A AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam Volume. Nomor. 4 November 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 DOI: https://doi. org/10. 59841/al-mustaqbal. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/AL-MUSTAQBAL Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia Afiyatun Kholifah1*. Asa Nadira Pramesti2. Camelyati Kulsum Padilah3. Siti Nurhalimah4 Pendidikan Agama Islam. Universitas Singaperbangsa Karawang. Indonesia *Penulis Korespondensi: afiyatun. kholifah@fai. Abstract. This comparative study analyzes the models of character education by comparing the implementation of Social and Emotional Learning (SEL) in Finland and the Akhlak (Mora. Curriculum within Islamic Religious Education (PAI) in Indonesia. Modern education demands not only cognitive intelligence but also emotional and moral maturity, highlighted by rising issues like bullying and mental health problems in adolescents. Finland's success is attributed to the strong integration of SEL, a psychological method focusing on five core competencies . elf-awareness, self-management, social awareness, relationship skills, and responsible decision-makin. that fosters a positive school climate. In contrast. Indonesia's PAI Akhlak Curriculum aims to form character rooted in theological-spiritual values . iety and obedienc. Using a descriptive qualitative comparative method through literature review and content analysis, the study found that despite sharing the core objective of cultivating moral character , their foundations differ: SEL is secular-humanistic for well-being, while Akhlak is theologicalspiritual. Furthermore. Finland's system employs a low-pressure, integrated, formative evaluation, supported by teacher autonomy, while Indonesia's PAI implementation faces challenges from a dominant focus on quantitative cognitive assessment. The study recommends that PAI adopt the structured SEL framework as a methodological bridge to translate Akhlak values into concrete student behavior and promote active, affect-focused learning. Keywords: Akhlak Curriculum. Character Education. Comparative Study. PAI. Social Emotional Learning (SEL) Abstrak. Studi komparatif ini menganalisis model pendidikan karakter dengan membandingkan implementasi Social and Emotional Learning (SEL) di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia. Pendidikan modern dituntut untuk mencetak individu yang matang secara emosional dan moral, mengingat tantangan seperti degradasi moral dan peningkatan kasus perundungan. Keberhasilan Finlandia terletak pada integrasi kuat SEL, metode psikologis yang berfokus pada lima kompetensi inti . esadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawa. untuk menciptakan iklim sekolah positif. Sebaliknya. Kurikulum Akhlak PAI di Indonesia berakar pada nilai teologisspiritual untuk membentuk karakter yang saleh dan patuh. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif komparatif melalui analisis literatur, penelitian ini menemukan bahwa meskipun tujuan intinya serupa, yaitu membentuk karakter yang bermoral , filosofi dasarnya berbeda: SEL bersifat sekuler-humanistik untuk kesejahteraan, sedangkan Akhlak bersifat teologis-spiritual. Implementasi juga menunjukkan perbedaan, di mana Finlandia menerapkan evaluasi formatif berkelanjutan dan otonomi guru, sementara PAI Indonesia masih menghadapi tantangan sistemik dari dominasi penilaian kognitif-kuantitatif. Oleh karena itu, penelitian merekomendasikan PAI mengadopsi kerangka SEL sebagai jembatan metodologis untuk menerjemahkan nilainilai Akhlak ke dalam perilaku siswa yang nyata dan mendorong pembelajaran yang aktif serta berfokus pada aspek afektif. Kata kunci: Akhlak. Kurikulum Akhlak. Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Karakter. Social Emotional Learning (SEL) LATAR BELAKANG Pendidikan di dunia modern ini dihadapkan dengan banyak tantangan yang sulit. Dunia pendidikan tidak lagi sekadar dituntut untuk mencetak individu yang cerdas secara kognitif, tetapi juga yang matang secara emosional dan moral (Sakiinah et al. , 2. Fenomena degradasi moral, seperti meningkatnya kasus bullying, gangguan mental pada remaja, hingga kekerasan di lingkungan sekolah, menjadi indikator bahwa ada kesenjangan dalam Naskah Masuk: 17 September 2025. Revisi: 21 Oktober 2025. Diterima: 28 November 2025. Terbit: 30 November 2025 Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia pembentukan karakter siswa (MARLINA et al. , 2. Hal ini menuntut adanya reorientasi tujuan pendidikan, dari sekadar transfer pengetahuan . ransfer of knowledg. menjadi penanaman nilai . ransfer of value. kepada para pelajar di sekolah (Yulianti, 2. Untuk melakukan penanaman nilai pada pelajar, maka diperlukan sebuah cara untuk mencapai hal tersebut. Salah satu caranya adalah untuk melakukan implementasi pembelajaran untuk memahami bagaimana karakter pelajar untuk bisa ditanamkan nilai-nilai yang baik. Finlandia sering dijadikan tolak ukur keberhasilan pendidikan dunia. Keunggulan pendidikan Finlandia tidak hanya terletak pada skor akademik yang konsisten tinggi, tetapi juga pada tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis para pelajarnya. Kunci dari keberhasilan ini adalah integrasi Social and Emotional Learning (SEL) yang kuat dalam kurikulum mereka (Yustiani et al. , 2. SEL di Finlandia bukan hanya mata pelajaran tambahan, melainkan metode psikologis yang melatih siswa untuk memiliki kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pendekatan ini lebih menyentuh kepada bidang humanis dan berbasis pada riset psikologi perkembangan, yang terbukti efektif menciptakan iklim sekolah yang positif dan inklusif. Di sisi lain. Indonesia menggunakan cara filosofis dalam pembangunan karakter pelajar yang berakar kuat pada nilai-nilai religius. Salah satu caranya dalam sistem pendidikan nasional adalah dengan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang memegang peranan sentral sebagai ujung tombak pembentukan karakter, yang secara spesifik dikenal sebagai Pendidikan Akhlak. Kurikulum Pendidikan Akhlak dalam PAI bertujuan membentuk manusia yang tidak hanya baik secara sosial . ablum minanna. , tetapi juga memiliki keterikatan spiritual dengan Tuhan . ablum minalla. Konsep akhlak dalam Islam mencakup hal-hal yang sangat luas, mulai dari sopan santun hingga penyucian jiwa . azkiyatun naf. Namun, terdapat perbedaan dalam implementasi dalam penanaman nilai-nilai karakter pada pelajar. Pendidikan Agama Islam wajib diajarkan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, agar penanaman nilai moral pada pelajar yang dididik pada sekolah di Indonesia bisa didapatkan sejak usia dini. Namun, dengan implementasi tersebut, kritik sering muncul bahwa pembelajaran PAI di Indonesia masih terjebak pada tataran kognitif-dogmatis . afalan dalil dan huku. , dan belum sepenuhnya berhasil menyentuh aspek afektif serta perilaku siswa secara mendalam seperti halnya mekanisme internalisasi pada SEL. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 Penelitian ini menjadi penting karena adanya perbedaan yang menarik antara kedua model tersebut. SEL di Finlandia berangkat dari pendekatan psikologi sekuler-humanis yang menekankan pada keterampilan emosional untuk kesejahteraan hidup . ell-bein. , sedangkan Kurikulum Akhlak di Indonesia berangkat dari pendekatan teologis-spiritual yang menekankan pada kepatuhan dan kesalehan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini untuk meneliti hal tersebut dalam pendidikan karakter yang menggabungkan keterampilan sosio-emosional modern dengan kekayaan nilai spiritualitas di Indonesia. KAJIAN TEORITIS Konsep Pendidikan Karakter Pendidikan karakter saat ini topik menjadi penting dan banyak dibicarakan, baik di kalangan pelajar maupun para praktisi pendidikan. Hal ini disebabkan pendidikan karakter dianggap sebagai solusi untuk mengatasi berbagai fenomena perilaku negatif dan penurunan moral yang semakin meningkat, khususnya pada generasi muda. Pendidikan karakter bertujuan membentuk kepribadian individu melalui pendidikan budi pekerti yang nyata diwujudkan dalam perilaku seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain (Gunawan, 2. Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter merupakan proses sadar yang membantu seseorang untuk memahami, merasakan, dan menerapkan nilai-nilai etika secara konsisten dalam kehidupan. Pendidikan karakter tidak sekedar mengajarkan mana yang benar dan salah, melainkan menanamkan kebiasaan berbuat baik sehingga perilaku terpuji menjadi bagian dari diri pribadi (Gunawan, 2. Di Indonesia, pendidikan karakter sangat terkait dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan agama, yang bertujuan membentuk generasi muda menjadi manusia dan warga negara yang berakhlak mulia serta bertanggung jawab. Guru berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik melalui keteladanan dan interaksi sosial yang terjadi dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat (Gunawan, 2. Kerangka pembentukan karakter mencakup pengembangan aspek spiritual dan emosional, intelektual, fisik, serta afektif dan kreativitas, yang saling terkait membentuk pribadi yang utuh dan berkarakter kuat. Pendidikan karakter adalah proses berkesinambungan yang menyatukan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan moral dalam diri peserta didik, sehingga menghasilkan perilaku yang konsisten dan bermakna (Gunawan, 2. Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia Model Social and Emotional Learning (SEL) Model Social and Emotional Learning (SEL) yang diuji oleh (Ross & Tolan, 2. dalam artikel mereka mengacu pada kerangka kerja model CASEL yaitu Collaborative for Academic. Social, and Emotional Learning. CASEL merupakan sebuah organisasi yang fokus pada pengembangan dan pengintegrasian pembelajaran sosial dan emosional (Social and Emotional Learning atau SEL) ke dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Organisasi ini menyediakan kerangka kerja dan standar yang membantu sekolah dan komunitas menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sosial, emosional, dan akademik siswa secara menyeluruh. yang terdiri dari lima kompetensi utama. Kompetensi tersebut meliputi: Pengelolaan Diri (Self-managemen. : Kemampuan mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku dengan efektif agar dapat menyikapi situasi secara tepat. Kesadaran Diri (Self-awarenes. : kemampuan mengenali serta memahami emosi, kekuatan, dan kelemahan diri sendiri secara akurat. Kesadaran Sosial (Kesadaran sosia. : kemampuan untuk memahami perspektif orang lain dan merasakan empati atas perasaan atau kebutuhan mereka. Keterampilan Hubungan (Relationship skill. : Kemampuan memelihara dan memelihara hubungan yang sehat melalui komunikasi yang baik, kolaborasi, dan penyelesaian konflik dengan cara yang konstruktif. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision Makin. Kemampuan membuat keputusan berdasarkan pertimbangan moral dan etika dengan memperhatikan dampak bagi diri sendiri dan orang lain. Kelima kompetensi ini disusun untuk membantu perkembangan sosial dan emosional remaja secara menyeluruh, mendukung prestasi akademik sekaligus kesejahteraan psikologis Ross dan Tolan menunjukkan bahwa model CASEL ini valid dan efektif dalam mendeskripsikan keterampilan sosial dan emosional pada remaja, dan berhubungan positif dengan berbagai hasil positif seperti keterlibatan di sekolah dan penurunan perilaku Model ini dapat dijadikan pijakan untuk membandingkan dengan model pendidikan karakter lain, misalnya Kurikulum Akhlak pada Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia, untuk mendiskusikan perbedaan dan kesamaan dalam pengembangan karakter peserta didik. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia bertujuan membentuk karakter dan kepribadian peserta didik berdasarkan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam budaya bangsa. Kurikulum ini dirancang untuk mengintegrasikan nilai moral dan sosial secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari siswa. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menyampaikan materi akhlak secara relevan bagi generasi muda yang hidup di era teknologi dan informasi, sehingga pendekatan pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan mereka (Rivai et al. , 2. Materi akhlak ini tidak hanya terfokus pada teori, tetapi juga menanamkan kebiasaan positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi melalui keteladanan guru serta sinergi dengan lingkungan keluarga dan masyarakat. Kurikulum PAI berupaya memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai keislaman yang relevan dalam situasi sosial budaya Indonesia, termasuk menghadapi dinamika globalisasi (Rivai et al. , 2. Selain itu, pendidikan akhlak juga melibatkan kegiatan praktik nyata dalam kehidupan siswa, seperti kegiatan sosial dan program pesantren kilat yang mengintegrasikan nilai-nilai agama secara berkelanjutan. Dengan demikian, kurikulum ini diharapkan menghasilkan generasi muda yang memiliki kepribadian mulia sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan (Rivai et al. , 2. Penelitian Terdahulu yang Relevan Berikut adalah penjelasan perbandingan model pendidikan karakter antara implementasi Social and Emotional Learning (SEL) di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia berdasarkan artikel terdahulu: Dalam artikel (Sofiani et al. , 2. yang berjudul "Perbandingan Kurikulum Pendidikan Karakter Indonesia dan Finlandia: Implikasi Bagi Pengembangan Karakter Siswa", dijelaskan bahwa sistem pendidikan karakter di Finlandia tekanan pembentukan karakter secara holistik yang terintegrasi dalam pembelajaran sehari-hari. Finlandia mengutamakan pembentukan karakter sejak dasar pendidikan, sebagai fondasi sebelum pengenalan mata pelajaran pengetahuan dasar. Pendekatan ini dilengkapi dengan intervensi sosial dan emosional yang sistematis untuk mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Dalam artikel (Khilmiyah, 2. yang berjudul "Model pembelajaran PAI dengan pendekatan social emosional learning (SEL) untuk memperkuat karakter dan akhlak mulia siswa sekolah dasar", penulis mengembangkan model pembelajaran PAI yang Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia menggabungkan prinsip SEL sebagai cara efektif memperkuat pendidikan karakter dan akhlak mulia siswa. Model ini menekankan pada pengembangan nilai-nilai keagamaan dan moral melalui interaksi sosial yang positif, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga, dengan tujuan membentuk perilaku dan karakter Islami yang kuat. Sedangkan dalam artikel (Khilmiyah, 2. yang berjudul "Perbandingan Kurikulum Di Finlandia Dan Indonesia Dari Perspektif Keunggulan", implementasi pendidikan karakter di Finlandia banyak menitikberatkan pada kemandirian, kreativitas, dan keterampilan sosial yang diaktifkan dalam aktivitas pembelajaran melalui metode belajar yang aktif dan kolaboratif. Sementara di Indonesia fungsi pendidikan karakter banyak dihubungkan dengan pendidikan agama yang menanamkan nilai-nilai moral melalui penanaman akhlak mulia berdasarkan sistem keagamaan lokal yang kental. Penelitian ketiga artikel tersebut menggaris bawahi bahwa meskipun tujuan utama sama yaitu membentuk karakter dan sikap positif peserta didik, namun Finlandia mengembangkan pendekatan yang lebih luas dan terintegrasi dalam aspek sosial dan emosional, sementara Indonesia menerapkan pendekatan yang lebih fokus pada nilai-nilai agama dan budaya sebagai landasan pengembangan karakter siswa. Perbedaan ini mencerminkan adaptasi kontekstual terhadap kebutuhan sosial budaya masing-masing negara dalam upaya optimalisasi karakter METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan jenis studi komparatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif untuk membandingkan implementasi karakter pendidikan antara Social and Emotional Learning (SEL) di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia. Sumber data penelitian terdiri dari literatur berupa buku, dokumen kebijakan, kurikulum nasional, serta jurnal internasional yang membahas pendidikan karakter di kedua negara. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan dokumentasi dengan cara membaca dan mencermati sumber-sumber tersebut secara sistematis. Analisis data menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. yang bertujuan untuk secara objektif menemukan karakteristik pesan-pesan dari dokumen serta melakukan analisis komparatif untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan pada model pendidikan karakter Finlandia dan Indonesia secara mendalam dan sistematis (Lestari & Shalihudin, 2. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi SEL di Finlandia Implementasi Social and Emotional Learning (SEL) di Finlandia merupakan bagian integral dari filosofi pendidikan nasional yang mengedepankan pendekatan holistik. Model ini mengaitkan perkembangan karakter dengan lingkungan belajar yang inklusif, didukung oleh otonomi profesional yang kuat pada guru dan budaya kepercayaan institusional yang meluas. Prinsip Dasar dan Kerangka Social and Emotional Learning (SEL) Prinsip-prinsip SEL di Finlandia sangat selaras dengan kerangka kerja yang dikembangkan oleh Collaborative for Academic. Social, and Emotional Learning (CASEL). Kerangka ini mengorganisasi pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan siswa ke dalam lima kompetensi inti SEL: Kesadaran Diri. Manajemen Diri. Kesadaran Sosial. Keterampilan Berhubungan, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab. Kompetensi-kompetensi ini dipandang sebagai hal yang saling terkait dan esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa secara menyeluruh. Fokus SEL telah diperluas melampaui dimensi psikologis murni untuk mencakup peran institusional dan ekuitas. Sejak tahun 2019, definisi kompetensi CASEL diperbarui untuk secara eksplisit menempatkan SEL sebagai pengungkit utama . dalam menciptakan lingkungan belajar yang adil . quitable learning environment. dan memupuk perkembangan yang sehat bagi seluruh peserta didik dan orang dewasa. Orientasi ini menunjukkan bahwa Finlandia memandang pengembangan sosial-emosional sebagai alat reformasi sistemik. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua siswa, tanpa memandang latar belakang, memperoleh kompetensi intrapersonal, interpersonal, dan institusional yang diperlukan untuk berhasil di masyarakat yang semakin kompleks dan berbasis pengetahuan. Secara pragmatis. SEL berfungsi sebagai fondasi bagi keberhasilan yang lebih luas. Penelitian menunjukkan bahwa implementasi SEL di sekolah menghasilkan berbagai hasil positif, termasuk peningkatan kinerja akademik, penjalinan hubungan yang sehat, keterlibatan sipil yang bertanggung jawab, serta penurunan signifikan pada tingkat stres dan kecemasan Pencapaian hasil positif dan berkurangnya tekanan psikologis ini dimungkinkan oleh adanya budaya sekolah yang rendah risiko evaluasi. Dalam lingkungan yang bebas dari tekanan ujian standar yang tinggi, keterampilan sosial-emosional dapat dipraktikkan secara otentik, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan dan fokus kognitif siswa. Implementasi Social and Emotional Learning (SEL) di Finlandia merupakan bagian integral dari filosofi pendidikan nasional yang mengedepankan pendekatan holistik. Model ini Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia mengaitkan perkembangan karakter dengan lingkungan belajar yang inklusif, didukung oleh otonomi profesional yang kuat pada guru dan budaya kepercayaan institusional yang meluas. Integrasi dalam Kurikulum Finlandia SEL di Finlandia diimplementasikan melalui pendekatan holistik dan terintegrasi secara lintas disiplin, bukan sebagai mata pelajaran tambahan. Filosofi ini mencerminkan pandangan bahwa kompetensi sosial dan emosional adalah modus operandi dari seluruh proses Sistem pendidikan Finlandia berfokus pada pengembangan karakter, kreativitas, dan kemampuan kolaboratif melalui metode pembelajaran yang sering berbasis proyek. Integrasi kurikulum ini didukung oleh tiga prinsip utama kebijakan pendidikan Finlandia: mendukung visi masyarakat berbasis pengetahuan, mempromosikan kesetaraan pendidikan, dan meningkatkan otorisasi lokal (Fadhil et al. , 2. Fakta bahwa SEL tidak diisolasi dalam satu subjek menunjukkan bahwa kompetensi ini dianggap setara pentingnya dengan literasi dan Jika SEL diajarkan secara terpisah, risiko dianggap sebagai subjek sekunder akan muncul (Schonert-Reichl, 2. Di Finlandia, integrasi lintas kurikulum menunjukkan bahwa keterampilan SEL adalah prasyarat untuk keterlibatan yang efektif dalam semua bidang studi. Otorisasi lokal yang ditekankan dalam kebijakan pendidikan nasional memungkinkan sekolah dan guru untuk secara kolektif merancang kurikulum mereka. Struktur ini memungkinkan penerjemahan kerangka SEL yang bersifat universal . eperti CASEL) menjadi praktik pedagogis yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, menjamin relevansi dan kepemilikan guru terhadap implementasi karakter di lingkungan mereka masing-masing. Strategi Pembelajaran dan Peran Guru Strategi pembelajaran yang diterapkan di Finlandia bersifat fleksibel dan sangat bergantung pada peran sentral guru sebagai profesional otonom. Guru diakui secara luas sebagai keunggulan sejati dalam sistem pendidikan Finlandia. Kepercayaan institusional ini didasarkan pada standar kualifikasi yang sangat tinggi. Guru kelas . engajar kelas 1 hingga . harus memiliki gelar Sarjana dalam pendidikan, sementara guru mata pelajaran spesialis harus menyelesaikan gelar Master dalam mata pelajaran yang mereka ajarkan, ditambah dengan studi pedagogis. Standar kualifikasi yang ketat ini menjadi prasyarat untuk pemberian otonomi yang luas. Peran dalam Pengembangan Kurikulum dan Pedagogi. Guru diberikan kewenangan untuk secara mandiri dan kolektif merancang kurikulum sekolah mereka. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih cara pengajaran yang efektif, menilai seberapa baik siswa belajar, dan mengarahkan pengembangan profesional mereka sendiri. Otonomi ini memastikan bahwa guru memiliki kedalaman pengetahuan pedagogis yang memadai untuk mengintegrasikan SEL AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 secara efektif di dalam kelas. Kepemimpinan kolektif dalam desain kurikulum ini merupakan mekanisme penting yang menjamin konsistensi implementasi SEL di seluruh sekolah, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap kesejahteraan dan perkembangan karakter siswa. Guru memegang peran penting sepanjang proses pembelajaran, mulai dari pengenalan awal peserta didik, penguasaan kelas, hingga tahap evaluasi. Evaluasi Karakter Sistematika evaluasi di Finlandia sangat berbeda dari banyak sistem pendidikan yang berorientasi pada hasil terpusat. Evaluasi pembelajaran bersifat formatif dan holistik, dengan fokus utama pada perkembangan berkelanjutan siswa. Evaluasi di Finlandia bertujuan untuk memberikan umpan balik yang mendukung proses belajar, bukan untuk mengklasifikasikan atau memeringkat siswa. Penilaian bersifat holistik, yang berarti menilai kemajuan menyeluruh siswa, termasuk kompetensi sosial dan emosional mereka, bukan hanya capaian kognitif. Filosofi evaluasi ini memungkinkan siswa untuk mengambil risiko, mencoba keterampilan baru, dan belajar dari kesalahan tanpa takut akan konsekuensi akademik yang permanen, yang sangat penting untuk penguasaan kompetensi interpersonal SEL. Salah satu ciri khas sistem evaluasi Finlandia adalah tidak adanya Patokan Standar Kompetensi Minimum (KKM) dan Ujian Nasional (UN). Kebijakan ini secara langsung menciptakan lingkungan belajar yang rendah tekanan. Dalam konteks pendidikan karakter, budaya evaluasi bebas ancaman ini terbukti unggul dalam mendorong partisipasi aktif peserta didik, kreativitas, dan kolaborasi. Sebaliknya, lingkungan yang berfokus pada ujian dan capaian nilai yang tinggi . igh-stakes cultur. cenderung membatasi partisipasi aktif siswa, sebagaimana yang diamati dalam studi komparatif. Implementasi Kurikulum Akhlak dalam PAI di Indonesia Implementasi Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia berakar kuat pada landasan teologis dan bertujuan membentuk karakter moral yang sesuai dengan nilai-nilai agama. PAI memegang peranan vital dalam pembentukan karakter dan moral siswa di Indonesia Landasan Kurikulum Akhlak Kurikulum Akhlak didukung oleh fondasi yang komprehensif, menggabungkan dimensi filosofis, teologis, dan ideologis nasional. Landasan Filosofis-Teologis. Pengembangan kurikulum PAI didasarkan pada tiga landasan pokok filsafat ilmu Islam: ontologi . akikat keberadaa. , epistemologi . akikat pengetahuan, yang bersumber dari wahyu Al-Qur'a. , dan aksiologi . akikat nila. Landasan ini diperlukan untuk memastikan kurikulum selaras dengan Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia nilai-nilai agama Islam. Sumber utama ajaran ini adalah Al-Qur'an, yang menyediakan petunjuk komprehensif, dan Hadits, yang berfungsi sebagai contoh konkret . untuk penerapan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Landasan teologis ini memberikan kekokohan normatif dan otoritas transendental bagi nilai-nilai Akhlak, memastikan standar moralitas yang diajarkan memiliki landasan yang tetap. Landasan Ideologis Nasional di Indonesia, kurikulum PAI juga harus memiliki akar pada Pancasila, khususnya sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa". Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Pancasila berurat dan berakar dalam kebudayaan bangsa dan harus ditanamkan melalui pendidikan nasional. Landasan ini menuntut guru PAI untuk tidak hanya mengajarkan norma teologis tetapi juga mengintegrasikannya dengan etika publik yang relevan dalam konteks pluralisme Indonesia, sehingga nilai-nilai religius diterjemahkan menjadi perilaku yang berlandaskan pada filosofi bangsa. Tujuan utama dari landasan filosofis-teologis ini adalah untuk mensintesis pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek kognitif . engetahuan agam. , afektif . embentukan sika. , dan psikomotorik . eterampilan ibadah dan perbuatan bai. Materi dan Pendekatan Pembelajaran Materi Akhlak secara spesifik mencakup dimensi hubungan vertikal . engan Tuha. dan horizontal . engan sesama manusi. , yang diajarkan melalui pendekatan berbasis praktik dan Materi yang ditanamkan meliputi: Akhlak kepada Allah SWT Penanaman akidah yang kuat adalah hal mutlak pertama dan utama. Hal ini dilakukan melalui konsep Ihsan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan melalui muhasabah . untuk menumbuhkan kesadaran diri. Upaya ini secara fungsi sebanding dengan tujuan Kesadaran Diri dalam SEL, meskipun landasannya adalah teologis. Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW Siswa diajarkan untuk meneladani sifat-sifat Rasulullah sebagai uswatun hasanah, dengan contoh nyata seperti kejujuran dan kedisiplinan. Etika Pergaulan Materi ini dibagi menjadi tiga lingkungan yaitu Akhlak dalam lingkungan keluarga . enghormati orang tua dan bersikap baik terhadap yang lebih mud. Akhlak dalam lingkungan masyarakat . eteladanan dalam berperilak. , dan Akhlak dalam lingkungan sekolah . erja sama dan interaksi dengan teman sebay. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 Pendekatan Pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran PAI memiliki kedudukan signifikan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Strategi implementasi didominasi oleh Pembiasaan. Guru PAI menekankan keteladanan yang dicontohkan melalui komunikasi yang terjalin intensif selama kegiatan pembelajaran. Selain itu, pendidikan Akhlak diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti pembelajaran Al-QurAoan, pesantren kilat, dan bakti sosial. Keberhasilan pembiasaan menuntut adanya sinergitas antara lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah, karena kurangnya konsistensi di salah satu lingkungan dapat mempersulit internalisasi nilai-nilai moral. Peran Guru PAI Kualitas pembelajaran PAI dan pembentukan akhlak sangat bergantung pada kompetensi Guru PAI mengemban peran ganda yang menuntut standar moral dan profesional yang Tuntutan dan Kompetensi Guru. Guru PAI harus memiliki dan terus meningkatkan empat kompetensi: pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesionalisme. Peran terpenting guru PAI adalah sebagai teladan . swatun hasana. dalam perkataan dan perbuatan. Guru juga harus bertindak sebagai agen perubahan . gent of chang. untuk mengarahkan perilaku siswa ke arah yang lebih baik. Tuntutan sebagai teladan menempatkan beban moralitas yang sangat besar pada individu guru, yang keberhasilannya seringkali bergantung pada keunggulan Untuk meningkatkan kompetensi ini, diperlukan strategi penyuluhan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Strategi yang terbukti efektif meliputi pelatihan berbasis praktik, workshop, dan pembelajaran kolaboratif antara guru PAI. Guru PAI juga bertanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran dan mengevaluasi prosesnya sebelum pelaksanaan. Peningkatan kompetensi ini penting agar guru memiliki kemampuan fasilitasi sosial dan emosional yang diperlukan untuk menanamkan Ihsan dan mengelola etika pergaulan siswa secara efektif. Evaluasi Akhlak Mekanisme evaluasi akhlak dalam PAI harus selaras dengan tuntutan pembentukan Dalam konteks evaluasi, terdapat berbagai model yang dikembangkan, termasuk model evaluasi formatif . elama prose. dan sumatif . i akhir progra. Penilaian akhlak, yang termasuk dalam aspek afektif, secara ideal harus dilakukan secara kualitatif, dinyatakan dengan ungkapan, dan menggunakan teknik non-tes. Model evaluasi yang komprehensif, seperti Countenance Evaluation Model, menekankan penilaian tidak hanya Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia pada hasil . tetapi juga pada konteks . dan proses . Hal ini menunjukkan kesadaran akan perlunya penilaian yang holistik dan prosesual dalam PAI. Meskipun Kurikulum Merdeka di Indonesia menguatkan pendekatan holistik, terutama dalam penilaian prestasi dan ilmu pengetahuan siswa , terdapat tantangan sistemik. Sistem pendidikan Indonesia secara umum masih didorong oleh fokus pada persiapan ujian dan capaian nilai kuantitatif. Perbedaan signifikan ini, berbanding terbalik dengan budaya evaluasi formatif berkelanjutan dan bebas ancaman di Finlandia , menimbulkan risiko bahwa penilaian kualitatif terhadap akhlak dapat disederhanakan atau menjadi sekadar formalitas administrasi. Jika tekanan untuk mencapai hasil kognitif kuantitatif mendominasi, upaya untuk menilai dan mengembangkan akhlak secara mendalam berpotensi terpinggirkan. Untuk menguatkan karakter, sistem harus memberikan sinyal bahwa penilaian afektif dan kualitatif adalah prioritas Analisis Perbandingan SEL di Finlandia dan Kurikulum Akhlak PAI Indonesia Persamaan Tujuan Pendidikan Karakter Kedua sistem bertujuan untuk menciptakan individu yang berkarakter, empatik, dan mampu hidup harmonis. Bahan ajar haruslah dipilih berdasarkan kecocokannya dengan materi yang akan disampaikan karena jika tidak malah akan menghambat kegiatan pembelajaran. Bahan ajar yang baik harus memenuhi beberapa kriteria berikut: Inti atau pokok bahasan haruslah mencakup kompetensi ataupun sub kompetensi yang harus dicapai . Standar keterbacaan, dari kesulitan bahasan haruslah sesuai standarnya. Bahan ajar haruslah dibuat secara sistematis, jelas, dan mudah dipahami. Perbedaan Filosofi Dasar dan Orientasi Kompetensi Finlandia berlandaskan pada prinsip humanistik, kesejahteraan, dan kebebasan individu. Sementara Indonesia berorientasi pada nilai-nilai agama, moral, dan spiritual. Secara singkat, inti dari filosofi adalah pedoman moral dan intelektual yang mengarahkan perjalanan, sedangkan orientasi kompetensi berfungsi sebagai panduan praktis yang menjabarkan langkahlangkah serta hasil yang bisa diukur untuk meraih sasaran yang ditetapkan oleh filosofi Keduanya saling mendukung untuk membangun sistem pendidikan yang menyeluruh. Perbedaan Implementasi Pembelajaran Finlandia menerapkan metode pembelajaran yang kolaboratif, eksploratif, dan adaptif. Di sisi lain. Indonesia masih mengandalkan ceramah dan hafalan, meskipun sudah ada perubahan melalui program Merdeka Belajar. Perbedaan cara menerapkan pembelajaran AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 terletak pada pendekatan dan metode yang digunakan. Misalnya, pembelajaran terdiferensiasi menitikberatkan pada kebutuhan setiap siswa secara individu, sedangkan pembelajaran berbasis proyek (PBL) lebih menekankan pada pemecahan masalah dan pengerjaan proyek. Ada juga perbedaan dalam fokus, seperti pada model pembelajaran interaktif yang memperhatikan kegiatan dan kemajuan siswa secara pribadi, tanpa menunggu temantemannya. Di sisi lain, ada implementasi yang lebih menekankan penggunaan lingkungan sekitar sebagai sarana belajar. Perbedaan Evaluasi Finlandia menilai kemajuan siswa melalui penilaian formatif. Sementara itu. Indonesia masih banyak menggunakan penilaian administratif dan evaluasi kognitif. Perbedaan penilaian terletak pada niat dan lingkupnya. Penilaian merupakan sebuah aktivitas menyeluruh yang bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan, efisiensi, serta nilai keseluruhan dari sebuah program, proyek, atau aktivitas, dengan melibatkan proses pengumpulan, analisis, dan evaluasi data guna membuata keputusan. Berbeda dengan pengukuran yang hanya berfungsi untuk kuantifikasi, dan penilaian . yang terfokus pada pengumpulan data atau deskripsi kualitatif, penilaian memanfaatkan pengukuran dan penilaian untuk menarik kesimpulan akhir. Berdasarkan Tujuan Penilaian berbasis proses, hal terebut bertujuan untuk menemukan area yang memerlukan perbaikan selama proses berlangsung, agar hasil akhirnya dapat lebih Sedangkan penilaian berbasis hasil, hal tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan akhir telah tercapai dan sejauh mana tingkat keberhasilan yang diraih. Penilaian formati dilakukan sepanjang proses guna mengetahui perkembangan dan memberikan umpan balik untuk perbaikan. Penilaian sumatif dilaksanakan setelah proses selesai untuk mengevaluasi tingkat pencapaian secara keseluruhan. Kelebihan dan Kekurangan Masing-masing Model Finlandia memiliki keunggulan dalam memberikan otonomi kepada guru, fasilitas, dan integrasi karakter, tetapi membutuhkan kompetensi guru yang tinggi. Sebaliknya. Indonesia memiliki kekuatan dalam aspek religius, tetapi penerapannya belum merata. Pembelajaran yang dilakukan secara langsung umumnya bersifat deduktif. Keuntungan dari pendekatan ini adalah kemudahan dalam perencanaan dan penerapan, sementara kelemahan utamanya terletak pada pengembangan keterampilan, proses, dan sikap yang dibutuhkan untuk berpikir kritis serta interaksi antarpribadi dan pembelajaran dalam kelompok. Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia Implikasi dan Rekomendasi Peluang Adopsi Nilai SEL dalam Pembelajaran Akhlak PAI Nilai-nilai SEL seperti empati dan keterampilan sosial dapat memperkuat pendidikan Peluang ini muncul dari beberapa hal penting: Konsep akhlak dalam Islam, seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan toleransi, sangat cocok dengan kompetensi inti SEL, seperti kesadaran sosial, keterampilan berinteraksi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Membentuk Karakter Lengkap: PAI bertujuan untuk melatih siswa yang tidak hanya pintar secara akademis dan spiritual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat serta tingkah laku yang baik . khlakul karima. SEL memberikan cara yang terstruktur untuk mencapai tujuan dalam hal perasaan dan tindakan, selain mendukung cara belajar berpikir tradisional. Relevansi dengan Masalah Saat Ini: Menggunakan SEL membantu siswa mengelola tekanan, memahami perasaan mereka, dan mengembangkan hubungan yang baik, yang sangat penting dalam menghadapi tantangan psikososial di masa kini yang penuh dengan teknologi dan beragam pemandangan. Inovasi dalam Pembelajaran: Mengadopsi SEL bisa mendorong perubahan dalam cara mengajar PAI, contohnya dengan metode permainan peran atau pembelajaran yang berbasis pertanyaan, sehingga materi tentang akhlak terasa lebih bermakna dan nyata bagi siswa. Kurikulum yang Mendukung: Kurikulum Merdeka di Indonesia fokus pada pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan siswa dan pengembangan kemampuan sosial-emosional, sehingga mendukung penggunaan SEL dalam pembelajaran PAI. Adaptasi yang Relevan Untuk Konteks Pendidikan Indonesia Mengintegrasikan SEL dalam praktik keagamaan dan proyek karakter yang berfokus pada akhlak. Adaptasi kurikulum yang fleksibel sangat penting karena memenuhi berbagai kebutuhan peserta didik. Kurikulum Merdeka: Program yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi ini memberikan kebebasan kepada sekolah untuk menyesuaikan kurikulum sesuai dengan bakat dan kebutuhan siswa. Fokusnya adalah pada pembelajaran dalam kurikulum, kegiatan di luar kurikulum, dan kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan Inklusif: Membuat adaptasi kurikulum untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus melalui penyesuaian cara mengajar atau lingkungan belajar, serta perubahan materi pelajaran sangat penting agar semua siswa mendapatkan pendidikan yang layak. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 . Pembelajaran Berbasis Proyek: Kurikulum dapat mencakup proyek nyata yang melibatkan siswa aktif dalam menyelesaikan permasalahan di dunia nyata. Hal ini relevan dengan kebutuhan pembangunan negara dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rekomendasi Pengembangan Model Pendidikan Karakter Masa Depan Rekomendasi pengembangan model pendidikan karakter masa depan mencakup beberapa hal penting. Pertama, kurikulum perlu diintegrasikan agar nilai-nilai karakter terasa dalam setiap mata pelajaran, bukan hanya sebagai program tambahan. Selain itu, lingkungan sekolah harus dibuat nyaman dan positif, baik secara fisik maupun sosial, melalui tata ruang yang baik, tampilan karya siswa, serta interaksi yang baik antar sesama. Program ini juga perlu didukung oleh kebijakan yang jelas dan terstruktur agar bisa mencakup seluruh lapisan . Kedua, pembelajaran harus menyenangkan dan menyentuhkan karakter. Selain mengasah pengetahuan, pembelajaran juga harus membangun kepribadian dan rasa tanggung jawab. Misalnya, siswa bisa terlibat dalam proyek sosial seperti kampanye lingkungan, bantuan kepada anak jalanan, atau dukungan untuk kelompok yang kurang diperhatikan. Metode ini bisa melatih rasa empati, kepedulian, serta kesadaran akan pentingnya kerja sama. Pembelajaran yang interaktif dan aktif juga bisa membantu siswa membiasakan perilaku yang baik melalui latihan konsisten. Model pembelajaran yang holistik juga penting untuk melibatkan berbagai gaya belajar seperti visual, auditori, dan kinestetik melalui pengalaman langsung. Ketiga, peran guru dan orang tua sangat penting. Guru harus dijadikan sebagai teladan dan mentor yang mampu mendampingi siswa secara spiritual dan emosional. Untuk itu, guru perlu diberi pelatihan yang komprehensif agar bisa menjadi fasilitator yang baik, mampu mengajar secara efektif, serta menjadi contoh yang baik bagi siswa. Di sisi lain, orang tua juga harus terlibat aktif dalam proses pembentukan karakter anak. Mereka bisa dilibatkan melalui pelatihan atau seminar untuk memahami pentingnya peran mereka, serta untuk membangun komunikasi yang saling menghargai. Terakhir, pengembangan keterampilan abad ke-21 juga penting. Siswa perlu diberikan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dan etis, termasuk mengetahui dampak dari jejak digital dan tata cara berkomunikasi yang baik di dunia maya. Dengan demikian, karakter siswa bisa terbentuk secara kuat, kompetitif, dan berintegritas untuk menghadapi tantangan masa depan. Studi Komparatif Model Pendidikan Karakter: Implementasi Social and Emotional Learning di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam di Indonesia KESIMPULAN DAN SARAN Studi komparatif ini menyimpulkan bahwa meskipun Social and Emotional Learning (SEL) di Finlandia dan Kurikulum Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia memiliki tujuan inti yang serupa untuk membentuk karakter yang bermoral dan berkehidupan harmonis , keduanya didasarkan pada filosofi dan model implementasi yang berbeda secara SEL Finlandia berakar pada pendekatan psikologi sekuler-humanis yang menekankan keterampilan emosional untuk kesejahteraan hidup . ell-bein. dan diimplementasikan secara holistik di seluruh kurikulum dengan budaya evaluasi formatif berkelanjutan yang rendah tekanan dan otonomi guru yang kuat. Sebaliknya. Kurikulum Akhlak PAI Indonesia didasarkan pada pendekatan teologis-spiritual yang menekankan kepatuhan dan kesalehan , namun implementasinya masih menghadapi tantangan sistemik, yaitu kecenderungan pada penilaian kognitif-kuantitatif dan risiko materi akhlak menjadi formalitas administrasi jika tekanan ujian mendominasi. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar PAI mengadopsi kerangka kerja SEL . eperti Kesadaran Diri. Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawa. sebagai jembatan metodologis yang terstruktur untuk menerjemahkan nilai-nilai Akhlak ke dalam perilaku nyata siswa dan untuk mendorong perubahan menuju pembelajaran yang aktif, interaktif, dan berfokus pada pengembangan afektif dan sosial-emosional. DAFTAR REFERENSI CASEL. Kerangka SEL: Lima kompetensi utama. Dewan Pendidikan Nasional Finlandia. Kurikulum Inti Nasional Finlandia. Fadhil. Mislaini, & Ramadhan. Perbandingan kurikulum di Finlandia dan Indonesia dari perspektif keunggulan. Jurnal Media Akademik (JMA), 2. Gunawan. Pembentukan karakter. Gunawan. Pendidikan karakter: Konsep dan implementasi (Vol. Issue . Alfabeta. Intan. Dani. Suryati. , & Adiansha. Analisis peran guru dalam pembelajaran berdifferensiasi di sekolah dasar. Jurnal Pengajaran Sekolah Dasar, 4. , 158Ae166. https://doi. org/10. 56855/jpsd. Khilmiyah. Model pembelajaran PAI dengan pendekatan social emotional learning (SEL) untuk memperkuat karakter dan akhlak mulia siswa sekolah dasar. Didaktika Religia, 1. https://doi. org/10. 30762/didaktika. Lestari. , & Shalihudin. Perbandingan kurikulum pendidikan di Indonesia dan Finlandia. Edukasi, 3. , 129Ae141. https://doi. org/10. 55115/edukasi. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 46-62 Marlina. Irfiana. Ismail, & Hilaliati. Pentingnya evaluasi pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 11. , 214Ae226. Nurlaeli. Penerapan pendidikan akhlak dalam PAI. Rivai. Amanda. Batubara. , & Korespondensi. Kurikulum PAI untuk Generasi Z: Menanamkan akhlak mulia di dunia yang serba cepat. Jurnal Pendidikan Islam, 2, 301Ae310. Ross. , & Tolan. Social and emotional learning in adolescence: Testing the CASEL model in a normative sample. The Journal of Early Adolescence, 38. , 1170Ae https://doi. org/10. 1177/0272431617725198 Sakiinah. Mahya. , & Santoso. Revolusi pendidikan di era Society 0: Pembelajaran, tantangan, peluang, akses, dan keterampilan teknologi almirah. Jurnal Pendidikan Transformatif (JUPETRA), 1. , 18Ae28. Schonert-Reichl. Social and emotional learning and teachers. The Future of Children, 137Ae155. https://doi. org/10. 1353/foc. Sofiani. Yuniarti. Suhaila. , & Agustina. Perbandingan kurikulum pendidikan karakter Indonesia dan Finlandia: Implikasi bagi pengembangan karakter Jurnal Al-Kifayah: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 4. , 139Ae147. https://doi. org/10. 53398/ja. Wahidah. , & Ibad. Februar. Arah baru sistem pendidikan Indonesia dan Finlandia dalam menyiapkan generasi emas. In International Conference on Humanity Education and Society (ICHES) (Vol. No. Yulianti. Pentingnya pendidikan karakter untuk membangun generasi emas Indonesia. Cermin: Jurnal Penelitian, 5. , 28Ae35. https://doi. org/10. 36841/cermin_unars. Yustiani. Susanti. Safitri. , & Gulo. Studi komparatif sistem pendidikan Indonesia dengan Finlandia. Learning: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan Pembelajaran, 4. , 1025Ae1035. https://doi. org/10. 51878/learning.