PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN SEKSUAL DI DESA WONOPLUMBON Nurul Afifah Email: nurulafifh12@gmail. Mahasiswa Prodi Profesi Ners Universitas Widya Husada Semarang ABSTRAK Latar belakang : Masa remaja adalah masa yang begitu penting dalam hidup manusia, karena terjadi proses awal kematangan organ reproduksi pada manusia yang disebut masa pubertas. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu keadaan dimana remajadapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalani fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan dalam bidang kesehatan. Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja. Metode : Jenis penelitian ini studi kasus. Penelitian ini merupakan pengambilan data pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap tingkat pengetahuan pada remaja di Desa Wonoplumbon. Hasil : hasil analisis penelitian menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja, hal ini membuktikan bahwa dalam menyikapi kemampuan responden dalam menerima dan memahami materi kesehatan reproduksi remaja yang diberikan berbeda-beda, pendidikan kesehatan merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja. Kesimpulan : Terdapat pengaruh terhadap pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja. Kata Kunci : Pendidikan kesehatan. Pengetahuan. Remaja ABSTRACT Background : Adolescence is a very important period in human life, because there is an early process of maturation of the reproductive organs in humans called puberty. Adolescent reproductive health is a condition where adolescents can enjoy their sexual life and are able to carry out their reproductive functions and processes in a healthy and safe manner. Health education is an application of the concept of education in the health sector. The basic concept of education is a learning process which means that in education there is a process of growth, development or change towards a more mature, better and more mature individual, group or community. Objective: To determine the effect of counseling on the level of knowledge of reproductive health in adolescents in Wonoplumbon Village. Methods: This type of research is a case study research type. This study is a data collection of the influence of Health Education on the level of knowledge of adolescents in Wonoplumbon Village. Results: the results of the analysis of the research above which show an increase in knowledge before and after being given health education about adolescent reproductive health, this proves that in responding to the ability of respondents to accept and understand the different materials given to adolescent reproductive health, health education is a method that effective for increasing adolescent Conclusion: There is an influence on the knowledge of adolescents before and after being given health education about adolescent reproductive health. Keywords: Health Education. Knowledge. Youth PENDAHULUAN Masa remaja adalah masa yang begitu penting dalam hidup manusia, karena terjadi proses awal kematangan organ reproduksi pada manusia yang disebut masa pubertas. Masa peralihan dari masa anak Ae anak menuju dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan dalam hal fisik maupun psikis. Masa remaja dibedakan menjadi masa remaja awal usia 10 Ae 13 tahun, masa remaja tengah usia 14 Ae 16 tahun serta remaja akhir pada usia 17 Ae 19 tahun. Kesehatan yang paling utama pada masa remaja adalah kesehatan Masa remaja merupakan proses perjalanan hidup dari masa anak Ae anak yang terbebas oleh tanggungjawab sampai pada masa dewasa yang memiliki berbagai tanggungjawab (Galang,2. Situasi kesehatan reproduksi remaja usia 15 Ae 19 tahun adalah proposi pertama kali berpacaran pada usia 15 Ae 17 tahun. Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki Ae laki mulai berpacaran sebelum usia 15 tahun, sehingga mereka akan memiliki resiko perilaku pacaran yang tidak sehat antara lain melakukan hubungan seks pranikah, sebagian besar hubungan seksual pranikah didapatkan 57,5% pada laki Ae laki, 38% pada perempuan, dan dipaksa oleh pasangan 12,6%. Kehamilan pada usia muda (<15 tahu. adalah 1,97% dipedesaan lebih tinggi daripada dikota. Remaja menyukai sumber informasi kesehatan reproduksi diperoleh dengan teman sebaya dan guru, sedangkan pada perempuan menyukai sumber informasi dari orangtua, tenaga kesehatan dan guru (Galang,2. Indonesia pada tahun 2020 sampai dengan 2030 diprediksi akan mendapatkan bonus demografi. Dimana kondisi ini penduduk berusia produktif yaitu usia remaja sangat besar dibandingkan usia anak anak semakin kecil dan usia lanjut masih tidak terlalu besar proporsinya. Remaja jadi penentu untuk menikmati bonus demografi jika menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan sebaliknya maka bonus demografi tidak akan sepenuhnya di nikmati (Safitri, 2. Dibandingkan situasi dua puluh tahun lalu, kaum muda saat ini . memasuki usia remaja lebih cepat dan lebih sehat, . cenderung menghabiskan masa remaja lebih banyak di sekolah, . cenderung menunda masuk ke pasar kerja dan . cenderung menunda perkawinan dan melahirkan. Hasil proyeksi penduduk menunjukan jumlah penduduk usia remaja akan mengalami peningkatan hingga tahun 2030 dan kemudian menurun sesudahnya. Perubahan jumlah penduduk usia remaja tersebut terkait dengan transisi demografi di Indonesia, yang mana angka fertilitas yang menurun telah mengubah struktur usia Awalnya proporsi terbesar adalah penduduk usia 0 Ae 14 tahun. Namun seiring dengan penurunannya fertilitas, terjadi perubahan sehingga proporsi penduduk dominan bukan lagipenduduk muda tetapi usia produktif yaitu 15 Ae 64 tahun. Diantara mereka yang ada dalam kelompok usia produktif adalah remaja usia 15-24 tahun yang kelak akan menjadi penduduk dewasa dan tua pada tahun (Safitri, 2. Pengetahuan kesehatan reproduksi remaja sangat penting untuk dimiliki. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu keadaan dimana remajadapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalani fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa amat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarganya, sebab pada masa ini remaja mengalami perkembangan yang penting yaitu kognitif, emosi, sosial dan seksual. Perkembangan ini akan berlangsung mulai 12 tahun sampai 20 tahun. Kurangnya pemahaman ini disebabkan oleh berbagai factor antara lain: adat istiadat, budaya, agama, dan kurangnya informasi dari sumber yang benar. (Safitri, 2. Kurangnya pemahaman ini akan mengakibatkan berbagai dampak yang justru amat merugikan kelompok remaja dan keluarganya. Dilaporkan bahwa 80% laki-laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama pubertas dan 20% dari mereka mempunyai empat pasangan atau lebih. Ada sekitar 53% perempuan berumur 15-19 tahun melakukan hubungan seksual pada remaja, sedangkan jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual sebanyak dua kali lipat daripada perempuan. (Trismiyana, 2. METODE STUDI KASUS Jenis penelitian ini adalah studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit secara intensif, misalnya satu klien, keluarga, kelompok, komunitas, atau institusi. (Nursalam. Studi kasus keperawatan dibedakan menjadi empat yaitu studi kasus deskriptif, faktor yang berhubungan . , faktor yang berhubungan . , pengaruh . Dalam studi kasus ini jenisnya studi kasus deskriptif yang merupakan studi kasus yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memaparkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa kini. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistematis dan lebih menekankan pada data faktual dari pada penyimpulan (Nursalam, 2. Penelitian ini merupakan pengambilan data mengenai pengaruh Pendidikan Kesehatan reproduksi pada remaja terhadap tingkat pengetahuan seksual di Desa Wonoplumbon HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil studi kasus ini melibatkan 4 responden dari Desa Wonoplumbon. Penelitian ini untuk mengatahui pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap pencegahan terhadap kehamilan remaja serta mengetahui karakteristik remaja. Penelitian dilakukan di Desa Wonoplumbon. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai pada tanggal 21 Agustus 2021. Responden pada penelitian ini adalah ibu ramaja yang berusia 13-17 tahun, serta bersedia menjadi responden masing-masing selama 1 hari. Terdapat 4 klien yang mengalami kurangnya informasi tentang Kesehatan reproduksi pada remaja. Penelitian dilakukan dengan memberikan Pendidikan Kesehatan tentang reproduksi pada remaja. Untuk menilai peningkatan pengetahuan responden akan diberika penyuluhan atau Pendidikan Kesehatan tentang reprodiksi remaja dan lembar observasi sebelum dan sesudah penyuluhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja di Desa Wonoplumbon. Tabel 1 Hasil skore Tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan Pendidikan Kesehatan Skore Tingkat Pengetahuan Nn. Nn. Sebelum Nn. Nn. Sesudah Berdasarkan tabel 1 didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan terlihat bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja, pengetahuan responden sebagian besar masih kurang yaitu dibawah 15 dari skore 20. Dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja, pengetahuan responden sebagian besar sudah membaik yaitu di atas 15 dari skore 20 PEMBAHASAN Penelitian ini membandingkan pengaruh dan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan pada remaja yang di Desa Wonoplumbon. Proses pengumpulan data dengan cara mencari remaja sesuai dengan kriteria, setelah itu memberikan lembar persetujuan menjadi responden dan peneliti menjelaskan tujuan dari penelitian. Setelah itu klien di berikan Pendidikan Kesehatan reproduksi pada remaja, dan menilai skor pengetahuan klien sebelum dan sesudah dilakukan Pendidikan Kesehatan menggunakan lembar observasi tingkat pengetahuan. Untuk mengetahui nilai pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan dapat dilihat pada tabel 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan remaja di Desa Wonoplumbon masih kurang. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi remaja sebagian besar pengetahuan remaja di Desa Wnplumbon masih kurang, hal ini menunjukkan bahwa informasi yang mereka miliki tentang kesehatan reproduksi remaja membuat remaja kebingungan dalam memahami problematika kesehatan reproduksi. Menurut Danang . berpendapat bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni . Asimilasi, . Akomodasi, dan . Equilibrasi . Proses asimilasi adalah proses penyatuan . informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuain berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Sesudah diberikan pendidikan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi remaja sebagian besar remaja di Desa Wonoplumbon sudah memahami tentang kesehatan reproduksi remaja dengan baik, hal ini disebabkan karena beberapa problematika kesehatan reproduksi remaja telah mereka pahami sehingga membuat mereka dapat menentukan langkah dan jawaban terhadap realita yang ada pada remaja. Berdasarkan teori, pengetahuan adalah hasil dari tahu, setelah orang melakukan pengindraan terhadap objek tertentu melalui indra penglihatan, pendengaran, rasa, dan raga. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan dan informasi yang didapat seseorang, karena perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan (Setyawan, 2. Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, karena responden yang diambil memiliki tingkat pendidikan formal yang sama. Menurut teori WHO yang dikutip oleh (Setyawan, 2. , salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri, maka perbedaan pengetahuan setiap remaja bisa dikarenakan informasi diluar pendidikan non formal yang didapat remaja secara individu seperti media massa, media elektronik dan informasi dari internet. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu. Faktor lain yang sangat berpengaruh dalam pembentukan pengetahuan adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial akan mendukung tingginya rendahnya pengetahuan seseorang, sedang ekonomi dikaitkan dengan pendidikan, ekonomi baik tingkat pendidikan akan tinggi sehingga tingkat pengetahuan akan tinggi juga, kemudian Kultur . udaya, agam. Budaya akan sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang, karena informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut. Pengalaman yang berkaitan dengan umur dan pendidikan individu, bahwa pendidikan yang tinggi maka pengalaman akan luas, sedangkan semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak (Setyawan, 2. Dilihat dari hasil analisis penelitian di atas yang menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja, hal ini membuktikan bahwa dalam menyikapi kemampuan responden dalam menerima dan memahami materi kesehatan reproduksi remaja yang diberikan berbeda-beda, pendidikan kesehatan merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja. Menurut (Setyawan, 2. penyampaian informasi dipengaruhi oleh metode dan media yang digunakan yang mana metode dan media penyampaian informasi dapat memberikan efek yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, maka dapat diambil kesimpulan. Pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi sebagian besar tingkat pengetahuannya masih kurang. Dan pengetahuan responden sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi sebagian besar tingkat pengetahuannya sudah membaik. Terdapat pengaruh terhadap pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja. SARAN Bagi Institusi Pendidikan Hasil studi kasus dapat memberikan masukan untuk memberikan edukasi mengenai Kesehatan reproduksi untuk menambah pengetahuan pada remaja. Bagi Perawat Hasil studi kasus digunakan sebagai referensi, sumber ilmu serta acuan untuk memberikan asuhan keperawatan mengenai Kesehatan reproduksi untuk menambah pengetahuan pada Bagi Peneliti Hasil studi kasus dijadikan sebagai tambahan ilmu mengenai senam dismenore untuk menurunkan nyeri dismenore dan kecemasan pada remaja. DAFTAR PUSTAKA