Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Volume 16 . 44 Ae 56 Mei 2026 ISSN: 2088-3072 (Prin. / 2477-5886 (Onlin. DOI: 10. 25273/counsellia. Available online at: https://e-journal. id/index. php/JBK Penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing untuk meningkatkan empati siswa SMP Restu Daud Prayogo1 uO. Asieline Wahyu Tri Ardyanti2 Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya uO restudaudprayogo@gmail. Abstrak: Rendahnya tingkat empati pada siswa SMP menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius, mengingat empati merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosional yang mendukung perkembangan sosial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan empati siswa SMP. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian pre-experimental dan desain One Group Pretest-Posttest Design. Sampel berjumlah 10 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan skor empati terendah dari 86 siswa kelas 7. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner empati Interpersonal Reactivity Index (IRI) dari Davis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,907. Teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai Z = -2,823 dengan nilai Asymp. Sig. -taile. = 0,005 < 0,05, sehingga hipotesis alternatif diterima. Seluruh siswa mengalami peningkatan skor empati setelah mendapatkan treatment, dengan rata-rata peningkatan sebesar 10,6 poin. Temuan ini membuktikan bahwa bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan empati siswa SMP dan berdampak pada pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang lebih interaktif untuk membantu meningkatkan kemampuan sosial dan kepedulian siswa terhadap orang lain. Kata kunci: Bimbingan Kelompok. Empati. Role Playing. Siswa SMP. Abstract: The low level of empathy among junior high school students is a problem that requires serious attention, given that empathy is an important aspect of emotional intelligence that supports students' social development. This study aims to examine the effectiveness of group guidance using role playing techniques in improving the empathy of junior high school students. This study employed a quantitative method with a preexperimental research type and a One Group Pretest-Posttest Design. The sample consisted of 10 students selected using purposive sampling based on the lowest empathy scores from 86 seventh-grade students. The instrument used was Davis's Interpersonal Reactivity Index (IRI) empathy questionnaire, which had been tested for validity and reliability with a Cronbach's Alpha value of 0. Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed a Z value of -2. 823 with an Asymp. Sig. -taile. = 0. 005 < 0. 05, so the alternative hypothesis was accepted. All students experienced an increase in empathy scores after receiving the treatment, with an average improvement of 10. 6 points. These findings prove that group guidance with role playing techniques is effective in improving the empathy of junior high school students and has implications for the development of more interactive counseling and guidance services to enhance students' social skills and concern for others. Keywords: Empathy. Group Guidance. Junior High School Students. Role Playing. Prayogo. Ardyanti. Penerapan bimbingan kelompok A. Received: 24-02-2026. Accepted: 27-04-2026. Published: 02-05-2026 Citation: Prayogo. Ardyanti. Penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing untuk meningkatkan empati siswa SMP. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. 44 Ae 56. Doi: 10. 25273/counsellia. Copyright A2026 Counsellia: Bimbingan dan Konseling Published by Universitas PGRI Madiun. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercialShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Sudarminta . alam Mulinda dkk, 2. , penanaman nilai-nilai kehidupan merupakan dasar untuk membentuk karakter manusia, termasuk kemampuan empati yang menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial siswa. Pendidikan karakter adalah isu penting dalam proses pendidikan yang diselenggarakan pada seluruh tingkatan pendidikan. Pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif siswa, namun juga bertujuan membentuk kepribadian yang utuh, kepribadian yang mampu mengontrol diri, termasuk sikap dan perilaku sosial. Para ahli di bidang pendidikan dan psikologi perkembangan menekankan pentingnya pelaksanaan program-program pendidikan yang berbasis nilai sebagai upaya strategis dalam menumbuhkan karakter positif dan empati pada diri siswa. Program berbasis nilai dipandang mampu memfasilitasi siswa dalam memahami, merasakan, dan menghargai kondisi emosional orang lain, sehingga empati dapat berkembang secara optimal sebagai bagian dari proses pembentukan kepribadian. Goleman . alam Chairunnisa dkk, 2. menyatakan bahwa empati merupakan salah satu komponen penting dalam kecerdasan emosional yang berperan dalam mendukung perkembangan keterampilan sosial dan moral individu. Secara teoritis, para ahli memahami empati sebagai konstruk multidimensional yang mencakup dimensi kognitif dan afektif. Rogers (Chairunnisa dkk, 2. menekankan kemampuan individu untuk memahami perspektif orang lain secara mendalam, sementara Eisenberg (Sari dkk, 2. menjelaskan bahwa empati melibatkan aspek afektif berupa kemampuan merasakan kondisi emosional orang lain, serta aspek kognitif berupa proses intelektual untuk memahami perspektif mereka secara tepat. Lebih lanjut. Hurlock . alam Mulinda dkk, 2. mendefinisikan empati sebagai kemampuan individu untuk memahami emosi orang lain sekaligus mengimajinasikan dirinya berada di posisi orang tersebut, sedangkan Baron . alam Mulinda dkk, 2. menekankan kemampuan menganalisis pikiran dan perasaan orang lain sebagai dasar untuk merespons secara tepat. Merujuk pada konseptualisasi Davis . alam Nafilasari dkk, 2. , empati terdiri atas empat aspek utama, yaitu perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress. Berdasarkan sintesis berbagai pandangan para ahli tersebut, empati dapat dipahami sebagai kemampuan multidimensi yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan perilaku dalam merespons kondisi emosional orang lain. Keempat aspek Davis tersebut secara komprehensif menggambarkan dimensi empati yang perlu dikembangkan pada diri peserta didik dalam interaksi sosial, sekaligus menjadi landasan konseptual dalam pelaksanaan treatment pada penelitian ini. Setiap remaja pada dasarnya memiliki potensi empati dalam dirinya. Seiring bertambahnya usia, kapasitas untuk memahami dan merespons perasaan orang lain cenderung semakin berkembang sehingga perkembangan empati menjadi bagian penting dalam pembentukan perilaku bermoral dan karakter sosial yang adaptif. Menurut Suciati . alam Chairunnisa dkk, 2. upaya menumbuhkan empati pada anak bukanlah hal yang sulit dilakukan karena penguatan empati dapat dikenalkan sejak dini melalui stimulasi sederhana dalam konteks interaksi sehari-hari dengan pendekatan yang konsisten dan Namun pada kenyataannya, fenomena menurunnya kepedulian terhadap Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 44-56 Mei 2026 sesama justru dapat ditemukan di kalangan remaja. Remaja yang diharapkan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain justru cenderung bersikap individualistis dan enggan memberikan kepedulian. Sebagai contoh, ketika ada teman yang mengalami kesulitan dalam belajar bahasa Inggris, beberapa remaja yang sudah mahir justru merespons dengan cemoohan dan ejekan alih-alih memberikan bantuan (Anggraini dkk. Fenomena ini diperkuat oleh kondisi empati siswa yang cenderung menurun (Kompas, 2. , di mana lemahnya empati ditunjukkan melalui perilaku mementingkan kepentingan pribadi, ketidakmampuan memposisikan diri pada kondisi orang lain, serta hilangnya kepedulian antarsesama (Fadhilah, 2. Selain itu, kurangnya empati juga tercermin dari sikap individualistis, perilaku abai terhadap lingkungan, hingga tindakan ekstrem seperti tawuran antarpelajar yang mengindikasikan lemahnya karakter kebangsaan sekaligus rendahnya tingkat empati pada diri individu (Andriati dkk, 2. Siswa dengan tingkat empati rendah akan lebih rentan menghadapi permasalahan dalam interaksi sosialnya dan cenderung bersikap agresif serta acuh terhadap situasi sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, empati merupakan sikap yang perlu dibangun secara sadar melalui proses pembiasaan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak, khususnya pihak sekolah dan keluarga. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bimbingan dan konseling serta observasi selama pelaksanaan PLP di SMP Muhammadiyah 2 Taman, diperoleh informasi bahwa penguatan sikap empati perlu diberikan kepada seluruh siswa, terutama kelas 7. Hasil wawancara menunjukkan masih terdapat siswa kelas 7 yang menunjukkan tingkat empati rendah dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah, yang tercermin dari perilaku mengganggu teman secara berulang hingga hampir berkelahi, sehingga beberapa siswa kerap dipanggil ke ruang bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan. Temuan ini diperkuat oleh hasil pre-test yang menunjukkan lebih dari 10 siswa kelas 7 terindikasi memiliki tingkat empati rendah berdasarkan keempat aspek empati Davis. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang terstruktur dan terukur melalui layanan bimbingan dan konseling. Salah satu intervensi yang dipandang relevan adalah layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing. Bimbingan kelompok merupakan layanan yang diberikan kepada peserta didik secara bersama-sama dalam suatu kelompok untuk membantu anggota tumbuh, berkembang, dan mencapai kemandirian dalam berbagai aspek perkembangan dirinya melalui interaksi dan dinamika kelompok (Sasmita dkk, 2. Menurut Winkel . alam Sari. , 2. , bimbingan kelompok adalah layanan yang diberikan kepada beberapa orang secara bersamaan dengan tujuan agar siswa mampu berkembang secara optimal, baik secara individual maupun kelompok. Bimbingan kelompok bertujuan membantu siswa mewujudkan potensi penuh mereka dan mencegah masalah sebelum terjadi melalui penyampaian informasi atau diskusi mengenai topik-topik yang berkaitan dengan masalah sosial, pribadi, dan pendidikan (Ilhamuddin et al. , 2. Manfaat layanan ini, menurut (Hartanti, 2. adalah agar peserta didik memperoleh pemahaman yang efektif, objektif, dan tepat tentang berbagai hal yang sedang didiskusikan, serta mampu memunculkan perilaku positif terhadap keadaan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Teknik role playing dalam layanan bimbingan kelompok dinilai efektif untuk meningkatkan empati siswa. Menurut Ari . alam Mustakim dkk, 2. , teknik role playing merupakan metode penyajian yang dilakukan dengan cara memperagakan, mempertontonkan, atau menampilkan suatu keadaan, peristiwa, maupun perilaku yang dialami individu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat mengamati dan menghayati berbagai bentuk interaksi sosial secara lebih nyata. Melalui teknik ini, siswa dilatih memainkan peran tertentu, menghayati peran yang dimainkan, serta merefleksikan kondisi emosional individu lain sehingga pemahaman terhadap permasalahan sosial dapat Prayogo. Ardyanti. Penerapan bimbingan kelompok A. berkembang secara lebih mendalam (Ngongo dkk, 2. Menurut Sudjana . alam Fitrah dkk, 2. , teknik role playing memiliki sejumlah keunggulan, yaitu mampu membangkitkan perhatian peserta didik melalui penghayatan peran yang mendalam, dapat diterapkan pada kelompok kecil maupun besar, serta melatih kemampuan menganalisis permasalahan sosial melalui pengalaman langsung. Hubungan antara teknik role playing dengan aspek-aspek empati Davis sangat erat dengan aktivitas perspective taking dalam role playing secara langsung melatih kemampuan siswa dalam melihat sudut pandang orang lain saat menghadapi masalah, sementara proses penghayatan peran merangsang berkembangnya fantasy, empathic concern, dan pengelolaan personal distress secara bersamaan dalam satu pengalaman belajar yang terstruktur. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan efektivitas teknik role playing dalam layanan bimbingan dan konseling pada berbagai variabel. Menurut Anggraini dkk, . menemukan bahwa bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan regulasi emosi siswa MTsN Lawe dengan peningkatan sebesar 8,3%. Salama dkk, . membuktikan adanya peningkatan signifikan kemampuan komunikasi interpersonal siswa SMP sekaligus penurunan tingkat isolasi sosial melalui teknik yang Triana dkk, . menunjukkan bahwa teknik role playing melalui bimbingan kelompok efektif meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Nuramelia dkk, . juga membuktikan bahwa konseling kelompok dengan teknik role playing berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kepercayaan diri korban perundungan. Beberapa penelitian di atas secara konsisten menunjukkan efektivitas teknik role playing, seluruhnya berfokus pada variabel regulasi emosi, komunikasi interpersonal, kecerdasan emosional, dan kepercayaan diri. Namun, pada penelitian tersebut belum terdapat penelitian yang secara khusus menguji efektivitas bimbingan kelompok dengan teknik role playing untuk meningkatkan empati siswa SMP dengan menggunakan kerangka konseptual empati sebagai dasar pengukuran dan pelaksanaan treatment nya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan empati siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 2 Taman. Kebaruan pada penelitian ini terletak pada penggunaan keempat aspek empati Davis . perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress secara terintegrasi sebagai landasan konseptual sekaligus instrumen penelitian, dalam konteks siswa SMP di lingkungan sekolah berbasis keislaman yang belum banyak dikaji dalam penelitian METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian preexperimental. Menurut Sugiyono, 2023 metode kuantitatif merupakan metode yang berpijak pada filsafat positivisme yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu menggunakan instrumen penelitian. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model One Group Pretest-Posttest Design. Sugiyono, 2023 menjelaskan bahwa desain ini merupakan bentuk eksperimen yang melibatkan satu kelompok subjek yang diberi treatment dan diukur baik sebelum maupun sesudah perlakuan diberikan, namun tidak melibatkan kelompok kontrol. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah berdasarkan dari hasil wawancara dengan guru bimbingan dan konseling, serta pemberian langsung kuesioner pre-test kepada siswa kelas 7 yang berjumlah 4 kelas dengan jumlah populasi sebanyak 86 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan teknik purposive sampling. Menurut Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 44-56 Mei 2026 Sugiyono, 2023 purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria sampel yang digunakan adalah siswa dengan empati yang rendah, sedang, dan tinggi. Pada penelitian ini, peneliti membatasi jumlah sampel maksimal 10 siswa berdasarkan aturan dalam bimbingan kelompok yang membatasi jumlah anggota kelompok sebanyak idealnya sebanyak 10 orang Nafiah . alam Kusumawati dkk, 2. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menyebarkan kuesioner empati IRI (Interpersonal Reactivity Inde. kepada siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 2 Taman sebanyak 4 kelas. Sebelum menyebarkan kuesioner tersebut, kuesioner telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Dengan uji valid menggunakan nilai signifikansi 5% yang berarti nilai signifikansi > dari 0,05 berarti tidak valid, dan bila nilai signifikansi < dari 0,05 maka hasilnya valid. Uji validitas dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan taraf signifikansi 5% ( = 0,. Dari 31 butir item yang diujikan pada 47 responden, terdapat 4 item yang dinyatakan gugur karena memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, yaitu item nomor 7, 9, 28, dan 30. Dengan demikian, sebanyak 27 item dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai instrumen pengukuran empati. Berikut hasil uji validitas disajikan pada tabel berikut. Sugiyono, 2023 suatu instrumen dikatakan memiliki reliabilitas tinggi apabila nilai koefisien Alpha Cronbach yang diperoleh Ou 0,60. Uji reliabilitas dilakukan dengan Alpha Cronbach terhadap 27 item yang valid. Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien CronbachAos Alpha sebesar 0,907, yang berarti instrumen memiliki tingkat reliabilitas sangat tinggi karena nilai tersebut jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan sebesar 0,60 (Sugiyono, 2. Dari uraian tersebut, maka instrumen kuesioner empati IRI yang terdiri dari 27 item dinyatakan valid dan reliabel, serta layak digunakan untuk mengukur tingkat empati siswa. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis non parametrik dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Pemilihan uji wilcoxon ini dikarenakan beberapa pertimbangan. Pertama, data penelitian ini berskala ordinal yang didapatkan dari instrumen skala empati, sehingga tidak memenuhi asumsi normalitas sebagai syarat dalam uji parametrik. Kedua, desain pada penelitian ini menggunakan pre-test dan post-test pada satu kelompok yang sama, sehingga data yang dibandingkan bersifat berpasangan. Ketiga, yaitu jumlah pada subjek penelitian yang terbatas berjumlah 10 siswa yang berarti tidak memenuhi syarat minimum untuk uji parametrik. Pengujian hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai signifikansi hasil uji Wilcoxon dengan taraf signifikansi sebesar 0,05. Dalam proses analis, kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : Apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara skor empati sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Deskriptif Hasil Pre-Test Kegiatan pre-test diberikan kepada siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 2 Taman yang berjumlah 4 kelas dengan total populasi sebanyak 86 siswa. Berdasarkan hasil analisis deskriptif dengan menggunaka SPSS 22, diperoleh data yang dapat dilihat pada tabel 1. Prayogo. Ardyanti. Penerapan bimbingan kelompok A. Skor Total Valid N Tabel 1. Hasil Analisis Deskriptif Minimum Maximum Mean 82,698 Std. Deviation 7,2616 Berdasarkan data tabel 1 menunjukkan bahwa dari 86 siswa kelas 7, skor empati terendah adalah 68 dan untuk skor tertinggi ada di angka 98, dengan skor rata-rata sebesar 82,70 dan standar deviasi 7,26. Menurut (Azwar, 2. pengkategorian tingkat empati siswa menggunakan rumus kategorisasi berdasarkan mean dan standar deviasi. Tabel 2. Rumus Pengkategorian Kategori Tinggi Sedang Rendah Rumus Perhitungan X Ou Mean SD X Ou 82,698 7,2616 Mean Oe SD O X < Mean SD 75,44 O X < 89,96 X < Mean Oe SD X < 82,698 Oe 7,2616 Rentang Skor < 75 Dari total 86 siswa, terdapat 10 siswa yang memiliki skor empati paling rendah dan teridentifikasi dalam kategori empati rendah. Sepuluh siswa tersebut yang kemudian dipilih sebagai sampel penelitian. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, 10 siswa tersebut akan mengikuti layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing. Berikut daftar 10 siswa dengan empati terendah disajikan dalam tabel berikut. Tabel 3. Data 10 Siswa Sebelum dan Sesudah Treatment Nama Lengkap Kelas Skor Pre-Test Skor Post-Test HNB 68 (Renda. 79 (Sedan. SFA 69 (Renda. 84 (Sedan. NTP 70 (Renda. 77 (Sedan. AZP 71 (Renda. 79 (Sedan. NAH 71 (Renda. 79 (Sedan. FMAF 71 (Renda. 79 (Sedan. 72 (Renda. 80 (Sedan. DRA 72 (Renda. 90 (Tingg. NPN 72 (Renda. 90 (Tingg. MFA 73 (Renda. 78 (Sedan. Tabel 3 menunjukkan 10 siswa yang akan diberikan treatment berupa bimbingan kelompok dengan teknik role playing selama 4 kali pertemuan. Setiap pertemuan, siswa diberikan kegiatan role playing yang bertujuan untuk membantu siswa memahami sudut pandang orang lain, membayangkan diri ketika berada pada situasi yang dialami orang lain, meningkatkan kepedulian terhadap perasaan teman, serta mengenali dan mengelola perasaan tidak nyaman saat melihat penderitaan orang lain. Setelah mengikuti seluruh kegiatan treatment, 10 siswa tersebut diminta untuk mengerjakan post-test pada sore harinya untuk memperoleh dan mengetahui perubahan tingkat empati setelah mengikuti Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa semua siswa mengalami peningkatan skor empati dengan skor terendah pada angka 77 dan skor yang paling tinggi berada pada angka Selain itu, hasil post-test juga menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang mengalami penurunan skor empati setelah treatment diberikan. Seluruh siswa mengalami peningkatan skor, meskipun dengan besaran peningkatan yang berbeda-beda. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 44-56 Mei 2026 Hasil Uji Wilcoxon Signed Ranks Test Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test dengan bantuan SPSS karena data penelitian tidak memenuhi asumsi normalitas . on-parametri. Uji ini digunakan untuk membandingkan skor empati sebelum dan sesudah diberikan treatment pada kelompok yang sama. Berikut hasil dari uji Wilcoxon Signed Ranks Test disajikan pada tabel dibawah ini. Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Signed Ranks SKOR POST-TESTSKOR PRE-TEST ,005 Asymp. Sig. -taile. Berdasarkan tabel 4 diperoleh nilai Z sebesar -2,823 dengan nilai Asymp. Sig. sebesar 0,005. Dari nilai tersebut, maka hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor empati siswa sebelum dan sesudah diberikan treatment berupa layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing. Hasil uji ranks menunjukkan negative ranks = 0 yang berarti tidak ada siswa yang mengalami penurunan skor empati setelah mengikuti treatment. Lalu pada positive ranks menunjukkan angka 10 yang berarti seluruh siswa mengalami peningkatan skor empati setelah mengikuti treatment. Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing secara signifikan dapat meningkatkan empati siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 2 Taman. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi uji Wilcoxon Signed Rank Test yang berada di bawah taraf signifikansi yang telah ditetapkan, dengan seluruh siswa mengalami peningkatan skor empati dari kategori rendah menuju kategori menengah hingga tinggi setelah mendapatkan perlakuan. Data uji Wilcoxon Signed Ranks juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pun siswa yang mengalami penurunan atau stagnansi skor empati, yang mengindikasikan bahwa intervensi ini konsisten memberikan dampak positif bagi seluruh anggota kelompok. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Zainuddin dkk, 2. yang membuktikan bahwa bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan empati siswa SMP Islam Al-Azhar secara signifikan, serta penelitian Nurhidayatullah & Arifin . yang menemukan bahwa penerapan teknik role playing berpengaruh positif terhadap perilaku asertif dan empati siswa SMA Negeri 12 Makassar. Peningkatan empati yang terjadi tidak terlepas dari karakteristik subjek penelitian yang sejak awal menunjukkan indikasi empati rendah, baik dalam interaksi dengan teman sebaya, guru, maupun peneliti. Hal ini tampak dari respons yang cenderung acuh dan minim saat peneliti mengajak komunikasi santai di awal pertemuan, sikap saling menutup diri saat sesi perkenalan, hingga keengganan menjawab pertanyaan yang diajukan. Kondisi awal ini justru mengonfirmasi relevansi pemilihan subjek sekaligus menegaskan urgensi intervensi yang diberikan. Peserta didik dengan tingkat empati rendah memang cenderung menunjukkan sikap individualistis, kurang peka terhadap kondisi orang lain, dan sulit membangun hubungan sosial yang hangat (Andriati dkk, 2. Merujuk pada kerangka konseptual Davis . alam Nafilasari dkk, 2. , kondisi tersebut mencerminkan lemahnya keempat aspek empati secara bersamaan. Rendahnya perspective taking terlihat dari ketidakmampuan siswa memposisikan diri pada sudut pandang orang lain, rendahnya fantasy terlihat dari sulitnya siswa membayangkan kondisi yang dialami orang lain, rendahnya empathic concern tercermin dari sikap acuh terhadap perasaan orang di Prayogo. Ardyanti. Penerapan bimbingan kelompok A. sekitarnya, serta rendahnya pengelolaan personal distress yang membuat siswa sulit merespons situasi sosial secara adaptif. Proses pelaksanaan treatment berlangsung dalam empat pertemuan yang masingmasing melewati tahapan bimbingan kelompok secara sistematis, meliputi tahap pembentukan, peralihan, kerja, dan terminasi (Hartanti, 2. Dinamika yang terjadi selama empat pertemuan tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan dan Pada pertemuan pertama dan kedua, sebagian besar siswa masih menunjukkan sikap tertutup, malu-malu, dan kurang responsif, bahkan di antara teman sekelas mereka Beberapa siswa aktif, namun berbicara dengan suara pelan dan tidak energik sehingga dinamika kelompok kurang optimal, sementara sebagian lainnya sama sekali enggan menjawab pertanyaan yang diajukan. Hambatan awal bukan semata-mata pada rendahnya empati, melainkan juga pada lemahnya kepercayaan diri dan belum terbentuknya dinamika kelompok yang kondusif. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti memberikan ice breaking pada tahap pembentukan dan peralihan guna mencairkan suasana, membangun kepercayaan diri siswa, dan memperkuat keakraban antaranggota kelompok. Langkah ini sejalan dengan fungsi tahap pembentukan dan peralihan dalam bimbingan kelompok, yaitu membangun hubungan yang positif antara pemimpin kelompok dan anggota serta mempersiapkan kesiapan mental dan emosional setiap anggota sebelum memasuki tahap kerja (Sasmita dkk, 2. Perkembangan yang signifikan mulai terlihat pada pertemuan tiga dan empat, siswa sudah mulai menunjukkan keakraban, keberanian untuk berpendapat, dan kemampuan merespons pertanyaan secara lebih terbuka. Dinamika kelompok yang semula kaku berubah menjadi lebih hangat, ditandai dengan munculnya canda tawa dan interaksi yang lebih spontan antaranggota. Perubahan ini mencerminkan bahwa pembentukan hubungan antara peneliti dan siswa, serta antarsiswa itu sendiri, merupakan fondasi penting yang menentukan keberhasilan treatment. Temuan ini memperkuat pernyataan Prayitno (Sasmita dkk, 2. bahwa melalui interaksi dan dinamika kelompok, peserta didik diberikan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman, belajar memahami diri sendiri maupun orang lain, serta mengembangkan sikap dan keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Senada dengan itu, (Ilhamuddin et al. , 2. menegaskan bahwa bimbingan kelompok yang efektif mensyaratkan terciptanya suasana kelompok yang kondusif sebagai prasyarat bagi berkembangnya potensi penuh setiap anggota kelompok. Keberhasilan teknik role playing dalam meningkatkan empati siswa dalam penelitian ini dapat dipahami melalui mekanisme pembelajaran yang ditawarkan oleh teknik tersebut. Menurut Ari . alam Mustakim dkk, 2. , teknik role playing merupakan metode penyajian yang dilakukan dengan cara memperagakan, mempertontonkan, atau menampilkan suatu keadaan, peristiwa, maupun perilaku yang dialami individu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat mengamati dan menghayati berbagai bentuk interaksi sosial secara lebih nyata. Melalui simulasi bermain peran, siswa diarahkan untuk memerankan tokoh dengan kondisi emosional yang berbeda dari dirinya sendiri, sehingga secara langsung melatih kemampuan perspective taking dan fantasy sebagai dimensi kognitif empati (Davis dalam Nafilasari dkk, 2. Proses penghayatan peran ini menciptakan pengalaman belajar yang bermakna karena siswa tidak hanya memahami kondisi orang lain secara intelektual, tetapi juga merasakannya secara emosional. Goleman (Dewi dkk, 2. menegaskan bahwa pengalaman langsung semacam ini merupakan salah satu cara paling efektif dalam mengembangkan komponen empati dalam kecerdasan emosional. Melalui keterlibatan langsung dalam memerankan suatu peran, peserta didik diarahkan untuk mengamati, merasakan, dan merefleksikan kondisi emosional individu lain sehingga pemahaman terhadap permasalahan sosial dapat berkembang secara lebih mendalam (Ngongo dkk, 2. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 44-56 Mei 2026 Sudjana (Fitrah dkk, 2. , teknik role playing memiliki sejumlah keunggulan yang mendukung efektivitasnya dalam penelitian ini. Pertama, peran yang ditampilkan secara menarik mampu membangkitkan perhatian peserta didik karena mereka didorong untuk menghayati peran yang diperagakan secara mendalam. Kedua, teknik ini dapat diterapkan baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar, sehingga memberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan layanan. Ketiga, role playing melatih kemampuan menganalisis permasalahan sosial melalui pengalaman langsung, sehingga pemahaman terhadap kondisi emosional orang lain dapat berkembang secara bertahap. Keunggulan-keunggulan inilah yang menjadi landasan mengapa teknik role playing mampu menyentuh keempat aspek empati Davis secara bersamaan dalam satu rangkaian pengalaman belajar yang terintegrasi. Sesi refleksi dan diskusi yang dilaksanakan setelah setiap sesi role playing juga berperan penting dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai empati. Melalui sesi ini, siswa diajak untuk memaknai pengalaman bermain peran mereka, mengidentifikasi perasaan yang dirasakan saat memerankan tokoh tertentu, dan menghubungkan pengalaman tersebut dengan situasi nyata dalam kehidupan sosial mereka. Proses refleksi ini secara khusus berkontribusi pada penguatan aspek empathic concern dan pengelolaan personal distress, karena siswa didorong untuk tidak hanya merasakan kondisi orang lain, tetapi juga meresponsnya secara proporsional dan konstruktif. Minsyar & Yusup, 2018 menemukan hal serupa bahwa penerapan teknik role playing yang disertai diskusi reflektif secara efektif meningkatkan rasa kepedulian antarsiswa karena mendorong internalisasi nilai-nilai sosial melalui pengalaman langsung yang bermakna. Efektivitas intervensi dalam penelitian ini juga diperkuat oleh beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan teknik serupa pada variabel yang berdekatan. Anggraini dkk, . menemukan bahwa bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan regulasi emosi siswa dengan peningkatan sebesar 8,3%, yang menunjukkan bahwa teknik ini mampu membantu siswa mengelola respons emosionalnya, sebuah kemampuan yang erat kaitannya dengan aspek personal distress dalam kerangka empati Davis dalam (Salama dkk, 2. membuktikan adanya peningkatan signifikan kemampuan komunikasi interpersonal siswa SMP melalui teknik yang sama (Sig. 2-tailed < 0,. , disertai penurunan rata-rata skor isolasi sosial dari 65,56 menjadi 48,33. Temuan yang relevan karena kemampuan komunikasi interpersonal merupakan manifestasi perilaku dari berkembangnya empati. Triana dkk, . menunjukkan bahwa teknik role playing melalui bimbingan kelompok efektif meningkatkan kecerdasan emosional siswa SMP Dengan nilai t hitung . > t tabel . , di mana empati merupakan salah satu komponen utama kecerdasan emosional (Goleman dalam (Dewi dkk, 2. Nuramelia dkk, . juga membuktikan pengaruh signifikan konseling kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan kepercayaan diri korban perundungan . = 0,043 < 0,. , yang mengonfirmasi bahwa format kelompok dengan teknik role playing secara konsisten efektif dalam mengembangkan berbagai dimensi sosial-emosional siswa. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan empati tidak hanya ditentukan oleh teknik itu sendiri, tetapi juga oleh kualitas hubungan yang dibangun antara pemimpin kelompok dan anggota kelompok, kematangan dinamika kelompok yang terbentuk secara bertahap, serta struktur pelaksanaan yang sistematis melalui empat tahapan bimbingan (Hartanti, 2. menegaskan bahwa manfaat utama bimbingan kelompok adalah memberikan pemahaman yang efektif, objektif, dan tepat kepada peserta didik tentang berbagai hal yang sedang dibahas, sekaligus mendorong munculnya perilaku positif terhadap keadaan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Ketiga faktor tersebut teknik, hubungan terapeutik, dan struktur layanan bekerja secara sinergis dalam menciptakan kondisi belajar yang optimal bagi berkembangnya empati peserta didik, sebagaimana Prayogo. Ardyanti. Penerapan bimbingan kelompok A. tercermin dari konsistensi peningkatan skor empati pada seluruh 10 subjek penelitian berdasarkan keempat aspek empati (Davis, 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing terbukti efektif dalam meningkatkan empati siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 2 Taman. Seluruh siswa yang menjadi subjek penelitian mengalami peningkatan skor empati setelah mendapatkan treatment, tidak ada satu pun siswa yang mengalami penurunan maupun skor yang sama antara pre-test dan post-test. Meskipun demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan, diantaranya jumlah subjek penelitian yang relatif sedikit dan durasi pelaksanaan treatment yang hanya dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, penelitian ini hanya berfokus pada satu sekolah sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas pada populasi yang berbeda. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah sampel yang lebih besar, menggunakan kelompok kontrol, dan melaksanakan treatment dalam jangka waktu yang lebih panjang agar diperoleh hasil yang lebih mendalam dan optimal. Penelitian selanjutnya juga dapat mengembangkan teknik layanan lain dalam bimbingan dan konseling untuk meningkatkan empati siswa. PERNYATAAN KONTRIBUSI PENULIS Pada penelitian ini RP berkontribusi dalam perencanaan penelitian, penyusunan instrumen penelitian, pengumpulan dan analisis data, pelaksanaan treatment, dan penyusunan manuskrip. Lalu AW berkontribusi dalam validasi instrumen, pembimbing penelitian, serta revisi dan membantu dalam penyusunan manuskrip. DAFTAR PUSTAKA