Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 IDENTITAS DAN RELASI GENDER JURNALIS PEREMPUAN (Studi Jurnalis Perempuan Bergabung di Forum Jurnalis Perempuan Indonesia dan Bekerja di Media Cetak dan Elektronik di Meda. Lia Anggia Nasution Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Departeman Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Email: sagia_nastirus@yahoo. Abstrak Jurnalis sebagai agen perubahan seharusnya mampu menjadi pioneer untuk mengikis ketimpangan gender yang selama ini secara sadar maupun tidak sadar disosialisasikan oleh industri media cetak dan Namun, kenyataannya jurnalis perempuan malah mengalami ketidakadilan gender mulai dari pembatasan jenjang karir, anggapan perempuan lebih lemah, tuntutan beban ganda bagi jurnalis perempuan yang sudah menikah sehingga tidak banyak perempuan yang mampu menduduki posisi penting di media, bahkan masih rentannya jurnalis perempuan mengalami kasus kekerasan. Penelitian ini menggambarkan identitas jurnalis perempuan dan realitas diskriminasi gender dalam pola relasi di industri media. Penelitian ini dianalisis dengan sudut pandang jurnalis perempuan di Medan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dari tiga level manajemen yakni top level management, middle level management dan lower level management dengan jumlah informan sebanyak 18 orang yang terpilih melalui teknik penarikan sample purposive sampling. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif dengan mengambil studi kasus tunggal dengan multi level analysis terhadap jurnalis perempuan yang bergabung di FJPI dan bekerja di media selama 10 tahun. Analisis data penelitian menggunakan model Miles dan Huberman dengan metode data reduction, data display, dan clonclusion drawing/veryfication. Hasil temuan dalam penelitian ini, secara umum jurnalis perempuan masih mengalami ketidakadilan gender. Meski kuantitas jurnalis perempuan terus meningkat, tapi masih sulit untuk melakukan perubahan terhadap ketidakseimbangan gender. Budaya patriarki yang mengakar sangat kuat mempengaruhi realitas diskiriminasi gender yang dialami jurnalis perempuan. Kata kunci: Identitas, relasi gender, jurnalis perempuan. FJPI . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 Abstract This articel titled AoIdentity and Relationship Gender of Women Journalist (The case study of women journalist who joined Indonesia Women Journalist Forum (FJPI) who work in the print and electronic media field. Journalist as change agents should be able to be the pioneer to erode gender inequality that has been booth, consciously and unconsciously, socialized by the print and electronic media industry. However, in reality, even experienced female journalists are facing gender inequlity. This occurrence happens due to the strong act of domination of men over women which are implemented with paternalistic values. This study illustrates the identifications of women journalists and the reality of gender discrimination in the pattern of relations in media industry. It analyzes the point of views of women journalist from the three levels of management : the top level management, the middle level management and the lower level management and how women journalist experience gender inequality ranging from marginalization, subordination, stereotyping, violence, and the double roles that women take in society. The study use qualitative methods by taking a single case study with multy level analisys of the female journalist who join in FJPI and have been working in the media. Informants of this study are female journalist who have joined FJPI and have experience ten years of working in the media industry. Research data analysis is conducted by using Miles and Huberman models with data reduction method, data displays and conclusion drawing/verification. The findings in this study show result that in general women journalist are still experiencing gender inequality treatment. Despite the ever-increasing quantity of women journalist, it is still difficult to make changes to the gender A well-established patriarchal culture has resulted reality in gender discrimination that are experienced by women not only for journalist who are at the lower level of management but are also experienced by female journalist who are at the top level of media management. Keywords: identity, gender relations, women journalist Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 PENDAHULUAN Sekitar dua puluh tahun yang lalu, profesi atau dunia jurnalistik dapat dikatakan merupakan ranahnya kaum laki-laki . xclusively male professio. Kalau pun ada jurnalis perempuan yang bekerja, di masa itu dinilai merupakan satu pengecualian. Secara umum masyarakat masih memandang sebaiknya perempuan tidak masuk ke dunia jurnalis yang erat kaitannya dengan dunia maskulin. Kondisi ini muncul karena bekerja di media menuntut waktu 24 jam untuk selalu siaga terhadap segala peristiwa yang terjadi. Oleh karena itulah, media juga kerap disebut sebagai male dominated route yakni sebuah jalan yang memang itu miliknya lelaki. Maka, jurnalis itu selalu diandaikan laki-laki, karena media itu memang dunia laki-laki. Sejarah menunjukkan bahwa perempuan mewarnai dunia jurnalistik di Indonesia terutama di Sumut. Begitu pun tetap saja masyarakat masih menganggap kalau dunia jurnalistik merupakan dunianya laki-laki. Barulah, dewasa ini semakin banyak perempuan yang bekerja sebagai jurnalis. Bahkan, di beberapa negara seperti di wilayah Eropa bagian timur dan tengah misalnya, kalangan perempuan justru mayoritas di dalam dunia jurnalistik. (Jurnal Perempuan,28. Slavo Splichal dan Colin Sparks dalam tulisannya. Journalist for the 21st Century . , berdasarkan penelitiannya di 26 negara, memperlihatkan bahwa ada beberapa negara yakni Amerika Serikat. Bulgaria, dan Meksiko di mana persentase perempuan yang belajar jurnalistik di perguruan tinggi mencapai 70 %. Sementara itu, persentase rata-rata di banyak negara, berkisar 40 % dari seluruh perempuan yang belajar jurnalistik (Jurnal Perempuan, 28 :. RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 Berdasarkan catatan PWI tahun 1998. Debra Yatim menuliskan, terungkap bahwa ada sekitar 4. 687 jurnalis laki-laki dan hanya 461 Kecenderungan ini rasa-rasanya tidak jauh berubah dewasa ini, meskipun untuk tingkat internasional (Asia-PasifikAmerika-Afrika AeErop. , konon katanya perempuan mewakili sekitar 40 % dari seluruh jurnalis. Ini kita belum bicara mengenai banyaknya laki-laki yang duduk di jajaran staf redaksi, pimpinan redaksi dan redaksi pelaksana, atau bahkan sebagai pemilik media yang jumlahnya sudah dapat dipastikan akan jauh melampaui jumlah perempuan yang sebetulnya juga mempunyai kesempatan yang sama untuk duduk di jajaran tersebut. Tentunya, data ini akan semakin bertambah timpang jika kita memasukkan laki-laki yang lebih banyak duduk dalam posisi pengambilan keputusan, baik sebagai editor, kepala departemen, maupun pemilik media. Melihat realitas jurnalis di Medan memang terdapat beberapa organisasi jurnalis, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut, berdasarkan data wawancara dari Sekretaris PWI Sumut. Edward Thahir, jumlah anggota biasa sebanyak 573 orang, dan anggota muda sebanyak 120 orang. Dari 693 orang total jumlah anggota PWI Sumut, perempuan hanya 50 orang. Jumlah perempuan yang bergabung dalam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Medan, berdasarkan data wawancara dengan Ketua AJI Medan. Monang Hasibuan, jumlah keseluruhan anggota sebanyak 84 orang dan perempuan sebanyak 20 orang. Begitu juga dengan minimnya jurnalis perempuan yang bergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Berdasarkan wawancara dengan Sekretaris Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumut. Budi Satrya, dari Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 keseluruhan jumlah anggota sebanyak 170 orang, perempuan hanya sebanyak 8 orang. Minimnya jumlah jurnalis perempuan di Medan, menjadi alasan dari sejumlah jurnalis perempuan di Medan membentuk Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI). Forum yang lahir tanggal 22 Desember 2007 ini terdiri dari jurnalis perempuan yang bekerja di industri media baik cetak dan elektronik. Saat ini jumlah anggota FJPI sudah mencapai 52 orang. Tetapi tak seorang pun di antaranya yang merupakan pemilik dari suatu media. Untuk posisi strategis yang dapat mengambil keputusan seperti kepala redaksi, redaktur dan lainnya masih kurang dari 5 persen. Gambaran kondisi representasi perempuan yang bekerja di industri media ini memang tidak terlepas dari budaya patriarki yang membentuk ketidakadilan gender. Gender merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dipandang dari segi sosial budaya. Gender dibentuk oleh masyarakat dan bukan bersifat kodrati. Berbeda dengan seks yang tidak bisa dipertukarkan karena merupakan kodrat Tuhan. Secara struktur biologis, manusia terdiri dari lakilaki dan perempuan, di mana masing-masing memiliki alat dan fungsi biologis yang melekat serta tidak dapat dipertukarkan, laki-laki memiliki penis, jakun, memproduksi sperma dan sebagainya. Perempuan memiliki organ ovarium, menyusui dan melahirkan. memproduksi sel telur, . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 Sedangkan konsep gender, adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural. Kondisi inilah yang memunculkan ketidakadilan gender dalam bentuk streotype antara laki-laki dan perempuan, misalnya perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional jantan dan perkasa. Marginalisasi, di mana perempuan selalu menjadi sosok yang dipinggirkan. Subordinasi, perempuan selalu menjadi makhluk nomor dua setelah laki-laki, munculnya beban ganda bagi perempuan selain harus bekerja di sektor public, perempuan juga harus bekerja di sektor domestik. Belum lagi, perempuan tetap saja selalu menjadi objek pelaku kekerasan (Fakih, 1996:8-. Tak bisa dipungkiri, budaya patriarki yang masih mengakar tentunya akan membentuk kultur di perusahaan media menjadi male Meskipun persoalan perempuan dan media telah menjadi satu dari 12 isu kritis dalam Beijing Platform for Action sejak tahun 1995. Kesadaran tentang media ini berangkat dari konsep bahwa media dapat memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pemberdayaan dan kemajuan perempuan. Namun, hingga saat ini kenyataan memaparkan bahwa perempuan tetaplah marjinal dalam media. Marjinalisasi perempuan ini mencakup berbagai aspek seperti akses yang terbatas pada media, keterlibatan perempuan dalam media baik penggambaran perempuan oleh media. Batasan masalah sangat diperlukan dalam penelitian ini agar tidak terjadi pembiasan dalam penelitian. Peneliti mengamati bagaimana jurnalis yang bergabung di FJPI dan bekerja di media Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 cetak dan elektronik serta mengamati dampak ketidakadilan gender melalui sudut pandang jurnalis perempuan yang bekerja di media cetak dan elektronik di Medan. Untuk itu batasan masalah adalah: . Bagaimana identitas jurnalis perempuan yang bergabung di FJPI dan bekerja di industri media cetak dan elektronik di Medan? . Bagaimana realitas dikskriminasi gender dalam pola relasi di industri media cetak dan elektronik di Medan? dan . Bagaimana upaya-upaya perempuan yang dilakukan dalam mengatasi realitas diskriminasi gender yang terjadi di industri media cetak dan elektronik di Medan? METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif dengan mengambil studi kasus tinjauan sudut pandang dan analisis gender untuk mengetahui identitas jurnalis perempuan serta realitas relasi gender jurnalis perempuan yang bekerja di perusahaan media di kota Medan. Dalam penelitian ini informan penelitian ditentukan dari kriteria yang merupakan anggota Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan sudah bekerja selama 10 tahun di Penelitian ini menggunakan studi kasus tunggal dengan multi level analysis. Penekanannya pada penggunaan indepth interview dan observasi untuk menyoroti perilaku individu dalam hal ini jurnalis perempuan dan kelompok individu (Forum Jurnalis Perempuan Indonesi. dengan berbagai tingkat masalah penting. Penelitian ini untuk menjaring informasi- informasi empiris yang detail dan aktual dari unit analisis penelitian. Penelitian ini dilakukan di kota Medan. Sumatera Utara. Terpilihnya lokasi penelitian ini dikarenakan daerah Medan memiliki . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 kumpulan jurnalis perempuan yakni Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) yang berpusat di Sumatera Utara, memiliki anggota 52 orang yang bekerja di berbagai perusahaan media baik cetak dan elektronik dan sudah memiliki cabang di Banda Aceh yakni FJPI Banda Aceh. Dalam penelitian ini, jumlah informan sebanyak 18 orang yang merupakan jurnalis perempuan dari media cetak dan elektronik di Medan dan tergabung dalam Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI). Subjek dari penelitian ini disebut key informan yakni jurnalis perempuan yang bergabung di FJPI dan sudah bekerja 10 tahun di perusahaan media baik cetak dan elektronik di Medan dengan berbagai posisi jabatan. Peneliti sendiri juga ikut berpartisipasi tetapi bukan sebagai key informan melainkan hanya sebagai observer. Penelitian ini menggunakan analisis data di lapangan model Miles dan Huberman. Analisis data pada penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel. Penelitian kualitatif merupakan upaya yang mendalam dan memakan waktu berhubungan dengan lapangan dan situasi nyata. Aturan penelitian adalah untuk memperoleh hasil holistic . , lengkap, terpadu meliputi keseluruhan segi yang dikaji. Peneliti berusaha menangkap data dari pelaku dan melakukan proses yang Tugas utama adalah menjelaskan cara masyarakat agar Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 dimengerti, dihitung dan melakukan tindakan pada situasi sehari-hari. Relatif sedikit instrument terstandarisasi, peneliti merupakan salah satu alat pengukur. Sebagian besar analisis berbentuk kata yagn dapat dibandingkan, dipertentangkan dan dianalisis. (Miles & Huberman dalam Sabarguna, 2008: . HASIL PENELITIAN Jurnalis perempuan yang bergabung di FJPI dan sudah bekerja di media cetak dan elektronik selama 10 tahun menjadi informan dalam penelitian ini, keseluruhan informan berjumlah 18 orang. Informan berusia dari 28 tahun hingga 53 tahun, pendidikan informan sebanyak 13 orang adalah sarjana, sementara ada 3 orang informan berpendidikan S2, dan satu orang berpendidikan D3 dan satu orang berpendidikan D1. Dalam penelitian ini, informan lebih banyak yang belum menikah yakni sembilan orang, informan yang sudah menikah ada enam orang. Selain itu ada tiga orang informan yang berstatusd Dari 18 informan masing-masing terbanyak bekerja menjadi jurnalis televisi ada sembilan orang, jurnalis media cetak sebanyak lima orang dan jurnalis radio sebanyak empat orang, di antara informan ada lima orang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di stasiun pemberitaan pemerintah. Jabatan jurnalis juga ditemukan beragam, jurnalis yang duduk pada level lower management, seperti staf pemberitaan, reporter, kontributor ada sebanyak tujuh Untuk level middle management seperti Asisten Produksi. Program Director, humas, redaktur juga pengarah acara ada sebanyak tujuh orang. Selain itu, juga ada informan yang menduduki top level . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 management, seperti Pemred. Kabiro, juga Manager Umum dan SDM sebanyak empat orang. Jika dilihat dari jumlah banyaknya informan yang berada di level lower dan middle level management, maka kuantitas dari informan yang menduduki level top management ini lebih sedikit dibandingkan dua level management lainnya. Latar belakang keluarga informan juga beragam, ada yang berasal dari keluarga yang sagat demokratis, tidak membedakan antara anak laki-laki dan perempuan, ada juga yang membedakan, dan terdapat juga latar belakang keluarga informan yang didominasi peran ibu . ystem matrinia. karena berlatarkan suku Minang. Alasan menjadi jurnalis dari 18 informan ini juga sangat beragam, namun lebih banyak atas kemauan sendiri seperti karena senang menulis, hobby, cita-cita, suka berpetualang, karena suka berbicara hingga menjadi jurnalis karena ingin jalan-jalan gratis ke luar negeri. Begitupun, ada juga informan yang menjadi jurnalis karena terpaksa, tidak sengaja dan ada yang karena berlatar pendidikan jurnalis. Begitu juga dengan alasan memilih media, ratarata informan merupakan kemauan sendiri karena menyadari professional sehingga diyakini dapat menjamin kesejahteraan dari segi upah dan prestise seperti bekerja di media yang memiliki nama. samping itu ada juga informan yang memilih media karena tidak lolos pekerjaan lain, karena lingkungan, iseng hingga ada yang karena ditawari pekerjaan. Ada sebagian jurnalis yang menilai beberapa perusahaan media cukup responsif gender, namun ada juga yang menilai perusahaan media masih membatasi jenjang karir bagi Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 perempuan, sehingga ditemukan tidak banyak jurnalis perempuan yang menduduki posisi penting di dalam perusahaan media. Dari penelitian juga ditemukan ada jurnalis yang masih nyaman bekerja, namun di antaranya ada juga yang sudah mulai jenuh karena tidak nyaman dengan jam deadline, juga karena jam kerja yang tak mengenal waktu yakni 24 jam sehingga terkadang memberatkan bagi jurnalis perempuan yang sudah menikah. Ditemukan juga jurnalis perempuan yang memandang kalau salary tidak pernah bertambah dan pekerjaan jurnalis sudah kurang aman bagi keselamatan diri. Selama menjadi jurnalis, informan mengalami kelebihan dan kendala. Kelebihan seperti mudah dipercaya, komunikasi luwes, mudah menembus narasumber, mudah meliput di daerah konflik karena tidak ada kepentingan. Di sisi lain, banyak juga kendala yang dihadapi seperti pandangan rendah dan dinilai tidak sanggup melakukan liputan yang penuh tantangan, gejala pra menstrual yang cukup mengganggu serta keselamatan diri karena kerap pulang malam dan pandangan negatif dari masyarakat terhadap jurnalis perempuan yang pulang kerja larut malam. Dari gambaran realitas diskriminasi gender dan pola relasi di mengalami ketidakadilan gender, seperti meskipun sudah melakukan beban kerja sebagai produser namun status tetap asisten, dalam struktur jabatan perempuan masih dinilai tidak mendapat porsi yang mumpuni, adanya ketidakjelasan status dari kontributor menjadi wartawan kontrak, sulitnya mendapatkan hak cuti, penghambatan jenjang karir karena dianggap perempuan lemah lembut hingga ditemukannya peningkatan jenjang karir yang menggunakan faktor x . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 yaitu KKN. Rata-rata informan memang tidak mengalami pembedaan desk liputan karena tanggung jawabnya sama, namun ada informan yang mengalami pembedaan jam kerja dimana jurnalis laki-laki lebih diutamakan untuk jam kerja malam hari juga diutamakan untuk live. Selain itu, ada perbedaan pandangan dari tiga informan terkait pembedaan asuransi di antara jurnalis perempuan dan laki-laki. seorang informan menilai kalau pembedaan asuransi dengan tidak tercovernya asuransi suami dan anak bagi istri yang bekerja dipandang sebagai aturan perusahaan secara umum yakni. Dua informan lainnya menilai itu merupakan satu diskriminasi dan ketidakadilan, begitu juga ada informan yang mengalami pembedaan Tunjangan Hari Raya (THR) yang lebih sedikit dibandingkan THR yang diterima oleh jurnalis laki-laki. Dalam penelitian juga ditemukan bahwa jurnalis perempuan masih rentan menjadi objek kekerasan dan pelecehan, kedua hal ini hampir rata dialami informan baik dari top level management hingga lower level management, mulai dari dinilai lemah untuk melakukan liputan yang penuh tantangan, dinomorduakan kalau mau bertanya dengan narasumber, diajak tidur oleh rekan sekerja, dicolek, bicara vulgar, dipegang pantatnya, disengaja mengenai bagian tubuh yang sensitif, bersalaman sambil menggaruk tangan informan dengan jari, hingga nomor telepon rumah disadap hanya karena naasumber memiliki perasaan suka. Berbagai tindakan kekerasan juga rentan dialami informan mulai dari disikut oleh Paspampres, dilempar keluarga bandar pengedar sabu, diancam karena pemberitaan, perampasan catatan dan perampasan kamera, pernah mau ditembak hingga mengalami penyanderaan oleh sejumlah preman. Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 Berbagai upaya dilakukan informan untuk meminimalisir realitas gender di dalam perusahaan media, mulai dari berupaya membicarakannya kepada atasan atau paling tidak bertanya meskipun sudah berulangkali diupayakan tidak juga mendapat jawaban atau jawaban yang diterima hanya pernyaataan klise. Termasuk juga mengajukan diri kepada atasan kalau memang menilai memiliki kemampuan untuk dipromosikan ke jenjang karir yang lebih tinggi. Namun, membicarakan ketidakadilan, alasannya karena ingin menunjukkan kinerja lebih dahulu baru menuntut hak hingga menilai tidak ada gunanya mengkritisi karena system kerja di seluruh Indonesia terutama di perusahaan plat merah, jika mau melakukan peningkatan jenjang karir harus menggunakan faktor x yakni KKN. Jika upaya berulangkali hanya dijawab secara klise maka ada informan yang memilih untuk resign dan berupaya mencari perusahaan media yang lebih responsif gender. Dalam penelitian ini ditemukan informan yang mengalami pelecehan lebih banyak memilih diam karena si pelaku mabuk, ataupun karena tidak ada saksi sehingga sulit untuk melaporkannya kepada aparat yang berwenang. Bahkan, banyak saran agar jurnalis menggunakan jaket dan topi, hingga menjaga sikap. Namun ada juga informan yang bertindak secara langsung, seperti menunjukkan sikap tidak suka dilecehkan hingga melaporkan kepada atasan dan aparat kepolisian dan dewan pers ataupun Komnas Perempuan. Begitu juga untuk tindakan kekerasan yang dialami, informan banyak yang . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 pimpinan media, organisasi pers hingga kepada aparat, meskipun informan yang mengalami tindak kekerasan belum ada yang melaporkannya ke aparat kepolisian, masih sebatas melaporkannya kepada pimpinan media, ada juga informan yang ketika mengalami kekerasan belum tahu mau melapor ke mana. Berorganisasi bagi sebagian informan dipandang cukup penting untuk mendapatkan bantuan dan perlindungan hukum jika suatu saat mengalami masalah mulai dari kekerasan, pelecehan hingga mungkin saja Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak. Dengan bergabung di suatu organisasi, maka informan menilai akan Disamping berorganisasi juga memiliki manfaat lain seperti saling bertukar pengalaman, ajang bersilaturahmi, menambah akses narasumber, hingga dapat mengubah pandangan informan sehingga lebih responsif gender. Manfaat masuk organisasi juga sangat beragam dirasakan informan, seperti dapat menambah wawasan dan ilmu, bisa beriteraksi dengan masyarakat dan lingkungan melalui kegiatan sosial, menambah jejaring baru, saling mengenal dan bersilaturahmi hingga paling tidak dapat menghilangkan lelah bekerja bila bertemu dengan sesama anggota. PEMBAHASAN Budaya patriarki yang masih mengakar membentuk kultur di perusahaan media menjadi male dominated. Meskipun persoalan perempuan dan media telah menjadi satu dari 12 isu kritis dalam Beijing Platform for Action sejak tahun 1995, namun harapan munculnya media yang responsif gender masih terus diperjuangkan. Padahal. Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 media diyakini dapat memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pemberdayaan dan kemajuan perempuan. Namun, hingga saat ini kenyataan memaparkan bahwa perempuan tetaplah marjinal dalam Marjinalisasi perempuan ini mencakup berbagai aspek mulai dari akses yang terbatas pada media, keterlibatan perempuan dalam media baik sebagai pekerja maupun pengambil keputusan, dan penggambaran perempuan oleh media. Dalam marjinalisasi keterlibatan perempuan dalam media baik sebagai pekerja maupun pengambil keputusan. Dari 18 informan jurnalis perempuan yang bergabung di FJPI dan bekerja di media cetak dan Medan, keterbatasan jenjang karir, pembedaan di antara karyawan laki-laki dan perempuan dalam perusahaan media, hingga fakta bahwa jurnalis perempuan masih rentan menjadi objek pelecehan dan kekerasan. Peneliti juga merangkum identitas jurnalis perempuan yang bekerja di media yang tentunya tidak terlepas dari latar belakang dirinya juga latar belakang keluarganya. Dimana untuk menentukan pendidikan, jurnalis perempuan juga masih ada yang tergantung dengan pilihan Padahal pendidikan merupakan satu identitas informan. Michael Hecht dan koleganya, menyatakan identitas merupakan penghubung utama antara individu dan masyarakat serta komunikasi merupakan mata rantai yang memperbolehkan hubungan ini terjadi. Tentu, identitas anda adalah kode yang mendefenisikan keanggotan anda dalam komunitas yang beragam-kode yang terdiri dari symbolsimbol seperti bentuk pakaian dan kepemilikan, kata-kata, seperti . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 deskripsi diri atau benda yang biasanya anda katakan-dan makna yang anda dan orang lain hubungkan terhadap benda-benda tersebut. ittlejhon,2009. Minimnya kuantitas jurnalis perempuan yang menduduki level top managemen di industry media ini masih relevan dengan pernyataan Elli Kotzamani dalam Jurnal The Gender & Media Handbook, bahwa jurnalisme dianggap sebagai profesi tunggal laki-laki. Pada tahun 1972. Federal Bureau of Labour di Jerman yang diterbitkan dalam sebuah selebaran kritis menyatakan : Perempuan tidak memiliki keterampilan investigasi dan analisis yang diperlukan untuk jurnalis. Dalam teori gender. Caplan . dalam The Cultural Construction of Sexuality yang menegaskan bahwa perbedaan perilaku antara laki-laki dan prempuan selain biologis, sebagian justru terbentuk melalui proses budaya dan sosial. Oleh karena itu, watak sosial dan budaya selalu mengalami perubahan dalam sejarah, gender juga berubah dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat Sementara, jenis kelamin sebagai kodrat Tuhan tidak (Muawanah,2006:. Konstruksi ketidakadilan gender yang merupakan ketimpangan yang terjadi sehingga mengakibatkan salah satu gender mengalami diskriminasi, ketimpangan ini adalah marginalisasi, ditempatkan sebagai orang yang tidak memiliki peran penting. Subordinasi, yakni sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting muncul dari anggapan bahwa perempuan itu emosional atau irasional sehingga tidak bisa tampil memimpin. Stereotip yakni pelebelan negative Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 terhadap kelompok atau jenis kelamin tertentu, kekerasan atau serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang yang dilakukan terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan sebagai akibat dari perbedaan gender. Kelima beban Peran gender dalam anggapan masyarakat luas, adalah menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama dibanding kaum laki-laki. (Makarao,2009:. Ketimpangan inilah yang mencerminkan kalau lebih banyak informan yang merasa tidak nyaman menjadi jurnalis dan berpikir untuk beralih profesi, dari 18 informan sebanyak 9 orang merasa tidak nyaman, jenuh dan ingin mengembangkan diri ke bidang lain, dan sebanyak 8 orang yang bertahan menjadi jurnalis. Berbagai upaya dilakuan informan untuk meminimalisir realitas gender di dalam perusahaan media, mulai dari berupaya membicarakannya kepada atasan atau paling tidak bertanya meskipun sudah berulangkali diupayakan tidak juga mendapat jawaban atau jawaban yang diterima hanya pernyaataan klise. Termasuk juga mengajukan diri kepada atasan kalau memang menilai memiliki kemampuan untuk dipromosikan ke jenjang karir yang lebih tinggi. Namun, membicarakan ketidakadilan, alasannya karena ingin menunjukkan kinerja lebih dahulu baru menuntut hak hingga menilai tidak ada gunanya mengkritisi karena system kerja di seluruh Indonesia terutama di perusahaan plat merah, jika mau melakukan peningkatan jenjang karir harus menggunakan faktor x yakni KKN. Jika upaya . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 berulangkali hanya dijawab secara klise maka ada informan yang memilih untuk resign dan berupaya mencari perusahaan media yang lebih responsif gender. Dalam penelitian ini ditemukan informan yang mengalami pelecehan lebih banyak memilih diam karena si pelaku mabuk, ataupun karena tidak ada saksi sehingga sulit untuk melaporkannya kepada aparat yang berwenang. Bahkan, banyak saran agar jurnalis menggunakan jaket dan topi, hingga menjaga sikap. Namun ada juga informan yang bertindak secara langsung, seperti menunjukkan sikap tidak suka dilecehkan hingga melaporkan kepada atasan dan aparat kepolisian dan dewan pers ataupun Komnas Perempuan. Begitu juga untuk tindakan kekerasan yang dialami, informan banyak yang pimpinan media, organisasi pers hingga kepada aparat, meskipun informan yang mengalami tindak kekerasan belum ada yang melaporkannya ke aparat kepolisian, masih sebatas melaporkannya kepada pimpinan media, ada juga informan yang ketika mengalami kekerasan belum tahu mau melapor ke mana. Berorganisasi bagi sebagian informan dipandang cukup penting untuk mendapatkan bantuan dan perlindungan hukum jika suatu saat mengalami masalah mulai dari kekerasan, pelecehan hingga mungkin saja Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak. Dengan bergabung di suatu organisasi, maka informan menilai akan Disamping berorganisasi juga memiliki manfaat lain seperti saling bertukar pengalaman, ajang bersilaturahmi, menambah akses narasumber. Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 hingga dapat mengubah pandangan informan sehingga lebih responsif gender. Manfaat masuk organisasi juga sangat beragam dirasakan informan, seperti dapat menambah wawasan dan ilmu, bisa beriteraksi dengan masyarakat dan lingkungan melalui kegiatan sosial, menambah jejaring baru, saling mengenal dan bersilaturahmi hingga paling tidak dapat menghilangkan lelah bekerja bila bertemu dengan sesama anggota. Mengingat bahwa banyak perempuan yang berhenti berkarir dari media, hal ini setelah diteliti ditemukan karena adanya sikap berbasis gender negative dan perilaku dalam perusahaan media dan organisasi, termasuk pelecehan seksual di lingkungan kerja untuk bersahabat dengan gender . ender friendl. KESIMPULAN Profesi atau dunia jurnalistik yang sering dikatakan merupakan ranahnya kaum laki-laki . xclusively male professio. , dan kalau pun pengecualian, ternyata saat ini banyak perempuan yang memilih menjadi jurnalis atas kemauannya sendiri. Begitu juga jurnalis perempuan sudah terlihat mulai sadar untuk memilih media yang lebih baik dan professional. Dalam perempuan dan pola relasi jurnalis perempuan yang bekerja sebagai jurnalis di perusahaan media di Medan dalam kajian sudut padang dan analisis gender, di mana masih ditemukannya ketidakadilan gender di perusahaan media berupa marginalisasi, subordinat, stereotype, beban ganda dan kekerasan. ketidakadilan gender ini tidak . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 hanya dialami jurnalis perempuan di lower level management melainkan juga dialami jurnalis perempuan yang berada di top level management. Masih tak bisa dipungkiri dengan budaya patriarki yang masih melekat, ternyata banyak ditemukan diskriminasi gender dalam pola relasi di media, seperti keterbatasan jenjang karir untuk perempuan. Selain itu juga masih rentannya perempuan menjadi objek kekerasan dan pelecehan ketika meliput di lapangan. Beban ganda yang masih menghantui kaum perempuan merupakan salah satu penyebab, banyak jurnalis perempuan di Medan yang mulai merasa tidak nyaman menjadi jurnalis terutama setelah menikah dan ingin beralih profesi dengan pekerjaan yang lebih dapat memberikan waktu luang lebih banyak untuk keluarga. Padahal negara Indonesia telah menerbitkan aturan perburuhan yakni UU No 12 tahun 1948 tentang tenaga kerja yang mengatur syarat dan kondisi kerja, termasuk perlindungan hak buruh perempuan, seperti istirahat haid, keguguran dalam kehamilan, melahirkan menyusui anak dan mengatur kerja malam. Seharusnya, perusahaan media dapat mematuhi aturan hukum yang telah ditetapkan negara sehingga ketimpangan gender dalam konten media dapat terwujud. Identitas dan Relasi Gender Jurnalis Perempuan . P-ISSN: 2527-7359 DAFTAR RUJUKAN Buku Anto. J, 2002. Jurnalisme . Ramah Gender. Kajian Informasi. Pendidikan dan Penerbitan Sumater. Medan Beauvoir. De. Simone. Second Sex. Kehidupan Perempuan, 2003. Pustaka Promothea Burgin. Burhan, 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Kencana Prenada Media Group. Jakarta Denzin. Norman & Lincoln S Yvonna, 2011,Handbook of Qualitative Research . disi ketig. Pustaka Pelajar. Yogyakarta Fakih. Mansour, 2001. Analisa Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar. Yogyakarta Gamman. Lorraine dan Marshment. Margaret, 2010. Tatapan Perempuan. Perempuan sebagai Penonton Budaya Populer. Jalasutra. Yogyakarta Gauntlett. David, 2008,Media. Gender and Identity, an Introduction. Simultaneously published. New York Griffin. EM. A First Look at Communication Theory sixth edition. McGraw-Hill. New York, 2006. Gudykunst. William B, 2003. Communicating with strangers : an to intercultural communication. California University. Fullerton Kriyantono. Rachmat, 2010. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana Prenada Media Group. Jakarta Littlejohn. Stephen W. Foss. Karen A. Encyclopedia of Communication Theory . SAGE Publications. Inc. USA, 2009 ___________. Teori Komunikasi (Theories of Human Communicatio. Edisi Jakarta. Penerbit Salemba Humanika. Makarao. Nurul. Ramadhani, 2009. Gender dalam bidang Kesehatan. Penerbit Alfabeta Bandung Morissan. MA. Psikologi Komunikasi, 2010. Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor Morrisan. MA. Teori Komunikasi Organisasi,2009. Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor Mosse. Cleves Julia. Gender dan Pembangunan. Oktober 1996. Rifka Anisa WomenAos Crisis Center dan Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Muawanah. Elfi dan Hidayah Rifa, 2006. Menuju Kesetaraan Gender. Kutub Minar. Malang Neuman. Lawrence, 1977. Sosial Research Methods. Massachuset. Allyn & Bacon . RECEIVER. Studi Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. No. 01 Januari 2020 Sabarguna. Boy, 2008. Analisis Data pada Penelitian Kualitatif. Jakarta : UI Press Salim. Agus, 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial . disi kedu. Tiara Wacana. Yogyakarta Sunarto. Kamanto, 2004. Pengantar Sosiologi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta Jurnal Yayasan Jurnal Perempuan. Perempuan dan Media, 28, 2003. ISSN : 1410-153 X. Yayasan Jurnal Perempuan. Apa Kabar Media Kita, 67, 2009. ISSN : 1410-153 X. Yayasan Jurnal Perempuan. Menyoal Buruh Mengapa Mereka Dieksploitasi?, 56, 2007. ISSN : 1410-153 X. Yayasan Jurnal Perempuan. Pendidikan. Media dan Gender, 61, 2008. ISSN : 1410-153 X. Sarkar Sumita Media & Women Image : A Feminist Discourse. Jurnal Strategic Communication in a new Media Culture. Fikom Up Conference 2012. The Faculty of Communication. Universitas Pancasila. Juni, 2012 Sunarto, 2010. Streotype Peran Gender Wanita dalam Program Televisi Anak. Jurnal Ilmu Komunikasi. Jurusan Komunikasi FISIP UPN AoVeteranAo Yogyakarta, volume 8. Nomor 3, 2010. ISSN 16933029 Rachmawati, 2010. Bias Gender dalam Iklan Attack Easy. Jurnal Ilmu Komunikasi. Jurusan Komunikasi FISIP UPN AoVeteranAo Yogyakarta, volume 8. Nomor 3, 2010. ISSN 1693-3029 E-Literature Gender and Media Handbook. The Promoting Equality. Diversity and Empowerment, 2005. Mediterranean Institute of Gender Studies, all rights reserved UNPD and UNOPS are not responsible for the contents and language of this publication. http://eprints. id/22846/1/342-ki-lemlit-2002-a. Suara Merdeka. Bias Gender dalam Media Massa . ttp://suaramerdeka. com/v1/index. php/read/cetak/2012