HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN PANJANG BADAN LAHIR DENGAN KEJADIAN STUNTING THE RELATIONSHIP BETWEEN EXCLUSIVE BREASTFEEDING AND BIRTH LENGTH WITH STUNTING INCIDENCE Dinar Nanda Sabila. Raafika Studiviani Dwi Binuko Program Studi Pendidikan Kedokteran. Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jl. Yani. Mendungan. Pabelan. Kec. Kartasura. Kabupaten Sukoharjo. Indonesia. Corresponding Author: dinarnanda1@gmail. KATA KUNCI ASI Eksklusif. Panjang Badan Lahir. Stunting. KEYWORDS Exclusive breastfeeding, birth length, stunting. ABSTRAK Stunting merupakan permasalahan kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi dalam jangka waktu yang cukup lama terutama pada 1. 000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting dapat menjadi ancaman terhadap kualitas generasi penerus bangsa karena dapat berpengaruh terhadap masa depan anak. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan panjang badan lahir dengan kejadian stunting di Kelurahan Bandarharjo. Kota Semarang. Metode: jenis penelitian observasional analitik dengan desain crosectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan data sekunder sebanyak 69 responden balita yang memenuhi kriteria restriksi. Hasil: terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting . -value = 0,000 < 0,05 dan OR = 14, . serta terdapat hubungan signifikan antara panjang badan lahir dengan kejadian stunting . -value = 0,000 < 0,05 dan OR = 11,. ABSTRACT Stunting is a chronic malnutrition problem caused by a lack of nutrient intake over a long period of time, especially in the first 1000 days of life. Stunting can be a threat to the quality of the nation's next generation because it can affect the future of children. Objective: to determine the relationship between exclusive breastfeeding and birth length with the incidence of stunting in Bandarharjo Village. Semarang City. Methods: analytic observational research with cross-sectional design. The sampling technique used purposive sampling with secondary data, as many as 69 respondents under five who met the restriction criteria. Results: There is a significant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in toddlers . -value = 0. 000 < 0,05 OR = 14, . and there is a significant relationship between birth length and the incidence of stunting in toddlers . -value = 0. 000 < 0,05 OR = 11, . PENDAHULUAN Stunting kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi dalam jangka waktu yang cukup lama terutama pada Hari Pertama Kehidupan (Wahyuni, 2. Stunting ditandai dengan adanya kegagalan pertumbuhan balita yang tidak sesuai dengan usianya, dimana nilai z-score untuk TB/U kurang 00 SD dan kurang dari -3. (Sutrio & Lupiana, 2. Stunting dapat menjadi ancaman terhadap kualitas generasi penerus bangsa karena dapat berpengaruh terhadap masa depan anak (Fitri, 2. Stunting dalam jangka waktu pendek dapat menyebabkan gangguan fisik, gangguan metabolisme tubuh, dan gangguan perkembangan otak. Stunting dalam jangka waktu panjang dapat menurunkan kemampuan kognitif yang akan mempengaruhi prestasi belajar. Stunting juga dapat menyebabkan menurunnya imunitas tubuh dan berisiko tinggi menderita diabetes, pembuluh darah, serta meningkatkan disabilitas di usia tua (Latifah dkk. Prevalensi balita pendek di Indonesia masih tergolong tinggi jika Vietnam. Malaysia. Thailand, dan Singapura di mana Indonesia menduduki peringkat 17 dari 117 negara dengan prevalensi 30,8% (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia pada tahun 2021, angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4% (Kemenkes RI. Kementrian Kesehatan pada tahun 2018 menyelenggarakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. yang menyatakan bahwa persentase balita pendek di Provinsi Jawa Tengah adalah 20,06% dan balita sangat pendek pada usia 0 - 59 bulan adalah 31,15%. Menurut data Survei Status Gizi Indonesia, persentase balita pendek di Provinsi Jawa Tengah adalah 20,9% (Kemenkes RI, 2. Persentase balita pendek usia 0-59 bulan dengan nilai tertinggi yaitu di Banjarnegara dan nilai terendah yaitu di Kota Surakarta (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2. Prevalensi stunting di Kota Semarang pada tahun 2019 adalah 26,01 % (Kemenkes RI & BPS, 2. Stunting dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pekerjaan orang tua, tinggi badan ayah dan ibu, pemberian ASI eksklusif, umur pemberian MP-ASI, panjang badan lahir, serta riwayat penyakit infeksi (Yuwanti , 2. Angka cakupan bayi memperoleh ASI eksklusif secara nasional pada tahun 2017 adalah 61,33%. Persentase ini belum memenuhi target sasaran pemerintah yaitu sebesar 80% (Kemenkes RI, 2. Putri dan Ayudia . pada penelitiannya menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting, yaitu anak yang tidak memperoleh ASI eksklusif mempunyai risiko 38,89 kali mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang memperoleh ASI eksklusif (Putri & Ayudia, 2. Maulidah dan Wahyani . pada penelitiannya menyebutkan tidak ada hubungan yang signifikan antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Desa Dukuhmaja. Kecamatan Songgom. Kabupaten Brebes (Maulidah & Wahyani, 2. Panjang badan lahir rendah diduga sebagai salah satu faktor penyebab Menurut Hidayati . pada dengan panjang badan lahir rendah mempunyai risiko 1,56 kali mengalami stunting dibandingkan anak dengan panjang badan lahir normal (Hidayati. Penelitian tersebut selaras dengan penelitian Amaliah dkk . yang menyatakan bahwa anak dengan riwayat panjang badan lahir pendek berpeluang 3,08 kali lebih besar untuk mengalami stunting dan keterlambatan perkembangan (Amaliah dkk. , 2. Pada Wahyuni . didapatkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara panjang badan (Wahyuni, 2. Berdasarkan uraian masalah di atas diketahui terdapat hubungan mengenai pemberian ASI eksklusif dengan stunting dan juga terdapat hubungan mengenai panjang badan lahir dengan stunting. sini peneliti ingin melakukan penelitian mengenai tiga hal tersebut yaitu hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan panjang badan lahir dengan kejadian stunting pada balita di Kelurahan Bandarharjo. Puskesmas Bandarharjo. Kota Semarang karena belum ada penelitian serupa yang dilakukan di tempat tersebut sebelumnya dan karena Kelurahan Bandarharjo merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Semarang Utara dengan kasus stunting tinggi. METODOLOGI Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional yaitu peneliti melakukan pengamatan atau pengukuran variabel pada satu saat tertentu (Sastroasmoro & Ismael, 2. Penelitian pengambilan data sekunder di Puskesmas Bandarharjo. Kota Semarang dan dilaksanakan pada bulan November Sampel yang dipilih dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan populasi yang sudah ditetapkan yaitu balita Kelurahan Bandarharjo usia 24-59 bulan yang memiliki data sesuai dengan yang diperlukan peneliti di Puskesmas Bandarharjo. Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling yaitu peneliti memilih responden responden tersebut dapat memberikan informasi kebutuhan penelitian (Sastroasmoro & Ismael, 2. HASIL Analisis Univariat Penelitian ini telah dilakukan pada bulan November 2022 dengan Melaku- kan pengumpulan data sekunder di Puskesmas Bandarharjo. Kota Semarang. Penelitian menggunakan responden balita sejumlah 69 responden yang telah dipilih sesuai kriteria restriksi dengan teknik purposive sampling. Tabel 1. Karakteristik Responden Karakeristik Jenis Kelamin - Laki-laki - Perempuan Pemberian ASI eksklusif - Ya - Tidak Panjang badan lahir - Ou 47 cm - O 47 cm Kejadian stunting - Tidak stunting - Stunting Dari tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah balita jenis kelamin laki-laki lebih Balita yang mendapat pemberian ASI eksklusif lebih sedikit mendapat ASI eksklusif. Balita panjang badan lahir Ou 47 cm lebih sedikit Frek . dibandingkan dengan balita panjang badan lahir < 47 cm. Balita tidak stunting lebih sedikit dibandingkan balita Analisis Bivariat Hubungan ASI eksklusif dengan kejadian stunting: Tabel 2. Hasil Uji Bivariat Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting Pemberian ASI Eksklusif Tidak Total Tidak Stunting Kejadian Stunting Stunting Total Dari tabel 2 menunjukkan bahwa dari 38 balita yang tidak mendapatkan pemberian ASI eksklusif ternyata 35 balita . ,1%) Diantaranya mengalami Pada uji statistik didapatkan nilai p value 0,000 dan nilai OR sebesar 14,167. Dapat disimpulkan terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting . value < 0,. dan balita yang tidak mendapat pemberian ASI eksklusif berisiko 14,167 kali lebih besar untuk dengan balita yang mendapat pemberian ASI eksklusif. Hubungan panjang badan lahir dengan kejadian stunting: Tabel 3. Hasil Uji Bivariat Hubungan Panjang Badan Lahir dengan Kejadian Stunting Pemberian ASI Eksklusif Ou 47 CM < 47 CM Total Tidak Stunting Kejadian Stunting Stunting Dari tabel 3 menunjukkan bahwa dari 49 balita dengan panjang badan lahir pendek (< 47 c. ternyata 42 balita . ,7%) diantaranya mengalami stunting. Pada uji statistik didapatkan nilai p value 0,000 dan nilai OR sebesar 11,143. Dapat Total signifikan antara panjang badan lahir dengan kejadian stunting . value < 0,. dan balita dengan panjang badan lahir pendek berisiko 11,143 kali lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan balita dengan panjang badan lahir Tabel 4. Hasil Uji Multivariat Variabel Pemberian ASI Eksklusif Panjang Badan Lhiar Konstanta Analisis Multivariat Dari tabel 4 menunjukkan bahwa ASI berpengaruh terhadap kejadian stunting yaitu sebanyak 20. 567 kali. Didapatkan nilai R2 sebesar 0,562 yang bermakna variabel independen dapat mempengaruhi variabel dependen secara bersamaan sebesar 56,2% sedangkan untuk 43,8% dipengaruhi oleh variabel Nilai p Exp (B) lainnya yang tidak dilakukan penelitian. Didapatkan nilai B pada kedua variabel bernilai positif yaitu 3,024 untuk variabel pemberian ASI eksklusif dan 2,815 untuk variabel panjang badan lahir, sehingga didapatkan persamaan regresi logistik penelitian ini Y = -2,113 3,024X1 2,815X2. Hasil uji regresi logistik variabel pemberian ASI eksklusif didapatkan nilai p value 0,001 < 0,05 yang berarti pemberian ASI mempengaruhi kejadian stunting. Hasil uji regresi logistik variabel panjang badan lahir didapatkan nilai p value 0,001 < 0,05 yang berarti panjang badan lahir dapat mempengaruhi kejadian stunting. PEMBAHASAN Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Penelitian Sampe dkk. menunjukkan adanya hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p value 0,000 dan nilai OR 61 yang artinya balita yang tidak mendapatkan pemberian ASI eksklusif mempunyai risiko sebesar 61 kali mengalami stunting. Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif dapat mengalami kekurangan gizi karena asupan nutrisi yang tidak adekuat (Sampe dkk. , 2. ASI mengandung zat gizi makro dan mikro yang akan perkembangan bayi sehingga dapat terhindar dari stunting (Kuswanti dkk. ASI mengandung mineral utama membantu pertumbuhan jaringan otot dan rangka (Wijaya, 2. Didukung oleh penelitian Saadong dkk . menunjukkan terdapat hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mangasa Kota Makassar dengan nilai p value 0,015 dan nilai OR 5. ASI mempunyai banyak manfaat seperti meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit, menurunkan frekuensi diare, konstipasi, infeksi telinga, dan sebagainya (Saadong dkk. , 2. Balita dengan riwayat pemberian ASI eksklusif mempunyai kekebalan tubuh yang baik sehingga mampu mengurangi risiko terjadinya infeksi virus atau Pemberian ASI eksklusif akan mencegah terjadinya diare dan infeksi pernapasan, sehingga balita dapat terhindar dari infeksi berulang yang nantinya dapat menyebabkan terjadinya Balita ASI mempunyai antibodi terhadap bakteri E. Coli yang tinggi sehingga dapat menurunkan risiko penyakit infeksi (Sumarni dkk. , 2. Kekurangan gizi kronis dan infeksi kronis berulang dapat menyebabkan anak mengalami stunting (Sutia, 2. Hubungan Panjang Badan Lahir Dengan Kejadian Stunting Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan bayi mempunyai panjang badan lahir rendah yaitu terhambatnya pertumbuhan bayi saat berada di dalam kandungan yang dapat disebabkan karena penyakit dan kurangnya zat gizi yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan (Dasantos dkk. , 2. Penelitian Fathunnikmah dkk . bermakna antara panjang badan lahir dinyatakan dengan nilai p value 0,000 < 0,05. Pada penelitiannya juga menyebutkan balita dengan panjang badan lahir pendek mempunyai risiko sebesar 9,231 kali mengalami stunting (Fathunnikmah , 2. Kekurangan gizi pada masa kehamilan menyebabkan janin mengalami reaksi penyesuaian. Reaksi penyesuaian tersebut meliputi per83 lambatan pertumbuhan janin dengan pengurangan jumlah dan sel tubuh termasuk sel-sel organ tubuh dan otak. Hasil dari reaksi penyesuaian dapat terlihat dari ukuran tubuh yang pendek dan rendahnya kemampuan kognitif anak (Rahmadi, 2. Anak dengan panjang badan lahir rendah juga lebih rentan terkena infeksi sehingga anak berisiko mengalami keterlambatan atau gangguan perkembangan (Salsabiila , 2. Infeksi menyebabkan peningkatan sitokin pro-inflamasi yaitu TNF . IL-1, dan IL-6. Sitokin tersebut dapat menekan pertumbuhan dengan menurunkan proliferasi kondrosit (Sutia. Didukung penelitian Hidayati . yang menyatakan terdapat hubungan panjang badan lahir dengan kejadian stunting ditunjukkan dengan nilai p value 0,000 < 0,05 dan nilai OR 1,56 (Hidayati. Penelitian Rahmadi . juga menunjukkan ada hubungan panjang badan lahir dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di Provinsi Lampung dengan nilai p value 0,000 < 0,05 dan nilai OR 1,56 (Rahmadi, 2. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Terdapat hubungan yang signifikan antara panjang badan lahir dengan kejadian stunting. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan panjang badan lahir dengan kejadian KEPUSTAKAAN