Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PERBEDAAN POLA ASUH BAHASA ANAK ANTARA IBU INFLUENCER SHABIRA ALULA DAN IBU GENERASI MILENIAL-GENERASI Z Aulia Diva Dry Anindia*1 . Vivia Yazna2. Fanny Nur Apriliany3. Rima Ayu Apriliani4. Iis Lisnawati5 12345Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Siliwangi. Indonesia * Corresponding Author: auliadivajully@email. Abstrak Kemajuan teknologi digital telah memengaruhi cara orang tua membimbing kemampuan berbahasa anak, terutama melalui peran media sosial yang semakin kuat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pola pengasuhan bahasa anak antara seorang ibu yang dikenal sebagai tokoh publik di media sosial dan dua ibu dari generasi yang berbeda, dalam rangka mendukung perkembangan bahasa anak di era digital. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi terhadap tiga orang informan yang masing-masing mewakili tokoh publik di media sosial, generasi milenial, dan generasi z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh publik di media sosial menerapkan pola pengasuhan yang menekankan penggunaan bahasa formal dan sopan secara konsisten. Ibu dari generasi milenial lebih fleksibel dan membolehkan penggunaan bahasa tidak baku selama tetap menjaga kesantunan. Sementara itu, ibu dari generasi z memadukan ketegasan dan kebebasan, mengajarkan kepekaan terhadap konteks penggunaan bahasa serta membatasi akses anak terhadap media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola pengasuhan bahasa anak sangat dipengaruhi oleh latar belakang generasi, nilai-nilai pribadi, dan perkembangan teknologi digital. Kata Kunci : Pola Asuh Ibu. Generasi Milenial. Generasi Z. Teknologi Digital Abstract Advances in digital technology have influenced the way parents guide their children's language skills, especially through the increasingly strong role of social media in daily life. This study aims to analyze the differences in parenting patterns between a mother who is known as a public figure on social media and two mothers from different generations, in order to support children's language development in the digital era. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through interviews and observations of three informants, each representing a public figure on social media, millennial generation, and generation Z. The results show that public figures on social media are more likely to have different parenting patterns. The results showed that public figures on social media apply parenting patterns that emphasize the use of formal and polite language consistently. Mothers from the millennial generation are more flexible and allow the use of nonstandard language as long as they maintain politeness. Meanwhile, z-generation mothers combine assertiveness and freedom, teach sensitivity to the context of language use and limit their children's access to social media. The study concludes that parenting patterns are strongly influenced by generational background, personal values and the development of digital technology. Keywords : Mother's Parenting. Millennial Generation. Generation Z. Digital Technology PENDAHULUAN Aspek kunci dalam membentuk perkembangan pribadi anak adalah proses Para orangtua perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mendukung pertumbuhan anak-anak mereka. Penting bagi orangtua untuk memahami cara yang tepat dalam mengasuh anak, proses perkembangan yang dialami oleh Aulia Diva Dry Anindia1. Perbedaan Pola AsuhA Jurnal Genta Mulia . anak, serta berbagai peran yang mereka jalani dalam kehidupan anak-anak mereka (Winarsih et al. , 2. Keluarga berperan penting dalam membentuk nilai dan sikap anak sejak usia dini, terutama pada masa peka ketika anak sangat mudah menyerap pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, baik secara kognitif, emosional, sosial, maupun Pola asuh menjadi dasar utama dalam membimbing anak agar tumbuh sesuai norma dan nilai masyarakat. Jenis pola asuh yang diterapkan berbeda-beda tergantung pada latar belakang budaya, sosial ekonomi, dan pengalaman orang tua. Tiga pola asuh yang umum adalah otoriter yang cenderung mengekang anak, demokratis yang hangat dan komunikatif, serta permisif yang memberi kebebasan tanpa cukup pengawasan (Pasiningsih, 2. Penggunaan media sosial yang berkembang pesat telah membawa dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pola asuh anak. Di era digital saat ini, banyak orang tua, terutama dari generasi milenial, memanfaatkan platform media sosial sebagai sumber utama informasi untuk mencari tips dan strategi pengasuhan. Melalui media sosial, para influencer tidak hanya menjadi perintis dalam hal fashion dan kuliner, tetapi juga berperan dalam menyebarkan informasi tentang pendidikan, budaya, pemikiran sosial, agama, gaya hidup, dan pola asuh. Mereka memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa konten yang mereka bagikan akurat, dapat dipercaya, dan menarik, karena seringkali mereka berfungsi sebagai instruktur informal bagi audiens mereka (Khosibah, 2. Penggunaan media sosial oleh para ibu dalam mencari informasi seputar pengasuhan anak, memperoleh saran, dan berbagi pengalaman dengan komunitas online telah menciptakan dinamika baru. Mereka tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga aktif berkontribusi dalam membentuk tren dan norma baru melalui konten yang mereka bagikan (Sugitanata et al. , 2. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan pola asuh antara ibu generasi milenial dan generasi Z dalam mendukung perkembangan tata bahasa anak di era modern. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana peran media sosial, perubahan gaya hidup, dan perbedaan nilai antargenerasi memengaruhi pendekatan pengasuhan, khususnya dalam komunikasi dan perkembangan bahasa anak. Penelitian ini juga akan menyoroti peran influencer parenting seperti Ibu Shabira Aulia, yang memberikan pengaruh signifikan dalam membentuk pola pikir dan praktik pengasuhan para ibu di era digital. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang memberikan penekanan pada pemahaman mendalam terhadap fenomena dalam konteks alaminya serta makna yang diberikan oleh masyarakat. Metode ini memungkinkan pengumpulan data yang kaya melalui berbagai cara, seperti wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti dapat menggali pengalaman individu dengan lebih mendalam dalam konteks sosial dan budaya yang spesifik, sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih bermakna dan relevan untuk pengambilan keputusan atau penyusunan kebijakan (Nurrisa & Hermina, 2. Pendekatan kualitatif dipilih dalam penelitian ini karena memberikan kesempatan kepada peneliti untuk memahami secara mendalam pengalaman, pandangan, dan praktik pengasuhan yang dilakukan oleh para ibu dari dua generasi yang berbeda. Generasi Milenial dan Generasi Z. Penulis mewawancarai satu ibu dari masing-masing generasi sebagai perwakilan untuk menggali pola asuh yang mereka terapkan. Selain data yang diperoleh dari wawancara, penulis juga menggunakan informasi tambahan dari internet untuk memperkaya analisis, terutama dalam kasus Ibu Lala, yang dikenal menerapkan pendekatan pengasuhan bahasa yang unik dengan membiasakan anaknya menggunakan bahasa baku dalam kehidupan sehari-hari. P-ISSN:2301-6671. E-ISSN :2580-6416 | 145 Aulia Diva Dry Anindia1. Perbedaan Pola AsuhA Jurnal Genta Mulia . HASIL DAN PEMBAHASAN Biodata Shabira Alula Adnan Gambar 1. Shabira Alula Adnan Shabira Alula Adnan, yang akrab dipanggil Lala, lahir pada 25 Juni 2018 dan memeluk agama Islam. Namanya mulai mencuri perhatian publik setelah video-videonya viral di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut. Lala menunjukkan kemampuannya yang luar biasa untuk anak seusianya, yakni berbicara dalam bahasa Indonesia baku dengan fasih dan alami sejak usia tiga tahun. Cara bicaranya yang rapi, terstruktur, serta pemilihan kata-kata yang formal dan tepat membuat banyak orang terkesima dan mengaguminya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri di tengah budaya komunikasi anak-anak yang umumnya masih terbatas pada bahasa sehari-hari atau campuran. Keberhasilan Lala dalam meraih perhatian publik tidak hanya terbatas di dunia maya, tetapi juga membawanya ke berbagai kesempatan untuk tampil di media arus utama. Ia sering diundang ke acara televisi nasional, salah satunya program komedi populer AuLapor Pak! Ay yang tayang di Trans7, di mana ia tampil sebagai tamu spesial dan berhasil mencuri perhatian dengan gaya bicaranya yang Selain itu. Lala juga menjadi bintang tamu dalam sejumlah podcast terkenal yang membahas topik parenting, pendidikan anak, hingga bahasa, di mana ia bersama orang tuanya berbagi pengalaman mengenai metode pengasuhan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan Lala dalam berbicara menggunakan bahasa Indonesia baku bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari pola pengasuhan dan lingkungan yang dibangun oleh orang tuanya, terutama sang ibu, yang secara konsisten membiasakan penggunaan bahasa baku dalam percakapan sehari-hari di rumah. Pendekatan ini telah menginspirasi banyak orang tua yang ingin mengenalkan nilai-nilai literasi dan kemampuan berbahasa kepada anak sejak dini. Dengan tutur kata yang sopan, intonasi yang tepat, dan penguasaan kosakata yang luas. Lala kini bukan hanya sekadar figur publik cilik yang menghibur, tetapi juga menjadi simbol pentingnya peran keluarga dalam membentuk kemampuan berbahasa dan karakter anak sejak usia muda. Perbandingan Pola Asuh Bahasa Anak Antara Ibu Influencer Shabira Alula Dan Ibu Generasi Milenial-Gen Z Pola Asuh Bahasa Ibu Influencer Shabira Alula P-ISSN:2301-6671. E-ISSN :2580-6416 | 146 Aulia Diva Dry Anindia1. Perbedaan Pola AsuhA Jurnal Genta Mulia . Gambar 2. Keluarga Influencer Seorang influencer adalah individu yang berperan sebagai pendukung iklan dan memiliki pengaruh positif terhadap tindakan serta perilaku para konsumen. Ia dikenal dan dihormati oleh banyak orang, sehingga mampu memengaruhi mereka dengan cara yang konstruktif (Rachmi Oktora Citra Rahayu & Hendrati Dwi Mulyaningsih. Pola asuh merupakan interaksi antara orang tua dan anak yang mencakup aspek perawatan, pendidikan, dan pembimbingan untuk mendukung perkembangan sang Tujuannya adalah untuk membantu anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, sehat, percaya diri, penasaran, bersahabat, dan sukses. Dengan pendekatan pola asuh yang efektif, orang tua dapat membentuk perilaku, pengetahuan, dan nilainilai yang mendukung pertumbuhan optimal anak. Ibu Lala, sebagai seorang ibu dari anak yang berprofesi sebagai influencer, menerapkan pendekatan yang konsisten dan terfokus dalam membentuk kebiasaan berbahasa yang baik pada anak-anaknya sejak Ia sangat memperhatikan pentingnya pemakaian bahasa formal, sehingga anakanak dapat belajar berkomunikasi dengan sopan dan terstruktur sejak awal. Metode disiplin yang diterapkan Ibu Lala terlihat dari usahanya menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran bahasa yang santun. Setiap interaksi di rumah antara anak dan orang dewasa selalu dilakukan dengan menggunakan bahasa baku dan teratur. Ibu Lala pun memberikan teladan langsung dengan berbicara menggunakan bahasa yang jelas dan sopan, yang pada gilirannya mendorong pembentukan kebiasaan berbahasa yang baik serta mengajarkan anak-anak tentang arti penting tata krama dalam berkomunikasi. Akan tetapi, meskipun gaya pengasuhan ini sangat fokus pada pengajaran bahasa formal, ada kemungkinan anak-anak akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial yang lebih bebas. Di era digital yang serba cepat ini, anak-anak mungkin merasa tertekan dengan ekspektasi yang terlalu ketat dalam penggunaan bahasa. Oleh karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan antara bahasa formal dan kebebasan berbahasa demi mengekspresikan Dalam salah satu konten YouTube-nya. Ibu Lala mengungkapkan bahwa ia belajar mengasuh anak tidak hanya dari pengalaman pribadinya ketika dibesarkan oleh ibunya, tetapi juga melalui berbagai sumber yang ia temui di media sosial, seperti Mamalife. Haibunda, dan influencer parenting lainnya. Meskipun demikian. Ibu Lala menekankan bahwa pengalaman hidupnya sendiri sebagai orang tua adalah yang paling utama. Berbagai pelajaran dari referensi tersebut ia aplikasikan dalam pengasuhan anak, yang semakin diperkaya dengan pengalaman pribadinya sebagai ibu dan influencer. Pola Asuh Bahasa Ibu Vera (Generasi Milenia. Menurut Yuswohady dalam artikel "Millennial Trends" . , generasi milenial, yang juga dikenal sebagai Generasi Y. Net Generation. Generation WE. Boomerang P-ISSN:2301-6671. E-ISSN :2580-6416 | 147 Aulia Diva Dry Anindia1. Perbedaan Pola AsuhA Jurnal Genta Mulia . Generation, dan Peter Pan Generation, adalah kelompok yang lahir antara awal tahun 1980 hingga 2000. Mereka disebut generasi milenial karena menjadi saksi hidup di momen pergantian milenium. Selaras dengan itu, di era ini, teknologi digital mulai memasuki hampir setiap aspek kehidupan (Hidayatullah et al. , n. Ibu Vera, seorang ibu dari generasi milenial, mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dalam mendidik anak-anaknya, terutama dalam hal penggunaan bahasa. Ia tidak mempermasalahkan penggunaan bahasa gaul, asalkan anak-anaknya tetap menunjukkan sikap sopan dan menghormati orang lain. Ibu Vera percaya bahwa penerapan bahasa sehari-hari yang lebih santai dapat mempermudah anak-anak beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka. Dengan cara ini. Ibu Vera memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk berkomunikasi dengan lebih informal, selaras dengan perkembangan zaman dan interaksi sosial, terutama di media sosial. Di tengah dunia digital yang terus berubah. Ibu Vera juga memanfaatkan platform seperti YouTube untuk mendidik anak-anaknya. Melalui video yang relevan, ia mengajarkan mereka berbicara dengan bahasa yang lebih santai, namun tetap dalam batasan Walaupun memberikan kebebasan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Ibu Vera tetap menekankan pentingnya tata krama dalam berkomunikasi. Ia tidak membiarkan anak-anak berbicara sembarangan tanpa memahami situasi dan konteks yang ada. Dalam setiap interaksi sosial, baik secara tatap muka maupun di dunia maya. Ibu Vera selalu mengingatkan anak-anak untuk berbicara dengan sopan, meskipun dalam suasana yang lebih santai. Selain itu. Ibu Vera juga sangat peduli terhadap konten digital yang dikonsumsi anak-anaknya. Ia memilih video dan konten yang memberikan teladan positif dalam berbahasa. Ia juga menetapkan batas waktu untuk menonton video di YouTube atau platform lainnya, agar anak-anak tidak terpapar pada konten yang bertentangan dengan nilai-nilai kesopanan yang ingin Pendekatan ini membantu anak-anak belajar menyesuaikan cara berbicara mereka sesuai dengan situasi, baik saat bersantai dengan teman sebaya, berbicara formal dengan orang dewasa, maupun menjaga sopan santun saat berinteraksi di dunia digital. Dengan pengawasan yang bijak. Ibu Vera berusaha memastikan bahwa anak-anaknya dapat memanfaatkan teknologi untuk belajar dan berkomunikasi dengan baik, tanpa mengabaikan nilai-nilai penting seperti kesopanan dan pengendalian diri. Pola Asuh Ibu Hana (Generasi Z) Generasi Z adalah kelompok demografis yang mencakup individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Mereka tumbuh dalam era digital yang sangat terhubung, sehingga tidak heran jika mereka sangat akrab dengan internet, media sosial, dan teknologi digital sejak dini (Nurachma, n. Paparan terhadap dunia digital ini menjadikan Generasi Z sebagai generasi yang cakap dalam pemanfaatan teknologi, meskipun mereka juga menghadapi tantangan baru dalam komunikasi, pembelajaran, dan penyaringan informasi. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan pola asuh yang seimbang antara kemajuan teknologi dan pengembangan karakter, terutama dalam hal berbahasa dan berkomunikasi, saat mendampingi tumbuh kembang anak-anak di era ini. Ibu Hana, sebagai representasi dari karakteristik generasi Z, menerapkan pendekatan pengasuhan yang tegas sekaligus fleksibel dalam penggunaan bahasa. Ia menyadari bahwa dunia anak-anak saat ini dipenuhi dengan beragam bentuk komunikasi, baik yang formal maupun informal. Sambil tidak melarang penggunaan bahasa gaul. Ibu Hana mengajarkan kepada anakanaknya pentingnya kepekaan terhadap konteks, kapan mereka harus berbicara dengan cara formal dan kapan saatnya menggunakan gaya bahasa yang lebih santai. Tujuan utama Ibu Hana adalah memastikan anak-anaknya dapat dengan cepat beradaptasi dengan dinamika sosial yang terus berubah, tanpa mengabaikan nilai-nilai kesopanan dalam berkomunikasi. Ia dengan lembut menanamkan pemahaman P-ISSN:2301-6671. E-ISSN :2580-6416 | 148 Aulia Diva Dry Anindia1. Perbedaan Pola AsuhA Jurnal Genta Mulia . tentang pentingnya berbicara sesuai situasi, memberikan kebebasan untuk berekspresi sambil tetap menekankan pentingnya menghormati orang lain dalam setiap interaksi. Selain itu. Ibu Hana sangat peka terhadap potensi dampak negatif dari dunia digital. Dengan tegas, ia melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak yang masih terlalu muda, agar mereka dapat lebih fokus pada pengembangan diri, interaksi sosial secara langsung, serta keterampilan komunikasi yang sehat tanpa ketergantungan pada platform digital. Melalui pendekatan ini. Ibu Hana berupaya membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi dengan bijak, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik dalam berbagai konteks serta kemampuan adaptasi yang tinggi untuk menghadapi perubahan zaman. Semuanya merupakan nilai-nilai krusial dalam mendampingi anak-anak dari Generasi Z. SIMPULAN DAN SARAN Dapat disimpulkan, pola asuh bahasa di era digital sangat dipengaruhi oleh latar belakang, nilai-nilai pribadi, dan pandangan orang tua terhadap perkembangan zaman dan Dalam artikel ini, tiga sosok ibu memperlihatkan pendekatan yang beragam namun memiliki tujuan yang sama: membentuk anak-anak yang dapat berkomunikasi dengan baik dan sopan. Ibu Lala menekankan pentingnya penggunaan bahasa formal dan sopan sejak usia dini, dengan pendekatan yang konsisten dan disiplin dalam lingkungan Di sisi lain. Ibu Vera mengadopsi gaya pengasuhan yang lebih fleksibel, mengizinkan penggunaan bahasa gaul selama tetap menjaga tata krama, sembari aktif memanfaatkan media digital untuk mendukung proses belajar anak. Sementara itu. Ibu Hana berpadu antara ketegasan dan kebebasan, mengajarkan kepekaan konteks dalam berbahasa, serta membatasi akses media sosial pada usia dini agar anak lebih fokus pada pengembangan diri dan komunikasi langsung. Ketiga pendekatan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pola asuh bahasa yang benar atau salah. Setiap orang tua memiliki metode tersendiri yang disesuaikan dengan nilai-nilai yang mereka anut dan tantangan yang Yang terpenting adalah bagaimana orang tua dapat menumbuhkan kesadaran berbahasa yang sopan, adaptif, dan kontekstual pada anak-anak, sehingga mereka siap menghadapi dinamika sosial di era digital. DAFTAR PUSTAKA