Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education Volume 1 Number 1, Mei (2025) DOI : Pendidikan di Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal): Kondisi dan Harapan Zuliana Rohmani1*, Addin Agus Budiana2, Armin Subhani 3 SDN 3 Pancor1, Universitas Hamzanwadi2,3, Lombok Timur, Indonesia Email: zulianarohmani551@gmail.com1*, addinagus12@gmail.com2, arminsubhani@hamzanwadi.com 3 Riwayat Artikel Abstrak Dikirim : 7/5/2025 Direvisi : 10/5/2025 Diterima : 18/5/2025 Dipublikasi : 31/5/2025 Kesenjangan pendidikan di wilayah 3T di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang berdampak pada mutu, akses, dan pemerataan layanan pendidikan. Menjelaskan kondisi aktual pendidikan di daerah 3T serta merumuskan strategi peningkatan yang relevan dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur (library research) dengan pendekatan analisis isi tematik terhadap referensi ilmiah tahun 2020–2025. Ditemukan empat strategi utama yang menjadi harapan perbaikan pendidikan di daerah 3T: peningkatan infrastruktur digital, pelatihan guru, pengelolaan dana kolaboratif, dan integrasi teknologi pembelajaran adaptif berbasis budaya lokal. Integrasi teknologi yang mempertimbangkan budaya lokal secara signifikan meningkatkan keterlibatan belajar dan memperkuat karakter siswa. Peningkatan kualitas pendidikan di wilayah 3T menuntut pendekatan terpadu melalui sinergi kebijakan, teknologi, dan pelibatan masyarakat berbasis lokalitas. Kata Kunci : 3T, budaya lokal, infrastruktur digital, kolaborasi dana, pelatihan guru, pendidikan inklusif, teknologi pendidikan Abstract Keywords : 3T, collaborative funding, digital infrastructure, inclusive education, local culture, teacher training, technology in education Educational inequality in Indonesia's 3T regions remains a critical issue affecting quality, access, and equity. To describe the current condition of education in 3T areas and formulate relevant and sustainable improvement strategies. This study employed a literature review method with thematic content analysis of academic references published between 2020–2025. Four main strategies were identified: enhancing digital infrastructure, teacher training, collaborative financial management, and integrating adaptive educational technology aligned with local culture. Technology integration that respects local culture significantly improves student engagement and strengthens character formation. Improving education quality in 3T areas requires a comprehensive approach through policy synergy, technological adoption, and community-based cultural engagement. © 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4.0 International License (CC BY 4.0) license PENDAHULUAN Indonesia masih menghadapi kesenjangan pendidikan yang signifikan antara daerah sentra dan wilayah 3T. Istilah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) merujuk pada wilayah yang memiliki infrastruktur minim, letak geografis sulit dijangkau, serta akses sumber daya pendidikan terbatas (Jakaria et al., 2019). (Shoib & Vebriansyah, 2025) menunjukkan bahwa ketiga faktor ini menyebabkan disparitas mutu dan akses pendidikan, membatasi peluang siswa di daerah tersebut untuk berkembang secara optimal. Kondisi ini diperparah oleh kekurangan guru profesional serta distribusi tenaga pendidik yang tidak merata (Rahmadi, 2020). Tanpa infrastruktur yang memadai dan SDM terlatih, pelaksanaan proses pembelajaran berkualitas sulit diwujudkan. Dalam menghadapi kendala geografis dan SDM, sejumlah Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: xxxx-xxxx ; P-ISSN: xxxx-xxxx inovasi mulai diterapkan. Hal tersebut menunjukan bahwa meski selama pandemi Covid-19 para guru di daerah 3T menggunakan metode STEM dan e-learning melalui WhatsApp, YouTube, dan kelas virtual, namun akses internet yang terbatas masih menjadi hambatan utama (Priyani & Nawawi, 2021). Selanjutnya, dalam mendorong guru di era Revolusi 4.0 agar lebih kreatif dan inovatif dalam pengelolaan kelas, sehingga kegiatan belajar-mengajar bisa adaptif terhadap kondisi lokal (Vania et al., 2021). Pemerintah mulai memperhatikan daerah 3T melalui kebijakan afirmatif seperti dana BOS, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Program Sekolah Penggerak. Pengelolaan keuangan yang efektif via kolaborasi pemerintah pusat–daerah dapat meningkatkan akses dan mutu pendidikan di wilayah tertinggal (Fardila et al., 2025). Program Kampus Mengajar semasa pandemi juga menjadi upaya untuk memperkuat intervensi pendidikan, meski evaluasi menunjukkan diperlukan peningkatan efektivitas pada implementasinya (Sholehah et al., 2022). Berdasarkan analisis di atas, upaya ke depan perlu difokuskan pada (1) peningkatan infrastruktur digital serta konektivitas, (2) peningkatan kapasitas guru lewat pelatihan dan pendampingan, (3) optimalisasi pengelolaan dana berbasis kolaboratif, dan (4) integrasi teknologi pembelajaran adaptif yang sesuai budaya lokal. Kombinasi strategi kebijakan dan inovasi berbasis riset diharapkan mampu menjawab tantangan yang kompleks, sehingga pendidikan di daerah 3T tidak lagi tertinggal, tetapi berkembang sejajar dengan wilayah lain di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian literatur (library research), yaitu metode yang bertumpu pada telaah dan analisis terhadap berbagai sumber pustaka yang relevan dan terpercaya. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan penulis untuk mengkaji secara mendalam berbagai penelitian, laporan kebijakan, dan artikel ilmiah yang membahas kondisi pendidikan di wilayah 3T tanpa melakukan pengumpulan data lapangan secara langsung. Menurut (Mahanum, 2021), studi kepustakaan merupakan kegiatan ilmiah yang dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber literatur sebagai data utama dalam menjawab permasalahan penelitian. Fokus utama dalam penelitian ini adalah untuk memahami secara komprehensif kondisi aktual pendidikan di daerah 3T Indonesia, termasuk tantangan struktural, hambatan geografis, ketersediaan sumber daya, hingga intervensi kebijakan yang telah dilakukan. Penulis membatasi sumber literatur pada publikasi ilmiah yang terbit dalam rentang tahun 2020 hingga 2025, baik berupa jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional bereputasi, dokumen kebijakan pemerintah, maupun laporan organisasi pendidikan. Proses analisis dilakukan dengan metode analisis isi tematik (thematic content analysis), sebagaimana dijelaskan oleh (Neuendorf, 2019). yaitu dengan mengidentifikasi dan mengelompokkan informasi ke dalam tema-tema utama seperti: ketimpangan akses pendidikan, ketersediaan infrastruktur, persebaran tenaga pendidik, kebijakan afirmatif pemerintah, serta peran teknologi dalam mendukung pembelajaran jarak jauh di wilayah 3T. Tiap tema dianalisis secara deskriptif-kritis untuk menggambarkan kondisi yang ada dan harapan ke depan. Metode ini memberikan ruang bagi peneliti untuk menyusun sintesis pengetahuan berdasarkan bukti-bukti akademis yang telah tersedia. Penulis tidak melakukan observasi langsung ke lapangan, melainkan menggunakan pendekatan reflektif dan komparatif terhadap berbagai sumber yang telah dikaji untuk memperoleh pemahaman menyeluruh. Melalui pendekatan ini, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi dalam bentuk pemetaan isu, identifikasi praktik baik, serta perumusan rekomendasi strategis terkait pembangunan pendidikan di daerah 3T, khususnya dalam konteks pencapaian pemerataan dan keadilan pendidikan di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Infrastruktur Digital Serta Konektivitas, Infrastruktur digital masih menjadi salah satu kendala utama dalam pemerataan pendidikan di daerah 3T. (Fadhila & Kartiasih, 2024) menemukan bahwa ketimpangan pendidikan antarprovinsi dipengaruhi signifikan oleh akses internet, komputer, dan infrastruktur komunikasi, sehingga 16 Volume 1 | Issue 1 | May, 2025 Zuliana Rohmani, Addin Agus Budiana, Armin Subhani / Pendidikan di Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal): Kondisi dan Harapan peningkatan sarana TIK menjadi fondasi untuk mengurangi ketimpangan tersebut. Sebanyak 83.458 desa di wilayah 3T belum memiliki akses 4G, memperparah jurang digital antara daerah terpencil dan perkotaan (Fiady & Pandu, 2022). Tanpa konektivitas yang memadai, siswa dan guru di 3T kesulitan mengakses sumber belajar digital dan mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh secara optimal Agar infrastruktur digital di daerah 3T dapat terwujud, kolaborasi antarlembaga diperlukan. Kominfo bersama operator telekomunikasi dan pemerintah daerah menggalakkan program pembangunan menara dan jaringan broadband, memanfaatkan Dana Desa untuk membangun menara BTS dan jaringan hybrid (seluler + satelit) (Komdigi, 2024). Pendekatan yang bersifat inklusif menggabungkan pembangunan fisik dengan penguatan literasi digital masyarakat menjadi kunci agar infrastruktur tidak hanya dibangun, tetapi juga digunakan secara efektif . Upaya semacam ini juga ditegaskan oleh Rahma & Kartiasih, bahwa infrastruktur TIK bersama dengan transportasi menjadi modal utama dalam mempersempit kesenjangan pendidikan (Fadhila & Kartiasih, 2024) Peningkatan infrastruktur digital dan konektivitas memiliki dampak besar bagi kualitas dan inklusivitas pendidikan di daerah 3T. Pengembangan ekosistem digital—termasuk pelatihan literasi, penyediaan perangkat, serta perbaikan jaringan—mampu memperluas akses layanan pendidikan dan mendorong intervensi pembelajaran berbasis teknologi (Chastanti et al., 2024). Ke depan, fokus utama harus pada pemerataan akses broadband yang andal, pemenuhan perangkat digital di sekolah, serta program pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa. Dengan sinergi pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal, penguatan infrastruktur digital bukan hanya membuka ruang bagi pendidikan yang lebih setara, tetapi juga mendukung transformasi digital nasional menuju masa depan pendidikan yang inklusif. Peningkatan Kapasitas Guru Lewat Pelatihan dan Pendampingan Implementasi program pelatihan dan pendampingan terbukti efektif meningkatkan profesionalisme dan kapasitas guru di wilayah 3T. Studi di Desa Jerol, Kabupaten Kepulauan Aru, menunjukkan bahwa tahap pelatihan, mentoring, dan kolaborasi antar-guru mampu memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka secara signifikan (Suryaningrum, 2023). Demikian pula, penelitian yang dilakukan oleh (Mansori, 2024) di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, Banten, laporan peningkatan kompetensi guru SD pasca pelatihan pembelajaran aktif meningkat sekitar 60% antara pre-test dan posttest, yang menegaskan bahwa intervensi sistematis—yang mencakup sesi teori, praktik, simulasi, dan evaluasi—bukan hanya membekali guru dengan strategi pedagogis, tetapi juga menimbulkan motivasi dan komitmen untuk menerapkan metode pengajaran baru. Di sisi lain, pelatihan literasi digital berbasis lokal juga menunjukkan hasil menggembirakan. Kompetensi digital guru di daerah terpencil meningkat lebih dari 60% pada aspek pengoperasian perangkat lunak, manajemen file, dan integrasi teknologi pasca pelatihan (Wijaksono, 2024). Model pelatihan yang bersifat kontekstual dan berbasis kebutuhan lokal tersebut sangat penting agar guru tidak hanya mampu mengakses TIK, namun dapat memanfaatkan media digital untuk menyusun bahan ajar dan mengelola kelas secara efektif. Kombinasi pelatihan pedagogis dan digital ini diharapkan dapat menciptakan guru yang adaptif, mandiri, dan siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital, khususnya di lingkungan 3T yang penuh keterbatasan. Optimalisasi Pengelolaan Dana Berbasis Kolaboratif Tabel 1 Strategi Optimasi Pengelolaan Dana Kolaboratif Tema Strategi Contoh Implementasi Dampak Potensial Sinergi MultiKolaborasi pemerintah pusat, Alokasi lebih tepat stakeholder daerah, NGO, dan CSR swasta dan berkelanjutan dalam pendanaan program pendidikan di 3T Perluasan Sumber Kombinasi dana BOS, DAK, dan Diversifikasi dana, Dana dana alternatif melalui kemitraan menurunkan risiko regional Digitalisasi Sistem pelaporan berbasis digital Transparansi Sistem untuk memantau penggunaan dana meningkat, korupsi Akuntabilitas secara real-time turun Tema Strategi Sinergi Multistakeholder Perluasan Sumber Dana Digitalisasi Sistem Akuntabilitas May, 2025 | Issue 1 | Volume 1 17 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: xxxx-xxxx ; P-ISSN: xxxx-xxxx Pengawasan dan Audit rutin, monitoring partisipatif Efisiensi tinggi, Pengawasan dan Evaluasi Ketat dari masyarakat, dan sistem e-audit kepercayaan publik Evaluasi Ketat untuk mengawasi realisasi anggaran Pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pengelolaan dana pendidikan di wilayah 3T. Hasil kajian pustaka oleh (Fardila et al., 2025) menyoroti bahwa penguatan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan organisasi non-pemerintah dapat menciptakan mekanisme alokasi yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Pendekatan ini mencakup integrasi dana yang pembiayaan alternatif melalui kemitraan, sehingga memungkinkan pengelolaan dana secara lebih fleksibel sesuai kebutuhan lokal. Serta menekankan perlunya pengawasan yang ketat dan transparansi dalam penggunaan dana, misalnya melalui sistem pelaporan digital, untuk memastikan dana benar-benar digunakan sesuai tujuan dan efektif mengurangi kesenjangan pendidikan . Optimalisasi pengelolaan dana di daerah 3T tidak hanya soal distribusi yang tepat, tetapi juga mengharuskan adanya akuntabilitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya. Digitalisasi sistem pelaporan dan monitoring dana menjadi solusi utama. (Abeh et al., 2025) menyebutkan bahwa penerapan teknologi transparansi seperti platform digital untuk pelaporan real-time dan audit penggunaan dana berhasil meningkatkan efisiensi dan kredibilitas pengelolaan dana serta mengurangi potensi penyalahgunaan.. Integrasi Teknologi Pembelajaran Adaptif Yang Sesuai Budaya Lokal Tabel 2 Strategi Integrasi Teknologi Adaptif Berbasis Budaya Lokal Tema Utama Sub‑Tema Temuan Kunci Sumber Infrastruktur & Dana, Keterbatasan dana dan kurang staf IT Subroto et al. (2023) SDM konektivitas, menghalangi pemanfaatan teknologi dukungan teknis di sekolah, terutama di daerah terpencil Kebijakan Regulasi Kebijakan yang belum disesuaikan Hasnah et al. (2024) Kaku & penggunaan mempertimbangkan konteks lokal, Budaya teknologi seperti larangan gawai di pesantren Pelatihan & Pelatihan guru & Pelatihan komprehensif dan supervisi Kusnadi & Supervisi pendampingan teknis mempercepat penggunaan Rachmawati (2022); teknologi di kelas dan manajemen Nashrullah et al., sekolah 2025 Perencanaan Analisis Strategi sekolah harus mencakup Astuti et al. (2024) Strategik kebutuhan & analisis kebutuhan, kurikulum evaluasi berbasis TIK, serta monitoring berbasis data Integrasi kearifan lokal ke dalam teknologi pembelajaran adaptif telah terbukti meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Misalnya, (Hadijah et al., 2020) mengembangkan media pembelajaran matematika interaktif berbasis budaya Aceh, dengan skor belajar meningkat dari rata-rata prasyarat 44,6 menjadi 72,7 pada siklus kedua. Selanjutnya, (Lathifah et al., 2024) melalui program pendampingan berhasil menyediakan bahan ajar digital yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal Kampung Urug; 80% guru melaporkan peningkatan pemahaman budaya lokal sekaligus penguasaan digital. Hal ini menegaskan bahwa materi pembelajaran harus disesuaikan dengan budaya siswa dan disampaikan melalui platform digital interaktif agar relevan dan kontekstual. Teknologi canggih seperti AI dan e-learning dapat menjadi sarana efektif untuk melestarikan kearifan lokal dalam pendidikan, menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan dalam etnopedagogi mampu memberikan konten budaya dalam format interaktif seperti chatbot, VR tur budaya, dan pelestarian bahasa daerah melalui Natural Processing Language (NLP) (Reynaldo, 2024; Suryadi & Jasiah, 2023). Terlebih bahwa integrasi literasi digital dan budaya lokal dalam pendidikan tidak hanya memperkuat karakter, tetapi juga membentuk siswa yang inklusif dan kritis . Oleh karena itu, pendidikan di daerah 3T akan sangat terbantu jika menggunakan teknologi adaptif berbasis budaya, yang dikembangkan melalui kolaborasi antara guru, komunitas lokal, dan pengembang teknologi. 18 Volume 1 | Issue 1 | May, 2025 Zuliana Rohmani, Addin Agus Budiana, Armin Subhani / Pendidikan di Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal): Kondisi dan Harapan KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian literatur terhadap pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), dapat disimpulkan bahwa tantangan utama pendidikan di wilayah ini meliputi minimnya infrastruktur digital, rendahnya kapasitas guru, terbatasnya alokasi dan efektivitas pengelolaan dana, serta kurangnya integrasi teknologi pembelajaran yang kontekstual terhadap budaya lokal. Meskipun demikian, peluang untuk memperbaiki kondisi tersebut terbuka lebar melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pemanfaatan teknologi. Strategi seperti peningkatan konektivitas digital, pelatihan guru berbasis lokal, kolaborasi dalam pengelolaan keuangan pendidikan, serta pengembangan pembelajaran digital yang menghargai nilai-nilai budaya lokal merupakan kunci dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas di daerah 3T. Penelitian ini menyarankan agar pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan lebih mengintensifkan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan lokal. Selain itu, peneliti masa depan dapat mengembangkan studi lanjutan dengan pendekatan lapangan (field research) untuk memvalidasi efektivitas strategi-strategi yang diidentifikasi dalam penelitian ini. Fokus juga dapat diperluas pada pengembangan kurikulum lokal berbasis teknologi, serta pengukuran dampak jangka panjang dari intervensi pendidikan di wilayah 3T. DAFTAR PUSTAKA Abeh, Y. A., Wan, M., Batang, S., Wibawa, R., Natalia, D., Warman, W., Fitriadi, A., Pengelola, B., Daerah, A., Ulu, M., Komunikasi, D., Persandian, S., Ulu, M., Pendidikan, D., Ulu, M., & Mulawarman, U. (2025). Optimalisasi Pengelolaan Keuangan Daerah untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Sekolah Negeri. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 05(01), 2445–2454. https://doi.org/10.31004/innovative.v5i1.17975 Chastanti, I., Layyinnati, I., Srimulat, F. E., Fiqri, C. I., Syafriyeti, R., Afriani, D. T., Ernawati, E., & Jannah, N. (2024). Inovasi Pembelajaran dan Pendidikan Teknologi untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan (A. I. dan Husamah (ed.)). CV. Bildung Nusantara. http://repo.iaintulungagung.ac.id/5510/5/BAB 2.pdf Fadhila, S., & Kartiasih, F. (2024). Pengaruh Infrastruktur Transportasi serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terhadap Ketimpangan Pendidikan di Indonesia. Jurnal Ekonomi Indonesia, 13(02), 153–170. https://doi.org/10.52813/jei.v13i2.453 Fardila, A., Khalifah, H., Restarie, M. D., Rosyidi, U., & Takdir, M. (2025). Strategi Pengelolaan Sumber Daya Keuangan untuk Meningkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan di Daerah 3T : Systematic Literature Review. Journal on Education, 07(02), 9040–9048. https://doi.org/10.31004/joe.v7i2.7816 Fiady, N., & Pandu, A. (2022). Mempersempit Jurang Kesenjangan Digital di Wilayah 3T. https://innovatingindonesia.com/articles/mempersempit-jurang-kesenjangan-digital-di-wilayah3t/ Hadijah, S., Aulia, L., & Eviyanti, C. Y. (2020). Integrasi Budaya Aceh Kedalam Media Pembelajaran Matematika Interaktif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 04(02), 1143–1152. https://doi.org/10.31004/cendekia.v4i2.337 Jakaria, Y., Widjaja, Imelda, Hijriani, Ika, Waluyo, Panca, Raziqiin, Khairur, Dadan, Dadan, & Waspodo, R. M. (2019). Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan di daerah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal). In Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan. https://repositori.kemdikbud.go.id/18027/?utm_source=chatgpt.com Komdigi. (2024). Tingkatkan Konektivitas Daerah 3T, Kominfo Kaji Optimalkan 5G. https://www.komdigi.go.id/berita/pengumuman/detail/tingkatkan-konektivitas-daerah-3tkominfo-kaji-optimalkan-5g Lathifah, S. S., Talitha, S., Saepulrohman, A., Suhardi, E., & Budiana, S. (2024). Pendampingan Integrasi Kearifan Lokal Kampung Urug ke dalam Bahan Ajar. Abdi: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 06(04), 868–875. https://doi.org/10.24036/abdi.v6i4.973 Mahanum, M. (2021). Tinjauan Kepustakaan. ALACRITY : Journal of Education, 01(02), 1–12. https://doi.org/10.52121/alacrity.v1i2.20 Mansori. (2024). Peningkatan Kompetensi Guru melalui Pelatihan Pembelajaran Aktif di Sekolah Dasar May, 2025 | Issue 1 | Volume 1 19 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: xxxx-xxxx ; P-ISSN: xxxx-xxxx di Daerah 3T: (Studi Kasus di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Banten). Jurnal Pengabdian Masyarakat (PENGAMAS), 01(03), 251–261. https://doi.org/10.62207/0ahc9162 Neuendorf, K. A. (2019). Content Analysis and Thematic Analysis. In P. Bough (Ed.), Advanced Research Methods for Applied Psychology (1st ed., Issue June, pp. 211–223). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315517971-21 Priyani, N. E., & Nawawi, N. (2021). Analisis Pembelajaran STEM di Daerah Terluar Tertinggal Terdepan Indonesia Selama Masa Pandemi. PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), 06(01), 30–37. https://doi.org/10.24905/psej.v6i1.30 Rahmadi, I. F. (2020). Pendidikan di Daerah Kepulauan Terpencil: Potret Siswa, Guru, dan Sumber Belajar. JPE (Jurnal Pendidikan Edutama), 07(01), 75–84. https://doi.org/10.30734/jpe.v7i1.756 Reynaldo. (2024). Integrasi Kecerdasan Buatan dalam Etnopedagogi: Strategi untuk Melestarikan Kearifan Lokal di Era Digital. UNESA. https://s2dikdas.fip.unesa.ac.id/post/integrasi-kecerdasanbuatan-dalam-etnopedagogi-strategi-untuk-melestarikan-kearifan-lokal-di-eradigital?utm_source=chatgpt.com Shoib, A. A., & Vebriansyah, D. A. (2025). Urgensi Dan Implementasi Dasar-Dasar Pengetahuan Dalam Pendidikan Di Wilayah 3T Indonesia. JKIP : Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan, 05(04), 863–867. https://doi.org/10.55583/jkip.v5i4.1127 Sholehah, I., Puttradi, A. W. A., & Hum, M. (2022). Program Kampus Mengajar : Upaya Pemerataan Pendidikan di Wilayah 3T pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Paradigma: Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Pascasarjana Indonesia, 03(01), 37–44. https://doi.org/10.22146/jpmmpi.v3i1.73948 Suryadi, S., & Jasiah, J. (2023). Transformasi pendidikan dasar melalui kearifan lokal: Pendekatan kualitatif terhadap pengembangan kurikulum. Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 11(02), 163–170. https://doi.org/10.30738/wd.v11i2.17109 Suryaningrum, S. (2023). Penguatan Kapasitas Guru Pada Implementasi Kurikulum Merdeka Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Wahana Dedikasi, 06(01), 165–172. https://doi.org/10.31851/dedikasi.v6i1.11488 Vania, A. S., Septianingrum, A. D., Suhandi, A. M., & Prihantini, P. (2021). Revitalisasi Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas di Daerah Terdepan, Terluar, Dan Tertinggal (3t) pada Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Basicedu, 05(06), 5142–5150. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i6.1587 Wijaksono, A. (2024). Peningkatan Literasi Digital Melalui Pelatihan Guru Di Daerah Terpencil. AMPOEN (Akselerasi Merdeka Belajar Dalam Orientasi Masyarakat), 01(02). https://doi.org/10.32672/ampoen.v1i2.2405 20 Volume 1 | Issue 1 | May, 2025