NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 361-379 DOI: https://doi. org/10. 55606/nusantara. Available online at: https://prin. id/index. php/nusantara Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud Increasing Capacity and Reducing Vulnerability are Keys to Success Disaster Mitigation and Health Crisis Response Mount Kelud Eruption Disaster Tintin Hariyani1*. Dwi Ertiana2. Brivian Florentis Yustanta3. Rofiul Adauwiyah4. Rizki Ananda Eka5 STIKES Karya Husada Kediri. Indonesia Jalan Soekarno Hatta No 7 Pare Kediri Jawa Timur Indonesia Korespondensi penulis: tintinhariyani3@gmail. Abstract: Indonesia is prone to natural disasters because it is located at the confluence of three active tectonic plates. This condition causes high earthquake, volcano, and tsunami activity in Indonesia. Mount Kelud is the most active volcano in Indonesia with cycles that recur every 8 to 15 years. The community service method carried out is to collect data on the area, population, targets, capacity, vulnerability level, and empirical data on the 2014 eruption of Mount Kelud. Then conduct analysis, calculate estimates of health logistics needs. Keywords: Contingency. Disasters, especially reproductive health, socialize the results of the analysis, and Eruptions. Health. Reproduction conduct disaster preparedness education. This activity was carried out for 6 weeks from March 12 to April 21, 2025. Based on the results of the risk assessment, the Ngancar District. Kediri Regency area has a score of frequent risk scale, severe impact scale, and priority and impact scale in the high category. To overcome the health crisis, a contingency plan is needed, especially for the reproductive health subcluster, which includes the preparedness of target data, existing capacity in the region, the level of vulnerability, and the estimated amount of health logistics needed to anticipate the eruption of Mount Kelud. Mount Kelud has a periodic eruption pattern in 8 to 15 years. The contingency plan for dealing with the health crisis of the eruption of Mount Kelud is very important for health service stakeholders because it can minimize the adverse impacts caused, increase rapid response, and ensure smooth coordination between related institutions in dealing with the natural disaster effectively and efficiently. It also supports disaster risk reduction efforts at the community level and strengthens the resilience of local communities. Abstrak Indonesia rawan bencana alam karena letaknya yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif. Kondisi ini menyebabkan tingginya aktivitas gempa bumi, gunung api, dan tsunami di wilayah Indonesia. Gunung Kelud merupakan gunung api paling aktif di Indonesia dengan siklus yang berulang setiap 8 sampai 15 tahun sekali. Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah melakukan pendataan wilayah, penduduk, sasaran, kapasitas, tingkat kerentanan, dan data empiris letusan Gunung Kelud 2014. Kemudian melakukan analisis, menghitung estimasi kebutuhan logistik kesehatan khususnya kesehatan reproduksi, sosialisasi hasil analisa, dan melakukan edukasi kesiapsiagaan bencana. Kegiatan ini dilakukan selama 6 minggu mulai tanggal 12 Maret sampai 21 April 2025. Berdasarkan hasil pengkajian risiko didapatkan wilayah Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri memiliki skor skala risiko sering, skala dampak parah, serta skala prioritas dan dampak masuk kategori Untuk penanggulangan krisis kesehatan dibutuhkan rencana kontingensi khususnya untuk sub kluster kesehatan reproduksi, yang mencakup kesiapsiagaan data sasaran, kapasitas yang ada di wilayah, tingkat kerentanan, dan estimasi jumlah logistik kesehatan yang dibutuhkan untuk antisipasi erupsi Gunung Kelud. Gunung Kelud memiliki pola erupsi periodik dalam 8 sampai 15 tahun. Rencana kontingensi penanggulangan krisis kesehatan erupsi Gunung Kelud ini sangat penting dimiliki oleh para stakeholder pelayanan kesehatan karena dapat meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan, meningkatkan respons cepat, dan memastikan kelancaran koordinasi antar lembaga terkait dalam menghadapi bencana alam tersebut secara efektif dan efisien. Hal ini juga mendukung upaya pengurangan risiko bencana di tingkat komunitas dan memperkuat ketahanan masyarakat setempat. Article History: Received: Mei 30, 2025. Revised: Juni 30, 2025. Accepted: Juli 29, 2025. Online Available: Juli 30, 2025 Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud Kata kunci : Bencana. Erupsi. Kesehatan. Kontingensi. Reproduksi PENDAHULUAN Bencana alam merupakan sebab dari perpaduan aktivitas alami . uatu peristiwa, seperti letusan gunung api, gempa bumi, tanah longsor, banji. dan aktivitas manusia. Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penganggulangan bencana, bencana merupakan kejadian yang mengancam kehidupan manusia yang disebabkan oleh alam maupun non-alam yang mengakibatkan kehilangan harta dan kerusakan lingkungan serta adanya korban Indonesia rawan bencana alam karena letaknya yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif (Eurasia. Indo-Australia, dan Pasifi. , serta di jalur Cincin Api Pasifik . ing of Kondisi ini menyebabkan tingginya aktivitas gempa bumi, gunung api, dan tsunami di wilayah Indonesia. Selain itu. Indonesia yang merupakan negara tropis juga memiliki curah hujan tinggi, yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerawanan bencana di suatu daerah meliputi letak geografis kondisi geologi, iklim, kepadatan penduduk, dll. Meskipun besarnya risiko untuk mengalami bencana berbeda beda antar wilayah, namun secara umum semua wilayah di Indonesia adalah rawan Sehinga penting untuk diingat bahwa semua wilayah di Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana (Harmain, 2021. Hutagalung et al. Mujiyati, 2. Krisis kesehatan merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa, korban luka/sakit, pengungsian dan/atau adanya potensi bahaya yang berdampak pada kesehatan masyarakat yang membutuhkan respons cepat di luar kebiasaan normal dan kapasitas kesehatan tidak memadai. Jenis-jenis krisis kesehatan yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana social. Bencana alam meliputi : gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, tanah longsor, angina putting beliung, dll. Bencana non alam meliputi epidemic atau wabah, kecelakaan transportasi, kebakaran, kegagalan teknologi, kecelakaan industry, dll. Bencana social meliputi kerusuhan, konflik sosial, dan krisis ekonomi (Batjo et al. , 2022. Khusuma, 2022. Rinaldi, 2021. Sosronegoro, 2. Kediri memiliki risiko bencana dengan kategori tinggi karena potensi adanya erupsi gunung Kelud yang merupakan gunung api paling aktif di Indonesia. Dalam catatan kejadian erupsi gunung Kelud selalu berulang siklusnya setiap 8 sampai 15 tahun sekali. (Heriza, 2. Gunung Kelud termasuk dalam tipe stratovulkan Seperti banyak gunungapi lainnya di Pulau Jawa. Gunung Kelud terbentuk NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 361-379 akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek . -25 tahu. , sehingga menjadikannya berbahaya bagi manusia(Hidayat, 2023. Syarifuddin, 2. Letusan Gunung Kelud yang terakhir terjadi adalah letusan pada tahun 2014 yang dianggap lebih dahsyat daripada Letusan . , hujan kerikil yang cukup lebat dirasakan warga di wilayah Kecamatan Ngancar. Kediri. Jawa Timur. Dampak berupa abu vulkanik bahkan mencapai Kabupaten Sleman. Yogyakarta, hingga Kabupaten Ciamis. Bandung dan beberapa daerah lain di Jawa Barat (Kurniasih, 2023. Yusuf et al. Bencana Gunung Api Kelud merupakan salah satu jenis bencana geologi yang ditandai dengan letusan eksplosif gunung berapi aktif di wilayah Jawa Timur, tepatnya di perbatasan Kabupaten Kediri. Blitar, dan Malang. Gunung Kelud memiliki sejarah letusan yang cukup sering dan dahsyat, dengan dampak yang meluas hingga ke daerah di luar provinsi. Letusan terakhir pada tahun 2014 menyemburkan material vulkanik berupa abu, kerikil, dan awan panas hingga radius puluhan kilometer, mengganggu aktivitas masyarakat serta merusak lingkungan, infrastruktur, dan sektor pertanian. Karakteristik bahaya bencana Gunung Api Kelud di Kabupaten Kediri. Jawa Timur, sangat dipengaruhi oleh sifat erupsi gunung ini yang tergolong eksplosif dan cepat. Gunung Kelud dikenal sebagai salah satu gunung api aktif yang memiliki sejarah letusan dahsyat dengan interval yang tidak menentu. Salah satu ciri khasnya adalah letusan eksplosif yang menghasilkan kolom erupsi tinggi, lontaran material pijar, dan awan panas . yroclastic flo. yang menyapu wilayah di sekitarnya dalam waktu singkat. Kecepatan dan kekuatan letusan ini sering kali menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur dalam radius yang cukup luas. (Aksa et al. , 2021. Prasongko, 2020. Pergub jatim, 2. Bahaya utama lainnya adalah hujan abu vulkanik yang dapat menyebar hingga ratusan kilometer tergantung arah angin, sebagaimana terjadi pada letusan tahun 2014. Abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan pernapasan, merusak tanaman, mencemari air, serta melumpuhkan aktivitas transportasi dan ekonomi. Selain itu, adanya material vulkanik longgar di lereng gunung pasca-letusan meningkatkan risiko lahar hujan, yaitu aliran lumpur bercampur material vulkanik yang dapat melanda pemukiman, sungai, dan lahan pertanian di bagian hilir. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis sebagai seorang dosen di kampus program studi Pendidikan Profesi Bidan STIKES Karya Husada Kediri bersama sama dengan mahasiswa melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat sebagai wujud nyata dari tri dharma perguruan tinggi. Adapaun bentuk kegiatan pengabdian masyarakat yang kami laksanakan Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud adalah penyusunan rencana kontingensi penanggulangan krisi kesehatan sub kalster kesehatan reproduksi bencana erupsi gunung Kelud di Kediri. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk penilaian risiko, identifikasi jalur evakuasi, rencana penanganan darurat, mitigasi bencana, dan menyusun dokumen kontingensi pada sub klaster kesehatan reproduksi di wilayah kecamatan Ngancar kabupaten Kediri. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan beberapa tahapan, meliputi: survey dan pendataan, penilaian risiko bencana, menetapkan peta risiko bencana, mengidentifikasi rute evakuasi bencana, menusun rencana kontingensi penanggulangan krisis kesehatan, sosialisasi rencana kontingensi, implementasi, dan evaluasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan selama 6 minggu mulai tanggal 12 Maret sampai tanggal 21 April 2025. Lokasi kegiatan adalah di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri. Kecamatan Ngancar dipilih karena merupakan wilayah yang terdekat dengan puncak gunung kelud sehingga menjadi wilayah paling berisiko terhadap bencana erupsi. Proses pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dalam beberapa tahapan : Melakukan survei dan pendataan secara primer maupun sekunder. Survey dilakukan terhadap 10 desa yang berada di wilayah kecamatan Ngancar kabupaten Kediri. Data yang dikumpulkan meliputi data demografi, data sasaran pelayanan kesehatan reproduksi, data sumber daya pelayanan kesehatan, data kapasitas dan kerentanan bencana, data rute evakuasi bencana, dan empiris bencana sebelumnya. Melakukan analisis atau penilaian risiko bencana. Penilaian risiko bencana dilakukan dengan menggunakan cara skala risiko bencana dan skala dampak bencana. Pedoman penilaian dan besaran risiko menggunakan data yang telah di tetapkan dalam peraturan gubernur jawa Timur nomor 53 tahun 2023 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana provinsi. Membuat peta risiko bencana berdasarkan informasi pengalaman bencana sebelumnya. Peta bencana meliputi lokasi titik bencana dan area terdampak bencana yaitu area ring 1, area ring 2, dan area ring 3. Peta risiko bencana juga memuat lokasi rentan dan fasilitas kesehatan yang tersedia. Mengidentifikasi rute evakuasi bencana yang telah ada. Kemudian melakukan pengecekan dilapangan tentang kondisi rute evakuasi dan papan petunjuk rute evakuasi. Selain itu NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 361-379 mengecek kondisi sarana jalan yang menjadi rute evaluasi, apakah dalam kondisi baik atau mengalami kerusakan. Menyusun rencana kontingensi penanggulangan krisis kesehatan. Rencana kontingensi ini meliputi menghitung jumlah sasaran kesehatan reproduksi, menghitung jumlah kebutuhan Paket Pelayanan Awal Minimun (PPAM) untuk sasaran kesehatan reproduksi, menghitung kebutuhan logistik kesehatan reproduksi. Melakukan sosialisasi dengan presntasi hasil pendataan dan rencana kontingensi kepada lintas sector yang ada di wilayah kecamatan Ngancar meliputi kepala desa, bidan desa, bidan koordinator, kepala puskesmas, penanggungjawab Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), penanggung jawab program gizi, penanggung jawab KB, dll. Sosialisasi hasil pendataan ini dilakukan dalam rangka menyamakan persepsi, dan mengevaluasi hasil pendataan. Tujuan utamanya untuk menghindari adanya kesalahan data mengingat data diambil dari banyak sumber dan mengalami update sesuai dengan periode waktunya. Melaksanakan Implemetasi Gerakan Edukasi Ngancar Tangguh Bencana (GENTANA). Implementasi ini merupakan kegiatan edukasi berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mitigasi dan respon bencana. Karena cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak terhadap bencana adalah dengan meningktkan kapasitas dan menurunkan kerentanan. Menyusun rencana tindak lanjut terhadap kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi melakukan edukasi kepada masyarakat secara berkelanjutan, penguatan kapasitas kader tangguh bencana pada desa yang sudah berstatus desa tangguh bencana, pembentukan kader pada desa yang belum berstatus tanguh bencana, dan melakukan advokasi pada pihak terkait untuk mendapatkan dukungan keberlanjutan kegiatan pengabdian masyarakat ini. HASIL Hasil Survei dan Pendataan Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Per Wilayah Desa Kecamatan Ngancar Kabuaten Kediri Tahun 2024 Desa Sempu Sugihwaras Pandantoyo Babadan Bedali Manggis Margourip Ngancar 55 thn Total Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud Jagul Kunjang Total Sumber : Puskesmas Ngancar . Tabel 2. Data Sasaran Sub Klaster Kesehatan Reproduksi Berdasarkan Wilayah Desa Bulan Januari-April 2025 Desa Hamil Sempu Sugihwaras Pandantoyo Babadan Bedali Manggis Margourip Ngancar Jagul Kunjang Total Bersali Bayi Balita Remaja Wanita WUS PUS Lansia Total Sumber : Puskesmas Ngancar . Tabel 3. Data Akseptor KB Berdasarkan Metode Per Wilayah Desa Januari-April 2025 Desa Sempu Sugihwaras Pandantoyo Babadan Bedali Manggis Margourip Ngancar Jagul Kunjang Total Kondom Pil Suntik Implan IUD MOW Total Sumber : Puskesmas Ngancar . Tabel 4. Data Tenaga Kesehatan di Kecamatan Ngancar Nama faskes Status SpA Pemberi Pelayanan Kesehatan Dr umum Bidan Perawat Puskesmas Ngancar Aktif Nakes lain sebutkan dan Ahli gizi : 1 Polindes Babadan TPMB Babadan Pustu Margourip Pustu Bedali Poskesdes Manggis TPMB Manggis Klinik AKA Klinik Almuqid Pustu Sugihwaras TPMB Sugiwaras Posyandu Remaja Aktif Aktif Aktif Aktif Tidak Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif SpOG NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 361-379 Poskesdes Sempu Polindes Jagul Tpmb Jagul Polindes Kunjang Klinik Wardi Rahayu Total Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Sumber : Puskesmas Ngancar . Tabel 5. Kapasitas Desa Tanguh Bencana Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri Tahun 2025 Nama Desa Desa siaga Kader Bencana Ada /Tidak Kader Bencana Aktif/ Sempu Sugihwaras Pandantoyo Babadan Bedali Manggis Margourip Ngancar Jagul Kunjang Tidak Ada 25 Ada Tidak Ada, 31 Ada,28 Ada, 41 Ada, 37 Ada 39 Ada, 32 Ada, 33 Aktif Tidak Tidak Aktif Aktif Tidak Aktif Aktif Tidak Aktif Simulasi / pelatihan penanganan bencana pada periode tahun 1 -2 thn 1 tahun 1 tahun 1 tahun 3-4 thn 5 thn 3,5 tahun 3,5 tahun Sumber : Kecamatan Ngancar . Tabel 6. Rute Evakuasi Nama Desa Rute evakuasi Tidak / Sempu Sugihwaras Pandantoyo Babadan Bedali Manggis Margourip Ngancar Jagul Kunjang Ada Ada Ada Tidak Ada Ada Ada Ada Tidak Ada Ada tanpa petunjuk yang Kondisi jalur evakuasi Petunjuk dan rambu jelas Rusak Cukup Baik Jelas Jelas Jelas Oo Oo Oo Jelas Jelas Jelas Jelas Oo Oo Oo Oo Jelas Oo Tidak Tidak Sumber : Kecamatan Ngancar . Data Riwayat Letusan kelud 2014 C Tanggal kejadian : 13 Februari 2014 C Jam erupsi : Pukul 22. 50 WIB C Peringatan dini status gunung berapi: Waspada : ditetapkan pada tanggal: 2 Februari 2014 Siaga : ditetapkan pada tanggal: 5 Februari 2014 Awas : di tetapkan pada tanggal 13 Februari 2014 pukul 21:15 WIB C Jarak plandaan . aterial alira. : A8 km Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud C Jarak lontar material : A20-30km . ebu mencapai Yogyakarta. Solo. Bandung hingga Cilaca. C Kejadian erupsi ulang : tidak terjadi setelah letusan pertama C Lama kejadian . urasi erups. : A3 hari . ktifitas utama yang terjadi tanggal 13- 15 februari 2. C Luas area terdampak : A15. 000 Ha . eliputi area kediri, blitar, malan. C Ketersedian jalur evakuasi : tersedia, namun sempat padat saat kejadian C Ketersediaan alat evakuasi : terbatas . mbulan desa, mobil pribad. C Jumlah populasi terdampak : A56. 089 jiwa dikecamatan ngancar Dampak letusan : abu vulkanik tebal, kerusakan rumah, gangguan pernafasan, lahan pertanian rusak, hewan ternak mati, kerusakan infrastruktur, terhentinya sektor ekonomi dan pendidikan C Potensi bencana ikutan yang terjadi : hujan abu. ISPA, krisis air bersih, mata merah Peta Risiko Bencana Erupsi Gunung Kelud Gambar 1. Kawasan rawan Bencana (KRB) Gunung Kelud (Wijaya, 2. C Area Ring 1 . erdampak para. : warna merah ada 2 desa yaitu Desa Sempu dan Sugihwaras. Area Ring 2 . erdampak sedan. : ada 4 desa yaitu desa Ngancar. Desa babadan. Pandantoyo, dan desa Manggis. Area Ring 3 . erdampak ringa. : desa Jagul, desa Kunjang. Desa Margourip dan desa Bedali NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 361-379 Penilaian Risko Bencana Erupsi Gunung Kelud Tabel 7. Analisis Risiko Skala Probalititas Erupsi Gunung Kelud VARIABEL NILAI Sangat sering Sering Kadang kadang Jarang Sangat jarang PENILAIAN KETERANGAN Diprediksi muncul 1-5 tahun/ bulan/ hari Kejadian yang biasa terjadi 1 kali dalam 10 Kadang kadang terjadi 1 kali dalam 20 Kejadian yang tidak biasa terjadi 1 kali dalam 100 tahun Tidak lazim terjadi diperkirakan tidak akan terjadi lebih dari 1 kali dalam 500 tahun Tabel 8. Skala Dampak Erupsi Gunung Kelud (D) VARIABEL NILAI Sangat parah Parah Cukup parah Ringan Tidak parah PENILAIAN KETERANGAN Diprediksi 100% wilayah hancur dan lumpuh 50-75% wilayah hancur dan lumpuh membutuhkan bantuan dari luar 10 Ae 50% wilayah hancur membutuhkan sumber daya lokal Kurang dari 10% wilayah yang terkena Dampak bencana tidak berpengaruh Tabel 9. Skala Prioritas Erupsi Gunung Kelud RISIKO SANGAT TINGGI RISIKO TINGGI RISIKO SEDANG RISIKO RENDAH RISIKO SANGAT RENDAH SKALA PRIORITAS Tabel 10. Analisis Risiko Skala Dampak Erupsi Gunung Kelud Variable Ancaman : Frekwensi Gambaran kemungkinan suatu bahaya / ancaman terjadi Intensitas Kekuatan dan kecepatan secara kuantitatif/kualitatif Dampak Seberapa besar akibat bahaya terhadap kehidupan rutin, apakah parah, sedang atau ringan Keluasan Luasnya dareah yang terkena secara geografis Skor Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud Kurun waktu Rentang waktu lamanya bencana / kedaruratan berlangsung Total Kerentanan Fisik Kekuatan fisik bangunan fisik terhadap bencana dan bagaimana sistem transportasi dan telekomunikasi saat terjadi bencana Social Bagaimana proporsi kelompok rentan dan status kesehatan Ekonomi Kondisi kerapuhan ekonomi dalam menghadapi ancaman / bahaya Total i Kapasitas Kebijakan Ada/tidaknya kebijakan, peraturan, perundangan , perda, protap, ttg penanggulangan krisis kesehatan Kesiapsiagaan Ada tidaknya sistem peringatan dini dan rencana kontingensi Peran serta masyarakat Apakah masyarakat peduli dan terlibat dalam penanganan bencana Total SKOR TOTAL (I,II,. Skor ancaman dan kerentanan Skor kapasitas 1= ancaman / kerentanan dengan risiko rendah 2= ancaman / kerentanan dengan risiko sedang 3 = ancaman / kerentaman dengan risiko tinggi 13 9 6 = 28 1= kemampuan rendah 2= kemampuan sedang 3= kemampuan tinggi Penghitungan skor : Skor total = 28 (RISIKO SANGAT TINGGI) : risiko rendah : risko sedang : risiko tinggi : risko sangat tinggi Bedasarkan peraturan gubernur nomor 53 tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Penangulangan Bencana Provinsi : Gunung Kelud memiliki risiko sangat tinggi dan kecenderungan yang meningkat. Rencana Kontingensi Penanggulangan Krisis Kesehatan Sub Klaster Kesehatan Reproduksi Skenario Bencana Pada Tanggal 13 Februari 2014 Jam 22. 50 WIB telah terjadi erupsi gunung kelud dengan tinggi kolom abu vulkanik 17 Km ke arah atmosfer. Erupsi ini melepaskan banyak material vulkanik dalam jumlah besa. Disertai awan panas dan lontaran bom vulkanik, serta hujan abu pekat mencapai radius ratusan KM dari pusat letusan. Asumsi dampak Bencana NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 361-379 Material piroklastik menyebar dengan cepat menutup jalan , merusak rumah, dan merobohkan atap bangunan di wilayah sekitar. Lokasi terdampak mencapai 10 Km dari pusat erupsi. Penduduk terdampak di wilayah kecamatan ngancar sejumlah sejumlah 000 jiwa. Terdapat 22 orang dengan patah tulang. Ada 15 yang mengalami luka robek pada kaki dan tangan. Penduduk terdampak di evakuasi dan untuk sementara harus tingal ditempat pengungsian. Pemerintah kabupaten menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Rencana Aksi o Identifikasi Masalah dari Skenario Tabel 11. Identifikasi Masalah dari Skenario Skenario Pada tanggal 13 Februari 2014 Jam 22. 50 WIB telah terjadi erupsi gunung kelud dengan tinggi kolom abu vulkanik 17 Km ke arah atmosfer. Erupsi ini melepaskan banyak material vulkanik dalam jumlah Disertai awan panas dan lontaran bom vulkanik, serta hujan abu pekat mencapai radius ratusan KM dari pusat letusan. Erupsi menyebabkan material piroklastik menyebar dengan cepat menutup jalan , merusak rumah, dan merobohkan atap bangunan di wilayah sekitar. Lokasi terdampak mencapai 10 Km dari pusat erupsi. Jumlah penduduk yang hrs dievakuasi dan tinggal dipengungsian sejumlah 10. 000 jiwa. Tenaga kesehatan juga menjadi korban akibat erupsi. Puskesmas tidak bisa menjalankan fungsi pelayanan Sarana, prasarana, yang tidak berfungsi : listrik, jaringan seluler, internet, jalan penuh dengan pasir dan material vulkanik sehingga sulit untuk dilewati Selama masa tanggap darurat banyak korban bencana mengalami gangguan pernapasan akibat polusi debu Sehingga pemerintah daerah menutuskan 14 hari masa tanggap darurat bencana Daftar masalah 000 jiwa Ngancar Tenaga kesehatan dan puskesmas terkena dampak secara langsung sementara banyak korban yang harus segera mendapatkan pertolongan Sarana prasarana tidak berfungsi Jalan sulit dilewati karena material vulkanik berupa pasir yang tinggi nya mencapai 20-30 cm Selama masa tanggap darurat muncul penyakit ISPA Koordinasi tim penanggulangan bencana Pengaturan tenaga cadangan dan relawan o Kebijakan dan Strategi Mengatasi Masalah Tabel 12. Kebijakan dan Strategi Mengatasi Masalah Identifikasi Kebijakan Strategi menjamin pemenuhan kebutuhan dasar. Penyiapan Lokasi penggungsian penduduk kecamatan seluruh pengungsi . akanan, air bersih,. Pemetaan dan pendataan pengungsi Ngancar mengungsi tempat tinggal, layanan Kesehata. Pelayanan Kesehatan dasar melindungi kelompok rentan . bu hamil . Penyiapan logistic dan distribusi bayi, balita, lansia, difabe. mengkoordinasikan sumberdaya lintas sektor. emerintah daerah. BPBD. LSM. Masyaraka. Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud Tenaga Menjamin kesinambungan pelayanan . Mendirikan pos Kesehatan darurat puskesmas Kesehatan dengan system triase dan rujukan Pemulihan fasyankes . Relokasi Kesehatan ke wialyah aman korban yang harus segera mendapatkan Sarana Menjamin aksesibilitas dan kelancaran jalur. Menggunakan drone atau tim relawan tidak berfungsi evakuasi serta distribusi bantuan rapid assessment . enilai kerusakan Jalan sulit dilewati5. Memprioritaskan perbaikan infrastruktur jalan, jembatan, sumber ai. material dasar berkoordinasi dengan lintas sektor . Relawan dan warga gotong royong Menetapakan rute alternatif dan titik untuk pasir yang tinggi nya distribusi logistic memperbaiki kerusakan infra struktur mencapai 20-30 cm 7. Melakukan jalur. Melakukan penyemprotan air untuk berkoordinasi dengan TNI Polri mengurangi debu yang berterbangan . Menggunakan HT /toa/ pengumuman Masyarakat Menggunakan Jenset untuk suplai Listrik di posko penggusian dan pelayanan medis Selama masa . Menjamin layanan Kesehatan mulai dari . Memberikan pelayanan kesehatan tanggap darurat pencegahan hingga pengobatan pada masa darurat di posko muncul penyakit tanggap darurat Melakukan pencatatan kasus dan ISPA, penyakit . Mengendalikan penularan penyakit saluran laporan harian untuk mendeteksi dini mata dan penyakit pernafasan,penyakit mata dan kulit,melalui wabah intervensi kesehtan dan pengelolaan . Distribusi obat obatan dan juga alat APD Pengadaan air bersih, ketersedia MCK yang memadai, tempat sampah yang tertutup . Melakukan rujukan untuk kasus sedang - berat Koordinasi tim . Memastikan ketersediaan tenaga cadangan. Melakukan pendatan dan penugasan dan relawan tenaga Cadangan dan relawan . Menjamin system komando dan system . Pembentukan pos komando lapangan Pengaturan tenaga koordinansi yang jelas antar lintas sektor dan system komando terpadu (ICS) cadangan dan . Pelatihan bagi relawan baru C Kebutuhan Sub Klaster Kesehatan Reproduksi Tabel 13. Standar Minimal Kebutuhan Tenaga Kesehatan Pada Erupsi Gunung Kelud Estimasi Pengungsi 10. Tenaga kesehatan Dokter umum Perawat Apoteker Bidan Sp. Emergency medicine Sp. Bedah umum Sp. Ortopedi Sp. Obgyn Sp. Anak Sp. Penyakit dalam Standar minimal 1 x 130% per 1000 jiwa 2,7 x 130% per 1000 jiwa 1-2 per department 2 per 1000 jiwa 3 x 130% per 1000 jiwa Jumlah pasien bedah : 5 Jumlah pasien : 10 0,03 per 1000 jiwa 0,024 x 130% per 1000 jiwa 0,03 x 130% per 1000 jiwa NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 Hasil 0,312 0,39 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 361-379 Sp. Pulmonology Sp. Kulit dan kelamin Sp. Rehab medic Psikiater dan psikolog Sp. Mata Sanitarian Gizi Epidemiolog 0,02 x 130% per 1000 jiwa Rasio dr umum : dr kulit = 57 : 1 1 : 20 pasien 1 per 20. 000 jiwa 1 x 130% per 43. 0,21 x 130% per 1000 jiwa 0,35 x 130% per 1000 jiwa 1: 200. 000 jiwa 0,22 0,05 Tabel 14. Estimasi Jumlah Sasaran Sub Klaster Kesehatan Reproduksi (Estimasi jumlah pengungsi 10. Variabel Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rat. 945% kecamatan Ngancar Kediri (Puskesmas Ngancar 2. Wanita usia subur Estimasi jumlah kelahiran dalam 1 tahun Estimasi jumlah kelahiran dalam 1 bulan Estimasi jumlah kejadian abortus Estimasi jumlah kehamilan dalam 1 tahun Perhitungan 45/1000 45 x 10 Hasil 27% x pengungsi 9,45/1000 x 10 = A A : 12 = B A x 25% =C A C=D 94,5 23,6= Estimasi jumlah ibu hamil pada satu bulan 70% x D 70x118,1= Laki laki dewasa 20% x 10. Perempuan dewasa 50% x 10. 000 =E Estimasi Infeksi Menular Seksual (IMS) 5% x E Ulkus kelamin 20% x250 =50 Sindrom cairan uretra 50% x 250=125 Sindrom cairan dari vagina 30% x250 =75 Kebutuhan tranfusi darah 2% x 10. Pertolongan persalinan 9,45% x 10. 000 : 4 x 63% = F Penanganan keguguran 20% x 118,1= G Jahitan perinemum 15% x F = Estimasi kebutuhan alat kontraspesi Kondom 20% x 10. 000 x 2,5% x 3 pcs cadangan 20% = 180 Pil KB WUS = 25% x 10. 000 x 13% 7,87 82,67 14,88 23,62 2,23 Suntik AKDR Implant Pil kontrasepsi darurat WUS = 25% x 10. 000 x 29% WUS = 25% x 10. 000 x 4. WUS = 25% x 10. 000 x 4. WUS = 25% x 10. 000 x 2% Korban perkosaan WUS = 25% x 10. 000 x 2% Tabel 15. Kebutuhan Khusus PPAM Nama KIT Dignity Kit Kit ibu hamil Kit ibu Bersalin Kit bayi baru lahir Sasaran Target jumlah Wanita usia 15 Ae 49 Ibu hamil Ibu bersalin Bayi usia 0-3 bulan Keterangan KIT Tas warna biru 82,67 14,88 Tas warna hijau Tas warna orange 59,53 Tas warna merah Meningkatkan Kapasitas Menurunkan Kerentanan Kunci Sukses Mitigasi Bencana Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Erupsi Gunung Kelud Kit balita 12-60 bulan Tas warna kombinasi merah muda dan biru muda Kit remaja perempuan Kit remaja laki laki Kit lansia perempuan Tas warna merah muda Tas warna biru tua Tas warna ungu Kit lansia laki laki 10 Ae 19 tahun 10 Ae 19 tahun Wanita usia > 60 Laki laki usia > 60 Tas warna hitam Tabel 16. Estimasi Kebutuhan Logistik Nomor KIT Target jumlah Kit 6 Kit 7 Kit 8 Kit Kesehatan Reproduksi . isesuakan dengan kondisi Indonesi. Kit administrasi Kit kondom Kit persalinan bersih Kit korban perkosaan Kit kontrasepsi oral / suntik Kit pengobatan infeksi menular seksual . lkus kelamin, sindrom cairan dari uretra, sindrom cairan dari vagina ) Kit pertolongan persalinan di klinik Kit alat kontrasepsi AKDR dan implant Kit penanganan keguguran dan komplikasi keguguran Kit 0 Kit 1 Kit 2 Kit 3 Kit 4 Kit 5 Kit 9 Kit 10 Kit 11 Kit penjahitan perineum Kit persalinan dengan vakum Kit ditempat rujukan pelayanan kesehatan reproduksi Kit 12 Kit tranfusi darah 180 pcs 325 / 725 50, 127, 75 11,7 dan 11,7 3,62 Tabel 17. Estimasi Kebutuhan Logistik Penunjang Jenis logistic Alat, obat dan bahan Tenda multi fungsi dan furniture. ATK dll Generator Tempat sampah Materi KIE Item Kit persalinan lapangan Tenda kesehatan reproduksi Tenda ramah remaja Tenda ramah perempuan . Kegiatan kelompok lansia Kegiatan balita Generator dan perlengkapan penerangan / lampu Tempat sampah sesuai dengan jenis limbah : medis, non media, safety box Banner. Spanduk. Radio. Player. Konten Target jumlah 10, 10, 5 @ 5 pcs DISKUSI