Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. Volume 5 Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan ISSN: 2808-7046 Pengujian Kesehatan 4 Varietas Benih Sorgum (Sorghum bicolor L. Tunjung Pamekas1. Hendri Bustamam2. Ferdinand Gherrisyah M3. Usman Kris Joko Suharjo4. Edi Susilo5 1,2,3 Program Studi Proteksi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Ratu Samban Bengkulu Utara ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pspfs. Submited: 05 Mei, 2023 Accepted: 21 Mei, 2023 Published: 04 Agustus, 2023 Keywords: Kesehatan Benih. Seedling Symptom Test. Sorgum ABSTRACT Kesehatan benih sorgum sangat mendukung terciptanya tanaman sorgum yang sehat dan berproduksi tinggi. Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji kesehatan 4 varietas benih sorgum dengan metode seedling symptom test. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2021 hingga Januari 2022 di Laboratorium Proteksi Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Varietas sorgum yang dipakai adalah Super 1. Suri 3 Agritan. Suri 4 Agritan, dan Numbu yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia (BALITJAS) Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Suri 4 Agritan memiliki daya kecambah, tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang akar yang paling rendah, namun varietas tersebut memiliki persentase bibit terinfeksi yang paling kecil. Keempat varietas benih sorgum terserang patogen terbawa benih dari golongan cendawan, berturut turut 4, 6, 5 dan 3 species cendawan pada varietas Super 1. Suri 3 Agritan. Suri 4 Agritan, dan Numbu. Cendawan terbawa benih empat varietas sorgum adalah Aspergillus niger. Mucor sp. Pyricularia sp. Rhizopus sp. Curvularia sp, dan 4 isolat cendawan yang belum teridentifikasi. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Tunjung Pamekas Universitas Bengkulu Email: tunjungpamekas@unib. PENDAHULUAN Sorgum (Sorghum bicolor L. ) berasal dari daerah tropis Ethiopia. Afrika Timur dan sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil bahan pangan dan bisa dibudidayakan di daerah kering. Budidaya tanaman ini tidak memerlukan kriteria khusus karena cukup toleran pada kekeringan dan genangan air, dapat berproduksi pada lahan marginal serta relatif tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Sorgum tidak memerlukan teknologi dan perawatan khusus sebagaimana tanaman lain pada umumya. Menurut Prihandana dan Hendroko . sorgum sebaiknya ditanam pada saat musim kemarau untuk mendapatkan hasil yang maksimal karena saat masa pertumbuhannya tanaman ini memerlukan banyak sinar matahari secara penuh. Di Indonesia, sorgum dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan suplemen beras. Nasi dengan campuran 20-25% sorgum dan 75-80% beras, diperkirakan tidak akan merubah tekstur, rasa, dan aroma. Namun produksi sorgum di Indonesia masih cukup rendah, yaitu 4000 Ae 6000 ton per tahun dari 2019-2020. Kurangnya produksi tanaman sorgum di Indonesia dipengaruhi oleh faktor keberadaan komoditas yang bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti tanaman jagung, kacang hijau, padi gogo dan ubi kayu. Tanaman sorgum mulai dibudidayakan tahun 1970 di pulau Jawa. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. Nusa Tanggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur hingga saat ini. Mengingat potensi sorgum sebagai Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 suplemen beras yang potensial maka produksi sorgum di Indonesia perlu diperhatikan. Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan roadmap produksi dan hilirisasi sorgum hingga 2024 dengan tujuan menjadikan sorgum sebagai alternatif gandum (Anonim, 2. Namun tanaman sorgum tidak terlepas dari serangan penyakit tanaman seperti tanaman serealia lain. Dilaporkan bahwa penyakit pada tanaman sorgum hingga saat ini belum bisa dikendalikan dan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu serta menurunkan hasil Patogen terbawa benih sorgum dapat menjadi sumber inokulum penyakit tanaman sorgum di lapangan, seperti Pucinia sp. Rhizoctonia solani. Helminthosporium sp. Exserochilum sp. Curvularia sp. Fusarium sp. Alternaria tenuis. Aspergillus flavus. Aspergillus niger. Bipolaris sorghicola. Botrytis cinerea. Colletotrichum graminicola. Curvularia lunata. Fusarium moniloforme dan Penicillium oxalicum (Soenartiningsih dkk, 2015. Islam dkk, 2. Beberapa cendawan terbawa benih sorgum tergolong sebagai patogen bagi tanaman (Islam dkk, 2. Penyakit terbawa pada biji tanaman sorgum biasanya menunjukan gejala berupa biji berubah menjadi bercak merah. Colletotricum graminicola yang terbawa benih sorgum merupakan penyebab penyakit busuk akar pada masa persemaian (Semangun, 2. Keberhasilan peningkatan dalam usaha tani sangat dipengaruhi oleh input dari berbagai faktor produksi yang salah satunya adalah penggunaan benih bermutu. Penggunaan benih bermutu mampu meningkatkan produksi pertanian dan mengurangi serangan hama dan penyakit di lapangan. Patogen terbawa benih dapat menyebabkan penurunan kualitas dari suatu benih baik daya kecambah, maupun kualitas tanaman yang dihasilkan dan yang terpenting adalah dapat menurunkan hasil secara signifikan, serta dapat meningkatkan perkembangan penyakit, perubahan komponen kimia, dan ledakan penyakit tanaman pada suatu daerah (Agarwal dan Sinclair, 1. Pengujian kesehatan benih pada prosesnya dilakukan untuk kebutuhan sertifikasi Pada prosesnya pengujian kesehatan benih memiliki berbagai macam cara pengujian yang difokuskan untuk mendeteksi keberadaan mikroorganisme yang terbawa benih (Harahap, 2. Pengujian kesehatan benih dengan metode Seedling symptom test merupakan metode konvensional yang menumbuhkan tanaman setelah proses perkecambahan dan berfokus kepada gejala penyakit yang tampak selama 30 hari. Pengujian ini umumnya digunakan untuk mendeteksi penyakit yang masa inkubasinya lama misalnya virus SMV pada kedelai (Rahayu 1. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji kesehatan 4 varietas benih sorgum dengan metode Seedling symptom test. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2021 sampai Januari 2022 di Laboratorium Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Penelitian ini disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor tungga, yaitu 4 varietas benih sorgum, (Super 1. Suri 3 Agritan. Suri 4 Agrita, dan Numbu yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia (Balitja. Kabupaten Maros Sulawesi Selata. Setiap perlakuan diulang 7 kali. Media tanam berupa pasir dan pupuk kandang steril sebanyak 500 gram dimasukkan ke dalam botol plastik ukuran 1,5 liter yang telah disterilkan dengan alcohol. Sebanyak 5 benih sorgum ditanam pada media yang telah disiapkan dan dipelihara selama 30 hari (Pamekas, 2. Penyiraman dilakukan sampai umur tanaman 30 hari. Adapun variabel yang diamati adalah: Daya kecambah benih, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, gejala penyakit yang nampak pada bagian tanaman . atang, akar, dau. , serta isolasi dan identifikasi cendawan terbawa benih. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan analisis varians (ANAVA) dengan uji F taraf 5% dan akan diuji lanjut dengan BNT taraf 5% jika antar perlakuan terdapat perbedaan nyata. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian terlihat bahwa benih sorgum varietas Numbu menunjukkan daya kecambah, tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang akar yang paling rendah dibandingkan tiga varietas lainnya, namun varietas Numbu menunjukkan persentase bibit terinfeksi yang paling rendah (Tabel . Tabel 1. Daya kecambah, tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar dan persentase bibit sorgum terinfeksi Daya kecambah Tinggi tanaman Jumlah Panjang akar Bibit terinfeksi Varietas (%) . (%) Super 1 82,85 b 15,43 ab 1,92 bc 71,42 c Suri 3 Agritan 82,85 bc 18,06 bc 1,82 b 82,85 cd Suri 4 Agritan 54,28 a 11,76 a 1,30 a 54,28 a Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Varietas Daya kecambah Tinggi tanaman Jumlah Panjang akar Bibit terinfeksi (%) . (%) 88,57 cd 20,49 cd 1,95 cd 68,57 ab Numbu Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak beda nyata pada uji BNT taraf 5%. Salah satu syarat benih bermutu, berkualitas baik dan dapat disertifikasi adalah adalah memiliki daya kecambah minimum 80% (Yuktika et al, 2014. ISTA, 2. Dari keempat varietas benih sorgum yang diuji, varietas Numbu memiliki daya kecambah kurang dari 80% sehingga varietas tersebut berkuliatas tidak baik dan tidak dapat disertifikasi. Rendahnya daya kecambah dari benih sorgum di atas dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya masa simpan benih dan kondisi ruang penyimpanan benih, seperti suhu dan kelembaban. Disebutkan bahwa kadar air maksimum benih adalah 14% dan suhu maksimum penyimpanan benih adalah 50EE. Jika kadar air benih 20% akan menyebabkan benih tidak tahan terhadap hama dan penyakit. Kadar air dalam benih dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu di dalam ruang penyimpanan. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan respirasi, sehingga cadangan makanan dalam benih akan terkuras (Mugnisiah, 1990. Kastania . Sementara itu, temperatur minimum, optimum dan maksimum bagi pertumbuhan kebanyakan cendawan penyimpanan adalah 0-5EE, 30-33EE dan 50-55EE, sedangkan untuk perkecambahan dan untuk pertumbuhannya bervariasi antara 4-15EE hingga 30-55EE (Agarwal & Sinclair, 1. Kadar air benih dan suhu penyimpanan benih adalah faktor utama yang berperan dalam penyimpanan Kadar air yang tidak tepat selama proses penyimpanan menyebabkan turunnya kualitas benih. Hal ini disebabkan karena laju deteriorasi, sehingga viabilitas dan vigor benih menurun. Kerusakan benih pada saat penyimpanan juga dipengaruhi oleh kandungan air didalam benih Penurunan kualitas dan kerusakan benih pada saat penyimpanan tidak dapat dihentikan, namun dapat diperlambat dengan cara mengatur ruangan penyimpanan (Justice dan Bass, 2002. Hendarto, 2. Kadar air yang kurang dari batas minimum dan melebihi batas maksimum akan terbentuk radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan protein (Tatipata. Keempat varietas benih sorgum menunjukkan gejala penyakit pada bibit yang relatif hampir sama, seperti dapat dilihat pada Tabel 2. Daun sorgum mengalami kelayuan, menguning dan terdapat bercak karat pada pangkal batang. Bibit sorgum varietas Numbu memiliki persentase bibit terinfeksi dan jumlah isolat cendawan terbawa benih yang paling rendah dibandingkan dengan tiga varietas yang lain (Tabel . Varietas Sorgum Super 1 Tabel 2. Gejala penyakit pada bibit sorgum Gejala Batang karat pada pangkal batang Batang Suri 3 Agritan Foto karat pada pangkal batang Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Varietas Sorgum Gejala Batang Suri 4 Agritan Foto karat pada pangkal batang Batang karat pada pangkal batang Numbu Cendawan Tabel 3. Jumlah dan jenis cendawan terbawa benih sorgum Super 1 Suri 3 Agritan Suri 4 Agritan Numbu Aspergillus niger Mucor sp Pyricularia sp Rhizopus sp Culvularia sp Belum teridentifikasi 1 Belum teridentifikasi 2 Belum teridentifikasi 3 Belum teridentifikasi 4 Keterangan: menunjukan cendawan terdapat pada varietas sorgum, dan Ae menunjukan cendawan tidak terdapat pada varietas sorgum. Tabel 4. Karakteristik makroskopis dan mikroskopis cendawan terbawa benih sorgum Makroskopis Mikroskopis Nama cendawan Aspergillus niger Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Makroskopis Mikroskopis Nama cendawan Mucor sp Rhizopus sp Curvularia sp Pyricularia sp Belum teridentifikasi 1 Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Makroskopis Mikroskopis Nama cendawan Belum teridentifikasi 2 Belum teridentifikasi 3 Belum teridentifikasi 4 Dari Tabel 3 terlihat bahwa cendawan terbawa benih yang terdeteksi terdapat pada semua varietas sorgum adalah Pyricularia oryzae dan Rhizopus sp, sedangkan cendawan yang lain ditemukan pada varietas sorgum yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa P. oryzae dan Rhizopus bersifat umum pada keempat benih Sejauh ini belum dilaporkan bahwa P. oryzae mampu menyebabkan penyakit pada tanaman sorgum. Dilaporkan bahwa penyakit yang menyerang tanaman sorgum adalah penyakit busuk batang oleh Rhizoctonia sp, penyakit hawar daun oleh Helminthosporium, penyakit antraknosa oleh Colletotricum graminicola. Penyakit bercak daun oleh H. turcicum, penyakit karat oleh Puccinia purpurea (Rusae et al. , 2018. Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, 2. oryzae merupakan patogen utama pada tanaman padi. Dengan terdeteksinya P. oryzae pada benih gandum maka kewaspadaan sangat diperlukan agar tanaman sorgum di lapangan tidak hancur karena serangan patogen tersebut. Pemeriksaan kesehatan benih sorgum sebelum tanam sangat dianjurkan agar tanaman sorgum dapat terhindar dari serangan pathogen penyabab penyakit blas. SIMPULAN Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : Benih sorgum varietas Numbu memiliki pertumbuhan yang paling rendah, namun memiliki persentase bibit terserang dan jumlah cendawan terbawa benih yang paling kecil dibandingkan vareitas Super. Suri 3 Agritan, dan Suri 4 Agritan. Gejala penyakit yang muncul pada bibit sorgum berupa daun layu dan menguning, dan bercak karat pada pangkal batang. Cendawan terbawa benih sorgum terdeteksi sebagai Aspergillus niger. Mucor sp. Pyricularia oryzae. Rhizopus sp. Curvularia sp. , dan 4 species yang belum teridentifikasi. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 DAFTAR PUSTAKA