SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 Januari-Juni 2024 FENOMENA REKRUTMEN ARTIS SEBAGAI CALON LEGISLATIF DITINJAU DARI PERSPEKTIF AKSIOLOGI Aseng Yulanda1. Azmi Fitrisia2. Ofianto3 Universitas Negeri Padang asengyulanda@gmail. com , azmifitrisia@fis. id2 ofianto. anto@gmail. Abstrak Menganalisis Fenomena rekrutment Artis sebagai calon legislatif ditinjau dari perspektif Aksiologi, peran partai politik dalam melaksanakan proses rekrutmen dan kaderisasi yang melibatkan kalangan artis sebagai upaya meraup suara di pemilihan legislatif. Kecendrungan permanfaatan popularitas yang dimiliki oleh calon artis tersebut dalam pesta demokrasi menjadi salah satu satu strategi oleh mayoritas partai politik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui penelitian literatur Hasil analisis dalam artikel ini adalah langkah partai politik tersebut diakibatkan oleh demokrasi yang diterapkan di Indonesia yang membutuhkan perolehan suara partai politik memenuhi standar ambang batas Langkah Partai Politik tersebut mengesampingkan nilai kebermanfaatan untuk rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Wajah baru demokrasi Indonesia yang bergeser dari pertarungan gagasan menjadi pertarungan popularitas. Popularitas artis merupakan faktor utama partai politik merekrut artis menjadi calon legislatif. Dampak dari fenomena tersebut terhadap diskusi di ruang publik serta implikasinya terhadap kedaulatan rakyat sebagai pemegang kedaulatan utama dalam Negara demokrasi dan kebermanfaatan yang akan dirasakan oleh rakyat Indonesia menjadi pertanyaan selanjutnya. Oleh karena itu, peneliti menjadi tertarik melakukan penelitian tentang fenomena tersebut. Kata Kunci: Partai Politik. Artis. Demokrasi. Aksiologi. Abstract Analyzing the Phenomenon of the recruitment of asrtists as legislative candidates in terms of an axiological perspective, the role of political parties in recruiting and regeneration involving artists as an effort to gain votes in legislative elections. The tendency to take advantage of the popularity possessed by these aspiring artists in democratic parties is one of the strategies by many political parties in Indonesia. This research used a qualitative approach using literature review. The results of the analysis in this article are that the steps taken by political parties are caused by the implementation of democracy in Indonesia which requires the politic party's vote reaches the parliamentary threshold standard. The political partyAos step overruled the value of benefits to its subjects as its supreme sovereighnty. The new face of Indonesian democracy is shifting from a battle of ideas to a battle of popularity. The popularity of artists is the main factor for political parties to recruit them to become legislative candidates. The impact of this phenomenon on discussion in the public space and its implications on the people's sovereignty as the main sovereignty in the democratic state and the benefits that will be felt by the people of Indonesia are the next questions. Therefore, researchers are interested in conducting research on this phenomenon. Keywords: Political Parties, artists. Democracy. Axiology. PENDAHULUAN Pasal 1 ayat . UUD 1945 menjelaskan bahwa AuKedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang DasarAy. Berdasarkan pasal tersebut, jelas bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi, serta untuk menerapkan kedaulatan rakyat. Indonesia menggunakan sistem pemilihan umum, atau yang lebih dikenal dengan pemilu yang dalam penerapannya di Indonesia Diterbitkan oleh FISIP UMC dilaksanakan lima tahun sekali. Demokrasi yang dilaksanakan di Indonesia pada era reformasi mengarah pada demokrasi partisipatif atau demokrasi langsung, hal itu memberikan kekuasaan pada rakyat Indonesia menentukan pemimpin atau perwakilannya sendiri, baik dalam pemilihan Presiden, kepala daerah, serta pemilihan anggota legislatif. Kondisi tersebut membuka persaingan secara terbuka antar partai politik dan politikus di . SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 Indonesia agar mampu merebut hati masyarakat sehingga dapat dipilih dalam Pemilihan Umum. Joseph Schumpeter dalam (Abqa, 2. mengatakan bahwa demokrasi juga dapat didefinisikan dalam dua cara. Pertama, demokrasi adalah kehendak pemerintahan yang dilakukan oleh rakyat, untuk rakyat, dan untuk rakyat. Kedua, demokrasi adalah kebaikan bersama, yang merupakan tujuan sistem pemerintahan mencapai kebaikan bersama melalui perjanjian politik. Partai politik harus ada untuk mewujudkan demokrasi dan melakukan bargaining kebijakan dengan negara dan mewakili aspirasi politik masyarakat dengan cara yang paling Karena partai politik adalah representasi dan penyalur aspirasi publik, fungsinya harus dijaga dengan baik (Mubarok, 2. Peran Parpol dibutuhkan dalam proses demokrasi serta persaingan yang terjadi di setiap Pemilu di Indonesia mendorong partai politik melakukan rekrutment secara baik yang disesuiakan dengan strategi pemenangan masing-masing tentunya. Hasil dari rekrutmen partai politik akan melahirkan politikus yang akan berjuang merebut hati Seiring dengan berjalannya waktu kondisi politikus di Indonesia terus mengalami perkembangan. Ada yang berasal dari proses kaderisasi langsung oleh partai, akademisi, bahkan kalangan masyarakat yang memiliki kedaulatan mutlak dalam menentukan pemimpin di negara demokrasi. Satu fenomena menarik yang sering terjadi dan belakangan ini semakin marak dilakukan oleh partai Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 politik adalah rekrutmen artis yang sudah memiliki popularitas menjadi calon Mubarok . menyatakan Model rekrutmen artis sebagai calon legislatif untuk mendulang suara pemilih bagi organisasi partai politik setiap menjelang Pemilu legislatif Di Indonesia merupakan model baru dan sudah menjadi Di Indonesia fenomena artis yang terjun ke dunia politik dan menjadi calon legislatif telah terjadi sejak lama. Beberapa seniman dan tokoh agama telah terpilih sebagai utusan golongan dalam pemilu sejak era Orde Baru. Di era reformasi, semakin banyak seniman yang bergabung dengan politik. Bahkan menjelang Pemilu 2024 sekurangnya terdapat 76 artis menjadi bakal calon legislatif yang berasal dari beberapa partai politik. Hal tersebut menjadi satu trend yang banyak dilakukan oleh partai politik di Indonesia dalam menarik perhatian masyarakat dengan memanfaatkan popularitas yang dimiliki oleh caleg artis tersebut. Melibatkan Artis dalam pemilihan legislatif di Indonesia menjadi strategi oleh hampir seluruh partai politik, jika bicara tentang peluang tentunya para selebriti memiliki peluang yang cukup besar untuk terpilih karena selain sudah dikenal tentunya juga memiliki beberapa penggemar yang bisa menjadi basis suara yang akan didapatkan. Konstitusi Indonesia menjamin hak dari setiap individu untuk memilih dan dipilih, sehingga tidak ada yang salah dari keterlibatan para artis terjun ke dunia politik dari kacamata hukum. Namun sebenarnya bagaimana kebermanfaatan dari keikutsertaan para artis ke dunia politik bagi masyarakat dan bagaimana pula nilai yang ditawarkan. Jika popularitas sudah dimiliki, apakah . SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 kapasitas para selebriti tersebut juga sudah memadai untuk menjadi perwakilan dari masyarakat Indonesia di Senayan. Partai politik sebagai bagian dari pilar demokrasi berperan dalam memberikan pendidikan politik, serta melahirkan kader-kader yang berkualitas dalam menjalankan tugas sebagai perwakilan rakyat. Dua komponen proses pemilihan pemimpin adalah rekrutmen dan kaderisasi. Menurut Tead dalam (Harahap, 2. Kaderisasi kepemimpinan lebih dikenal sebagai proses mengarahkan orang-orang menuju suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa perlu melakukan paksaan. Ini karena proses mempersiapkan seseorang menjadi pengganti yang akan memikul tanggung jawab yang signifikan dalam lingkungan Dalam proses kaderisasi nilai-nilai peningkatan kemampuan dari calon Dalam hal kaderisasi partai politik, tentunya hal itu bertujuan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia yang akan melanjutkan estapet kepemimpinan. Idealnya proses rekrutment partai politik harusnya melalui tahapan kaderisasi yang baik sehingga mampu melahirkan calon pemimpin masa depan yang efektif dan mampu menjawab permasalahan Dapat dipahami bahwa kebijakan rekrutment yang dilakukan oleh partai politik memiliki peran yang sangat krusial dalam perpolitikan dan akan berdampak dalam jalannya pemerintahan di Indonesia. Namun proses rekrutment oleh banyak partai politik di Indonesia akhir-akhir ini seperti memanfaatkan popularitas dari para artis tersebut untuk mendapat simpati dari masyarakat dalam mendulang suara dalam pemilu seakan menggambarkan wajah Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 demokrasi Indonesia sudah bergeser dari pertarungan ide dan gagasan menjadi pertarungan popularitas. Walaupun bisa dipahami bahwa fenomena tersebu terjadi tidak terlepas dari sistem demokrasi Indonesia yang menjamin hak warga negara untuk memilik dan dipilih dengan konsep one man one vote. Hal tersebut menjadi pertanyaan bagi kita bersama. Karena pada akhirnya kebermanfaatan bagi masyarakat harus menjadi prioritas. Siapapun berhak menjadi kandidat, namun keputusan tetap berada di tangan Indonesia menentukan siapa yang layak menjadi perwakilan dan diberikan otoritas untuk menentukan arah masa depan bangsa Indonesia. Dalam artikel ini akan dibahas tentang fenomena rekrutment artis sebagai calon legislatif ditinjau dari perspektif METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, menurut Denzin. , & Lincoln . bahwa penelitian kualitatif menilai realitas yang terjadi secara utuh dan sesuai dengan konteks yang terjadi, sehingga dibutuhkan fokus pengamatan agar dapat membangun keterkaitan dengan konteks yang lain dan menjadi sebuah bangunan pembahasan yang utuh dari realitas yang diteliti. Penelitian ini mengumpulkan data melalui penelitian literatur kepustakaan yang relevan, jurnal ilmiah, artikel ilmiah, dan buku-buku. HASIL DAN PEMBAHASAN Terminologi Aksiologi Aksiologi merupakan persoalan mengakar dalam pohon filsafat, yang berasal dari kata. dan logos. SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 ilmu, kajian atau pikiran. Jadi aksiologi adalah ilmu untuk menentukan nilai mana yang memiliki manfaat, baik atau buruk, pantas atau tidak. Sehingga persoalan aksiologi berusaha menjawab pertanyaan: mengapa? . Melalui kajian aksiologi, maka ada dua disiplin kajian yang dilahirkan, yakni: . estetika, dan . etika (Lukman Hakim, 2. Moh. Wardi, 2013 dalam Armanto et al. , . menjelaskan Aksiologi bisa disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk . ood and ba. , benar dan salah . ight and wron. , serta tentang cara dan tujuan . eans and end. Aksiologi secara istilah adalah merupakan bidang ilmu yang berkaitan dengan teori tentang nilai atau studi segala sesuatu yang dapat bernilai atau memberikan manfaat (Armanto et al. Secara sederhana, aksiologis keilmuan dapat didefinisikan sebagai diskusi tentang manfaat ilmu pengetahuan. Aksiologi menyelidiki bagaimana ilmu Muara pengembangan ilmu adalah kegiatan pengabdian pada masyarakat, yang juga merupakan lokus pengembangan ilmu itu Soejono Soe Margono dalam Sulistyawati . menjelaskan Aksiologi mencakup pemikiran tentang nilai, seperti moral, pendidikan, agama, dan estetika, yang dapat menjawab pertanyaan tentang keberadaan dan pengetahuan. Ini berkaitan dengan hubungan antara teknik procedural dan efektivitas metode ilmiah. Aksiologi menyelidiki dan mengintegrasikan nilainilai ini ke dalam kehidupan manusia dan mempertahankannya dalam kepribadian Kesusilaan, sebagai hakikat yang Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 baik, selalu menarik perhatian banyak Dianggap penting untuk lebih memahami orang lain. Jika dilihat dari perspektif kefilsafatan, aksiologi adalah bidang penelitian yang menyelidiki dasardasar nilai. Selanjutnya Darwis & Tantu dalam Faizah . menjelaskan secara umum Aksiologi dapat dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni moral conduct . kspresi keindahan yang menghasilkan keindaha. , dan sosiopolitical life . emunculkan filsafat kehidupan sosial politi. Menilai tentang ketelibatan para selebriti ke dunia politik yang akan menajdi representasi dari masyarakat tidak cukup dari aspek kemungkinan terpilih, namun juga bagaimana kebermanfaatan dan dampak Kesediaan menjadi calon menyuarakan aspirasi dan membela rakyat sebagai yang diwakili. Proses Kaderisasi Partai Politik Miriam Budiardjo dalam Mubarok . menjelaskan Secara umum, partai politik adalah kelompok orang yang terorganisir dengan prinsip dan orientasi yang sama. Tujuan kelompok ini adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik, biasanya melaksanakan pendapat mereka. Selain itu Suprihatini dalam Tompodung. Monalisa Tumanduk . mengatakan Partai politik tidak terpengaruh oleh fungsi yang harus dilakukannya. Secara umum, tugas partai politik adalah untuk berkomunikasi dan sosialisasi politik, merekrut orang, mengendalikan konflik, terlibat dalam mengumpulkan kepentingan, dan membuat . SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 Undang-undang nomor 2 tahun 2008 tentang partai politik di Indonesia mengatur partai politik. Partai Politik merupakan salah satu pilar utama demokrasi di Indonesia. Demokrasi tanpa Partai Politik adalah kekuasaan tanpa legitimasi, yang dapat Karena pentingnya peranan dari Partai Politik, seharusnya mereka mampu menjaga demokrasi yang sehat dan efektif dengan menciptakan lingkungan yang sehat dan efektif yang memungkinkan pendidikan politik, kontrol sosial, dan rekrutmen pemimpin dan pengkaderan yang efektif. Tahapan rekrutmen politik akan berlanjut pada proses kaderisasi partai Fattah dalam Harahap . menjelaskan "Kaderisasi" berasal dari kata "kader", yang awalnya berasal dari istilah militer atau "perjuangan", dan "carde" berasal dari kata "carde", yang berarti pembinaan terus menerus untuk pasukan inti yang mungkin diperlukan. Dengan kata lain, kader didefinisikan sebagai individu yang diharapkan memiliki kapasitas untuk memainkan peran penting dalam sebuah organisasi. Pada prakteknya roses mencetak seorang pemimpin terdiri dari dua bagian: rekrutmen dan kaderisasi. Kaderisasi adalah proses mempersiapkan seseorang menjadi pemimpin pengganti yang akan memegang tanggung jawab yang signifikan dalam lingkungan Oleh karena itu, proses kaderisasi kepemimpinan lebih mengacu pada proses menggerakkan sekumpulan orang menuju suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa membuat janji. Kaderisasi partai politik sangat berpengaruh dalam negara demokrasi, kaderisasi yang baik akan melahirkan calon pemimpin yang berkualitas dan akan Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 rakyat yang memegang otoritas tertinggi dalam negara demokrasi, namun proses kaderisasi yang buruk dan terkesan ugalugalan tentunya akan memberikan dampak yang tidak baik bagi masyarakat. Tahap rekrutmen partai politik menjadi pokok utama dalam jalannya proses kaderisasi dalam tubuh partai politik di Indonesia. Fakta tersebut menunjukkan betapa peranan partai politik sangat penting sebagai sarana mencetak calon pemimpin bangsa yang nantinya akan dipilih oleh Setiap partai politik memiliki proses pengkaderannya masing-masing, dalam tahapan pengkaderan inilah ideologi partai dan startegi perjuangan ditanamkan kepada setiap kader. Dewasa ini, tidak sedikit kader yang dilahirkan dari proses rekrutmen dan pengkaderan yang baik mampu membantu mejaga eksistensi partai politik dan dicintai oleh rakyat Indonesia. Diskusi di memperlihatkan kader-kader tersebut mampu berdapat pada tataran ide dan Bersamaan dengan kemajuan teknologi, kehadiran para kader partai politik tersebut bisa ditemukan di banyak platform digital, seperti televisi, podcast, dan sebagainya. Proses diskusi tersebut dapat menjadi referensi bagi masyarakat Indonesia untuk memahami kondisi perpolitikan dan pemerintahan terkini. Beberapa kader tersebut lahir dari aktivis, akademisi, pengusaha, purnawirawan TNI, dan lainnya. Namun, jika ditinjau lebih jauh yang mengisi diskusi di ruang publik tersebut orangnya itu-itu saja. Memasuki umum yang akan dilaksanakan di indonesia secara serentak pada tahun 2024, penulis menilai proses pengkaderan partai . SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 politik tidak berjalan sebagaimana yang Kecendrungan partai politik merekrut figur yang sudah populer untuk dicalonkan sebagai anggota legislatif menjadi sebuah fenomena yang berlanjut dari pemilu ke pemilu di Indonesia. Hal tersebut menjadi langkah yang diambil oleh banyak partai politik saat ini. Tidak heran mengapa saat ini partai-partai politik di Indonesia bersaing merekrut figur-figur populis, hal itu disebabkan oleh persaingan antar partai politik secara terbuka untuk memenuhi ambang batas parlemen, oleh karena itu langkah instan banyak Proses pengkaderan yang diharapkan melahirkan politikus handal yang bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat dan mampu mempertontonkan pertarungan ide dan gagasan di ruang publik tidak lagi menunjukkan marwahnya masyarakat Indonesia. Fenomena Artis menjadi politikus Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "politikus" adalah kata yang berarti "po. ahli ahli kenegaraan. orang yang terlibat dalam politik. atau "politikus" adalah seseorang yang terlibat dalam Di berbagai negara, para politikus bertanggung jawab atas bagian eksekutif pemerintah, kantor presiden, dan legislatif, serta pemerintah regional dan lokal. Presiden. Anggota legislatif. Gubernur. Menteri. Bupati dan Walikota adalah beberapa jabatan yang biasa dipegang oleh Kehadiran artis dalam perpolitikan menjadi alternatif bagi masyarakat. Meskipun. Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 penampilan dan popularitas. Hampir seluruh partai politik di Indonesia memiliki calon legislatif dari kalangan Demokrasi yang menyediakan persaingan secara terbuka kepada partai politik untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat menjadi salah satu faktor banyaknya partai politik menyediakan ruang bagi para selebriti di Indonesia untuk terjun ke politik, beberapa melalui proses pengkaderan, namun juga terdapat yang dicalonkan tidak dengan proses pengkaderan seperti politikus lainnya. Secara substansial, tidak banyak artis yang memiliki gagasan politik yang jelas dan dapat diandalkan. Akibatnya, pemahaman kita tentang politik kontemplatif dari para pelakunya semakin terbatas. Sebagai negara demokrasi yang menghargai hak-hak warna negara untuk terjun dalam politik praktis tentu hal itu merupakan sesuatu yang lumrah. Salah satu cara suatu negara disebut sebagai "negara demokratis" adalah kehadiran partai politik dalam sistem politiknya, baik sebagai bagian dari usaha dalam menciptakan demokrasi yang substansial Partai berfungsi sebagai penghubung antara keinginan masyarakat dan sistem politik Indonesia. Partai politik memainkan peran penting dalam struktur politik demokratis penghubung dalam proses pengambilan keputusan bernegara dan menghubungkan masyarakat negara dengan institusi Negara (Resty Nabilah. Izomiddin, 2. Fenomena rekrutmen artis oleh banyak partai politik dapat dipahami sebagai satu langkah yang diambil untuk mendulang suara, namun menarik dinanti apakah keterlibatan artis sebagai calon . SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 partisipasi rakyat dalam pemilihan umum. Nur Wardhani . menjelaskan Dalam negara demokrasi, partisipasi politik adalah tanda bahwa rakyat menjalankan kekuasaan negara tertinggi yang sah, atau kedaulatan rakyat, yang ditunjukkan dengan partisipasi mereka dalam pesta demokrasi yang dikenal sebagai pemilu. Tingkat partisipasi politik yang tinggi menunjukkan bahwa orang mengikuti, memahami, dan terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan negara. Sebaliknya, tingkat partisipasi politik yang rendah menunjukkan bahwa orang kurang menaruh apresiasi atau minat terhadap masalah atau kegiatan yang berkaitan dengan negara. Sikap golongan putih, juga dikenal sebagai golput, menunjukkan betapa kurangnya partisipasi politik rakyat. Ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2011 tentang partai politik, rekrutment politik diatur pada Pasal 29 yang menegaskan: Partai Politik melakukan rekrutmen terhadap warga negara Indonesia untuk menjadi: Anggota Partai Politik. Bakal calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Bakal calon Presiden dan Wakil Presiden. Rekrutmen dimaksud pada ayat . huruf b dilaksanakan melalui seleksi kaderisasi secara demokratis sesuai dengan AD dan ART dengan mem pertimbangkan paling sedikit 30% . iga puluh perseratu. keterwakilan perempuan. Rekrutmen sebagaimana dimaksud pada ayat . huruf c dan huruf d Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan AD dan ART serta peraturan perundangundangan. Penetapan atas rekrutmen sebagai mana dimaksud pada ayat . keputusan pengurus Partai Politik sesuai dengan AD dan ART. Serta partai politik juga yang banyak melahirkan para pemimpin, baik di Pemerintahan Pusat maupun Daerah. Douglas dalam Yesi Febriyanti . menyatakan Organisasi politik lebih condong memanfaatkan selebriti, di banding mencetak kader politik sendiri yang militan sesuai ideologi partainya. Fenomena keterlibatan selebriti tentu tidak terlepas dari proses rekrutment yang dilakukan oleh partai politik di Indonesia. Pada pemilihan umum 2024 sekurangnya terdapat 76 orang calon legislatif dari kalangan artis yang tergabung dalam beberapa partai. Beberapa muncul dengan ide dan gagasan, namun tak sedikit juga yang muncul hanya dengan sensasi dan tidak mampu memaparkan gagasan yang akan dibawa untuk membela dan menjadi perwakilan dari masyarakat Indonesia. Fenomena Artis terjun ke dunia politik telah menarik perhatian banyak kalangan dan menjadi perbincangan dan pemberitaan oleh media massa serta mengundang banyak diskusi di dalam media digital. Beberapa artis papan atas direkrut oleh partai politik dan dijadikan sebagai icon utama dalam menarik simpati Aulia . menyatakan bahwa kondisi partai politik saat ini lebih mengarah pada memuluskan kepentingan sendiri atau golongan. Maka tidak heran mengapa fenomena tersebut marak terjadi di Indonesia saat ini. Status mereka . SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 sebagai artis yang sudah memiliki mendulang suara partai, pada tahun 2019 terdapat 14 artis yang sukses masuk Senayan menjadi perwakilan dari rakyat Indonesia. Tanpa mendiskreditkan profesi artis, fakta bahwa dunia entertainment dan politik sangat jauh berbeda tidak bisa Maka tidak salah cukup banyak yang meragukan kapasitas para artis tersebut untuk mampu mejadi perwakilan masyarakat Indonesia di Pemerintahan. Proses kaderisasi artis juga terkesan sangat instan, hal tersebut menunjukkan partai politik saat ini sudah sangat pragmatis dan layak dipertanyakan kualitas dari proses kaderisasinya. Perspektif Aksiologi terhadap fenomena rekrutment artis sebagai calon legislatif Salah satu bentuk dari demokrasi perwakilan adalah pemilihan umum, di mana pemilih memilih wakil mereka untuk menjalankan pemerintahan. Masyarakat inilah yang melakukan pemilihan secara langsung yang diwujudkan dalam bentuk melalui pemilihan umum. Pemilihan dilakukan dengan prinsip langsung, umum, bebas, jujur, dan adil, atau sering disebut sebagai Luberjurdil. Fenomena banyaknya artis yang terjun ke politik sekarang ini menjadi satu hal yang masyarakat maupun di ranah akademik. Aksiologi yang merupakan ilmu yang mengkaji tentang nilai dan kebermanfaatn dari ilmu itu sendiri. Perspektif aksiologi dalam artikel ini adalah mengkaji kebermanfaatan dari langkah rekrutment artis sebagai calon legislatif yang banyak diambil oleh banyak partai politik di Indonesia, serta bagaimana kondisi Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 Indonesia yang memegang kedaulatan tertinggi dalam negara demokrasi. Manfaat tersebut merupakan hal yang utama, karena pada akhirnya siapapun yang akan terpilih menjadi wakil rakyat harus Indonesia dengan ide dan gagasan yang Perspektif mempertanyakan kenapa . ? Penulis hubungkan dengan kenapa partai politik merekrut para artis menjadi bagian dari calon legislatif, dan apapula manfaat yang akan didapatkan oleh masyarakat dan partai politik itu sendiri. Tentunya jika bicara tentang manfaat yang akan dirasakan oleh partai politik adalah popularitas yang dimiliki oleh para selebriti akan membantu menunjang popularitas partai secara langsung, walaupun popularitas itu bukan pada ranah ide dan gagasan namun akan cukup membantu proses kampanye dari partai politik karena sebagian besar masyarakat Indonesia sudah mengenal para kandidat dari kalangan selebriti tersebut. Saat ini fenomena calon legislatif dari kalangan artis seperti sudah menjadi keniscayaan dalam proses demokrasi di Indonesia. Hal itu dipengaruhi oleh upaya dari partai politik untuk memperoleh banyak suara di pemilihan umum. Namun bagaimana dengan peran yang akan dilakukan oleh para artis ini jika terpilih? Hal itu menjadi pertanyaan bersama mengenai kapasitas dan kemampuannya dalam membawa aspirasi masyarakat. Berpegang pada pandangan Moh. Wardi, 2013 dalam Armanto et al. , . menjelaskan Aksiologi bisa artikan sebagai the theory of value atau teori nilai yang merupakan bagian dari ilmu filsafat yang memperhatikan tentang baik dan buruk SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 . ood and ba. , benar dan salah . ight and wron. , serta tentang cara dan tujuan . eans and end. Pada artikel ini penulis pandangan tersebut. Pertama tentang baik dan buruk, tentunya hal ini menjadi perdebatan, mengingat salah satu tugas partai politik adalah kaderisasi dalam melahirkan pemimpin-pemimpin menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Keterlibatan artis dalam pemilihan legislatif bisa dipandang baik jika kemunculan mereka disertai dengan gagagasan yang ditawarkan, namun akan menjadi buruk jika hanya mengandalkan popularitas semata. Hari ini tidak banyak calon legislatif dari kalangan artis yang mampu menjelaskan ide dan gagasan Padahal pada dasarnya proses demokrasi adalah pertarungan gagasan dari setiap kandidat. Hal tersebut merubah wajah demokrasi Indonesia ke arah pertarungan popularitas dan eksistensi dimata masyarakat. Jika hal tersebut menjadi sesuatu yang dianggap normal tentunya ruang legislatif tidak lagi hangat oleh pertarungan gagasan oleh para perwakilan rakyat. Kedua terkait benar dan salah. Konstitusi Indonesia telah menjamin hak politik bagi seluruh warganya, sehingga tidak bisa dinyatakan salah keputusan rekrutmen para artis yang dilakukan oleh partai politik, selama calon tersebut memenuhi persyaratan secara administrasi untuk mengikuti pemilihan umum. Namun, penulis menilai rekrutmen para artis yang dilakukan oleh para selebriti hanya untuk kepentingan partai politik untuk memperoleh suara pada pemilihan umum di Indonesia. Fenomena tersebut menjadi ironi di dalam dunia perpolitikan Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 Indonesia, proses kaderisasi partai politik melahirkan pemimpin masa depan hanya ditujukan untuk meloloskan partai politik melewati ambang batas parlemen. Diskusi di ruang publik tidak lagi memperdebatkan gagasan secara subtansial antar politikus, khususnya yang berlatar belakang artis. Bahkan terdapat calon legislatif dari kalangan artis yang hanya melahirkan sensasi di ruang publik. Selanjutnya masyarakat Indonesia lah yang akan menentukan pilihan mereka, sayangnya pendidikan politik di Indonesia tidak cukup untuk melahikan pemilih yang tidak tergoda oleh popularitas calon legislatif Ketiga tentang cara dan tujuan, hal ini menjadi poin vital dalam proses rekrutment para artis menjadi calon Keputusan partai politik tersebut banyak dicibir, khussnya bagi mereka yang menilai partai-partai politik hanya kandidat bakal calon. Jika demokrasi hanya mempertarungkan popularitas, maka dapat dinilai proses demokrasi tersebut akan kehilangan marwahnya sebagai momen adu ide dan gagasan tentang Indonesia ke depan. Dalam rekrutment artis sebagai calon legislatif oleh partai politik pengkaderan yang baik. Sehingga para calon dari kalangan artis tersebut selain memiliki popularitas, juga memiliki kemampuan dalam menyampaikan ide dan memperjuangkan kepentingan Indonesia. Masyarakat menitipkan masa depan mereka kepada para perwakilan rakyat di ruang parlemen untuk . SOSFILKOM Volume XVi Nomor 01 memperjuangkan kepentingan dan aspirasi Terdapat tiga fungsi lembaga legislatif yang harus dijalankan dengan baik, yaitu fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran. Tiga poin tersebut sangat pemerintahan di tanah air, kapasitas para perwakilan rakyat harus memadai agar fungsi tersebut bisa berjalan dengan baik. Dewasa ini, fenomena rekrutmen artis oleh partai politik sebagai calon legislatif sudah menjadi keniscayaan. Partai politik memiliki kepentingan untuk mendulang suara di Pemilu, walaupun terkesan mengesampingkan kapasitas dari kader yang dicalonkan, semua itu demi meningkatkan popularitas partai politik itu Karena, dalam proses demokrasi, suara masyarakat yang memiliki hak suara melalui sistem pemilihan umum akan berdampak pada kebijakan Pemerintah. Pada akhirnya, masyarakat jugalah yang akan menentukan nasibnya sendiri. Terlebih penyelenggaraan Pemilu di Indonesia tidak menyediakan ruang debat terbuka secara resmi antar kandidat legislatif agar masyarakat bisa menyimak dan mempertimbangkan ide dan gagasan yang dipertengkarkan oleh para calon penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia popularitas, serta satu hal yang tidak bisa demokrasi Indonesia adalah logistik dari para calon tersebut. Pada dasarnya, para artis memiliki dua faktor tersebut sebagai modal dalam mendulang suara dalam Jika hal itu yang berlaku, sangat disayangkan proses yang sangat krusial bagi kemajuan bangsa ditentukan oleh faktor yang tidak substansial. Penulis menilai hal tersebut menjadi bukti Diterbitkan oleh FISIP UMC Januari-Juni 2024 kegagalan partai poliik di Indonesia dalam memberikan pendidikan politik, serta bentuk dari dari kemunduran demokrasi Indonesia. KESIMPULAN Banyaknya artis yang berpartisipasi dalam pemilihan legislatif merupakan satu hal yang bisa dimengerti, mengingat partai politik memiliki kepentingan untuk mendulang suara dan mendapat simpati Namun, hal tersebut harus diiringi oleh proses pengakderan yang baik Walaupun terdapat beberapa calon legislatif dari kalangan artis yang memiliki kapasitas memadai, namun tidak sedikit juga yang hanya memunculkan sensasi di ruang publik dan terdapat juga yang diam serta tidak mampu menjelaskan ide dan Tidak salah jika kita menilai bahwa saat ini wajah pemilihan umum di Indonesia sudah bergeser dari pertarungan ide dan gagasan menuju pertarungan Pengkaderan yang dilakukan memprioritaskan artis untuk mendongkrak suara partai melalui popularitas yang Padahal menurut penulis anggota legislatif adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam pembangunan Negara Pemerintahan. Kaderisasi di tubuh partai politik harusnya memperhatikan nilai-nilai kebermanfaatan yang akan didapatkan oleh Karena pada akhirnya kepentingan rakyat Indonesia lah yang harus diprioritaskan. Partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi harus mengedepankan pertarungan gagasan agar demokrasi di Indonesia menjadi hidup dan terus tumbuh dan membaik. DAFTAR PUSTAKA