Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Februari 2025, pp. e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 http://journal. id/index. php/JSTIF/index Sistem Informasi Geografis Pemetaan Dampak Tsunami di Kota Pangandaran Berbasis Web Sendy Apriatna a,1,*. Ika Arfiani b,2 Program Studi S1 Informatika. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Ahmad Dahlan. Indonesia sendy1900018205@webmail. 2 ika. arfiani@tif. * Penulis Korespondensi ABSTRAK Pemahaman rendah masyarakat terkait mitigasi bencana alam akan sangat berpotensi mengakibatkan jumlah korban jiwa dengan jumlah yang tinggi. Pemerintah memiliki peran untuk memberikan edukasi terkait bencana alam melalui pemasangan rambu bahaya seperti tanda arah evaluasi, banner peta ancaman bencana, dan pemasangan alarm bencada. Upaya pemerintah terkait sosialisasi dan mitigasi bencana dirasa belum efektif akibat penolakan dari masyarakat yang merasa informasi bencana terlalu menakutkan. Penelitian ini bertujuan menghasilkan sistem informasi geografis untuk pemetaan dampak bencana alam tsunami di wilayah kota Pangandaran. Pelaksanaan penelitian ini akan menggunakan metode Waterfall yang terdiri dari tahap requirement analysis, design, development, testing, dan maintenance. Penelitian ini telah berhasil membangun sistem informasi geografis yang memvisualisasi atribut distribusi spasial potensi acaman bencana alam tsunami di kota Pangandaran melalui penerapan representasi peta. Hasil pengujian fungsional dengan black box test mendapatkan tingkat kesesuaian 100%. Hasil pengujian disimpulkan bahwa sistem informasi dapat digunakan dan diterima secara positif. Riwayat Artikel Diterima 20 Juni 2024 Diperbaiki 4 Desember 2025 Diterbitkan 25 Febuari 2025 Kata Kunci Black-box Test Sistem Informasi Geografis Tsunami Waterfall Web This is an open-access article under the CCAeBY-SA license Pendahuluan Kabupaten Pangandaran adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 011,04 km2, memiliki 10 Kecamatan dan 93 Desa . Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran menyebut wilayah Pangandaran memiliki banyak titik yang sangat rawan terjadi bencana alam tsunami. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor 3 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pangandaran 2018-2038, terdapat 6 kecamatan yang termasuk kawasan rawan bencana tsunami yaitu Kecamatan Cimerak. Cijulang. Parigi. Sidamulih. Pangandaran, dan Kalipucang . Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang disampaikan dalam Buku Rencana Penanggulangan Bencana 2015-2019 berdasarkan Kajian Risiko Bencana Gempa Bumi . Temuan lain mengidentifikasi 10 provinsi yang menjadi prioritas dalam penanggulangan tsunami, di antaranya adalah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Pangandaran . Pada 2006, di Pengandaran terjadi gempa dengan kekuatan 6,8 skala richter yang merenggut 668 korban jiwa, 65 hilang . iasumsikan meningga. , dan 9. 299 luka-luka . Wilayah permukiman di Pangandaran yang terdampak bencana tsunami mencapai 13% meliputi kecamatan Pangandaran. Kecamatan Parigi. Kecamatan Cimerak. Kecamatan Sidamulih. Kecamatan Cijulang. Kecamatan Kalipucang . Kerusakan bangunan yang ditimbulkan juga menyebabkan sebanyak 1. 777 rumah rusak berat, 585 rumah rusak ringan, 43 bangunan fasilitas umum rusak, dan menghempaskan 125 perahu nelayan . dengan perkiraan kerugian total mencapai Rp 166,2 milyar . Berdasarkan wawancara dengan Bapak Untung Saeful Rokhman. Sos. Si, upaya pemerintah Kabupaten Pangandaran pada tahun 2019 dalam menyadarkan masyarakat Pangandaran terkait sadar bencana tsunami yaitu memasang berbagai rambu bahaya tsunami di beberapa titik seperti tanda arah evakuasi, banner peta ancaman tsunami, dan pemasangan alarm tsunami di 3 titik tempat. Namun, upaya dari pemerintah Pangandaran mendapatkan penolakan dari masyakat karena informasi yang 12928/jstie. jurnalsarjana@tif. Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Vol. No. Februari 2023, pp. diberikan terlalu menakutkan. Pemahaman dan panduan masyarakat yang rendah terhadap mitigasi bencana alam sangat berpotensi mengakibatkan banyak korban jiwa. Upaya penanganan yang tepat saat bencana alam dapat meminimalisir korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Penggunaan media teknologi informasi mampu mencegah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur akibat bencana alam. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah salah satu teknologi yang digunakan untuk memasukan, menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis, dan/atau menampilkan data terkait berhubungan dengan posisi di permukaan bumi . , . SIG memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan, khususnya dalam mengidentifikasi dan memetakan daerah-daerah rawan bencana . Penggunaan SIG berpotensi memudahkan untuk mengumpulkan data serta memahami pola sebaran daerah-daerah yang rentan terhadap bencana . Penelitian terdahulu telah menerapkan SIG sebagai media pemetaan daerah rawan bencana . , . , . , . , . Peneliti . , menerapkan teknologi SIG untuk mengidentifikasi daerah rawan bencana longsor di Kabupaten Gunung Kidul. Peneliti . secara spesifik menerapkan teknologi SIG untuk pemetaan risiko kerusakan bangunan akibat bencana tsunami. Kajian penelitian terdahulu terkait penerapan teknologi SIG terhadap bencana tsunami semakin meluas diterapkan pada berbagai daerah, peneliti . menerapkan SIG di wilayah Bantul. Yogyakarta, peneliti . menerapkan SIG di wilayah Bengkulu, dan peneliti . menerapkan SIG di wilayah Cilegon. Penelitian ini juga akan menerapkan teknologi SIG pada bidang penanganan bencana alam tsunami di wilayah Pangandaran. Penerapan SIG dalam konteks ini akan menggunakan Leaflet sebagai platform layanan API yang bersifat open source, dengan tambahan Leaflet Routing Machine akan memungkinkan membuat rute dari titik awal ke titik tujuan menjadi efisien. Aplikasi SIG ini bukan hanya menyediakan informasi mengenai kondisi geografis suatu wilayah, tetapi juga memfasilitasi perencanaan dan pengambilan keputusan yang lebih cerdas terkait mitigasi bencana. Melalui implementasi SIG, informasi dapat disampaikan dalam bentuk peta yang memuat informasi terkait daerah terdampak bencana tsunami di Kota Pangandaran sehingga meningkatkan kewaspadaan masyarakat untuk mengurangi terjadi korban jiwa dan kerusakan material yang lebih besar. Metode Pada penelitian ini, akan dilakukan beberapa tahap dalam pembuatan Sistem Informasi Geografis untuk pemetaan dampak tsunami di Kota Pangandaran Berbasis Web. Tahapan penelitian mengacu pada metode pengembangan perangkat lunak modified Waterfall yang dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Tahapan Penelitian dengan Metode Waterfall Requirement Requirement merupakan tahap awal pada metode waterfall, tahap ini bertujuan menentukan kebutuhan sebuah sistem sehingga sesuai dengan harapan pengguna. Upaya menentukan data kebutuhan sistem diperoleh dari proses wawancara atau diskusi dan survei langsung. Informasi yang didapat akan diolah untuk memenuhi data yang dibutuhkan oleh pengguna. Sendy Apriatna et al. (Sistem Informasi Geografi. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Febuari 2025, pp. ISSN 2809-3399 Design Tahap design merupakan tahap pembuatan desain atau rancangan user interface yang dapat memberikan gambaran, menentukan persyaratan sistem, dan menentukan arsitektur sistem secara Pada tahap ini proses desain akan menyusun dokumen class diagram dan use case Development Tahap development adalah tahapan pengembangan beberapa program kecil atau unit, yang Tahap development juga berkaitan dengan merubah hasil dokumentasi pada tahap desain ke dalam bahasa komputer atau bahasa pemrograman. Testing Pada tahap testing, hasil sistem yang dibangun akan dilakukan evaluasi terkait ketercapaian Proses pengujian fungsional akan menggunakan pendekatan black-box test. Maintenance Pada tahap maintenance, hasil sistem yang memenuhi kebutuhan fungsional akan dilakukan Proses penelitian ini tidak menerapkan tahap maintenance karena sistem yang telah memenuhi aspek fungsional akan diserahkan kepada pihak atau instansi yang bertanggung jawab. Hasil dan Pembahasan Requirement Pada requirement, proses wawancara dilakukan kepada bapak Untung Saeful Rokhman. Sos. Si. , selaku ketua pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran. Hasil dari wawancara telah mengidentifikasi upaya pemerintah di Kabupaten Pangandaran untuk memberikan edukasi terkait mitigasi bencana alam tsunami, mengidentifikasi kebutuhan teknologi informasi sebagai media pemetaan bencana alam tsunami, dan mengidentifikasi persebaran shelter dan gathering point. Hasil indentifikasi data koordinat shelter dapat dilihat pada Tabel 1 dan data koordinat gathering point dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 1. Data Koordinat Shelter Nama Shelter Masjid Darulfalah Koramil Cijulang Masjid Istiqmal Cikembluan Masjid Jami Misbahul Khoer SDN 4 Cikembulan Pasar Wisata Pangandaran Masjid Agung Al-Istiqomah SMPN 2 Pangandaran Latitude Longitude Tabel 2. Data Koordinat Gathering Point Nama Shelter Bukit Cagar Alam SDN 2 Karang Jaladri Alun Alun Parigi Kantor Desa Ciliang Kantor Kepala Desa Sukaresik Pertigaan Karang Tirta SDN 5 Wonoharjo Masjid Jamie Al-Huda Bukit Cagar Alam Latitude Longitude Sendy Apriatna et al. (Sistem Informasi Geografi. Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Vol. No. Februari 2023, pp. Design Tahap design, proses menyusun dokumen class diagram menunjukkan hubungan antara class user terhadap class lain. helter, tikum, polygon, dan kerusaka. Class user berfungsi menyimpan data yang masuk ke dalam sistem. Class lain dapat diakses oleh pengguna untuk melakukan proses mengelola data berdasarkan setiap kategori. Hasil menyusun dokumen class diagram dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Class Diagram Sistem Proses menyusun dokumen use case diagram memuat dua aktor utama yaitu administrator dan pengguna. Pihak administrator sebagai entitas khusus memiliki hak akses mengelola seluruh data terkait peta dampak tsunami. Pihak pengguna memiliki hak terbatas terkait melihat data peta yang memuat informasi ancaman tsunami, titik penampungan . helter poin. , dan gathering point. Pihak administrator bertanggung jawab atas manajemen data secara menyeluruh, sementara pihak pengguna hanya dapat mengakses informasi terkait pemetaan dampak tsunami di Pangandaran. Hasil menyusun dokumen use case diagram dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3 Use Case Diagram Sistem Sendy Apriatna et al. (Sistem Informasi Geografi. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Febuari 2025, pp. ISSN 2809-3399 Development Pengembangan sistem informasi geografis terdiri dari halaman utama, halaman detail shelter, halaman persentase kerusakan desa, halaman dashboard, halaman tambah data shelter, halaman tambah peta ancaman tsunami, dan halaman profil pengguna. Halaman Utama Gambar 4 Halaman Utama Gambar 4 menampilkan visualisasi distribusi spasial potensi ancaman bencana alam tsunami melalui penerapan representasi peta poligon yang dibedakan oleh tiga warna sebagai identifikasi tingkatan acaman yang berbeda. Di dalam halaman utama juga terdapat ikon yang menampilkan posisi geografis dari fasilitas shelter dan gathering point. Halaman Detail Shelter Gambar 5 Halaman Detail Shelter Gambar 5 menampilkan halaman untuk menyajikan informasi detail dari fasilitas shelter dan gathering point. Di dalam halaman detail shelter juga terdapat peta, gambar, dan rute evakuasi dari lokasi fasilitas terpilih, sehingga pengguna dapat mengetahui informasi lebih komprehensif. Halaman Persentase Kerusakan Desa Gambar 6 Halaman Persentase Kerusakan Desa Sendy Apriatna et al. (Sistem Informasi Geografi. Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Vol. No. Februari 2023, pp. Gambar 6 menampilkan visualisasi distribusi spasial peta persentase kerusakan desa melalui penerapan representasi peta poligon yang dibedakan oleh tiga warna untuk mengidentifikasi jenis persentase yang berbeda. Di dalam halaman persentase kerusakan desa juga terdapat informasi singkat terkait nama desa dan persentase kerusakan dari desa. Halaman Dashboard Gambar 7 Halaman Dashboard Gambar 7 menampilkan visualisasi data yang bersifat informatif dan interaktif, dirancang untuk memudahkan pemahaman dan analisis informasi dalam suatu sistem atau proses tertentu. Di dalam halaman dashboard juga menyediakan alat interaktif yang memungkinkan pengguna untuk manipulasi data, seperti pengaturan filter atau pemilihan dimensi sehingga mendapatkan informasi yang lebih mendalam. Halaman Tambah Data Shelter Gambar 8 Halaman Tambah Data Shelter Gambar 8 menampilkan halaman untuk menambahkan data fasilitas shelter, terdapat suatu peta yang dirancang khusus dengan tujuan memungkinkan penempatan marker pada lokasi yang dipilih oleh pengguna. Fungsionalitas ini dirancang untuk menghasilkan data koordinat geografis secara otomatis, yaitu latitude dan longitude sebagai informasi yang terkait dengan lokasi yang Sendy Apriatna et al. (Sistem Informasi Geografi. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Febuari 2025, pp. ISSN 2809-3399 Halaman Tambah Peta Ancaman Tsunami Gambar 9 Halaman Tambah Peta Ancaman Tsunami Gambar 9 menampilkan semua peta dengan tipe polygon yang terdapat di dalam database. Di dalam halaman ini berfungsi membuat atau menambah peta polygon dengan memanfaatkan data koordinat geografis seperti latitute dan longitude. Setiap peta akan ditambahkan klasifikasi tingkat potensi bencana melalui tiga kategori warna. Zona aman direpresentasi oleh warna wijau, zona berbahasa direpresentasi oleh warna kuning, dan zona sangat berbahaya direpresentasi oleh warna merah. Halaman Profil Pengguna Gambar 10 Halaman Profil Pengguna Gambar 10 menampilkan informasi profil akun pengguna. Pengguna dapat mengubah data profil pengguna yang memuat username, email, foto profil dan password sesuai dengan keinginan pengguna sistem. Testing Pengujian hasil sistem informasi geografis pada aspek spesifikasi fungsional dilakukan tanpa menguji kode program. Pengujian ini fokus terhadap nilai keluaran fungsional sistem berdasarkan nilai masukan sistem. Interpretasi hasil pengujian fungsional sistem dengan black-box test dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Pengujian Fungsional Skenario Pengujian Halaman Login Masuk ke halaman login Mengosongkan semua isian data login Klik tombol AoLog InAo Hasil yang diharapkan Sistem akan menolak akses login dan akan kembali ke halaman Hasil Pengujian Sistem berhasil menolak akses login dan akan kembali ke halaman Sendy Apriatna et al. (Sistem Informasi Geografi. Kesimpulan Sesuai Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Masuk ke halaman login Menginputkan data login yang benar dan akun telah aktif dimana email Aoadmin@gmail. comAo dan password Ao12345678Ao Klik tombol AoLog InAo Halaman Dashboard Masuk ke sistem Login pada sistem dengan memasukkan email dan password yang benar untuk akses dashboard admin Masuk halaman home Halaman Tambah Data Shelter Masuk ke menu tambah shelter point Melakukan random klik pada Masuk ke halaman tambah shelter point Mengisi semua inputan data Klik AosubmitAo Halaman Buat Peta Ancaman Tsunami Masuk ke menu buat peta Membuat peta ancaman Klik AofinishAo Masuk ke menu buat peta Membuat peta ancaman Klik Aodelete last pointAo Klik AofinishAo Masuk ke menu buat peta Membuat peta ancaman Klik AoeditAo Mengedit peta ancaman Klik AosaveAo Masuk ke menu buat peta Membuat peta ancaman Klik AofinishAo Memilih Tingkat bahaya yaitu Aozona amanAo Klik AosubmitAo Vol. No. Februari 2023, pp. Sistem menerima akses login dan kemudian langsung menampilk an halaman Dashboard Sistem berhasil menerima akses login dan kemudian langsung menampilk an halaman Dashboard Sesuai Sistem menerima akses login dan kemudian langsung menampilkan halaman dashboard Sistem berhasil menerima akses login dan kemudian langsung menampilkan halaman Sesuai Sistem akan menampilkan koordinat latitude dan longitude pada form input secara Sistem menerima input, kemudian langsung menampilk an halaman Dashboard dan menampilkan notifikasi Sistem berhasil menampilkan koordinat latitude dan longitude pada form input secara Sistem berhasil menerima input, kemudian langsung menampilk an halaman Dashboard dan menampilkan notifikasi Sesuai Sistem akan menampilkan peta ancaman bebentuk polygon berdasarkan koordinat yang dipilih pada peta Sistem akan menampilkan peta ancaman tsunami setelah melakukan penghapusan pada titik koordinat Sistem akan menampilkan peta ancaman tsunami setelah melakukan perubahan atau penambahan titik Sistem akan menerima inputan dan akan menampilkan data visual peta ancaman tsunami berwarna hijau pada halaman tambah peta Sistem berhasil menampilkan peta ancaman bebentuk polygon sebelum melakukan submit Sesuai Sistem berhasil menampilkan peta ancaman tsunami setelah melakukan pengahpusan pada titik koordinat Sistem berhasil menampilkan peta ancaman tsunami setelah melakukan perubahan atau penambahan titik Sistem berhasil menerima inputan dan akan menampilkan data visual peta ancaman tsunami berwarna hijau pada halaman tambah peta ancaman Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Kesimpulan Penelitian ini telah berhasil mengembangkan sistem informasi geografis untuk pemetaan dampak bencana alam tsunami di Pangandaran. Sistem ini dibangun berbasis web untuk memberikan serta menampilkan visualisasi distribusi spasial potensi ancaman tsunami melalui penerapan representasi peta poligon. Representasi peta poligon menerapkan tiga warian warna yang mengidentifikasi tingkat acaman, warna wijau untuk daerah yang aman, warna kuning untuk daerah yang bebahaya, dan warna warna merah untuk daerah yang sangat berbahaya. Hasil pengujian fungsional sistem berdasarkan pendekatan black-box test mengidentifikasi 100% fitur sistem dapat berfungsi optimal. Sistem telah Sendy Apriatna et al. (Sistem Informasi Geografi. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Febuari 2025, pp. ISSN 2809-3399 berfungsi dengan baik sesuai semua skenario pengujian dan pengguna dapat menggunakan sistem tanpa kesalahan fungsional pada skenario tersebut. Potensi keberlanjutan penelitian dapat melakukan uji kelayakan sistem di dalam kondisi ekstrem atau kondisi darurat dan uji usabilitas sistem. Deklarasi Kontribusi Penulis. Semua penulis berkontrbusi secara bersama-sama dengan kontributor utama dalam artikel ini. Semua penulis membaca dan menyetujui versi akhir dari artikel yang diajukan. Pernyataan Pendanaan. Tidak ada penulis yang menerima dana atau hibah dari lembaga atau badan pendanaan untuk penelitian ini. Konflik Kepentingan. Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. Informasi Tambahan. Tidak ada informasi tambahan dalam artikel ini. Daftar Pustaka