Kajian Etnobotani Tumbuhan Pangan KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN PANGAN MASYARAKAT SUKU BENTONG DI KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN-INDONESIA (Ethnobotanical Study of Food Plant in Bentong Community from Barru Regency. South Sulawesi-Indonesi. DEWI SARTIKA AMBOUPE1*). ALEX HARTANA. DAN Y PURWANTO. Program Studi Biologi Tumbuhan. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, . IPB University. Kampus Dramaga. Bogor. Indonesia 16680 Departemen Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. IPB University. Kampus Dramaga. Bogor. Indonesia 16680 Laboratorium Etnobotani. Bidang Botani. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Jl. Ir. Juanda 22. Bogor. Indonesia Email : dewisartika. swsmp10@gmail. Diterima 21 Agustus 2019 / Disetujui 29 November 2019 ABSTRACT The Bentong people lives in the village of Bulo-Bulo. Barru Regency. South Sulawesi. About 50 years ago, the community still lived a nomadic life, but today the community has settled. Knowledge about the use of plants as food ingredients by the people of the Bentong Tribe has not been This study aims to record and describe the utilization of food plant species of the Bentong tribe. Data collection through informant interviews, observations, and collection of herbarium specimens to be identified. Data were analyzed descriptively by examining plant species used as food ingredients and quantitative analysis using the index of cultural importance. The Bentong tribe uses 70 plant species as food ingredients including: . as a staple food consisting of 4 types namely 'kenrang' fruit (Ficus racemos. and 'sikapa' tubers (Dioscorea hispid. when they were still nomadic and rice plants (Oryza sativ. and corn (Zea may. after settling. as a vegetable 34 species. as a fruits 33 species. as a drink 5 species. ICS analysis results showed that the species that had the highest cultural importance index value were rice . followed by lontar . , banana . , coconut . and sugar palm . Keywords: Bentong. Bulo-Bulo Village, ethnobotany, nomadic ABSTRAK Masyarakat Suku Bentong hidup di Desa Bulo-Bulo. Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Sekitar 50 tahun yang lalu, masyarakat tersebut masih hidup nomaden, namun saat ini masyarakat tersebut telah hidup menetap. Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Suku Bentong belum tercatat. Penelitian ini bertujuan mendata dan menguraikan pemanfaatan spesies tumbuhan bahan pangan masyarakat Suku Bentong. Pengumpulan data melalui wawancara informan, observasi, dan pengambilan spesimen herbarium untuk diidentifikasi. Data dianalisis secara deskriptif dengan mengkaji spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pangan serta analisis secara kuantitatif menggunakan persamaan indeks kepentingan budaya. Masyarakat Suku bentong menggunakan 70 spesies tumbuhan sebagai bahan pangan meliputi: sebagai makanan pokok terdiri dari 4 jenis yaitu buah AokenrangAo (Ficus racemos. dan umbi AosikapaAo (Dioscorea hispid. pada saat masih nomaden serta tanaman padi (Oryza sativ. dan jagung (Zea may. setelah tinggal menetap. sebagai sayuran 34 spesies. sebagai buah-buahan 33 spesies. sebagai minuman 5 spesies. Hasil analisis ICS menunjukkan spesies yang memiliki nilai indeks kepentingan budaya tertinggi adalah tanaman padi . diikuti oleh lontar . , pisang . , kelapa . dan aren . Kata kunci: Bentong. Desa Bulo-Bulo, etnobotani, nomaden PENDAHULUAN Kehidupan masyarakat lokal sehari-hari masih sangat tergantung dengan kekayaan keanekaragaman jenis tumbuhan di antaranya adalah jenis tumbuhan bahan pangan. Pengetahuan masyarakat lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan jenis sumber daya alam tumbuhan tersebut perlu diungkapkan untuk mengetahui hubungan dan perannya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tersebut. Instrumen ilmiah untuk menggali pengetahuan lokal tersebut adalah melalui kajian ilmu Etnobotani suatu suku bangsa di Indonesia akan berbeda dengan suku lainnya karena setiap suku memanfaatkan tumbuhan (Kuni et al. Kekhasan dalam memanfaatkan tumbuhan ini disebabkan oleh adanya keragaman budaya pada masyarakat Indonesia (Setyowati et al. Salah satu kelompok masyarakat yang masih mempertahankan kearifan budaya dalam mengelola dan memanfaatkan keanekaragaman jenis tumbuhan adalah Suku Bentong. Pemanfaatan jenis tumbuhan tersebut meliputi berbagai kegunaannya antara lain sebagai bahan pangan, rempah-rempah, ramuan obat-obatan tradisional. Media Konservasi Vol. 24 No. 3 Desember 2019: 278-286 peralatan, energi, pewarna, racun dan anti racun, tali, ritual dan lain-lainnya. Suku Bentong adalah masyarakat suku bangsa yang bertempat tinggal di Kabupaten Barru. Sulawesi Selatan. Kondisi wilayahnya tertutup hutan dan berbukit-bukit dengan sarana jalan kurang baik sehingga masyarakat Suku Bentong tertutup dari dunia luar. Suku Bentong berasal dari keturunan putra Raja Bone dan putri Raja Tanete. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Bentong yang merupakan percampuran antara Bahasa Bugis dan Bahasa Makassar (Hidayah 2. Masyarakat Suku Bentong pada awalnya cenderung hidup berpindah-pindah atau nomaden sesuai sistem perladangan tebang bakar yang biasa mereka lakukan. Sekitar 50 tahun terakhir, mereka telah hidup menetap seperti masyarakat pada umumnya. Mereka bercocok tanam berbagai spesies tumbuhan bahan pangan seperti jagung, padi, ubi kayu, kacang ijo dan ubi jalar. Mereka juga memiliki kemampuan berburu dan menangkap ikan (Hidayah 2. Masyarakat suku Bentong dianggap masih memiliki pengetahuan terkait pemanfaatan dan pengelolaan tumbuhan sejak hidup nomaden hingga menetap. Namun, informasi mengenai kehidupan masyarakat Suku Bentong di masa sekarang khususnya tentang pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat lokal belum diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai etnobotani masyarakat tersebut. Penelitian etnobotani dianggap perlu untuk mengungkap pengetahuan, potensi memprediksi dan mengembangkan pengetahuan serta potensi untuk mengatasi permasalahan masyarakat khususnya dalam bidang pangan. Penelitian etnobotani pada masyarakat Bentong dinilai sangat penting untuk mengetahui keanekaragaman dan kapasitas masyarakat dalam menyediakan bahan pangan sehingga dapat mengungkap strategi kebutuhan pangan masyarakat agar tidak terjadi kelaparan, baik pada saat nomaden maupun Pengetahuan tersebut dinilai berguna untuk memperkaya jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan serta dapat diterapkan sebagai strategi ketahanan pangan oleh masyarakat Indonesia secara umum. Studi etnobotani masyarakat Suku Bentong tentang pengetahuan dan pengelolaan keakeragaman jenis tanaman bahan pangan bertujuan untuk mengungkapkan keanekaragaman jenis tumbuhan bahan pangan lokal yang memiliki potensi dan nilai dalam kehidupan masyarakat dan mengungkapkan pengetahuan lokal masyarakat suku Bentong dalam mengelola jenis-jenis tumbuhan bahan pangan. METODE PENELITIAN Wawancara dan pengambilan spesimen tumbuhan dilakukan di Desa Bulo-Bulo. Kecamatan Pujananting. Kabupaten Barru. Sulawesi Selatan pada bulan Juli 2018 hingga Desember 2018. Pengambilan data dilakukan pada tujuh dusun yaitu Dusun Lappatemmu. Passengareng. Labaka. Maroanging. Rumpiae. Panggalungan dan Palampang seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1 Peta lokasi penelitian di kawasan Suku Bentong di Desa Bulo-Bulo. Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru Kajian Etnobotani Tumbuhan Pangan Pengumpulan data meliputi data primer dan data Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan melakukan wawancara open ended dan wawancara terstruktur. Data yang dikumpulkan meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. Jenis data primer yang dikumpulkan meliputi data-data sebagai berikut: Data keanekaragaman jenis tumbuhan/tanaman bahan pangan . ualitatif dan kuantitati. Data pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan dan pemanfaatan jenis-jenis tanaman/tumbuhan sebagai bahan pangan. Penelitian dimulai dengan penentuan informan (Martin 1. yang memiliki pengetahuan tentang jenisjenis tumbuhan yang bermanfaat sebagai bahan pangan seperti para petani, pengumpul nira, dan masyarakat biasa Suku Bentong yang sehari-hari memanfaatkan jenis tumbuhan sebagai bahan pangan. Penentuan informan dilakukan menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan informan kunci dan random sampling untuk menentukan informan biasa. Jumlah informan pada penelitian ini sebanyak 90 orang yang terdiri atas 10 orang ahli lokal sebagai informan kunci dan 80 orang masyarakat umum sebagai informan biasa. Setelah menentukan informan, hal yang dilakukan selanjutnya adalah pengumpulan data. Pengumpulan data etnobotani menggunakan beberapa metode yaitu wawancara, observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan menggunakan beberapa teknik antara lain note-taking, free listing, kuesioner dan wawancara open-ended. Note-taking merupakan teknik wawancara dengan cara mengambil beberapa jenis tanaman kemudian menanyakan manfaat tanaman tersebut ke informan lalu mencatat kegunaan yang disebutkan oleh informan. Berikutnya, free listing merupakan teknik wawancara dengan cara menanyakan suatu kegunaan tumbuhan pada informan kemudian mencatat seluruh jenis tumbuhan yang disebutkan oleh informan tersebut (Puri et al. Selanjutnya, kuesioner dilakukan dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan kepada informan terkait tingkat kesukaan dan tingkat kepuasan informan terhadap berbagai jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan (Purwanto 2. sedangkan wawancara open-ended merupakan teknik wawancara secara mendalam dengan informan terkait pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan, hubungan budaya serta pengelolaan tumbuhan oleh masyarakat (Martin Pada teknik wawancara open-ended, digunakan alat perekam suara untuk merekam pembicaraan dengan Selain wawancara, metode lain yang dilakukan adalah observasi partisipatif. Observasi partisipatif merupakan metode mengikuti secara langsung proses pelaksanaan kegiatan masyarakat. Peneliti tinggal di rumah warga selama kurang lebih empat bulan untuk mengamati penggunaan tumbuhan dan ikut serta dalam kegiatan masyarakat sehari-hari seperti menanam jagung, membajak sawah dan mengambil hasil hutan. Peneliti melakukan diskusi secara langsung dengan masyarakat di lahan pertanian, ladang, pekarangan dan hutan sekunder. Pengamatan dilakukan mulai dari dusun tempat kedudukan pemerintahan desa hingga ke dusun-dusun Setelah data wawancara, kuesioner dan studi pengambilan sampel tumbuhan dan pembuatan herbarium untuk memudahkan identifikasi. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode eksplorasi yaitu jelajah bersama informan pada habitat asli tumbuhan. Tumbuhan yang telah diperoleh kemudian dibuat herbarium (Martin 1. Spesimen herbarium diidentifikasi dengan cara mencocokkan dengan tumbuhan yang ada pada buku Prosea (Guzman dan Siemonsma 1. dan Flora Sulawesi (Yuzammi dan Hidayat 2. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan Analisis kualitatif dengan melakukan kajian spesies-spesies pengelolaannya serta hubungan budaya antara masyarakat lokal dan tumbuhan bahan pangan. Analisis kuantitatif menggunakan persamaan indeks kepentingan budaya (ICS) yaitu nilai yang menunjukkan tingkat kepentingan suatu jenis tumbuhan di masyarakat berdasarkan tingkat kualitas, intensitas penggunaan serta kesukaan masyarakat. Penentuan nilai ICS menggunakan persamaan (Turner 1. ICS = . x i x . x i x . x i x . 3 A. x i x . n Keterangan: ICS : Nilai kepentingan budaya : Nilai kualitas, dihitung dengan cara memberi skor terhadap nilai kualitas penggunaan suatu jenis tumbuhan : Nilai intensitas, dihitung dengan cara memberi skor terhadap nilai intensitas penggunaan suatu jenis tumbuhan : Nilai eksklusivitas, dihitung dengan cara memberi nilai terhadap tingkat kesukaan masyarakat pada suatu jenis tumbuhan. HASIL DAN PEMBAHASAN Keanekaragaman Spesies Bahan Pangan Tumbuhan bahan pangan yang digunakan masyarakat Suku Bentong berjumlah 70 spesies yang meliputi enam spesies bahan makanan utama saat nomaden, dua di antaranya yaitu kenrang (Ficus racemos. dan sikapa (Dioscorea hispid. , 2 spesies tumbuhan makanan pokok saat menetap yaitu padi (Oryza sativ. dan jagung (Zea may. , 34 spesies sayursayuran, 33 spesies buah-buahan, 5 spesies umbi, dan 5 spesies bahan minuman (Tabel . Bahan pangan juga dibagi berdasarkan bagian tumbuhan yang digunakan yaitu batang, daun, bunga, buah, biji, pelepah, nira, dan Buah merupakan bagian tumbuhan yang banyak digunakan sebagai bahan pangan yaitu sebanyak 38 spesies . ,3 %), sedangkan bagian tumbuhan yang paling sedikit digunakan adalah bunga dan pucuk batang yaitu hanya 1 spesies . ,4 %) (Tabel . Media Konservasi Vol. 24 No. 3 Desember 2019: 278-286 Tabel 1 Kelompok pemanfaatan tumbuhan bahan pangan Spesies pemanfaatan Sayuran Buah Bahan pangan pokok Umbi Minuman Tabel 2 Bagian tumbuhan bahan pangan Bagian tumbuhan Buah Biji Daun Umbi Nira Pelepah Bunga Pucuk batang . Total Teknik Pengelolaan Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Masa nomaden Pada saat masih hidup nomaden, masyarakat Bentong memanfaatkan tumbuhan di sekitar tempat tinggal mereka untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Mereka melakukan peramuan atau kegiatan ekstraktivism jenis-jenis tumbuhan bahan pangan. Ketika sumber daya makanan di tempat mereka telah habis, maka mereka akan berpindah ke tempat lain yang bahan Masyarakat Bentong memanfaatkan tumbuhan sebagai pangan secara bergiliran sesuai spesies yang dijumpai atau tersedia di Sikapa (Dioscorea hispid. dan kenrang (Ficus racemos. (Gambar . merupakan dua jenis tumbuhan liar di sekitar tempat tinggal mereka yang sering digunakan sebagai bahan pangan sumber karbohidrat pada masa nomaden. Pada saat musim kemarau yaitu mulai bulan Mei hingga Oktober, masyarakat Bentong memanfaatkan umbi sikapa (Dioscorea hispid. sebagai sumber Mereka menganggap bahwa pada musim kemarau umbi sikapa (Dioscorea hispid. yang tumbuh di dalam tanah berukuran lebih besar dibanding pada musim penghujan. Selain itu, pada musim penghujan umbi sikapa (Dioscorea hispid. lebih sulit untuk diolah karena dalam pengolahannya membutuhkan proses pengeringan yang sulit dilakukan pada musim penghujan. Pada musim penghujan yaitu mulai bulan November hingga April, masyarakat Bentong mengonsumsi buah kenrang (Ficus racemos. sebagai sumber karbohidrat. Menurut mereka, pohon kenrang (Ficus racemos. berbuah lebat pada musim penghujan. Selain itu, kenrang (Ficus racemos. dapat diolah pada musim penghujan karena pengolahannya lebih mudah dan tidak membutuhkan proses pengeringan seperti halnya sikapa (Dioscorea hispid. Umbi sikapa (Dioscorea hispid. tidak dapat dikonsumsi langsung sebagai makanan pokok karena Jumlah . Jumlah . Persentase (%) dianggap beracun dan menimbulkan rasa gatal di mulut. Widiyanti dan Kumoro . menyatakan bahwa umbi Dioscorea hispida mengandung senyawa glikosida sianogenik yang bersifat racun sehingga tidak aman dikonsumsi langsung. Pramitha dan Wulan . melaporkan bahwa tepung Dioscorea hispida mengandung racun golongan sianida dengan kadar tinggi sehingga diperlukan pengolahan berupa perendaman dalam abu sekam dan perebusan untuk menghilangkan senyawa racun. Masyarakat Suku Bentong memiliki cara pengolahan sikapa untuk detoksifikasi racun secara Prosedur pengolahan sikapa memiliki beberapa tahapan. Pertama, sikapa dipotong memanjang kemudian dibenamkan ke dalam tanah selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, sikapa direndam dalam air selama tiga Selanjutnya sikapa dikeringkan selama satu hari di bawah terik matahari. Setelah dikeringkan, sikapa dikukus selama beberapa menit hingga matang. Setelah dikukus, sikapa siap disantap dengan lauk seperti ikan air tawar dan udang yang dipancing di sungai. Masyarakat sekitar hutan Wonosadi Gunung Kidul Yogyakarta memanfaatkan Dioscorea hispida sebagai bahan pangan pengganti sagu dan jagung, obat luka, pewangi pakaian, racun binatang dan penghias rambut (Purnomo et al. Selain itu, di Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen. Dioscorea hispida dimanfaatkan untuk menangkap burung dengan cara dicampurkan pada makanan burung. Kandungan senyawa dioscinin yang beracun dapat mengakibatkan burung pingsan sementara (Widiastuti et al. Di samping itu, masyarakat yang hidup di sekitar hutan Pegunungan Ruteng memanfaatkan Dioscorea hispida sebagai pestisida nabati dan makanan saat paceklik (Iswandono et al. Bagian kenrang yang dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat adalah buah (Tabel . Berbeda dengan sikapa, pengolahan kenrang (Ficus racemos. lebih Buah kenrang dibelah kemudian dipipihkan lalu dikukus. Buah kenrang belum pernah dilaporkan sebagai bahan makanan pokok. Buah Ficus racemosa Kajian Etnobotani Tumbuhan Pangan digunakan sebagai obat diare dan batuk kering di India (Bhalerao et al. , sedangkan di Pulau Sumbawa, masyarakat Samawa memanfaatkan buah Ficus buah-buahan dimanfaatkan sebagai sayuran (Rahayu dan Rustiami Buah Ficus racemosa mengandung beberapa senyawa polifenol seperti glauanol dan glauanol asetat yang berfungsi sebagai antioksidan (Joseph dan Raj Di samping kenrang dan sikapa, masyarakat Bentong juga memanfaatkan tawaro inruAo atau tepung aren sebagai sumber karbohidrat pada saat masih hidup Masyarakat memperoleh tepung aren dengan cara menumbangkan kemudian membelah pohon aren yang telah dipanen niranya. Satu pohon aren dapat menyediakan tepung aren untuk konsumsi sekitar 10 keluarga selama sebulan. Sebuah pohon aren dapat menghasilkan 50 hingga 75 kilogram tepung aren untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada kabupatenkabupaten lain di Sulawesi Selatan, tepung aren dimanfaatkan sebagai pengganti tepung tapioka sebagai bahan pembuatan beberapa jenis kue (Alam dan Baco Selain di Sulawesi Selatan, tepung aren juga dimanfaatkan sebagai bahan pangan sumber karbohidrat di Pulau Simeulue. Nanggroe Aceh Darussalam (Yuliati et al. Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan tambahan pada masa nomaden berjumlah 34 spesies tumbuhan yang terdiri atas kelompok umbi, sayuran, buah-buahan dan bahan minuman. Masyarakat Bentong memanfaatkan lima spesies tumbuhan budidaya sebagai bahan pangan berupa umbi yaitu lame rampang (Ipomoea batata. , lame kaju (Manihot utilissim. , lame butung (Dioscorea alat. , suli baleng (Xanthosoma s. dan suli ambong (Colocasia esculent. Dioscorea alata mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti dioscorin dan diosgenin yang berguna untuk kesehatan (Prasetya et Bahan pangan tambahan berupa sayur yang digunakan masyarakat suku Bentong terdiri atas 34 spesies tumbuhan. Bagian yang dimanfaatkan sebagai sayur berupa daun, pucuk batang, pelepah, bunga, dan Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sayur adalah AoboAoleAo (Luffa aegyptiac. Bagian tumbuhan AoboAoleAo yang dimanfaatkan sebagai sayur berupa bunga, buah, dan daun. Selain AoboAoleAo, beberapa tumbuhan lain yang dimanfaatkan sebagai sayur adalah AopanasaAo (Amomum s. (Gambar . AolimpujangAo (Zingiber zerumbe. AokacundaAo (Canna indic. dan aren (Arenga pinnat. Salah satu masakan khas Suku Bentong adalah gangang pongko (Gambar . yang bahan dasarnya berupa pucuk batang aren. Gangang pongko merupakan sayur dari batang muda aren yang dimasak dengan santan dan kelapa sangrai yang ditumbuk. Gambar 2 Kenrang (Ficus racemos. Gambar 3 Panasa (Amomum s. Gambar 4 Gangang pongko (Sayur pucuk batang are. Media Konservasi Vol. 24 No. 3 Desember 2019: 278-286 Tumbuhan liar yang dimanfaatkan sebagai buah yaitu AolamantiAo (Lantana camar. AobincoroAo (Melastoma malabathricu. , dan AobangkunengAo (Passiflora foetid. (Lampiran . Kebiasaan mengonsumsi buah tumbuhan liar dimulai sejak masih anak-anak dan terbawa hingga Selain ketiga tumbuhan tersebut, masyarakat juga sering mengonsumsi buah sattuluAo (Sandoricum koetjap. dan lobe-lobe (Flacourtia inermi. yang tumbuh meliar ketika beraktivitas di sekitar hutan. Masa menetap Pada awal hidup menetap sekitar tiga puluh tahun yang lalu, masyarakat Bentong tinggal di Desa BuloBulo dengan kondisi hidup kekurangan bahan makanan Walaupun telah mengetahui cara menanam padi, beras masih jarang ditemui dan hanya ada pada kegiatankegiatan besar masyarakat seperti acara pernikahan. Hal ini terjadi karena masyarakat mendapat banyak kendala pada masa awal menanam padi seperti padi yang kering, padi yang tidak mau tumbuh serta serangan hama tikus dan babi. Pada masa itu, masyarakat masih menggunakan jagung pulut sebagai bahan pangan pokok. Mereka menanam jagung tersebut di lahan bekas Daerah bekas hutan yang ditanami jagung merupakan daerah yang cukup tandus sehingga mereka mulai menanam jagung hanya pada saat memasuki musim penghujan. Teknik menanam yang digunakan adalah dengan membuat sebuah lubang kecil menggunakan tongkat kayu kemudian memasukkan tiga biji jagung ke dalamnya lalu lubang tersebut ditutup dengan tanah menggunakan kaki. Cara tersebut diwariskan secara turun temurun dan masih dilakukan hingga sekarang. Sekitar tahun 1980-an, beberapa orang dari desa lain datang ke Desa Bulo-Bulo dan mengajari masyarakat memanfaatkan lereng gunung sebagai lahan Setelah mengetahui cara membuat sawah di lereng gunung, mereka mulai menanam padi. Mereka membuat lahan pertanian berupa sawah dengan terasering untuk memanfaatkan daerah tebing Masyarakat menggunakan sistem pertanian tadah hujan untuk menyiasati kondisi curah hujan di daerah tersebut. Enam dari tujuh dusun yang didiami hanya menanam padi di saat musim penghujan sehingga mereka hanya dapat panen sekali dalam setahun yaitu pada akhir musim penghujan antara bulan April dan Mei. Namun, ada satu dusun yang masyarakatnya dapat menanam padi pada musim hujan dan musim kemarau yaitu Dusun Panggalungan. Dusun ini memiliki sungai yang alirannya cukup deras walau di musim kemarau sehingga dapat digunakan untuk irigasi lahan pertanian. Mereka menyebut padi yang ditanam di musim kemarau dengan sebutan Aopare timoAo yang berasal dari kata AopareAo yang berarti padi dan AotimoAo yang artinya kemarau sedangkan padi yang ditanam di musim hujan disebut Aopare bareAo yang berasal dari kata AopareAo yang berarti padi dan AobareAo yang artinya penghujan. Masyarakat Suku Bentong memiliki seorang pemimpin dalam hal menanam padi. Pemimpin itu disebut AopenatiAo. Masyarakat biasa tidak boleh menanam padi sebelum AopenatiAo menanam padi. Hal itu telah menjadi kesepakatan bersama masyarakat Suku Bentong. Penentuan jadwal AopenatiAo mulai menanam padi dimusyawarahkan bersama seluruh tokoh adat dan tokoh masyarakat melalui kegiatan Aorapat appaliliAo yang wajib dilaksanakan sebelum memasuki musim penghujan. Satu hari sebelum hari yang telah ditentukan untuk menanam padi. AopenatiAo telah mempersiapkan benih yang akan ditanam pertama kali yang disebut AoindoAo pareAo. AoIndoAo pareAo ditempatkan pada wadah bakul yang terbuat dari anyaman daun AotenroAo(Pandanus tectoriu. Teknik menanam padi yang digunakan masyarakat Bentong adalah AoangngampoAo atau menebar benih, bukan dengan cara dibenamkan ke dalam tanah. Walaupun Dinas Pertanian Kabupaten Barru telah menginstruksikan benih padi dibenamkan agar batangnya kuat dan tumbuh lebih baik, masyarakat menganggap hasil panen mereka lebih melimpah saat menggunakan cara menebar benih. Pada masa sekarang, masyarakat Bentong telah mengetahui solusi untuk menghadapi kendala-kendala dalam menumbuhkan padi sehingga masyarakat tidak lagi kekurangan beras. Hasil panen padi disimpan dalam bentuk gabah pada karung-karung besar kemudian disimpan di atap rumah. Padi yang disimpan dalam bentuk gabah dapat bertahan lama hingga satu tahun. Selain untuk konsumsi sendiri, masyarakat Bentong juga menjual hasil panen beras ke desa dan kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Bone dan Pangkep. Hasil panen yang melimpah setiap tahunnya membuat Pemerintah Kabupaten Barru membangun Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) di Desa Bulo-Bulo dan memasukkan Desa Bulo-Bulo ke dalam kategori Desa Mandiri Pangan Nilai Penting Significanc. Budaya (Index Cultural Nilai penting budaya berguna untuk menentukan tingkat kepentingan suatu tumbuhan dalam masyarakat. Nilai tersebut dihitung berdasarkan kegunaan tumbuhan, kesukaan dan frekuensi penggunaan tumbuhan dalam Pada masyarakat Suku Bentong, tumbuhan yang memiliki nilai indeks kepentingan budaya paling tinggi adalah padi yaitu 100 (Tabel . Padi merupakan tumbuhan yang paling disukai dan sering digunakan masyarakat karena padi berguna bagi masyarakat Suku Bentong dalam berbagai bidang pemanfaatan. Padi tidak hanya digunakan sebagai bahan makanan pokok, tetapi juga berguna dalam ritual adat, berperan dalam mitos dan bahan kosmetik alami. Muraqmi et al. menyatakan bahwa padi memiliki nilai indeks kepentingan budaya tertinggi pada masyarakat Suku Bugis di Kabupaten Toli-Toli. Sulawesi Tengah. Tumbuhan lontar memiliki nilai ICS tertinggi kedua yaitu 83 karena memiliki nilai penting dalam masyarakat sebagai bahan buah-buahan, minuman, bahan ritual dan berperan pada mitos dan sejarah. Buah lontar sering dikonsumsi sebagai buah segar sedangkan nira nya dikonsumsi pada saat kegiatan-kegiatan besar masyarakat Bentong. Selain itu, daun tumbuhan lontar digunakan untuk menuliskan huruf-huruf bahasa Bugis. Makassar dan Bentong sehingga disebut aksara lontaraAo. Kajian Etnobotani Tumbuhan Pangan Tabel 4 Spesies tumbuhan dengan ICS tertinggi Nama lokal Nama ilmiah Padi Oryza sativa Lontar Borassus flabelliver Pisang Musa paradisiaca Kelapa Cocos nucifera Aren Arenga pinnata Pisang berada pada posisi nilai ICS tertinggi ketiga yaitu 78 karena daun, pelepah, bunga dan buah dapat digunakan memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Daun pisang adalah daun yang paling sering digunakan dan paling disukai untuk digunakan sebagai pembungkus makanan oleh masyarakat Bentong. Buah pisang dikonsumsi sebagai buah-buahan serta kadang diolah menjadi jajanan berupa pisang goreng dan pisang geprek atau Aounti peppeAo. Selain itu, bunga dan buah pisang dapat diolah sebagai sayuran sedangkan pelepah pisang sering digunakan saat ritual kematian. SIMPULAN Masyarakat Suku Bentong menggunakan 70 spesies tumbuhan sebagai bahan pangan yang terdiri atas 12 spesies tumbuhan sebagai sumber karbohidrat, tumbuhan sebagai sayuran 34 spesies, buah-buahan 33 spesies dan sebagai minuman lima spesies. Pada masa nomaden, masyarakat Bentong memanfaatkan tumbuhan sebagai pangan secara bergiliran sesuai spesies yang dijumpai atau tersedia di alam. Pada masa sekarang, masyarakat Bentong telah mengetahui solusi untuk menghadapi kendala-kendala khususnya padi sehingga masyarakat tidak kekurangan beras lagi. Tumbuhan yang memiliki indeks kepentingan budaya tertinggi adalah padi yaitu 100. Padi merupakan tumbuhan yang paling disukai dan sering digunakan masyarakat karena padi berguna bagi masyarakat Suku Bentong dalam berbagai bidang pemanfaatan. Padi tidak hanya digunakan sebagai bahan makanan pokok, tetapi juga berguna dalam ritual adat, berperan dalam mitos dan bahan kosmetik alami. DAFTAR PUSTAKA