Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 KONSEPSI ILMU DALAM KISAH NABI SULAIMAN DALAM ALQUR’AN Edimizwar Institut Agama Islam Almuslim Aceh edimizwar72@gmail.com Syabuddin Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh syabuddin@ar-raniry.ac.id Syahminan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh syahminan@ar-raniry.ac.id Abstract The problem in this research is how the concept of knowledge is portrayed in the story of Prophet Solomon in the Quran. The research adopts a qualitative approach and utilizes library research as the research method. Two types of data are used: primary data from the Quran regarding the concept of knowledge in the story of Prophet Solomon and secondary data from relevant books, journals, and Islamic texts. The data obtained are analyzed using descriptive methods. The findings of the research reveal that the concept of knowledge in the story of Prophet Solomon in the Quran is evident in Surah An-Naml [27]: 15 and 16. These verses explain that Allah has bestowed wisdom and knowledge upon Prophet David and Prophet Solomon, encompassing knowledge related to God and His laws as well as general knowledge, such as the ability to lead and govern their people. They practice their knowledge well and express gratitude to Allah for the boundless blessings bestowed upon them. Moreover, Prophet Solomon is granted by Allah with additional virtues, including the ability to understand the sounds of birds and other creatures. The verses also elucidate that Allah has endowed Prophet Solomon with the capabilities and resources needed to govern his kingdom. Knowledge in the context of the story of Solomon serves prominent purposes, such as wisdom in governance, acknowledgment of Allah's power, submission to Allah's will, communication with nature, moral and ethical teachings, and obedience to Allah. The story of Solomon in the Quran involves various types of knowledge and learning, encompassing aspects such as creed, interpretation, monotheism, jurisprudence, miracles, history, leadership, language, theology, and ethics. Keywords: Conception of Knowledge, Story of Prophet Solomon in the Qur'an 1 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Abstrak Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana konsepsi ilmu dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an? Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research). Data primer yang digunakan adalah Alqur’an tentang konsepsi ilmu dalam kisah nabi sulaiman. Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah buku, jurnal, dan kitab-kitab islam yang memiliki relevensi dengan permasalahan yang menjadi objek kajian penelitian. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa konsepsi ilmu dalam kisah nabi sulaiman dalam Alqur’an diantaranya terdapat dalam surat QS. An Naml [27]: 15 dan 16. Dalam ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman hikmah, ilmu pengetahuan baik yang berhubungan dengan pengetahuan tentang Tuhan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti bakat memimpin dan mengatur bangsanya. Mereka juga mengamalkan ilmunya dengan baik. Mereka memanjatkan Syukur kepada Allah swt atas nikmat yang tak terhingga yang telah diberikan. Selain itu Nabi Sulaiman juga dianugerahi oleh Allah dengan beberapa keutamaan yang lain, yaitu dapat memahami suara-suara burung dan juga suara-suara binatang yang lain. Dalam ayat ini juga diterangkan bahwa Allah telah melimpahkan kepada Nabi Sulaiman segala macam kesanggupan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengendalikan pemerintahan Negaranya. Ilmu dalam konteks kisah Sulaiman memiliki tujuan dan fungsi yang menonjol, diantaranya adalah hikmah dan kebijaksanaan pemerintahan, kekuasaan Allah, ketundukan pada kehendak Allah, komunikasi dengan alam, pengajaran moral dan etika, serta ketaatan kepada Allah. Kisah Sulaiman dalam Alqur’an melibatkan berbagai jenis ilmu dan pembelajaran, yang mencakup aspek-aspek, diantaranya adalah ilmu aqidah, ilmu tafsir, ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu mukjizat, ilmu sejarah, ilmu kepemimpinan, ilmu bahasa, ilmu kalam, dan ilmu akhlak. Kata Kunci: Konsepsi Ilmu, Kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an PENDAHULUAN Al-Qur`an adalah sumber utama ajaran Islam, yang berisi pesanpesan moral yang harus dipatuhi dan diamalkan oleh umat Islam sebagai pedoman hidup. Sebagai petunjuk bagi umat manusia, Al-Qur`an menggunakan berbagai cara untuk menyampaikan pesan-pesan moralnya antara lain menggunakan amtsal (perumpamaan), perintah, larangan, jadal (debat), qasam (sumpah), atau dengan kisah-kisah Nabi terdahulu.1 1 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur`an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 2012, hal 9 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 2 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Al-Qur`an memuat cukup banyak kisah tentang bangsa-bangsa maupun tokoh-tokoh terdahulu. Kisah atau mengenal tokoh bangsa terdahulu mengandung banyak pelajaran (ibrah), bisa berupa Pelajaran yang baik untuk diteladani, bisa juga pelajaran yang buruk untuk dijauhi atau dihindari. Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam kehidupan. Kisah Al-Qur`an merupakan gambaran pergumulan yang abadi antara nilai-nilai kebajikan yang digambarkan melalui para Nabi dan tokoh-tokoh kebaikan lainnya, dan nilai-nilai kejahatan dalam perilaku buruk beberapa tokoh yang disajikan. Kisah kerajaan Nabi Sulaiman dalam Alqur’an bukan hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga mencakup konsep ilmu yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pengenalan Kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an menampilkan cerita tentang Raja yang cerdas dan bijak dalam memimpin kerajaannya. Kisah tersebut bukan hanya menceritakan kebijaksanaan dan kehebatan Nabi Sulaiman dari sudut pandang sejarah, tetapi juga memberikan inspirasi bagi ilmuwan masa kini untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nabi Sulaiman dipandang sebagai sosok yang sangat tahu tentang sains dan teknologi. Namun, Nabi Sulaiman juga merupakan seorang hamba Allah yang merendahkan diri dan mengklaim bahwa pengetahuan dan kebijaksanaannya berasal dari Allah. Hal ini adalah pengingat bagi ilmuwan masa kini bahwa semua pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimilikinya harus selalu dihubungkan kembali dengan sumber kreativitasnya, yaitu Allah SWT. Keingintahuan dan keterbukaan pikiran kisah nabi Sulaiman juga menunjukkan bahwa Nabi memperoleh pengetahuan karena memiliki keingintahuan dan keterbukaan pikiran yang tinggi. Sebagai seorang ilmuwan, termasuk juga seorang pelajar, keingintahuan dan keterbukaan pikiran juga sangat diperlukan. Dengan menjaga pikiran tetap terbuka, ilmuwan bisa menemukan pengetahuan atas sesuatu yang selama ini belum pernah ditemukan. Menjaga keingintahuan dalam diri, seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman, akan membawa keuntungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Keadilan Kisah Nabi Sulaiman menunjukkan bahwa ia selalu mempertahankan keadilan dalam kerajaannya. Hal ini menjadi motivasi dan contoh bagi ilmuwan untuk senantiasa menghargai integritas dan prinsip-prinsip moral dalam penelitian dan pengembangan teknologi yang mereka kerjakan. Keadilan merupakan salah satu kebijakan utama yang harus dijaga dalam pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an menunjukkan bahwasanya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa berhasil dengan melibatkan prinsip-prinsip keadilan, keterbukaan pikiran, keingintahuan dan pengakuan akan pengetahuan berasal dari Allah SWT. Semua ini memberikan inspirasi bagi ilmuwan masa kini untuk mengembangkan ilmu dan teknologi sehingga membawa dampak positif yang lebih besar terhadap manusia dan lingkungannya. Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 3 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Kisah nabi Sulaiman dalam Alqur’an, mempunyai nilai pendidikan dan keilmuan untuk dijadikan teladan dan mengambil nilai-nilai yang baik, serta diterapkan dalam kehidupan. Atas pertimbangan tersebut di atas maka penulis mengangkat permasalahan tersebut dan dituangkannya dalam makalah dengan judul ”Konsepsi Ilmu dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an.” METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang sistematis yang digunakan untuk mengkaji atau meneliti suatu obyek pada latar alamiah tanpa ada manipulasi didalamnya dan tanpa ada ujian hipotesis. Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka (library research), yakni penelitian yang obyek kajiannya menggunakan data pustaka berupa buku-buku sebagai sumber datanya.2 Penelitian ini dilakukan dengan membaca, menelaah, dan menganalisis berbagai literatur yang ada, berupa Al Qur’an, buku, kitab, maupun hasil penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua macam data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengembalian data langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari. Data primer yang digunakan adalah Alqur’an tentang konsepsi ilmu dalam kisah nabi sulaiman. Sedangkan data adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak secara diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data Sekunder yang digunakan adalah buku, jurnal, dan kitab-kitab islam yang memiliki relevensi dengan permasalahan yang menjadi objek kajian penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitiam ini adalah metode deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasi apa yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau kecenderungan yang berkembang.3 KONSEP DASAR A. Konsepsi Ilmu dalam Alqur’an Konsepsi tentang ilmu sangatlah penting. Alqur’an memandang ilmu sebagai sesuatu yang diutamakan dan dianjurkan. Beberapa ayat dalam Alqur’an menyampaikan pesan-pesan terkait dengan pentingnya ilmu dan pengetahuan. Ada beberapa ayat yang menekankan konsepsi ilmu dalam Alqur’an. Adapun ayat-ayat tersebut antara lain adalah sebagai berikut. 1. Surah Al-'Alaq (96:1-5) 2 Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : Pustaka Setia, 2011, hal 23 Sumanto, Teori dan Metode Penelitian, Yogyakarta : CAPS (Center of Academic Publishing Service), 2014, hal.179 3 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 4 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Artinya: (1) bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. (4) yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” 4 Surat al-‘Alaq ayat 1-5, yang menunjuk pada ilmu pengetahuan, yaitu dengan memerintahkan membaca sebagai kunci ilmu pengetahuan. Perintah untuk ‘membaca’ dalam ayat itu disebut dua kali perintah kepada Rasulullah SAW, dan selanjutnya perintah kepada seluruh umatnya. Membaca merupakan salah satu kunci ilmu pengetahuan, baik secara etimologis berupa membaca literatur yang tertulis di dalam buku-buku, maupun secara terminologis, yakni membaca dalam arti yang lebih luas, maksudnya membaca alam semesta (ayat al-kauniyah). Menuntut ilmu adalah perintah yang bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, selain ilmu yang pokok yaitu ilmu syar’i, termasuk juga di dalam menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi, hal ini terlihat jelas pada ayat yang paling awal turun dengan kata iqra’, yang mana maknanya mencakup semua ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Akan tetapi, keumuman perintah iqra’ adalah muqayyad (saling terkait), bukanlah mutlak, sehingga menuntut ilmu yang dibenarkan syari’at adalah dengan syarat ‘bismi Rabbik’ (dengan cara yang dibenarkan Rabb). 2. Surah Ta Ha (20:114) Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".5 Dengan semua sifat itu, maka sesungguhnya mahatinggi Allah, raja yang sebenar-benarnya. Dan karena itu, janganlah kamu, wahai nabi Muhammad, tergesa-gesa membaca Alqur’an sebelum disempurnakan pewahyuannya kepadamu 4 5 QS. Al-'Alaq (96 :1-5) QS. Ta Ha (20:114) Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 5 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an agar kamu tidak salah memahami dan mengajarkannya, dan katakanlah, ‘ya tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Bisa diambil pelajaran dari ayat yang mulia ini, mengenai etika dalam menerima ilmu, bahwa orang yang mendengarkan ilmu seyogyanya perlahan-lahan dan bersabar, sampai pendikte dan pengajar selesai dari penjelasannya yang saling berkaitan. Jika ia sudah selesai darinya, pencari ilmu menanyakan(nya) bila dia punya pertanyaan. Janganlah dia bersegera bertanya dan memotong keterangan orang yang mengajar. Sesungguhnya sikap ini penyebab terhalangi (dari menguasai ilmu). Demikian juga orang yang ditanya, seharusnya ia meminta penjelasan lebih lanjut tentang pertanyaan penanya dan melacak maksudnya sebelum menjawab. Sesungguhnya sikap ini menjadi penyebab ketepatan dalam menjawab dengan benar. 3. Surah Al-Baqarah (2:269) Artinya: Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).6 Dalam ayat di atas Allah akan memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maksudnya, bahwa Allah mengaruniakan hikmah kebijaksanaan serta ilmu pengetahuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya, sehingga dengan ilmu dan dengan hikmah itu dia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, antara was-was setan dan ilham dari Allah swt. Alat untuk memperoleh hikmah ialah akal yang sehat dan cerdas, yang dapat mengenal sesuatu berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti, dan dapat mengetahui sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya. Barang siapa yang telah mencapai hikmah dan pengetahuan yang demikian itu berarti dia telah dapat membedakan antara janji Allah dan bisikan setan, lalu janji Allah diyakini dan bisikan setan dijauhi dan ditinggalkan. Allah menegaskan bahwa siapa saja yang telah memperoleh hikmah dan pengetahuan semacam itu, berarti dia telah memperoleh kebaikan yang banyak, baik di dunia, maupun di akhirat kelak. Dia tidak mau menerima bisikan-bisikan jahat dari setan, bahkan dia menggunakan segenap panca indera, akal dan pengetahuannya untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang batil, mana yang petunjuk Allah dan mana yang bujukan setan, kemudian dia berserah diri 6 QS. Al-Baqarah (2:269) Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 6 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an sepenuhnya kepada Allah. Pada akhir ayat ini Allah memuji orang yang berakal dan mau berpikir. Mereka selalu ingat dan waspada serta dapat mengetahui apa yang bermanfaat dan dapat membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. B. Kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an Sulaiman adalah putra Nabi Dawud. Sejak usia muda sudah Nampak kecerdasan dan kebijaksanaan Sulaiman dibidang hukum. Sering terjadi jika seseorang tidak puas mendengar pengadilan dari Nabi Dawud, maka mereka akan puas jika jika pengadilan dipimpin oleh Nabi Sulaiman karena ia benar-benar dapat menetapkan hukum dengan seadil-adilnya. Sebagaimana ayahnya, setelah dewasa Sulaiman juga diangkat oleh Allah menjadi Nabi dan Rasulnya, untuk menggantikan tugas-tugas ayahnya.7Kisah nabi Sulaiman adalah salah satu kisah dalam Alqur’an yang menarik untuk dikaji, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kesucian jiwa, keluhuran akhlak, kemantapan iman, kecerdasan dan pengabdian kepada agama Allah Swt. Selain itu, Kisah nabi Sulaiman dianggap menarik karena ia memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki manusia lain. Nabi Sulaiman adalah putra dari nabi Daud yang paling bungsu dari sebelas bersaudara. Ia lahir dari seorang perempuan saleh dan taqwa yang bernama Tasyayu’ bint Sura. Dikisahkan bahwa ibunya senantiasa mendorong nabi Sulaiman untuk tekun beribadah. Ia dijuluki dengan sebutan Sulaiman al-Hakim karena kebijaksanaanya. Sedangkan dalam perjanjian lama, nabi Sulaiman sering disebut sebagai Saloma dan dikenal sebagai seorang raja. Didalam Alqur’an terdapat beberapa kisah tentang nabi Sulaiman. Setelah dilakukan penelitian secara manual dalam kamus Mu’jam Mufahras li alfaz Alqur’an dengan menggunakan kata kunci (‫ (سليمان‬Sulaiman maka ditemukan hasilnya ada 17 term, dalam 16 ayat dan tersebar dalam 7 surat.8 Adapun hasil penelitian ayat-ayat tentang pengulangan nama nabi Suliman dengan kata kunci Sulaiman tersebut antara lain:9 1). QS, Al-Baqarah[2]: 102. 2). QS.An-Nisa’[4]:163. 3). QS.Al-An’am[6]:84. 4). QS. Al Anbiya’[21]:78, 79, 81. 5).QS. An Naml[27]:15, 16, 17, 18, 30, 36, 44. 6).QS. Saba’[34]:12. 7).QS. Sad[38]:30, 34 HASIL DAN PEMBAHASAN A. Konsepsi Ilmu dalam Kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an 7 Ishom El-Saha, Saiful Hadi, Sketsa Al-Qur,a: tempat, tokoh, nama, dan istilah dalam alQuran, Jakarta: Lista Fariska Putra, 2005, hal 698 8 Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni, Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an, terj, Muhyiddin Mas Rida, Muhammad Khalid Al-Shahir, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008, hal 690 9 Muhammad Fuad Abd al- Bāqi, al- Mu’jam al- Mufahras Li Alfāẕ al-Qur’an al- Karim, Kairo: Dār al-kutub al-miṣriyah, 1364, hal 315-316 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 7 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Konsepsi ilmu dalam kisah nabi sulaiman dalam Alqur’an diantaranya terdapat dalam surat QS. An Naml[27]: 15, yaitu: Artinya: Dan sungguh kami telah memberikan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman dan keduanya berkata “segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.”10 Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman (putra Nabi Daud) ilmu pengetahuan, baik yang berhubungan dengan pengetahuan tentang Tuhan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti kemampuan dan bakat memimpin dan mengatur bangsanya. Kedua nabi ini tidak saja memiliki pengetahuan, tetapi juga mengamalkannya dengan baik. Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang dipunyai oleh masing-masing nabi itu tidak hanya berfaedah bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan umatnya di dunia dan di akhirat kelak. Karena memperoleh nikmat yang tidak terhingga dari Allah, keduanya mensyukuri nikmat tersebut dengan mengucapkan: َ‫علَى َكثَي ٍْر َم ْن َعبَا َد َه ا ْل ُمؤْ َمنَين‬ ‫ي فَ ه‬ َ ‫ضلَنَا‬ ْ ‫ا َ ْل َح ْمدُ َ هّلِلَ اله َذ‬ Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hambahamba yang beriman. Sikap bersyukur Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dalam menerima nikmat Allah itu merupakan sikap yang terpuji. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar kaum Muslimin meneladani sikap tersebut. Mensyukuri nikmat berarti hamba yang menerima nikmat itu benar-benar merasakan bahwa yang diterimanya itu merupakan pernyataan kasih sayang Allah kepadanya dan merasa bahwa ia memang memerlukan nikmat Allah itu. Tanpa nikmat itu, ia tidak akan hidup dan merasakan kebahagiaan. Selanjutkan konsepsi ilmu dalam kisah nabi sulaiman dalam Alqur’an terdapat dalam QS. An Naml [27]: 16. 10 QS. An Naml [27]: 15. Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 8 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Artinya: Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan Dia (Sulaiman), berkata, “wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh (semua) ini benar-benar karunia yang nyata”.11 Ayat ini menerangkan bahwa Sulaiman, putra Daud, menggantikan bapaknya sebagai raja dan rasul Allah. Menurut Ibnu 'Athiyyah, Daud adalah raja dan rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil. Jabatan ini dipegang Sulaiman setelah bapaknya meninggal dunia. Karena Sulaiman menerima kedua jabatan itu setelah bapaknya meninggal dunia, maka disebutlah dalam ayat ini: Dan Sulaiman telah mewarisi Daud. Di samping mewarisi kerajaan, ilmu pengetahuan, kenabian, dan kitab Zabur dari bapaknya, Sulaiman juga dianugerahi Allah dengan beberapa keutamaan yang lain. Oleh karena itu, dia bersyukur kepada Allah dengan mengatakan, "Wahai sekalian manusia, Allah telah menganugerahkan kepada kami pengertian dan pengetahuan tentang suara burung dan diberi segala sesuatu yang diperlukan. Sesungguhnya semua benar-benar suatu yang nyata." Nabi Sulaiman dengan kekuatan dan kesanggupan yang telah diberikan Allah kepadanya, dapat memahami suara-suara binatang yang lain, selain dari suara burung. Dalam ayat ini, dikhususkan menyebutkan bahwa Sulaiman memahami suara burung karena burung adalah tentara khusus Nabi Sulaiman yang mempunyai keistimewaan khusus pula, seperti yang telah dilakukan oleh burung hud-hud. Sebagaimana diketahui bahwa suara pada binatang merupakan bahasa isyarat yang berlaku di antara mereka. Suara-suara itu terdengar dalam bentuk dan nada yang bermacam-macam, seperti suara dalam keadaan riang berbeda dengan suara burung dalam keadaan ketakutan. Suara kambing betina yang kehilangan anaknya berlainan dengan suara dikejar atau diterkam binatang buas. Nabi Sulaiman mengetahui maksud suara-suara binatang itu dengan kekuatan perasaan dan ilmu pengetahuan yang telah dilimpahkan Allah kepadanya. Menurut al-Baidhawi, apabila mendengar suara-suara burung, Nabi Sulaiman mengetahui makna dan maksud suara-suara itu dengan kekuatan perasaannya. Dalam ayat ini diterangkan pula bahwa Allah telah melimpahkan kepada Sulaiman segala macam kesanggupan dan segala sesuatu yang diperlukannya untuk mengendalikan pemerintahan negaranya. Dengan demikian, masa pemerintahan Nabi Sulaiman itu merupakan masa kejayaan Bani Israil. Sebagian ahli tafsir menafsirkan ayat "wa utina min kulli syai'in" (dan diberi segala sesuatu yang diperlukan), maksudnya ialah Allah telah menganugerahkan kepada Sulaiman hikmah, harta yang berlipat ganda, kekuatan yang besar dan luas sebagai seorang raja, dan menundukkan jin, manusia, burung, dan binatang lainnya. Karena nikmat yang telah dilimpahkan itu, maka Nabi Sulaiman bersyukur kepada Allah dengan menyatakan bahwa segala nikmat yang telah dilimpahkan 11 QS. An Naml[27]: 16 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 9 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an kepadanya, baik yang berupa pengetahuan, pemberian, keutamaan, dan sebagainya adalah suatu keistimewaan yang telah diberikan Allah kepadanya. Dengan berbagai karunia itu, Allah telah melebihkannya dari manusia-manusia yang lain. Adapun penafsiran dari QS. An Naml[27]: 15 dan 16 adalah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an dan Tafsirnya, Jilid 7 bahwa ayat-ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman hikmah, ilmu pengetahuan baik yang berhubungan dengan pengetahuan tentang Tuhan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti bakat memimpin dan mengatur bangsanya. Mereka juga mengamalkan ilmunya dengan baik. Mereka memanjatkan Syukur kepada Allah swt atas nikmat yang tak terhingga yang telah diberikan.12 Di samping mewarisi kerajaan, ilmu pengetahuan, kenabian, dan kitab Zabur dari bapaknya. Tidaklah tepat memahami pewarisan itu menyangkut kenabian, karena kenabian adalah anugerah ilahi yang tidak dapat diwarisi. Sementara ulama berpendapat bahwa yang beliau warisi adalah harta dan ilmu ayahnya. Memahaminya dalam arti mewarisi harta juga kurang tepat, karena para Nabi tidak mewariskan harta kepada keluarganya, apa yang mereka tinggalkan adalah untuk umat. Pendapat paling logis adalah mewarisi kekuasaan atau kerajaan ayahnya. Nabi Sulaiman dianugerahi oleh Allah dengan beberapa keutamaan yang lain, yaitu dapat memahami suara-suara burung dan juga suara-suara binatang yang lain. Dalam ayat ini juga diterangkan bahwa Allah telah melimpahkan kepada Nabi Sulaiman segala macam kesanggupan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengendalikan pemerintahan Negaranya. Apa yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Sulaiman as melebihi pengetahuan manusia biasa, betapapun seseorang tekun mempelajari bahasa binatang, tidak dapat dibandingkan dengan pengetahuan yang dianugerahkan Allah swt kepada Nabi Sulaiman as serta mukjizat yang menjadi keistimewaan Nabi Sulaiman as. B. Tujuan dan fungsi Ilmu dalam Kisah Sulaiman Kisah tentang Nabi Sulaiman dalam Alqur’an memberikan berbagai pelajaran dan hikmah, serta menyoroti berbagai aspek kehidupan, kebijaksanaan, dan kekuasaan Allah. Ilmu dalam konteks kisah Sulaiman memiliki tujuan dan fungsi yang menonjol, diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Hikmah dan kebijaksanaan pemerintahan Nabi Sulaiman dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan adil. Ilmu yang diberikan kepadanya oleh Allah, termasuk pemahaman tentang bahasa burung dan pengetahuan tentang kebijaksanaan pemerintahan, memberikan contoh bagaimana seorang pemimpin seharusnya menggunakan pengetahuannya untuk mengelola negara dengan adil dan bijaksana. Ayat dalam Alqur’an yang berkaitan 12 Departemen Agama RI, Al-Qur`an dan Tafsirnya, Jilid 7, Jakarta: Departemen Agama RI, 2017, Cet. 3, hal. 184 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 10 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an dengan hikmah dan kebijaksanaan pemerintahan dalam kisah Nabi Sulaiman terdapat dalam QS. Sad [38]: 20 - 25, yang artinya: (20) Dan Kami perkuat kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan hikmat berbicara yang sebaik-baiknya. (21) Dan apakah telah sampai kepadamu kisah tentang kedatangan tamu, ketika mereka mendaki tembok kota. (22) Ketika mereka sampai kepada Daud, maka mereka takut kepadanya. Berkata mereka: "Janganlah kamu takut! Kami ini dua orang bersengketa; seorang dari kami zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan dengan adil, dan janganlah kamu lalai dan hendaklah engkau memberi petunjuk kepada kami tentang jalan yang lurus. (23) Sesungguhnya ini, saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor domba, dan aku mempunyai seekor domba saja; lalu berkatalah ia: Serahkanlah dia kepadaku, dan ia menang dalam perdebatan itu. (24) Ia berkata: Sesungguhnya dia telah menganiaya engkau dengan memaksa supaya menggabungkan dombamu dengan dombaku; dan banyak dari orang-orang yang bersekutu, sesungguhnya sebahagian besar dari mereka saling menganiaya sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan sedikit sekali mereka. Dan Daud tahu bahwa Kami telah menguji dia, lalu ia meminta ampun kepada Tuhannya dan tunduk (kepada-Nya). (25) Lalu Kami ampuni dia (dosa)-nya itu; dan sesungguhnya baginya tempat yang tinggi (surga) dan buah-buahan yang banyak.13 Ayat-ayat tersebut menggambarkan kebijaksanaan dan keadilan Nabi Sulaiman dalam menyelesaikan konflik dan memberikan keputusan yang adil. Ia dianugerahi hikmah, kebijaksanaan, dan kemampuan berbicara yang baik oleh Allah SWT. 2. Kekuasaan Allah Kisah Nabi Sulaiman juga menekankan kekuasaan Allah dalam memberikan kebijaksanaan dan kemampuan unik kepada hamba-Nya. Ilmu yang diberikan kepada Nabi Sulaiman adalah karunia dari Allah, yang menunjukkan bahwa segala sesuatu di dunia ini dikendalikan oleh-Nya. Ada beberapa ayat dalam Alqur’an yang menunjukkan kekuasaan Allah dalam kisah Nabi Sulaiman. Salah satu contoh yang mencerminkan kekuasaan Allah terkait dengan Nabi Sulaiman dapat ditemukan dalam Surah Sad [38]:36-38, yang artinya: (36) Maka Kami tundukkan angin untuk berhembus menurut perintahnya yang lemah-lembut (37) dan (Kami tundukkan pula) setan-setan, tiap-tiap pembangun dan penyelam, (38) dan yang lain lagi, yang terikat (di bawah perintahnya).14 Ayat-ayat tersebut menggambarkan bagaimana Allah SWT memberikan Nabi Sulaiman kendali dan kekuasaan atas berbagai elemen alam, seperti angin, setansetan yang melakukan pekerjaan, dan makhluk-makhluk lainnya. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu tunduk kepada kehendak Allah dan bahwa Nabi Sulaiman 13 14 QS. Sad [38]: 20 – 25 Ibid Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 11 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an diberi kekuasaan khusus untuk mengatur dan mengendalikan makhluk-makhluk tersebut atas izin Allah. 3. Ketundukan pada Kehendak Allah Sulaiman menunjukkan sikap tunduk dan patuh kepada kehendak Allah. Meskipun memiliki kekuasaan besar, kekayaan, dan pengetahuan yang luar biasa, Nabi Sulaiman tetap menyadari bahwa semua itu hanyalah karunia dari Allah, dan dia bersyukur serta tetap patuh pada perintah-Nya. Meskipun tidak ada ayat khusus yang menyebutkan secara eksplisit tentang ketundukan pada kehendak Allah dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an, konsep ketundukan pada kehendak Allah umumnya tercermin dalam berbagai ayat Alqur’an. Nabi Sulaiman, sebagai seorang nabi yang saleh, pasti menunjukkan ketundukan dan ketaatan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Salah satu ayat yang mencerminkan konsep ini adalah dalam QS. Al-Baqarah [2]:285, yang artinya: Amanah itu ada pada langit dan bumi, tetapi manusia tidak dapat memikulnya. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan amat bodoh.15 Ayat ini menekankan bahwa amanah atau tanggung jawab itu sangat berat dan tidak dapat dipikul sepenuhnya oleh manusia. Hal ini menggambarkan pentingnya kesadaran akan kekuasaan dan kehendak Allah, serta pengakuan bahwa manusia harus tunduk dan patuh kepada-Nya. Meskipun tidak merinci kisah Nabi Sulaiman secara langsung, konsep ini dapat diterapkan pada seluruh kisah para nabi dalam Alqur’an, termasuk Nabi Sulaiman. Tindakan dan kebijaksanaan Nabi Sulaiman dalam mengelola kerajaannya dan memimpin umatnya dapat dilihat sebagai bentuk ketundukan pada kehendak Allah. 4. Komunikasi dengan Alam Ilmu yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, seperti memahami bahasa burung, menyoroti pentingnya berkomunikasi dengan alam dan ciptaan Allah. Hal ini mengajarkan bahwa manusia seharusnya tidak hanya menjalani kehidupan dalam hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga harus merawat dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Salah satu ayat yang menggambarkan hal ini dapat ditemukan dalam QS. An-Naml [27]:16, yang artinya: Dan Sulaiman diwariskan Daud dan dia berkata, 'Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang bahasa burung, dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu karunia yang nyata.16 Ayat ini mencerminkan bahwa Nabi Sulaiman mampu memahami dan berkomunikasi dengan bahasa burung. Kemampuan ini diberikan oleh Allah sebagai karunia khusus kepada Nabi Sulaiman. Ayat-ayat selanjutnya dalam surah tersebut juga menjelaskan bagaimana Nabi Sulaiman menggunakan kemampuannya untuk mengumpulkan pasukan burung dan mengelola kerajaannya dengan bijak. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah memberikan karunia15 16 QS. Al-Baqarah [2]:285 QS. An-Naml [27]:16 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 12 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an karunia khusus kepada para nabi, termasuk kemampuan berkomunikasi dengan alam dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Ini juga menunjukkan keajaiban kekuasaan Allah dan memperlihatkan bagaimana alam semesta dan makhlukmakhluk di dalamnya memiliki bentuk komunikasi yang luar biasa, yang dapat dipahami oleh seorang nabi yang diberi karunia khusus oleh Allah. 5. Pengajaran Moral dan Etika Kisah Nabi Sulaiman mengandung ajaran moral dan etika. Penggunaan kebijaksanaan dan ilmu untuk menyelesaikan konflik, memerintah dengan adil, dan menjaga keadilan menunjukkan prinsip-prinsip moral dan etika yang harus diikuti oleh pemimpin dan masyarakat. Dalam Alqur’an, kisah Nabi Sulaiman juga mencakup pengajaran moral dan etika. Salah satu ayat yang menyoroti aspek ini dapat ditemukan dalam QS. Sad [38]:20, yang artinya: Dan Kami perkuat kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan hikmat berbicara yang sebaik-baiknya.17 Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kepada Nabi Sulaiman kebijaksanaan (hikmah) dan kemampuan berbicara yang baik (hikmat). Hikmah dan hikmat ini bukan hanya berupa pengetahuan atau kecerdasan, tetapi juga mencakup aspek moral dan etika dalam berbicara dan bertindak. Kisah-kisah yang menceritakan kebijaksanaan Nabi Sulaiman, seperti penyelesaian konflik, keadilan dalam pemerintahan, dan interaksi dengan makhluk Allah lainnya, dapat dianggap sebagai pelajaran moral dan etika. Kebaikan hati, keadilan, dan kebijaksanaan dalam bertindak menjadi contoh bagi umat Islam untuk diikuti. Oleh karena itu, kisah Nabi Sulaiman memberikan pelajaran moral yang dapat diambil sebagai pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 6. Ketaatan kepada Allah Ilmu yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman mengingatkan kita tentang pentingnya ketaatan kepada Allah. Meskipun memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang besar, Nabi Sulaiman tetap tunduk kepada perintah Allah, dan hal ini menjadi contoh bagi kita tentang pentingnya ketaatan dalam hidup sehari-hari. Ayat yang menyoroti ketaatan kepada Allah dalam kisah Nabi Sulaiman dapat ditemukan dalam beberapa bagian Alqur’an. Salah satu contoh terdapat dalam QS. Sad [38]:30, yang artinya: Dan Kami uji Sulaiman, dan Kami letakkan mayat di tempat tidurnya, kemudian dia bertaubat.18 Ayat ini merujuk pada pengujian yang diberikan Allah kepada Nabi Sulaiman. Meskipun Nabi Sulaiman memiliki kekuasaan yang besar dan kemampuan-kemampuan ajaib, Allah mengujinya dengan mengambil nyawanya untuk sementara waktu. Nabi Sulaiman merespons ujian tersebut dengan bertaubat kepada Allah. Ini mencerminkan ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah 17 18 Ibid Ibid Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 13 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an meskipun kekuasaan dan kebijaksanaan yang luar biasa yang telah diberikan kepadanya. Selain itu, QS. Sad [38]:34-35 juga menegaskan ketaatan Nabi Sulaiman kepada Allah, yang artinya: Kami periksa Sulaiman dan kami letakkan pada singgasananya benda kayu kemudian dia berseru seraya berkata, 'Hai para malaikat, apakah kalian memberi saya kesempatan untuk bertaubat? 19 Ayat tersebut di atas menunjukkan rendah hati Nabi Sulaiman dan kesadaran akan kepatuhannya kepada Allah. Meskipun memiliki kekuasaan dan kemampuan yang besar, Nabi Sulaiman tetap menyadari ketergantungan dan ketaatannya kepada Allah. Kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an menyoroti bahwa ketaatan kepada Allah merupakan prinsip yang mendasari hidup seorang nabi, bahkan dalam situasi yang penuh ujian sekalipun. C. Klafikasi ilmu dalam Kisah Sulaiman Kisah Sulaiman dalam Alqur’an melibatkan berbagai jenis ilmu dan pembelajaran, yang mencakup aspek-aspek, diantaranya adalah seperti berikut: 1. Ilmu Aqidah Kisah Nabi Sulaiman menekankan keimanan pada keesaan Allah, kekuasaanNya, dan keyakinan dalam menerima risalah para rasul. Dalam kisah-kisah nabi, konsep tauhid sering kali tersirat dalam keyakinan mereka pada keesaan Allah, penolakan terhadap penyembahan berhala, dan penekanan pada ketaatan kepada Allah semata. Sebagai contoh, dalam QS. Sad (38:65-66), setelah Allah mengingatkan Nabi Muhammad tentang kisah Nabi Sulaiman, disebutkan bahwa: Katakanlah: 'Aku hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Tuhan (yang Maha Esa) dari negeri ini yang telah mensucikan, dan kepada-Nya lah segala sesuatu. Dan aku diperintahkan untuk menjadi salah seorang dari orang-orang Islam.20 Ayat ini menegaskan prinsip tauhid, yaitu pengakuan bahwa ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah yang Maha Esa. Nabi Sulaiman, sebagai seorang nabi, menyampaikan prinsip-prinsip tauhid ini kepada umatnya. Penting untuk diingat bahwa prinsip-prinsip tauhid mencakup keyakinan pada keesaan Allah, penolakan terhadap penyekutuan atau mitra bagi-Nya, dan ketaatan yang tulus kepada-Nya. Sementara tidak ada ayat yang secara spesifik menyebutkan "ilmu tauhid," konsep tersebut tercermin dalam ajaran-ajaran dan tindakan para nabi, termasuk Nabi Sulaiman. 2. Ilmu Tafsir 19 20 Ibid Ibid Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 14 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Ayat-ayat yang menceritakan kisah Nabi Sulaiman memerlukan pemahaman dan penafsiran agar pesan dan hikmahnya dapat dipahami dengan baik. Nilai-nilai kebijaksanaan dan pemahaman Nabi Sulaiman yang mungkin tercermin dalam ayat-ayat yang menyoroti kebijaksanaan dan keilmuannya. Sebagai contoh, dalam QS. Sad [38]:20, yang artinya: Dan Kami perkuat kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan hikmat berbicara yang sebaik-baiknya.21 Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan Nabi Sulaiman hikmah (kebijaksanaan) dan kemampuan berbicara yang sangat baik. Meskipun tidak secara langsung berkaitan dengan ilmu tafsir, kebijaksanaan ini dapat mencakup pemahaman mendalam terhadap ajaran Allah. Penting untuk dicatat bahwa ilmu tafsir sebagai disiplin ilmu Islam berkembang setelah masa nabi-nabi, dan para ulama Islam kemudian mengembangkan metode dan pendekatan ilmiah untuk memahami dan menjelaskan makna Alqur’an. 3. Ilmu Tauhid Para nabi dan rasul diberi tugas untuk menyampaikan tauhid kepada umat mereka dan menegaskan keesaan Allah. Kisah Sulaiman mengajarkan tentang keesaan Allah dan penolakan terhadap bentuk-bentuk kesyirikan atau penyekutuan dalam ibadah. Ayat-ayat yang mencakup prinsip-prinsip tauhid dan keesaan Allah dapat ditemukan dalam banyak bagian Alqur’an. Sebagai contoh, QS. Al-Baqarah [2] : 63, yang artinya: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Penyayang, lagi Maha Penyantun.”22 Dalam kisah Nabi Sulaiman, meskipun tidak disebutkan secara khusus, dapat diasumsikan bahwa beliau, sebagai seorang nabi, menyampaikan ajaran tauhid kepada umatnya. Nabi Sulaiman dan para nabi lainnya diberi tugas untuk membimbing umat agar mengakui dan mengesakan Allah sebagai satu-satunya tuhan yang berhak disembah. Penting untuk memahami bahwa prinsip tauhid adalah inti dari ajaran agama Islam, dan meskipun tidak selalu disebutkan dalam konteks kisah tertentu, prinsip ini senantiasa menjadi dasar dalam ajaran seluruh nabi dan rasul. 4. Ilmu Fiqh Sebagian kisah Sulaiman dapat memberikan pandangan terhadap prinsipprinsip hukum Islam, terutama dalam konteks kebijakan pemerintahan dan keadilan. Dalam kisah Nabi Sulaiman, terdapat beberapa ayat yang menunjukkan kebijaksanaan dan hukum yang diterapkan olehnya. Salah satu contoh adalah dalam QS. Sad [38]:21-26, di mana Nabi Sulaiman memberikan keputusan hukum dalam sengketa antara dua pihak 21 22 Ibid QS. Al-Baqarah [2] : 63 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 15 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an “Dan apakah telah sampai kepadamu kisah tentang kedatangan tamu, ketika mereka mendaki tembok kota. Ketika mereka sampai kepada Daud, maka mereka takut kepadanya. Berkatalah mereka: 'Janganlah kamu takut! Kami ini dua orang bersengketa; seorang dari kami zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan dengan adil, dan janganlah kamu lalai dan hendaklah engkau memberi petunjuk kepada kami tentang jalan yang lurus. Sesungguhnya ini, saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor domba, dan aku mempunyai seekor domba saja; lalu berkatalah ia: 'Serahkanlah dia kepadaku, dan dia menang dalam perdebatan itu.”23 Ayat ini menunjukkan kemampuan Nabi Sulaiman dalam memberikan keputusan hukum yang adil dan bijaksana dalam menyelesaikan konflik. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sebagai ilmu fiqh, prinsip-prinsip keadilan dan penyelesaian sengketa yang diterapkan oleh Nabi Sulaiman dapat dianggap sebagai wujud dari pemahaman dan penerapan hukum Islam. Penting untuk dicatat bahwa ilmu fiqh sebagai disiplin ilmu formal berkembang setelah zaman kenabian, dan para ulama Islam kemudian mengembangkan metodologi dan aturan hukum secara lebih terinci. 5. Ilmu Mukjizat Mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada Sulaiman, seperti pemahaman terhadap bahasa burung dan kendali atas angin, menunjukkan keistimewaan dan kekuasaan Allah. Dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an, terdapat beberapa ayat yang menunjukkan pemberian mukjizat kepadanya oleh Allah SWT. Mukjizat adalah tanda-tanda luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti kebenaran misi mereka. Nabi Sulaiman diberikan mukjizat-mukjizat khusus yang mencerminkan kekuasaan Allah. Salah satu contoh ayat yang mencakup mukjizat Nabi Sulaiman dapat ditemukan dalam QS. Sad [38]:36-38), yang artinya: ”Maka Kami tundukkan angin untuk berhembus menurut perintahnya yang lemah-lembut. Dan (Kami tundukkan pula) setan-setan, tiap-tiap pembangun dan penyelam. dan yang lain lagi, yang terikat (di bawah perintahnya).”24 Ayat-ayat ini menunjukkan beberapa mukjizat yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, termasuk kendali atas angin, setan-setan yang bekerja untuknya, dan makhluk-makhluk lain yang tunduk kepada perintahnya. Mukjizat-mukjizat ini menunjukkan kekuasaan Allah dan status kenabian Nabi Sulaiman. Mukjizatmukjizat ini menjadi tanda bukti atas kebenaran kenabian dan keutamaan yang diberikan Allah kepada para nabi. Meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan istilah "ilmu mukjizat," konsep ini terkait erat dengan kemampuan khusus yang diberikan Allah kepada para nabi untuk mendukung misi mereka dan meyakinkan kaumnya tentang kebenaran wahyu yang mereka bawa. 6. Ilmu Sejarah 23 24 Ibid Ibid Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 16 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Kisah Sulaiman memberikan wawasan tentang sejarah dan peristiwa yang terjadi pada masa itu, memberikan konteks tentang kehidupan pada zamannya. Terdapat beberapa ayat yang menyentuh aspek sejarah dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Sulaiman. Salah satu contoh dapat ditemukan dalam QS. Sad [38]:36-40, yang artinya: ”Maka Kami tundukkan angin untuk berhembus menurut perintahnya yang lemah-lembut. dan (Kami tundukkan pula) setan-setan, tiap-tiap pembangun dan penyelam. dan yang lain lagi, yang terikat (di bawah perintahnya). Kami bersama dengannya membawa kerajaan yang besar. Sehingga kepada kamu sekalian, janganlah kamu melampaui batas, dan aku (Sulaiman) datang membawa kepadamu bukti yang nyata.”25 Ayat-ayat ini memberikan gambaran singkat tentang beberapa kejadian penting dalam kehidupan Nabi Sulaiman, seperti kendali atas angin, setan-setan yang bekerja untuknya, dan kemegahan kerajaannya. Meskipun tidak menyajikan sejarah secara rinci, ayat-ayat ini menyentuh beberapa aspek peristiwa sejarah yang terkait dengan Nabi Sulaiman. Perlu diingat bahwa Al-Qur'an tidak diberikan sebagai buku sejarah komprehensif, namun sebagai petunjuk hidup dan ajaran moral bagi umat Islam. Informasi sejarah lebih lanjut tentang kehidupan nabi dan rasul, termasuk Nabi Sulaiman, dapat ditemukan dalam literatur sejarah Islam dan Hadis. 7. Ilmu Kepemimpinan Nabi Sulaiman diangkat sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan adil. Ini memberikan contoh dan pelajaran tentang kepemimpinan yang baik dalam Islam. Dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an, terdapat beberapa ayat yang menunjukkan kebijaksanaan dan ilmu kepemimpinan yang dimiliki oleh beliau. Salah satu contoh ayat yang mencerminkan hal tersebut adalah dalam QS. Sad [38]:20), yang artinya: "Dia (Sulaiman) berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku sebuah kerajaan yang tidak layak bagi seorang pun setelahku. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi.”26 Ayat ini mencerminkan doa Nabi Sulaiman yang menunjukkan pemahaman dan kesadaran akan tanggung jawab kepemimpinan yang besar. Beliau memohon ampunan kepada Allah dan meminta agar diberikan kerajaan yang tidak dapat dimiliki oleh siapapun setelahnya. Doa ini mencerminkan kebijaksanaan, tanggung jawab, dan kesadaran akan pentingnya kepemimpinan yang adil. Namun, untuk memahami konteks secara lebih mendalam, disarankan untuk merujuk pada tafsir Alqur’an atau literatur Islam yang menjelaskan kisah Nabi Sulaiman. 8. Ilmu Bahasa 25 26 Ibid Ibid Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 17 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Nabi Sulaiman memiliki kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk, termasuk burung-burung. Ini menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap bahasa. Kisah-kisah dalam Alqur’an lebih banyak menyoroti kebijaksanaan, keadilan, keimanan, dan karunia Allah kepada Nabi Sulaiman, termasuk keistimewaan beliau dalam memahami bahasa burung dan makhluk lain. Salah satu ayat yang mencerminkan kemampuan istimewa tersebut adalah dalam QS. An-Naml [27]:16, yang artinya: "Dan waris (kesultan) bagi Sulaiman dari Daud, dan dia berkata, 'Hai manusia, kami telah diajarkan bahasa burung dan diberi segala sesuatu. Sesungguhnya ini sungguh-sungguh adalah karunia yang nyata.”27 Dalam ayat ini, Nabi Sulaiman menyebut bahwa Allah telah memberikan kepadanya pengetahuan bahasa burung. Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan ilmu bahasa, hal ini mencerminkan keistimewaan dan karunia Allah kepada beliau dalam memahami komunikasi makhluk Allah yang lain. 9. Ilmu Kalam Aspek-aspek tertentu dari kisah Sulaiman dapat dikaitkan dengan diskusi tentang konsep teologi dalam Islam, seperti sifat-sifat Allah dan cara Allah berinteraksi dengan makhluk-Nya. Ilmu Kalam, yang merupakan cabang filsafat teologis dalam tradisi Islam, tidak secara spesifik dibahas dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an. Kisah-kisah yang terdapat dalam Alqur’an, termasuk kisah Nabi Sulaiman, lebih fokus pada ajaran moral, kebijaksanaan, dan mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada para nabi. Namun, jika Anda merujuk pada aspek keimanan dan keyakinan nabi Sulaiman , Anda dapat menemukan ayat-ayat yang menunjukkan kepatuhan dan keimanan beliau kepada Allah. Nabi Sulaiman merupakan seorang nabi yang diutus oleh Allah, dan kisahnya termaktub dalam beberapa bagian Alqur’an, seperti dalam QS. Sad [38]:30, yang artinya: "Dan Kami anugerahkan kepada Daud Sulaiman; (Dia adalah) seorang hamba yang baik. Sesungguhnya dia adalah seorang yang kembali (kepada Allah)."28 Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang hamba yang baik dan kembali sepenuhnya kepada Allah. Meskipun tidak secara eksplisit membahas ilmu kalam, kisah-kisah nabi-nabi dalam Alqur’an memberikan gambaran tentang keimanan, ketaatan, dan kembali kepada Allah. 10. Ilmu Akhlak Perilaku Nabi Sulaiman dan kebijaksanaannya memberikan pelajaran moral dan etika, seperti keadilan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah. Dalam kisah Nabi Sulaiman dalam Alqur’an, terdapat banyak petunjuk tentang akhlak yang baik, kebijaksanaan, dan kesalehan. Salah satu ayat yang mencerminkan sifat-sifat akhlak Nabi Sulaiman adalah dalam QS. Sad [38]:30, yang artinya: 27 28 QS. An-Naml [27]:16 Ibid Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 18 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an "Dan Kami anugerahkan kepada Daud Sulaiman; (Dia adalah) seorang hamba yang baik. Sesungguhnya dia adalah seorang yang kembali (kepada Allah)."29 Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Sulaiman (AS) disifati sebagai "hamba yang baik" dan "orang yang kembali (kepada Allah)." Ini mencerminkan akhlak yang tinggi, kepatuhan kepada Allah, dan kesalehan yang melekat pada dirinya. PENUTUP Konsepsi ilmu dalam kisah nabi sulaiman dalam Alqur’an diantaranya terdapat dalam surat QS. An Naml[27]: 15 dan 16. Dalam ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman hikmah, ilmu pengetahuan baik yang berhubungan dengan pengetahuan tentang Tuhan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti bakat memimpin dan mengatur bangsanya. Mereka juga mengamalkan ilmunya dengan baik. Mereka memanjatkan Syukur kepada Allah swt atas nikmat yang tak terhingga yang telah diberikan. Selain itu Nabi Sulaiman juga dianugerahi oleh Allah dengan beberapa keutamaan yang lain, yaitu dapat memahami suara-suara burung dan juga suara-suara binatang yang lain. Dalam ayat ini juga diterangkan bahwa Allah telah melimpahkan kepada Nabi Sulaiman segala macam kesanggupan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengendalikan pemerintahan Negaranya. Ilmu dalam konteks kisah Sulaiman memiliki tujuan dan fungsi yang menonjol, diantaranya adalah hikmah dan kebijaksanaan pemerintahan, kekuasaan Allah, ketundukan pada kehendak Allah, komunikasi dengan alam, pengajaran moral dan etika, serta ketaatan kepada Allah. Kisah Sulaiman dalam Alqur’an melibatkan berbagai jenis ilmu dan pembelajaran, yang mencakup aspekaspek, diantaranya adalah ilmu aqidah, ilmu tafsir, ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu mukjizat, ilmu sejarah, ilmu kepemimpinan, ilmu bahasa, ilmu kalam, dan ilmu akhlak. DAFTAR PUSTAKA Ishom El-Saha, Saiful Hadi. Sketsa Al-Qur,an: tempat, tokoh, nama, dan istilah dalam Alqur’an, Jakarta: Lista Fariska Putra, 2005 Kementrian Agama Republik Indonesia. Alqur’an dan Terjemahan. Bandung: Syamil Qur'an, 2017 Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : Pustaka Setia, 2011 M. Quraish Shihab. Membumikan Al-Qur`an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 2012 Muhammad Fuad Abd al- Bāqi. Al- Mu’jam al- Mufahras Li Alfāẕ Alqur’an alKarim, Kairo: Dār al-kutub al-miṣriyah. 29 Ibid Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 19 Edimizwar, Syabuddin: Konsepsi Ilmu Dalam Kisah Nabi Sulaiman Dalam Alqur’an Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni. Kisah-Kisah dalam Alqur’an, terj, Muhyiddin Mas Rida, Muhammad Khalid Al-Shahir, Jakarta: Pustaka AlKautsar, 2008. Sumanto, Teori dan Metode Penelitian, Yogyakarta:CAPS (Center of Academic Publishing Service), 2014 Jurnal Tarbiyah Almuslim Vol. 2 No.1 Juni, 2024 : 1-20 20