Ahad: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies Vol . No. 2025 :108-111. ISSN . 3110-2271 https://journal. id/index. php/ahad/ DOI: https://doi. org/10. 64131/ahad. Dampak Pengajian Kitab Minhajul MutaAoalim dalam Meningkatkan Wirausaha Masyarakat Lokal di Desa Banjaranyar Erly JuliayaniA AUniversitas Sunan Drajat Lamongan erlyjuliyani99@gamil. Submitted: 30 juli 2025 Accepted: 29 agustus 2025 Published: 15 september 2025 Abstract This study aims to examine the influence of Minhajul Muta'alim religious study activities held during the month of Ramadan on the development of community entrepreneurship in Banjaranyar Village. Minhajul Muta'alim is a classic reference in Islamic boarding school education that emphasizes values such as honesty, independence, hard work, and blessings in seeking knowledge and sustenance. This study uses a descriptive qualitative approach. The results show that religious study activities during the month of Ramadan have a positive impact on community economic activities, especially in the food and beverage trade sector which is busy before and after the religious study time. The values taught in the book encourage the emergence of an entrepreneurial spirit based on Islamic ethics, such as honesty in transactions, seeking halal sustenance, and making business part of worship. Furthermore, social interactions between students and local traders contribute to strengthening the village's economic network and increasing social solidarity among residents. In this context. Islamic boarding schools serve as spiritual centers that provide motivation and moral values to the community, rather than as direct economic actors. Therefore, it can be concluded that Minhajul Muta'alim recitation plays a strategic role in shaping the entrepreneurial mindset of village residents, who are religious, independent, and oriented toward blessings. This study recommends that similar activities can be used as a strategy for community economic empowerment based on Islamic values. Keywords: Book study, minhajul muta'allim, community entrepreneurship This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author INTRODUCTION Pengembangan kapasitas masyarakat lokal melalui pendekatan pendidikan keagamaan menjadi salah satu strategi sosial yang relevan dalam meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi di pedesaan. Pengajian kitab klasik seperti Minhajul MutaAoalim memiliki peran penting dalam membentuk karakter, etos kerja, dan paradigma keilmuan masyarakat. Kitab ini, yang berakar pada tradisi pendidikan Islam, menekankan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan usaha mandiri, sehingga potensial menjadi basis penguatan etika kerja produktif dalam konteks modern (Al-Zarnuji, 2. Tradisi pengajian kitab kuning di desa-desa Jawa juga terbukti berfungsi sebagai wadah internalisasi nilai yang memengaruhi perilaku ekonomi Dalam konteks Desa Banjaranyar, pengajian Minhajul MutaAoalim tidak hanya berfungsi sebagai media pembinaan spiritual, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang mendorong masyarakat untuk lebih adaptif dan mandiri secara ekonomi. Pendekatan keagamaan ini mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap kerja keras, kemandirian, dan pentingnya usaha yang Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip kewirausahaan modern yang menekankan kreativitas, ketekunan, dan keberanian mengambil peluang (Suryana, 2. Selain itu, potensi kewirausahaan masyarakat pedesaan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Pendidikan informal melalui meningkatnya motivasi untuk mengelola usaha mikro secara lebih terarah (Rahmawati, 2. Di Banjaranyar, masyarakat yang aktif mengikuti pengajian menunjukkan kecenderungan lebih besar dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai peluang wirausaha, seperti produksi makanan tradisional, kerajinan lokal, dan usaha dagang kecil. Peningkatan aktivitas wirausaha yang dipengaruhi oleh pengajian kitab klasik juga dapat dilihat sebagai bentuk penguatan ekonomi berbasis Dalam banyak kasus di pedesaan Indonesia, kegiatan keagamaan menjadi pemicu jejaring sosial yang mempercepat pertukaran informasi dan kerja sama ekonomi (Hidayat, 2. Dengan demikian, pengajian Minhajul MutaAoalim tidak hanya membentuk nilai individual tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem sosial yang mendukung wirausaha masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, penting dikaji secara ilmiah bagaimana pengajian Minhajul MutaAoalim berkontribusi terhadap perkembangan wirausaha masyarakat lokal di Desa Banjaranyar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai hubungan antara pembinaan keagamaan tradisional dan peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat pedesaan, serta memberikan model pengembangan masyarakat berbasis nilainilai Islam yang aplikatif dalam konteks pembangunan ekonomi lokal. METHOD Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam mengenai pengalaman, persepsi, dan perubahan perilaku masyarakat yang mengikuti pengajian Minhajul MutaAoalim. Studi kasus digunakan untuk meneliti secara spesifik konteks Desa Banjaranyar sebagai lokasi pengajian dan aktivitas wirausaha Penelitian dilaksanakan di Desa Banjaranyar, tempat berlangsungnya pengajian rutin kitab Minhajul MutaAoalim. Data dikumpulkan melalui beberapa teknik yang digunakan Wawancara mendalam kepada jamaah, pelaku usaha, dan pengajar pengajian. Observasi partisipatif selama kegiatan pengajian untuk memahami pola pembelajaran dan internalisasi nilai Dokumentasi, seperti catatan kegiatan pengajian, dokumen desa, dan foto aktivitas UMKM. Penggunaan triangulasi sumber dan metode dilakukan untuk memastikan keabsahan data. RESULT AND DISCUSSION Pengajian Kitab Minhajul MutaAoalim di Desa Banjaranyar Setiap bulan Ramadan. Pondok Pesantren Sunan Drajat secara konsisten mengadakan kegiatan pengajian sore atau ngaji kitab sore sebagai bagian dari tradisi tahunan yang telah mengakar dalam kehidupan santri. Pengajian ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur selaku pengasuh pesantren, sehingga kegiatan tersebut memiliki nilai religius, akademik, dan karismatik yang tinggi. Kegiatan dilaksanakan di Masjid Jelaq. Desa Banjaranyar, yang berlokasi tidak jauh dari kompleks pesantren, yakni hanya berjarak sekitar 12 km. Tradisi pengajian Ramadan seperti ini merupakan ciri khas pendidikan pesantren yang menekankan pendalaman ilmu agama melalui kajian kitab klasik . itab kunin. (Dhofier, 2. Pengajian yang dikenal dengan sebutan pangaosan ini diikuti oleh seluruh santri, baik putra maupun putri. Untuk menjaga ketertiban dan kesesuaian dengan adab pesantren, santri putri ditempatkan di lantai satu masjid, sedangkan santri putra berada di lantai dua. Sistem pemisahan ruang ini merupakan praktik umum di pesantren tradisional untuk menjaga etika pergaulan sekaligus memudahkan pengawasan selama kegiatan berlangsung. Pengaturan ruang berdasarkan gender ini juga mencerminkan karakter pendidikan pesantren yang berorientasi pada kedisiplinan, ketertiban, dan tata nilai Islam (Bruinessen, 1. Suasana pengajian berlangsung dengan khidmat, dimulai pada pukul 30 hingga 16. 45 menjelang waktu berbuka puasa. Selama pengajian. Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur mengkaji tiga kitab utama, yaitu Minhajul MutaAoalim. Tanqihul Qaul, dan Nashoihul Ibad. Ketiga kitab tersebut dipilih karena berisi ajaran fundamental mengenai adab menuntut ilmu, akhlak keseharian, serta nasihat-nasihat moral bagi pembentukan karakter santri. Kitab-kitab seperti Minhajul MutaAoalim karya Az-Zarnuji telah lama dijadikan rujukan dalam pendidikan pesantren karena memuat pedoman etika belajar dan nilainilai spiritual yang mendalam (Az-Zarnuji, 2. Hal ini menjadikan pengajian Ramadan tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai sarana pembinaan karakter santri secara komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajian kitab Minhajul MutaAoalim di Desa Banjaranyar memiliki pengaruh signifikan terhadap cara pandang masyarakat mengenai kerja, kemandirian, dan tanggung jawab dalam berusaha. Para jamaah yang mengikuti pengajian secara rutin mengaku mengalami perubahan pola pikir, terutama pada nilai kedisiplinan dan etos Nilai-nilai tersebut diperoleh melalui penjelasan kiai tentang pentingnya adab menuntut ilmu, ketekunan, dan usaha mandiri sebagaimana diajarkan dalam kitab tersebut. Selain peningkatan pemahaman nilai keagamaan, para peserta pengajian juga menunjukkan perkembangan dalam motivasi berwirausaha. Berdasarkan wawancara, sebagian besar jamaah menyatakan bahwa materi yang disampaikan dalam pengajian mendorong mereka lebih berani memulai usaha kecil. Mereka mengaitkan ajaran dalam kitab dengan praktik kehidupan sehari-hari, terutama tentang kewajiban bekerja secara halal dan tidak bergantung pada orang lain. Hal ini memunculkan dorongan internal untuk mencoba peluang usaha yang sebelumnya kurang diperhatikan. Observasi di lapangan mengungkapkan bahwa beberapa jamaah mulai mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, seperti produksi makanan ringan, kerajinan tangan, dan perdagangan sembako. Mereka mengaku bahwa pengajian memberikan motivasi moral sekaligus dorongan spiritual untuk tetap tekun meski menghadapi tantangan usaha. Penguatan mental ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha mereka, terutama bagi usaha yang baru dirintis. Selain perubahan pada individu, pengajian Minhajul MutaAoalim juga berdampak pada terbentuknya jejaring sosial ekonomi di antara jamaah. Mereka saling mendukung dalam hal pemasaran, pembelian bahan baku, hingga berbagi pengalaman terkait manajemen usaha. Interaksi sosial tersebut menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih dinamis, di mana setiap pelaku usaha tidak berjalan sendiri, melainkan saling membantu berdasarkan semangat kebersamaan yang tumbuh dari kegiatan pengajian. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajian kitab Minhajul MutaAoalim tidak hanya memperkuat nilai-nilai religius jamaah, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Banjaranyar. Internalisa-si nilai kedisiplinan, kerja keras, dan kemandirian yang diajarkan dalam kitab terbukti mendorong tumbuhnya semangat wirausaha baru di desa tersebut. Dengan demikian, pengajian ini berperan sebagai media transformasi sosial yang berdampak langsung terhadap peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Peningkatkan Wirausaha Masyarakat Lokal di Desa Banjaranyar Ketika waktu pengajian telah selesai para santri tidak segera kembali menuju pondok namun para santri terlebih dahulu menjajaki jajanan di sekitar jalan yang sudah disiapkan oleh pedagang. Para santri memanfaatkan senggang waktu yang ada karena waktu berburu takjil mereka ini terbatas yaitu dari pukul 16. 45 hingga menjelang maghrib pada pukul 17. 35 setelah itu gerbang ditutup. Pengajian sebagai kegiatan pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, pola pikir, dan etos kerja masyarakat. Dalam konteks Desa Banjaranyar, pengajian yang dilakukan secara rutin tidak hanya berfungsi sebagai sarana penguatan spiritual, tetapi juga menjadi ruang pembentukan nilai-nilai sosial dan ekonomi yang mendorong tumbuhnya wirausaha lokal. Sejalan dengan teori pendidikan berbasis nilai, kegiatan pengajian dapat membentuk disposisi sikap seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirianAiunsur penting dalam kewirausahaan (Suryana, 2. Dengan demikian, pengajian memainkan peran strategis sebagai sarana pemberdayaan yang berdampak pada perilaku ekonomi Pengajian kitab klasik, seperti Minhajul MutaAoalim, mengajarkan prinsip-prinsip penting seperti kesungguhan dalam mencari ilmu, etos kerja, dan pentingnya kemandirian. Nilai-nilai tersebut memberikan pengaruh nyata terhadap motivasi masyarakat dalam memulai usaha atau mengembangkan usaha yang sudah ada. Ajaran-ajaran terkait pentingnya bekerja secara halal dan tidak bergantung pada orang lain memperkuat sikap mental wirausaha Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pendidikan berbasis agama mampu meningkatkan motivasi kerja dan produktivitas ekonomi masyarakat pedesaan karena nilai spiritual memberikan landasan moral yang kuat bagi tindakan ekonomi (Hidayat, 2. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya warga Banjaranyar yang mulai terlibat dalam usaha kecil seperti perdagangan, jasa, dan produksi makanan rumahan. Selain itu, pengajian rutin menciptakan ruang pertemuan sosial yang memperluas jejaring antarwarga, yang merupakan faktor penting dalam pengembangan wirausaha. Jejaring sosial ini memungkinkan terciptanya kerja sama dalam pemasaran, pengadaan bahan baku, dan pertukaran informasi peluang usaha. Konsep modal sosial . ocial capita. sebagaimana dikemukakan Coleman . , menjelaskan bahwa interaksi sosial yang kuat dapat membentuk kepercayaan dan norma yang mendukung kerja sama Banjaranyar, meningkatkan solidaritas dan memudahkan kolaborasi antar pelaku usaha, sehingga mempercepat pertumbuhan usaha mikro di tingkat lokal. Pengajian juga berfungsi sebagai instrumen pembinaan mental yang penting bagi wirausaha pemula. Banyak usaha masyarakat desa menghadapi masalah kestabilan mental seperti mudah menyerah, kurang percaya diri, atau kekhawatiran terhadap risiko. Melalui penanaman nilai sabar, ikhtiar, dan tawakal, pengajian membantu masyarakat memiliki ketahanan psikologis dalam menghadapi dinamika usaha. Nilai spiritual tersebut terbukti dapat meningkatkan ketekunan dan daya juang wirausaha, dua aspek penting dalam siklus usaha mikro (Rohimah, 2. Dengan demikian, pengajian tidak hanya berdampak pada pengetahuan, tetapi juga pada kesiapan mental masyarakat dalam menjalankan usaha. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa pengajian masyarakat di Desa Banjaranyar melalui tiga mekanisme: pembentukan nilai kewirausahaan, penciptaan modal sosial, dan penguatan mental wirausaha. Pengajian bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini mendukung pandangan bahwa pendidikan berbasis nilai, terutama yang berakar pada tradisi keagamaan, dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Ke depan, penguatan kolaborasi antara tokoh agama, pemerintah desa, dan pelaku UMKM dapat semakin memperkuat kontribusi pengajian dalam pembangunan ekonomi lokal. Kegiatan pengajian kitab sore para santri selama bulan Ramadhan menciptakan dampak ekonomi dan sosial bagi desa Banjaranyar: Penciptaan lapangan pekerjaan seperti asisten pedagang Peningkatan transaksi ekonomi selama sebulan Ramadhan Pengembangan usaha pendukung . emasan, es batu, air minum isi ulan. sebesar 40% Penguatan keterikatan sosial antara komunitas pesantren dan pedagang lokal . Peningkatan partisipasi perempuan dalam aktivitas ekonomi . % pedagang adalah perempuan. Efek Multiplikatif. Peningkatan pengeluaran oleh pesantren dan perekonomian daerah secara keseluruhan. Setiap peningkatan pengeluaran dalam satu sektor ekonomi menghasilkan peningkatan pendapatan yang lebih besar dalam sektor-sektor lain, menciptakan siklus pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam konteks kewirausahaan, dalam berjualan sudah tentu ada keuntungan atau kerugian, begitupun dengan para pedagang di Desa Banjaranyar mengalami keuntungan selama bulan ramadhan setiap harinya. Puluhan penjual berjejeran, berbagai jenis minuman dan makanan tersedia untuk buka puasa. Mulai dari es, bakso, kue, lauk pauk dan jajanan lainnya yang laris dibeli ratusan santri. Jam operasional para pedagang atau wirausahawan sekitar pukul 15. 00 hingga menjelang buka puasa pukul 17. "Alhamdulillah, setiap hari jualan saya selalu laris. Kalau jam segini memang belum terlalu padat, tapi jika jam 5 sore, tiap pengajian selesai, jalan ini buntu, dipenuhi santri," ujar Suyanto, salah satu pedagang CONCLUSION Kegiatan pengajian kitab selama bulan Ramadhan memberikan masyarakat di Desa Banjaranyar. Pengajian yang dilaksanakan secara intensif oleh para santri tidak hanya berdampak pada aspek spiritual dan keilmuan, tetapi juga memberikan pengaruh nyata terhadap aktivitas ekonomi masyarakat setempat, khususnya para pedagang makanan dan minuman. Hal ini terlihat dari peningkatan omzet penjualan serta adanya penyesuaian strategi pemasaran yang lebih memperhatikan kebutuhan dan waktu kegiatan para santri. Beberapa faktor seperti waktu dan durasi pengajian, lokasi strategis sekitar pesantren, serta interaksi sosial antara santri dan masyarakat turut mempengaruhi efektivitas konsumsi oleh santri. Fenomena ini mendorong munculnya bentuk-bentuk usaha baru yang berbasis kebutuhan konsumsi selama pengajian, seperti warung makan, gerai minuman, serta penjualan makanan ringan yang aktif menjelang dan sesudah waktu pengajian kitab Secara struktural, bentuk pengembangan ekonomi masyarakat yang berkembang di sekitar Pondok Pesantren Sunan Drajat antara lain adalah pendirian unit-unit usaha mandiri oleh warga desa. Model ini memberikan peluang ekonomi baru yang menjanjikan, karena tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial semata, tetapi juga menguatkan perputaran ekonomi lokal secara berkelanjutan. Interaksi yang terjalin antara santri sebagai konsumen dengan para pedagang sebagai penyedia kebutuhan konsumsi menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas. Di satu sisi, aktivitas usaha menjadi semakin hidup dan berkembang. di sisi lain, muncul ikatan sosial yang lebih kuat antarwarga, serta tumbuhnya nilai-nilai kerja sama dan saling menguntungkan. Nilai-nilai kewirausahaan yang dihidupkan masyarakat Banjaranyar tidak lepas dari pengaruh pendidikan moral yang diajarkan dalam kitab-kitab klasik, seperti Minhajul MutaAoalim. Nilai-nilai tersebut mencakup kejujuran dalam transaksi, pemahaman tentang keberkahan rezeki, kemandirian ekonomi sebagai bentuk ibadah, serta prinsip saling menguntungkan dalam jual beli. BIBLIOGRAPHY