Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 P-ISSN : No. E-ISSN : No. PENGARUH TERAPI OKUPASI TERHADAP GEJALA HALUSINASI PENDENGARAN PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN RAWAT INAP DI YAYASAN AULIA RAHMA KEMILING BANDAR LAMPUNG Niken Yuniar Sari. Budi Antoro. Niluh Gede Pita Setevani Universitas Mitra Indonesia. Bandar Lampung E-mail: nikenyuniar@umitra. ABSTRAK Halusinasi adalah pengalaman atau respon yang salah terhadap stimulasi sensorik. Salah satu penatalaksanaan halusinasi adalah terapi okupasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi gejala halusinasi pendengaran pada pasien halusinasi pendengaran. Menggunakan desain quasi wxperiment pre-post test without control Sejumlah 27 sampel dipilih dengan teknik total sampling, instrument yang valid dan reliabel. Analisis menggunakan dependent t test. Hasil penelitian menunjukan gejala halusinasi menurun setelah diberikan terapi okupasi. -value < 0,. , frekuensi gejala halusinasi pendengaran yang dialami klien halusinasi pendengaran sebelum diberikan terapi okupasi yang paling banyak dalam katagori sedang . ,9%). Setelah diberikan terapi okupasi gejala halusinasi pendengaran yang paling banyak dalam katagori ringan . ,4%) Terapi okupasi di rekomendasikan untuk mengatasi halusinasi pada klien halusinasi pendengaran. Kata Kunci : Halusinasi Pendengaran. Terapi Okupasi. ABSTRACT Hallucinations are an experience of one or the wrong response to sensory stimulation. One of the management of hospitals with hallucinations is occupational therapy. This study aims to determine the frequency distribution of auditory hallucinatory symptoms in auditory hallucinatory patients. Using the quasi experiment pre-post test without control group design. A total of 27 samples were selected by total sampling technique, a valid and reliable instrument. The analysis uses dependent t test. The results showed hallucinations symptoms decreased after being given occupational therapy. -value < 0. , the frequency of auditory hallucinations symptoms experienced by auditory hallucinations clients before being given the most occupational therapy in the medium category . 9%). After being given the most auditory hallucinations symptom therapy in the mild category . 4%) Occupational therapy is recommended to treat hallucinations in clients with auditory hallucinations. Key Words: Hearing Hallucinations. Occupational Therapy P-ISSN : No. E-ISSN : No. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 PENDAHULUAN halusinasi yang dialami oleh pasien gangguan Penderita gangguan jiwa didunia diperkirakan jiwa adalah halusinasi pendengaran, 20% akan semakin meningkat seiring dengan halusinasi pengelihatan, dan 10% adalah kemajuan kehidupan masyarakat. Hampir 400 juta penduduk dunia menderita masalah gangguan jiwa, diantaranya skizofrenia yang merupakan gangguan jiwa berat atau kronis. Data Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung saat ini diperkirakan 26 juta orang didunia tahun 2013 jumlah penderita gangguan jiwa akan mengalami skizofrenia, mengatakan 720 orang dan sebanyak 7. lebih dari 90 % pasien dengan skizofrenia orang . ,2%) mengalami skizofrenia dan mengalami halusinasi, dan halusinasi yang penderita gangguan jiwa meningkat ditahun sering terjadi adalah halusiansi pendengaran, 2014 menjadi 17. 528 orang dan sebesar 8850 orang . ,7%) mengalami skizofrenia (Rekam pengecapan (Yosep, 2. Medik RSJ Provinsi Lampung, 2. World Health Organization (WHO, 2. Berdasarkan data yang diperoleh di Yayasan menyatakan setidaknya ada satu dari empat Aulia Rahma. Kemiling. Bandar Lampung orang didunia mengalami masalah mental. Tahun 2018 jumlah penderita halusinasi dan masalah gangguan kesehatan jiwa yang hingga akhir februari 2018 tercatat kasus ada diseluruh dunia sudah menjadi masalah tertinggi dengan pasien halusinasi terdapat 49 yang serius. Dimana terdapat sekitar 35 juta pasien penderita halusinasi dari 70 pasien orang terkena depresi, 60 juta terkena bipolar, yang dirawat diklinik tersebut. Diantaranya 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensi. pendengaran, 12 pasien dengan halusinasi penglihatan, 7 pasien dengan halusinasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia perabaan dan 3 pasien dengan halusinasi (Depke. pada tahun 2014 menyatakan jumlah gangguan jiwa di Indonesia mencapai angka 2,5 juta dari 150 juta populasi orang Halusinasi adalah sebagai pengalaman yang dewasa di Indonesia, dan terdapat 1,74 juta salah atau persepsi yang salah atau respon yang salah terhadap stimulasi sensorik. Suatu Di Indonesia, jumlah penderita penyimpangan persepsi palsu yang terjadi gangguan jiwa berat . sikosis/skizofreni. pada respon neurologis maladatif. Seseorang adalah 1,7 perseribu penduduk. Rumah Sakit Jiwa Diindonesia menyatakan sekitar 70% yang nyata dan P-ISSN : No. E-ISSN : No. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 Halusinasi dapat muncul dari mengalihkan perhatian pasien dari halusinasi salah satu panca indra (Stuart, 2. Respon yang dialami sehingga pikiran pasien tidak terhadap halusinasi dapat mendengar suara, terfokus dengan halusinasinya khusus nya curiga, khawatir, tidak mampu mengambil pada pasien halusinasi pendengaran (Yosep, keputusan, tidak dapat membedakan nyata dan tidak nyata. Pasien halusinasi disebabkan karena faktor pola asuh, perkembangan. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui Pengaruh Terapi Okupasi Terhadap Gejala menimbulkan gejala halusinasi. Seseorang Halusinasi Pendengaran Pada Pasien yang mengalami halusinasi bicara sendiri. Halusinasi Pendengaran Rawat Inap Di senyum sendiri, tertawa sendiri, menarik diri Yayasan Aulia Rahma. Kemiling Bandar darin orang lain, tidak dapat membedakan Lampung Tahun 2018. nyata dan tidak nyata (Stuart, 2. METODOLOGI Penatalaksanaan pasien dengan halusinasi Penelitian ini menggunakan jenis penelitian ada beberapa seperti farmakoterapi, terapi kuantitatif, menggunakan design eksperimen kejang listrik, psikoterapi dan rehabilitas yang dengan rancangan penelitian preksperiment diantaranya terapi okupasi, terapi sosial, dengan pendekatan one group pretest-postest TAK, terapi lingkungan (Prabowo, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah Penelitian I Wayan Candra dkk . seluruh pasien halusinasi pendengaran di meneliti terapi okupasi aktivitas menggambar Yayasan Aulia Rahma. Kemiling Bandar terhadap perubahan halusinasi pada pasien Lampung dengan jumlah 27 pasien halusinasi Sampel yang digunakan pada p=0,000. Hasil tersebut menemukan adanya penelitian ini adalah total sampel adalah 27 menggambar terhadap perubahan halusinasi penelitian ini adalah Teknik Total Sampling. pada pasien skizofrenia. Langkah-langkah Aktivitas menanam yang dilakukan bertujuan Pretest dilakukan dengan cara melakukan untuk meminimalisasi interaksi pasien dengan dunianya yang tidak nyata, mengeluarkan pikiran, perasaan, atau emosi yang selama ini pencetus, dan respon pasien. hiburan, serta P-ISSN : No. E-ISSN : No. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 Setelah melakukan selesai pretest, selanjutnya pendengaran berdasarkan lembar observasi melakukan terapi pada hari berikutnya yang yang sudah baku. Instrument ini terdiri dari dimana akan dilakukan 1-2 jam dengan beberapa tahap, tahap 1 dengan waktu A-1 Teknik jam terdiri dari tahap persiapan dan orientasi, digunakan dalam penelitian ini adalah uji melakukan persiapan alat-alat dan bahan Wilxocon Sign Rank Test. seperti menyiapkan tanaman, sekop, polibag, pupuk, air,dll setelah itu tahap kedua 1-1/2 HASIL yang terdiri dari tahap kerja dan tahap Karakteristik responden penelitian ini akan evaluasi, dimana pada tahap ini ajarkan dijelaskan seperti usia, jenis kelamin, lama responden bagaimana cara menanam dan dirawat, dan pekerjaan merawatnya, saat menanam yang pertama Tabel 1. Karakeristik Berdasarkan Usia dilakukan adalah menggali tanah yang akan digunakan, setelah itu memberikan contoh untuk pertama kali kepada responden dalam menanam sayuran. Setelah evaluasi, jika sudah melakukan terapi Umur Frekuensi < 21 tahun 21-40 tahun 40-60 tahun >60 tahun Total Persentas 70,4% 29,6% lakukan evaluasi dengan cara menanyakan Tabel 1. dapat diketahui bahwa distribusi kepada responden apakah responden senang frekuensi usia pada responden halusinasi pendengaran paling banyak pada katagori usia memberikan hadiah kepada responden yang 21-40 tahun dengan jumlah 19 responden sudah mau dalam mengikuti terapi sebagai dengan persentase 70,4 %. Menurut peneliti evaluasi peneliti melakukan kontrak waktu dewasa dan mandiri. terapi selanjutnya terapi yang akan dilakukan selama 2 minggu dengan 1 minggu dilakukan 3 sesi pertemuan, sehingga terdapat 6 sesi pertemuan untuk 2 minggu. Pada hari ke 15 (Posttes. mengukur gejala halusinasi pendengaran. Instrument pengumpulan data yang digunakan Pre Testdan Post Testberupa lembar observasi membuktikan dirinya sebagai seorang pribadi kepada partisipan dan wali responden untuk P-ISSN : No. E-ISSN : No. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 Tabel 2. Karakteristik Berdasarkan Jenis Tabel Kelamin. Lama Dirawat Dan Pekerjaan pendengaran klien halusinasi pendengaran Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempua Lama di rawat 1-5 tahun Pekerjaan Pedagang Petani Wiraswas IRT Supir sebelum diberikan terapi okupasi paling 74,1% 25,9% banyak dalam kategori sedang dengan jumlah responden 14 responden dengan persentase 51,9%. Hasil penelitian ini sesuai dengan 48,1% 29,6% 37,0% 7,4% 22,2% 3,7% penelitian yang dilakukan oleh I Wayan Candra Dkk . yang meneliti tentang terapi okupasi terhadap aktivitas menggambar terhadap perubahan halusinasi pada pasien Hasil penelitian menemukan bahwa sebelum diberikan terapi okupasi aktivitas menggambar sebagaian besar yaitu Tabel 2. dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi karakteristik pada responden seperti orang . ,0%) mengalami halusinasi tingkat sedang. jenis kelamin, lama sakit, dan pekerjaan Frekuensi jenis kelamin pada klien Hasil penelitian yang didapat menunjukan halusinasi pendengaran paling banyak pada katagori jenis kelamin laki-laki sebelum diberikan terapi okupasi aktivitas menanam gajala halusinasi pendengaran yang jumlah 20 responden dengan persentase 74,1%, frekuensi lama sakit pada klien halusinasi pendengaran paling banyak pada hubungan sosialnya sehingga pasien hidup pendengaran paling banyak pada katagori frekuensi pekerjaan pada klien halusinasi pendengaran menyebabkan pasien mengalami 14 responden dengan persentase 51,9%, dan Hal ini disebabkan karena halusinasi katagori lama sakit 1-5 tahun dengan jumlah pikirannya yang diciptakan sendiri, seolah- responden dengan persentase 37,0%. olah semuanya menjadi sesuau yang nyata Tabel 3. Distribusi Frekuensi Gejala Halusinasi sehingga responden tidak dapat mengalihkan Pre-Test Gejala Halusinasi Pendengaran (Pre-Tes. Berat Sedang Ringan dan mengontrol halusinasi yang dialaminya. 48,1 % 51,9% Pasien yang sehat mampu mengidentifikasi Total berdasarkan informasi yang diterima melalui dengan halusinasi P-ISSN : No. E-ISSN : No. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 mempersepsikan suau stimulasi dengan panca Yayasan Aulia Rahma Kemiling. Bandar indra yang sebenarnya stimulus tersebut tidak Lampung Tahun 2018. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni Made Wijayanti Dkk . terapi okupasi Menurut aktivitas waktu luang terhadap perubahan halusinasi dibagi menjadi intensitas halusinasi gejala halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia dengan hasil p=0,000 yang berati ansietasnya yang dialami dan kemampuan ada pengaruh terapi okupasi aktivias waktu klien dalam mengendalikan dirinya. luang terhadap gejala halusinasi pendengaran Tabel Muhith Distribusi Frekuensi Gejala pada pasien skizofrenia. Hasil penelitian Halusinasi Pendengaran Post-Test lainnya I Wayan Candra Dkk . terapi Gejala Halusinasi Pendengaran (PostTes. Berat Sedang Ringan Total perubahan halusinasi pada pasien skizofrenia dengan hasil p=0,000. 18,5% 37,0% PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan sebagian besar Tabel 4. gejala halusinasi pendengaran pada gejala halusinasi pendengaran pada klien halusinasi pendengaran setelah diberikan diberikan terapi okupasi paling banyak dalam terapi okupasi paling banyak dalam kategori kategori ringan dengan jumlah responden 12 responden dengan persentase 44,4%. Hasil responden dengan persentase 44,4%. Terjadi penelitian ini sesuai dengan I Wayan Candra penurunan gejala halusinasi pendengaran Dkk . hasil penelitian ditemukan bahwa setelah diberikan erapi okupasi karena pada seelah diberikan terapi okupasi aktivitas menggambar sebagian besar yaitu ringan dengan 21 responden . ,0%) mengalami yang selama Hasil penelitian dari uji satistik didapatkan Hasil Uji Wilcoxon didapat P Value 0,00< memberikan kegembiraan, hiburan, serta 0,05, artinya ada pengaruh terapi okupasi mengalihkan perhatian pasien dari halusinasi terhadap gejala halusinasi pendengaran pada yang dialami sehingga pikiran pasien tidak pasien halusinasi pendengaran rawat inap di terfokus dengan halusinasinya khusus nya Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 P-ISSN : No. E-ISSN : No. pada pasien halusinasi pendengaran. Dimana melakukan pengkajian tentang gangguan banyak penelitian yang sudah membuktikan persepsi sensori: halusinaisi pada klien, bahwa terapi okupasi dapat mengubah gejala kemudian menentukan masalah atau diagnosa halusinasi pendengaran. keperawatan yang muncul, menyusun rencana Terjadi sehingga gejala halusinasi pendengaran dapat diberikan terapi okupasi, karena pasien mampu melakukan aktivitas dengan baik pada saat pelaksanaan terapi. Keadaan demikian KESIMPULAN mempengaruhinpasien lain tetap focus dan Karakterisik klien dengan gejala halusinasi menikmati aktivias yang diberikan untuk pendengaran paling banyak pada usia 21-40 mengikuti teman sekelompoknya sehingga tahun, lalu jenis kelamin pada klien halusinasi halusinasi dapat dialihkan. Hal ini sesuai pendengaran paling banyak dengan jenis dengan Herman . Aktivitas dalam kelamin laki-laki, untuk frekuensi lama okupasi terapi hanya media, tidak untuk Peranan dirawat paling banyak pada 1-5 tahun, dan untuk pekerjaan klien paling banyak pada sebagai penghubung antara batin klien dengan pekerjaan petani. dunia luar, berhubungan dengan tujuan pekerjaan dan dapat meningkatan kemampuan klien bersosialisasi dalam kelompok terapi. Diamati dan dicermati satu persatu dari diberikan terapi okupasi. Keadaan ini dapat frekuensi gejala halusinasi pendengaran pada hanya menurun sedikit sebelum dan sesudah dengan jumlah 14 responden dan distribusi responden gejala halusinasi pendengarannya okupasi lebih tinggi dalam kategori sedang seluruh responden penelitian ditemukan ada 2 Distribusi diberikan terapi okupasi lebih tinggi dalam kategori ringan dengan jumlah 12 responden. mengalihkan dan mengontrol halusinasi yang Hasil Begitu besarnya pengaruh terapi okupasi terhadap gejala halusinasi, diharapkan petugas pendengaran rawat inap Di Yayasan Aulia kesehatan dapat lebih meningkatkan intevensi terlebih dahulu Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. Volume VII. No. 1 April 2019 Rahma. Kemiling. Bandar Lampung Tahun KEPUSTAKAAN