Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Volume 6. Nomor 2. September 2025 ISSN 2721 - 4311 http://jurnal. id/index. php/JISP Model Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Untuk Meningkatkan Taraf Hidup di Desa Durensewu Pandaan Titin Lestariningsih1*. Paulus Yehuda Chrismartin2 1,. Akademi Sages. Indonesia *E-mail: meicindo@gmail. Abstrak Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu pendekatan penting dalam upaya peningkatan taraf hidup, terutama di kawasan pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis efektivitas model kolaborasi pemberdayaan masyarakat berbasis pengolahan pangan di Desa Durensewu. Model ini mengintegrasikan peran masyarakat lokal, pemerintah, dan stakeholder terkait untuk menciptakan ekosistem agribisnis yang mandiri dan Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi yang efektif mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengolah hasil pertanian menjadi produk pangan bernilai tambah. Selain itu, model ini juga membuka peluang pasar yang lebih luas, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa pengolahan pangan berbasis kolaborasi dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Namun, untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program, diperlukan penguatan pelatihan teknis, dukungan kebijakan pemerintah yang lebih konkret, serta pendampingan berkelanjutan dari berbagai pihak. Tantangan-tantangan tersebut perlu diatasi melalui sinergi yang lebih kuat antar-stakeholder dan komitmen jangka panjang untuk membangun ekosistem agribisnis yang mandiri dan berkelanjutan. Kata Kunci: Kolaborasi. Pentaheliix. Pemberdayaan. Masyarakat. Abstract Community empowerment is an important approach in efforts to improve living standards, especially in rural areas. This research aims to design and analyze the effectiveness of a collaborative model of community empowerment based on food processing in Durensewu Village. This model integrates the roles of local communities, government, and related stakeholders to create an independent and sustainable agribusiness ecosystem. The research approach used qualitative methods with in-depth interview techniques, participatory observation, and document analysis. The results showed that effective collaboration was able to increase the community's capacity in processing agricultural products into valueadded food products. In addition, this model also opens wider market opportunities, creates new jobs, and increases community income. This research confirms that collaboration-based food processing can be an innovative solution to improve the welfare of rural communities. However, to ensure the success and sustainability of the program, strengthened technical training, more concrete government policy support, and continuous assistance from various parties are needed. These challenges need to be overcome through stronger synergy between stakeholders and a longterm commitment to building a self-sustaining and sustainable agribusiness ecosystem. Keywords: Collaboration. Pentaheliix. Empowerment. Community. Cara citasi : Lestariningsih. Titin. Chrismartin. Paulus Yehuda. Model Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Untuk Meningkatkan Taraf Hidup di Desa Durensewu Pandaan. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Vol 6 No 2 September 2025, 124-133. DOI: https://doi. org/10. 30596/jisp. Naskah diterima : 21-02-2025 Revisi akhir : 21-04-2025 Disetujui : 21-04-2025 Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 2. September 2025: 124-133 PENDAHULUAN Istilah Aupemberdayaan masyarakatAy sudah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari Ae hari. Istilah ini tidak lagi asing bagi kita mengingat banyaknya program pemberdayaan masyarakat yang saat ini dijalankan oleh pemerintah. BUMN, organisasi sosial atau kemasyarakatan, hingga pihak swasta (Alhada et al. , 2. Informasi mengenai program Aeprogram tersebut kerap kita temui di berbagai media masa, seperti koran, radio, televisi, dan internet. Umumnya, program pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Konsep pemberdayaan berasal dari kata daya berarti kekuatan dan merupakan terjemahan dari istilah AuempowermentAy. Secara umum, pemberdayaan mengacu pada proses memberikan kekuatan atau kemampuan kepada kelompok yang kurang berdaya atau belum mampu mandiri, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan (Harahap. Kelompok yang kurang berdaya buka hanya di perkotaan juga terdapat di Fenomena, masyarakat desa yang tidak memiliki lahan pertanian akibat penguasaan lahan oleh pengusaha untuk perumahan ataupun pabrik. Masyarakat desa kehilangan mata pencaharian sebagai pemilik tanah atau bertani pada sawah miliknya sendiri menjadi buruh lepas. Tabel 1. Produksi Buah Ae Buahan dan Sayuran Tahunan Menurut Jenis tanaman di Kecamatan Pandaan . , 2020 -2. Jenis Tanaman Blimbing Jambu Biji Mangga Pepaya Pisang Rambutan Sumber: BPS Pandaan, 2024 Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa Kecamatan Pandaan merupakan penghasil komoditas buah buahan: blimbing, jambu biji, mangga, pepaya, pisang, rambutan. Komoditas yaitu mangga pada urutan pertama pada tahun 2020 sebesar 55. 495 kuintal namun mengalami penurunan pada tahun 2023 sebesar 8. 708 kuintal (BPS, 2. Lestariningsih. Titin. Chrismartin. Paulus Yehuda. Model Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat Komoditas yang dimiliki Pandaan berpotensi dapat dimanfaatkan untuk menjadi bahan baku olahan produksi pangan. Desa Durensewu terletak Kec Pandaan. Kab Pasuruan. Luas desa ini 3,34 km2 terdiri dari 7 dusun, 7 RT, dan 46 RW. Luas tanah tanaman pangan, sawah 212,00 tegal 9,13 bangunan dan pekarangan 108,54. Kepadatan penduduk 1,946. 11 per km2. Jumlah penduduk laki-laki 3,288 jiwa dan perempuan 3,212 jiwa. Jumlah penduduk 6500 jiwa (Pasuruan, 2. Dengan jumlah penduduk perempuan yang tidak jauh beda dengan lakilaki. Mata pencarian rata-rata penduduk Durensewu adalah pertanian yang tergantung dengan musim, dan karakteristik lahan/sawah. Namun banyak lahan pekarangan/tegal yang dibiarkan dengan tanaman buah dan tanaman liar lainnya. Lahan ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk tanaman yang bermanfaat bagi keluarga, misal mangga untuk Desa yang terletak di kaki Gunung Arjuno ini memiliki sumber daya alam yang menjadi daya tarik investor untuk menanamkan modalnya. Salah satunya tempat wisata yaitu: Makoya. Telaga Sewu. Wisata Durensewu dan Taman K-land. Suatu daerah menjadi tempat destinasi wisata akan diikuti hotel, vila, homestay, restoran dan kafe. Wisatawan akan membelanjakan sejumlah uang untuk membiayai selama liburan. Kendati demikian, kondisi ini belum menjadi daya ungkit ekonomi masyarakat. Keterlibatan masyarakat di sekitar pariwisata ini juga belum optimal. Desa ini dikenal dengan keberagaman sumber daya alam yang dapat menjadi basis untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat. Namun, seperti banyak desa lain di Indonesia. Durensewu Tantangan tersebut meliputi: Desa Durensewu belum memiliki pasar, kurangnya akses terhadap pelatihan keterampilan, keterbatasan peluang kerja, serta rendahnya daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas. Selanjutnya bagaimana konsep kemitraan strategis yang dilakukan desa Durensewu. Tujuan penelitian ini mengetahui kemitraan yang dilaksanakan desa Durensewu dan unsur-unsurnya dalam pemberdayaan masyarakat dan pendekatan kolaborasi yang tepat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendekatan kolaborasi yang tepat dalam pemberdayaan masyarakat di desa Durensewu. Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pemberdayaan masyarakat yang efektif, berbasis kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, masyarakat, akademisi, dunia usaha, serta lembaga swadaya masyarakat (LSM). Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 2. September 2025: 124-133 Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan terciptanya sinergi yang memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengelola potensi desa, meningkatkan keterampilan, dan membuka akses pasar secara lebih luas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian dengan pendekatan fenomologi yang memahami sudut pandang pemikiran, pengalamam para stakeholder mengenai kemitraan strategis upaya pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di desa Durensewu. Kec Pandaan Kabupaten Pasuruan. Jenis data pada penelitian ini kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Sumber data pada penelitian ini menggunakan primer dan sekunder. Pengumpulan data pada penelitian ini yaitu: wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan informan yang mengetahui dan terlibat dalam pemerintahan desa. Informan pada penelitian ini: Kepala desa, pamong desa, pelaku usaha kuliner, akademisi, dan masyarakat. Data dianalisis melalui tahap yaitu pengkodean, pengkategorian, reduksi, dan penyajian data. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara konseptual, pemberdayaan masyarakat diartikan sebagai sebuah pendekatan pembangunan ekonomi yang mengintegrasikan nilai-nilai sosial. Pendekatan ini mencerminkan paradigma baru dalam pembangunan yang menitikberatkan pada manusia sebagai pusatnya . eople-centere. , melibatkan partisipasi aktif . , bersifat memberdayakan . , serta berorientasi pada keberlanjutan . Dalam konteks ini, ekonomi kreatif menjadi salah satu elemen penting, karena berbagai program pemberdayaan masyarakat di bidang ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan taraf perekonomian masyarakat (Alhada et al. , 2. , (Agustana, 2. Ekonomi pedesaan merupakan suatu sistem sosial-ekonomi yang kompleks dan terdiversifikasi, dibentuk oleh interkoneksi antara objek dan subjek. Struktur ekonomi pedesaan yang terdiversifikasi sebagai suatu sistem yang mampu memobilisasi sumber daya yang tersedia di wilayah tersebut serta mengembangkan sektor-sektor dan usaha utama mereka, seperti pertanian . aik tradisional maupun moder. , non-pertanian . eliputi industri, konstruksi, kehutanan, kerajinan tangan, dan jas. , serta industri jasa . eperti pendidikan, layanan kesehatan, rekreasi, dan ketenagakerjaa. Dengan menggunakan pendekatan tiga cabang, yaitu "fungsi-struktur-tujuan," terciptalah model Lestariningsih. Titin. Chrismartin. Paulus Yehuda. Model Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat diversifikasi ekonomi pedesaan yang mencakup beberapa industri dominan atau kombinasi dari berbagai industri yang berbeda (Merenkova et al. , 2. Beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat Durensewu meliputi, minimnya ketrampilan kewirausahaan, banyak masyarakat masih bergantung pada sektor agraris tanpa adanya diversifikasi usaha. Terbatasnya kolaborasi, sinergi antara pemerintah desa, pelaku usaha, dan komunitas lokal masih belum optimal dalam mendorong program Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan sebuah model kolaborasi yang mengintegrasikan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, organisasi non-pemerintah, akademisi, komunitas lokal, dan pelaku usaha. Pembuatan model kolaborasi untuk memberdayakan masyarakat miskin dirancang dengan mengacu pada tiga elemen utama, yaitu: . peningkatan kapasitas. hubungan antar-aktor. aspek keberlanjutan. Proses penguatan kapasitas masyarakat difokuskan pada perencanaan dan internalisasi nilai-nilai pemberdayaan di kalangan para Pemberdayaan kolaboratif mencakup mekanisme hubungan antar-aktor dalam berbagai tahapan pengelolaan pemberdayaan, mulai dari identifikasi masalah hingga upaya menjaga keberlanjutan. Model kolaborasi ini mampu meningkatkan efektivitas peran setiap sektor dalam satu agenda pemberdayaan. Kesatuan proses dan kolaborasi peran dapat membentuk modal sosial bagi masyarakat guna mempersiapkan agenda pemberdayaan berikutnya atau program yang berkelanjutan (Suaedi & Widiono, 2. Kolaborasi dalam pemberdayaan masyarakat berbasis pengolahan pangan Di Desa Durensewu. Kolaborasi dalam pemberdayaan masyarakat yang melibatkan tiga pihak utama, pemerintah desa, masyarakat dan pelaku usaha. Pemerintah desa berperan sebagai fasilitator atau penggerak utama yang menghubungkan masyarakat dengan pelaku usaha. Masyarakat adalah pihak yang diberdayakan berbagai program yang Masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok yang terdiri dari PKK. Karang Taruna dan organisasi masyarakat lainnya. Pelaku usaha, baik itu UMKM maupun perusahaan besar, menjadi mitra strategis dalam pemberdayaan masyarakat. Usaha menengah kecil khusunya usaha kuliner merupakan usaha yang dilakukan perorangan yang belum atau berbadan hukum. Menurut Kepala Desa Durensewu menyampaikan penduduk desanya rata-rata mata pencarian sebagai petani. Pendapatan sebagai petani padi yang tidak tentu tergantung dengan panenannya. Tanah pekarangan dan halaman rumah warga kurang dimanfaatkan dengan baik. Kepala desa juga menyampaikan desa memiliki Bumdes (Badan Usaha Milik Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 2. September 2025: 124-133 Des. mengelola aset desa untuk bisnis bersama mitra dengan bentuk sewa dalam waktu Dengan Bumdes diharapkan dapat menyerap tenaga kerja desa agar tidak ke kota, dan dapat meningkatkan kas desa. Petugas desa juga menyatakan desa Durensewu belum memiliki sentra khusus kuliner. Unit usaha kuliner masih bersifat sporadis artinya menyebar dimana-mana dan belum terkoordinasi dengan baik. Hal serupa disampaikan pedagang kuliner yang datang dari luar daerah, belum adanya komunitas kuliner sejenis apalagi sentra kuliner. Hal ini serupa disampaikan masyarakat desa Durensewu belum tahu pemberdayaan berbasis pengolahan pangan bila ingin usaha kuliner langsung usaha tanpa pendampingan ataupun pelatihan ketrampilan yang dibutuhkan masyarakat. Hasil pertanian rata-rata padi setelah panen gabah dijemur untuk dijual dan sebagian disimpan. Salah satu warga desa juga mengatakan pekarangan warga belum di kelola dengan maksimal banyak lahan kosong, tegalan ditumbuhi buah Aebuahan mangga, nangka, pete, pohon pisang dan rumput Meskipun desa basis pertanian belum ditemui produk inovasi yang berasal dari bahan lokal, hal itu dibenarkan oleh perangkat desa. Lanjut Kepala desa juga menyampaikan kolaborasi dengan media. Perguruan Tinggi masih minim. Pimpinan desa itu juga menyampaikan membuka diri bila ada perguruan tinggi yang ingin memberikan pelatihan termasuk kuliner kepada warganya. Pendekatan kolaborasi pemberdayaan masyarakat berbasis pengolahan pangan dengan pendekatan pentahelix. Model pemberdayaan masyarakat dengan basis pengolahan pangan bertujuan diharapkan mengurangi kemiskinan melalui kolaborasi lintas sektoral. Selama ini masyarakat tani cenderung menjalankan usaha secara parsial dengan teknologi terbatas. Terbentuknya indutri pengolahan hasil pertanian di desa. Diharapkan dapat meningkatkan sistem agribisnis yang dikelola mereka sendiri. Meski demikian diperlukan dukungan dari para pemangku kepentingan diharapkan pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat (Windari, 2. Proses kolaborasi telah berlangsung dengan baik, yang tercermin dari dialog langsung, peningkatan kepercayaan, komitmen masyarakat, serta pemahaman yang beragam tentang pembangunan, yang pada akhirnya berkontribusi pada pencapaian hasil pembangunan yang efektif, baik secara fisik maupun non-fisik (Antono et al. , 2. Selanjutnya. Steiner & Farmer, . melakukan penelitian dengan eksplorasi skala besar mengenai proyek pemberdayaan di tujuh komunitas pedesaan di Skotlandia, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat perlu mengadopsi teknik Lestariningsih. Titin. Chrismartin. Paulus Yehuda. Model Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat pengembangan komunitas yang melibatkan aktor eksternal dan sumber daya pendukung . raktik eksoge. , serta memanfaatkan potensi yang ada di dalam masyarakat itu sendiri . raktik endoge. Pentahelix merupakan kerangka untuk pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan pada sektor pariwisata. Pendekatan kolaborasi pentahelix bukan hanya untuk wisata namun diadopsi dapat digunakan sektor lain misalkan sosial ekonomis dalam strategi pemberdayaan masyarakat pedesaan. Gambar 1. Pentahelix Pemberdayaan Masyarakat Model kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan, pendampingan, dan penyediaan akses terhadap sumber daya, pasar, serta Fandi et al. , . menjelaskan pendekatan yang efektif dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat, seperti yang terlihat di kawasan Wisata Geopark Ijen Banyuwangi. Partisipasi aktif masyarakat dalam mengembangkan pariwisata sehingga dapat berkonstibusi meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengangguran. Pemerintah desa merupakan aktor sentral dalam penyusunan kebijakan, regulasi, dan koordinasi antar pihak (Kirana & Artisa, 2. Adapun peran pemerintah desa yakni: memfasiltasi kerja sama antara elemen lain, menyediakan anggaran atau akses kepada sumber daya, meningkatkan infrastruktur desa untuk mendukung pemberdayaan (Ahmad et al. , 2. , (Prasetyo et al. , 2. Perguruan Tinggi berkonstribusi melalui penelitian, inovasi, dan pengabdian masyarakat. Perguruan tinggi menyediakan solusi berbasis riset untuk mengembangkan potensi desa. Perguruan tinggi memberikan pelatihan atau workshop untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Lanjut Perguruan Tinggi membantu menciptakan teknologi tepat guna yang mendukung kegiatan ekonomi Pelaku usaha, baik skala kecil (UMKM) maupun besar, menjadi mitra dalam mengembangkan ekonomi desa: menciptakan peluang usaha berbasis potensi lokal. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 2. September 2025: 124-133 memberikan pendanaan, pelatihan bisnis atau akses pasar, mengintegrasikan masyarakat dalam rantai produksi dan distribusi. Media berperan sebagai alat untuk menyebarluaskan informasi, edukasi, dan promosi kegiatan pemberdayaan. Media meningkatkan kesadaran tentang potensi dan peluang desa. Mendokumentasikan program pemberdayaan untuk meningkatkan kepercayaan pihak luar. Media, membantu memasarkan produk-produk lokal melalui platform digital dan konvensional. Masyarakat adalah subyek utama yang diberdayakan. Adapun peran masyarakat berpartisipasi aktif dalam program pemberdayaan. Mengoptimalkan potensi lokal seperti sumber daya alam, budaya atau kerajinan. Mengelola hasil program untuk keberlanjutan ekonomi dan sosial desa. Hubungan kolaborasi Pemerintah dan masyarakat. Pemerintah desa mendengarkan aspirasi masyarakat untuk menyusun program pemberdayaan yang sesuai. Pemerintah desa menciptakan regulasi yang mempermudah pelaku usaha untuk terlibat dalam Pelaku usaha dan masyarakat, pelaku usaha memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan penyediaan pasar. Pemerintah desa dan perguruan tinggi, kerjasama untuk merancang program berbasis riset. Perguruan Tinggi dan pelaku usaha, kolaborasi dalam mengadopsi inovasi dan teknologi di sektor bisnis lokal. Penguatan koordinasi antar elemen pentahelix dan diperlukan koordinasi yang intensif antara perguruan tinggi, pelaku usaha, media dan masyarakat untuk memastikan setiap pihak memahami peran masing - masing dalam pemberdayaan melalui forum diskusi atau pertemuan berkala dapat menjadi sarana untuk menyamakan visi dan tujuan. Peningkatan kapasitas masyarakat. Masyarakat sebagai subyek utama pemberdayaan perlu dilatih dan diberdayakan secara berkelanjutan. Perguruan tinggi diharapkan dapat mengadakan pelatihan ketrampilan, manajemen usaha, dan literasi digital untuk mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi modern. Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam perencanaan program. Agar program lebih sesuai dengan kebutuhan lokal, masyarakat harus lebih dilibatkan dalam tahap perencanaan (Molosi & france et al. , 2. Partisipasi aktif akan meningkatkan rasa memiliki terhadap pemberdayaan sehingga dapat berkelanjutan. Desa Durensewu memiliki Perguruan Tinggi yaitu vokasi kuliner diharapkan berkonstrbusi dalam pengembangan desa melalui pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan pangan. Perlu adanya kolaborasi Pemerintah desa dengan Perguruan Tinggi untuk pengolahan hasil pertanian menjadi produk yang bernilai jual. Pemerintah desa Lestariningsih. Titin. Chrismartin. Paulus Yehuda. Model Kolaborasi Pemberdayaan Masyarakat dapat melibatkan perguruan tinggi dalam diskusi upaya menggali pemikiran dari para Masyarakat menyediakan bahan baku untuk diolah di kitchen yang dimiliki perguruan tinggi dan digunakan memasak mahasiswa praktek. Perguruan tinggi memberikan produk inovasi berupa resep untuk diadopsi masyarakat. Pengembangan model kolaborasi pentahelix ini belum cukup namun diperlukan pula komunikasi antar sektor sehingga program yang ditetapkan dapat dilaksanakan dengan keterlibatan masyarakat sebagai obyek maupun subyek dalam pemberdayaan untuk mencapai kesejahteraan yang bekelanjutan. SIMPULAN Pendekatan model pentahelix ini diperlukan implementasi sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Pendekatan ini dalam pemberdayaan masyarakat desa menciptakan kolaborasi yang sinergisitas antara berbagai pihak. Tujuannya untuk mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan, mandiri, dan berbasis potensi lokal melalui kontribusi masing-masing. Kolaborasi lima elemen yakni: Pemerintah desa, masyarakat, pelaku usaha. Perguruan Tinggi, dan media tidak hanya meningkatkan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat desa tetapi juga memperkuat keberlanjutan program melalui pembagian tanggung jawab dan manfaat yang merata. Dengan demikian, pendekatan pentahelix dapat menjadi model yang ideal untuk diterapkan dalam berbagai konteks pembangunan masyarakat, khususnya di desa. Implementasi yang baik dari pendekatan ini memerlukan komunikasi yang kuat, koordinasi yang berkesinambungan, evaluasi program secara berkala untuk memastikan berkeberlanjutan dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat dapat memanfaatkan waktunya dengan baik, ketika menunggu panen padi dengan membuat karya atau sesuatu bernilai atau dijual menghasilkan tambahan Perguruan Tinggi melakukan pengabdian sebagai bentuk tanggung jawab para akademisi kepada masyarakat dengan workshop, pelatihan dan kegiatan lainnya. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada Kepala Desa, perangkat, dan masyarakat Durensewu yang berkenan memberikan informasi penting yang berguna terhadap artikel ini. Dan semua pihak terkhusus LPPM Akademi Sages yang memfasilitasi penelitian ini. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 6. Nomor 2. September 2025: 124-133 DAFTAR PUSTAKA