Jurnal Citra Pendidikan Volume 2 Nomor 3 Tahun 2022 ISSN 2775-1589 Hal 643-655 (JCP) http://jurnalilmiahcitrabakti. id/jil/index. php/jcp/index UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BELAJAR MATEMATIKA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL STAD PADA SISWA KELAS ViB SMPN 2 RIUNG TAHUN PELAJARAN 2021/2022 Theresia Mamo SMP Negeri 2 Riung Abstract This research is based on the following problems: . How is the improvement of student learning outcomes with the implementation of the STAD cooperative learning method? . How is the effect of the STAD model cooperative learning method on students' learning motivation? . To determine the effect of student learning motivation after applying the STAD model of cooperative learning. This study used three cycles of action research. Each cycle consists of four stages, namely: design, activities and observations, reflection, and revision. The subjects of this study were students of class ViB SMPN 2 Riung. The data obtained in the form of formative test results, observation sheets of teaching and learning activities. From the results of the analysis, it was found that student learning outcomes have increased from cycle I to cycle i, namely, cycle I . 84%), cycle II . 74%), cycle i . 32%). STAD cooperative learning method can improve student learning outcomes in class ViB SMPN 2 Riung, and this learning model can be used as an alternative to learning mathematics. Abstrak Penelitian ini berdasarkan permasalahan: . Bagaimanakah peningkatan Hasil Belajarbelajar siswa dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model STAD? . Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran kooperatif model STAD terhadap motivasi belajar Tujuan dari penelitian ini adalah: . Untuk mengetahui peningkatan Hasil Belajarbelajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model STAD. Untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan . ction researc. sebanyak tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas ViB SMPN 2 Riung. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa Hasil Belajarbelajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus i yaitu, siklus I . ,84%), siklus II . ,74%), siklus i . ,32%). Simpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar Siswa kelas ViB SMPN 2 Riung, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran matematika. Article History Received:28-07-20222 Reviewed:20-08-2022 Published:30-09-2022 Key Words Learning. Learning Outcomes. STAD Model Cooperative Learning Sejarah Artikel Diterima:28-07-2022 Direview:20-08-2022 Disetujui: 30-09-20227 Kata Kunci Belajar,Hasil Belajar,Pembelajaran Kooperatif Model STAD Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 643 PENDAHULUAN Belajar dari sistem pendidikan di Finlandia mengutamakan common sense atau akal sehat,lingkungan pengajaran yang holistik dan menjunjung tinggi kesetaraan daripada Tiga hal inilah yang membuat negara Finladia paling inovatif soal urusan pendidikan, sehingga hanya 10% dari kandidat guru yang diterima. Mereka harus lulusan master dengan ilmu pedagogi dan special ilmu untuk grade 7-9. Guru juga menguasai kelas dengan kompetensi untuk standar kesetaraan murid harus diaplikasikan,tidak boleh membedakan antara murid yang pintar dan tdak pintar. Pofesor Erno August Lehtinen dari Universitas Turku Finlandia mengingatkan bahwa dalam pendidikan yang penting kualitas pengajarannya,bukan tinggi,kesabaran,toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Guru-guru di Finlandia sangat menekankan Diwaktu AyngopiAymisalnya, guru-guru biasanya saling berdiskusi tentang cara meningkatkan mutu belajar mengajar selain mengundang guru lain ke kelasnya, sehingga guru bisa saling memberikan masukkan terkait materi dan metode mengajarnya. (Pramudianto,2. Guru yang kompeten adalah guru yang menguasai softskill atau pandai berteori saja. Adanya menjadikan guru sebagai agen perubahan mampu menyelesaikan masalah pendidikan atau (Dirjen GTK Kemdikbudristek,2. Pencapaian hasil belajar secara maksimal adalah tujuan pokok seorang guru dalam pelaksanaan Kegiatan belajar mengajar di kelas. Dedikasi, loyalitas dan kwalitas profesinya senantiasa dicurahkan untuk kepentingan anak didiknya agar mencapai hasil belajar secara maksimal. Untuk mencapai hasil itu, seorang guru dituntut untuk mencari bentuk pembelajaran yang efektif , menarik dan menyenangkan. Berbagai model pembelajaran yang ada perlu dipilih dan disesuaikan dengan materi saat itu. Disamping mengembangkan kemapuan siswa untuk menemukan sendiri, mampu menilai dirinya sendiri Media pembelajaran yang bertitik berat pada penalaran dan kontektual adalah salah satu sarana membantu mempermudah pemahaman suatu konsep dalam matematika. Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 645 dan konsisten. Pembelajaran matematika tidak juga tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktivitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas matematika dengan bekerja kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000: . Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu ada model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Dari uraian latar belakang di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan suatu penelitian tindakan kelas (PTK) mengenai penerapan model pembelajaran model STAD dengan judul AuUpaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Teorema Pythagoras Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD Pada Siswa Kelas ViB SMPN 2 Riung Tahun Pelajaran 2021/2022Ay. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan . PTK pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologis social Amerika Serikat Kurt Lewin pada tahun 1946. Selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis. Robin Mc Taggart. John Elliot. Dave Ebbutt, dan sebagainya. Gambar 3. 1 Alur PTK Model Kemmis dan Tagart Prosedur penelitian tindakan kelas secara garis besar mencakup 4 . langkah di atas yaitu: Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 646 Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model STAD. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama . lur kegiatan yang sam. dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan. Metode Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui observasi pengolahan metode pembelajaran kooperatif model STAD, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui Hasil Belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yaitu: Untuk rata-rata tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: Untuk ketuntasan belajar Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 647 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan pengelolaan metode pembelajaran kooperatif model STAD yang digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD dalam meningkatkan Hasil Belajarbelajar siswa dan data pengamatan aktivitas siswa dan guru. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan Hasil Belajarbelajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD. Analisis Data Penelitian Persiklus Siklus I Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1. LKS 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 6 September 2021 di kelas ViB dengan jumlah siswa 31 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan . dilaksanakan bersamaan dengan pelaksan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 648 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD diperoleh nilai rata-rata Hasil Belajarbelajar siswa adalah 63,55 dan ketuntasan belajar mencapai 54,84% atau ada 17 siswa dari 31 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai Ou 70 hanya sebesar 54,84% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan observer dalam hal ini teman sejawat . uru senio. karena peneliti selain sebagai guru matematika juga rangkap sebagai pelaksana tugas (Pl. Kepala sekolah, sebagai berikut: Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan . Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu . Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasiinformasi yang dirasa perlu dan memberi catatan . Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. Siklus II Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2. LKS, 2, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 649 b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 13 September 2021 di kelas ViB dengan jumlah siswa 31 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan refisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II. Pengamatan . dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut: Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata Hasil Belajar belajar siswa adalah 72,26 dan ketuntasan belajar mencapai 67,74% atau ada 21 siswa dari 31 siswa sudah tuntas Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai . Memotivasi siswa Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 650 . Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep . Pengelolaan waktu. Pelaksanaan kegiatan belelajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangankekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II antara lain: Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. Guru kesimpulan/menemukan konsep. Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. Siklus i Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3. LKS 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus i dilaksanakan pada tanggal 20 September 2021 di kelas ViB dengan jumlah siswa 31 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus i. Pengamatan . dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif i dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif i. Adapun data hasil penelitian pada siklus i adalahsebagai berikut: Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 651 Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 77,10 dan dari 31 siswa yang telah tuntas sebanyak 28 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 90,32%. Hasil pada siklus i ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus i ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD yang membuat siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Dan karena secara klasikal ketuntasan belajar siswa telah sama atau lebih besar dari 85% yakni 90,32 % , maka penelitian tidak perlu dilajutkan pada siklus berikutnya. Sedangkan 3 orang siswa yang tidak tuntas diberikan pengayaan. Refleksi Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. Hasil belajar siswa pada siklus i mencapai ketuntasan dan telah mencapai bahkan melebihi dari indikator keberhasilan dari penelitian ini. Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 652 Pada siklus i guru telah menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan refisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mepertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pembahasan Ketuntasan Hasil belajar Siswa Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif model STAD memiliki dampak positif dalam meningkatkan Hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru . etuntasan belajar meningkat dari sklus I. II, dan . yaitu masing-masing 54,84%, 67,74%, dan 90,32%. Pada siklus i ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai dan bahkan melebihi dari indikator keberhasilan. Perbandingan ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 dapat dilihat pada tabel 4. berikut ini. Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 653 Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses metode pembelajaran kooperatif model STAD dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap Hasil belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika pada pokok bahasan teorema pythagoras dengan metode pembelajaran kooperatif model STAD yang paling dominan adalah mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode pembelajaran kooperatif model STAD dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan LKS/menemukan konsep, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pembelajaran dengan kooperatif model STAD memiliki dampak positif dalam meningkatkan Hasil Belajarbelajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I . ,84%), siklus II . ,74%), siklus i . ,32%). Penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dari hasil wawancara dengan beberapa siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa mereka tertarik dan berminat dengn metode pembelajaran kooperatif model STAD sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar matematika lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut: Untuk melaksanakan metode pembelajaran kooperatif model STAD memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode pembelajaran kooperatif model STAD dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal. Dalam rangka meningkatkan Hasil Belajarbelajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru. Jurnal Citra Pendidikan (JCP)|| 654 memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di kelas ViB tahun pelajaran 2021/2022. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA