Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni VOL. No. 2 2024 | DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. HUBUNGAN FUNGSI SOSIALISASI KELUARGA DENGAN PERILAKU MENYIMPANG REMAJA DI SMAN 1 KAPUAS TENGAH Noor Khalilati 1. Roly Marwan Mathuridy1. Mesti Nurjayanti 1 Program Studi Keperawatan. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Indonesia Info Artikel ABSTRAK Submitted: 6 Agustus 2024 Revised: 25 September 2024 Accepted: 29 Desember 2024 Latar Belakang: Perilaku menyimpang adalah respons atau reaksi individu yang tercermin dalam sikap, baik melalui ucapan maupun tindakan yang melanggar, bertentangan, atau menyimpang dari norma atau harapan yang ada di lingkungan sosial yang relevan. Keluarga memegang peran utama dalam proses ini, karena interaksi awal anak-anak terjadi di dalam keluarga dan kontak utama mereka terbatas pada anggota keluarga sendiri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi sosialisasi keluarga dengan perilaku menyimpang remaja di SMAN 1 Kapuas Tengah. Metode: Desain penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan . ross-sectiona. Populasi penelitian dilakukan kepada seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Kapuas Tengah. Sampel yang diteliti sebanyak 145 siswa dengan teknik total sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat menunjukkan hubungan yang signifikan antara fungsi sosialisasi keluarga dan perilaku menyimpang remaja, dengan nilai signifikansi variabel sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05 sebagai taraf yang telah ditentukan . value < ) yang berarti terdapat hubungan antara fungsi sosialisasi keluarga yang mempengaruhi perilaku menyimpang remaja di SMAN 1 Kapuas Tengah. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara Fungsi Sosialisasi Keluarga dengan Perilaku Menyimpang Remaja di SMAN 1 Kapuas Tengah *Corresponding author Noor Khalilati Email: noorkhalilati09@gmail. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Kata kunci: Fungsi Sosialisasi keluarga. Perilaku Menyimpang. Remaja ABSTRACK Background: Deviant behavior is an individual's response or reaction that is reflected in attitudes, either through words or actions that violate, contradict, or deviate from the norms or expectations that exist in the relevant social The family plays a major role in thi s process, because children's initial interactions occur within the family and their primary contact is limited to their own family members. Objective: This research aims to determine the relationship between the function of family socialization and adolescent deviant behavior at SMAN 1 Kapuas Tengah. Method: The research design is quantitative research with an analytical survey design and approach . ross-sectiona. The research population was carried out on all class XI students of SMAN 1 Kapuas Tengah. The sample studied was 145 students using total sampling technique Result: The results of the research show that there is a significant relationship between the family socialization function and adolescent deviant behavior, with a variable significance value of 0. 001 which is smaller than 0. 05 as a predetermined level . value < ) which means there is a relationship between the family socialization function which influences adolescent deviant behavior at SMAN 1 Kapuas Tengah. Conclusion: There is a relationship between the function of family socialization and adolescent deviant behavior at SMAN 1 Kapuas Tengah Keywords: Family Socialization Function. Deviant Behaviour. Adolescents Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni PENDAHULUAN Perilaku menyimpang adalah respons atau reaksi individu yang tercermin dalam sikap, baik melalui ucapan maupun tindakan, yang melanggar, bertentangan, atau menyimpang dari norma atau harapan yang ada di lingkungan sosial yang relevan. Perilaku menyimpang merujuk pada tindakan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai contoh, seorang siswa dianggap memiliki perilaku menyimpang jika sikap atau tindakannya tidak sesuai dengan peraturan atau norma yang berlaku di lingkungan sekolah (Fitriyani & Shomedran, 2. Di Amerika Serikat, tingkat kenakalan remaja cukup tinggi, dengan data menunjukkan bahwa 41% siswa pernah terlibat dalam hubungan seksual, dan hampir 230. 000 bayi lahir dari remaja putri berusia 15-19 tahun. Sebaliknya, studi di Asia seperti di Cina dan Korea Selatan menunjukkan tingkat kenakalan remaja yang relatif rendah, meskipun tetap signifikan. Misalnya, penelitian di Beijing mengungkapkan bahwa masalah perilaku mencapai 16,7%. Laporan statistik tentang Perkembangan Pemuda China tahun 2020, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Pemuda dan Anak China bersama dengan Departemen Penghubung Internasional Komite Pusat Pemuda Komunis, menunjukkan bahwa jumlah pelaku kejahatan di bawah usia 18 tahun terus meningkat. Di Indonesia, fenomena kenakalan remaja semakin mengkhawatirkan, dengan angka kejadian mencapai 23,46% menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2021. Data tersebut juga menunjukkan bahwa remaja di Indonesia berjumlah 16,17% dari total populasi, atau sekitar 44 juta jiwa (Laili & RoAoisah, 2. Menurut BKKBN, kondisi kenakalan remaja di Indonesia saat ini mencakup pernikahan pada usia remaja, seks pranikah dan kehamilan yang tidak diinginkan, serta aborsi, di mana dari 2,4 juta kasus aborsi, 700-800 ribu di antaranya melibatkan remaja. Ada juga 1. 283 kasus HIV/AIDS, serta penyalahgunaan minuman keras dan narkoba. Penelitian yang dilakukan oleh BNN bekerja sama dengan UI menunjukkan bahwa 1,5% dari populasi, atau sekitar 3,2 juta orang, adalah penyalahguna Dari jumlah tersebut, 69% merupakan pengguna rutin dan 31% adalah pecandu. Dari segi gender, 79% adalah laki-laki dan 21% perempuan. Kelompok pengguna rutin terdiri dari 71% penyalahguna ganja, 50% shabu, 42% ekstasi, dan 22% obat penenang. Sedangkan kelompok pecandu terdiri dari 75% penyalahguna ganja, 62% heroin/putaw, 57% shabu, 34% ekstasi, dan 25% obat Sebanyak 56% penyalahguna narkoba menggunakan suntikan (IDU), yang berjumlah sekitar 000 orang, dengan kisaran antara 515. 000 hingga 630. 000 orang. Di Kota Palangka Raya. Provinsi Kalimantan Tengah, perilaku bebas di kalangan remaja juga terpantau. Berdasarkan data penelitian dari BKKBN provinsi dan PKBI Kota Palangka Raya, survei menunjukkan bahwa 30,37% remaja memiliki perilaku seksual berisiko rendah, 38,15% berisko sedang, dan 41,48% beresiko tinggi. Dalam konteks masyarakat, keluarga merupakan unit terkecil yang tidak terlepas dari tradisi budaya dan nilai-nilai agama yang berlaku dan berkembang di lingkungannya. Orang tua memiliki peran sentral dalam menjaga dan meneruskan ritual keagamaan sehingga nilai-nilai spiritual dapat tertanam dalam jiwa anak. Sebagai bagian dari masyarakat, anak hidup dalam interaksi sosial dan terlibat dalam budaya yang ada. Orang tua bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak agar mampu berintegrasi dengan masyarakat dan budaya lokal. Anak, sebagai anggota masyarakat, diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam komunitasnya, dengan keluarga sebagai sarana terbaik untuk menanamkan nilai-nilai agama dan budaya ini. (Yadnyawati et al. , 2. Keluarga juga memiliki peran penting sebagai agen utama dalam mentransmisikan kebiasaan, sikap, perilaku, dan nilai-nilai kepada anak-anak melalui menciptakan lingkungan yang mendukung interaksi dan sosialisasi positif antara anak dan Peran orang tua sangat krusial dalam mendidik, membimbing, dan membentuk kepribadian anak. Pentingnya pendidikan lingkungan juga perlu ditekankan dalam proses ini (Yadnyawati et al. , 2. METODE Pengkajian ini dilaksanakan selama 1 hari pada hari Kamis, 13 Juni 2024 yang dilaksanakan dari 00 WIB. Lokasi pengkajian di lakukan di SMAN 1 Kapuas Tengah. Desain penelitian ini menggunakan korelasi dengan pendekatan cross-sectional dan merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik. Populasi penelitian dilakukan kepada seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Kapuas Tengah. Sampel penelitian yang diteliti sebanyak 145 siswa dengan teknik Total Sampling. Variabel independent fungsi sosialisasi keluarga dan variabel dependent perilaku menyimpang remaja. Pengumpulan data melalui lembar kuesioner dan hasil penelitian di analisis dengan uji Spearman rho. Noor Khalilati 1. Roly Marwan Mathuridy 1. Mesti Nurjayanti 1 Email: noorkhalilati09@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Dengan etika penelitian yang digunakan dari (Komisi Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasinal. No. 319/16/2024. Kementri3an Kesehatan Republik Indonesi. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Fungsi Sosialisasi Keluarga No. Fungsi Sosialisasi Keluarga Kurang baik . Cukup baik . Baik . Total Frekuensi (F) Persentase (%) Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa hasil penelitian Fungsi Sosialisasi Keluarga terhadap responden SMA Negeri 1 Kapuas Tengah, data yang paling banyak adalah Fungsi Sosialisasi Keluarga dengan kategori baik, yaitu sebanyak 132 responden dengan persentase sebesar 91%. Tabel 2. Frekuensi Perilaku Menyimpang PERILAKU FREKUENSI (F) PERSENTASE (%) NO. Kurang baik (<59%) Cukup baik . -75%) Baik . -100%) Total 2,8% 97,2% Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa hasil penelitian Perilaku Menyimpang Remaja terhadap responden SMA Negeri 1 Kapuas Tengah, data yang paling banyak adalah Perilaku menyimpang dalam kategori cukup baik, dengan jumlah 141 responden dan persentase sebesar 97,2%. Tabel 3. Hubungan Fungsi Sosialisasi Keluarga Terhadap Perilaku Menyimpang Remaja Fungsi Sosialisasi Keluarga Kurang Cukup Baik Total Perilaku Menyimpang Remaja BAIK CUKUP BAIK KURANG 0% 129 128,4% 3,6% 132 0% 141 141. 4,0% 145 p Value = 0,001 Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan hasil penelitian hubunngan fungsi sosialisasi keluarga dengan kategori baik dan perilaku menyimpang dengan kategori cukup baik sebanyak 129 reponden . ,4%). Hasil uji statistik dengan nilai rho Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan antara Fungsi Sosialisasi Keluarga dan Perilaku Menyimpang Remaja, dengan nilai signifikansi variabel sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05 sebagai taraf yang telah ditentukan . value < ). Secara uji statistik terdapat hubungan yang signifikan antara Fungsi Sosialisasi Keluarga Terhadap Perilaku Menyimpang Remaja. Hubungan kedua variabel ini menunjukkan arah korelasi positif dengan nilai Spearman Rho sebesar 0,279 yang menunjukkan bahwa semakin baik fungsi sosialisasi keluarga, maka semakin kurang perilaku menyimpang remaja. Noor Khalilati 1. Roly Marwan Mathuridy 1. Mesti Nurjayanti 1 Email: noorkhalilati09@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Gambar 1. Dokumentasi pada saat pengambilan data siswa di SMAN 1 Kapuas Tengah PEMBAHASAN Pembahasan Fungsi Sosialisasi Keluarga Keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana anak dididik, dan peran mereka sangat penting dalam pembentukan karakter manusia. Pendidikan yang baik di dalam keluarga memainkan peran penting dalam pembentukan kepribadian anak, karena perkembangan karakter anak dapat dikontrol dan dibentuk melalui bimbingan dan bantuan, terutama karena keluarga adalah tempat pertama anak dididik (Yadnyawati et al. , 2. Keluarga atau orang tua berperan sebagai barisan terdepan dan utama dalam mendidik anakanak untuk membentuk sikap dan karakter mereka. Terdapat delapan fungsi keluarga sebagai berikut : Fungsi Keagamaan. Orang tua memiliki peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak dan mengenalkan identitas agama mereka. Orang tua juga mengajarkan anak tentang aspek-aspek agama contohnya membaca doa sebelum dan setelah makan, masuk dan keluar kamar mandi, tujuan sholat, dan nilai-nilai agama lainnya. (Hoesni & Firmansyah, 2. Fungsi cinta dan kasih sayang berarti keluarga menjadi tempat untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang serta memberikan contoh yang baik. Di sekolah, anak juga diajarkan untuk menyayangi keluarga, menghormati, dan patuh kepada orang tua. Fungsi Perlindungan. Fungsi perlindungan bertujuan menciptakan suasana yang aman, nyaman, damai, dan adil bagi seluruh anggota keluarga. Orang tua memberikan perlindungan kepada anak agar mereka merasa aman, nyaman, disayangi oleh orang di sekitarnya, memiliki tempat untuk mengadu, dan belajar meminta maaf ketika melakukan kesalahan (Hoesni & Firmansyah, 2. Fungsi Reproduksi. Pendidikan seks diberikan oleh orang tua sejak dini, termasuk mengajarkan anak bahwa dalam bermain dengan teman, ada batasan yang harus dihormati seperti tidak memukul atau menyentuh bagian tubuh tertentu, mengenakan pakaian yang sopan, dan membiasakan anak untuk menjaga diri. Fungsi Ekonomi. Fungsi ekonomi dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga membantu orang tua mengajarkan pentingnya berhemat dan memahami nilai uang. Meski tidak semua anak menabung, beberapa orang tua memberikan bekal agar anak tidak perlu membeli makanan di sekolah, sebagai cara mengajarkan anak tentang pentingnya berhemat (Hoesni & Firmansyah, 2. Fungsi Pembinaan Lingkungan. Lingkungan berfungsi untuk membimbing anggota keluarga agar mereka dapat hidup secara harmonis dengan komunitas dan lingkungan sekitar mereka (Helma & Suryana, 2. Fungsi Sosialisasi. Sosialisasi adalah dasar di mana seorang anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Keluarga memainkan peran utama dalam proses ini karena interaksi pertama anak terjadi dengan anggota keluarganya, yang merupakan kontak utama anak. Keluarga bertanggung jawab untuk membentuk rasa tanggung jawab pada anak. Sosialisasi adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu atau kelompok, di mana mereka mempelajari contoh kehidupan, nilai-nilai, dan praktik-praktik yang dianggap normal untuk berinteraksi dan berpartisipasi dalam masyarakat mereka. Sosialisasi dalam keluarga sangat penting karena perhatian orang tua membantu anak memahami aturan dan norma, serta memungkinkan mereka untuk bersosialisasi dengan baik dalam lingkup keluarga (Aulia & Ngaisah, 2. Noor Khalilati 1. Roly Marwan Mathuridy 1. Mesti Nurjayanti 1 Email: noorkhalilati09@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Fungsi Sosial dan Budaya. Fungsi sosial dan budaya berperan dalam menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya sosial, seperti tata krama berbicara dengan orang tua, cara berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, dan mengenalkan budaya daerah mereka. Fungsi sosialisasi yang baik dalam keluarga berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan akademik siswa. Dengan sosialisasi yang baik di rumah, siswa lebih mungkin merasa didukung, termotivasi, dan mampu menghadapi tantangan sosial dan akademik di sekolah. Orang tua di komunitas ini mungkin memiliki pemahaman yang baik tentang pentingnya peran mereka dalam proses sosialisasi anak-anak. Mereka mungkin terlibat aktif dalam kehidupan anak-anak, memberikan contoh positif, dan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis. Temuan ini dapat digunakan sebagai dasar bagi pihak sekolah untuk memperkuat kemitraan dengan orang tua dan keluarga. Sekolah dapat mengembangkan program atau kegiatan yang mendukung keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan dan sosialisasi siswa. Dengan asumsi-asumsi ini, peneliti dapat menggali lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mendukung fungsi sosialisasi keluarga yang baik serta mencari cara untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas sosialisasi keluarga di lingkungan tersebut. Semua yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa keluarga sangat penting bagi anak, terutama dalam hal interaksi dan pembentukan pola pikir mereka di masyarakat umum. Ini karena fungsi keluarga yang baik mengurangi perilaku menyimpang remaja di masyarakat umum. Pembahasan Perilaku Menyimpang Remaja Menurut Saparinah Sadli menyatakan bahwa perilaku menyimpang merujuk pada tindakan yang bertentangan dengan standar masyarakat. Reaksi atau respons individu terhadap perilaku menyimpang, yang ditunjukkan dalam sikap mereka, baik dalam ucapan maupun tindakan, yang melanggar, bertentangan, atau menyimpang dari standar atau harapan lingkungan sosial yang Sebagai contoh, jika tindakan atau perilaku seorang siswa menyimpang dari peraturan atau norma yang berlaku di sekolah, siswa tersebut dianggap memiliki perilaku menyimpang (Fitriyani & Shomedran, 2. Perilaku menyimpang memiliki beberapa jenis yaitu Miras, atau minuman keras, adalah salah satu dari banyak jenis penyimpangan sosial dan masalah sosial yang ada di masyarakat. Menurut keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI), alkohol, meskipun dalam jumlah rendah, dianggap sebagai minuman keras dan penggunaannya dilarang. Penyalahgunaan Narkotika: Pada awalnya, narkotika digunakan untuk tujuan medis, terutama sebagai bagian dari obat-obatan dan prosedur medis lainnya. namun, mereka sering disalahgunakan. Perkelahian antar pelajar: Perkelahian antar pelajar tidak hanya melibatkan pertarungan fisik secara individu, tetapi sering kali melibatkan senjata, seperti senjata tajam, dan terkadang dilakukan dalam kelompok. Perilaku seks diluar nikah. Selain bertentangan dengan norma sosial, perilaku seks di luar nikah juga dilarang secara tegas oleh agama. Perjudian. Berjudi dianggap sebagai bentuk penyimpangan sosial karena melibatkan pertaruhan harta atau nafkah yang seharusnya digunakan secara lebih bijaksana. Kejahatan (Kriminalita. Tindak kejahatan dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin atau usia, dan dapat terjadi pada berbagai tahap usia, termasuk anak-anak, dewasa, dan lanjut usia (Fitriyani & Shomedran, 2. Menurut Jensen . mengklasifikasikan perilaku menyimpang pada remaja menjadi empat bentuk: perilaku yang menyebabkan cedera fisik pada orang lain seperti perkelahian, tawuran, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, dan sebagainya. perilaku yang menyebabkan kerugian materi seperti pencurian, pencopetan, pemerasan, perusakan properti, pembegalan, dan serta perilaku yang tidak berdampak pada orang lain seperti pelacuran, penyalahgunaan narkoba, hubungan seks bebas, merokok, dan lainnya. Tingginya persentase responden dengan perilaku menyimpang dalam kategori cukup baik dalam melakukan perilaku menyimpang menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di SMAN 1 Kapuas Tengah mampu mengelola emosi dan perilaku mereka dengan cukup baik, meskipun mungkin masih ada tantangan yang perlu dihadapi. Sekolah kemungkinan memiliki program atau kebijakan yang efektif dalam mengelola dan mengurangi perilaku menyimpang di kalangan siswa. Noor Khalilati 1. Roly Marwan Mathuridy 1. Mesti Nurjayanti 1 Email: noorkhalilati09@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Hubungan Fungsi Sosialisasi Keluarga Terhadap Perilaku Menyimpang Remaja Sosialisasi merupakan proses di mana individu atau kelompok mengalami dan mengerti berbagai contoh kehidupan, nilai-nilai, dan tindakan yang dianggap normal sepanjang hidup mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk berkreasi dan berkontribusi dalam lingkungan Dalam konteks keluarga, sosialisasi sangat penting karena anak-anak merasa diperhatikan oleh orang tua mereka, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mempelajari aturan dan norma sosial di sekitarnya (Hoesni & Firmansyah, 2. Proses di mana seseorang mempelajari dan menginternalisasi nilai-nilai, norma, sikap, dan pola perilaku yang dimiliki oleh orang-orang di sekitarnya untuk menjadi anggota masyarakat yang aktif disebut sosialisasi. Dari penjelasan konsep sosialisasi, dapat disimpulkan bahwa tujuan sosialisasi adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup bermasyarakat, serta mengembangkan individu yang memiliki kualitas pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat dan dirinya sendiri (Rusdiana & Saepuloh, 2. Adapun faktor yang mempengaruhi terjadinya sosialisasi diantaranya ada Sifat dasar, yaitu sifat yang diwariskan dari kedua orang tua kepada anak. lingkungan prenatal, yang merujuk pada kondisi yang dialami seseorang saat masih dalam kandungan ibunya, di mana ada hubungan psikologis yang kuat antara ibu dan janin. dan perbedaan individual, yang mencakup perbedaan dalam kepribadian setiap orang. Lingkungan seseorang dapat dibagi menjadi tiga kategori: lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial. Semua kategori ini berdampak pada perkembangan kepribadian individu. Jika seseorang memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu, mereka akan lebih cepat sosialisasi (Rusdiana & Saepuloh, 2. Sedangkan dalam buku tentang perilaku menyimpang. Saparinah Sadli mengatakan bahwa perilaku menyimpang merujuk pada tindakan atau respons individu yang melanggar atau tidak sesuai dengan norma atau harapan sosial yang ada di lingkungan mereka. Salah satu contoh perilaku menyimpang adalah sikap, ucapan, atau tindakan yang melanggar norma masyarakat. Seorang siswa dianggap menyimpang jika sikap atau tindakannya melanggar aturan atau standar sekolah (Fitriyani & Shomedran, 2. Menurut Wilnes, ada dua sumber penyimpangan sosial. Yang pertama adalah faktor internal, yang berasal dari dalam diri seseorang. Dua jenis integrasi terjadi saat remaja mengalami perubahan biologis dan sosial. Pertama, mereka menemukan perasaan konsistensi dalam hidup mereka dan kedua, mereka menemukan identitas peran. Ketika remaja tidak dapat melakukan kedua jenis integrasi ini, mereka menjadi pelaku kenakalan. Ini juga dipengaruhi oleh remaja yang tidak memiliki kontrol diri yang kuat. mereka cenderung terlibat dalam perilaku "nakal", bahkan jika mereka tahu perbedaan ini tetapi tidak memiliki kontrol diri yang cukup untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka. Faktor-faktor yang berasal dari luar individu, seperti teman sebaya dan lingkungan sosial mereka, juga berkontribusi pada kenakalan remaja. misalnya, keluarga yang kehilangan tempat tinggal karena kematian salah satu orang tuanya adalah salah satu contoh keluarga yang kenakalan remaja, konflik keluarga yang intens, atau kondisi ekonomi yang buruk. Semua faktor ini bisa menjadi pemicu kenakalan remaja. Selain itu, pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pergaulan teman sebaya yang buruk, juga berpotensi mempengaruhi perilaku dan karakter remaja secara Kenakalan remaja, seperti membolos atau melanggar peraturan sekolah, sering terjadi di lingkungan Pendidikan (Fitriyani & Shomedran, 2. Perilaku menyimpang memiliki beberapa jenis yaitu Miras, atau minuman keras, adalah salah satu dari banyak jenis penyimpangan sosial dan masalah sosial yang ada di masyarakat. Menurut keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI), alkohol, meskipun dalam jumlah rendah, dianggap sebagai minuman keras dan penggunaannya dilarang. Pada awalnya, narkotika digunakan untuk tujuan medis, terutama sebagai bagian dari obat-obatan dan prosedur medis lainnya. mereka sering disalahgunakan. Perkelahian antar pelajar: Perkelahian antar pelajar tidak hanya melibatkan pertarungan fisik secara individu, tetapi sering kali melibatkan senjata, seperti senjata tajam, dan terkadang dilakukan dalam kelompok. Perilaku Seks di luar nikah. Tindakan ini tidak hanya melanggar norma sosial, tetapi juga dilarang tegas oleh agama. Berjudi. Mempertaruhkan harta atau nafkah secara tidak sah merupakan bentuk penyimpangan sosial yang sering terjadi. Noor Khalilati 1. Roly Marwan Mathuridy 1. Mesti Nurjayanti 1 Email: noorkhalilati09@gmail. com Vol. 5 No. DOI: https://doi. org/10. 33859/jni. Accepted: 29 Desember 2024 Journal of Nursing Invention E-ISSN: 2828-281X DOI: https://doi. org/10. 33859/jni Kejahatan (Kriminalita. meliputi berbagai jenis kejahatan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, baik pria maupun wanita dan dalam berbagai usia (Fitriyani & Shomedran, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa dalam fungsi sosialisasi, data yang paling banyak adalah Fungsi Sosialisasi Keluarga dengan kategori baik, yaitu sebanyak 123 responden dengan persentase sebesar 91%. Sedangkan untuk perilaku menyimpang remaja pada responden SMAN 1 Kapuas Tengah, hasil penelitian menunjukkan bahwa data yang paling banyak berada pada kategori cukup baik, dengan 141 responden atau 97,2%. Hasil analisis dengan menggunakan Spearman Rho menunjukkan bahwa nilai signifikansi p value Fungsi Sosialisasi Keluarga sebesar . < . yang berarti terdapat hubungan antara Fungsi Sosialisasi Keluarga yang mempengaruhi Perilaku Menyimpang Remaja di SMAN 1 Kapuas Tenga. DAFTAR PUSTAKA