix dan 50% POC memberikan pengaruh paling tinggi terhadap panjang akar yakni sebesar 29,33 cm. Sedangkan pengunaan media tidak memberikan hasil yang berbeda Akar yang pendek dapat menghambat pertumbuhan tanaman, sehingga akar tidak dapat menyerap hara yang terkandung dalam nutrisi Muhadiansyah et al. , . Sistem perakaran biasanya dikendalikan oleh sifat genetis tanamannya, menurut Harjadi . umumnya tanaman dengan akar serabut berakar dangkal sedangkan tanaman yang berakar tunggang berakar dalam. Tanaman selada memiliki akar tunggang yang lebih toleran terhadap kekeringan. Pada hidroponik sistem wick pengaruh mempengaruhi pertumbuhan akar, semakin cepat sumbu menyerap air maka ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia dengan cukup Kusumah et al. Berat Segar Daun Daun merupakan bagian merupakan bagian konsumtif selada. Oleh sebab itu berat segar daun menjadi hal utama yang perlu Berat segar daun dipengaruhi oleh jumlah daun. Semakin banyak daun selada maka semakin besar bobot segar daunnya. Berdasarkan menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda nyata terhadap pemberian nutrisi dan penggunaan media tanam terhadap bobot segar daun. Berat segar daun tertinggi terdapat pada pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml POC yaitu sebesar 20,24 g dan yang paling redah terdapat pada pemberian 6 ml POC. Serupa dengan penelitian yang dilakukan Muhddiansyah et al. pemberian 50% AB Mix dan 50% POC menghasilkan bobot segar dau terbaik yakni 50,83 g sedangkan hasil terendah adalah pemberian 0% AB Mix dan 100% POC. Hal tersebut terjadi karena hara yang terkandung di dalam pupuk organik pertumbuhan akar yang baik sebagaimana telah dijelaskan bahwa akar yang pendek dapat menghambat pertumbuhan tanaman, sehingga akar tidak dapat menyerap hara yang terkandung dalam nutrisi tersebut secara optimal (Muhadiansyah et al. Penggunaan media tanam terbaik yaitu pengguaan media rockwool dengan bobot segar daun 12,72 g. Rockwool memiliki daya serap tinggi dan mampu menyimpan hara lebih baik sehingga hal ini mempengaruhi bobot segar daun Selain itu dalam penelitan ini juga ditemukan adanya ineraksi yang berbeda nyata terhadap pertambahan bobot segar daun. Hara yang terkandung dalam nutrisi mampu diserap dengan baik oleh rockwool. Kombinasi terdapat pada perlakuan N4M1 yaitu pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml POC dengan pengunaan media tanam Sedangkan hasil terendah dimiliki oleh perlakuan N2M2 . ml POC dan media batu bat. Hasil yang didapat dari penggunaan POC sebagai nutrisi sangat rendah, hal ini disebabkan pupuk organik cair tidak dapat dijadikan sebagai pupuk primer dikarenakan dari hasil pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, dan volume pada saat panen memiliki hasil yang sangat rendah (Muhadiansyah et al. , 2. Berat Segar Akar Pemberian memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap berat segar Pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D memberikan hasil terbaik terhadap penambahan berat segar akar dimana berat 8,10 g akar. Sedangkan pemberian 3 ml POC menghasikan berat segar akar paling ringan yaitu 2,80 g akar. Penelitian yang dilakukan Muhadiansyah et al. menyatakan Bobot basah akar yang tinggi terdapat pada perlakuan nutrisi 75% AB Mix dan 25% POC dengan rerata sebesar 22. 70 g dan bobot basah akar yang rendah terdapat pada perlakuan nutrisi P5 dengan rerata sebesar 7. 78 g di 30 HST. Menurut Fariudin et al. Selada hijau mempunyai rasio tajukakar yang lebih besar daripada selada Penggunaan media rockwool memberikan hasil terbaik terhadap bobot segar akar yaitu sebesar 6,11 g. Porositas rockwool lebih tinggi daripada media tanam artifisial . edia tanam buata. lainnya dan juga dapat menahan air 92% dari volumenya sehingga air tersedia dengan baik untuk pertumbuhan Namun air dibebaskan oleh rockwool dengan cepat pula sehingga aerasi perakaran tetap optimum. Tanaman yang memiliki bobot akar terberat menghasilkan bobot total tanaman yang terberat juga, karena akar tanaman selada tersebut menyerap unsur hara yang berupa zat cair secara optimal. Selain itu, akar selada dapat memungkinkan akar menyerap hara secara optimal melalui akar primernya. Bobot akar yang ringan dapat dikarenakan tanaman tersebut memiliki akar primer yang pendek, yang dapat mengakibatkan akar tersebut tidak dapat menyerap hara secara optimal (Muhadiansayah, 2. Berat Segar Tanaman Terdapat pengaruh yang berbeda nyata terhadap berat segar tanaman pada pemberian nutrisi dan penggunaan media tanam, namun tidak ditemukan adanya interaksi yang berbeda nyata terhadap bobot segar tanaman. Pemberian 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D memberikan hasil terbaik pada berat segar tanaman yaitu sebesar 36,67 g dan berat segar terendah tanaman sebesar 5,96 g terdapat pada pemberian 6 ml POC. Pemberian nutrisi POC sebagai nutrisi utama dalam hidroponik menghasilkan berat segar tanaman yang rendah Muhadiansyah mengatakan pemberian POC 100% menghasilkan berat segar tanaman paling rendah yaitu sebesar 12 g. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan media rockwool menghasilkan berat segar tanaman terbaik yaitu mencapai 25,02 g. Menurut Mecham . berat segar berkaitan dengan jumlah air yang terkandung dalam tubuh tanaman, guna air dalam tubuh KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Pemberian konsentrasi 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D serta 3 ml AB Mix dan 3 ml POC memberikan pengaruh bebeda pertumbuhan dan hasil selada Penggunaan media rockwool merupakan media yang paling pertumbuhan dan hasil selada Kombinasi perlakuan terbaik diberikan oleh perlakuan N4M1 yang memberikan pengaruh beda nyata terhadap berat segar daun. Saran Budidaya terhadap nutrisi yang diberikan, oleh sebab itu penggunaan 3 ml AB Mix dan 3 ml Gandasil D sangat baik untuk pertumbuhan tanaman selada, akan tetapi penggunaan POC tanpa campuran nutrisi lain lebih baik dihindari karena tidak memberikan hasil yanng optimal terhadap tanaman selada hijau. DAFTAR PUSTAKA