Jurnal Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri (PASTI) Vol. No. April 2026, 93-101 p-ISSN 2085-5869/ e-ISSN 2598-4853 Pengembangan Supplier Relationship Management untuk Mengurangi Tingkat Penolakan Produk di Perusahaan Kosmetik Hafid Maulana Yunizar1*. Wahyudi Sutopo2. Renny Rochani3 1,2,. Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik. Univeritas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. Jebres. Kec. Jebres. Kota Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia Email: hafidmaulana02@student. id*, wahyudisutopo@staff. id, rennyrochani@staff. Diterima: 16-01-2026. Direvisi: 13-04-2026. Disetujui: 13-04-2. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Supplier Relationship Management (SRM) guna mengurangi tingkat penolakan produk di perusahaan kosmetik terkemuka di Indonesia. Dengan pertumbuhan industri kosmetik yang pesat, perusahaan tersebut menghadapi tantangan untuk mempertahankan kualitas tinggi sambil meningkatkan efisiensi rantai Didapatkan bahwa tingkat penolakan yang cukup tinggi yaitu sebesar 9,52% menjadi sebuah hambatan pada produksi kosmetik. Selain itu, untuk delivery rate yang menunjukkan angka 91,50% juga menandakan bahwa pihak supplier belum mampu untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode Effect Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi dan menganalisis penyebab utama penolakan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan SRM secara signifikan dapat mengurangi tingkat penolakan melalui peningkatan kualitas pemasok, komunikasi yang lebih baik, dan kerjasama yang lebih erat antara perusahaan dan pemasok. Implementasi strategi SRM yang efektif diharapkan dapat meningkatkan daya saing perusahaan di pasar kosmetik nasional dan internasional. Kata kunci: Supplier Relationship Management (SRM). Tingkat Penolakan. Fault Tree Analysis (FTA). Failure Mode and Effect Analysisi (FMEA). Industri Kosmetik. Kualitas Produk Abstract This research aims to develop Supplier Relationship Management (SRM) to reduce the product rejection rate at cosmetic company, a leading cosmetics company in Indonesia. With the rapid growth of the cosmetics industry, the company faces the challenge of maintaining high quality while improving supply chain efficiency. It was found that the rejection rate of 52% poses a significant barrier to cosmetics production. Additionally, a delivery rate of 50% indicates that suppliers have not yet been able to meet company's requirements. This study uses a quantitative approach with Fault Tree Analysis (FTA) and Failure Mode Effect Analysis (FMEA) methods to identify and analyze the main causes of product rejection. The results show that the development of SRM can significantly reduce the rejection rate through improved supplier quality, better communication, and closer collaboration between the company and its suppliers. Effective implementation of SRM strategies is expected to enhance company's competitiveness in both national and international cosmetics markets. Keywords: Supplier Relationship Management (SRM). Rejection Rate. Fault Tree Analysis (FTA). Failure Mode and Effect Analysisi (FMEA). Cosmetics Indsutry. Product Quality Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 93-101 PENDAHULUAN Industri manufaktur khususnya pada bidang kosmetik saat ini dihadapkan pada tekanan dan permintaan yang semakin meningkat untuk memberikan produk berkualitas tinggi dan memenuhi standar kualitas yang ketat. Menurut data yang diambil dari PPA Kosmetik Indonesia, permintaan kosmetik di Indonesia pada tahun 2023 diperkirakan akan mencapai Rp 12. 441 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 115% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 11. 183 triliun. Pertumbuhan ini memicu persaingan ketat di antara perusahaan kosmetik, mendorong mereka untuk meningkatkan efisiensi produksi guna menghasilkan produk yang lebih Penekanan pada inovasi produk dan peningkatan kualitas tidak hanya dilakukan secara internal tetapi juga melalui kemitraan dengan pemasok dan pelanggan. Objek penelitian merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang Perusahaan mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat cepat sehingga bisa menjadi market leader kosmetik di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari beberapa merk ternama yang mereka produksi. Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik, objek penelitian sangat mengedepankan kualitas produk yang Konsumen menjadikan kualitas sebagai salah satu faktor terpenting dalam pemilihan produk maupun jasa (Montgomery, 2. Dalam menghadapi berbagai tantangan supply chain complexity untuk menghasilkan produk berkualitas dengan cepat, perusahaan menjalin kerjasama dengan beberapa pemasok guna mengatasi ketidakpastian permintaan seperti pemasok packaging dan pemasok bahan baku kosmetik. Namun, tingkat penolakan produk yang cukup tinggi dari salah satu supplier menjadi hambatan dalam produksi kosmetik. Selain itu, delivery rate dari supplier tersebut juga terkesan rendah yang reratanya berada dikisaran 91,50% yang menandakan bahwa supplier kurang dapat memenuhi permintaan perusahaan secara optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari supplier relationship management strategy untuk mengurangi tingkat penolakan produk dan juga meningkatkan delivery rate supplier sehingga tidak terjadi hambatan pada proses produksi dari perusahaan. Metode yang digunakan untuk mengatasi permasalahan kualitas adalah Fault Tree Analysis (FTA) yang dapat menggambarkan kombinasi kesalahan dan kegagalan yang mungkin terjadi pada suatu sistem dan pengaruhnya terhadap kegagalan sistem secara keseluruhan (Febriana & Hasbullah, 2. Analisis dilanjutkan dengan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang merupakan suatu pendekatan sistematis berbentuk tabel yang dapat membantu proses menganalisis mode kegagalan yang mungkin dan konsekuensi dari kegagalan tersebut dengan mencari nilai Risk Priority Number (RPN) (Muhazir et al. , 2. agar dapat memberikan saran perbaikan dan prioritas perbaikan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Fault Tree Analysis yang digunakan untuk mencari akar permasalahan dari tingginya tingkat penolakan produk di perusahaan kosmetik yang menjadi objek penelitian. Setelah didapatkan akar permasalahan penolakan produk maka akan dilanjutkan dengan metode Failure Mode and Effect Analysis yang berfungsi untuk mengetahui tingkat prioritas dari permasalahan yang ada. Variabel terikat dari penelitian ini adalah tingkat penolakan produk dari supplier X dan KPI buyer-supplier, sedangkan untuk variabel bebasnya adalah jumlah tingkat penolakan produk dan jumlah pengiriman produk dari supplier X yang diambil dari minggu 1-14 pada tahun 2024, serta penilaian KPI yang dilakukan oleh buyer maupun supplier. Data tersebut akan diolah terlebih dahulu menggunakan seven tools, berikut ini merupakan urutan pengolahan data: Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 93-101 Mengumpulkan data incoming rate. Membuat grafik DIFOTQ untuk mengetahui tingkat penolakan produk dan juga delivery rate oleh supplier. Penyebaran KPI kepada buyer-supplier. Pembuatan grafik buyer maupun supplier untuk mengetahui tingkat kepuasan terhadap performa masing-masing pihak. Lalu dilanjutkan dengan pencarian akar permasalahan yang ada menggunakan analisis FTA dengan melakukan FGD bersama quality team dari perusahaan dan dilanjutkan identifikasi jenis kegagalan potensial dan perhitungan Risk Priority Number. Perhitungan RPN dilakukan dengan menentukan nilai severity . ingkat keparaha. , occurance . ingkat/frekuensi kejadia. , dan detection . ingkat kesulitan deteksi kejadia. Setelah itu didapatkan rekomendasi perbaikan yang dilakukan melalui diskusi bersama kedua belah Berikut merupakan kerangka berpikir dari penelitian ini. Fase Input Process Output Incoming Rate Perhitungan DIFOTQ Pembuatan Grafik DIFOTQ KPI Buyer Supplier Perhitungan KPI Pembuatan Grafik Buyer Supplier Fase 2 : Penjabaran Akar Permasalahan Grafik Buyer Supplier Tree Fault Analysis Akar-akar Fase 3 : Pemilihan Strategi Pengembangan Akar-akar Failure Mode and Effect Analysis Usulan Perbaikan Fase 4 : Kesimpulan dan Rekomendasi Usulan perbaikan Kesimpulan Rekomendasi Fase 1 : Pemetaan Masalah Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang dikumpulkan meliputi data incoming dan reject periode minggu 1-14 Data ini akan diolah menjadi grafik DIFOTQ yang digunakan untuk Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 93-101 menganalisis performa supplier dan mengidentifikasi penyebab utama tingginya tingkat Berikut merupakan grafik DIFOTQ yang telah diolah: DIFOTQ MAP 120,00% 100,00% 100,00% 96,41% 95,18% 93,70e,45e,34i,84% 92,52% 87,22% 85,32% 85,06% 80,34% 77,15% 80,00% 92,15% 60,00% 40,00% 22,85% 20,00% 7,85% 6,30% 7,55% 6,66% 4,16% 0,00% Incoming Reject 19,66% 14,94% 14,68% 12,78% 7,48% 4,82% 3,59% 0,00% Ambition DIFOT DIFOTQ Gambar 2. Grafik DIFOTQ Supplier Minggu 1-14 Setelah perhitungan DIFOTQ, maka dilakukan penyebaran penilain buyer supplier. Penilaian buyer supplier ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan buyer maupun supplier terhadap performa masing-masing pihak. Berikut merupakan data penilaian performansi yang disebar kepada buyer supplier, untuk skala penilaian ditentukan menjadi 1-5 dengan mempertimbangkan beberapa aspek penilaian. Tabel 1. Data Penilaian Performansi Kriteria Penilaian Buyer Supplier Cost Quality Lead time Flexibility Trust Power Tranparancy Communication Commitment Economic Sustainable Social Sustainable Environtment Sustainable Berdasarkan data penilaian diatas, maka dilakukan pembuatan grafik untuk mengetahui tingkat kepuasan buyer maupun supplier. Berikut merupakan kedua grafik buyer Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 93-101 Penilaian Buyer Terhadap Supplier Penilaian Buyer 10 11 12 Kriteria Gambar 3. Grafik Penilaian Buyer Terhadap Supplier Penilaian Supplier Terhadap Buyer Penilaian Supplier 10 11 12 Kriteria Gambar 4. Grafik Penilaian Supplier Terhadap Buyer Performa kualitas dari supplier yang berada satu tingkat dibawah batas kepuasan buyer menjadi concern utama karena akan mempengaruhi proses produksi kosmetik. Maka dilakukan pencarian akar permasalahan untuk menentukan strategi pengembangan yang bagus dalam menghadapi masalah kualitas tersebut. Berikut merupakan hasil diskusi analisis FTA untuk mengetahui akar permasalahan yang menjadi penyebab turunnya performa kualitas dari supplier, terdapat 6 akar permasalahan yang menjadi penyebab utama: Tidak ada ketentuan untuk pemesanan item. Tidak ada standar untuk item khusus. Tidak ada standar untuk bahan. Kurangnya penyampaian titik kritis pengecekan. Kurang bagusnya tata letak mesin dan ruangan. Habits yang kurang bagus dari karyawan. Tahapan selanjurnya adalah pembuatan tabel FMEA berdasarkan akar permasalahan yang telah ditemukan. Untuk menghitung nilai RPN dengan menggunakan rumus: RPN = Severity (S) x Occurance (O) x Detection (D) . Severity : Penilaian terhadap keseriusan efek yang ditimbulkan dalam setiap Occurance : Nilai rating yang disesuaikan dengan frekuensi yang diperkirakan atau angka kumulatif dari kegagalan yang terjadi. Detection : Pengukuran terhadap kemampuan mengendalkan kegagalan yang terjadi. Untuk skala penilaian dari ketiga unsur diatas ditentukan 1-5 untuk semakin besar dampak tingkat keparahan, semakin sering penyebab kegagalan terjadi dan semakin sulit penyebab kegagalan diidentifikasi maka semakin tinggi juga nilai rating yang diberikan. Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 93-101 Responden dari penilaian RPN ini adalah kepala divisi quality downstream yang ada pada Tabel berikut menunjukkan hasil yang diperoleh dari perhitungan RPN. Tabel 2. Perhitungan RPN Potential Failure Mode Potential Effect of Failure Waktu Standar warna Kesalahan sortir manual Warna Tidak Sesuai Dengan CRB Current Control D RPN Tidak ada ketentuan untuk pemesanan item mendadak Pembuatan Tidak ada standar untuk item Tidak ada standar untuk Kurang penyampaian titik kritis pengecekan Alignment titik kritis Pelibatan pada standar ruangan dan mesin yang Pembentukan habits yang baru untuk Potential Cause of Failure Kurang bagusnya tata letak mesin dan ruangan Lingkungan yang tidak Aturan yang kurang ketat dan habits yang kurang baik Pelibatan supplier pada tahap product Berdasarkan tabel FMEA diatas diperoleh prioritas potensi kegagalan yang ada. Prioritas perbaikan dilakukan dengan potensi kegagalan yang paling besar ke potensi kegagalan yang paling kecil. Potensi kegagalan terbesar adalah kurangnya penyampaian titik kritis pengecekan . engan nilai RPN . , tidak adanya ketentuan pemesanan item . , tidak ada standar untuk item khusus dan bahan . , kurang bagusnya tata letak mesin dan ruang serta habits yang kurang bagus dari karyawan . Setelah dilakukan analisis mengenai potensi kegagalan dengan metode FMEA, maka dilakukan diskusi mengenai saran perbaikan untuk mengurangi tingkat penolakan yang ada. Saran perbaikan ini berfokus pada relationship management antara buyer dan supplier untuk mencakup cakupan yang lebih luas sehingga diharapkan untuk dapat diimplementasikan tidak hanya pada satu supplier saja. Berikut merupakan usulan perbaikan yang telah disetujui pada saat diskusi Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 93-101 Tabel 3. Usulan Perbaikan Strategi Relationship Management Potential Cause of Failure RPN Current Control Kurang penyampaian titik kritis Alignment titik kritis pengecekan Tidak ada ketentuan untuk pemesanan item mendadak Pembuatan sistem pemesanan yang terintegrasi Tidak ada standar untuk item khusus Pelibatan supplier pada tahap product innovation Tidak ada standar untuk bahan Kurang bagusnya tata letak mesin dan Pelibatan perusahaan pada standar desain ruangan dan mesin yang digunakan Aturan yang kurang ketat dan habits yang kurang baik Pembentukan habits yang baru untuk supplier PENUTUP Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi SRM yang paling efisien untuk meningkatkan kualitas produk dari supplier. Jumlah incoming dari supplier X pada periode minggu ke 1-14 pada tahun 2024 adalah sebesar 26. 119 item, dengan rata-rata reject rate sebesar 9,52% dan delivery rate sebesar 91,50%. Berdasarkan data dapat diidentifikasi bahwa permasalahan kualitas diatas dapat menghambat proses produksi kosmetik yang dilakukan oleh perusahaan. Maka dilakukan perhitungan KPI untuk mengetahui kepuasan masing-masing pihak terhadap satu sama lain. Setelah dilakukan perhitungan dan penilaian indeks, dapat diketahui bahwa perusahaan kurang puas dengan performa dari supplier X pada aspek kualitas yang berada satu tingkat dibawah indeks kepuasan. Hal tersebut menjadi concern perusahaan untuk memperbaiki agar nantinya produksi tidak terganggu. Akar permasalahan dicari menggunakan metode FTA. FTA dapat membantu perusahaan dalam mencari akar permasalahan dengan cara menentukan kombinasi kesalahan dan kegagalan yang terjadi pada suatu sistem dan pengaruhnya pada kualitas produk. Setelah ditemukan akar-akar permasalahan, maka akan dilakukan analisa FMEA untuk menentukan prioritas perbaikan. Analisa FMEA dilakukan dengan cara menentukan nilai RPN yang artinya faktor-faktor penyebab kecacatan tersebut memiliki dampak kerusakan, frekuensi muncul dan tingkat kesulitan diidentifikasi dan potensial kerugian. Prioritas potensi kegagalan yang ada adalah kurangnya penyampaian titik kritis pengecekan . engan nilai RPN . , tidak adanya ketentuan pemesanan item . , tidak ada standar untuk item khusus dan bahan . , kurang bagusnya tata letak mesin dan ruang serta habits yang kurang bagus dari karyawan . Setelah ditemukan priortias potensi kegagalan, maka dilakukan diskusi untuk menentukan pengembangan SRM yang optimal. Dengan rekomendasi usulan perbaikan Jurnal PASTI. Vol. No. April 2026, 93-101 diatas, diharapkan dapat mengurangi tingkat penolakan yang terjadi pada perusahaan sehingga untuk proses produksi kosmetik dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang telah DAFTAR PUSTAKA