Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor I Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 DOI: https://doi. org/ 10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat Refleksi-Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy Martina Rosmaulina Marbun1*. Eventus Ombri Kaho2 STP Dian Mandala Gunungsitoli. Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Indonesia *Email: martina. rosmar@stpdianmandala. id1, matelosban@gmail. Alamat kampus: Jln. Nilam no. 04 Ilir. Gunungsitoli Korespondensi penulis: martina. rosmar@stpdianmandala. Abstract. This research aims to examine and understand how the tradition of AuMaragat Tuak BagotAy . apping palm sa. in the Batak community in the Central Tapanuli region reflects an ecological imagination that is in line with the principles of Catholic Eco-Theology (Laudato S. This tradition is a cultural practice that contains ecological and spiritual meaning, in which the Batak people in the Central Tapanuli utilize natural resources in a sustainable manner and with full respect for the environment. Through a Catholic Eco-Theology approach, this research seeks to explore the theological values contained in this tradition and how these values are lived out in society. The research method used is qualitative and literature study. Field data was obtained by conducting in-depth interviews with community leaders and practitioners of the AuMaragat Tuak BagotAy tradition. The research results show that the AuMaragat Tuak BagotAy tradition not only has a socio-cultural function but also contains deep ecological This practice contains reflections on the importance of maintaining natural balance, respecting creation, and involving the spiritual dimension. Apart from that, the AuMaragat Tuak BagotAy tradition also represents the relationship between humans and nature which is in line with Catholic Eco-Theological teachings about humanAos moral responsibility to care for the earth as a shared home. The results of this research provide an important contribution in enriching the discourse on ecology and theology in Indonesia, as well as offering a new perspective in environmental conservation efforts based on local wisdom and religious values. Keywords: Catholic Eco-Theology. Laudato Si. Local Wisdom. Maragat Tuak Bagot Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami bagaimana tradisi AuMaragat Tuak BagotAy . enyadap nira are. pada masyarakat Batak di wilayah Tapanuli Tengah mencerminkan imajinasi ekologis yang selaras dengan prinsip-prinsip Eko-Teologi Katolik (Laudato S. Tradisi ini merupakan salah satu praktik kultural yang mengandung makna ekologis dan spiritual, di mana masyarakat Batak di Tapanuli Tengah memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan dan penuh hormat terhadap Melalui pendekatan Eko-Teologi Katolik, penelitian ini berupaya menggali nilai-nilai teologis yang terdapat dalam tradisi tersebut dan bagaimana nilai-nilai tersebut dihidupi oleh masyarakat. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dan studi literatur. Data di lapangan diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam kepada tokoh masyarakat dan pelaku tradisi AuMaragat Tuak BagotAy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi AuMaragat Tuak BagotAy tidak hanya memiliki fungsi sosial budaya tetapi juga memuat pesan-pesan ekologi yang mendalam. Praktik ini memuat refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, menghormati ciptaan, dan melibatkan dimensi spiritual. Selain itu, tradisi AuMaragat Tuak BagotAy juga merepresentasikan hubungan antara manusia dengan alam yang selaras dengan ajaran Eko-Teologi Katolik tentang tanggung jawab moral manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya diskursus tentang ekologi dan teologi di Indonesia, serta menawarkan perspektif baru dalam upaya pelestarian lingkungan yang berbasis pada kearifan lokal dan nilai-nilai religius. Kata kunci: Eko-Teologi Katolik. Kearifan Lokal. Laudato Si. Maragat Tuak Bagot Received: Maret 24, 2025. Revised: 18 April, 2025. Accepted: 20 April, 2025. Published: Mei 2025 Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy LATAR BELAKANG Diskursus mengenai ekologi menjadi isu yang menarik perhatian dunia. Ini menandakan dua hal sekaligus, yakni keutuhan dan kerusakan, yang kenyataannya justru dominan pada kerusakan. Kerusakan ini mendorong setiap pribadi untuk melihat lebih dekat posisi mereka. Berbicara mengenai ekologi tentu kita perlu melihat korelasi antar ciptaan, terutama relasi manusia dengan ciptaan lainnya. Sebagaimana yang tertuang dalam Kitab Kejadian, manusia diciptakan pada hari ke enam sesudah Allah menciptakan yang lainnya. Tujuan manusia diciptakan pada hari terakhir ialah untuk memelihara, melestarikan serta berkuasa atas ciptaan lainnya (Agnesia, 2023, hlm. Maka dengan keistimewaan tersebut manusia adalah ciptaan yang bermartabat luhur. Hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya tak terpisahkan. Lingkungan hidup merupakan ruang aktualisasi diri manusia. Sejarah awal umat manusia, pada tahap yang paling mendasar memandang alam sebagai sesuatu yang hidup (K. Armstrong, 2022, hlm. Dalam perspektif masyarakat adat alam tidak sekedar sebagai hidup, tetapi menjadi ruh (Qodim, 2. Akan tetapi pemahaman ini kemudian mengalami perubahan ketika alam dilihat sebagai sesuatu yang mekanistis, prosais, dan terprediksi. Masyarakat adat . ndigenous peopl. beberapa dekade terakhir menjadi sorotan utama dalam diskursus mengenai lingkungan hidup. Mereka dianggap paling dekat dengan lingkungan alam (Mahaswa & Kim, 2. Pada saat yang bersamaan, mereka juga mengalami sebuah krisis di mana perkembangan teknologi dan peran kapitalisme mencoba memisahkan mereka dari alam atau lingkungan Kedekatan mereka dengan alam sering kali dianggap sebagai salah satu upaya untuk menjaga alam. Hubungan mereka dengan alam begitu dekat, bahkan begitu sakral. Karena kedekatan tersebut, masyarakat adat terus berupaya untuk menjaga alam (Jasmine et al. , 2. Hidup mereka sepenuhnya bergantung pada alam. Maka, membicarakan alam berarti membicarakan tentang kehidupan mereka bersama alam. Hal serupa juga dialami oleh masyarakat Tapanuli Tengah. Secara khusus masyarakat di Kelurahan Bajamas Desa SP 3, yang pada umumnya ialah petani, guru dan buruh pabrik. Sebagian besar masyarakat ialah petani, kehidupan mereka ditandai dengan berbagai kedekatan dengan alam. Terdapat salah satu kearifan budaya lokal yang menggambarkan kedekatan masyarakat dengan alam yang mudah dijumpai ialah Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 Aumaragat tuak bagotAy. Tradisi ini merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat lokal, yang tidak hanya mencerminkan aspek sosial dan budaya, tetapi juga melibatkan elemen kepercayaan dan spiritualitas yang mendalam. Dalam konteks teologi Katolik, pemahaman tentang hubungan antara manusia dan lingkungan dipengaruhi oleh ajaran-ajaran tentang penciptaan, tanggung jawab ekologis, dan keselamatan. Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk merawat dan menjaga ciptaan Tuhan, yang mencakup lingkungan dan sumber daya alam (Kej. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana tradisi lokal seperti Aumaragat tuak bagotAy berinteraksi dengan prinsip-prinsip teologis Katolik, terutama dalam hal imajinasi ekologis dan pelestarian lingkungan. Ritual Aumaragat tuak bagotAy tidak hanya mencerminkan hubungan budaya masyarakat Tapanuli Tengah dengan lingkungan mereka, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang dapat dipertimbangkan dalam konteks teologi Katolik. Proses pembuatan tuak ini melibatkan langkah-langkah yang dipenuhi dengan simbolisme dan doa-doa yang menunjukkan penghormatan terhadap sumber daya alam dan kekuatan spiritual. Dalam hal ini, ritual tersebut dapat dilihat sebagai cerminan dari pandangan ekologis masyarakat yang menghargai keberlanjutan dan keseimbangan alam, yang sejalan dengan ajaran Katolik mengenai tanggung jawab ekologis. Selain itu, dalam menghadapi tantangan modernisasi dan perubahan sosial, penting untuk mempertimbangkan bagaimana tradisi ini dapat terintegrasi dengan ajaran teologi Katolik tanpa kehilangan esensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana imajinasi ekologis masyarakat Tapanuli Tengah, yang tercermin dalam ritual Aumaragat tuak bagot,Ay dapat dihubungkan dengan prinsip-prinsip teologi Katolik mengenai penciptaan dan pelestarian lingkungan. Penelitian ini juga akan mengkaji bagaimana ajaran Katolik dapat memberikan perspektif baru untuk memahami dan melestarikan tradisi ini dalam konteks kontemporer. Dengan pendekatan refleksikritis, penelitian ini akan mengevaluasi hubungan antara tradisi lokal dan ajaran Katolik, serta bagaimana tradisi ini dapat berfungsi sebagai jembatan dalam memahami tanggung jawab ekologis dan spiritual di era modern. Untuk melihat arah penelitian ini secara holistik, maka dibutuhkan tinjauan terhadap beberapa kajian terdahulu, sehingga kebaruan dalam tulisan ini kontras dengan Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy penelitian lainnya. Pertama, dalam penelitian yang berjudul AuDiskusi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. mengenai Pengembangan Usaha Kuliner Tuak di Desa Wisata Bagot Kawasan Danau Toba. Desa Parlondut Kabupaten SamosirAy. Kennedy mengkaji dari perspektif pariwisata. Kennedy melihat bahwa masyarakat Desa Wisata Bagot, yang termasuk dalam kawasan wisata Danau Toba telah mulai mengembangkan usaha melalui kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis. Pokdarwis sekarang menikmati hasilnya, terutama setelah pembangunan besar-besaran di kawasan tersebut. Pokdarwis Desa Wisata Bagot termotivasi untuk terus mengembangkan produk baru untuk mendukung rencana pemerintah untuk meningkatkan pariwisata Kabupaten Samosir. Pokdarwis Desa Wisata Bagot menghadapi banyak tantangan selama perjalanannya. Ketika jumlah wisatawan meningkat, menjadi sulit untuk memenuhi permintaan bagot mereka. Selain membatasi wisatawan untuk minum lebih dari dua gelas bagot karena dapat menimbulkan mabuk juga ada hambatan yang terkait dengan peningkatan kualitas sumber daya Agar produk menjadi lebih beragam, anggota Pokdarwis masih perlu mendapatkan pelatihan kuliner dan mendapat dukungan dari pemerintah (Kennedy. Penelitian kedua, di wilayah yang sama yakni di Danau Toba. Sibarani dalam penelitiannya yang berjudul AuThe Local Wisdom on Aren (Arenga Pinnat. palm tree in Toba Batak Tradition on North Sumatera at Lake Toba AreaAy mengkaji bagaimana pohon aren AuArenga PinnataAy yang dilihat sebagai pohon simbolik dan multi-etnis sehingga dapat dipahami dalam wacana kolektif masyarakat. Studi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan model etnografi untuk memberikan perspektif antropo-linguistik dan filsafat. Parameter analitiknya ialah interkoneksi, valuabilitas, dan Analisisnya berfokus pada kinerja, indeksikalitas, dan partisipasi. Pengumpulan papungu halto pohon aren tumbuh sendiri di wilayah Danau Toba adalah titik awal dari kategori simbolik lokal penanaman pohon aren. Hal ini menunjukkan bahwa penanaman pohon aren saat ini hampir tidak ditemukan. Namun demikian, kategori simbolik ini muncul dengan cara yang baru yang disesuaikan dari indeksikalitas bahasa nasional, di mana pohon palem dianggap sebagai pohon yang memiliki banyak Metafora budaya, peribahasa, perumpamaan, ayat-ayat tradisional, dan dongeng berdasarkan pohon aren adalah beberapa contoh wacana rakyat yang berfungsi untuk mengindeks ingatan kolektif masyarakat setempat. Semua wacana rakyat memiliki Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 sumber daya budaya yang terkait dengan masyarakat setempat, serta kesadaran bahwa wacana rakyat membutuhkan pemahaman tentang manusia dan budayanya (Sibarani. Penelitian ketiga. Firmando melihat minuman tuak tradisional sebagai cara Dalam penelitiannya berjudul AuKearifan Lokal Minuman Tradisional Tuak dalam Merajut Harmoni Sosial di Tapanuli Bahagian UtaraAy melihat minuman tuak sebagai bagian dari kearifan lokal yang membantu masyarakat secara komunal. Firmando mengkategorikan kebermanfaatannya menjadi dua, yakni untuk kesehatan individu dan sebagai sarana bersosialisasi dalam masyarakat secara kolektif. Seiring dengan produksi tuak yang berkualitas, kedai tuak harus dibangun menjadi tempat yang bersih dan nyaman untuk pelanggan. Menurut kepercayaan Batak tradisional, tuak diberikan kepada roh-roh nenek moyang atau orang yang sudah meninggal. Sekarang, tuak disajikan pada berbagai acara, baik itu sukacita maupun dukacita. Tuak adalah minuman tradisional yang berfungsi sebagai sarana kesehatan, sarana ekonomi, sarana sosial, sarana keagamaan . , dan sarana simbolik. Semua ini dilakukan untuk membantu menjaga keseimbangan sosial (Firmando, 2020, hlm. Penelitian ke empat, di Jawa Barat pohon aren juga menjadi simbol penting bagi kampung adat Dukuh di Garut. Hal ini tampak dari kajian Hidayana dan Lahpan tentang AuMakna Budaya Pohon Aren dalam Pendekatan Ekologi Budaya di Kampung Adat Dukuh. Cikelet. GarutAy dikatakan bahwa bagi masyarakat Dukuh di Garut, pohon aren memiliki makna dan fungsi yang sangat substansial baik itu pada kehidupan sosial maupun pada eksistensi budaya setempat. Pemeliharaan pohon aren yang dilakukan secara tradisional dalam rangka, yakni etika dan pandangan mereka terhadap keterhubungan mereka dengan alam dan penciptanya. Penelitian ini mengeksplorasi aspek sejarah dan makna budaya pohon aren bagi masyarakat adat Dukuh melalui pendekatan ekologi budaya. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman pohon yang masih tradisional di kalangan masyarakat adat memiliki nilai-nilai budaya yang signifikan. Selain itu, pohon aren memiliki makna budaya yang signifikan yang menggambarkan cara hidup masyarakat adat Dukuh. Pohon aren sangat penting bagi masyarakat Dukuh karena Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy berfungsi sebagai salah satu material rumah adat dan sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya (Hidayana & Lahpan, 2. Dari kajian literatur yang digunakan tentang tuak bagot terdapat perbedaan yang Penelitian Kennedy fokus pada faktor bisnis dan ekonomi. Sibarani pada unsur simbolik dan multi-etnis. Firmando melihat tuak bagot sebagai cara bersosialisasi dan Hidayana melihat tuak bagot merupakan salah satu upaya melestarikan cara hidup bermasyarakat di Dukuh-Garut. Berangkat dari empat penelitian tersebut, tawaran kebaruan dari penelitian ini ialah kajian eko-teologi yang melihat bagaimana masyarakat di Bajamas SP 3-Tapanuli Tengah khususnya paragat memperlakukan alam dengan baik tampak dalam cara paragat melakukan ritual penghormatan terhadap pohon aren sebelum dideres/disadap. KAJIAN TEORITIS Dalam medan perdebatan kontemporer tentang krisis ekologis, teori eko-teologi Katolik hadir sebagai respons transformatif yang melampaui diskursus saintifik dan politik semata. bukan hanya proyek pemulihan lingkungan, tetapi proyek penebusan dunia yang tercipta dalam terang iman dan akal budi. Eko-teologi Katolik memosisikan alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi demi akumulasi kapital, melainkan sebagai ciptaan yang memiliki nilai intrinsik karena berasal dari Sang Pencipta. Dalam kerangka ini, teologi tidak hanya berbicara tentang keselamatan manusia, tetapi tentang keselamatan seluruh ciptaan. Gagasan ini ditegaskan secara radikal oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato SiAo, di mana ia menolak antroposentrisme berlebihan yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta dan meminggirkan keberadaan non-manusia. Paus menulis. AuPandangan yang keliru tentang hubungan manusia dengan dunia alam akan mengakibatkan eksploitasi berlebihan terhadap alam, kekerasan terhadap sesama, dan pengabaian terhadap makna spiritual hidup manusiaAy (Paus Fransiskus, 2016, no. Dalam kalimat ini, terlihat bahwa akar dari krisis ekologis bukan sekadar kegagalan teknologi, tetapi kegagalan spiritual, kegagalan untuk menyadari bahwa segala yang ada diciptakan dalam relasi dalam komunio dengan Tuhan, manusia, dan ciptaan lainnya. Teori eko-teologi Katolik menolak dikotomi klasik antara materi dan roh, antara dunia dan surga, antara tubuh dan jiwa. Kesatuan integral ini menemukan fondasinya dalam Kristologi. Yesus Kristus yang inkarnatif bukan hanya menyelamatkan jiwa manusia, tetapi turut mengangkat keberadaan materi ke dalam partisipasi ilahi. Seperti yang dikatakan oleh Elizabeth Johnson. AuInkarnasi mengangkat nilai seluruh ciptaan sebab Allah masuk ke dalam sejarah dunia bukan hanya sebagai manusia, tetapi sebagai bagian dari dunia biologisAy (Johnson, 2014, hlm. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 Maka dunia bukan hanya latar tempat keselamatan terjadi, melainkan bagian integral dari drama penyelamatan itu sendiri. Salah satu pilar utama dalam eko-teologi Katolik adalah doktrin creatio ex nihilo bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dari ketiadaan. Namun penciptaan bukanlah tindakan masa lampau yang selesai sekali waktu, melainkan tindakan berkelanjutan . reatio continu. , di mana Allah terus-menerus menopang eksistensi semesta dalam keberadaannya. Hal ini memberi makna spiritual terhadap keberadaan setiap unsur duniaAitanah, air, pohon, hewan, batu, bahkan udara karena semua itu tidak hanya AoadaAo, tetapi AodijagaAo oleh kasih Allah. Thomas Aquinas bahkan menegaskan bahwa keragaman ciptaan mencerminkan kekayaan Sang Pencipta: AuKarena tidak satu makhluk pun yang mampu dengan sempurna mencerminkan kebaikan Tuhan, maka Ia menciptakan banyak makhluk dalam keragaman, agar bersama-sama mereka lebih sempurna memantulkan gambar AllahAy (Aquinas, . anpa tahu. Dengan demikian, keberagaman ekologis bukan sekadar fakta biologis, melainkan ekspresi teologis dari kemuliaan Tuhan. Ekoteologi Katolik juga mengusung konsepsi bahwa dosa bukan hanya pelanggaran terhadap hukum moral, tetapi juga terhadap keteraturan ciptaan. Dosa ekologis muncul ketika manusia mengingkari perannya sebagai Aopenjaga tamanAo (Kej. , dan justru berubah menjadi predator yang rakus, mencabik harmoni yang seharusnya dijaga. Paus Yohanes Paulus II menyebut ini sebagai Aukrisis moralAy, dan menegaskan perlunya pertobatan ekologis: AuManusia harus mengakui batas-batas etis dari kekuasaannya atas alam, dan mulai mempraktikkan gaya hidup yang lebih sederhana dan penuh hormat terhadap lingkunganAy (Pope John Paul II, 1990, hlm. Maka tanggung jawab ekologis bukan sekadar isu kebijakan, melainkan tindakan liturgisAisebuah ibadah yang hidup dalam kesadaran akan sakralitas dunia. Sakramen, dalam konteks ini, bukan hanya ritus keagamaan, tetapi cara dunia menjadi tanda kehadiran Allah. Dalam teologi Katolik, dunia diciptakan dengan kemampuan sakramentalAikemampuan untuk memediasi kasih dan kehadiran Tuhan. Air dalam baptisan, roti dan anggur dalam Ekaristi, minyak dalam pengurapan, semuanya berasal dari ciptaan. Maka, rusaknya ciptaan berarti rusaknya medium rahmat. Dalam pengertian ini, ekologi bukan hanya urusan duniawi, tetapi sangat rohani. Leonardo Boff, salah satu pemikir eko-teologi terkemuka dari Amerika Latin, mengatakan: AuAlam semesta adalah tubuh Allah. Melukai ciptaan berarti melukai tubuh-Nya sendiriAy (Boof, 1997, hlm. Ini adalah mistik ekologis yang menempatkan dunia sebagai Aohutan suciAo yang senantiasa harus dihormati, bukan ladang kosong untuk ditaklukkan. Lebih lanjut, teori eko-teologi Katolik juga tidak bisa dilepaskan dari semangat solidaritas sosial. Krisis ekologis berdampak paling berat pada kaum miskin, mereka yang paling sedikit kontribusinya terhadap degradasi lingkungan justru menjadi korban pertama. Maka, perjuangan ekologis tidak bisa dipisahkan dari perjuangan keadilan sosial. Laudato SiAo menegaskan bahwa Aumenangani krisis lingkungan berarti juga memperjuangkan keadilan bagi yang miskin dan terpinggirkanAy Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy (Paus Fransiskus, 2016, no. Ini adalah etika integral yang tidak memisahkan ekologi dari kemanusiaan, melainkan menjahitnya dalam satu jalinan eksistensial yang utuh. Maka, tangisan bumi adalah juga tangisan kaum miskin. penderitaan lingkungan adalah juga penderitaan manusia yang dimarjinalkan. Dalam cahaya ini, pertobatan ekologis adalah jalan kontemplatif sekaligus profetis: kontemplatif karena mengundang manusia untuk melihat dunia sebagai kitab suci kedua yang penuh tanda kasih Allah. profetis karena memanggil manusia untuk bersuara melawan sistem yang menindas bumi dan mereka yang hidup dari bumi. Dalam eko-teologi Katolik, tindakan ekologis menjadi bentuk liturgi duniawiAisebuah misa ekologis yang dipersembahkan bukan di altar batu, tetapi di altar tanah, air, dan langit. Teori ini pada akhirnya memulihkan dimensi spiritual dari kosmos. Dunia tidak lagi dilihat sebagai benda mati, tetapi sebagai makhluk hidup yang turut serta dalam pujian kosmik. Seperti dalam Mazmur: AuLangit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-NyaAy (Mzm. Inilah spiritualitas yang mengajak manusia untuk berelasi bukan hanya secara hierarkis dengan Tuhan, tetapi secara horizontal dengan semua ciptaan. Dalam relasi ini, manusia tidak menjadi pusat, tetapi bagian dari jaringan relasional yang saling menopang. Eko-teologi Katolik, dengan demikian, bukan proyek pinggiran dalam ajaran Gereja, melainkan penegasan inti dari iman akan inkarnasi, penciptaan, dan keselamatan. Ia membuka horizon baru dalam memahami dunia sebagai ruang spiritual, dan dalam memahami iman sebagai panggilan ekologis. Ini adalah proyek rekonsiliasi kosmik, di mana cinta Allah menembus batas-batas spesies, dan menyapa setiap makhluk sebagai saudara dan saudari dalam rumah bersama. Dalam jantung eko-teologi Katolik, berdenyut satu sosok yang menjadi ikon spiritualitas ekologis: Santo Fransiskus dari Asisi. Sosok ini tidak sekadar menjadi nama yang diabadikan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo, melainkan menjadi wajah dari suatu spiritualitas relasional yang mendalam, yang menyatu dengan debur alam dan napas kosmik. Santo Fransiskus tidak hanya mengasihi yang miskin, tetapi juga yang AudilupakanAy dalam semesta batu, angin, serigala, air, dan matahari. Ia memanggil mereka AusaudaraAy dan AusaudariAy, bukan sebagai metafora puitis, melainkan sebagai pernyataan metafisis dan teologis: bahwa segala sesuatu berasal dari satu sumber, dan karena itu, saling terhubung dalam ikatan ontologis yang tak terpisahkan. Spiritualitas Fransiskan mengakar dalam kesadaran akan kemiskinan radikal dan keterbukaan total terhadap kehadiran ilahi dalam segala hal. Ia adalah spiritualitas Autanpa kekuasaan atasAy tanpa dominasi, tanpa kolonisasi, tanpa jarak antara subjek dan objek. Dalam Kidung Saudara Matahari (Cantico di Frate Sol. Fransiskus menyanyikan semesta sebagai satu paduan suara pujian: AuTerpujilah Engkau. Tuhanku, bersama semua ciptaan-Mu, terutama Tuan Saudara MatahariA Saudari Bulan dan bintang-bintang. Saudari Air yang sangat berguna, rendah hati dan murniAAy(R. Armstrong et al. , 1999, hlm. Dalam lagu itu, relasi antar-entitas tidak Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 dilukiskan dalam hirarki, melainkan dalam kesetaraan spiritual: semua ciptaan adalah subjek yang memuliakan Sang Pencipta. Di sinilah letak radikalisme spiritualitas Fransiskus, ia membebaskan dunia dari objektifikasi teologis, dan mengangkatnya sebagai partisipan dalam drama Bagi Fransiskus, dunia bukan benda mati, bukan juga tantangan yang harus ditaklukkan oleh manusia rasional, melainkan saudara seperjalanan dalam ziarah iman menuju Allah. Ketika ia berbicara kepada hewan, berbicara kepada api dan air, ia tidak sedang bermain-main atau melantur dalam mistisisme kosong, melainkan memperlihatkan kedalaman spiritualitas yang telah tercerabut dari modernitas: kemampuan untuk mendengar suara semesta. Fransiskus adalah pendengar, bukan penakluk. Ia mengundang manusia untuk kembali merendah, melepaskan ilusi supremasi, dan menjadi AusaudaraAy dari segala sesuatu, bukan penguasa mereka. Inilah yang kemudian diterjemahkan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo sebagai spiritualitas ekologis: AuJika kita merasa dekat dengan ciptaan, dan penuh kasih terhadap makhluk-makhluk lainnya, maka kita akan lebih mudah menolak untuk menyakiti merekaAy (Paus Fransiskus, 2016, no. Spiritualitas Fransiskan bukan sentimentalitas. Ia adalah revolusi teologis yang mendahului zamannya. Dalam abad ke-13, ketika dunia masih dipenuhi logika hierarki feodal dan dominasi gerejawi atas alam dan tubuh. Fransiskus hadir dengan nyanyian pembebasan. merayakan Auketelanjangan eksistensialAy, suatu kondisi spiritual di mana manusia berdiri di hadapan Tuhan dan dunia tanpa atribut kekuasaan, tanpa harta, tanpa nama. Dalam kemiskinan ini, ia justru menemukan kelimpahan: bahwa segala sesuatu adalah anugerah, dan karena itu, tidak dapat dimiliki secara eksklusif. Maka spiritualitas Fransiskan sejatinya adalah kritik terhadap kepemilikan, terhadap ekonomi eksploitasi, terhadap kerakusan sistemik yang kini menjadi penyebab krisis ekologis. Leonardo Boff menangkap dengan jernih hal ini ketika menulis. AuFransiskus adalah model tertinggi dari orang yang hidup dalam harmoni dengan alam. Ia tidak menempatkan dirinya di atas makhluk lain, tetapi berjalan bersama mereka, sebagai saudara dan saudariAy (Boof, 1997, hlm. Boff, sebagai teolog pembebasan yang menafsir kembali warisan Fransiskus, melihat bahwa kemiskinan Fransiskus bukan hanya penyangkalan diri, tetapi juga penolakan terhadap dominasi struktural yang memperbudak manusia dan bumi. Maka dalam terang Fransiskus, spiritualitas ekologis menjadi praksis pembebasan yang konkret, yakni mengubah cara hidup, cara memandang, dan cara berelasi. Dalam dunia yang terfragmentasi oleh logika instrumental dan kalkulasi utilitarian, spiritualitas Fransiskus menawarkan jalan alternatif: jalan kasih sayang yang tak bersyarat terhadap ciptaan. Jalan ini bukan pelarian dari dunia, tetapi keterlibatan penuh dalam dunia dengan cara yang baruAidengan simpati, dengan kelembutan, dengan rasa hormat terhadap Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy Paus Fransiskus mengadopsi ini dalam seruannya untuk Aupertobatan ekologisAy, pertobatan yang bukan hanya perubahan perilaku, tetapi juga transformasi pandangan dunia. Sebab krisis ekologi, pada akarnya, adalah krisis spiritual: krisis karena kehilangan rasa takjub, kehilangan keheningan, kehilangan kemampuan untuk memuliakan ciptaan sebagai wajah Allah yang lain. Spiritualitas Fransiskus juga memulihkan peran tubuh dalam relasi ekologis. Ia tidak menolak tubuh sebagai kotor atau duniawi, melainkan menerimanya sebagai wahana pujian. Tubuh yang rapuh, lapar, tersentuh, adalah tubuh yang mengalami dunia secara penuh. Maka alam pun adalah tubuh kosmik yang harus dirawat, bukan dikorbankan. Dalam Laudato SiAo. Paus Fransiskus melanjutkan warisan ini dengan mengatakan bahwa Aubumi, rumah kita, mulai tampak seperti tumpukan sampah, dan ini adalah hasil dari keputusan yang didorong oleh keserakahan dan ilusi kekuasaan tanpa batasAy (Paus Fransiskus, 2016, no. Keserakahan adalah bentuk penyangkalan spiritual terhadap persaudaraan kosmik yang Fransiskus ajarkan. Melalui spiritualitas Fransiskus dari Asisi, eko-teologi Katolik menemukan dimensi mistik dan praktisnya Ia bukan hanya sebuah sistem pemikiran, tetapi cara hidup: cara hidup yang kontemplatif, bersahaja, dan penuh syukur. Dalam wajah Fransiskus, kita menemukan cermin masa depan iman yang tidak hanya memeluk manusia, tetapi juga daun yang gugur, sungai yang mengalir, dan burung yang berkicau di pagi hari. Sebab semua itu, dalam iman Fransiskan, adalah ayat-ayat dari kitab agung yang belum ditulis: kitab pujian dari bumi kepada Sang Pencipta. METODE PENELITIAN Metode penelitian dalam kajian ini disusun untuk mengungkap refleksi kritis atas imajinasi ekologi masyarakat Tapanuli Tengah dalam tradisi maragat tuak bagot dengan menggunakan pisau analisis eko-teologi Katolik. Penelitian ini berakar pada pendekatan kualitatif dengan orientasi interpretatif-hermeneutik, yang memungkinkan peneliti menangkap makna-makna simbolik, ekologis, dan spiritual yang tersemat dalam praktik budaya lokal. Tradisi maragat tuak bagot dipahami bukan sekadar sebagai aktivitas produksi atau konsumsi, melainkan sebagai ruang simbolik tempat masyarakat menegosiasikan relasinya dengan alam, leluhur, dan yang transenden. Dengan demikian, metode ini dirancang untuk menggali lapisan-lapisan makna dalam praktik tersebut, serta merefleksikannya dalam cahaya eko-teologi Katolik yang menekankan keterikatan spiritual manusia dengan ciptaan. Teknik pengumpulan data utama dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan orang yang melakukan aktivitas maragat tuak bagot . elanjutnya disebut paraga. di Desa Bajamas SP 3. Kecamatan Sirandorung. Tapanuli Tengah. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 informan ialah seputar bagaimana ritus yang mereka lakukan sebelum dan setelah maragat tuak bagot, serta apa makna dari ritus tersebut. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur, memberikan ruang bagi narasumber untuk menyampaikan pengalaman dan pemaknaan mereka secara naratif. Proses ini bertujuan tidak hanya untuk mengumpulkan data empiris, tetapi juga untuk membuka ruang bagi subjek penelitian merefleksikan secara kritis hubungan mereka dengan lingkungan, serta nilai-nilai teologis yang . tidak disadari hadir dalam praktik sehari-hari. Selain wawancara, studi pustaka dilakukan untuk mengkaji literatur yang relevan dengan tradisi lokal, konsep ekoteologi Katolik, serta kerangka teoritis tentang ekologi budaya dan spiritualitas Referensi teologis utama bersumber dari dokumen-dokumen Magisterium Gereja Katolik, khususnya Laudato SiAo, serta tulisan-tulisan teolog lingkungan yang memperkaya pemahaman atas interkoneksi antara iman, alam, dan keadilan ekologis. Data yang diperoleh dianalisis melalui pendekatan hermeneutik-kritis, dengan menekankan pada proses penafsiran yang dialogis antara teks-teks budaya lokal dan prinsip-prinsip eko-teologi Katolik. Peneliti memposisikan diri tidak hanya sebagai pengamat, melainkan juga sebagai partisipan reflektif yang berusaha menangkap resonansi antara makna-makna lokal dan spiritualitas ekologis universal. Dengan pendekatan ini, penelitian bertujuan bukan hanya memotret praktik ekologis masyarakat, tetapi juga menyajikan refleksi kritis tentang bagaimana tradisi tersebut dapat dibaca sebagai bentuk kebijaksanaan ekologis yang selaras dengan visi teologi Katolik tentang ciptaan sebagai rumah bersama . ommon hom. Penelitian ini membuka kemungkinan pembacaan ulang atas tradisi lokal sebagai sumber spiritualitas ekologis yang relevan dalam konteks krisis ekologi global, sekaligus menegaskan pentingnya dialog antara iman dan kearifan lokal dalam merawat bumi secara berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Panorama Ekologi Dan Posisi Masyarakat Adat Gambaran umum masyarakat di Tapanuli Tengah secara khusus di kelurahan Bajamas SP 3 didominasi oleh petani. Kehidupan sebagai petani menjadikan mereka banyak berelasi dengan alam semesta. Membaca dan mengalami secara langsung kehidupan masyarakat adat, rasanya ada yang janggal tetapi sekaligus unik ketika melihat kehidupan bumi dan krisis yang sedang mengintainya. Bagi masyarakat adat, tangisan Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy atas duka yang mereka alami adalah kerusakan alam yang entah siapa aktor utamanya. Masyarakat adat hari ini mungkin dapat dianggap sebagai duta penjaga alam terbaik. Posisi mereka jelas, di mana mereka begitu dekat dengan alam (Mahaswa & Kim, 2. Bahkan tak sedikit yang menyebut sebagai nadi bagi keberlanjutan alam. Namun, kita perlu berhenti untuk melihat posisi mereka sehingga tidak gegabah menghakimi mereka sebagai pihak yang memiliki ketergantungan kepada alam. Justru sebaliknya, di mana alam adalah bagian dari hidup mereka (K. Armstrong, 2. Logika ini tentu tidak berarti bagi pemikiran modern yang menganggap alam tidak memiliki jiwa. Alam dalam pemikiran modernisme adalah mesin. Ini mengingatkan kita pada pemikiran seorang filsuf berkebangsaan Perancis. Rene Descartes yang menganggap manusia dan alam adalah dua entitas yang berbeda. Pemikirannya yang tersohor adalah tentang perbedaan antara rex extensa dan res cogitan. Rex extensa untuk memisahkan manusia dari alam atau res cogitan. Penjelasan sederhananya demikian: seluruh pemikiran Rene Descartes bertumpu pada frasa Cogito Ergo Sum yang berarti Ausaya berpikir maka saya adaAy. Nyaris seluruh pemikiran modern dipengaruhi oleh pemikiran Rene Descartes. Sebagai sebuah pokok pemikiran, kemudian Rene Descartes mencoba memisahkan pikiran dan jiwa yang kemudian dikenal dengan rex extensa dan res cogitan. Penekanan pada rasionalitas menjadi begitu penting dibandingkan hal-hal lain yang melekat pada manusia, misalnya perasaan, kemampuan panca indra. Indikatornya untuk pengujiannya jelas, yakni sejauh mana itu ilmiah. Sehingga segala bentuk pengetahuan yang diperoleh dengan hanya mengandalkan perasaan dianggap tidak rasional dan tidak ilmiah (Keraf, 2. Pemikiran Rene Descartes yang tersohor itu mempengaruhi seluruh pemikiran Barat yang memandang rendah materi dibandingkan jiwa dan akal budi. Dengan memandang rendah materi, bagi Rene Descartes alam tidak lebih dari Alam dianggap tidak memiliki tujuan, kehidupan, roh dalam materi, di alam semesta (Keraf, 2014, hlm. Alam semesta, termasuk organisme hanya terdiri dari materi yang pada dasarnya adalah sebuah mesin yang hanya bisa dipahami sepenuhnya dengan menganalisisnya dalam bagian-bagian terpisah. Tentu masyarakat adat dalam terminologi yang diuraikan oleh Descartes atau bahkan para pemikir sebelum dan sesudahnya yang mencoba menguraikan dengan metode dekonstruksi dalam melihat masyarakat adat yang begitu dekat dengan alam. Mitos misalnya menjadi hal penting dalam memahami alam bagi sebagian besar masyarakat adat (Kaho, 2. Dalam sejarah Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 manusia ada dua cara berpikir dalam memahami dan memproduksi pengetahuan, yakni melalui mitos dan logos. Kedua hal ini telah melahirkan sebuah peradaban yang hari-hari ini masih terus berkembang. Selain itu, antara mitos dan logos memiliki kompetensinya Mitos berupaya kembali ke belakang, berupaya menjelaskan asal mula kehidupan serta melihat secara mendalam pengalaman kebermaknaan manusia, bukan hal-hal praktis (K. Armstrong, 2. Mitos tentu tidak dapat disampaikan dengan bukti-bukti rasional, tetapi wawasannya bersifat intuitif, mirip seni. Lebih dari itu mitos menjadi realitas jika diwujudkan dalam ritual dan upacara yang memungkinkan orang untuk memahami kehidupan yang lebih mendalam (K. Armstrong, 2. Imaji Masyarakat dalam Tradisi Maragat Tuak Bagot Pada tahapan yang lebih awal dari sejarah kita, alam juga dipandang sebagai sesuatu yang hidup (K. Armstrong, 2. Masyarakat pada dasarnya memiliki kedekatan yang begitu erat dengan alam. Pada tahap ini mitos menjadi cara untuk memahami alam dan Aoke-mau-annyaAo. Ini semacam logika masyarakat adat. Meminjam istilah dari LevyBruhl, logika masyarakat adat ini tidak hanya memandang manusia dan hewan semata, tetapi juga benda-benda yang Aotidak bergerakAo, misalnya batu dan tumbuhan yang juga memiliki hidup tersendiri (Kaho, 2. Masing-masing berpartisipasi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Ada berbagai macam cara mengekspresikan kedekatan dengan alam, salah satunya yang dilakukan oleh masyarakat Tapanuli Tengah dalam tradisi Maragat Tuak Bagot. Maragat dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai aktivitas menyadap air dari pohon nira. Dalam hal ini Firmando melihat bahwa hasil dari maragat tuak bagot menghasilkan minuman tuak yang sering digunakan masyarakat Batak Toba dan sekitarnya sebagai sarana duduk bersama oleh warga (Firmando, 2. Bagi masyarakat Tapanuli Tengah, maragat merupakan salah satu pekerjaan yang tidak sembarangan bisa dilakukan. Aktivitas maragat memiliki sebuah kebiasaan yang unik, yakni memiliki ritus yang perlu diketahui dan dipraktikkan oleh para paragat . ebutan bagi mereka yang akan mengambil air nira dari poho. Secara umum tuak bisa diperoleh dari pohon kelapa dan aren. Tuak dari pohon aren biasanya akrab dikenal oleh masyarakat Batak Toba sebagai bagot. Bagot merupakan simbol buah dada dalam masyarakat Batak Toba. Dalam kearifan budaya lokal, pohon bagot dan sejenisnya merupakan jelmaan seorang dewi dan sebagian dari tubuhnya bermanfaat bagi manusia. Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy Oleh sebab itu, ketika paragat mengarit bunga bagot tidak disarankan marungut-ungut . , sebaliknya harus bersukaria dan sembari bernyanyi atau bersiul (Kennedy. Air bagot diibaratkan air susu dari seorang ibu. Air susu tidak akan keluar jika hati ibu lagi bersedih. Maka agar suasana hatinya tidak sedih, seorang paragat sebaiknya mengelus-elus, menggoyang-goyangkan bernyanyi atau bersiul. Dengan begitu air bagot akan keluar sebanyak-banyaknya. AuMaragat tuak bagot berarti memotong bagian dari tandan yang harusnya jadi Tujuannya untuk menghasilkan air nira dari pohon bagot atau aren yang sudah dipotong melalui proses tahapan yang ditentukan. Seorang paragat . elaku/penderes tua. disarankan menjalankan ritus tertentu sebelum maragat . Ay (Wawancara Aser Situmeang, 03 Juli 2024 di Desa SP 3-Tapanuli Tenga. Teknis maragat tuak bagot dijelaskan sebagai berikut: AuDalam maragat tuak bagot caranya cukup sederhana. Ketika sudah menentukan batang pohon yang mau diragat, langkah pertama adalah mengayun-ayunkan buah dari pohon tersebut, dengan tujuan memudahkan air niranya keluar ketika sudah melakukan pemotongan. Setelah A hari sesudah pengayunan dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah pemotongan buah arennya agar yang tertinggal dapat digunakan sebagai sumber air niranya. Ritual yang saya lakukan ialah membawa selembar daun sirih pada saat pengirisan pertama setelah pemotongan buah selesai. Makna memberi daun sirih berarti memohon agar air yang didapatkan terus mengalir dan bertahan lama, dan itu biasanya diletakkan di samping pohon tersebut. Ada juga dengan bersiul dan bernyanyi, tujuannya adalah sama yakni meminta dan memohon agar tetap lancar dan mengalir air nira yang Sesuai dengan tradisi kebudayaan Batak Toba, bagi seorang paragat pohon aren yang mau diragat AudianggapAy memiliki jiwa yang pada umumnya sama seperti jiwa manusiaAy (Wawancara Alpentinus Situmorang, 26 Juni 2024 di Desa SP 3-Tapanuli Tenga. Ritual ini bertujuan untuk menghargai tumbuh tumbuhan yang pada prinsipnya sudah memberikan kebaikan. Air nira penting bagi masyarakat tentu karena manfaatnya. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 Air nira selain untuk dijadikan sebagai minuman tradisional . , nira juga diyakini mampu memberikan daya tahan tubuh jika meminumnya sebelum raru1nya dibuat. Cara manusia memperlakukan sesama makhluk hidup telah diajarkan nenek moyangnya sejak lama dalam berbagai kearifan budaya. Pada prinsipnya setiap makhluk hidup itu memiliki nyawa dan patut disayangi, baik hewan maupun tumbuhan. Untuk memenuhi kebutuhan manusia, hewan dan tumbuhan digunakan sebagai makanan Oleh sebab itu, ketika hendak menyembelih hewan atau memanen tumbuhan ada percakapan baik verbal maupun batin dari manusia, baik berupa doa maupun permintaan maaf. Sehingga sangat wajar jika seorang paragat menjalankan Auritus-ritusAy tertentu sebelum dan saat maragat. Maragat bagot ialah suatu aktivitas memotong bagian dari tandan yang seharusnya jadi buah. Ketika tandannya dipotong, pasti rasanya sangat Yang selalu disayat adalah di bagian yang sama. Kita bayangkan jika itu adalah luka di bagian tubuh kita, luka lama hampir sembuh disayat lagi, menjadi luka lagi. Demikian seterusnya. Dapat direfleksikan sebagaimana besar pengorbanan pohon bagot bagi manusia. Oleh sebab itu sudah sepatutnya manusia memperlakukannya dengan baik, santun dan penuh kehati-hatian. Tidak semua orang bisa menjadi seorang paragat. Hanya orang tertentu saja, orang yang memiliki hati yang tenang, panjang sabar, tekun dan sudah pasti orang yang pandai merayu dan meluluhkan hati sang dewi, pohon bagot. Melihat Ekologi dalam Spiritualitas Santo Fransiskus Asisi Istilah AuekologiAy memiliki akar kata dari bahasa Yunani kuno. Kata ini terdiri dari dua komponen: AuoikosAy (C), yang berarti AurumahAy atau Autempat tinggalAy, dan AulogosAy (UC), yang berarti AuilmuAy atau AustudiAy (Arianto et al. , 2021, hlm. Jadi, secara literal, ekologi dapat diartikan sebagai Austudi tentang rumahAy atau Austudi tentang tempat tinggalAy. Penggunaan istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan Jerman bernama Ernst Haeckel pada tahun 1866. Haeckel menggunakan kata AuekologiAy untuk mendeskripsikan ilmu yang mempelajari hubungan antara organisme hidup dengan lingkungan fisik mereka, serta interaksi mereka dengan organisme lain. Dengan demikian, ekologi berkembang menjadi cabang ilmu yang fokus pada pemahaman 1Raru merupakan sebutan untuk jenis kulit kayu yang ditambahkan pada nira aren yang bertujuan untuk meningkatkan cita rasa, kadar alkohol dan mengawetkan minuman tradisional tuak. Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy tentang cara berbagai makhluk hidup berinteraksi dengan habitat mereka dan bagaimana faktor-faktor lingkungan mempengaruhi distribusi dan kelimpahan organisme (Keraf. Jauh sebelum Haeckel menggunakan istilah ekologi. Santo Fransiskus Asisi telah menjalankan bahkan telah menghidupi ekologi. Dalam beberapa literatur disebutkan bagaimana Santo Fransiskus dapat berinteraksi dengan mahkluk hidup (Stanislaus, 2. Cara berinteraksi ini kemudian menjadi sebuah spirit baru yang menginspirasi banyak orang, selain umat kristiani. Hubungan antara spiritualitas Santo Fransiskus Asisi dan ekologi merupakan satu-kesatuan yang selalu relevan. Sebagai seorang pencinta alam yang mendalam. Santo Fransiskus Asisi memiliki pandangan yang sangat inklusif dan penuh kasih terhadap alam semesta dan semua makhluk hidup. Sikap ini bukan hanya ekspresi dari kepribadian Santo Fransiskus Asisi yang lembut, tetapi juga merupakan manifestasi dari pemahamannya yang mendalam tentang hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam. Santo Fransiskus lahir di Assisi. Italia, pada tahun 1182 dan tumbuh dalam keluarga yang kaya. Namun, setelah mengalami panggilan rohani yang kuat, ia memilih untuk meninggalkan kekayaan duniawi dan hidup dalam kemiskinan. Dalam proses ini. Santo Fransiskus mengembangkan spiritualitas yang sangat erat dengan alam. Dia melihat alam sebagai cerminan dari kemuliaan dan kasih Tuhan, sebuah pandangan yang revolusioner pada zamannya dan tetap relevan hingga kini (Robson, 2002, hlm. Dalam spiritualitas Santo Fransiskus Asisi, alam bukan sekadar latar belakang untuk kehidupan manusia atau sumber daya untuk dieksploitasi, tetapi sebagai ciptaan Tuhan yang suci. Dia percaya bahwa setiap elemen alam, baik itu hewan, tumbuhan, maupun unsur-unsur lainnya, memiliki nilai intrinsik dan berhak untuk dihormati (Stanislaus, 2. Santo Fransiskus Asisi melihat alam dengan rasa kagum dan hormat yang mendalam, seperti yang tercermin dalam Kidung Saudara Matahari/Gita Sang Surya (Canticle of the Sun/Kidung Segala Ciptaan. , sebuah puisi yang memuji Tuhan melalui elemen-elemen alam seperti matahari, bulan, bintang, angin, air, api, dan bumi. Dalam kidung ini. Santo Fransiskus menyapa elemen-elemen alam sebagai AusaudaraAy dan Ausaudari,Ay menunjukkan hubungan kekeluargaan yang ia rasakan dengan seluruh ciptaan 2 Canticle of the Sun merupakan sebuah lagu pujian yang digubah oleh Santo Fransiskus pada tahun 1225. Ensiklik Paus Fransiskus tahun 2015 AuLaudato SiAy mengambil nama dan inspirasinya dari karya Santo Fransiskus. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 (Sorrell, 1. Sapaan AusaudaraAy dan AusaudariAy dapat digambarkan dalam bahasa teolog Martin Buber . eolog Yahud. sebagai suatu perjumpaan AuI and Thou (Yo. Ay. Buber melihat bahwa adanya relasi yang bersifat impersonal, antara subjek dan objek. Relasi Auaku-EngkauAy merupakan relasi antara Allah sang pencipta dan semua ciptaan. Segalanya mempunyai relasi dengan Allah (Buber, 1. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa bagi Santo Fransiskus Asisi segala ciptaan merupakan pernyataan diri Allah dan bentuk komunikasi Allah dengan manusia. Kita bisa melihat dari semboyan khas Santo Fransiskus Asisi yakni Ausemua adalah saudaraAy. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa semua ciptaan berasal dari kebaikan Tuhan, hadir sebagai Aujejak kakiAy Tuhan. Alam yang indah merupakan saudara manusia. Olehnya manusia hendaknya dapat memperlakukan alam setara dengan sesama manusia. Cinta Santo Fransiskus Asisi terhadap alam juga terlihat dalam banyak kisah tentang interaksinya dengan hewan. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah tentang serigala di Gubbio. Menurut legenda, ada seekor serigala yang menakutkan penduduk kota. Santo Fransiskus Asisi pergi menemui serigala tersebut, berbicara dengannya, dan berhasil menjinakkannya, membuat serigala itu hidup damai dengan penduduk. Kisah ini, meskipun mungkin terdengar seperti dongeng, menyampaikan pesan yang kuat tentang pentingnya rekonsiliasi dan perdamaian antara manusia dan alam. Santo Fransiskus Asisi juga dikenal sering berkhotbah kepada burungburung, berbicara kepada mereka tentang kasih Tuhan. Dalam cerita ini, burung-burung mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak terbang sampai Fransiskus selesai Kisah-kisah semacam ini bukan hanya menggambarkan kedekatan Santo Fransiskus Asisi dengan alam tetapi juga keyakinannya bahwa sesmua makhluk dapat merasakan dan merespons kasih Tuhan (Aman, 2016, hlm. Spiritualitas ekologis Santo Fransiskus Asisi tidak hanya berhenti pada hubungan pribadi dengan alam tetapi juga melibatkan tindakan nyata dalam merawat dan melindungi lingkungan. Ia mengajarkan bahwa manusia harus bertanggung jawab dalam menjaga ciptaan Tuhan. Santo Fransiskus meyakini bahwa manusia, sebagai bagian dari ciptaan Tuhan, harus hidup selaras dengan alam dan tidak merusaknya. Pandangan ini sangat relevan dalam konteks modern, di mana isu-isu lingkungan seperti perubahan iklim, deforestasi, dan polusi menjadi tantangan besar yang memerlukan pendekatan holistik dan penuh kasih seperti yang diajarkan oleh Santo Fransiskus. Warisan ekologis Santo Fransiskus terus hidup dalam ajaran dan praktik Ordo Fransiskan yang ia dirikan. Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy Pada tahun 1979. Paus Yohanes Paulus II mendeklarasikan Santo Fransiskus sebagai santo pelindung ekologi, sebuah pengakuan atas kontribusinya yang luar biasa dalam mengembangkan pemahaman teologis dan praktis tentang hubungan antara manusia dan Spiritualitas Santo Fransiskus Asisi menawarkan pandangan yang holistik dan penuh kasih tentang alam, di mana setiap makhluk adalah bagian dari keluarga besar ciptaan Tuhan (Edwards, 2. Dalam dunia yang sering kali terpisah dari alam dan mengalami krisis lingkungan yang mendalam, teladan Santo Fransiskus mengingatkan kita akan pentingnya merawat dan menghormati alam sebagai bagian dari panggilan kita sebagai umat manusia. Kasih dan rasa hormat yang ia tunjukkan terhadap seluruh ciptaan menjadi inspirasi yang kuat untuk membangun hubungan yang lebih harmonis dan berkelanjutan dengan lingkungan kita (Boff, 2. Spiritualitas yang diwariskan oleh Santo Fransiskus Asisi seperti merawat dan menghormati alam juga dihidupi oleh masyarakat di Tapanuli Tengah . hususnya oleh Praksisnya sebelum tandan aren dipotong, paragat berkomunikasi melalui siulan atau nyanyian kecil sebagai bentuk permohonan kepada pohon aren agar menghasilkan air nira yang banyak. Setelah tandan aren dideres, paragat mengayunayunkan tandan aren secara perlahan-lahan dan berirama bagaikan mengayun anak Tujuannya sama ialah sebagai bentuk penghormatan bahwa pohon aren itu ialah sebagai saudara, sama-sama ciptaan Tuhan. Praktek yang ditunjukkan oleh masyarakat Tapanuli Tengah memperlihatkan hubungan mereka dengan lingkungan . ohon are. ialah harmonis dan berkelanjutan. Bagi masyarakat Tapanuli Tengah hidup secara harmonis dengan lingkungan merupakan suatu kesalehan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan (Debata mula jadi nabolo. Refleksi Kritis Maragat Tuak Bagot dalam Terang Teologi Katolik Tradisi maragat tuak bagot yang dilakukan oleh masyarakat di Tapanuli Tengah mempresentasikan adanya relasi harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan spiritualitas Santo Fransiskus Asisi yang melihat semua ciptaan adalah Konsekuensinya ialah setiap ciptaan harus saling merawat dan menghormati satu sama lain. Spiritualitas Santo Fransiskus Asisi menginspirasi Paus Fransiskus untuk mengeluarkan Ensiklik Laudato Si. Ensiklik ini hadir untuk merefleksikan kembali krisis Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 lingkungan yang terjadi hari-hari ini. Alam dan seisinya salah dipahami sehingga relasi yang terjadi justru didominasi oleh manusia . Dalam tulisannya yang berjudul The Dream of the Earth . Thomas Berry menegaskan bahwa bumi harihari ini menjadi tidak ramah terhadap kehadiran manusia karena manusia kehilangan santun terhadap bumi dan penghuninya (Berry, 1. Artinya manusia kehilangan sensibilitasnya sebagai bagian dari kehidupan yang merupakan satu jaringan kehidupan. Kehidupan . hanya dilihat tidak lebih dari mekanistik, antroposentrik, dualistik seperti kata Cho Hyunchul dalam bukunya yang berjudul An Ecological Vision of the World . (Cho, 2. Hal ini sejalan dengan Ensiklik Laudato Si no. 138, yakni bahwa kita adalah bagian dari alam bahkan terjalin di dalamnya. Secara sederhana eko-teologi merupakan sebuah refleksi teologis yang menjelaskan relasi antara manusia dan lingkungan hidup serta tanggung jawab manusia secara penuh atas lingkungan hidup (Deane-Drummond, 2. Dasar pemikirannya ialah manusia sebagai gambar Allah (Imago De. memiliki tanggung jawab terhadap ciptaan yakni dengan menjaga dan merawat (Denar et al. , 2. Sebab ciptaan lain merupakan karya ciptaan Allah. Alam ciptaan bukan hanya sekedar benda atau materi, tetapi juga sarana pernyataan diri Allah: sakramen Allah (Aman, 2. Pandangan ini memperlihatkan perspektif lain dari ciptaan, di mana semua mahkluk lahir dari Allah, datang dari tangan Yang Mahasuci, dari Sang Creator/Pencipta. Logika ini sekaligus menyingkapkan kesetaraan antara manusia dan alam. Manusia dan alam berada dalam sebuah garis yang sama. Tuhan menciptakan binatang buas di bumi dari segala jenis, dan ternak dari segala jenis, dan segala jenis binatang yang merayap di muka bumi. Dan Allah melihat bahwa semuanya itu baik . Kej. 1: . Pada hakikatnya. Allah menciptakan segala sesuatunya di dunia ini dengan baik. Dan manusia diberikan kepercayaan untuk mengelola dan melestarikannya. Namun realitas yang terjadi bahwa manusia keliru dalam menjalankan tugasnya. Ini karena manusia diberi kebebasan atau yang disebut dengan kehendak bebas. Kehendak bebas yang diberikan melahirkan berbagai bentuk persoalanpersoalan yang hari-hari ini dihadapi oleh manusia. Untuk menanggapi itu Gereja Katolik mengeluarkan sebuah anjuran melalui Ensiklik Laudato Si. Ensiklik Laudato Si merupakan ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada tanggal 24 Mei 2015 (Haward, 2. Ensiklik ini mengambil judul dari nyanyian pujian Santo Fransiskus dari Asisi yang berarti AuTerpujilah Engkau. Ay Dokumen ini memberikan pandangan teologis Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy dan moral Gereja Katolik tentang lingkungan hidup dan krisis ekologi yang dihadapi dunia saat ini. Laudato Si menekankan bahwa seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah dan karenanya harus dihormati dan dilestarikan. Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa penciptaan memiliki nilai intrinsik karena merupakan hasil karya Tuhan (Boff. Manusia sebagai bagian dari ciptaan, memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat alam, bukan mengeksploitasinya untuk keuntungan semata. Manusia diciptakan sebagai penjaga atau pengurus bumi, bukan sebagai pemilik absolut. Dalam Laudato Si, kita diajak untuk peduli pada bumi ini sebab bumi ini adalah rumah kita bersama. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa tanggung jawab manusia adalah untuk melestarikan bumi dan memastikan bahwa sumber daya alam digunakan dengan bijaksana dan berkelanjutan. Eksploitasi berlebihan dan penghancuran lingkungan dilihat sebagai bentuk ketidakadilan dan ketidakhormatan terhadap penciptaan Tuhan. Laudato Si memperkenalkan konsep ekologi integral, yang menggabungkan perhatian terhadap lingkungan, keadilan sosial, dan kesejahteraan Ekologi integral melihat semua aspek kehidupan sebagai saling terkait dan saling mempengaruhi. Dengan demikian, isu-isu lingkungan tidak dapat dipisahkan dari isu-isu ekonomi, politik, dan sosial (Hibbs, 2. Pendekatan holistik ini mengajak umat manusia untuk mencari solusi yang komprehensif dan inklusif. Paus Fransiskus mengajak umat Katolik dan semua orang untuk menjalani pertobatan ekologis, yaitu perubahan hati dan pola pikir yang mendalam dalam cara kita memandang dan memperlakukan alam. Pertobatan ini melibatkan pengakuan atas dosa-dosa ekologis kita, penyesalan, dan komitmen untuk mengubah perilaku kita demi kebaikan bumi dan seluruh makhluk hidup. Laudato Si adalah panggilan yang mendesak bagi seluruh umat manusia untuk bertindak secara kolektif dan individual dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama. Ensiklik ini menghubungkan isu-isu lingkungan dengan iman dan moralitas, menegaskan bahwa tanggung jawab kita terhadap bumi adalah bagian integral dari tanggung jawab kita sebagai umat beriman (Paus Fransiskus, 2. Dokumen Gereja lainnya mengatakan hal yang senada, dalam Gaudium et Spes Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta benda yang tercipta dengan cara yang Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 wajar harus mencapai semua orang yang berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cinta kasihA Tetapi semua orang berhak memiliki sebagian harta benda sehingga mencukupi bagi dirinya maupun kerabatnya (Konsili Vatikan II 1993, 69, alinea. Setiap manusia memiliki akses untuk mengelola sumber alam yang tersedia dengan cara yang wajar, bukan untuk mengeksploitasi. Hal ini cukup menegaskan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak atas ciptaan lainnya, namun manusia diberikan kehidupan oleh alam semesta. Melalui alam Allah menjaga dan memelihara kehidupan manusia, di mana hidup itu sendiri adalah anugerah dari Allah pencipta (Aman, 2. Dalam kaitannya dengan ekologi, teologi Kristen menempatkan manusia dan alam dalam Kisah Penciptaan yang sarat akan pesan moral. Alasannya jelas, karena manusia sebagai ciptaan yang secitra dengan Allah, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan alam ciptaan Tuhan (Pope Benedict XV, 2. Manusia mempunyai kedudukan istimewa dan terhormat, tetapi sekaligus diberi tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di dunia untuk memelihara ciptaan Tuhan (Keraf, 2. Sebagai wakil Tuhan, manusia harus menampilkan citra Tuhan dalam segala sifatnya, khususnya moral yakni tanggung jawab memelihara dan merawat alam. Manusia harus menampilkan citra Tuhan yang Maha Baik (Keraf, 2. Oleh sebab itu dalam Kitab Mazmur manusia diajak untuk bersyukur pada Tuhan serta memuji Nama-Nya atas seluruh ciptaan-Nya di dunia ini . Mzm. Manusia hendaknya meluangkan waktu untuk menghargai alam semesta. Manusia akan semakin dekat dengan Tuhan apabila manusia juga semakin terhubung dengan alam semesta (Pope Benedict XV, 2. Maragat tuak bagot sebuah ritus kecil namun sarat makna dalam kosmologi masyarakat Batak bukan sekadar praktik budaya minum tuak dari pohon enau. Ia adalah bentuk hubungan spiritual, ekologis, dan komunal antara manusia, alam, dan yang Ilahi. Dalam terang eko-teologi Katolik, maragat bukan hanya dapat dibaca sebagai ekspresi budaya, melainkan sebagai pengingat profetik akan bagaimana manusia seharusnya tinggal dan merayakan kehidupan dalam rumah bersama . ommon hom. , sebagaimana ditegaskan dalam ensiklik Laudato SiAo. Ritus ini menghadirkan peluang hermeneutik baru untuk merefleksikan relasi antara iman, bumi, dan solidaritas ekologis, yang sayangnya kian kabur di tengah modernitas dan komodifikasi sumber daya alam. Dalam maragat. Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy manusia tidak sekadar mengonsumsi hasil alam, tetapi melibatkan diri dalam siklus hidup pohon bagot: dari menunggu, menyadap, menampung, hingga menyajikan tuak sebagai simbol sukacita, perjumpaan, dan pemberian timbal balik antara alam dan manusia. Relasi itu bukan dominasi atau pemilikan, melainkan persekutuan. Tuak tidak diambil secara paksa, melainkan diperoleh dengan ritual, doa, dengan pengakuan akan kesakralan pohon dan tanah tempat ia tumbuh. Proses ini mencerminkan sikap spiritual yang mendalam terhadap ciptaan, sebuah etos ekologis yang sejalan dengan seruan Paus Fransiskus untuk berbalik dari paradigma antroposentris menuju pemahaman bahwa Ausemua makhluk saling tergantung dan semua ciptaan merupakan subjek pujian kepada AllahAy (Paus Fransiskus, 2016, no. Dalam terang eko-teologi Katolik, tindakan manusia terhadap alam bukan hanya persoalan etika pragmatis, tetapi juga tindakan teologis. Alam bukan hanya sumber daya . , melainkan saudara dan saudari, sebagaimana dalam spiritualitas Santo Fransiskus Asisi: Saudari Air. Saudara Angin. Saudari Tanah. Dalam perspektif ini, tuak bagot bukanlah minuman semata, tetapi darah kehidupan yang ditawarkan oleh pohon bagot, di mana sebuah persembahan dari bumi yang tidak boleh diambil tanpa hormat. Maka, maragat menjadi tindakan liturgis kosmis, sebuah Ausakramen duniawiAy di mana Allah hadir melalui ciptaan yang merayakan keberlimpahan-Nya. AuDi dalam setiap makhluk ada suatu refleksi dari Sang Pencipta. Dunia adalah tempat di mana Allah menampakkan diri-NyaAy (Paus Fransiskus, 2016, no. Maragat tuak bagot mengingatkan kita bahwa spiritualitas tidak selalu lahir dari Aualtar megahAy tetapi juga dari pohon bagot, dari keringat tubuh, dari cairan tuak yang ditampung dalam nampan. adalah pengalaman iman yang terletak di bawah langit terbuka, di antara daun dalam perjumpaan yang bersahaja. Ia mengajarkan kita bahwa setiap tetes tuak adalah pengingat akan kasih karunia, dan bahwa dalam setiap tegukan, manusia terhubung kembali dengan Sang Sumber Kehidupan. Maragat tuak bagot tidak membawa kita mundur ke masa lalu, melainkan menuntun kita menuju visi masa depan yang lebih adil, berkelanjutan, dan Eko-teologi Katolik menuntut kita untuk memandang ulang tradisi seperti ini bukan sebagai beban warisan, tetapi sebagai pewahyuan lokal akan Allah yang hidup, yang berbicara melalui tanah, air, pohon, dan tubuh manusia yang saling bergantung satu sama lain dalam liturgi kehidupan yang agung. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 KESIMPULAN DAN SARAN Dalam menggali makna ekologis dari tradisi maragat tuak bagot masyarakat Tapanuli Tengah, refleksi ini menemukan bahwa alam bukan sekadar latar pasif bagi kehidupan manusia, melainkan subjek spiritual yang hidup, yang darinya manusia belajar tentang batas, kesalingterhubungan, dan syukur. Di balik ritual penyadapan tuak, tersimpan narasi panjang mengenai penghormatan terhadap pohon bagot sebagai AutubuhAy alam yang memberi tanpa pamrih, sebagai simbol kehadiran Ilahi yang menyatu dalam setiap tetes kehidupan. Imajinasi ekologis dalam praktik ini bukanlah imajinasi yang abstrak, tetapi konkret dalam tindakan dan relasi sosial-komunal. Hal ini memperlihatkan bahwa tradisi lokal tidak sekadar menyimpan nilainilai ekologis, melainkan juga mengandung spiritualitas ekologis yang sejati, yakni sebuah iman yang bertubuh dalam tanah dan hidup dalam jaringan kehidupan. Tradisi maragat tuak bagot menawarkan lensa baru dalam memandang sakramentalitas ciptaan. Dalam perspektif ini, seluruh alam semesta tidak sekadar dianggap sebagai ciptaan Tuhan yang baik, melainkan sebagai ruang partisipatif di mana manusia, alam, dan Tuhan berdialog dalam keheningan dan tindakan. Hal ini mengarah pada pembentukan paradigma kosmoteandrik, yaitu kesadaran bahwa hidup sejatinya adalah relasi yang terus-menerus antara kosmos, manusia, dan Sang Ilahi. Dalam konteks krisis ekologis global, paradigma ini menjadi penting sebagai bentuk resistensi terhadap cara pandang antroposentris yang mengalienasi alam dari dimensi spiritualnya. Secara praktis, refleksi ini menekankan bahwa warisan kultural seperti maragat tuak bagot bukanlah peninggalan masa lalu yang perlu disakralkan dalam museum budaya, melainkan praktik hidup yang harus terus dihidupi dan dijaga. Nilai-nilai ekologis yang terkandung di dalamnya, pengelolaan sumber daya alam secara bijak, penghormatan terhadap ritme alam, serta penghargaan terhadap relasi komunal dapat dijadikan model alternatif pembangunan berkelanjutan yang lebih etis dan berakar pada nilai Lebih dari itu, praktik-praktik semacam ini dapat menjadi jalan konkret untuk mengintegrasikan iman dan ekologi dalam kehidupan sehari-hari umat Katolik, sekaligus membuka ruang bagi spiritualitas yang lebih bersahaja, membumi, dan inklusif. Kontribusi utama dari kajian ini bagi pengembangan ilmu pengetahuan terletak pada keberaniannya menggabungkan pendekatan eko-teologis Katolik dengan epistemologi lokal. Dari refleksi ini pula muncul beberapa rekomendasi strategis. Pertama, pemerintah daerah dan lembaga adat perlu melihat kembali tradisi maragat tuak bagot sebagai warisan budaya yang bukan hanya penting bagi identitas lokal, tetapi juga sebagai fondasi etika ekologis yang dapat membimbing arah pembangunan berkelanjutan. Kedua. Gereja Katolik lokal didorong untuk melakukan inkulturasi teologis dan liturgis dengan memasukkan unsur-unsur ekologis dan kultural dalam perayaan Dengan demikian. Gereja dapat menjadi ruang pembelajaran ekologis yang transformatif Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy dan kontekstual. Ketiga, lembaga pendidikan perlu mengintegrasikan dimensi ekologi spiritual dalam kurikulum mengajarkan kepada generasi muda bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan sesama ciptaan yang harus dihormati dan diajak bekerjasama dalam membangun masa depan yang adil dan lestari. Saran untuk penelitian selanjutnya ialah melihat lebih komprehensif tradisi-tradisi di Nusantara yang berbasis ekologis. Pendekatan serupa dapat diterapkan untuk meneliti tradisitradisi ekologis lain yang tersebar di Nusantara, yang masing-masing menyimpan kearifan spiritual dalam memperlakukan alam. Penelitian lanjutan juga dapat menggali perbandingan antara ritus lokal seperti maragat tuak bagot dengan praktik-praktik sakramentali dalam Gereja Katolik, untuk memperdalam refleksi tentang materialitas yang disucikan dan spiritualitas yang Selain itu, studi dengan pendekatan partisipatoris dan transformatif bersama komunitas lokal akan memperkuat basis praksis dari teologi kontekstual dan menyatukan kembali yang selama ini tercerai: iman, budaya, dan ekologi. DAFTAR REFERENSI Agnesia. Waktu. Materi Dan Ruang: Kisah Penciptaan dalam Perspektif Kejadian 1:1-31. Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi, 1. , 63-73. Aman. Teologi Ekologi dan Mistik-Kosmik St. Fransiskus Asisi. Diskursus, 15. , 188-208. Aquinas. anpa tahu. Summa Contra Gentiles. Arianto. Firmanto. , & Aluwesia. Tindakan Ekologis Gereja Katolik di Indonesia dari Perspektif Moral Lingkungan Hidup William Chang. Forum Filsafat dan Teologi, 50. , 113-130. https://doi. org/https://doi. org/10. 35312/forum. Armstrong. Sacred Nature: Restoring Our Ancient Bond with the Natural World. Knopf Canada. Armstrong. Hellman. , & Short. (Ed. Cantico di Frate Sole. Dalam Francis of Assisi: Early Documents Vol I. New City Press. Berry. The Dream of the Earth. SierraClub Books. Boff. Ecology and Liberation: A New Paradigm. Orbis Books. Boff. Cry of the Earth. Cry of the Poor. Orbis Books. Boof. Cry of the Earth. Cry of the Poor. Orbis Books. Buber. I and Thou (R. Smith (Penerj. )). Scribner Classic/Collier. Cho. -C. An Ecological Vision of the World: Toward a Christian Ecological Theology for Our Age. Editrice Pontifica Universita Gregoriana. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 83-108 Deane-Drummond. Eco-Theology. Saint MaryAos Press. Denar. Juhani. , & Riyanto. Dimensi Ekoteologis Ritual Roko Molas Poco dalam Tradisi Pembuatan Rumah Adat Masyarakat Manggarai-Flores Barat. Kontekstualita-Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 35. , 1-24. https://doi. org/https://doi. org/10. 30631/35. Edwards. Ecology at the Earth of Faith. Orbis Books. Firmando. Kearifan Lokal Minuman Tradisional Tuak dalam Merajut Harmoni Sosial di Tapanuli Bahagian Utara. Aceh Anthropological Journal, 4. , https://doi. org/https://doi. org/10. 29103/aaj. Haward. Ekologi Integral: Alternatif dalam Krisis Lingkungan Hidup. Melintas, 37. , 152-176. Hibbs. A Theology of Creation: Ecology. Art, and Laudato SiAo. University of Notre Dame. Hidayana. , & Lahpan. Makna Budaya Pohon Aren dalam Pendekatan Ekologi Budaya di Kampung Adat Dukuh. Cikelet. Garut. Panggung: Jurnal Seni Budaya, 32. , 436-451. Jasmine. Saharuddin. Murdianto, & Abdulkadir. Perilaku Masyarakat Adat terhadap Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (Kasus: Masyarakat Adat Badu. Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (JSKPM), 7. , 249-265. Johnson. Ask the Beasts: Darwin and God of Love. Bloomsbury Publishing. Kaho. Negosiasi Manusia dan Nonmanusia Pasca-Alih Fungsi Hutan Bakau Menjadi Tambang Garam. Retorik Jurnal Ilmu Humaniora, 12. , 1-28. https://doi. org/10. 24071/ret. Kennedy. Diskusi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. mengenai Pengembangan Usaha Kuliner di Desa Wisata Bagot. Kawasan Danau Toba. Desa Parlondut Kabupaten Samosir. AMMA: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1. , 1483-1491. Keraf. Etika Lingkungan (J. Koekerits & T. Marganingsih (Ed. )). Kompas. Keraf. Etika Lingkungan Hidup. PT Kompas Media Nusantara. Keraf. Filsafat Lingkungan Hidup Alam Sebagai Sebuah Sistem Kehidupan Bersama Fritjof Capra (Sinubyo (Ed. )). Kanisius. Konsili Vatikan II. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini (Gaudium et Spe. Dalam R. Hardawiryana (Penerj. Dokumen Konsili Vatikan II. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Mahaswa. , & Kim. Introducing the Plueiverse of the Anthropocene: Toward and Ontological Politics of Environmental Governance in Indonesia. Dalam A. Triyanti. Indrawan. Nurhidayah, & Muh Aris Marfai (Ed. Environmental Governance in Indonesia . Springer. Paus Fransiskus. Ensiklik Terpujilah Engkau (Laudato S. (M. Harun (Penerj. )). Refleksi Kritis Atas Imajinasi Ekologi Masyarakat Tapanuli Tengah dalam Tradisi AuMaragat Tuak BagotAy Depaertemen Dokumentasi dan Penerang KWI. Pope Benedict XV. Toward a Human Ecology. The Catholic University of America Press. Pope John Paul II. Peace with God the Creator. Peace with All of Creation. Qodim. Kearifan Lokal dan Pengembangan Ekologi Masyarakat Adat Balo Aga. Gunungs Djati Publishing. Robson. St Francis Of Assisi The Legend and the Life. Bloomsbury Publishing. Sibarani. The Local Wisdom on Aren (Arenga Pinnat. Palm Tree in Toba Batak Tradition on North Sumatera at Lake Toba Area. Journal of Physics: Conference Series, 1116. Sorrell. St Francis of Assisi and Nature: Tradition and Innovation in Western Christian Attitudes toward the Environment. Oxford University Press. Stanislaus. Peduli Ekologi Ala Fransiskus Asisi. Logos, 18. , 57-86. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025