EDUKASI PENGGUNAAN Abstrak MEDIA SOSIAL UNTUK Dengan semakin banyaknya orang yang memiliki akses ke internet, hoax menjadi semakin umum di Indonesia. yang mengejutkan, ibu rumah tangga merupakan mayoritas penyebar hoax, salah satu penyebab dari dampak buruk penggunaan internet, seperti berita palsu tentang penculikan anak, pelanggaran privasi, cyberbullying, konten kekerasan, dan pornografi adalah rendahnya literasi media digital. mayoritas dari ratusan berita palsu tersebut melibatkan penipuan di bidang teknologi informasi . Kegagalan masyarakat dalam melakukan pengecekan fakta di media sosial memiliki dampak yang serius. Dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi dan survei terhadap pemberitaan tentang penculikan. Dan dengan dilakukan sosialisasi literasi dapat membuat ibu-ibu paham akan bahaya hoax di media. Kata kunci: Digital literasi. Hoax. Internet MENGANTISIPASI BERITA PALSU (HOAX) DI DAERAH KUNINGAN. JAWA BARAT Vivi Meilinda Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kuningan Sejarah artikel Diterima: 5 April 2023 Revised: 18 April 2023 Diterima: 28 April 2023 *Penulis yang sesuai Pilih penulis yang akan menjadi korespondensi penulis Email: vivimeilinda89@gmail. Abstract As more and more people have access to the internet, hoaxes are becoming more common in Indonesia. Surprisingly, housewives make up the majority of hoax spreaders. One of the causes of the adverse effects of internet use, such as fake news about child abduction, privacy violations, cyberbullying, violent content, and pornography, is low digital media literacy. People's failure to do fact-checking on social media has serious repercussions. this study, researchers conducted observations and surveys on news about And with the socialization of literacy can make mothers understand the dangers of hoaxes in the media. Keywords: Literacy digital. Hoax. Internet PENDAHULUAN Upaya untuk meningkatkan literasi media digital di masyarakat telah diluncurkan oleh banyak pihak sebagai tanggapan atas kejadian-kejadian bermasalah dalam penggunaan media sosial online . Penggunaan media sosial menjadi penekanan utama literasi media digital. Berbagai pendekatan berbeda telah digunakan dalam upaya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun untuk mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan media digital. Beberapa menggunakan pendekatan tematik, baik yang berfokus pada demografi tertentu seperti "remaja" dan "anak-anak", atau pada topik tertentu seperti "anti-hoax", "keamanan internet", atau pada segmen tertentu seperti "guru", "ibu rumah tangga" . n 154 Copyright . 20XX Vivi Meilinda Karya ini berlisensi di bawah Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. DOI - Beberapa faktor berikut ini, menurut Giselle. & Turki A. , mempengaruhi diterima atau tidaknya sebuah berita hoaks . Usia adalah pertimbangan pertama. Menurut sebuah studi tahun 2016 oleh Hartzel dkk. , 83% orang dewasa yang menggunakan media sosial berusia antara 18 dan 29 tahun. Faktor kedua adalah jenis kelamin, yang didukung oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan cenderung tidak menerima teknologi baru (Allyn, 2003. Li. Records, & Fougere, 2004. Shashaani & Khalili, 2. Pria lebih cenderung mengadopsi teknologi baru daripada wanita. Komponen ketiga adalah pendidikan, yang ditunjukkan pada pemilihan umum Amerika Serikat Menurut Allcott dan Gentzkow . , orang yang berpendidikan rendah lebih mungkin terpapar berita Budaya merupakan aspek terakhir. Misalnya. Arab Saudi. Tidak semua orang memiliki kemampuan literasi seseorang yang melek informasi harus memenuhi beberapa persyaratan. Menurut Wooliscroft . alam Khadijah 2. , ada tiga jenis khalayak yang rentan terhadap pengaruh negatif media, yaitu anak-anak, remaja, dan ibu-ibu. Pengaruh utama pada anak-anak adalah pada perkembangan otak, emosi, sosial, dan kemampuan kognitif . Intensitas dari apa yang mereka tonton akan mempengaruhi persepsi mereka. Kekhawatiran dalam hal ini mengacu pada kemampuan anak-anak untuk menghapus tayangan kekerasan . Hoaks tidak hanya terbatas pada berita palsu dalam arti yang lebih luas, tetapi juga terkait dengan lintasan sejarah Pada dasarnya, hoaks seni satir (SAH) memiliki tradisi dalam sejarah. Hoax adalah tipuan, manipulasi, mengecoh, atau kebohongan, sedangkan Satir adalah kritik dan seni adalah seni (Irving, 2. Menurut sejarah. SAH dimulai pada abad ketujuh. SAH digunakan sebagai sarana oleh para pengkritik untuk mengkritik fenomena sosial. Seorang kritikus terlibat dalam tradisi SAH ketika mengkritik sebuah karya seni . Ketika hoaks dan teknologi dibandingkan, jelas bahwa hoaks menyebar lebih cepat. semakin cerdas dan kuat. Gejala hoaks menjadi lebih umum, yang mendorong fitnah dan ujaran kebencian. Desain yang sangat provokatif dan menarik dikatakan sebagai langkah pertama dalam penyebaran hoaks karena mendorong pembaca untuk mengkritik atau bereaksi. Bahkan, setiap komentar pada tautan tersebut langsung terhubung dengan mesin pencari media sosial sehingga mereka dapat secara otomatis merayapi dan merekam informasi . Definisi literasi digital adalah Kemampuan untuk menggunakan berbagai perangkat lunak dan perangkat keras aplikasi media digital, termasuk komputer, ponsel pintar, dan teknologi internet. kapasitas untuk memahami secara kritis konten media digital dan aplikasinya. serta pengetahuan dan kemampuan untuk memproduksi konten media dengan menggunakan teknologi digital merupakan beberapa definisi literasi digital yang sudah dikenal luas (Novianti & Fatonah, 2. Dalam beberapa tahun terakhir, situasi pelaku kejahatan yang menyebarkan informasi palsu yang ditangkap oleh petugas polisi yang sebagian besar adalah anggota masyarakat telah mendapat perhatian luas di media massa . Contoh lainnya adalah penyebaran informasi palsu . tentang penculikan anak, penyebaran informasi tentang bencana alam, penyebaran informasi tentang virus corona (COVID . , dan lain sebagainya. Situasi politik Indonesia yang berubah, dan pandemi Covid 19 yang masih berlangsung secara global, turut berkontribusi terhadap gejolak opini publik di media sosial. Gerakan literasi media sosial sangat penting bagi semua negara, terutama di Asia Tenggara, menurut Penasihat Komunikasi dan Informasi UNESCO. Ming Kuok-Lim . Berdasarkan isu-isu di atas, jelas bahwa penyebaran hoaks tidak hanya mengekspos konten politik dan aksi buzzer di media sosial, tetapi juga berdampak buruk pada masyarakat yang dapat terkena pelanggaran pidana UU ITE dan hukuman penjara dari kepolisian. Tindakan peneliti berpusat pada pemberdayaan perempuan melalui literasi media digital karena masyarakat masih kurang memahami cara mengidentifikasi hoaks dan melakukan cek fakta . Pemahaman untuk menilai informasi dengan menggunakan berbagai alat digital dikenal sebagai literasi digital. Ibu-ibu pengajian di wilayah Kuningan. Jawa Barat, diundang oleh para peneliti. Perempuan berusia 30-an hingga 50-an tahun yang merupakan ibu rumah tangga menghadiri acara sosial ini. Peneliti membatasi keterlibatan sosial ini untuk mengurangi kegiatan sosial ini karena pandemi . METODE PELAKSANAAN Pendekatan yang dilakukan tim pengabdian masyarakat dibagi menjadi tiga tahap: pemantauan media, survei pendahuluan untuk persiapan materi tentang penyuluhan sosialisasi literasi media sosial selama dua hari di bulan Agustus 2022, dan evaluasi pelaksanaan. Ibu-ibu dari wilayah Kuningan. Jawa Barat ikut serta dalam kegiatan ini. Peserta yang hadir sebagian besar merupakan ibu-ibu berusia antara 30 hingga 60 tahun . Edukasi Penggunaan Media Sosial Untuk. DOI - PEMBAHASAN Kegiatan yang secara langsung mempromosikan literasi media sosial di masyarakat adalah fokus dari pengabdian masyarakat secara khusus . Di Indonesia, kemunculan media sosial telah mengubah cara masyarakat dalam mencari Masyarakat tidak lagi bergantung pada liputan media tradisional untuk mendapatkan informasi. Pengguna harus lebih berhati-hati karena banyaknya informasi yang dibagikan di media sosial. Terlepas dari apakah materi tersebut adalah realitas, opini, atau hanya informasi yang diproduksi dengan tujuan untuk menumbuhkan narasi palsu yang dapat memperdalam permusuhan, ketakutan, dan ketidaknyamanan di antara kelompok-kelompok masyarakat. Pengguna media sosial, terutama ibu-ibu, harus memiliki keterampilan literasi media sosial dalam situasi ini. Berikut tim peneliti memberikan media monitoring dalam kurun waktu tiga tahun terakhir mengenai keterlibatan ibu rumah tangga sebagai penyebar hoax . Tabel 1. Media monitoring pemberitaan kasus hoax melibatkan ibu rumah tangga tahun 2020-2022 Judul Pemberitaan Sumber & Link Berita Waktu Terbit Sebar Hoax soal Corona di Facebook. Ibu Rumah Tangga di Kalbar Ditangkap Polisi https://kumparan. com/hipontianak/s ebar-hoaks-soal-corona-di-facebook -ibu-rumah-tangga-di-kalbar-ditang kap-polisi-1sxwZZJPqdK 05 Maret 2020 Ditangkap. Ibu Rumah Tangga Minta Maaf Sebarkan Hoax Pasien Terjangkit Corona di Surabaya https://regional. com/read/2 020/03/09/16420531/ditangkap-iburumah-tangga-minta-maaf-sebarkan -hoaks-pasien-terjangkit?page=all 09 Maret 2020 Sebar Hoaks Covid-19. Ibu-ibu di Tasikmalaya Minta Maaf ke Korban https://w. com/regio nal/pr-79681134/sebar-hoaks-covid19-ibu-ibu-di-tasikmalaya-minta-m aaf-ke-korban 24 Maret 2020 Penyebaran Hoax AoIbu Gorok AnakAo di Jaktim Dipulangkan Usai Di Mediasi https://news. com/berita/d-604 0602/penyebar-hoax-ibu-gorok-ana k-di-jaktim-dipulangkan-usai-dimed iasi-polisi 19 April 2022 Hoaks Cetakan Uang Baru 1 Juta Rupiah Tahun 2022 https://w. tv/article/3130 68/hoaks-cetakan-uang-baru-1-jutarupiah-tahun-2022-news-or-hoax 26 Juli 2022 Edukasi Penggunaan Media Sosial Untuk. DOI - Ibu rumah tangga dapat menjadi fokus dari proyek peneliti yang melibatkan sosialisasi literasi media sosial, menurut pemantauan media yang dibahas di atas . Peneliti menghadapi masalah dalam melibatkan ibu rumah tangga untuk mempromosikan gagasan literasi media sosial dan memberdayakan mereka dengan kemampuan literasi media sosial. Penyebabnya adalah karena para ibu ini sama sekali belum pernah disosialisasikan atau diajarkan cara menggunakan media social . Gambar 1: Suasana sosialisasi literasi media sosial ibu-ibu di daerah Kuningan. Jawa Barat Hal ini bertujuan agar literasi media sosial dapat disosialisasikan secara lebih efektif dengan memberikan contoh-contoh video YouTube mengenai fungsi masyarakat di era digital. Masyarakat Indonesia semakin bergantung pada media sosial dalam beberapa tahun terakhir, baik secara personal maupun komunal. Minat masyarakat yang semakin meluas terhadap media sosial membutuhkan kemampuan literasi media sosial . Masyarakat menyatakan bahwa sosialisasi seperti ini sangat penting bagi mereka karena mereka sering bersentuhan dengan media sosial tetapi tidak menyadari bahaya yang terkait dengan penggunaannya jika tidak dibarengi dengan kemampuan literasi media sosial. Misalnya, menjadi target penipuan online, penyebar hoax, dan korban konsumerisme Masyarakat juga berharap inisiatif literasi media sosial ini dapat terus berlanjut, karena mereka tidak ingin dianggap sebagai generasi yang gagap teknologi oleh generasi penerus, apalagi dianggap bertanggung jawab atas maraknya berita bohong atau hoax. Antusiasme mereka terhadap kegiatan ini menunjukkan keinginan masyarakat untuk berlatih berjualan di media sosial untuk meningkatkan ketahanan finansial keluarga dan kebebasan dalam memanfaatkan fitur-fitur di dunia yang semakin digital . Berita hoaks dapat menarik perhatian pembaca dengan menggunakan judul yang dramatis, artikel berita yang menarik, dan gambar sebagai ilustrasi. Akibatnya, pembaca diinstruksikan untuk membuat penilaian cepat tanpa membaca keseluruhan berita, apalagi mengkonfirmasi dan memverifikasinya. tanpa membaca berita secara keseluruhan, apalagi melakukan cek dan ricek . Tata bahasa dari judul berita dan artikel berita yang provokatif dan propaganda biasanya berbeda. Propaganda seringkali menggunakan sintaksis yang berbeda dengan judul yang sering digunakan di sering digunakan di media. Di sisi lain, berita hoax sering kali menyertakan sumber yang tampaknya diperoleh dari media massa atau media online yang terkenal, seperti kompas. Koran Tempo, dan Republika . Menurut analisis statistik, berita palsu biasanya beredar melalui grup atau jaringan media sosial dalam bentuk berita berantai. Berita ini adalah penipuan . Berita hoax harus dihindari dan dikenali karena biasanya menyebar dengan cepat sebelum divalidasi. Beberapa demografi memiliki kecenderungan untuk menerima berita tersebut. Pada sosialisasi ini terdapat materi yang diberikan seperti berikut: Informasi tentang literasi di masyarakat Indonesia Masyarakat diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan literasi media yang meliputi beberapa tahapan kemampuan berpikir kritis terhadap isi pesan media sosial, kemampuan mengeksplorasi sistem pembuatan pesan di media sosial, dan kemampuan mengajarkan tentang media. Dalam materi ini diperkenalkan hubungan antara rendahnya tingkat membaca di Indonesia dengan tingginya pengguna media sosial. Tinjauan Umum Konten Media Sosial Materi ini memperkenalkan konten media sosial dan sosialisasinya dengan pengetahuan bahwa konten diproduksi dengan tujuan dan target pasar tertentu. 3 Merencanakan media social Edukasi Penggunaan Media Sosial Untuk. DOI - Penggunaan media sosial untuk kesehatan dan kesejahteraan keluarga dibahas dalam materi ini. Video yang menampilkan kisah-kisah inspiratif dari mereka yang telah memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan ekonomi keluarga diputar selama sesi berlangsung . Meningkatnya kesadaran para ibu akan internet dan bagaimana memberikan fasilitas kepada anak-anak mereka merupakan hasil dari pelatihan sosialisasi digital. pemahaman akan internet dan bagaimana para ibu dapat memberikan akses online kepada anak-anak mereka. akses internet anak-anak . Para ibu juga telah mengunduh perangkat lunak yang aman untuk melindungi anak-anak mereka dari situs-situs yang tidak pantas, terutama balita dan anak-anak di sekolah dasar . Diharapkan para ibu dapat melindungi anak-anak mereka dari ketergantungan internet karena mereka juga mengetahui ciri-ciri anak yang menjadi kecanduan internet . KESIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini sebagai berikut: Pemahaman para ibu tentang literasi media sosial meningkat setelah pelatihan diberikan Setiap orang menggunakan platform media sosial yang berbeda secara berbeda. Dibandingkan dengan ibu-ibu yang berusia lebih tua, ibu-ibu yang berusia lebih muda menggunakan lebih banyak platform media sosial. Mayoritas ibu sadar akan pentingnya pendidikan literasi media sosial sehingga mereka dapat melindungi anak-anak mereka dari pengaruh negatif yang dapat menyebabkan mereka terjerumus, seperti hoax tentang penculikan Ibu-ibu memainkan peran penting dalam menyebarkan literasi media di dalam rumah tangga mereka, terutama di kalangan anak-anak. Jadi, dapat dipahami bahwa mendidik para ibu berarti melatih dua generasi secara bersamaan. Latihan literasi digital ini diharapkan dapat membantu para ibu memahami bahwa media sosial adalah ruang publik yang perlu dibatasi penggunaannya dengan melibatkan para ibu di wilayah Kuningan. Jawa Barat DAFTAR PUSTAKA